Anda di halaman 1dari 25

BAB 1.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Persalinan adalah proses pergerakan keluar janin, plasenta, dan membran
dari dalam rahim melalui jalan keluar. Persalinan dianggap normal jika wanita
berada pada atau dekat masa aterm, tidak terjadi komplikasi, terdapat janin
dengan presentasi puncak kepala, dan persalinan selesai dalam 24 jam. Pada
persalinan kala I, lamanya persalinan pada ibu primipara 6-18 jam dan ibu
multipara 2-10 jam.
Proses persalinan kala I pada persalinan disertai nyeri yang merupakan
suatu proses fisiologis.Proses persalinan kala I merupakan pengalaman
subjektif tentang sensasi fisik yang terkait dengan kontraksi uterus, dilatasi,
dan penipisan serviks. Nyeri yang dirasakan berasal dari bagian bawah
abdomen dan menyebar ke daerah lumbar punggung dan menurun ke Sebuah
studi pada wanita dalam persalinan kala I dengan memakai McGill Pain
Questionnare untuk menilai nyeri didapatkan bahwa 60% primipara
melukiskan nyeri akibat kontraksi uterus sangat hebat (intolerable, unberable,
extremely severe), 30% nyeri sedang. Pada multipara 45% nyeri hebat, 30%
nyeri sedang, 25% nyeri ringan (Acute Pain Services (APS), 2007).
Berbagai upaya dilakukan untuk menurunkan nyeri pada persalinan, baik
secara farmakologi maupun nonfarmakologi. Manajemen nyeri secara
farmakologi lebih efektif dibanding dengan metode nonfarmakologi namun
metode farmakologi lebih mahal, dan berpotensi mempunyai efek yang kurang
baik. Sedangkan metode nonfarmakologi bersifat non intrusif, non invasif,
murah,sederhana, efektif dan tanpa efek yang merugikan. Metode
nonfarmakologi juga dapat meningkatkan kepuasan selama persalinan karena
ibu dapat mengontrol perasaannya dan kekuatannya.
Metode nonfarmakologi yang dapat digunakan untuk menurunkan nyeri
persalinan antara lain teknik relaksasi, imajinasi, pergerakan dan perubahan
posisi, umpan balik biologis, effleurage, hidroterapi, hipnoterapi, homeopati,

1
terapi bola-bola persalinan, terapi musik, akupresur, akupunktur, dan
aromaterapi.
Akupresur merupakan salah satu teknik nonfarmakologi dalam manajemen
nyeri persalinan. Akupresur berasal dari Cina yang telah ada sejak lima ribu
tahun lalu dan merupakan kumpulan dari pengalaman dan penelitian dari abad
ke abad yang dikembangkan sampai sekarang. Perkembangan akupresur tidak
saja di negeri Cina, tetapi berkembang di Asia Timur sampai Eropa dan di
Indonesia sudah ada sebelum perang dunia kedua, dan sampai saat
berkembang lebih banyak di kalangan pengobatan tradisional karena
merupakan pengobatan yang murah dan mudah.
Akupresur disebut juga akupunktur tanpa jarum, atau pijat akupunktur.
Teknik ini menggunakan teknik penekanan, pemijatan, dan pengurutan
sepanjang meridian tubuh atau garis aliran energi. Tekanan atau pijatan
sepanjang garis meridian dapat menghilangkan penyumbatan yang ada dan
memperbaiki keseimbangan alami tubuh. Akupresur lebih menitikberatkan
pada keseimbangan semua unsur kehidupan dengan memberikan
perangsangan pada titik-titik tertentu dengan menggunakan jari tangan,
telapak tangan, siku, lutut, dan kaki. Akupresur berguna untuk bermacam-
macam sakit dan nyeri serta mengurangi ketegangan, kelelahan, dan penyakit
Dalam persalinan kala I akupresur dapat digunakan ketika kontraksi terasa
nyeri. Nyeri ini muncul ketika terjadi blokade arus energi sepanjang meridian
tertentu dalam tubuh. Dengan melepaskan blokade tersebut melalui teknik
akupresur, keserasian dan fungsi halus akan dikembalikan.
Berdasarkan fakta yang ditemukan,makalah ini akan membahas fungsi
akupresur pada manajemen nyeri persalinan kala 1.
1.2 Rumusan Masalah
Sejauh mana pemberian teknik akupresur terhadap penurunan nyeri
persalinan kala I diaplikasikan
1.3 Tujuan
1.3.1 Mengetahui pengertian akupresur
1.3.2 Mengetahui fungsi akupresur secara umum

