Anda di halaman 1dari 16

REFERAT

Intensive Care Unit (ICU)

Dokter Pembimbing:
dr. Susana Sitaresmi K.W, M.Sc Sp.An

Disusun Oleh:
Pamela Vasikha
112016358

KEPANITERAAN KLINIK ILMU ANESTESI


RUMAH SAKIT MARDI WALUYO KOTA METRO LAMPUNG
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA
PERIODE 11 SEPTEMBER 30 SEPTEMBER 2017

1
BAB I
PENDAHULUAN

Intensive Care Unit (ICU) adalah suatu bagian dari rumah sakit yang mandiri, dengan staf
yang khusus dan perlengkapan yang khusus yang ditunjukkan untuk observasi, perawatan dan
terapi pasien-pasien yang menderita penyakit, cedera atau penyulit-penyulit yang mengancam
nyawa atau potensial mengancam nyawa dengan prognosis dubia. ICU menyediakan kemampuan
dan sarana, prasarana serta peralatan khusus untuk menunjang fungsi-fungsi vital dengan
menggunakan keterampilan staf medik, perawat dan staf lain yang berpengalaman dalam
pengelolaan keadaan-keadaan tersebut.1,2
Pada saat ini, ICU modern tidak terbatas menangani pasien pasca bedah atau ventilasi
mekanis saja, namun juga meliputi berbagai jenis pasien dewasa, anak, yang mengalami lebih dari
satu disfungsi / gagal organ. Ruang lingkup pelayanannya meliputi dukungan fungsi organ-organ
vital seperti penafasan, kardiosirkulasi, susunan saraf pusat, ginjal dan lain-lainnya. Kelompok
pasien ini dapat berasal dari Unit Gawat Darurat, Kamar Operasi, Ruang Perawatan, ataupun
kiriman dari Rumah Sakit lain. Ilmu yang diaplikasikan dalam pelayanan ICU pada decade terakhir
telah berkembang menjadi cabang ilmu kedokteran tersendiri yaitu Intensive Care Medicine.
Meskipun pada umumnya ICU hanya terdiri dari beberapa tempat tidur, tetapi sumber daya tenaga
(dokter dan perawat terlatih) yang dibutuhkan sangat spesifik dan jumlahnya pada saat ini di
Indonesia sangat terbatas.1,2
Intensive Care Unit (ICU) mempunyai 2 fungsi utama yaitu: untuk melakukan perawatan
pada pasien-pasien gawat darurat dengan potensi reversible life threatening organ dysfunction,
dan untuk mendukung organ vital pada pasien-pasien yang akan menjalani operasi yang kompleks
elektif atau prosedur intervensi dan resiko tinggi untuk fungsi vital.2

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Indikasi Masuk dan Keluar ICU1


ICU mampu menggabungkan teknologi tinggi dan keahlian khusus dalam bidang
kedokteran dan keperawatan gawat darurat. Pelayanan ICU diperuntukkan dan ditentukan oleh
kebutuhan pasien yang sakit kritis. Pasien sakit kritis meliputi:
Pasien yang secara fisiologis tidak stabil dan memerlukan dokter, perawat, profesi lain
yang terkait secara terkoordinasi dan berkelanjutan, serta memerlukan perhatian yang teliti,
agar dapat dilakukan pengawasan yang ketat dan terus menerus serta terapi titrasi
Pasien yang dalam bahaya mengalami dekompensasi fisiologis sehingga memerlukan
pemantauan ketat dan terus menerus serta dilakukan intervensi segera untuk mencegah
timbulnya penyulit yang merugikan

Sebelum pasien dimasukan ke ICU, pasien dan/atau keluarganya harus mendapatkan


penjelasan secara lengkap mengenai dasar pertimbangan mengapa pasien harus mendapatkan
perawatan di ICU, serta tindakan kedokteran yang mungkin akan dilakukan selama pasien
dirawat di ICU. Penjelasan tersebut diberikan oleh Kepala ICU atau dokter yang bertugas. Atas
penjelasan tersebut pasien dan/atau keluarganya dapat menerima / menyatakan persetujuan
untuk dirawat di ICU. Persetujuan dinyatakan dengan menandatangani formulir informed
consent.

