Anda di halaman 1dari 33

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI DAN PRODUKSI BENIH

ACARA VII
IMBIBISI PADA PERKECAMBAHAN BENIH

Oleh:
Alfian Nopara Saifudin
NIM A1D015033
Rombongan 2
PJ asisten: Farichatul Mufaroh

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2017
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perkecambahan adalah proses awal pertumbuhan individu baru pada

tanaman yang diawali dengan munculnya radikel pada testa benih.

Perkecambahan sangat dipengaruhi oleh ketersediaan air dalam medium

pertumbuhan. Air akan diabsorbsi dan digunakan untuk memacu aktivitas enzim-

enzim metabolisme perkecambahan.

Imbibisi menyebabkan biji mengembang dan memecahkan kulit

pembungkusnya serta memicu perubahan metabolik pada embrio sehingga dapat

melanjutkan pertumbuhannya. Enzim-enzim akan menghidrolisis bahan-bahan

yang disimpan dalam kotiledon dan nutrient-nutrien di dalamnya. Enzim yang

berperan dalam hidrolisis cadangan makanan adalah enzim -amilase, -amilase

dan protease.

Suatu fenomena yang menjadi jalan masuknya zat-zat kedalam tubuh

tumbuhan adalah imbibisi. Imbibisi merupakan peristiwa migrasi molekul-

molekul air kesuatu zat lain yang berlubang (berpori) cukup besar dan kemudian

molekul-molekul air itu menetap didalam zat tersebut. Imbibisi dapat berlangsung

bila ada afinitas (daya ikat) yang kuat antara imbiban (substansi penyerap air) dan

air dari lingkungan sekitarnya. Imbibisi merupakan salah satu gejala fisika yang

penting pada tumbuhan. Penyerapan air oleh imbiban ini mengawali proses

perkecambahan. Jenis biji yang satu dengan biji yang lain banyak mengalami

perbedaan dalam proses penyerapan air. Kecepatan imbibisi pada biji berbeda-

195
beda. Penyerapan air oleh imbiban juga berbeda ketika diletakkan pada suhu yang

berbeda.

B. Tujuan

Tujuan praktikum kali ini adalah sebagai berikut:

1. Mendefinisikan istilah imbibisi air dan arti penting imbibisi pada

perkecambahan benih.

2. Membahas proses-proses fisiologis yang berkaitan dengan imbibisi pada

benih.

3. Membedakan komposisi dan permeabilitas benih antar spesies tanaman yang

berpengaruh terhadap tingkat imbibisi.

4. Mendemonstrasikan pemahaman tentang potensial air pada perkecambahan

benih.

5. Menjelaskan bagaimana soil water potensial, persinggungan antara benih air

tanah (seed-soil contact), dan hambatan hidrolik tanah (soil hydrolic

conductivity) mempengaruhi imbibisi.

196
II. TINJAUAN PUSTAKA

Perkecambahan merupakan pemulaan kembali pertumbuhan embrio di

dalam biji. Syarat diperlukan adalah suhu yang cocok, banyaknya air yang

memadai, dan persediaan ongkos yang cukup bagi satu spesies mungkin tidak

demikian bagi yang lain, namun untuk setiap spesies harus dipenuhi tiga kondisi.

Periode dormansi juga merupakan persyaratan bagi perkecambahan banyak biji

terbuka cahaya untuk waktu yang sesuai juga merupakan persyaratan bagi

perkecambahan untuk beberapa kasus. Biji yang hanya akan berkecambah setelah

lama terkena cahaya matahari. Sebaliknya perkecambahan biji tumbuhan gurun

pasir tertentu justru terhalang kalau terkena cahaya terlalu lama (Kimball, 1992).

Salah satu perilaku pertumbuhan dan perkembangan jenis ini adalah proses

perkecambahan biji serta pertumbuhan semai setelah perkecambahan tersebut.

Perkecambahan adalah proses terbentuknya kecambah (planula). Kecambah

sendiri didefinisikan sebagai tumbuhan kecil yang baru muncul dari biji dan

hidupnya masih tergantung pada persediaan makanan yang terdapat dalam biji.

Kecambah tersebut akan berkembang menjadi semai/anakan/seedling, yang pada

tahap selanjutnya akan tumbuh menjadi tumbuhan yang dewasa (Mudiana, 2007).

Beberapa faktor yang mempengaruhi perkecambahan benih antara lain

adalah tingkat kematangan benih, ketidaksempurnaan embrio, daya tembus air dan

oksigen terhadap kulit biji. Faktor internal, faktor eksternal seperti suhu, air, dan

oksigen maupun cahaya juga mempengaruhi perkecambahan biji. Perkecambahan

197
tidak dapat terjadi jika benih tidak dapat menyerap air dari lingkungan (Ardian,

2008).

Air merupakan syarat esensial untuk perkecambahan. Jumlah air yang

dibutuhkan bervariasi tergantung pada spesies yang ada. Misalnya seledri

memerlukan kandungan air tanah dekat kapasitas lapang, sedangkan tomat akan

berkecambah dengan kandungan air tanah di atas titik layu permanen.

Kebanyakan benih, kondisi lewat basah sangat merugikan, karena menghambat

aerasi dan merangsang kondisi favortabel untuk perkembangan penyakit (Harjadi,

2002).

Peristiwa imbibisi juga bisa dikatakan sebagai suatu proses penyusupan atau

peresapan air ke dalam ruangan antar dinding sel, sehingga dinding selnya akan

mengembang. Ada dua kondisi yang diperlukan untuk terjadinya imbibisi adalah

adanya gradient, potensial air antara permukaan adsorban dengan senyawa yang

diimbibisi dan adanya affinier (daya gabung) antara komponen adsorban dengan

senyawa yang diimbibisi. Luas permukaan biji yang kontak dengan air,

berhubungan dengan kedalaman penanaman biji, berbanding lurus dengan

kecepatan penyerapan air. Saat biji kacang hijau yang kering direndam dalam air,

air akan masuk ke ruang antar sel penyusun endosperm secara osmosis (Gardner,

1991).

