Anda di halaman 1dari 17

KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN TUNA WICARA

MAKALAH

oleh
Kelompok 2

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNVERSITAS JEMBER
2016
ii

KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN TUNA WICARA

MAKALAH

diajukan sebagai pemenuhan tugas Perawatan Pasien dengan Kebutuhan Khusus


dengan dosen: Ns. Kushariadi., M.Kep

Oleh :
Kelompok 2

Auliya Hidayati NIM 132310101001


Ropikchotus Salamah NIM 132310101002
Mashilla Refani P NIM 132310101013
Chrisdianita Fitria Ramdhani NIM 132310101016
Larasmiati Rasman NIM 132310101018
Indra Kurniawan NIM 132310101021
Anis Fitri Nurul Anggraeni NIM 132310101023
Nurwahidah NIM 132310101026
Windi Noviani NIM 132310101036
Rizka Inna NIM 132310101047
Nuzulul Kholifatul Fitriyah NIM 132310101048
Talitha Zhafirah NIM 132310101055

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNVERSITAS JEMBER
2016
iii

KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Allah Swt. atas segala rahmat dan hidayah-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah berjudul Konsep Dasar Asuhan
Keperawatan Dengan Tuna Wicara dengan baik dan tepat pada waktunya.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Perawatan Pasien dengan
Kebutuhan Khusus.
Penyusunan makalah ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena
itu, penulis menyampaikan terima kasih kepada:
1. Ns. Latifa Aini S, M. Kep., Sp. Kep. Kom selaku dosen penanggung jawab
mata kuliah Perawatan Pasien dengan Kebutuhan Khusus;
2. Ns. Kushariadi., M.Kep selaku dosen mata kuliah Perawatan Pasien
dengan Kebutuhan Khusus;
3. teman-teman yang telah membantu;
4. semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu-persatu.
Penulis juga menerima segala kritik dan saran dari semua pihak demi
kesempurnaan makalah ini. Penulis berharap semoga makalah ini dapat
bermanfaat dan menambah pengetahuan pembaca.

Jember, September 2016 Penulis


iv

DAFTAR ISI

Halaman Sampul...................................................................................i
Halaman Judul......................................................................................ii
Kata Pengantar......................................................................................iii
Daftar Isi ..............................................................................................iv
BAB 1. PENDAHULUAN ..................................................................5
1.1 Latar belakang ...............................................................................6
1.2 Rumusan Masalah .........................................................................6
1.3 Tujuan umum dan Tujuan khusus .................................................6
1.4 Manfaat..........................................................................................6

BAB 2. ASUHAN KEPERAWATAN ..................................................7


2.1 Pengkajian......................................................................................7
2.2 Analisa Data....................................................................................12
2.3 Diagnosa........................................................................................13
2.4 Intervensi .......................................................................................15
2.5 Implementasi .................................................................................18
2.6 Evaluasi ........................................................................................

BAB 3. PENUTUP ..............................................................................20


4.1 Kesimpulan ....................................................................................20
4.2 Saran ..............................................................................................20

Daftar Pustaka.......................................................................................21
5

BAB 1. PENDAHULUAN

I. Latar Belakang
Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain dalam
menjalani hidupnya. Oleh karena itu diperlukan komunikasi yang baik antara
individu yang satu dengan individu lainnya. Kesulitan dalam berkomunikasi dapat
menjadi penyebab interaksi atau kegiatan sosial manusia menjadi terhambat. Tuna
wicara adalah suatu keadaan kesulitan komunikasi lisan baik dalam pengucapan
(artikulasi) maupun suara dari bicara normal, sehingga menimbulkan. Gangguan
wicara atau tuna wicara adalah gangguan dari suara, artikulasi dari bunyi bicara,
dan/atau kelancaran berbicara yang disebabkan karena gangguan pada saraf,
seperti penyakit cerebral palsy, dan terutama karena gangguan pendengaran, baik
sejak lahir atau saat klien pada masa perkembangan (Suparno, 2011).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS, 2009) persentase klien
tunawicara di indonesia yaitu 17,2 %, 81.554 tunawicara/bisu dan 34.019 tuna
rungu/ wicara. Saat ini di Indonesia beluam ada data pasti mengenai jumlah kasus
klien dengan gangguan wicara dan berbahasa. Data dari 808 klien yang datang
dengan masalah gangguan wicara di Pusat Kesehatan Telinga dan Gangguan
Komunikasi bagian THT RSCM menunjukan 82.79 % disebabkan gangguan
pendengaran, sedangkan 15.35 % klien dengan gangguan wicara tanpa masalah
pendengaran.
Pada klien kemampuan berbahasa dan/atau wicara dapat normal, terlambat,
terganggu atau menyimpang dari pola normal. Ketidaktahuan akan tahap
perkembangan mendengar dan wicara menyebabkan kelambatan penemuan dini
kasus-kasus gangguan wicara yang tentu saja berakibat pada terlambatnya
penanganan kasus dan interaksi atau kegiatan sosial manusia menjadi terhambat
untuk itu diperlukan asuhan dan penaganan untuk dapat mengatasi keadaan
tersebut.
6

