Anda di halaman 1dari 36

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI DAN PRODUKSI BENIH

ACARA VI
PENGUJIAN TIPE PERKECAMBAHAN

Oleh:
Alfian Nopara Saifudin
NIM A1D015033
Rombongan 2
PJ asisten: Farichatul Mufaroh

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2017
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Suatu produksi tanaman dikatakan berhasil apabila memperoleh hasil

tanaman maksimal yang dilihat baik secara kualitas maupun kuantitas. Untuk itu

diperlukan suatu benih tanaman yang memiliki kualitas yang baik yang

diantaranya memiliki kriteria-kriteria bahwa benih tersebut berasal dari varietas

yang jelas, mempunyai persentase perkecambahan yang tinggi, mempunyai

kekuatan tumbuh yang tinggi, bebas dari hama dan penyakit, dan beberapa

kriteria-kriteria yang lainnya.

Pertumbuhan dan perkembangan pada pertumbuhan biji dimulai dengan

perkecambahan. Perkecambahan adalah munculnya plantula (tanaman kecil dari

biji). Embrio yang merupakan calon individu baru terdapat di dalam biji. Jika

suatu biji tanaman ditempatkan pada lingkungan yang menunjang dan

memadai,biji tersebut akan berkecambah.

Perkecambahan merupakan proses metobolisme biji hingga dapat

menghasilkan pertumbuhan dari komponen kecambah (Plumula dan Radikula).

Definisi perkecambahan adalah jika sudah dapat dilihat atribut

perkecambahannya, yaitu plumula dan radikula dan keduanya tumbuh normal

dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan ketentuan ISTA. Setiap biji yang

dikecambahkan ataupun yang diujikan tidak selalu prosentase pertumbuhan

kecambahnya sama, hal ini dipengaruhi bebagai macam faktor-faktor yang

mempengaruhi perkecambahan. Daya kecambah benih memberikan imformasi

159
kepada pemakai benih tumbuh normal menjadi tanaman yang berproduksi wajar

dalam kondisi biofisik lapangan yang serba optimal.

Pengujian daya kecambah benih sangat diperlukan untuk mengetahui

kualitas dari suatu benih. Hasil dari pengujian daya kecambah benih akan

memberikan informasi bagi pemakai benih akan kemampuan benih untuk tumbuh

normal menjadi tanaman yang dapat berproduksi wajar dalam keadaan biofisik

lapangan yang serba optimum. Pengujian di laboratorium, daya kecambah benih

diartikan sebagai mekar dan berkembangnya bagian-bagian penting dari embrio

suatu benih yang menunjukkan kemampuannya untuk tumbuh secara normal pada

lingkungan yang sesuai. Dengan demikian pengujian daya tumbuh atau daya

kecambah benih ialah pengujian akan sejumlah benih, berapa prosentase dari

jumlah benih tersebut yang dapat atau mampu berkecambah pada jangka waktu

yang telah ditentukan.

B. Tujuan

Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui tipe-tipe perkecambahan

dan daya vigor tanaman.

160
II. TINJAUAN PUSTAKA

Daya kecambah benih memberikan informasi kepada pemakai benih akan

kemampuan benih tumbuh normal menjadi tanaman yang berproduksi wajar

dalam keadaan biofisik lapangan yang serba optimum. Parameter yang digunakan

dapat berupa persentase kecambah normal berdasarkan penilaian terhadap struktur

tumbuh embrio yang diamati secara langsung. Atau secara tidak langsung dengan

hanya melihat gejala metabolisme benih yang berkaitan dengan kehidupan benih.

Persentase perkecambahan adalah persentase kecambah normal yang dapat

dihasilkan oleh benih murni pada kondisi yang menguntungkan dalam jangka

waktu yang sudah ditetapkan (Sutopo, 1998).

Perkecambahan (germination) merupakan serangkaian peristiwa-peristiwa

penting yang terjadi sejak benih dorman sampai ke bibit yang sedang tumbuh,

tergantung pada viabilitas benih, kondisi lingkungan yang cocok dan pada

beberapa tanaman tergantung pada usaha pemecahan dormansi. Viabilitas benih

menunjuk pada persentase benih yang akan menyelesaikan perkecambahan,

kecepatan perkecambahan dan vigor akhir dari kecambah-kecambah yang baru

berkecambah (Hardjadi, 1996).

Menurut Pratiwi (2006) perkecambahan biji dapat dibekan menjadi 2,

yaitu:

1. Epigeal

Perkecambahan epigeal adalah apabila terjadi pembentangan ruas batang

di bawah daun lembaga atau hipokotil sehingga mengakibatkan daun lembaga dan

161
kotiledon terangkat ke atas tanah, misalnya pada kacang hijau (Phaseoulus

radiatus).

2. Hipogeal

Perkecambahan hipogeal adalah apabila terjadi pembentangan ruas batang

teratas (epikotil) sehingga daun lembaga ikut tertarik ke atas tanah, tetapi

kotiledon tetap di bawah tanah. Misalnya pada biji kacang kapri (Pisum sativum).

Prinsip utama dalam pengujian benih di laboratorium ditunjukan untuk

mengetahui mutu atau kualitas benih. Informasi tersebut akan sangat bermanfaat

bagi produsen, penjual maupun konsumen benih. Karena dari informasi tersebut

mereka dapat memperoleh keterangan yang akurat dan dapat dipercaya tentang

mutu atau kualitas dari suatu benih. Viabilitas benih atau daya hidup benih yang

dicerminkan oleh dua informasi yaitu daya kecambah dan kekuatan tumbuh dapat

ditunjukan melalui gejala metabolisme benih dan atau gejala pertumbuhan

(Sutopo, 1988).

Pengujian benih dalam kondisi lapang biasanya kurang memuaskan karena

hasilnya tidak dapat diulang dengan konsisten. Oleh karena itu, pengujian

dilaboratorium dilaksanakan dengan mengendalikan faktor lingkungan agar

mencapai perkecambahan yang teratur, cepat, lengkap bagi kebanyakan contoh

benih. Kondisi yang terkendali telah distandarisasi untuk memungkinkan hasil

pengujian yang dapat diulang sedekat mungkin kesamaannya. Terdapat

bermacam-macam metode uji perkecambahan benih, setiap metode memiliki

kekhususan tersendiri sehubungan dengan jenis benih diuji, jenis alat

perkecambahan yang digunakan, dan jenis parameter viabilitas benih dinilai. Daya

162
kecambah (viabilitas) kian meningkat dengan bertambah tuanya biji dan mencapai

maximum germination jauh sebelum masak fisiologis atau berat maksimum

tercapai. Sampai masak fisiologis tercapai 100% ini konstan. Sesudah itu akan

menurun dengan kecepatan yang sesuai dengan keadaan jelek di lapangan

(Kamil,1979).