Penambahan volume dalam peristiwa imbibisi adalah lebih kecil dari pada

penjumlahan volume zat mula-mula, dengan zat yang diimbibisikan apabila dalam

keadaan bebas. Perbedaan ini diduga karena zat atau molekul yang diimbibisikan

harus menempati ruang diantara molekul-molekul zat yang mengimbibisi

198
sehingga volume zat yang diimbibisikan tertakan lebih kecil dari pada bila dalam

keadaan bebas. Banyaknya air yang dihisap selama proses imbibisi umumnya

kecil, cepat dan tidak boleh lebih dari 2-3 kali berat kering dari biji. Kemudian

pertumbuhan biji tampak terhadap pertumbuhan akar dan sistem yang cepat, lebih

luas dan banyak menampung sumber air yang diterima. (Heddy, 1990).

Imbibisi berlangsung jika potensial osmotik larutan disekitar benih lebih

rendah daripada tekanan osmotik di dalam sel benih. Peningkatan konsentrasi

zatzat terlarut diluar benih dapat memperlambat kecepatan imbibisi benih. Benih

dapat mengalami kekeringan fisiologis, bahkan jika konsentrasi larutan luar sel

benih lebih tinggi, maka dapat terjadi pergerakan air dalam benih mengalami

plasmolisis (Mugnisjah, 1996).

Proses imbibisi pada perkecambahan kedelai merupakan proses fisik yaitu

air masuk ke dalam benih. Imbibisi air oleh benih sangat dipengaruhi oleh

komposisi kimia benih, permeabilitas kulit benih dan jumlah air yang tersedia

baik air dalam bentuk cairan maupun uap air yang terdapat disekitar benih. Air

yang masuk ke dalam biji dapat berasal dari lingkungan di sekitar biji, seperti dari

tanah, udara (dalam bentuk embun atau uap air), maupun media lainnya. Imbibisi

terjadi karena permukaan-permukaan struktur mikroskopik dalam sel tumbuhan,

seperti selulosa, butir pati, protein, dan bahan lainnya dapat menarik dan

memegang molekul-molekul air dengan gaya tarik antar molekul. Proses

penyerapan air tersebut terjadi melalui mikrofil pada kotiledon. Air yang masuk

ke dalam kotiledon menyebabkan volumenya bertambah, akibatnya kotiledon

199
membengkak. Pembengkakan tersebut menyebabkan testa (kulit biji) menjadi

pecah atau robek (Sadjad, 1975).

200
III. METODE PRAKTIKUM

A. Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini meliputi benih kedelai,

benih jagung, benih kacang tanah, Polyethylene Glycol (PEG), oven pengering

pada temperatur 170 C, timbangan analitik, cawan petri plastik, box

perkecambahan dari plastik (10 x 10 x 3 cm), dark germinator pada 25 C, pasir,

silet.

B. Prosedur Kerja

1. Imbibisi pada Benih Hidup dan Mati

a. Dua kelompok benih ditimbang dan dicatat hasil penimbangannya.

Kelompok pertama benih dipanaskan pada suhu 1700C selama 24 jam.

Kelompok kedua dibiarkan tidak dipanasi.

b. Kedua kelompok benih direndam dalam air destilasi selama satu jam.

c. Presentase peningkatan bobot benih dihitung dan dicatat.

2. Laju Imbibisi Dua Tipe Benih

a. Masing masing benih jagung dan kacang tanah diambil 5 buah, kemudian

dipotong menjadi dua bagian.

b. Masing-masing benih ditimbang secara terpisah, kemudian dicatat

hasilnya.

c. Kedua benih dimasukkan ke dalam cawan petri berisi air destilasi secara

terpisah sampai benih terendam.

201
d. Setiap 15 menit selama 1 jam, benih diambil dan dikeringkan, kemudian

ditimbang beratnya. Setelah ditimbang, benih direndam kembali dalam air

destilasi.

e. Hasil penimbangan dicatat fan dihitung rata-rata absorbsinya.

3. Pengaruh Kadar Air Media terhadap Imbibisi Air

a. Larutan PEG disiapkan dengan potensial osmotik dan -10bar dengan cara

melarutkan PEG masing-masing sebanyak 0 gram dan 32,5 gram per 100

ml air destilasi.

b. Tiga kelompok benih disiapkan yaitu kedelai, kacang tanah dan jagung.

c. Dua cawan petri disiapkan untuk masing-masing perlakuan (satu cawan

untuk potensial osmotik 0, satu cawab lagi untuk potensial osmotik -10).

d. Larutan PEG 100 ml per cawan petri dimasukkan secara hati-hati ke dalam

cawan petri. Setiap cawan berisi 20 benih kedelai, 20 kacang tanah dan 20

jagung dan masing-masing benih dipisahkan dengan sekat plastik.

e. Permukaan cawan petri ditutup agar laju evaporasi menjadi rendah.

f. Semua cawan petri disimpan di dark generator pada suhu 250C selama 7

hari.

g. Pada hari ke-8, semua cawan petri diambil dan dibuka tutupnya, kemudian

dihitung benih yang berkecambah.

Hasil pengamatan dicatat.

202
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Tabel 7.1 Imbibisi pada benih hidup dan mati


Bobot setelah
Perlakuan Bobot awal % Peningkatan
penanaman
Benih mati 2,03 gr 2,56 gr 26,1 %
Benih hidup 1,56 gr 2,18 gr 39,74%
Perhitungan


Benih mati = 100%

2,562,03
= 2,03
100%
= 26,1%


Benih hidup = 100%

2,181,56
= 100%
1,56
= 39,74%

Kesimpulan: Presentase imbibisi benih mati yang diperoleh yaitu 26,1% , dan

peningkatan presentase imbibisi benih hidup yaitu 39,74%

Tabel 7.2 Laju imbibisi 2 tipe benih


Bobot Bobot pada pengamatan 15 menit
Bobot Kadar
Spesies kering
awal air% 1 2 3 4
awal
Kc tanah 2,24 g 14,6 1,91 2,55 2,68 2,88 2,94
Jagung 1,14 g 11,6 0,84 1,30 1,31 1,37 1,42