1.2 Rumusan Masalah


1. Apakah yang disebut dengan tuna wicara?
2. Bagaimana asuhan keperawatan yang dapat dilakukan untuk klien tuna
wicara?
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan umum
Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada klien dengan tunawicara.

1.3.2 Tujuan khusus


1. Pengkajian pada klien tuna wicara;
2. Diagnosa pada klien tuna wicara;
3. Intervensi pada klien tuna wicara;
4. Implementasi pada klien tuna wicara;
5. Evaluasi pada klien tuna wicara.

1.4 Manfaat
1. Untuk mengetahui pengertian tuna wicara;
2. Untuk mengetahui asuhan keperawatan yang dapat dilakukan untuk klien
tuna wicara.

BAB 2. ASUHAN KEPERAWATAN

2.1 Pengkajian
Fokus pengkajian pada anak yang mengalami gangguan bicara :

a) Data Subjektif

Pada anak yang mengalami gangguan bahasa :


7

1) Umur berapa anak saudara mulai mengucapkan satu kata ?


2) Umur berapa anak saudara mulai bisa menggunakan kata dalam suatu
kalimat ?
3) Apakah anak anda mengalami kesulitan dalam mempelajari kata baru ?
4) Apakah anak anda sering menghilangkan kata-kata dalam kalimat yang
diucapkan dalam kalimat yang diucapkan ?
5) Siapa yang mengasuh di rumah ?
6) Bahasa apa yang digunakan bila berkomunikasi di rumah ?
7) Apakah pernah diajak mengucapkan kata-kata.
8) Apakah anak anda mengalami kesulitan dalam menyusun kata-kata ?
9) Apakah anak anda sering gugup dalam mengulang suatu kata?
10) Apakah anak anda sering merasa cemas atau bingung jika ingin
mengungkapkan suatu ide?
11) Apakah anda pernah perhatikan anak anda memejamkan mata,
menggoyangkan kepala, atau mengulang suatu frase jika diberikan kata-
kata baru yang sulit diucapkan?
12) Apa yang anda lakukan jika hal di atas ditemukan?
13) Apakah anak anda pernah/sering menghilangkan bunyi dari suatu kata?
14) Apakah anak anda sering menggunakan kata-kata yang salah tetapi
mempunyai bunyi yang hampir sama dngan suatu kata?
15) Apakah anda kesulitan dalam mengerti kata-kata anak anda?
16) Apakah orang lain merasa kesulitan dalam mengerti kata-kata anak anda?
17) Perhatikan riwayat penyakit yang berhubungan dengan gangguan fungsi
SSP seperti infeksi antenatal (Rubbela syndrome), perinatal (trauma
persalinan), post natal (infeksi otak, trauma kepala, tumor intra kranial,
konduksi elektrik otak).

b) Data Objektif
1) Kemampuan menggunakan kata-kata.
2) Masalah khusus dalam berbahasa seperti (menirukan, gagap, hambatan
bahasa, malas bicara).
8

3) Kemampuan dalam mengaplikasikan bahasa.