1. Kriteria Masuk
ICU memberikan pelayanan antara lain pemantauan yang canggih dan terapi yang intensif.
Dalam keadaan penggunaan tempat tidur yang tinggi, pasien yang memerlukan terapi
intensif (prioritas 1) didahulukan dibandingkan pasien yang memerlukan pemantauan
intensif (prioritas 3). Penilaian objektif atas beratnya penyakit dan prognosis hendaknya
digunakan untuk menentukan prioritas masuk ICU
a) Pasien Prioritas 1 (satu)
Kelompok ini merupakan pasien sakit kritis, tidak stabil yang memerlukan
terapi intensif dan tertitrasi, seperti dukungan / bantuan ventilasi dan alat
bantu suportif organ / sistem yang lain, infus obat-obat vasoaktif continue,
obat anti aritmia continue, pengobatan continue tertitrasi, dan lain-lainnya.
Contoh pasien kelompok ini antara lain, pasca bedah cardiothoracic, pasien
sepsis berat, gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit yang

3
mengancam nyawa. Institusi setempat dapat membuat kriteria spesifik
untuk masuk ICU, seperti derajat hipoksemia, hipotensi dibawah tekanan
darah tertentu. Terapi pada pasien prioritas 1 umumnya tidak mempunyai
batas.

b) Pasien Prioritas 2 (dua)


Pasien ini memerlukan pelayanan pemantauan canggih di ICU, sebab
beresiko bila tidak mendapatkan terapi intensif segera, misalnya
pemantauan intensif menggunakan pulmonary arterial catheter. Contoh
pasien seperti ini antara lain mereka yang menderita penyakit dasar jantung-
paru, gagal ginjal akut dan berat atau yang telah mengalami pembedahan
major. Terapi pada pasien prioritas 2 tidak mempunyai batas, karena kondisi
mediknya senantiasa berubah.

c) Pasien Prioritas 3 (tiga)


Pasien golongan ini adalah pasien sakit kritis, yang tidak stabil status
kesehatan sebelumnya, penyakit yang mendasarinya, atau penyakit akutnya,
secara sendirian atau kombinasi. Kemungkinan sembuh dan/atau manfaat
terapi di ICU pada golongan ini sangat kecil. Contoh pasien ini antara lain
pasien dengan keganasan metastatic disertai penyulit infeksi, pericardial
tamponade, sumbatan jalan napas, atau pasien penyakit jantung, penyakit
paru terminal disertai komplikasi penyakit akut berat. Pengelolaan pada
pasien golongan ini hanya untuk mengatasi kegawatan akutnya saja dan
usaha terapi mungkin tidak sampai melakukan intubasi atau resusitasi
jantung paru.

d) Pengecualian
Dengan pertimbangan luar biasa, dan atas persetujuan Kepala ICU, indikasi
masuk pada beberapa golongan pasien bisa dikecualikan, dengan catatan
bahwa pasien-pasien golongan demikian sewaktu-waktu harus bisa
dikeluarkan dari ICU agar fasilitas ICU yang terbatas tersebut dapat
digunakan untuk pasien prioritas 1,2,3. Pasien yang tergolong demikian
antara lain:
i. Pasien yang memenuhi kriteria masuk tetapi menolak terapi
tunjangan hidup yang agresif dan hanya demi perawatan
yang aman saja. Ini tidak menyingkirkan pasien dengan
perintah DNR (Do Not Resucitate). Sebenarnya pasien-
pasien ini mungkin mendapat manfaat dari tunjangan
canggih yang tersedia di ICU untuk meningkatkan
kemungkinan survivalnya.
ii. Pasien dalam keadaan vegetative permanen
iii. Pasien yang telah dipastikan mengalami mati batang otak.
Pasien-pasien seperti itu dapat dimasukkan ke ICU untuk

4
menunjang fungsi organ hanya untuk kepentingan donor
organ.

2. Kriteria Keluar
Prioritas pasien dipindahkan dari ICU berdasarkan pertimbangan medis oleh kepala ICU
dan tim yang merawat pasien, antara lain:
a) Penyakit atau keadaan pasien telah membaik dan cukup stabil, sehingga
tidak memerlukan terapi atau pemantauan yang intensif lebih lanjut.
b) Secara perkiraan dan perhitungan terapi atau pemantauan intensif tidak
bermanfaat atau tidak memberi hasil yang berarti bagi pasien. Apalagi pada
waktu itu pasien tidak menggunakan alat bantu mekanis khusus (seperti
ventilasi mekanis).