2
1.3.3 Mengetahui penggunaan akupresur sebagai metode nonfarmakologi
1.3.4 Mengetahui penggunaan akupresur untuk manajemen nyeri pada
persalinan kala 1
1.4 Manfaat
1.4.1 Sebagai teknik penanganan nonfarmakologis
1.4.2 Sebagai teknik alternatif bagi manajemen nyeri

3
Bab 2. Tinjauan Teori

2.1 Definisi
Hiperemesis gravidarum adalah keadaan dimana penderita mual dan
muntah berlebihan, lebih dari 10 kali dalam 24 jam atau setiap saat, sehingga
menggganggu kesehatan dan pekerjaan sehari hari (Arief. B., 2009).
Wanita hamil memuntahkan segala apa yang dimakan dan diminum
sehingga berat badannya sangat turun, turgor kulit berkurang , dieresis
berkurang dan timbul asetonuri, keadaan ini di sebut hiperemesis gravidarum
(Sastrowinata, 2004).
Hiperemesis gravidarum adalah muntah yang terjadi sampai usia
kehamilan 20 minggu, begitu hebat dimana segala apa yang dimakan dan
diminum dimuntahkan sehingga mempengaruhi keadaan umum dan
pekerjaan sehari-hari, berat badan menurun, dehidrasi, terdapat aseton dalam
urine, bukan karena penyakit (Maidun, 2009).
Salah satu masalah yang terjadi pada masa kehamilan atau penyakit yang
bisa meningkatkan derajat kesakitan adalah terjadinya gestosis pada masa
kehamilan atau penyakit yang khas terjadi pada masa kehamilan, dan salah
satu gestosis dalam kehamilan adalah hiperemesis gravidarum (Rukiyah,
2010).
Hiperemesis gravidarum adalah vomitus yang berlebihan atau tidak
terkendali selama masa hamil, yang menyebabkan dehidrasi,
ketidakseimbangan elektrolit, atau defisiensi nutrisi, dan kehilangan berat
badan (Lowdermilk, 2004).
Jadi kesimpulan yang dapat penulis ambil, hiperemesis gravidarum adalah
mual dan muntah yang berlebihan yang dapat mengganggu aktivitas sehari-
hari yang tidak terkendali selama masa hamil yang menyebabkan dehidrasi,
ketidakseimbangan elektrolit atau defisiensi nutrisi dan kehilangan berat
badan.

4
2.2 Penyebab
Penyebab hiperemesis gravidarum belum diketahui secara pasti. Tidak ada
bukti bahwa penyakit ini disebabkan oleh factor toksik, juga tidak ditemukan
kelainan biokimia. Perubahan perubahan anatomic pada otak, jantung, hati,
dan susunan saraf, disebabkan oleh kekurangan vitamin serta zat zat lain
akibat inanisi. Beberapa factor predisposisi dan faktor lain yang telah
ditemukan oleh beberapa penulis sebagai berikut:
1. Faktor predisposisi : primigravida, overdistensi rahim : hidramnion,
kehamilan ganda, estrogen dan HCG tinggi, mola hidatidosa.
2. Faktor organik: masuknya vili khorialis dalam sirkulasi maternal,
perubahan metabolik akibat hamil, resistensi yang menurun dari pihak ibu
dan alergi.
3. Faktor psikologis: rumah tangga yang retak, hamil yang tidak diinginkan,
takut terhadap kehamilan dan persalinan, takut terhadap tanggung jawab
sebagai ibu dan kehilangan pekerjaan (Wiknjosastro, 2005).

2.3 Klasifikasi
Runiari (2010 hal 58) menyatakan bahwa tidak ada batasan yang jelas
antara mual yang bersifat fisiologis dengan hiperemesis gravidarum, tetapi
bila keadaan umum ibu hamil terpengaruh sebaiknya dianggap sebagai
hiperemesis gravidarum. Menurut berat ringannya gejala hiperemesis
gravidarum dapat dibagi ke dalam tiga tingkatan sebagai berikut :
1. Tingkat I
Muntah terus menerus yang mempengaruhi keadaan umum.
2. Tingkat II
Ibu hamil tampak lebih lemas dan apatis, turgor kulit lebih menurun,
lidah kering dan tampak kotor, nadi kecil dan cepat, tekanan darah
turun, suhu kadang-kadang naik, mata cekung dan sedikit ikterus,
berat badan turun, hemokonsentrasi, oligouria, dan konstipasi.
3. Tingkat III

5
Keadaan umum lebih parah, muntah berhenti, kesadaran menurun dari
somnolen sampai koma, nadi kecil dan cepat, tekanan darah menurun,
serta suhu meningkat.