% kadar air = 100%

14,62,24
= 100%
100

= 0,33 %

203
Bobot kering awal kc tanah = Bobot awal KA

= 2,24 0,33

= 1,91

Tabel 7.3 Data perhitungan laju imbibisi dua tipe benih


Rerata absorbsi air per gram berat kering
Spesies
15 menit 30 menit 45 menit 60 menit
Kc tanah 0,16 0,68 0,104 0,03
Jagung 0,19 0,11 0,07 0,05

() (1)
1. RA =

a. 15 menit
2,552,24
1. Kacang tanah RA = 1,91 = 0,16
1,301,14
2. Jagung = = 0,19
0,84

b. 30 menit
2,682,55
1. Kacang tanah RA = 1,91 = 0,068
1,311,30
2. Jagung RA = = 0,11
0,84

3. % Kadar air = 100%

11,6 = 1,14 100%
11,6 1,14
KA = 100

= 0,13

Bobot kering awal : bobot awal KA


1,14 0,13
0,84
c. 45 menit
2,882,68
1. Kacang tanah RA = 1,91 = 0,104
1,371,31
2. Jagung RA = = 0,07
0,84

204
d. 60 menit
2,942,88
1. Kacang tanah RA = = 0,03
1,91
1,421,37
2. Jagung RA = = 0,05
0,84

Kesimpulan : Jadi perhitungan dari laju imbibisi dua tipe benih pada waktu 15

menit diperoleh rerata absorbsi pada kacang tanah yaitu 0,16 dan jagung 0,19.

Pada waktu 30 menit diperoleh rerata absorbsi pada kacang tanah 0,068 dan

jagung 0,11. Pada waktu 45 menit rerata absorbsi diperoleh pada kacang tanah

sebesar 0,104 dan pada jagung 0,07. Sedangkan pada waktu ke 60 menit diperoleh

rerata arbsorbsi kacang tanah sebesar 0,03 dan pada jagung diperoleh rerata

arbsorbsi 0,05.

Tabel 7.4
Tekanan osmotik
Kelompok benih 0 -20
% perkecambahan
Kacang tanah 100% 100%
Kedelai 10% 30%
Jagung 100% 100%
Kontrol

a. Kacang tanah
10
% perkecambahan = 10 100%
= 100%
b. Kedelai
1
% perkecambahan = 10 100%
= 10%

c. Jagung
10
% perkecambahan = 10 100%
= 100%

205
PEG

a. Kacang tanah
20
% perkecambahan = 20 100%
= 100%

b. Kedelai
3
% perkecambahan = 10 100%
= 30%

c. Jagung
10
% perkecambahan = 10 100%
= 100%

206
B. Pembahasan

Perkecambahan adalah proses awal pertumbuhan individu baru pada

tanaman yang diawali dengan munculnya radikel pada testa benih. Menurut

Agustrina (2008), perkecambahan sangat dipengaruhi oleh ketersediaan air dalam

medium pertumbuhan. Air akan diabsorbsi dan digunakan untuk memacu aktivitas

enzim-enzim metabolism perkecambahan. Menurut Song (2010), air merupakan

salah satu faktor luar yang sangat penting dalam perkecambahan, karena

penyerapan air merupakan tahap awal perkecambahan biji. Air berperan penting

untu mengaktifkan sel-sel yang bersifat embrionik di dalam biji, melunakkan kulit

biji dan menyebabkan mengembangnya embrio dan endosperm, fasilitas untuk

masuknya oksigen kedalam biji, mengencerkan protoplasma dan media angkutan

makanan dari endosperm atau kotiledon ke daerah titik-titik tumbuh.

Perkecambahan menurut Mudiana (2007) diawali dengan penyerapan air

dari lingkungan sekitar biji, baik tanah, udara maupun media tanam lainnya.

Perubahan yang teramati adalah membesarnya ukuran biji yang disebut tahap

imbibisi. Biji menyerap air dari lingkungan sekitarnya, baik dari tanah maupun

udara dan biji akan melunak. Kehadiran air di dalam sel mengaktifkan sejumlah

enzim perkecambahan awal. Fitohormon asam absisat menurun kadarnya,

sementarra giberelin meningkat. Proses perkecambahan yang normal sekelompok

faktor transkripsi yang mengatur auksin direndam oleh mRNA. Perubahan

pengendalian ini merangangsang pembelahan sel di bagian yang aktif melakukan

mitosis, seperti di ujung radikula. Akibatnya, ukuran radikula semakin besar dan

kulit atau cangkang biji terdesak dari dalam, yang pada akhirnya pecah.

207
Perkecambahan menurut Sharp (2007), dimulai dengan proses penyerapan air ke

dalam sel-sel dan proses ini merupakan proses fisika. Proses penyerapan air pada

bii atau imbibisi terjadi melalui mikropil. Air yang masuk ke dalam kotiledon

membengkak. Pembengkakan tersebut pada akhirnya menyebabkan pecahnya

testa. Masuknya air pada biji menyebabkan enzim aktif bekerja dan proses ini

berhubungan dengan aspek kimia.

Proses imbibisi pada perkecambahan biji yang telah dilakukan oleh Dhanda

(2007), antara lain:

1. Penyerapan air mengaktifkan sel-sel yang bersifat embrionik di dalam biji,

sehingga, penyerapan air mempercepat perkecambahan

2. Air yang diserap oleh biji berguna untuk melunakkan kulit biji dan

menyebabkan mengembangnya embrio dan endosperm. Hal ini

mengakibatkan pecah atau robeknya kulit biji.

3. Air memberikan fasilitas untuk masuknya oksigen kedalam biji. Dinding sel

kering hampir tidak permeable untuk gas, tetapi apabila dinding sel diimbibisi

oleh air, maka gas akan masuk ke dalam sel secara difusi. Apabila dinding sel

kulit biji dan embrio menyerap air maka persediaan oksigen meningkatkan

pada sel selhidup sehingga memungkinkan lebih aktifnya respirasi. Selain itu,

CO2 yang dihasilkan oleh respirasi lebih mudah berdifusi keluar.