Menurut Kuswanto (1996) metabolisme perkecambahan :


1. Terjadi penyerapan air oleh benih, melunaknya kulit benih dan hidrasi

protoplasma.

2. Terjadi kegiatan-kegiatan sel dan enzim-enzim serta naiknya tingkat respirasi

benih.

3. Terjadi penguraian bahan-bahan seperti karbohidrat, lemak, dan protein

menjadi bentuk-bentuk yang melarut dan ditranslokasi ke titik-titik tumbuh.

4. Terjadi asimilasi bahan-bahan yang telah diuraikan sebelumnya di daerah

meristematik untuk menghasilkan energi bagi kegiatan pembentukan

komponen dan pertumbuhan sel-sel baru.

5. Pertumbuhan dari kecambah melalui proses pembelahan pembesaran dan

pembagian sel-sel pada titik-titik tumbuh.

Syafruddin dan Miranda (2015) menguraikan bahwa secara umum vigor

sebagai salah satu penentu perkecambahan dapat diartikan sebagai kemampuan

benih untuk tumbuh normal pada keadaan lingkungan yang suboptimal. Adapun

menurut Subantoro dan Prabowo (2013) benih yang vigor mempunyai ciri-ciri

sebagai berikut:

163
1. Mempunyai kecepatan berkecambah yang tinggi.

2. Mempunyai keseragaman perkecambahan, pertumbuhan, dan perkembangan

yang baik pada lingkungan yang berbeda.

3. Mempunyai kemampuan untuk muncul pada tanah yang crusted.

4. Mempunyai kemampuan berkecambah dan muncul pada lingkungan suhu

dingin, basah, berpenyakit dan tidak sesuai (understress condition).

5. Kecambah mampu berkembang normal.

6. Parameter penampilan dan hasil tanaman.

7. Storability yang baik pada keadaan yang tidak optimal.

Benih dikatakan dormansi apabila benih tersebut sebenarnya hidup tetapi

tidak berkecambah walaupun diletakkan pada keadaan yang secara umum

dianggap telah memenuhi persyaratan bagi suatu perkecambahan atau juga dapat

dikatakan dormansi benih menunjukkan suatu keadaan dimana benih-benih sehat

(viabel) namun gagal berkecambah ketika berada dalam kondisi yang secara

normal baik untuk berkecambah, seperti kelembaban yang cukup, suhu dan

cahaya yang sesuai (Lambers 1992, Schmidt 2002).

164
III. METODE PRAKTIKUM

A. Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam praktikum benih jagung dan kedelai masing-

masing sebanyak 20 benih dan pasir. Sedangkan alat-alat yang diperlukan adalah

polibag dan alat tulis

B. Prosedur Kerja

1. Alat dan bahan disipakan.

2. Benih jagung dan kedelai dikecambahkan dalam polibag yang berbeda.

3. Diamati setiap hari dengan cara mencabut 2 benih yang ditanam.

4. Bentuk benih diamati. Lalu digambar (deskripsikan bagiannya) dan

dibandingkan perkecambahan antar kedua benih.

165
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

A Tabel 6.1. Perkecambahan Benih Jagung


No. Waktu Gambar Foto Keterangan

1. Sabtu, 3 Juni Bagian- bagian:


2017 (a) keping
lembaga, (b)
kotiledon, (c)
kulit biji. Benih
jagung pada
pengamatan
pertama belum
berkecambah.
2. Senin,5 Juni 2017 Bagian- bagian :
(a) radikula, (b)
kotiledon.
Keping lembaga
pecah dan bakal
akar telah
keluar.

3. Rabu, 7 Juni 2017 Bagian- bagian:


(a) kotiledon,
(b) akar muda,
(c) daun muda,
(d) tunas. Daun
muda dan tunas
muncul, akar
sudah
berkembang dan
bertambah
panjang.

166
4. Jumat, 9 Juni Bagian- bagian:
2017 (a) daun, (b)
hipokotil, (c)
kotiledon, (d)
akar. Bibit yang
tumbuh makin
panjang, total
panjang
tanaman sudah
lebih dari 12 cm.
Warna hipokotil
ungu kemerah-
merahan.

5. Minggu, 11 Juni Bagian- bagian:


2017 (a) daun, (b)
hipokotil, (c)
kotiledon, (d)
akar. Kotiledon
mulai memudar
warnanya dan
bentuknya sudah
keriput sekali.

167
Tabel 6.2. Perkecambahan Benih Kedelai
No. Waktu Gambar Foto Keterangan
1. Sabtu, 3 Juni 2017 Bagian- bagian:
(a) pusar biji, (b)
kotiledon. Benih
kedelai masih
belum
berkecambah.

2. Senin, 5 Juni 2017 Bagian- bagian:


(a) radikula, (b)
kotiledon, (c)
kulit biji.
Radikula telah
tumbuh.

3. Rabu, 7 Juni 2017 Bagian- bagian:


(a) radikula, (b)
kotiledon, (c)
kulit biji. Bakal
daun muncul
dan radikula
lebih panjang
dari
sebelumnya.
4. Jumat, 9 Juni 2017 Bagian- bagian:
(a) kotiledon, (b)
kulit biji. Kulit
biji tampak agak
terkelupas.

5. Minggu, 11 Juni Bagian- bagian:


2017 (a) plumula, (b)
kulit biji, (c)
kotiledon, (c)
kotiledon, (d)
radikula.
Kotiledon
tampak terbagi
dua.

168
B. Pembahasan

Perkecambahan adalah munculnya plantula (tanaman kecil) dari dalam biji

yang merupakan hasil pertumbuhan dan perkembangan embrio. Pada

perkembangan embrio saat berkecambah, bagian plumula tumbuh dan

berkembang menjadi batang, sedangkan radikula menjadi akar. Menurut Kamil

(1982) perkecambahan merupakan pengaktifan kembali aktivitas pertumbuhan

embryonic axis didalam biji yang terhenti untuk kemudian membentuk bibit.

Berdasarkan letak kotiledon pada saat perkecambahan dikenal dua tipe

perkecambahan yaitu hypogeal dan epigeal.

Perkecambahan adalah proses pertumbuhan embrio dan komponen-

komponen biji yang memiliki kemampuan untuk tumbuh secara normal menjadi

tumbuhan baru. Komponen biji tersebut adalah bagian kecambah yang terdapat di

dalam biji, misalnya radikula dan plumula (Sudjadi, 2006).

Perkecambahan merupakan proses pertumbuhan dan perkembangan

embrio. Hasil perkecambahan ini adalah munculnya tumbuhan kecil dari dalam

biji. Indikator proses perkecambahan adalah munculnya plumula yang akan

berkembang menjadi batang, dan radikula yang akan berkembang menjadi akar .