2.4 Patofisiologi
Hiperemesis gravidarum yang merupakan komplikasi mual dan muntah
pada hamil muda terjadi terus menerus dapat menyebabkan dehidrasi dan
tidak seimbangnya elektrolit dengan alkalosis hipokloremik.
Hiperemesis gravidarum dapat mengakibatkan cadangan karbohidrat dan
lemak habis terpakai untuk keperluan energi. Karena oksidasi lemak yang
tidak sempurna terjadilah ketosis dengan tertimbunnya asam aseton asetik,
asam hidroksi butirik dan aseton dalam darah. Kekurangan volume cairan
yang diminum dan kehilangan karena muntah menyebankan dehidrasi
sehingga cairan ekstraseluler dan plasma berkurang. Natrium dan khlorida air
kemih turun. Selain itu jug adapt menyebabkan hemokonsentrasi sehingga
aliran darah berkurang.
Kekurangan kalium sebagai akibat dari muntah dan bertambahnya ekskresi
lewat ginjal menambah frekuensi muntah muntah lebih banyak, dapat
merusak hati dan terjadilah lingkaran yang sulit dipatahkan. Selain dehidrasi
dan terganggunya keseimbangan elektrolit dapat terjadi robekan pada selaput
lender esophagus dan lambung (Sindroma Mallory Weiss) dengan akibat
perdarahan gastrointestinal. Pada umumnya robekan ini ringan dan
perdarahan dapat berhenti sendiri, jarang sampai diperlukan transfusi atau
tindakan operatif (Wiknjosastro, 2005).

2.5 Manifestasi Klinis


Mual yang masih fisiologik dalam kehamilan dengan hiperemesis
gravidarum tidak ada; tetapi bila keadaan umum penderita terpengaruh,
sebaiknya ini dianggap sebagai hiperemesis gravidarum. Hiperemesis
gravidarum menurut berat ringannya gejala dapat dibagi dalam 3 tingkatan:

6
1. Tingkatan I: Muntah terus menerus yang mempengaruhi keadaan
umum penderita, ibu merasa lemah, nafsu makan tidak ada, berat
badan menurun dan merasa nyeri pada epigastrium. nadi meningkat
sekitar 100 kali/menit dan tekanan darah sistolik turun, turgor kulit
mengurang, lidah mongering dan mata cekung.
2. Tingkatan II: penderita tampak lebih lemah dan apatis, turgor kulit
mengurang, lidah mengering dan Nampak kotor, nadi kecil dan cepat,
suhu kadang-kadang naik dan mata sedikit ikterik. Berat badan
menurun dan mata menjadi cekung, tensi turun, hemokonsentrasi
oliguria dan konstipasi. Aseton dapat tercium dalam hawa pernafasan,
karena pempunyai aroma yang khas dan dapat pula ditemukan dalam
kencing.
3. Tingkatan III : Keadaan umum lebih parah, muntah berhenti,
kesadaran makin menurun hingga mencapai somnollen atau koma,
terdapat ensefalopati werniche yang ditandai dengan : nistagmus,
diplopia, gangguan mental, kardiovaskuler ditandai dengan: nadi
kecil, tekanan darah menurun, dan temperature meningkat,
gastrointestinal ditandai dengan: ikterus makin berat, terdapat
timbunan aseton yang makin tinggi dengan bau yang makin tajam.
Keadaan ini adalah akibat sangat kekurangan zat makanan termasuk
vitamin B kompleks. Timbulnya ikterus menunjukkan adanya payah
hati (Wiknjosastro, 2005).

2.6 Mekanisme Kompensasi


Mekanisme kompensasi yaitu vasokonstriksi dan gangguan perfusi uterus.
Selama terjadi gangguan hemodinamik, uterus termasuk organ non vital
sehingga pasokan darah berkurang. Pada kasus hiperemesis gravidarum, jenis
dehidrasi yang terjadi termasuk dalam dehidrasi karena kehilangan cairan
(pure dehidration). Maka tindakan yang dilakukan adalah rehidrasi yaitu
mengganti cairan tubuh yang hilang ke volume normal, osmolaritas yang
efektif dan komposisi cairan yang tepat untuk keseimbangan asam basa.

7
Pemberian cairan untuk dehidrasi harus memperhitungkan secara cermat
berdasarkan: berapa jumlah cairan yang diperlukan, defisit natrium, defisit
kalium dan ada tidaknya asidosis.