Contoh golongan pasien demikian, antara lain pasien yang menderita penyakit
stadium akhir (misalnya ARDS stadium akhir). Sebelum dikeluarkan dari ICU
sebaiknya keluarga pasien diberikan penjelasan alasan pasien dikeluarkan dari ICU.
a) Pasien atau keluarga menolak untuk dirawat lebih lanjut di ICU (keluar
paksa)
b) Pasien hanya memerlukan observasi secara intensif saja, sedangkan ada
pasien lain yang lebih gawat yang memerlukan terapi dan observasi yang
lebih intensif. Pasien seperti ini hendaknya diusahakan pindah ke ruang
yang khusus untuk pemantauan secara intensif yaitu HCU.

3. End of Life Care (perawatan terminal kehidupan)


Disediakan ruangan khusus bagi pasien diakhir kehidupannya.

Kriteria Pasien Masuk Berdasarkan Diagnosis2


Kriteria pasien masuk berdasarkan diagnosis menggunakan kondisi atau penyakit yang
spesifik untuk menentukan kelayakan masuk ICU.
1. Sistem Kardiovaskular
Kondisi atau penyakit spesifik dari sistem kardiovaskuler yang mengindikasikan
pasien untuk masuk ICU adalah sebagai berikut:
a) Infark miokard akut dengan komplikasi
b) Syok kardiogenik
c) Aritmia kompleks yang membutuhkan monitoring ketat dan intervensi

5
d) Gagal jantung kongestif dengan gagal napas dan / atau membutuhkan
support hemodinamik
e) Hipertensi emergensi
f) Angina tidak stabil, terutama dengan disaritmia, hemodinamik tidak stabil,
atau nyeri dada menetap
g) S/P cardiac arrest
h) Tamponade jantung atau konstriksi dengan hemodinamik tidak stabil
i) Diseksi aneurisma aorta
j) Blokade jantung komplit

2. Sistem Pernafasan
Kondisi atau penyakit spesifik dari sistem kardiovaskuler yang mengindikasikan
pasien untuk masuk ICU adalah sebagai berikut:
a) Gagal napas akut yang membutuhkan bantuan ventilator
b) Emboli paru dengan hemodinamik tidak stabil
c) Pasien dalam perawatan ICU yang mengalami perburukan fungsi
pernapasan
d) Membutuhkan perawatan pernapasan yang tidak tersedia di unit perawatan
yang lebih rendah tingkatnya misalnya Intermediate Care Unit
e) Hemoptisis massif
f) Gagal napas dengan ancaman intubasi

3. Penyakit Neurologis
Kondisi atau penyakit spesifik dari sistem kardiovaskuler yang mengindikasikan
pasien untuk masuk ICU adalah sebagai berikut:
a) Stroke akut dengan penurunan kesadaran
b) Koma metabolic, toksis, atau anoksia
c) Perdarahan intracranial dengan potensi herniasi
d) Perdarahan subarachnoid akut
e) Meningitis dengan penurunan kesadaran atau gangguan pernapasan
f) Penyakit sistem saraf pusat atau neuromuskuler dengan penurunan fungsi
neurologis atau pernapasan (contohnya myasthenia gravis, syndroma
Guillaine-Barre)
g) Status epilepticus
h) Mati batang otak atau berpotensi mati batang otak yang direncanakan untuk
dirawat secara agresif untuk keperluan donor organ
i) Vasospasme
j) Cedera kepala berat

6
4. Overdosis obat atau keracunan obat
Kondisi atau penyakit spesifik akibat overdosis obat atau keracunan obat yang
mengindikasikan pasien untuk masuk ICU adalah:
a) Keracunan obat dengan hemodinamik tidak stabil
b) Keracunan obat dengan penurunan kesadaran signifikan dengan
ketidakmampuan proteksi jalan napas
c) Kejang setelah keracunan obat

5. Penyakit Gastrointestinal
Kondisi atau penyakit spesifik dari sistem gastrointestinal yang mengindikasikan
pasien untuk masuk ICU adalah:
a) Perdarahan gastrointestinal yang mengancam nyawa termasuk hipotensi,
angina, perdarahan yang masih berlangsung, atau dengan penyakit
komorbid
b) Gagal hati fulminant
c) Pankreatitis berat
d) Perforasi esophagus dengan atau tanpa mediastinitis