Menurut Salisbury (1985), perkecambahan merupakan sustu proses dimana

radikula (akar embrionik) memanjang ke luar menembus kulit biji. Di balik gejala

morfologi dengan pemunculan radikula tersebut, terjadi proses fisiologi-biokemis

yang kompleks, dikenal sebagai proses perkecambahan fisiologis.

Perkecambahan merupakan suatu rangkaian komplek perubahan

morfologi, fisiologi dan biokimia benih tanaman (Andhi, 2012). Menurut

169
Mudiana (2007) perkecambahan adalah proses terbentuknya kecambah (plantula).

Kecambah sendiri didefinisikan sebagai tumbuhan kecil yang baru muncul dari

biji dan hidupnya masih tergantung pada persediaan makanan yang terdapat dalam

biji. Kecambah tersebut akan tumbuh dan berkembang menjadi semai/anakan/

seedling, yang pada tahap selanjutnya akan tumbuh menjadi tumbuhan dewasa.

Vigor dicerminkan oleh vigor kekuatan tumbuh dan daya simpan benih.

Kedua nilai fisiologis ini memungkinkan benih tersebut untuk tumbuh menjadi

normal meskipun keadaan biofisik dilapangan produksi sub optimum. Tingkat

vigor tinggi dapat dilihat dari penampilan kecambah yang tahan terhadap berbagai

faktor pembatas yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangannya

(Ichsan, 2006). Vigor benih merupakan keseluruhan sifat yang menggambarkan

potensi dari aktifitas dan penampilan benih selama berkecambah. Benih yang

menunjukkan penampilan baik dinyatakan bervigor tinggi, sedangkan benih yang

mempunyai penampilan kurang baik dikelompokkan ke dalam benih bervigor

rendah.

Menurut Sutopo (1985), vigor diartikan sebagai kemampuan benih untuk

tumbuh normal pada keadaan lingkungan yang suboptimal sedangkan menurut

Sadjad (1993), vigor benih dalam hitungan viabilitas absolut merupakan indikasi

viabilitas benih yang menunjukkan benih kuat tumbuh di lapang dalam kondisi

sub optimum dan tahan untuk disimpan dalam kondisi yang tidak ideal. Vigor

benih dipilah atas dua kualifikasi yaitu vigor kekuatan tumbuh dan vigor daya

simpan yang dikaitkan pada analisis suatu lot benih yang merupakan parameter

viabilitas absolut yang tolak ukurnya dapat bermacam-macam.

170
Perkecambahan benih ditentukan oleh beberapa hal, salah satunya vigor

benih. Vigor dapat diartikan sebagai kemampuan benih untuk tumbuh normal

pada keadaan lingkungan yang sub-optimal (Syafruddin dan Miranda, 2015).

Menurut Yudono (2006) dalam Subantoro dan Prabowo (2013) vigor merupakan

kondisi benih yang sehat, apabila ditanam langsung berkecambah cepat, serentak

dan seragam pada lingkungan yang berbeda kemudian mengalami pertumbuhan

cepat pada kondisi normal di lahan. Senada dengan Yudono, Andhi (2012)

menyatakan bahwa indeks vigor atau kecepatan tumbuh merupakan indikasi

waktu yang diperlukan benih untuk tumbuh serempak selama proses

perkecambahan. Semakin cepat waktu yang dibutuhkan maka kemampuan benih

untuk tumbuh menjadi tanaman dewasa semakin baik sehingga dapat diduga

potensi hasil yang akan diperoleh juga lebih tinggi.

Definisi vigor menurut AOSA (1983) adalah suatu indikator yang dapat

menunjukkan bagaimana benih tumbuh pada kondisi lapang yang bervariasi.

Vigor merupakan gabungan antara umur benih, ketahanan, kekuatan, dan 7

kesehatan benih yang diukur melalui kondisi fisiologisnya, yaitu pengujian stress

atau melalui analisis biokimia. ISTA (2007) mendefinisikan vigor sebagai

sekumpulan sifat yang dimiliki benih yang menentukan tingkat potensi aktivitas

dan kinerja benih atau lot benih selama perkecambahan dan munculnya

kecambah. Copeland dan McDonald (2001) menyatakan kinerja tersebut adalah

(1) proses dan reaksi biokimia selama perkecambahan seperti reaksi emzim, dan

aktivitas respirasi, (2) rata-rata dan keseragaman dari perkecambahan dan

pertumbuhan kecambah, (3) rata-rata dan keseragaman munculnya kecambah dan

171
pertumbuhannya di lapang, (4) kemampuan munculnya kecambah pada kondisi

dan lingkungan yang unfavorable.

Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia No.12 Tahun 1992

Tentang Sistem Budidaya Tanaman Bab I Ketentuan Umum Pasal 1 Ayat 4, benih

didefenisikan sebagai berikut : Benih tanaman, selanjutnya disebut benih,

adalah tanaman atau bagiannya yang digunakan untuk memperbanyak dan atau

mengembangbiakkan tanaman.Dalam perkembangbiakkan secara generatif, bibit

biasanya diperoleh dari benih yang disemaikan. Sementara perkembangbiakkan

secara vegetatif bibit dapat diartikan sebagai bagian tanaman yang berfungsi

sebagai alat reproduksi, misalnya umbi. (Baran Wirawan, 2004).

Menurut Sadjad (1980) dalam Wulandari (2008) kriteria kecambah/bibit

normal adalah kecambah yang memperlihatkan kemampuan berkembang terus

hingga menjadi tanaman normal jika ditumbuhkan dalam kondisi yang optimum;

perakaran berkembang baik dan diikuti perkembangan hipokotil, plumula (daun),

epikotil, dan kotiledon yang tumbuh sehat; atau ada kerusakan sedikit pada

struktur tumbuhnya tetapi secara umum masih menunjukkan pertumbuhan yang

kuat dan seimbang antara pertumbuhan struktur satu dengan yang lainnya.

Sedangkan untuk benih abnormal ditunjukkan dengan adanya salah satu bagian

yang tidak muncul atau mengalami kerusakan dalam prose perkembangannya.

Selain benih normal dan abnormal, terdapat benih mati. Benih mati yaitu benih

yang menunjukkan ciri sampai akhir periode perkecambahan tidak berkecambah.