2.7 Penatalaksanaan Medis


a. Pemberian cairan parenteral
Berikan cairan parenteral yang cukup elektrolit, karbohidrat dan
protein dengan linger lactat 5% dengan cairan garam fisiologik sebanyak
2-3 liter per hari. Bila perlu dapat ditambah kalium dan vitamin,
khususnya vitamin B kompleks. Bila ada kekurangan protein, dapat
diberikan pula asam amino secara intra vena.
b. Obat-obat yang diberikan
Sedativa yang sering digunakan adalah Phenobarbital. Vitamin
yang dianjurkan vitamin B1 dan B6 tablet keadaan yang lebih berat
diberikan antiemetik seperti disiklomin hidrokhloride atau khlorpromasin.
Anti histamin ini juga dianjurkan seperti mediamen, avomin (Maidun,
2009).
c. Penghentian kehamilan
Pada sebagian kasus keadaan tidak menjadi baik, bahkan mundur.
Usahakan mengadakan pemeriksaan medik dan psikiatri bila keadaan
memburuk delirium, kebutaan tachikardi, ikterus, anuria dan perdarahan
merupakan manifestasi komplikasi organik, dalam keadaan demikian perlu
dipertimbangkan untuk mengakhiri kehamilan. Keputusan untuk
melakukan abortus terapeutik sering sulit diambil, oleh karena di satu
pihak tidak boleh dilakukan terlalu cepat, tetapi dilain pihak tidak boleh
menunggu sampai terjadi gejala irreversibel ada organ vital (Windy, 2009)

2.8 Penatalaksanaan Keperawatan


a. Melakukan isolasi
Penderita disendirikan dalam kamar yang tenang tetapi cerah dan
peredaran udara yang baik tidak diberikan makan/minum selama 24-28

8
jam. kadang-kadang dengan isolasi saja gejala-gejala akan berkurang atau
hilang tanpa pengobatan.
b. Therapy psikologik
Perlu diyakini pada penderita bahwa penyakit dapat disembuhkan,
hilangkan rasa takut oleh karena kehamilan, kurangi pekerjaan yang berat
serta menghilangkan masalah dan konflik, yang kiranya dapat menjadi
latar belakang penyakit ini.
c. Diet
1. Diet hiperemesis I diberikan ada hiperemesis tingkat III makanan
hanya berupa roti kering dan buah-buhan. Cairan tidak diberikan
bersama makanan tetapi 1-2 jam sesudahnya. Makanan ini kurang
dalam semua zat-zat gizi, kecuali vitamin C, karena itu hanya
diberikan Selama beberapa hari.
2. Diet hiperemesis II diberikan bila rasa mual dan muntah berkurang.
Secara berangsur mulai diberikan makanan yang bergizi tinggi.
Minuman tidak diberikan bersama makanan. Makanan ini rendah
dalam semua zat-zat gizi kecuali vitamin A dan D.
3. Diet hiperemesis III diberikan kepada penderita
dengan hiperemesis ringan. Menurut kesanggupan penderita. Minuman
boleh diberikan bersama makanan. Makanan ini cukup dalam semua
zat gizi kecuali kalsium (Rukiyah, 2010).

9
Bab 3. Ilustrasi Kasus
Ny. M, berusia 20 tahun, sedang hamil anak pertama dengan usia
kehamilan 11 minggu, datang ke Puskesmas karena rasa mual yang makin hebat
sejak dua minggu yang lalu. Berdasarkan keterangan suami, Ny. M sudah
berkonsultasi ke bidan dan diberikan obat tapi pasien tidak tahu namanya. Setelah
minum obat, mual agak berkurang, namun sejak seminggu yang lalu, ia kembali
mual. Obat yang diberikan tidak lagi membuatnya merasa lebih baik, dan sejak
dua hari yang lalu ia muntah setiap kali makan. Semenjak timbul rasa mual
tersebut Ny. M agak kesulitan untuk makan dan minum, karena setiap habis
makan dan minum, akan timbul rasa mual yang menyebabkan terjadinya muntah.
Hari ini, Ny. M sudah muntah lebih dari sepuluh kali, dengan volume kira-kira
seperempat hingga setengah gelas belimbing setiap kali muntah. Ia merasa lemas
dan berkeringat dingin. Ia belum buang air besar sejak empat hari yang lalu.
Terakhir buang air kecil dua jam yang lalu, jumlahnya sedikit dan berwarna
kuning pekat. Sebelum hamil, Ny. M memiliki riwayat sakit maag. Ia sering
minum obat maag cair dan biasanya langsung merasa lebih baik. Sebelumnya Ny.
M tidak pernah mengalami apa yang kini ia alami. Pada pemeriksaan fisik, pasien
tampak lemas, cenderung apatis. Tekanan darah 90/60 mmHg, frekuensi nadi 108
kali per menit, frekuensi pernapasan 24 kali per menit. Suhu badan normal.
Membran mukosa tampak kering. Tidak terdapat pembesaran kelenjar tiroid.
Terdapat nyeri tekan epigastrium. Turgor kulit menurun. Rahim tidak teraba pada
palpasi abdomen.