4. Air berguna untuk mengencerkan protoplasma reaksi metabolism dalam sel.

Sebagian air dalam protoplasma sel-sel embrio dan bagian hidup lainnya pada

biji hilang sewaktu biji tersebut telah mencapai masak sempurna dan lepas

dari induknya. Sejak saat ini aktivitas protoplasma hampir seluruhnya berhenti

208
sampai perkecambahan dimulai. Sel-sel hidup tidak bisa aktif lagi

melaksanakan proses-proses seperti penguraian pernapasan, asimilasi, dan

pertumbuhan apabila protoplasma tidak mengandung air yang cukup.

5. Air berguna sebagai media angkutan makanan dari endosperm atau kotiledon

ke daerah titik-titik tumbuh, yang diperlukan untuk membentuk protoplur.

Ketika air dibutuhkan dalam proses perkecambahan maka, faktor-faktor

yang mempengaruhi proses kecepatan penyerapan air ke dalam biji oleh Sutopo

(2010), sebagai berikut:

1) Permeabilitas kulit/membrane biji

2) Konsentrasi air

3) Suhu air

4) Tekanan hidrostatik

5) Luas permukaan biji yang kontak denga air

6) Daya intermolekuler

7) Komposisi kimia

8) Tingkat kemasakan

9) Spesies dan varietas

10) Umur

Beberapa faktor yang mempengaruhi penyerapan air oleh biji diantaranya

menurut Dwidjoseputro (1983), antara lain:

1. Konsentrasi air

Bertambah besar perbedaan tekanan difusi antara sairan luar dan dalam biji,

bertambah cepat penyerapan air oleh biji.

209
2. Tekanan hidrostatik

Masuknya air ke dalam biji menimbulkan tekanan hidrostatik karena

meningkatnya volume air pada membrane inti. Tekanan hidrostatik

menyebabkan meningktanya tekanan difusi air. Hal ini menyebabkan

naiknya kecepatan difusi ke luar dan menurunnya kecepatan penyerapan air

oleh biji. Kecepatan penyerapan air adalah berbadningan terbalik dengan

jumlah air yang diserap terlebih dahulu oleh biji. Jadi, kecepatan penyerapan

pada permulaan tinggi dan kemudian semakin lambat sejalan dengan naiknya

tekanan hidrostatik sampai tercapai keseimbangan.

3. Daya intermolekuler

Daya ini merupakan tenaga listrik, apabila tenaga ini meningkat akan

menyebabkan menurunnya tekanan difusi air dan juga berarti turunnya

kecepatan penyerapan air.

4. Luas permukaan biji yang kontak dengan air

Kecepatan penyerapan air oleh biji berbanding lurus dengan luas permukaan.

Pada keadaan tertentu, bagian khusus pada biji dapat menyerap air lebih

cepat.

5. Spesies dan varietas

Berhubungan dengan faktor genetic yyang menentukan susunan kulit biji.

Faktor luar terjadinya imbibisi yang dikemukakan oleh Mayer (1963),

sebagai berikut:

1. Kecepatan transpirasi : semakin cepat transpirasi makin cepat penyerapan.

210
2. Sistem perakaran : tumbuhan yang mempunyai system perakaran berkembang

baik, akan mampu mengadakan penyerapan lebih kuat karena jumlah bulu

akar semakin banyak.

3. Kecepatan metabolisme: karena penyerapan memerlukan energi, maka

semakin cepat metabolismem (terutama respirasi) akan mempercepat

penyerapan.

Faktor lingkungan dijelaskan oleh Mayer (1963), sebagai berikut:

1. Ketersediaan air tanah : tumbuhan dapat menyerap air bila air tersedia antara

kapasitas lapang dan konsentrasi layu tetap. Bila air melebihi kapasitas lapang

penyerapan terhambat karena akan berada dalam lingkungan anaerob.

Konsentrasi air tanah : air tanah bukan air murni, tetapi larutan yang berisi

berbagai ion dan molekul. Semakin pekat larutan tanah semakin sulit

penyerapan.

2. Temperatur tanah: temperatur mempengaruhi kecepatan metabolism. Ada

temperatur optimum untuk metabolisme dan tentu saja ada temperatur

optimum untuk penyerapan.

3. Aerasi tanah: yang dimaksud dengan aerasi adalah pertukaran udara, yaitu

maksudnya oksigen dan lepasnya CO2 dari lingkungan. Aerasi

mempengaruhi proses respirasi aerob, kalau tidak baik akan menyebabkan

terjadinya kenaikan kadar CO2 yang selanjutnya menurunkan pH. Penurunan

pH ini berakibat terhadap permeabilitas membran sel.

211
Kuswanto (1996), menyebutkan faktor terjadinya imbibisi, antara lain:

1. Susunan kimiawi kulit

2. Cadangan makanan benih

3. Umur benih

4. Tekanan osmosis

5. Permeabilitas kulit benih

6. Suhu

Faktor yang mempengaruhi imbibisi menurut Morris (2000) ialah

konsentrasi air bertambah besar perbedaan tekanan difusi antara cairan luar dan

dalam biji, bertambah cepat penyerapan air oleh biji. Tekanan hidrostatik,

masuknya air ke dalam biji menimbulkan tekanan hidrostatik karena

meningkatnya volume air pada membran biji. Tekanan hidrostatik menyebabkan

meningkatnya tekanan difusi air. Hal ini menyebabkan naiknya kecepatan difusi

ke luar dan menurunnya kecepatan penyerapan air oleh biji. Kecepatan

penyerapan air adalah berbanding terbalik dengan jumlah air yang diserap terlebih

dahulu oleh biji. Jadi kecepatan penyerapan pada permulaan tinggi dan kemudian

semakin lambat sejalan dengan naiknya tekanan hidrostatik sampai tercapai

keseimbangan.

Hubungan imbibisi, difusi dan osmosis. Transportasi tumbuhan adalah

proses pengambilan dan pengeluaran zat-zat ke seluruh bagian tubuh tumbuhan.