Struktur benih terdiri dari lembaga/embrio, cadangan makanan untuk

pertumbuhan embrio, dan pelindung yaitu kulit biji. Tempat penyimpan cadangan

172
makanan pada benih monokotol berbeda dengan dikotil. Pada benih monokotil

cadangan makanan lebih banyak tersimpan di endosperm, sedangkan pada

tanaman dikotil cadangan makanan tersimpan di kotiledon. Dalam konteks

agronomi, benih dituntut untuk bermutu tinggi sebab benih harus mampu

menghasilkan tanaman yang berproduksi maksimum dengan sarana teknologi

yang maju. Beberapa keuntungan dari penggunaan benih bermutu, antara lain : a)

menghemat penggunaan benih persatuan luas; b) respon terhadap pemupukan dan

pengaruh perlakuan agronomis lainnya; c) produktivitas tinggi karena potensi

hasil yang tinggi; d) mutu hasil akan terjamin baik melalui pasca panen yang baik;

e) memiliki daya tahan terhadap hama dan penyakit, umur dan sifat-sifat lainnya

jelas; dan f) waktu panennya lebih mudah ditentukan karena masaknya serentak.

(Sjamsoeoed Sadjad, 1977).

Biji merupakan suatu struktur kompleks, yang terdiri dari embrio atau

lembaga, kulit biji dan persediaan makanan cadangan. Dalam biji banyak

tumbuhan, makanan disimpan di dalam lembaga biji itu sendiri, pada tumbuhan

lain, makanan disimpan dalam jaringan di sekililingnya. Cerita lengkap mengenai

biji harus menerangkan perubahan-perubahan yang terjadi dalam stamen dan

pistil, proses penyerbukan, perkembangan embrio, pembentukan kulit biji dan

perkembangan penyediaan cadangan makanan yang digunakan oleh tumbuhan

muda ketika biji berkecambah (Yuniarsih, 1996).

Bunga sangat beragam bentuknya , meskipun demikian, persamaan yang

pokok diantara bunga bermacam tumbuhan itu lebih besar dibandingkan dengan

kelainannya, karena semua bunga mempunyai kerangka struktur dasar yang sama.

173
Menurut botaniawan, bunga adalah sepotong batang atau cabang dengan

sekumpulan daun yang mengalami metamorfosis yang berhubungan dengan

fungsinya untuk bereproduksi. Dikatakan mengalami perubahan bentuk karena di

antara daun-daun ini ada yang mungkin menyerupai daun biasa, tetapi yang lain

berbeda sekali dalam strukturnya sehingga sukar dinamakan daun (Tjitrasam,

1983).

Buah-buahan merupakan salah satu komoditas hortikultura yang

memegang peranan penting bagi pembangunan pertanian di Indonesia. Fungsi

buah-buahan sangat penting bagi proses metabolisme tubuh karena mengandung

banyak vitamin dan mineral. Dewasa ini, masyarakat mulai memperhatikan untuk

mengkonsumsi buah-buahan yang banyak mengandung zat gizi. Hal ini berarti

bahwa buah-buahan memiliki prospek yang cerah untuk dikembangkan.

Pengertian buah dalam lingkup pertanian (hortikultura) adalah Hortikultura

berasal dari kata hortus (= garden atau kebun) dan colere (= to cultivate atau

budidaya). Secara harfiah istilah Hortikultura diartikan sebagai usaha

membudidayakan tanaman buah-buahan, sayuran dan tanaman hias (Wisnu,2011)

Menurut Sholicha (2009) terdapat dua tipe pertumbuhan awal pada

perkecambahan tanaman yaitu:

a. Tipe epigeal

Tipe perkecambahan epigeal ditandai dengan hipokotil yang tumbuh

memanjang sehingga plumula dan kotiledon terangkat ke atas (permukaan

tanah). Kotiledon dapat melakukan fotosintesis selama daun belum terbentuk.

174
Contoh tumbuhan ini adalah kacang hijau, kedelai, bunga matahari dan

kacang tanah.

Menurut Campbell et al. (2000) organ pertama yang muncul ketika biji

berkecambah adalah radikula. Radikula ini kemudian akan tumbuh

menembus permukaan tanah. Untuk tanaman dikotil yang dirangsang dengan

cahaya, ruas batang hipokotil akan tumbuh lurus ke permukaan tanah

mengangkat kotiledon dan epikotil. Epikotil akan memunculkan daun

pertama kemudian kotiledon akan rontok ketika cadangan makanan di

dalamnya telah habis digunakan oleh embrio.

Gambar 7. Perkecambahan epigeal (Rumah Belajar, 2010).

b. Tipe hipogeal

Perkecambahan hipogeal ditandai dengan epikotil tumbuh memanjang

kemudian plumula tumbuh ke permukaan tanah menembus kulit biji.

Kotiledon tetap berada di dalam tanah. Contoh tumbuhan yang mengalami

perkecambahan ini adalah kacang ercis, kacang kapri, jagung, dan rumput-

rumputan (Campbell et al., 2000).

175
Gambar 8. Perkecambahan hipogeal (Rumah Belajar, 2010).

Tipe perkecambahan terbagi menjadi dua macam yaitu hipogeal dan

epigeal. Menurut Sutopo (2002) tipe perkecambahan epigeal adalah tipe

perkecambahan dimana munculnya radikel diikuti dengan memanjangnya

hipokotil secara keseluruhan dan membawa serta kotiledon dan plumula ke atas

permukaan tanah. Perkecambahan epigeal terjadi pada tanaman-tanaman dikotil

seperti kacang-kacangan.

Tipe perkecambahan yang kedua adalah tipe hipogeal. Menurut Sutopo

(2002) perkecambahan hipogeal adalah apabila terjadi teratas (epikotil) sehingga

daun lembaga ikut tertarik ke atas tanah, tetapii kotiledon tetap di bawah tanah.

Misalnya pada biji kacang kapri (Pisum sativum). Sedangkan menurut Pratiwi

(2006) tipe hipogeal dimana munculnya radikel diikuti plumula, hipokotil tidak

memanjang ke atas permukaan tanah sedangkan kotiledon tetap berada di dalam

kulit biji di bawah permukaan tanah. Tipe perkecambahan hipogeal terjadi pada

tanaman monokotil seperi jagung dan kacang kapri.

Menurut Kamil (1979), terdapat dua tipe pertumbuhan awal dari suatu

kecambah tanaman yaitu:

1. Tipe epigeal (Epigeous)

176
Munculnya radikula diikuti dengan memanjangnya hipokotil secara

keseluruhan dan membawa serta kotiledon dan plumula ke atas permukaan tanah.

Menurut Campbell et al., (2000), tipe perkecambahan epigeal ditandai dengan

hipokotil yang tumbuh memanjang sehingga plumula dan kotiledon terangkat ke

atas (permukaan tanah). Kotiledon dapat melakukan fotosintesis selama daun

belum terbentuk. Contoh tumbuhan ini adalah kacang hijau, kedelai, bunga

matahari dan kacang tanah. Organ pertama yang muncul ketika biji berkecambah

adalah radikula. Radikula ini kemudian akan tumbuh menembus permukaan

tanah. Untuk tanaman dikotil yang dirangsang dengan cahaya, ruas batang

hipokotil akan tumbuh lurus ke permukaan tanah mengangkat kotiledon dan

epikotil. Epikotil akan memunculkan daun pertama kemudian kotiledon akan

rontok ketika cadangan makanan di dalamnya telah habis digunakan oleh embrio.