10
Bab 4. Pembahasan

4.1 Pengkajian
a. Identitas Pasien
Nama : Ny. M
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 20 tahun
Agama : Islam
Pendidikan : Tamat SD
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Alamat : Perum Semeru Blok H-6, Jember
Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia
Status Nikah : Menikah
Tanggal MRS : 25 Oktober 2016, pukul 10.00 WIB
b. Keluhan utama
Mual dan muntah
c. Riwayat penyakit sekarang
Klien datang dengan keluhan mual yang hebat sejak dua minggu yang lalu.
Klien sudah berkonsultasi ke bidan dan diberikan obat tapi pasien tidak tahu
namanya. Setelah minum obat, mual agak berkurang, namun sejak seminggu
yang lalu, ia kembali mual. sejak dua hari yang lalu klien muntah setiap kali
makan. Semenjak timbul rasa mual tersebut klien agak kesulitan untuk makan
dan minum, karena setiap habis makan dan minum, akan timbul rasa mual yang
menyebabkan terjadinya muntah. Hari ini, klien sudah muntah lebih dari
sepuluh kali, dengan volume kira-kira seperempat hingga setengah gelas
belimbing setiap kali muntah. klien merasa lemas dan berkeringat dingin. Klien
belum buang air besar sejak empat hari yang lalu. Terakhir buang air kecil dua
jam yang lalu, jumlahnya sedikit dan berwarna kuning pekat
d. Riwayat penyakit dahulu
Klien memiliki riwayat sakit maag.
e. Riwayat kesehatan keluarga

11
Riwayat hipertensi, kencing manis, sakit jantung, asma, dan tumor pada
keluarga disangkal.
f. Riwayat Haid
Menarche pada usia 13 tahun dengan siklus haid yang teratur setiap 28 hari,
dengan lama menstruasi 5-6 hari, pasien tidak merasakan keluhan saat
menstruasi. Hari pertama haid terakhir (HPHT) 1 Agustus 2016.
g. Riwayat Perkawinan
Klien menikah 1 kali dan telah berlangsung selama 1 tahun.
h. Pemeriksaan Fisik
1. Keadaan umum : klien tampak lemas
2. Kesadaran : apatis
3. Tekanan darah : 90/60 mmHg
4. Nadi : 108 x/menit
5. Respirasi : 24 x/menit
6. Suhu : 37,5 C
7. Berat badan : 41 kg
8. Tinggi badan : 155 cm
9. LILA : 22 cm
10. Head to Toe
a. Kepala : Normal
b. Mata : Anemis -/-, ikterus -/-, cowong +/+
c. Telinga : Tidak ada kelainan
d. Hidung : Tidak ada kelainan
e. Leher : Tidak ada kelainan
f. Thorax Cor : S1 S2 Tunggal, Reguler, Murmur (-)
g. Pulmo : Vesikuler +/+, Rhonki -/-, Wheezing -/-
h. Ekstremitas : Oedem (superior -/inferior -), Hangat (-/-)
11. Status Ginekologi
a. Abdomen : FUT tidak teraba, distensi (-), Turgor menurun, Nyeri
tekan (-), tanda cairan bebas (-)
b. Vagina Inspeksi V/V : Flx (-), Fl (-) P (-),