6. Endokrin
Kondisi atau penyakit spesifik dari sistem endokrin yang mengindikasikan pasien
untuk masuk ICU adalah:
a) Ketoasidosis diabetikum dengan komplikasi hemodinamik tidak stabil,
penurunan kesadaran, pernapasan tidak adekuat atau asidosis berat
b) Badai tiroid atau koma miksedema dengan hemodinamik tidak stabil
c) Kondisi hiperosmolar dengan koma dan/atau hemodinamik tidak stabil
d) Penyakit endokrin lain seperti krisis adrenal dengan hemodinamik tidak
stabil
e) Hiperkalsemia berat dengan penurunan kesadaran, membutuhkan
monitoring hemodinamik
f) Hipo atau hypernatremia dengan kejang / penurunan kesadaran
g) Hipo atau hipermagnesemia dengan hemodinamik terganggu atau
disaritmia
h) Hipo atau hyperkalemia dengan disaritmia atau kelemahan otot
i) Hipofosfatemia dengan kelemahan otot

7. Bedah
Kondisi khusus yang mengindikasikan pasien bedah untuk masuk ICU adalah
pasien pasca operasi yang membutuhkan monitoring hemodinamik/bantuan ventilator atau
perawatan yang ekstensif

7
8. Lain-lain
a) Syok sepsis dengan hemodinamik tidak stabil
b) Monitoring ketat hemodinamik
c) Trauma factor lingkungan (petir, tenggelam, hipo/hypernatremia)
d) Terapi baru / dalam percobaan dengan potensi terjadi komplikasi
e) Kondisi klinis lain yang memerlukan perawatan setingkat ICU

Kriteria Pasien Masuk Berdasarkan Parameter Objektif2


1. Tanda vital
Dilihat dari parameter objektif, pasien yang layak untuk masuk ICU adalah pasien
dengan tanda vital sebagai berikut:
a) Nadi < 40 atau > 140 kali/menit
b) Tekanan darah sistolik arteri < 80 mmHg atau 20 mmHg dibawah tekanan
darah pasien sehari-hari
c) Mean arterial preasure < 60 mmHg
d) Tekanan darah diastolic arteri > 120 mmHg
e) Frekuensi napas > 35x / menit

2. Nilai laboratorium
Dilihat dari parameter objektif, pasien yang layak untuk masuk ICU adalah pasien
dengan nilai laboratorium sebagai berikut:
a) Natrium serum < 110 mEq/L atau > 170 mEq/L
b) Kalium serum < 2,0 mEq/L atau > 7,0 mEq/L
c) PaO2 < 50 mmHg
d) pH < 7,1 atau > 7,7
e) Glukosa serum > 800 mg/dl
f) Kalsium serum > 15 mg/dl
g) Kadar toksik obat atau bahan kimia lain dengan gangguan hemodinamik
dan neurologis

3. Radiografi / Ultrasonografi / Tomografi


Dilihat dari parameter objektif, pasien yang layak untuk masuk ICU adalah pasien
dengan gambaran radiografi / tomografi sebagai berikut:
a) Perdarahan vaskular otak, kontusio atau perdarahan subarachnoid dengan
penurunan kesadaran atau tanda deficit neurologis fokla
b) Ruptur organ dalam, kandung kemih, hepar, varises esophagus atau uterus
dengan hemodinamik tidak stabil
c) Diseksi aneurisma aorta

8
4. Elektokardiogram
Dilihat dari parameter objektif, pasien yang layak untuk masuk ICU adalah pasien
dengan gambaran elektrokardiogram sebagai berikut:
a) Infark miokard dengan aritmia kompleks, hemodinamik tidak stabil atau
gagal jantung kongestif
b) Ventrikel takikardi menetap atau fibrilasi
c) Blockade jantung komplit dengan hemodinamik tidak stabil

5. Pemeriksaan fisik (onset akut)


Dilihat dari parameter objektif, pasien yang layak untuk masuk ICU adalah pasien
dengan hasil pemeriksaan fisik sebagai berikut:
a) Pupil anisokor pada pasien tidak sadar
b) Luka bakar > 10% BSA
c) Anuria
d) Obstruksi jalan napas
e) Koma
f) Kejang berlanjut
g) Sianosis
h) Tamponade jantung