2. Tipe Hipogeal (Hypogeous)

Munculnya radikula diikuti denganpemanjangan plumula, hipokotil tidak

memanjang ke atas permukaantanah sedangkan kotiledon tetap berada di dalam

kulit biji di bawahpermukaan tanah. Menurut Campbell et al., (2000),

perkecambahan hipogeal ditandai dengan epikotil tumbuh memanjang kemudian

plumula tumbuh ke permukaan tanah menembus kulit biji. Kotiledon tetap berada

di dalam tanah. Contoh tumbuhan yang mengalamiperkecambahan ini adalah

kacang ercis, kacang kapri, jagung, dan rumput-rumputan.

Tahap pertama suatu perkecambahan benih dimulai dengan proses

penyerapan air oleh benih, melunaknya kulit benih dan hidrasi dari protoplasma.

Tahap kedua dimulai dengan kegiatan-kegiatan sel dan enzim-enzim serta naiknya

177
tingkat respirasi benih tahap ketiga merupakan tahap dimana terjadi penguraian

bahan-bahan seperti karbohidrat, lemak dan protein menjadi bentuk-bentuk yang

melarut dan ditranslokasikan ke titik-titik tumbuh. Tahap keempat adalah

asimililasi dari bahanbahan yang telah diuraikan tadi di daerah meristematik untuk

menghasilkan energi baru, pembentukan komponen dan pertumbuhan sel baru.

Tahap kelima adalah pertumbuhan dari kecambah melalui proses pembelahan,

pembesaran dan pembagian sel-sel pada titik-titik tumbuh. UNIVERSITAS

SUMATERA UTARA Sementara penyerapan air oleh benih terjadi pada tahap

pertama biasanya berlangsung sampai jaringan mempunyai kandungan air 40 60

% (atau 67 150 % atas dasar berat kering). Dan akan meningkat lagi pada saat

munculnya radikula sampai jaringan penyimpanan dan kecambah yang sedang

tumbuh mempunyai kandungan air 70 - 90 %.(Sutopo,L., 2002)

Proses perkecambahan yang dapat diamati ditandai dengan munculnya

epikotil ke atas permukaan tanah. Awalnya hanya terlihat sebagai tonjolan kecil

berwarna hijau muda, namun selanjutnya akan terus bertambah panjang dan

semakin terangkat ke permukaan tanah. Selanjutnya akan terangkat pula ke atas

keping lembaganya dan terbelah menjadi dua. Keadaan semacam ini merupakan

ciri dari seedling yang perkecambahannya bersifat epigeal, artinya pada proses

perkecambahan keping lembaganya terangkat ke atas permukaan tanah (Mudiana,

2007).Sebagaimana diketahui bahwa terdapat dua macam tipe perkecambahan,

yaitu : perkecambahan di atas tanah (epigeal) dan perkecambahan di bawah tanah

(hypogeal). Yang membedakan keduanya adalah keberadaan atau posisi daun

lembaga pada saat berkecambah, muncul di atas permukaan tanah atau tetap

178
berada di bawah tanah ( Tjitrosoepomo, 1999).Epokotil selanjutnya akan tumbuh

menjadi daun pertama, sementara keping lembaganya yang berisi cadangan

makanan akan menyusut seiring dengan terbentuknya daun baru dan akar baru.

Bagian akar terbentuk dari hipokotil, yang pada proses perkecambahan tumbuh ke

dalam tanah searah gaya grafitasi. Hipokotil inilah yang menjadi asal

terbentuknya akar tanaman.

Gambar 9. Menurut Kamil (1982) Biji dibentuk dengan adanya

perkembangan bakal biji. Pada saat pembuahan, tabung sari sari memasuki

kantung embrio melalui mikropil dan menempatkan dua buah inti gamet jantan

padanya. Satu diantaranya bersatu dengan inti sel telur dan yang lain bersatu

dengan dua inti polar atau hasilnya penyatuan, yaitu inti sekunder. Penyatuan

gamet jantan dengan sel telur menghasilkan zigot yang tumbuh menjadi embrio.

Penyatuan gamet jantan yang lain dengan kedua inti polar menghasilkan inti sel

endosperm pertama yang akan membelah-belah menghasilkan jaringan

endosperm. Proses yang melibatkan kedua macam pembuahan (penyatuan)

tersebut dinamakan pembuahan ganda. Biji masak terdiri dari tiga bagian yaitu:

embrio dan endosperm yang dihasilkan dari pembuahan ganda serta kulit biji

yang dibentuk oleh dinding bakal biji, termsuk kedua integumentnya. Biji adalah

ovule yang dewasa (mature ovule). Biji bisa terbentuk satu atau lebih di dalam

179
satu ovary pada legume, tetapi tidak pernah lebih dari satu biji terbentuk dalam

ovary pada monocot. Setiap biji matang (mature seed) selalu terdiri paling kurang

bagian embryo dan kulit biji.

Bagian-bagian biji dapat dibedakan menjadi 2 bagian yaitu: bagian dasar

biji dan bagian non dasar biji.

1. Bagian-bagian dasar biji

Bagian-bagian dasar biji terdiri dari :

a.Embrio, adalah suatu tanaman baru yang terjadi dari bersatunya gamet-

gamet jantan dan betina pada suatu proses pembuahan. Embrio yang

berkembangnya sempurna terdiri dari struktur-struktur sebagai berikut :

epikotil (calon pucuk), hipokotil (calon batang), kotiledon (calon daun) dan

radikula (calon akar). Tanaman di dalam kelas Angiospermae diklasifikasikan

oleh banyaknya jumlah kotiledon. Tanaman monokotiledon mempunyai satu

kotiledon misalnya : rerumputan dan bawang. Tanaman dikotiledon

mempunyai dua kotiledon misalnya kacang-kacangan sedangakan pada kelas

Gymnospermae pada umumnya mempunyai lebih dari 2 kotiledon misalnya

pinus, yang mempunyai sampai sebanyak 15 kotiledon. Pada rerumputan

(grasses) kotiledon yang seperti ini disebut scutellum, kuncup embrioniknya

disebut plumulle yang ditutupi oleh upih pelindung yang disebut koleoptil,

sedangkan pada bagian bawah terdapat akar embrionik yang disebut radicule

yang ditutupi oleh upih pelindung yang disebut coleorhiza.

b. Jaringan penyimpan cadangan makanan Pada biji ada beberapa struktur

yang dapat berfungsi sebagai jaringan penyimpan cadangan makanan, yaitu :

180
Kotoledon, misalnya pada kacang-kacangan, semangka dan labu. Endosperm,

misal pada jagung, gandum, dan golongan serelia lainnya. Pada kelapa bagian

dalamnya yang berwarna putih dan dapat dimakan merupakan endospermnya.