12
c. VT : tidak dilakukan
12. Pola Kesehatan Fungsional
a. Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan
Klien mengatakan selalu menjaga kesehatannya baik kesehatan diri
sendiri maupun janin yang sedang dikandungnya. Klien selalu berusaha
untuk menerapkan pola hidup sehat. Pada saat klien sakit, klien
memeriksakan kesehatannya ke bidan terdekat. Klien melakukan
pemeriksaan USG janin secara rutin.
b. Pola nutrisi dan metabolik
1) Sebelum sakit
Sehari-hari klien selalu habis 1 porsi dengan nasi, sayur, dan lauk
pauk serta minum air putih sebanyak 7 gelas setiap harinya. Klien
makan 3 kali sehari, yaitu pagi, siang, dan malam hari. Klien tidak
mengalami gangguan pada nafsu makannya. Klien juga tidak
melakukan diet khusus dan klien tidak memiliki riwayat alergi
terhadap makanan ataupun obat-obatan tertentu.
2) Saat sakit
Klien tidak nafsu makan meskipun mau makan klien selalu mual
dan ingin muntah.
Pengkajian ABCD
A : BB 41 kg, TB 155 cm, LILA 22 cm. IMT 17,06 (kurus)
B : Hb 12,9 gr/dl, Limfosit 19,3%, Ht 37%
C : kulit kering, turgor kulit menurun, konjungtiva tidak anemis,
mukosa bibir kering, sklera tidak ikterik
D : selama dirawat di puskesmas, klien makan nasi dengan sayur dan
lauk daging srta air putih dan teh serta buah jeruk. Klien hanya
habis 3 sendik makan nasi
c. Pola eliminasi
Klien mengatakan belum buang air besar sejak empat hari yang lalu.
Terakhir buang air kecil dua jam yang lalu, jumlahnya sedikit dan
berwarna kuning pekat.

13
d. Pola aktivitas latihan
Sebelum sakit kegiatan makan/minum, toileting, berpakaian, mobilisasi,
berpindah, dan ambulasi dapat dilakukan secara mandiri oleh klien.
Saat sakit kegiatan tersebut dilakukan klien dengan dibantu oleh
perawat ataupun keluarga.
e. Pola istirahat tidur
Sebelum sakit klien tidur malam pukul 20.00 WIB sampai pukul 05.00
WIB. Selama sakit, klien terkadang terbangun karena mual yang
dialami.
f. Pola kognitif perseptual
Klien tidak mengalami gangguan pada pendengaran, penglihatan,
perasa, pembau, maupun perabaan.
g. Pola persepsi/konsep diri
Klien menerima kondisi sakitnya saat ini. Identitas diri, klien aalah
seorang perempuan berusia 20 tahun. Peran diri, klien adalah seorang
istri dan ibu rumah tangga. Ideal diri, klien ingin segera sembuh. Harga
diri, klie mengatakan menerima keadaannya dan selalu bersyukur.
h. Pola hubungan peran
Klien memiliki hubungan yang baik dengan keluarga dan tenaga
kesehatan baik saat sakit maupun sebelum sakit.
i. Pola seksual reproduksi
Klien mengatakan menstruasi pertama saat berusia 13 tahun. Saat
menstruasi tidak ada keluhan seperti nyeri atau kram perut dan badan
pegal-pegal. Menstruasi 5-6 hari dengan siklus 28 hari teratur dan
banyak darah menstruasi setiap harinya sebanyak 2 pembalut penuh.
Saat ini klien sedang hamil anak pertama dengan usia janin menginjak
11 minggu. Status obstetrik klien yaitu G1P0A0 dengan HPHT pada
tanggal 1 Agustus 2016. Klien mengatakan tidak memiliki riwayat
penyakit menular seksual.
j. Pola koping toleransi stres

14
Sebelum sakit klien mengatakan tidak mempunyai masalah dan jika ada
masalah selalu dibicarakan dan diselesaikan bersama suaminya. Saat
sakit klien mengatakan tidak memiliki masalah dengan orang lain dan
klien menerima sakitnya dengan ikhlas dan optimis untuk lekas
sembuh.
k. Pola nilai kepercayaan
Klien mengatakan beragama Islam dan selalu melakukan ibadah.
Selama sakit klien tetap menjalankan ibadah di ruang perawatan.

4.2 Diagnosa Keperawatan


1. Mual berhubungan dengan kehamilan.
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan faktor biologis : mual muntah.
3. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan aktif
akibat muntah dan asupan cairan yang tidak adequat.