Ghahari (2009) pada tumbuhan tingkat rendah (misal ganggang) penyerapan air

dan zat hara yang terlarut di dalamnya dilakukan melalui seluruh bagian tubuh.

Pada tumbuhan tingkat tinggi (misal spermatophyta) proses pengangkutan

212
dilakukan pembuluh pengangkut yang terdiri dari xylem dan phloem. Tumbuhan

memperoleh bahan dari lingkungan untuk hidup berupa O2, CO2, air dan unsur

hara. Kecuali gas O2 dan CO2 zat diserap dalam bentuk larutan ion. Mekanisme

proses penyerapan dapat belangsung karena adanya proses, difusi, osmosis,

transpor aktif, dan imbibisi. Imbibisi merupakan salah satu proses difusi yang

terjadi pada tanaman. Imbibisi merupakan masuknya air pada ruang interseluler

dari konsentrasi rendah ke konsentrasi tinggi. Proses imbibisi tidak melibatkan

membrane seperti pada peristiwa osmosis. Imbibisi terjadi karena permukaan-

permukaan struktur mikroskopik dalam sel tumbuhan, seperti selulosa, butir pati,

protein, dan bahan lainnya yang dapat menarik dan memegang molekul-molekul

air dengan gaya tarik antarmolekul. Peristiwa imbibisi juga bisa dikatakan sebagai

suatu proses penyusupan atau peresapan air ke dalam ruangan antar dinding sel,

sehingga dinding selnya akan mengembang. Misalnya masuknya air pada biji saat

berkecambah dan biji kacang yang direndam dalam air beberapa jam. Perbedaan

antara osmosis dan imbibisi yaitu pada imbibisi terdapat adsorban. Ada dua

kondisi yang diperlukan untuk terjadinya imbibisi adalah adanya gradient

potensial air antara permukaan adsorban dengan senyawa yang diimbibisi dan

adanya afinitas antara komponen adsorban dengan senyawa yang diimbibisi.

Imbibisi dipengaruhi oleh dua factor, yaitu temperature dan potensial osmosis

senyawa yang diimbibisi. Temperatur tidak mempengaruhi kecapatan imbibisi,

sedangkan potensial osmosis dapat mempengaruhi kedua-duanya. Saat biji kacang

hijau yang kering direndam dalam air, air akan masuk ke ruang antarsel penyusun

endosperm secara osmosis. Peristiwa tersebut termasuk peristiwa imbibisi.

213
Kecepatan imbibisi berbanding lurus dengan kenaikan suhu dan berbanding

terbalik dengan kenaikan konsentrasi zat (Ardian, 2008).

Hubungan potensial air dan imbibisi, adalah satu faktor yang mempengaruhi

faktor perkecambahan adalah air. Hal ini dicontohkan pada tanaman didaerah

tropis, air tersedia untuk pertumbuhan dan perkembangan yang cepat dari

mulainya musim hujan sampai 20-30 hari setelah hujan berhenti. Sesudah itu air

semakin tidak tersedia setelah profil tanah mengering. Biji-biji yang disebar

dipermukaan tanah mengering pada akhir periode suplai air yang mendukung ini,

mungkin mengalami kondisi baik untuk perkecambahan selama periode hujan

yang terisolasi, tetapi bibit yang dihasilkan dari perkecambahan biji-biji non

dorman akan segera mati karena kekeringan. Air berpengaruh terhadap

pertumbuhan karena fungsinya dalam metabolisme sangat besar. Selain

menentukan turgor sel sebelum sebelum membelah atau membesar, air juga akan

menentukan kecepatan reaksi biokimia dalam sel. Berubahnya kadar air akan

mempengaruhi kadar hormon di dalam tubuh tumbuhan (Afifah, 1990).

Polyethylene glycol merupakan senyawa inertdengan rantai polimer

panjang telah digunakan secarameluas untuk penelitian. PEG adalah salah satu

senyawa yang dapat digunakan dalam penapisan (screening), karena PEG

mempunyai sifat dalam mengontrol imbibisi dan hidrasi benih. Selain itu PEG

juga digunakan dalam pengujian ketahanan benih terhadap kekeringan dengan

memperhitungkan indek kekeringan. Bibit atau benih yang terseleksi dengan

penggunaan PEG tersebut dapat tumbuh lebih baik pada cekaman kekeringan

dilapangan, seperti pada tanaman jagung (Lestari, 2006). Ukuran molekul dan

214
konsentrasi PEG dalam larutan menentukan besarnya potensial osmotic larutan

yang terjadi. Menurut Michel dan Kaufmann (1973), larutan PEG 6000 dengan

konsentrasi5% mempunyai potensial osmotic -0,13 MPa (1,26 bar) sedangkan

konsentrasi 20% mempunyai potensial osmotic -0,71 MPa (7,06 bar). Tanah

dalam kondisi kapasitas lapang mempunyai potensial osmotic 0,33 bar dan

dalam kondisi titik kelembapan kritis koefisien layu mempunyai potensial

osmotic 15 bar.

Semakin besar nilai BM PEG makan akan semakin padat PEG tersebut dan

sebaliknya. PEG berdasarkan berat molekulnya dibagi menjadi PEG 200, 400,

600, 1000, 1500, 1540, 3350, 4000, 6000, 8000 dan diatas 100.00 sampai

dengan 300.000. PEG dengan BM dibawah 1000 beruapa cairan jernih tidak

berwarna, PEG dengan BM 1000-1500 berupa semi padat. PEG 3000-20.000

berupa padatan semi kristalin. diatas 100.000 berupa resin pada suhu kamar.

PEG semakin meningkat kekerasannya dengan bertambah besarnya BM.

Umumnya PEG dengan bobot molekul 1500-20000 yang digunakan untuk

pembuatan dispersi padat. Sedangkan untuk PEG dibawah 1500 digunakan

dalam dispersi cair (Leuner dan Dressman, 2000). Jadi dapat disimpulkan bahwa

perbedaan PEG 4000 dan 6000 terletak pada tingkat kepadatan PEG tersebut

yang digunakan sesuai dengan kebutuhannya. Cara membuat larutan PEG

dengan potensial osmotik -20 bar yaitu dengan melarutkan 32,5 gram per 100 ml

air destilasi. Apabila ingin membuat larutan PEG -20 bar sebanyak 5 liter yaitu

dengan melarutkan larutan PEG sebanyak 1625 gram per 5000 ml air destilasi.