4) Umur anak.
5) Kemampuan membuat kalimat.
6) Kemampuan mempertahankan kontak mata.
7) Kehilangan pendengaran (Kerusakan indra pendengaran).
8) Gangguan bentuk dan fungsi artikulasi.
9) Gangguan fungsi neurologis.
10) Berbicara keras dan tidak jelas
11) Suka melihat gerak bibir atau gerak tubuh teman bicaranya
12) Telinga mengeluarkan cairan
13) Biasanya Menggunakan alat bantu dengar
14) Bibir sumbing
15) Suka melakukan gerakan tubuh
16) Cenderung pendiam
17) Suara sengau
18) Cadel

2.2 Diagnosa Keperawatan


a. Diagnosa Keperawatan Individu
1. Ansietas
2. Ketidakmampuan koping keluarga
3. Keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan
4. Defisiensi pengetahuan
5. Hambatan komunikasi verbal
6. Hambatan interaksi social
7. Isolasi social

b. Diagnosa Keperawatan Keluarga


8. Ketidakmampuan Ketidakmampuan keluarga untuk mengenal masalah
kesehatan yang mengalami gangguan kesehatan (Tuna Wicara )
9. Ketidakmampuan keluarga untuk mengambil keputusan terhadap
perawatan anggota keluarga yang sakit (Tuna Wicara )
10. Ketidakmampuan keluarga untuk merawat keluarga yang yang mengalami
gangguan kesehatan (Tuna Wicara )
9

11. Ketidakmampuan keluarga untuk memodifikasi lingkungan yang aman


dan sehata untuk anggota keluarga yang mengalami gangguan kesehatan
(Tuna Wicara )
12. Ketidakmampuan keluarga untuk menggunakan dan menanfaatkan
fasilitas kesehatan
10

2.3 Intervensi

Diagnosa Keperwatan Intervensi Rasional

Hambatan Komunikasi 1) Jelaskan kepada keluarga mengapa anak 1) Penjelasan yang baik akan mengurangi tingkat
Verbal berhubungan dengan tidak dapat berbicara kecemasan orang tua sehingga orang tua bisa
kurangnya stimulasi 2) Lakukan komunikasi secara komprehensif kooperatif dalam setiap tindakan yang di
bahasa,deviasi anatomis baik verbal maupun non verbal. berikan kepada anaknya.
(kerusakan neuromuscular) 3) Berbicara perlahan, jelas, dan tenang, 2) Komunikasi yang komprehensif akan
kelainan persepsi, kendala sambil menghadap anak. memperbanyak jumlah stimulasi yang
lingkungan 4) Anjurkan kepada orang tua untuk diterima anak sehingga akan memperkuat
memberikan lebih banyak kata meskipun memori anak terhadap suatu kata.
anak belum mampu mengucapkan dengan 3) Berbicara perlahan, jelas, dan tenang, sambil
benar. menghadap anak. Akan membuat anak dapat
5) Lakukan sekrening lanjutan dengan menangkap maksud kita (khusus anak dengan
mengggunakan Tes Audiometri penurunan pendengaran)
4) Anak lebih suka mendengarkan kata-akat dari
pada mengucapkan karena biasanya kesulitan
dalam mengucapkan.
5) adalah tes dasar untuk mengetahui ada
11

tidaknya gangguan pendengaran serta untuk


mengetahui jenis dan beratnya gangguan
pendengaran pada anak
Defisiensi Pengetahuan 1) Sepakati terlebih dahulu pengetahuan apa 1) Kesepakatan yang di buat akan menjadi
( Tuna Wicara); yang dibutuhkan orang tua/keluarga. komitemen antara perawat dan orang
Keluarga/orangtua 2) Lakukan edukasi orang tua/ keluarga tua/keluarga dalam hal batasan informasi yang
berhubungan dengan kurang 3) Bersama keluarga menetapkan tujuan yang dibutuhkan oleh keluarga
paparan, Kurang realitis yang ingin di capai oleh keluarga 2) Akan membantu orang tua untuk memahami
pengalaman, kurang terkait masalah anak. tumbang anak secara baik dan benar.
familier dengan sumber 4) Berikan informasi tentang sumber sumber 3) Dengan menetapkan tujuan yang realistis
informasi komunitas yang dapat menolong orang tua/ bersama keluarga/orang tua. Akan membuat
keluarga dalam meningkatkan pengetahuan tindakan yang akan dilakukan bisa di capai.
orang tua/ keluarga 4) Informasi tentang komunitas akan membuat
orang tua/keluarga merasa tidak sendiri dalam
menghadapi masalahnya
Ketidakmampuan keluarga 1) Kenali dan pahami kondisi orang 1) Dengan mengenali dan memahami kondisi
untuk merawat keluarga tua/keluarga. orang tua (pemberi asuhan) dan keluarga
yang mengalami gangguan 2) Bantu orang tua untuk bisa mengenali dan akan membuat kita bisa membuat intervensi
kesehatan (Tuna Wicara ) mengidentifikasi masalah yang di yng sesuai dengan kondisi yang ada.
12