15
4.3 Nursing Care Plan
No Tanggal Diagnosa Perencanaan Paraf
/ waktu Keperawatan Tujuan dan Kriteria Intervensi Rasional
Hasil
1. Mual Setelah diberikan 1. Lakukan pengkajian terhadap 1. Mengidentifikasi keefektifan
berhubungan asuhan keperawatan rasa mual termasuk frekuensi, intervensi yang diberikan
dengan selama 2 x 24 jam durasi, tingkat mual, dan 2. Mengidentifikasi pengaruh
kehamilan diharapkan tidak terjadi faktor yang menyebabkan mual terhadap kualitas hidup
mual pada klien dengan pasien mual. pasien.
kriteria hasil: 2. Evaluasi efek mual terhadap 3. Memenuhi kebutuhan nutrisi
NOC Label : nafsu makan pasien, aktivitas pasien dan menegah mual
Nausea and Vomiting sehari-hari, dan pola tidur 4. Untuk menghindari
Control pasien terjadinya mual
a. Pasien dapat 3. Ajnurkan makan sedikit tapi 5. Untuk menghindari efek
menghindari faktor sering dan dalam keadaan mual
penyebab nausea hangat 6. Membantu mengurangi efek
dengan baik 4. Anjurkan pasien mengurangi mual dan menegah muntah
b. Pasien melakukan jumlah makanan yang bisa 7. Mengurangi mual dengan
acupressure point P6 menimbulkan mual. aksi sentralnya pada

16
untuk mencegah 5. Berikan istirahat dan tidur hipotalamus
mengurangi mual yang adekuat untuk
NOC Label : mengurangi mual
Nausea & vomiting 6. Lakukan akupresure point
severity P6 3 jari dibawah
a. Pasien mengatakan pergelangan tangan pasien.
tidak mual Lakukan selama 2-3 menit
b. Pasien mengatakan setiap 2 jam.
tidak muntah 7. Kolaborasi pemberian
c. Tidak ada antiemetik : ondansentron 4
peningkatan sekresi mg IV jika mual
saliva
2. Ketidakseimba Setelah diberikan 1. Kaji makanan kesukaan klien 1. Makanan kesukaan dapat
ngan nutrisi asuhan keperawatan 2. Tentukan kemampuan pasien meningkatkan nafsu makan
kurang dari selama 3 x 24 jam untuk memenuhi kebutuhan 2. Mengetahui kemampuan
kebutuhan diharapkan tidak terjadi nutrisi klien makan dapat menjadi
tubuh mual pada klien dengan 3. Pantau kandungan nutrisi dan penentu dalam rencana
berhubungan kriteria hasil: kalori pada catatan asupan tindakan
dengan faktor a. Klien 4. Timbang pasien pada interval 3. Pantauan nutrisi dapat

17
biologis : mual mengkonsumsi diet yang tepat menjadi evaluasi dalam
muntah. oral yg mengandung 5. Berikan informasi yang tepat perkembangan kebutuhan
gizi adekuat tentang kebutuhan nutrisi dan nutrisi klien
b. Klien tidak bagaimana memenuhinya 4. Memperlihatkan kemajuan
mengalami mual 6. Instruksikan pasien, untuk klien dalam p;emenuhan
muntah menarik nafas dalam, perlahan, nutrisi
c. Klien mengalami dan menelan secara sadar 5. Informasi nutrisi dapat
peningkatan BB untuk mengurangi meningkatkan pemenuhan
yang sesuai selama mual/muntah nutrisi klien
kehamilan 7. Tentukan, dengan melakukan 6. Nafas dalam dan latihan
kolaborasi bersama ahli gizi, menelan dapat mengurangi
secara tepat, jumlah kalori dan mual
jenis zat gizi yang dibutuhkan 7. Diet yang tepat dapat
untuk memenuhi kebutuhan membantu memenuhi
nutrisi kebutuhan nutrisi klien
8. Tingkatkan jumlah makanan 8. Nutrisi dibutuhkan dalam
secara perlahan sesuai rangka memenuhi kebutuhan
kemampuan pasien nutrisi dan pertumbuhan
9. Berikan, dengan melakukan janin

18
kolaborasi bersama dokter, 9. Obat-obatan dapat membantu
secara tepat, obat antiemetic mengurangi mual sehingga
dan analgetik sebelum makan pemenuhan nutrisi menjadi
atau sesuai dengan jadwal adekuat
yang dianjurkan 10. Dapat menstimulasi mual dan
10. Anjurkan klien menghindari muntah
makanan berlemak 11. Meningkatkan kenyamanan,
11. Anjurkan perawatan mulut mengurangi asam yg
sebelum dan sesudah makan mengenai gigi.
atau setelah muntah 12. Malnutrisi klien berdampak
12. Pantau TFU dan DJJ terhadap pertumbuhan janin
dan mengakibatkan
kemunduran perkembangan
janin

3. Kekurangan Setelah diberikan 1. Kaji status intake dan output 1. Pengkajian tersebut menjadi
volume cairan asuhan keperawatan cairan dasar rencana askep dan
berhubungan selama 3 x 24 jam 2. Timbang BB setiap hari dan evaluasi intervensi
dengan diharapkan tidak terjadi catat perkembangannya 2. Penurunan BB dapat terjadi