215
Laju imbibisi dikotil dan monokotil, banyaknya air yang terserap kedalam

setiap jenis biji berbeda karena pada setiap jenis biji mempunyai daya serap air

yang berbeda dan pada masing-masing jenis biji mempunyai tingkat kekeringan

yang berbeda, dan biji yang kering mempunyai potensial air yang rendah sehingga

dapat menyerap air lebih banyak dibandingkan dengan biji yang kurang tingkat

kekeringannya (Sukmadjaja, 2005).

Komposisi kimia benih berlainan untuk setiap benih, tetapi secara umum

digolongkan oleh Sutopo (2010), sebagai berikut:

1. Karbohidrat

Karbohidrat merupakan cadangan makanan utama benih, terutama pada

tanaman serealia seperti jagung, gandum, dan padi. Benih berkarbohidrat

akan tahan simpan. Karbohidrat yang terkandung dalam benih yaitu amilosa

dan amilopektin, yang merupakan zat penting selama perkecambahan. Selain

itu, bebrapa benih tertentu mengandung hemiselulosa.

2. Protein

Protein menrupakan cadangan makanan utama leguminose (kedelai),

berdasarkan keaktifan metabolism, dikelompokkan ata protein yang aktif

secara metabolis (globulin dan albumin) dan yang non aktif (glutelin dan

prolamin). Berdasarkan kelarutannya protein pada benih digolongkan

menjadi:

a. Albumin: larut dalam air pada kondisi netral atau sedikit asam mudah

koagulasi karena panas. Contohnya leucosin (serealia), ricin (padi),

legumelin

216
b. Globulin: tidak larut dalam air, larut dalam larutan garam relative lebih

sulit terkoagulasi karena panas. Contohnya vignin, glycinin (kedelai),

arachin (kacang tanah).

c. Glutelin: larut dalam air, larutan garam, dan etialkohol. Contohnya

glutenin

Prolamin: larut dalam etilalkohol 70-90%, tidak larut dalam air.

Contohnya gliadin (gandum) dan zein (jagung).

3. Lemak

Lemak merupakan cadangan makanan utama pada benih, misalnya kedelai,

kacang tanah, kapas, bunga matahari, wijen, dan lain-lain. Benih dengan

kandungan lemak tinggi, daya simpan lebih rendah disbanding karbohidrat,

terutama asam lemak tidak jenuh yang tinggi. Asam lemak tak jenuh dalam

biji: oleat (1 ikatan ganda) dan linoleat (2 ikatan ganda), asam lemak jenuh

palmitat (n-14).

Imbibisi pada benih hidup dan mati dan hasil, imbibisi adalah penyerapan

air (absorpsi) oleh benda-benda yang padat (solid) atau agak padat (semi solid)

karena benda-benda tersebut mempunyai zat penyusun dari bahan yang berupa

koloid. Imbibisi berfungsi sebagai laju perkecambahan pada benih. Jika benih

tidak dapat melakukan imbibisi maka laju perkecambahan benih akan terhambat.

Salah satu faktor yang dapat mempercepat laju perkecambahan benih adalah

terjadinya imbibisi pada benih, karena dengan adanya imbibisi laju metabolisme

pada benih akan berjalan dengan lancar. Biji yang kering atau biji yang mati

masih dapat melakukan imbibisi namun tidak dapat memperlancar laju

217
metabolisme pada benih, sehingga biji hanya akan menggelembung. Air yang

masuk kedalam biji (imbibisi) akan mengaktifkan enzim-enzim yang ada di dalam

biji, yang sangat membantu dalam proses pembentukan energi yang ditransfer ke

bagian embrionik axis, untuk membantu proses terjadinya perkecambahan biji.

Imbibisi air menyebabkan embrio di bawah kulit benih akan memproduksi

sejumlah kecil hormon (giberelin). Penyerapan air juga membuat jaringan dalam

benih akan terhidrasi membentuk enzim (termasuk di dalamnya adalah hormon

sitokinin dan auksin). Banyaknya air yang dihisap selama proses imbibisi

umumnya kecil, cepat dan tidak boleh lebih dari 2-3 kali berat kering dari biji.

Kemudian biji tampak membesar karena banyak menampung sumber air yang

diterima. Faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya imbibisi adalah tekanan,

kulit biji, benih dan substratnya. Semakin kecil tekanan benih dari pada tekanan

larutan, maka semakin besar proses imbibisi. Kulit biji tipis, mengandung substrat

yang mudah larut dalam air dan benih tidak kering, maka air yang diserap akan

lebih banyak dan sebaliknya. Berikut merupakan grafik laju imbibisi yang terjadi

pada beberapa jenis tanaman (Hasanah, 1977). Dalam melakukan proses imbibisi

benih diberikan perlakuan pada benih yaitu dengan membelah benih menjadi dua

bagian yang sama besar hal ini dilakukan untuk menghilangkan perbedaan

permeabilitas kulit biji antara benih yang diamati. Menurut Harjadi (2002),

dengan dilakukan pembelahan benih maka tidak terdapat perbedaan antara benih

yang memiliki permeabilitas tinggi dan benih yang impermeabilitas.

Pratikum yang telah dilakukan pada percobaan imbibisi pada benih hidup

dan benih mati maka, diperoleh hasil sebagai berikut: pada benih mati bobot awal

218
adalah 2,03g pada bobot setelah perendaman 2,56g maka, diperoleh persentase

peningkatan perkecambahan sebesar 26,1%. Sedangkan, benih hidup diperoleh

bobot awal 1.56g pada bobot setelah pernedaman didapatkan 2,18g maka,

diperoleh presentase peningktan perkecambahan sebesar 39,74%. Hal ini dapat

disimpulkan bahwa proses imbibisi pada benih hidup lebih banyak

peningkatannya daripada imbibisi pada benih mati. Hal ini sesuai dengan

pendapat yang dilakukan oleh Asiedu et.al (2008) bahwa pada benih yang hidup

dinding sel dan embrio masih membutuhkan air untuk proses perkecambahan dan

memiliki potensi penyerapan air lebih tinggi daripada benih yang mati, karena

benih hidup memiliki embrio yang masih aktif. Aktifnya embrio tersebut akan

merombak cadangan makanan pada benih untuk menghasilkan energi yang

digunakan dalam proses perkecambahan.