Perisperm, misal pada famili Chenopodiaceae dan Caryophyllaceae,

Gametophytic betina yang haploid misal pada kelas Gymnospermae yaitu

pinus. Cadangan makanan yang tersimpan dalam biji umumnya terdiri dari

karbohidrat, lemak, protein dan mineral. Komposisi dan presentasenya

berbeda-beda tergantung pada jenis biji, misal biji bunga matahari kaya akan

lemak, biji kacang-kacangan kaya akan protein, biji padi mengandung banyak

karbohidrat.

c. Pelindung biji dapat terdiri dari kulit biji, sisa-sisa nucleus dan endosperm

dan kadang-kadang bagian buah. Tetapi umumnya kulit biji (testa) berasal dari

integument ovule yang mengalami modifikasi selama proses pembentukan biji

berlangsung. Biasanya kulit luar biji keras dan kuat berwarna kecokelatan

sedangkan bagian dalamnya tipis dan berselaput. Kulit biji berfungsi untuk

melindungi biji dari kekeringan, kerusakan mekanis atau serangan cendawan,

bakteri dan insekta.Dalam hal penggunaan cadangan makanan terdapat

beberapa perbedaan diantara sub kelas monokotiledon dan dikotiledon dimana

pada : Sub kelas monokotiledon : cadangan makanan dalam endosperm baru

akan dicerna setelah biji masak dan dikecambhakan serta telah menyerap air.

Contoh jagung, padi, gandum. Sub kelas dikotiledon : cadangan makanan

yang terdapat dalam kotileodon atau perisperm sudah mulai dicerna dan

181
diserap oleh embrio sebelum biji masak. Contoh kacang-kacangan, bunga

matahari dan labu (Sutopo, 2002).

2. Bagian-bagian non dasar biji

Bagian-bagian dasar non biji terdiri dari :

a. Kulit Biji (spermodermis), berasal dari selaput bakal biji (integumentum).

Oleh sebab itu biasanya kulit biji dari tumbuhan biji tertutup

(Angiospermae) terdiri atas dua lapisan, yaitu :

b. Lapisan Kulit Luar (testa), ada yang tipis, ada yang kaku seperti kulit, ada

yang keras seperti kayu atau batu. Bagian ini merupakan pelindung utama

bagian biji yang di dalam. Lapisan luar ini dapat memperlihatkan warna

dan gambaran yang berbeda-beda: merah, biru, perang, kehijau-hijauan, ada

yang licin rata, mempunyai permukaan keriput.

c. Lapisan Kulit Dalam (tegmen), tipis seperti selaput, dinamakan juga kulit

ari. Pada pembentukan kulit biji dapat pula ikut serta bagian bakal biji yang

lebih dalam daripada integumentumnya, misalnya lain bagian jaringan

nuselus yang terluar. Biji yang kulitnya terdiri atas dua lapisan itu

umumnya adalah biji tumbuhan biji tertutup (Angiospermae). Pada

tumbuhan biji talanjang (Gymnospermae), biji malahan mempunyai tiga

lapisan seperti pada biji belinjo (Gnetum gnemon K), padahal bakal biji

tumbuhan biji telanjang umumnya hanya mempunyai satu integementum

saja. Ketiga lapisan kulit biji seperti pada melinjo itu masing-masing

dinamakan:

182
a) Kulit luar (sarcotesta), biasanya tebal berdaging, pada waktu masih muda

berwarna hijau, kemudian berubah menjadi kuning, dan akhirnya merah.

b) Kulit tengah (sclerotesta), suatu lapisan yang kuat dan keras, berkayu,

menyerupai kulit dalam (endocarpium) pada buah batu.

c) Kulit dalam (endotesta), biasanya tipis seperti selaput, serigkali melekat

erat pada inti biji Pada kulit luar biji itu masih dapat ditemukan bagian-

bagian lain, misalnya:

d. Sayap (ala), alat tambahan berupa sayap pada kulit luar biji, dan dengan

demikian biji mudah dipencarkan oleh angin, ch. pada spatodea

(Spathodea campanulata P.B.), kelor (Moringa oleifera Lamk).

e. Bulu (coma), yaitu penonjolan sel-sel kulit luar biji yang berupa rambut-

rambut yang halus, memudahkan biji ditiup oleh angin, ch. pada kapas

(Gossypium), biduri (Calotropis gigantean Dryand).

f. Salut biji (arillus), yang biasanya berasal dari pertumbuhan tali pusar,

misalnya pada biji durian (Durio zibethinus Murr).

g. Salut Biji semu (arillodium), seperti salu biji, tetapi tidak berasal dari tali

pusar. Melainkan tumbuh dari bagian sekitar liang bakal biji (micropyle).

Macis pada biji pala sebenarnya adalah suatu salut biji semu.

h. Pusar biji (hilus), yaitu bagian kulit luar biji bekas perlekatan dengan tali

pusar, biasanya kelihatan kasar dan mempunyai warna yang berlainan

dengan bagian lain kulit biji. Pusar biji jelas kelihatan pada biji tumbuhan

berbuah polong, misalnya ; Kacang panjang (Vigna Sinensis Edl), kacang

merah (Phaseolus vulgaris L). Dll.Liang biji (micropyle), ialah liang kecil

183
bekas jalan masuknya buluh serbuk sari ke dalam bakal biji pada peristiwa

pembuahan. Tepi liang inii seringkali tumbuh menjadi badan berwarna

keputih-putihan, lunak, yang disebut karunkula (caruncula). Jika badan

yang berasal dari tepi liang ini sampai merupakan salut biji, maka disebut

salut biji semu (arillodium).

i. Bekas-bekas pembuluh pengangkutan (chalaza), yaitu tempat pertemuan

integumen dengan nuselus, masih kelihatan pada biji anggur (Vitis

vinifera.L).

j. Tulang biji (raphe), yaitu tali pusar pada biji, biasanya hanya kelihatan pada

biji yang berasal dari bakal biji yang mengangguk (anatropus), dan pada

biji biasanya tak begitu jelas lagi, masih kelihatan misalnya pada biji jarak

(Ricinus communis L).

k. Tali pusar (funiculus), merupakan bagian yang menghubungkan biji dengan

tembuni, jadi merupakan tangkainya biji. Jika biji masak, biasanya bijii

terlepas dari tali pusarnya (tangkai biji), dan pada biji hanya tampak

bekasnya yang dikenal sebagai pusar biji (lihat perihal kulit biji).

l. Inti biji atau isi biji (nucleus seminis), ialah semua bagian biji yang terdapat

di dalam kulitnya, oleh sebab itu inti biji juga dapat dinamakan isi biji, inti

biji terdiri dari:

a) Lembaga (embryo), yang merupakan calon individu baru.

b) Putih Lembaga (albumen), jaringan berisi cadangan makanan untuk

masa permulaan kehidupan tumbuhan baru (kecambah) sebelum dapat

mencari makanan sendiri (Hariana, 2005).