19
kehilangan mual pada klien dengan 3. Beri cairan intravena yg terdiri karena muntah berlebihan
cairan aktif kriteria hasil: dari glukosa, elektrolit dan 3. Terapi IV membantu
akibat muntah a. frekuensi dan irama vitamin memberikan pemenuhan
dan asupan nadi dalam batas 4. Anjurkan klien untuk kebutuhan cairan elektrolit
cairan yang normal mengkonsumsi cairan peroral pasien secara cepat,
tidak adequat b. Frekuensi dan irama dengan perlahan mencegah kekurangan
nafas dalam batas 5. Pantau status hidrasi cairan dan memperbaiki
normal 6. Pantau hasil laboratorium yang keseimbangan asam basa
c. Kewaspadan mental relevan dengan keseimbangan 4. Pemberian cairan dan
dan orientasi cairan makanan sesuai dengan
kognitif baik 7. Anjurkan pasien untuk toleransi klien
d. Elektrolit serum menginformasikan perawat 5. Observasi status hidrasi
dalam batas normal bila haus yang akurat menjadi dasar
e. Serum pH dan urin dalam intervensi
dalam batas normal keperawatan
6. Observasi hasil lab untuk
status elektrolit yang akurat
menjadi dasar dalam
ketepatan intervensi

20
keperawatan
7. Membantu pasien
memenuhi status hidrasi
dan sekaligus
mengobservasi keadaan
klien

21
4.4 Rencana Implementasi
No. Tanggal / Diagnosa Implementasi Keperawatan Paraf
Waktu Keperawatan
1. Mual berhubungan 1. Mengkaji rasa mual termasuk frekuensi, durasi, tingkat mual, dan faktor
dengan kehamilan yang menyebabkan pasien mual.
2. Mengevaluasi efek mual terhadap nafsu makan pasien, aktivitas sehari-
hari, dan pola tidur pasien
3. Menganjurkan makan sedikit tapi sering dan dalam keadaan hangat
4. Menganjurkan pasien mengurangi jumlah makanan yang bisa
menimbulkan mual.
5. Menyarankan klien untuk istirahat dan memberikan kenyamanan serta
privasi pada klien agar klien dapat tidur dengan adekuat
6. Melakukan akupresure point P6 (3 jari dibawah pergelangan tangan
pasien), melakukan akupresur selama 2-3 menit setiap 2 jam.
7. Melakukan kolaborasi pemberian antiemetik: ondansentron 4 mg IV jika
mual
2. Ketidakseimbangan 1. Mengkaji makanan kesukaan klien
nutrisi kurang dari 2. Menentukan kemampuan pasien untuk memenuhi kebutuhan nutrisi
kebutuhan tubuh 3. Memantau kandungan nutrisi dan kalori pada catatan asupan

22
berhubungan dengan 4. Menimbang BB pasien pada interval yang tepat
faktor biologis : mual 5. Memberikan informasi yang tepat tentang kebutuhan nutrisi dan
muntah. bagaimana memenuhinya
6. Menginstruksikan pasien, untuk menarik nafas dalam, perlahan, dan
menelan secara sadar untuk mengurangi mual/muntah
7. Melakukan kolaborasi bersama ahli gizi secara tepat dalam menentukan
jumlah kalori dan jenis zat gizi yang dibutuhkan untuk memenuhi
kebutuhan nutrisi
8. Meningkatkan jumlah makanan secara perlahan sesuai kemampuan pasien
9. Melakukan kolaborasi bersama dokter secara tepat dalam pemberian obat
antiemetic dan analgetik sebelum makan atau sesuai dengan jadwal yang
dianjurkan
10. Menganjurkan klien menghindari makanan berlemak
11. Menganjurkan perawatan mulut sebelum dan sesudah makan atau setelah
muntah
12. Memantau TFU dan DJJ

23
3. Kekurangan volume 1. Mengkaji intake dan output cairan
cairan berhubungan 2. Menimbang BB setiap hari dan catat perkembangannya
dengan kehilangan 3. Memberikan cairan intravena yg terdiri dari glukosa, elektrolit dan vitamin
cairan aktif akibat sesuai anjuran
muntah dan asupan 4. Menganjurkan klien untuk mengkonsumsi cairan peroral dengan perlahan
cairan yang tidak 5. Memantau status hidrasi
adequat 6. Memantau hasil laboratorium yang relevan dengan keseimbangan cairan
7. Menganjurkan pasien untuk menginformasikan perawat bila haus

24
25