berhubungan dengan deficit khawatirkan oleh orang tua (pemberi 2) Dengan membantu keluarga untuk mengenal
pengetahuan, social asuhan) dan keluarga dan menidentifikasi masalah, akan membuat
ekonomi rendah, lingkungan 3) Ajari orang tua cara merawat anggota keluarga bisa mengetahui secara jelas masalah
keluarga sepi, kultur/ keluarga yang sakit (Tuna wicara ) seperti : yang dihadapi dan bisa membuat perencanaan
budaya (mitos) yang membersihkan liang telinga anak, saat untuk mengatasi masalah
berkaitan dengan kondisi mengajak anak berbicara, hindari hal-hal 3) Akan membantu keluarga dalam merawat
anak, ketegangan peran lain yang mungkin dapat mengganggu, anaknya serta bisa membiasakan anak untuk
pemberi asuhan seperti radio dan televisi yang menyala , mendapatkan stimulus suara.
Gunakan kata yang sederhana namun sering 4) Terapi SEFT akan membantu mengurangi
di dengar anak missal : memanggil ketegangan pemberi asuhan seperti (marah,
namanya , ma-ma, pa-pa. rasa bersalah, rasa benci, depresi, frustasi dll)
4) Lakukan terapi Spiritual Emotional sehubungan dengan kondisi
Freedom Technique
13

2.4 Implementasi

Diagnosa keperawatan Implementasi

Hambatan Komunikasi Verbal berhubungan dengan 1) Menjelaskan kepada keluarga mengapa anak tidak dapat
kurangnya stimulasi bahasa, deviasi anatomis (kerusakan berbicara
neuromuscular) kelainan persepsi, kendala lingkungan 2) Melakukan komunikasi secara komprehensif baik verbal
maupun non verbal.
3) Membicarakan perlahan, jelas, dan tenang, sambil menghadap
anak.
4) Menganjurkan kepada orang tua untuk memberikan lebih
banyak kata meskipun anak belum mampu mengucapkan
dengan benar.
5) Melakukan sekrening lanjutan dengan mengggunakan Tes
Audiometri

Defisiensi Pengetahuan ( Tuna Wicara); Keluarga/orangtua 1) Menyepakati terlebih dahulu pengetahuan apa yang dibutuhkan
berhubungan dengan kurang paparan, Kurang pengalaman, orang tua/keluarga.
kurang familier dengan sumber informasi 2) Melakukan edukasi orang tua/ keluarga
3) Menetapkan tujuan yang realitis yang ingin di capai oleh
keluarga terkait masalah anak.
14

4) Memberikan informasi tentang sumber sumber komunitas


yang dapat menolong orang tua/ keluarga dalam meningkatkan
pengetahuan orang tua/ keluarga

Ketidakmampuan keluarga untuk merawat keluarga yang 1) Mengenali dan pahami kondisi orang tua/keluarga.
yang mengalami gangguan kesehatan (Tuna Wicara) 2) Membantu orang tua untuk bisa mengenali dan
berhubungan dengan deficit pengetahuan, social ekonomi mengidentifikasi masalah yang di khawatirkan oleh orang tua
rendah, lingkungan keluarga sepi, kultur/ budaya (mitos) (pemberi asuhan) dan keluarga
yang berkaitan dengan kondisi anak, ketegangan peran 3) Mengajari orang tua cara merawat anggota keluarga yang sakit
pemberi asuhan (Tuna wicara ) seperti : membersihkan liang telinga anak, saat
mengajak anak berbicara, hindari hal-hal lain yang mungkin
dapat mengganggu, seperti radio dan televisi yang menyala ,
Gunakan kata yang sederhana namun sering di dengar anak
missal : memanggil namanya , ma-ma, pa-pa.
4) Melakukan terapi Spiritual Emotional Freedom Technique