Peralatan1
Peralatan yang memadai baik kuantitas maupun kualitas sangat membantu kelancaran
pelayanan. Berikut ini adalah ketentuan umum mengenai peralatan:
1. Jumlah dan macam peralatan bervariasi tergantung tipe, ukuran dan fungsi
ICU dan harus sesuai dengan beban kerja ICU, disesuaikan dengan standar
yang berlaku.
2. Terdapat prosedur pemeriksaan berkala untuk keamanan alat
3. Peralatan dasar meliputi:
a) Ventilasi mekanik
b) Alat ventilasi manual dan alat penunjang jalan nafas
c) Alat hisap
d) Peralatan akses vaskuler
e) Peralatan monitor invasive dan non-invasive
f) Defibrillator dan alat pacu jantung
g) Alat pengatur suhu pasien
h) Peralatan drain thorax
i) Pompa infus dan pompa syringe

9
j) Peralatan portable untuk transportasi
k) Tempat tidur khusus
l) Lampu untuk tindakan
m) Continuous renal replacement therapy

4. Peralatan lain (seperti peralatan hemodialisa dan lain-lain) untuk prosedur


diagnostik dan atau terapi khusus hendaknya tersedia bila secara klinis ada
indikasi dan untuk mendukung fungsi ICU
5. Protocol dan pelatihan kerja untuk staf medik dan paramedic perlu tersedia
untuk penggunaan alat-alat termasuk langkah-langkah untuk mengatasi
apabila terjadi malfungsi.

Peralatan monitoring (termasuk peralatan portable yang digunakan untuk transportasi


pasien)
1. Tanda bahaya kegagalan pasokan gas

2. Tanda bahaya kegagalan pasokan oksigen


Alat yang secara otomatis teraktifasi untuk memonitor penurunan tekanan
pasokan oksigen, yang selalu terpasang di ventilasi mekanik.

3. Pemantauan konsentrasi oksigen


Diperlukan untukmengukur konsentrasi oksigen yang dikeluarkan oleh
ventilasi mekanik atau sistem pernapasan.

4. Tanda bahaya kegagalan ventilasi mekanik atau diskonsentrasi sistem


pernafasan
Pada penggunaan ventilasi mekanik otomatis, harus ada alat yang dapat
segera mendeteksi kegagalan sistem pernafasan atau ventilasi mekanik
secara terus menerus.

5. Volume dan tekanan ventilasi mekanik


Volume yang keluar dari ventilasi mekanik harus terpantau. Tekanan jalan
napas dan tekanan sirkuit pernapasan harus terpantau terus menerus dan
dapat mendeteksi tekanan yang berlebihan.

6. Suhu alat pelembab (humidifier)


Ada tanda bahaya bila terjadi peningkatan suhu udara inspirasi

7. Elektrokardiograf
Terpasang pada setiap pasien dan dipantau terus menerus

10
8. Pulse oximeter
Harus tersedia untuk setiap pasien di ICU

9. Emboli udara
Apabila pasien sedang menjalani hemodialysis, plasmaferesis, atau alat
perfusi, harus ada pemantauan untuk emboli udara.

10. Bila ada indikasi klinis harus tersedia peralatan untuk mengukur variable
fisiologis lain seperti tekanan intra arterial dan tekanan arteri pulmonalis,
curah jantung, tekanan inspirasi dan aliran jalan nafas, tekanan intracranial,
suhu, transmisi neuromuscular, kadar CO2 ekspirasi.

Pencatatan dan Pelaporan di ICU1


Catatan ICU diverifikasi dan ditandatangani oleh dokter yang melakukan pelayanan di ICU
dan dokter tersebut harus bertanggung jawab atas semua yang dicatat dan dikerjakan. Pencatatan
menggunakan status khusus ICU yang meliputi diagnosis lengkap yang menyebabkan dirawat di
ICU, data tanda vital, pemantauan fungsi organ khusus (jantung, paru, ginjal, dan sebagainya)
secara berkala, jenis dan jumlah asupan nutrisi dan cairan, catatan pemberian obat, serta jumlah
cairan tubuh yang keluar dari pasien.
Pencatatan nilai-nilai pengukuran tanda vital secara berkala dilakukan oleh perawat ICU
minimal 1 jam sekali dengan interval sesuai kondisi pasien. Pemantauan secara umum dan khusus
setiap pagi hari oleh dokter jaga dan perawat ICU dan dikoordinasikan dengan dokter intensivist.
Pemantauan umum meliputi:
1. Pemeriksaan tanda-tanda vital, meliputi pemeriksaan tensi, nadi, suhu,
respirasi, saturasi oksigen
2. Pemeriksaan fisik meliputi sistem saraf, sistem kardiovaskular, sistem
respirasi, sistem gastrointestinal, sistem traktus urinarius dan sistem
lokomotif.
3. Balans cairan dilakukan setiap 3-6 jam, diperhitungkan intake dan output
cairan
4. Evaluasi CVP (Central Venous Pressure), dengan melakukan Fluid
Challenge Test (FCT)
5. Pemeriksaan Laboratorium meliputi:
a) Analisa gas darah
b) Gula darah
c) Darah rutin
d) Elektrolit
e) Ureum, kreatinin