184
Pada dasarnya biji

mempunyai susunan yang

tidak berbeda dengan bakal

biji, tetapi dipergunakan

nama-nama yang berlainan

untuk bagian-bagian yang

sama asalnya, misalnya :

Integumentum pada bakal

biji, kalau sudah menjadi biji merupakan kulit biji (spermodermis) (Rifai, 1976).

Menurut Mudiana (2007) terdapat faktor yang mempengaruhi

perkecambahan benih yaitu:

1. Faktor internal

Faktor internal merupakan kondisi benih yang meliputi: kerusakan mekanik

dan fisik, kadar air biji, serta kemasakan biji/benih. Benih yang dipanen sebelum

tingkat kemasakan fisiologisnya tercapai tidak mempunyai kemampuan benih

berkecambah yang tinggi karena belum memiliki cadangan makanan yang cukup

serta pembentukan embrio belum sempurna (Sutopo, 2002).

2. Faktor eksternal

Faktor eksternal merupakan faktor yang berasal dari luar benih atau faktor

lingkungan. Harjadi (1979) dalam Syafruddin dan Miranda (2015) berpendapat

bahwa keadaan lingkungan di lapangan itu sangat penting dalam menentukan

kekuatan tumbuh benih. Perbedaan kekuatan tumbuh benih dapat terlihat nyata

dalam keadaan lingkungan yang kurang menguntungkan. Faktor eksternal

185
meliputi: air, suhu, cahaya, oksigen, kelembaban nisbi serta komposisi udara di

sekitar biji.

Dormansi adalah keadaan biji yang tidak berkecambah atau dengan kata

lain tunas yang yang tidak dapat tumbuh (terhambatnya pertumbuhan) selama

periode tertentu yang disebabkan oleh faktor-faktor intern dalam biji atau tunas

tersebut. Suatu biji dikatakan dorman apabila biji tersebut tidak dapat

berkecambah, setelah periode tertentu, meski faktor-faktor lingkungan yang

dibutuhkan tersedia (Zuliasdin, 2011).

Buah atau biji yang terbentuk biasanya mengalami periode dorman

sebelum berkecambah untuk menyelesaikan hidupnya. Pada tumbuhan umur

pendek, setelah terbentuk buah atau biji, bagian vegetatif akan mati. Pada

tumbuhan tahunan, tidak mati tetapi untuk periode tertentu dapat lama atau

sebentar akan mengalami periode dorman, sebelum melanjutkan pertumbuhan

vegetatif lagi. Perkecualian sudah tentuada, misalnya tumbuhan bakau bijinya

berkecambah sewaktu masih berada di dalam buah yang melekat pada induknya

(Soerodikoesomo, 1994).

Dormansi dapat di jumpai pada berbagai organ lain misalnya rhizome,

umbi, umbi lapis, dan biji. Penyebab terjadinya dormasi bermacam-macam, ada

yang spontan, ada yang karena keadaan lingkungan, misalnya kekurangan air,

temperatur rendah, hari pendek.Jika dianalisis, ternyata ada beberapa hormon

yang ikut mempengaruhinya. Pada organ dorman, selain kadar kenaikan absisin

juga terjadiperubahan lain, yaitu turunnya kadar air, transpor antar sel terhambat,

organel tertentu mereduksi dan metabolisme lambat (Goldsworthy, 1992).

186
Beberapa proses fisiologis dan biokimia terlibat dalam mekanisme

toleransi dan adaptasi tanaman terhadap salinitas. Sebagai contoh (i) cekaman

garam menginduksi akumulasi senyawa organik spesifik di dalam sitosol sel yang

dapat bertindak sebagai osmoregulator; (ii) tanaman juga dapat mencegah

akumulasi Na dan Cl dalam sitoplasma melalui eksklusi Na dan Cl ke lingkungan

eksternal (media tumbuh); (iii) kompartementasi ke dalam vakuola atau

mentranslokasi Na dan Cl ke jaringan-jaringan lain (Marschner, 1995 dalam

Yuniati, 2004).

Menurut Henny (2010), perkecambahan adalah proses pertumbuhan

embrio dan komponen-komponen biji yang memiliki kemampuan untuk tumbuh

secara normal menjadi tumbuhan baru. Komponen biji tersebut adalah bagian

kecambah yang terdapat di dalam biji, misalnya radikula dan plumula. Hasil dari

perkecambahan ini adalah munculnya tumbuahan kecil dari dalam biji. Proses

perubahan embrio saat perkecambahan adalah plumula tumbuh dan berkembanng

menjadi batang dan radikula tumbuh dan berkembang menjadi akar.

Praktikum pengujian tipe perkecambahan dilakukan dengan benih

kedelai dan jagung masing-masing 20 buah. Benih ditanam pada polybag dengan

media pasir steril, pengamatan dilakukan setiap hari. Indikator perkecambahan

ditunjukkan dengan munculnya radikula dan plumula pada seluruh benih.

Perkecambahan benih kedelai dicirikan dengan hipokotil yang memanjang ke atas

permukaan tanah dan diikuti oleh kotiledon dan plumula yang terangkat ke atas

tanah. Hal ini menunjukkan bahwa tipe perkecambahan kedelai adalah tipe

epigeal. Seperti halnya pernyataan Muldiana (2007), pada percobaan

187
perkecambahan biji Syzygium cumini, proses perkecambahan yang dapat diamati

ditandai dengan munculnya epikotil ke atas permukaan tanah. Awalnya hanya

terlihat sebagai tonjolan kecil berwarna hijau muda, namun selanjutnya akan terus

bertambah panjang dan semakin terangkat ke permukaan tanah. Selanjutnya akan

terangkat pula ke atas keping lembaganya dan terbelah menjadi dua. Keadaan

semacam ini merupakan ciri dari seedling yang perkecambahannya bersifat

epigeal, artinya pada proses perkecambahan keping lembaganya terangkat ke atas

permukaan tanah (Mudiana, 2007).