2.5 Evaluasi
15

Diagnosa Keperawatan Evaluasi

Hambatan Komunikasi Verbal berhubungan dengan kurangnya S : keluarga mengatakan bahwa kesulitan memahami anaknya
stimulasi bahasa, deviasi anatomis (kerusakan neuromuscular) ketika berkomuikasi
O : anak menggunakan tangan untuk berkomunikasi dengan
kelainan persepsi, kendala lingkungan
orang lain
A : masalah belum teratasi
P : intervensi dilanjutkan

Defisiensi Pengetahuan (Tuna Wicara); Keluarga/orangtua S : kelurga mengatakan bahwa mulai memahami kondisi
berhubungan dengan kurang paparan, Kurang pengalaman, kurang anaknya dan berusaha membantu anaknya agar mandiri
O : keluarga mampu memperhatikan kondisi anaknya
familier dengan sumber informasi
A : masalah teratasi sebagian
P : intervensi dilanjutkan

Ketidakmampuan keluarga untuk merawat keluarga yang yang S : keluaraga mengatakan bahwa mampu merawat anaknya
O : keluarga mampu memperhatikan kebutuhan anaknya
mengalami gangguan kesehatan (Tuna Wicara) berhubungan
A : masalah tertasi sebagian
dengan deficit pengetahuan, social ekonomi rendah, lingkungan P : intervensi dilanjutkan
keluarga sepi, kultur/ budaya (mitos) yang berkaitan dengan
kondisi anak, ketegangan peran pemberi asuhan
16

BAB 3. PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Anak tunawicara adalah individu yang mengalami gangguan atau hambatan
dalam dalam komunikasi verbal sehingga mengalami kesulitan dalam
berkomunikasi.Tuna wicara dapat di karakteristikkan menjadi 3 yakni bahasa dan
wicara , kemampuan intelegensi dan penyesuaian emosi,sosial dan perilaku.
Hambatan yang dialami anak tunawicara antara lain, sulit berkomunikasi
dengan orang lain: sulit bersosialisasi, sulit mengutarakan apa yang
diinginkannya, Perkembangan psikis terganggu karena merasa berbeda atau
minder, mengalami gangguan dalam perkembangan intelektual, kepribadian, dan
kematangan sosial.

3.2 Saran
Anak tuna wicara harus dibantu agar dapat bersosialisasi dengan orang lain
sehingga ia tidak dipandang melalui kekurangannya. Anak tuna wicara juga dapat
dilatih seperti manusia normal pada umumnya, namun mereka hanya sulit
berbicara. Tuna wicara juga memerlukan pendidikan yang dapat mendukung
mereka serta menghilangkan hambatan hambatan pada diri mereka seperti
sekolah- sekolah umum dan khusus

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrachman, Muljono dan Sudjadi. 1994. Pendidikan Luar Biasa Umum


.Jakarta: Departemen pendidikan dan kebudayaan.

Badan Pusat Statistik. 2009. Statistik Indonesia. Jakarta: BPS.


17

Hamsley, Bronwyn, dkk. 2001. Nursing the Patient with Severe Communication
Impairment. Article in Journal of Advanced Nursing. Source: Pubmed.
[diakses online tanggal 14 September 2016 pukul 12.34 WIB]
www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/11555030

Mangunsong, Frieda, dkk. 1998. Psikologi dan Pendidikan Anak Luar Biasa.
Jakarta: LPSP3 UI.

Purwanto, Heri. 1998. Ortopedagogik Umum. Yogyakarta: IKIP Yogyakarta.

Suparno. 2011. Terapi Wicara pada Anak dengan Gangguan Keterlambatan


Wicara dan Bahasa. Jakarta: Akademi Terapi Wicara YBC.

ABK TUK TENDIK.pdf Revisi I : Yogyakarta, 23-26 Maret 2010 dr Yulia


Suharlina dan Hidayat)
Suharlina, Yulia, dan Hidayat
Buku Saku Diagnosis Keperawatan : diagnosis NANDA, Intervensi NIC, criteria
hasil NOC : edisi 9.