11
f) Keton darah sesuai indikasi
g) Keton urin sesuai indikasi
h) Hemostase lengkap sesuai indikasi
i) SGOT / SGPT sesuai indikasi
j) Pemeriksaan lain bila dibutuhkan

Pelaporan pelayanan ICU terdiri dari jenis indikasi pasien masuk serta jumlahnya, sistem
skor prognosis, penggunaan alat bantu (ventilasi mekanis, hemodialysis, dan sebagainya), lama
rawat, dan keluaran (hidup atau meninggal) dari ICU.

Monitoring dan Evaluasi1,3


Monitoring dan evaluasi dimaksud harus ditindaklanjuti untuk menentukan factor-faktor
yang potensial berpengaruh agar dapat diupayakan penyelesaian yang efektif. Indikator pelayanan
ICU yang digunakan adalah sistem skoring prognosis dan keluaran dari ICU. Sistem skoring
prognosis dibuat dalam 24 jam pasien masuk ke ICU. Contoh sistem skoring prognosis yang dapat
digunakan adalah APACHE II (Acute Physiologic and Chronic Health Evaluation), SAPS II
(Simplified Acute Physiologic Score), SOFA (Sepsis Related Organ Failure) dan MODS (Multiple
Organ Dysfunction Score). Rerata nilai scoring prognosis dalam periode tertentu dibandingkan
dengan keluaran aktualnya. Pencapaian yang diharapkan adalah angka mortalitas yang sama atau
lebih rendah dari angka mortalitas terhadap rerata nilai skoring prognosis.
Sistem skoring yang berdasarkan perubahan fisiologi lebih tepat untuk diterapkan pada
pasien penyakit kritis dan memiliki keunggulan dibandingkan dengan sistem skoring yang
berdasarkan diagnose. Setiap pasien yang dirawat di ICU terkadang memiliki lebih dari satu
diagnose dan bahkan terkadang diagnosa masih belum dapat ditegakkan meskipun secara
retrospektif. Sistem skoring berbasis diagnosa tidak dapat diaplikasikan untuk pasien penyakit
kritis di ICU.
Sistem skoring pada prinsipnya terdiri dari 2 bagian: skoring derajat keparahan yang diukur
dengan angka, dimana semakin tinggi angkanya maka semakin berat kondisinya dan perhitungan
mortalitas dan morbiditas. Sebagian besar dari sistem skoring menilai mortalitas selama perawatan
di rumah sakit, meskipun ada beberapa pengukuran yang mengukur mortalitas 28 hari sesudah
keluar dari rumah sakit.

1. Sistem skoring APACHE II (Acute Physiologic and Chronic Health Evaluation)2


Sistem skoring APACHE II merupakan sistem skoring yang mengklasifikasikan
beratnya penyakit dengan menggunakan prinsip dasar fisiologi tubuh untuk
menggolongkan prognosa penderita terhadap resiko kematian. Skor APACHE II

12
terdiri dari 3 kelompok, yaitu skor fisiologi akut (12 variabel, dengan nilai
maksimum 60), skor penyakit kronis (maksimum 5), dan skor umur (maksimum 6),
hingga seluruhnya bernilai 71.
Skor fisiologi akut terdiri dari:

a) Tingkat kesadaran yang ditentukan dengan menggunakan GCS


(Glasgow Coma Scale) dan skornya dihitung dengan 15 dikurangi
GCS
b) Temperatur rektal dengan rentang skor 0-4
c) Tekanan nadi / Mean Arterial Pressure (MAP) dengan rentang skor
0-4
d) Frekuensi denyut jantung dengan rentang skor 0-4
e) Frekuensi pernafasan dengan rentang skor 0-4
f) Kadar hematocrit dengan rentang skor 0-4
g) Jumlah leukosit dengan rentang skor 0-4
h) Kadar natrium serum dengan rentang skor 0-4
i) Kadar kalium serum dengan rentang skor 0-4
j) Kadar kreatinin serum dengan rentang skor 0-8
k) Kadar keasaman atau pH darah atau tekanan parsial (PaCO2)
dengan rentang skor 0-4
l) Tekanan parsial oksigen (PaO2) darah dengan rentang skor 0-4