Benih direndam secara periodik, imbibisi ini dilakukan dengan perlakuan

pelukaan. Pelukaan benih bertujuan untuk mempercepat air untuk masuk ke dalam

benih. Peristiwa inilah yang dimaksud dengan imbibisi. Cara kerja imbibisi yaitu

air yang ada pada lingkungan akan masuk kedalam benih melalui kulit biji yaitu

melalui membran permeabel. Setelah air masuk kedalam benih air tersebut, akan

mengaktifkan enzim-enzim agar laju metabolisme dalam benih dapat berjalan

lancar. Setelah metabolisme dalam biji aktif maka proses perkecambahan pun

akan terjadi. Begitu juga perendaman yang dilakukan dalam percobaan ini.

Perendaman dilakukan bertujuan untuk mengetahui proses masuknya air ke dalam

benih. Perendaman untuk mengetahui laju imbibisi dari benih (Mugnisyah, 1996).

Semakin lama biji direndam, maka semakin besar masuknya air ke dalam

219
endosperm biji. Perndaman biji dalam air mengakibatkan kulit biji lembab dan

lebih lunak memungkinkan pecah dan robek sehingga perkembangan embrio dan

endosperm lebih cepat terjadi, serta untuk memberikan fasilitas masuknya oksigen

(larut dalam air) kedalam biji. Selain itu, air juga berfungsi mengencerkan

protoplasma sehingga dapat mengaktifkan berbagai fungsinya serta sebagai alat

transport larutan makanan dari endosperm atau kotiledon ke titik tumbuh, dimana

akan terbentuk protoplasma baru (Soeridokoesomo, 1993).

Prosedur kerja, Imbibisi adalah tahap pertama yang sangat penting karena

menyebabkan peningkatan kandungan air benih yang diperlukan untuk memicu

perubahan biokimiawi dalam benih sehingga benih berkecambah. Jika proses ini

terhambat maka perkecambahan juga akan terhambat. Kulit benih adalah struktur

penting sebagai suatu pelindung antara embrio danlingkungan di luar benih,

mempengaruhi penyerapanair, pertukaran gas dan bertindak sebagai penghambat

mekanis dan mencegah keluarnya zat penghambat dari embrio. Dormansi yang

disebabkan oleh kulit benih dapat terjadi karena adanya komponen penyusun

benih baik yang bersifat fisik dan atau kimia. Semakin tua benih aren ternyata

semakin rendah permeabilitasnya terhadap air meskipun kadar airnya semakin

menurun sehingga ketika dikecambahkan proses imbibisi benih aren berlangsung

sangat lambat. Diduga hal tersebut disebabkan oleh struktur benih aren yang

bersifat menghambat masuknya air ke dalam benih. Kondisi kadar air benih, ialah

berat air yang dikandung dan yang kemudian hilang karena pemanasan sesuai

dengan aturan yang ditetapkan, yang dinyatakan dalam persentase terhadap berat

awal contoh benih. Penetapan Kadar Air adalah banyaknya kandungan air dalam

220
benih yang diukur berdasarkan hilangnya kandungan air tersebut & dinyatakan

dalam % terhadap berat asal contoh benih. Tujuan penetapan kadar air diantaranya

untuk untuk mengetahui kadar air benih sebelum disimpan dan untuk menetapkan

kadar air yang tepat selama penyimpanan dalam rangka mempertahankan

viabilitas benih tersebut (Schmidt, 2000).

Hasil dan pembanding, pengamatan terhadap kadar air awal pada benih

kedelai (Glycine max), jagung (Zea mays), dan kacang tanah (Arachis hypogea)

dimaksudkan untuk mengetahui laju imbibisi tiap benih dalam menentukan

kandungan air benih secara menyeluruh dan gambaran proses imbibisi pada tiap

benih. Kadar air awal mempengaruhi laju imbibisi dikarenakan semakin rendah

kadar air benih, jika direndam dalam air maka kekuatan menarik air (driving

force) masuk ke dalam benih semakin besar, seperti halnya pada benih kedelai.

Pada tahap imbibisi suplai air dalam keadaan terbatas, maka perkecambahan dapat

terhambat.

Menurut Sukmadjaja (2005) pada umumnya kulit benih yang tersusun oleh

lignin, tannin, lilin dan sel sklereid yang rapat, dapat mengurangi sifat

permeabilitasnya terhadap air. Tannin, lignin, dan senyawa kimia lain dalam kulit

benih kacang tunggak berpengaruh nyata terhadap kecepatan penyerapan air dan

kerusakan akibat imbibisi. Pada kebanyakan kasus, biji yang impermeable

mempunyai pori-pori sangat sedikit dan dangkal. Testa merupakan struktur

penting sebagai barier pelindung embrio dari lingkungan eksternal,

mengendalikan penyerapan air dan pertukaran gas, serta sebagai hambatan

mekanis keluarnya inhibitor dari embrio. Testa juga berfungsi melindungi benih

221
dari kebocoran larutan sel benih yang sering terjadi selama imbibisi. Fase hidrasi,

testa sering menjadi factor pembatas, sehingga penghilangan atau pengelupasan

testa secara menyeluruh atau sebagian dapat mempercepat laju penyerapan air.

Benih palem Sagu (Metroxylon sagu Rottb) perkecambahannya meningkat jika

perikarp dan sarkostesta dihilangkan serta direndam air untuk waktu yang lama.