Perkecambahan benih jagung dicirikan dengan pemanjangan radikula

yang tidak diikuti dengan pemanjangan hipokotil, kotiledon tetap dibawah

permukaan tanah, tetapi plumula ke atas permukaan tanah mengikuti

pemanjangan batang. Hal ini menunjukkan bahwa tipe perkecambahan jagung

adalah tipe hipogeal. Menurut Campbell et al., (2000), perkecambahan hipogeal

ditandai dengan epikotil tumbuh memanjang kemudian plumula tumbuh ke

permukaan tanah menembus kulit biji. Kotiledon tetap berada di dalam tanah.

Contoh tumbuhan yang mengalami perkecambahan ini adalah kacang ercis,

kacang kapri, jagung, dan rumput-rumputan.

188
V. PENUTUP

A. Kesimpulan

Kesimpulan dari praktikum ini adalah terdapat dua tipe perkecambahan awal

dari suatu kecambah tanaman, yaitu: tipe epigeal dan tipe hipogeal. Benih yang

berkecambah, terdapat benih normal, dan abnormal. Benih atau kecambah normal

merupakan benih yang memperlihatkan potensi untuk berkecambah atau

perkembangan selanjutnya menjadi tanaman normal dalam lingkungan yang

sesuai. Benih atau kecambah abnormal merupakan benih yang tidak

memperlihatkan potensi untuk tumbuh menjadi tanaman normal meskipun dalam

kondisi yang cocok untuk pertumbuhannya.

B. Saran

Sebaiknya pengamatan dilakukan oleh semua praktikan agar semua

praktikan mengerti proses pertumbuhan benih setiap harinya.

189
DAFTAR PUSTAKA

Andhi, T.C. 2012. Studi Aspek Fisiologis dan Biokimia Perkecambahan Benih
Jagung (Zea mays L.) pada Umur Penyimpanan Benih yang Berbeda.
Skripsi. Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Gadjah
Mada. Yogyakarta.

AOSA dalam Qadir, A. 1994.Studi Penentuan Nilai Viabilitas Benih Kedelai


dengan Menggunakan Peubah yang Layak.Tesis.Program Pascasarjana.
Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Baran Wirawan, 2004. Pengaruh Perlakuan Pendahuuluan dan Berat Benih


Terhadap Perkecambahan Benih Kayu Afrika(Maesopsis eminii Engl.).
Skripsi. Penerbit : Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan IPB. Bogor.

Campbell et al. 2000. Biologi Edisi Kelima Jilid 1. Erlangga. Jakarta.

Goldsworthy, P. 1992. Fisiologi Tanaman Budidaya Tropik. Universitas


GadjahMada. Yogyakarta

Harjadi, S. S. 1986. Pengantar Agronomi. Gramedia. JakartaHariana, 2005

Henny, dwika. 2010. Perkecambahan Biji. Jakarta : UI Press.

Ichsan, Cut Nur. 2006. Uji Viabilitas dan Vigor benih Beberapa Varietas padi
(Oriza sativa L.) yang Diproduksi pada Temperatur yang Berbeda Selama
Kemasakan. Floratek. Vol. 2: 37-42.

ISTA 2007. International Rule for Seed Testing Edition. Swizerland:


International Seed Testing Association.

Kamil, J. 1982.Teknologi Benih 1. Angkasa Raya Padang. Padang.

Kamil, J. 1986. Teknologi Benih I. Angkasa Raya Padang. Padang.

Kamil, J. 1979. Teknologi Benih. Angkasa, Bandung.

Kuswanto, H. 1996. Dasar-Dasar Teknologi, Produksi dan Sertifikasi Benih.


Penerbit Andi. Yogyakarta. 192 hal.

Schmidt, L. 2000. Pedoman Penanganan Benih Hutan Tropis dan Sub Tropis.
Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial. Departemen
Kehutanan. Indonesia.

190
Marschner, 1995. Pengaruh Perlakuan Pencelupan Dan Perendaman Terhadap
Perkecambahan Benih Sengon (Paraserianthes Falcataria L.)Agrologia,
Vol. 2, No. 1, April 2013, Hal. 10-16.

Mudiana, D. 2007. Perkecambahan Syzygium Cumini (L.) Skeels. Biodiversitas.


ISSN: 1412-033x. Volume 8, Nomor 1 Januari 2007.

Pratiwi. 2006. Biologi. Erlangga, Jakarta.

Rifai. 1976. Keanekaragaman Tumbuhan. UM press. Malang.

Sadjad, S. 1993. Produksi Benih Berkualitas Tinggi untuk Menunjang Produksi


Pangan. Proc. Kursus Singkat Pengujian Benih. IPB, Bogor.

Sadjad S. 1994. Kuantifikasi Metabolisme Benih. Grasindo. Jakarta..

Sadjad, S. 1972. Kekuatan tumbuh benih. Penataran penyuluhan pertanian


spesialis. Bagian

Salisbury, F.B. 1995. Fisiologi Tumbuhan. ITB Press. Bandung.

Sholicha, R.F. 2009. Pengaruh Skarifikasi Suhu dan lama Perendaman dalam Air
Terhadap Perkecambahan Biji Kedawung. Skripsi. Jurusan Biologi Fakultas
Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Malang. Malang.

Soerodikoesomo, Wibisono, 1994, Anatomi dan Fisiologi Tumbuhan, Depdikbud,


Jakarta

Subantoro, R. dan R. Prabowo. 2013. Pengaruh Berbagai Metode Pengujian Vigor


terhadap Pertumbuhan Benih Kedelai. Mediagro. Vol. 9 (1) : 48-60.

Sudjadi, B. 2006. Biologi 1A. Yudhistira. Jakarta.

Sutopo (1985 Teknologi Benih.Rajawali Pers. Jakarta.

Sutopo, L. 1998. Teknologi Benih. PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Sutopo, L. 2002. Teknolohi Benih. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Syafruddin dan T. Miranda. 2015. Vigor Benih Beberapa Varietas Jagung pada
media Tanam Tercemar Hidrokarbon. J. Floratek. Vol. 10 : 18-25.

Tjitrasam, 1983. Botani Umum I. Angkasa: Bandung

Tjitrosoepomo, Gembong. 1999. Morfologi Tumbuhan. Gadjah Mada University


Press, Yogyakarta.

191
Wisnu. 2011. Pemilihan Wadah Simpan dan Bahan Pencampur dan Penyimpanan
Benih Mahoni. Bali Teknologi Perbenihan. Bogor.

Wulandari, A. 2008. Penentuan Kriteria Kecambah Normal yang Berkorelasi


dengan Vigor Bibit Jarak Pagar (Jatropha curcas Linn.). Skripsi. Program
Studi Pemuliaan Tanaman dan Teknologi Benih Fakultas Pertanian Institut
Pertanian Bogor. Bogor.

Yuniarsih, 1996. KEDELAI. Kanisius: Yogyakarta.

Zuliasdin, Rizkan. 2011. Pematahan Dormansi. Depdikbud, Jakarta.

192
LAMPIRAN

193