Skor Penyakit Kronis =

Skor 5 - Dalam waktu 8 bulan sebelum sakit / dirawat menderita


salah satu diantara penyakit:
a) Hepar (sirosis, perdarahan traktus gastrointestinal
bagian atas akibat hipertensi portal, ensefalopati
sampai koma)
b) Kardiovaskular (decompensatio cordis derajat
IV)
c) Pulmo (hipertensi pulmonal, hipoksia kronis)
d) Ginjal (hemodialysis / peritoneal dialysis kronis)
e) Gangguan imunologi (sedang dalam terapi
imunosupresi, kemoterapi, radiasi, steroid jangka
panjang / dosis tinggi, menderita penyakit yang
menekan pertahanan terhadap infeksi misalnya
leukemia, limfoma atau AIDS)
- Pasca bedah cito
Skor 2 - Pasca bedah elektif

13
Skor untuk Umur =
a) 44 tahun : skor 0
b) 45 54 tahun : skor 2
c) 55 64 tahun : skor 3
d) 65 74 tahun : skor 5
e) 75 tahun : skor 6

Besar skor APACHE II didapatkan dengan menjumlahkan ketiga kelompok


penilaian tersebut (APS + skor penyakit kronis + skor usia). Sistem skoring ini tidak
dimaksudkan untuk pasien luka bakar dan pasca bedah jantung.

2. Sistem skoring SOFA (Sequential Organ Failure Assessment)


Sistem skoring SOFA pertama kali digunakan untuk menilai pasien sepsis,
ICU medis dan bedah namun telah divalidasi dan dapat digunakan untuk populasi
lain seperti paien dengan pembedahan jantung. Enam sistem organ (respirasi,
kardiovaskular, ginjal, hati, sistem saraf pusat, dan koagulasi) telah dipilih dan
setiap fungsi diberi nilai dari 0 (fungsi normal) hingga 4 (sangat abnormal), yang
memberikan kemungkinan nilai dari 0 sampai 24. Skoring SOFA tidak hanya
dinilai pada hari pertama saja, namun dapat dinilai harian dengan mengambil nilai
yang terburuk pada hari tersebut. Tujuan utama dari skoring kegagalan fungsi organ
adalah untuk menggambarkan urutan dari komplikasi, bukan untuk memprediksi
mortalitas.

Tabel 1 Sistem Skoring Sequential Organ Failure Assessment (SOFA)3

Variabel Skoring SOFA


0 1 2 3 4
Respirasi > 400 400 300 200 100
(PaO2 / FiO2)
mmHg
Koagulasi > 150 150 100 50 20
(platelet)
Liver < 1,2 1,2 2,0 5,9 6,0 11,9 > 12,0
(bilirubin) 1,9
Kardiovaskular Tidak MAP Dopamin Dopamine > 5, Dopamin > 15,
(hipotensi) ada < 70 5 atau Adrenalin 0,1 Adrenalin > 0,1
dosis dalam hipotensi hg dobutamin atau atau
ug/kg/menit (dosis Norepinephrine Norepinephrine
berapapun) 0,1 > 0,1

14
Sistem saraf 15 13 10 - 12 6-9 <6
pusat (Glasgow 14
Coma Scale)

Ginjal < 1,2 1,2 2,0 3,4 3,4 4,9 atau < > 5,0 atau <
Creatinine 1,9 500 200
(mg/dL) atau
Urine Output
(mL/hari)

15
Daftar Pustaka
1. Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan Kementriaan Kesehatan RI. Pedoman
Penyelenggaraan pelayanan HCU dan ICU di Rumah sakit. Jakarta; 2011.
2. Gunawan VS. ICU. 2015. Diunduh dari
http://eprints.undip.ac.id/46236/3/Vanesa_Sefannya_22010111120013_Bab2.pdf, 23
September 2017.
3. MODS (Multiple Organ Dysfunction Syndrome). Diunduh dari
http://erepo.unud.ac.id/8649/3/6745e54f564bd405ec29ff5fb47e0f41.pdf, 22 September
2017.

16