Pelunakan kulit benih menggunakan asam atau merusakkan testa dengan

pengkeratan maupun pengelupasan akan meningkatkan penyerapan aisehingga

perkecambahannya lebih awal dan lebih cepat. pengampelasan kulit benih

mempercepat perkecambahan dan persentase perkecambahan benih aren secara

nyata. Hal ini disebabkan pengampelasan kulit benih tersebut berakibat

mengurangi hambatan mekanis kulit benih untuk berimbibisi, sehingga

peningkatan kadar air dapat terjadi lebih cepat pada benih yang diampelas.

222
V. PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil praktikum dapat disimpulkan bahwa :

1. Imbibisi adalah penyerapan air (absorbsi) oleh benda-benda yang padat

(solid) atau agak padat (semi solid) karena benda-benda tersebut mempunyai

suatu zat penyusun dari bahan yang berupa koloid.

2. Semakin tinggi kadar air benih mengakibatkan laju imbibisi semakin rendah.

3. Presentase peningkatan imbibisi pada benih hidup lebih besar dibandingkan

dengan benih mati.

4. Laju imbibisi kacang tanah lebih besar laju imbibisinya dibandingkan benih

jagung.

B. Saran

Saran untuk praktikum kali ini adalah lebih teliti dalam melakukan

perhitungan.

223
DAFTAR PUSTAKA

Afifah, Siti. 1990. Pengaruh Kondisi Kulit Benih terhadap Viabilitas Benih pada
Berbagai Varietas Kedelai. Laporan Karya Ilmiah. Institut Pertanian Bogor,
Fakultas Pertanian, Jurusan Budidaya Pertanian, Bogor.

Agustrina, R. 2008. Perkecambahan dan Pertumbuhan Kecambah Leguminoceae


di bawah Pengaruh Medan Magnet. Prosiding Seminar Hasil Penelitian dan
Pengabdian kepada Masyarakat. Universitas Lampung. Bandar Lampung.

Ardian. 2008. Effect of heating treatment and heating time on the germination of
coffe (Coffe arabica). Akta Agrosia 11: 25 33.

Asiedu, e.H., A, Powell. 2008. Cowpea Seed Coat Chemical Analysis in Relation
to Storage Seed Quality. Africa Cro Sci. 8 (3): 283-294.

Dhanda, S.S., G.S. Sethi. 2007. Indies of Drought Tolerances in Wheat Genotypes
at Early Stages of Plant Growth. Journal Agronomy And Crop Science.
190:9-12.

Dwijoseputro. 1983. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Gramedia. Jakarta.

Gardner, F.P: R.B. Pearce and R.L. Mitchell. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya.
Terjemahan Diah, R.L dan Sumaryono. Ui Press. Jakarta.

Ghahari, S. dan M. Miransari. 2009. Allelopathic Effects of Rice Cultivars on the


Growth Parameters of Different Rice Cultivars. Int. J. Biol. Chem, 3: 56- 70.

Hasanah, M. 1977. Pedoman Pengujian Benih di Laboratorium. Latihan


Pengawas Benih Perkebunan. Bogor.

Harjadi, M. 2002. Pengantar Agronomi. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Heddy, S. 1990. Hormon Tumbuhan. CV. Rajawali. Jakarta.

Kimball, J. W. 1992. Biology. Fifth Edition. Addison-Wesley Publishing


Company, New York.

Kuswanto, Hendarto. 1996. Dasar-Dasar Teknologi Benih dan Sertifikasi Benih.


Andi. Yogyakarta.

Lestari, Endang Gati. 2006. Identifikasi Sonakloni Padi Gajah Mungkur Towuti
dan IR64 Tahan Kekeringan Menggunakan Polythehylene glycol. Balai

224
Besar Penelitian Bioteknologi Dan Sumber Daya. Genetika Pertanian Bogor.
Buletin Agronomi. (34) (2):71-78.

Leuner, C., dan Dressman, J. 2000. Improving Drug Solubility for Oral Delivery
Using Solid Dispersion. Eur. J. Pharm. Biopharm. 50(3): 47-60.

Mayer, A.M. 1963. The Germination of Seeds. Mac Millan: New York.

Michel, B.C., Kaufmann. 1973. The Osmotic Potential of Polythylene glycol


6000. Plant Physiol. 57:914-916.

Morris, E.C. 2000. Germination Response of Seven East Australian Grevilleae


Species to Smoke, Heat Exposive And Scrification. Australian Journal
BOT. 48: 179-189.

Mudiana, D. 2007. Germination of Syzygium cumini (L) skeells. Biodiversitas 8:


39-47.

Mugnisjah. W.Q; Asep. S; S. Suwarto; Cecep. S. 1996. Panduan Praktikum dan


Penelitian Bidang Ilmu dan Teknologi Benih. PT. Raja Grafindo Persada.
Jakarta.

Sadjad, S. 1975. Proses Metabolisme Perkecambahan Benih dalam dasar-dasar


Teknologi benih. Capita selekta. Departemen Agronomi. Buku. Institut
Pertanian Bogor. Bogor. 138 p.

Schmidt, L. 2000. Pedoman Penanganan Benih Tanaman Hutan Tropis dan Sub
Tropis 2000. Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan
Sosial, Departemen Kehutanan. Jakarta.

Sharp, R.E dan W.J. Davis. 2007. Regulation of Growth and Development of
Plaqnts Growing With a Restricted Supply of Water. Plant Unser Stress.
Cambridge University Press: 71-93.

Soeridokoesomo, Wibisono. 1993. Anatomi dan Fisiologi Tumbuhan. Departemen


Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta.

Song, Nio Ai dan Maria Ballo. 2010. The Role of Water During Seed
Germination. Jurnal Ilmiah Sains. Vol 10 Bo. 2:190-195.

Sukmadjaja D. 2005. Embriogenesis somatik langsung pada semai cendana. J


Bioteknologi Pertanian 10(1):1-6.

Sutopo, L. 2010. Teknologi Produksi Benih dan Sertifikasi Benih. Andi.


Yogyakarta.

225
LAMPIRAN

Imbibisi pada benih hidup dan mati

Laju imbibisi dua tipe benih

Pengaruh kadar air media terhadap imbibisi air

226