Anda di halaman 1dari 10

PENGELUARAN NEGARA

A. TEORI PENGELUARAN NEGARA:


1. Musgrave dan Rostow

Perkembangan pengeluaran negara sejalan dengan tahap perkembangan


ekonomi dari suatu Negara:
1. Pada tahap awal perkembangan ekonomi diperlukan pengeluaran negara
yang besar untuk investasi pemerintah, utamanya untuk menyediakan
infrastruktur seperti sarana jalan, kesehatan, pendidikan, dll
2. Pada tahap menengah pembangunan ekonomi, investasi tetap diperlukan
untuk pertumbuhan ekonomi, namun diharapkan investasi sektor swasta
sudah mulai berkembang
3. Pada tahap lanjut pembangunan ekonomi, pengeluaran pemerintah tetap
diperlukan, utamanya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,
misalnya peningkatan pendidikan, kesehatan, jaminan sosial dsb.
2. Wagner
1. Berdasarkan pengamatan dari negara-negara maju, disimpulkan bahwa dalam
perekonomian suatu negara, pengeluaran pemerintah akan meningkat sejalan
dengan peningkatan pendapatan perkapita negara tersebut.
2. Di negara-negara maju, kegagalan pasar bisa saja terjadi, menimpa industri-
industri tertentu dari negara tersebut. Kegagalan dari suatu industri dapat saja
merembet ke industri lain yang saling terkait. Di sini diperlukan peran pemerintah
untuk mengatur hubungan antara masyarakat, industri, hukum, pendidikan, dll
3. Peacock dan Wiseman
1. Kebijakan pemerintah untuk menaikkan pengeluaran negara tidak disukai oleh
masyarakat, karena hal itu berarti masyarakat harus membayar pajak lebih besar
2. Masyarakat mempunyai sikap toleran untuk membayar pajak sampai pada suatu
tingkat tertentu. Apabila pemerintah menetapkan jumlah pajak di atas batas
toleransi masyarakat, ada kecenderungan masyarakat untuk menghindar dari
kewajiban membayar pajak. Sikap ini mengakibatkan pemerintah tidak bisa
semena-mena menaikkan pajak yang harus dibayar masyarakat
3. Dalam kondisi normal, dengan berkembangnya perekonomian suatu negara akan
semakin berkembang pula penerimaan negara tersebut, walaupun pemerintah
tidak menaikkan tarif pajak. Peningkatan penerimaan negara akan memicu
peningkatan pengeluaran dari negara tersebut.

- Dalam kondisi tidak normal, misalnya dalam keadaan perang,


pemerintah memerlukan pengeluaran negara yang lebih besar.
Keadaan ini membuat pemerintah cenderung meningkatkan
pungutan pajak kepada masyarakat. Peningkatan pungutan pajak
dapat mengakibatkan investasi swasta berkurang, dan
perkembangan perekonomian menjadi terkendala.
- Perang tidak bisa dibiayai dari pajak saja. Pemerintah terpaksa cari
pinjaman untuk biaya perang. Setelah perang selesai pemerintah
harus membayar angsuran pinjaman dan bunga. Oleh karenanya
pajak tidak akan turun ke tingkat semula walaupun perang sudah
selesai.
- Setelah perang selesai, pengeluaran negara akan turun dari tingkat
pengeluaran negara saat perang, namun masih lebih tinggi dari
tingkat pengeluaran negara sebelum perang. Sementara itu
pengeluaran swasta akan meningkat, namun masih masih dibawah
tingkat pengeluaran swasta sebelum perang

B. KEWAJIBAN NEGARA DAN KAITANYA DENGAN PENGELUARAN


NEGARA
Kewajiban negara dalam rangka menjaga kelangsungan kedaulatan negara
(pemerintah) dan meningkatkan kemakmuran masyarakat, mencakup:
1. mempersiapkan, memelihara, dan melaksanakan keamanan negara
2. menyediakan dan memelihara fasilitas untuk kesejahteraan sosial dan
perlindungan sosial, termasuk
i. fakir miskin
ii. jompo
iii. yatim piatu
iv. masyarakat miskin
v. pengangguran
3. menyediakan dan memelihara fasilitas kesehatan
4. menyediakan dan memelihara fasilitas pendidikan
Sebagai konsekuensi pelaksanaan kewajibannya, pemerintah perlu dana yang
memadai, dianggarkan melalui APBN/APBD, dan pada saatnya harus dikeluarkan
melalui Kas Negara/Kas Daerah

C. MACAM-MACAM PENGELUARAN NEGARA


Menurut Organisasi
1. Pemerintah Pusat
Dalam APBN, pengeluaran Pemerintah Pusat dibedakan menjadi:
a. Pengeluaran untuk Belanja
Belanja Pemerintah Pusat
Belanja Pegawai
Belanja Barang
Belanja Modal
Pembayaran Bunga Utang
Subsidi
Belanja Hibah
Bantuan Sosial
Belanja Lain-lain
Dana yang dialokasikan ke Daerah
Dana Perimbangan
Dana Otonomi Khusus dan Penyesuaian
b. Pengeluaran untuk Pembiayaan
Pengeluaran untuk Obligasi Pemerintah
Pembayaran Pokok Pinjaman Luar Negeri
Pembiayaan lain-lain

2. Pemerintah Propinsi
Dalam APBD Propinsi, pengeluaran negara dibedakan menjadi:
a. Pengeluaran untuk Belanja
Belanja Operasi, yang terdiri dari
Belanja Pegawai
Belanja Barang dan jasa
Belanja Pemeliharaan
Belanja perjalanan Dinas
Belanja Pinjaman
Belanja Subsidi
Belanja Hibah
Belanja Bantuan Sosial
Belanja Operasi Lainnya
Belanja Modal, terdiri dari:
Belanja Aset Tetap
Belanja aset lain-lain
Belanja tak tersangka

Dalam APBD Propinsi, pengeluaran negara dibedakan menjadi:

a. Bagi hasil pendapatan ke kabupaten/kota/desa, terdiri dari

Bagi hasil pajak ke Kabupaten/Kota


Bagi hasil retribusi ke Kabupaten/Kota
Bagi hasil pendapatan lainnya ke Kabupaten/Kota
b. Pengeluaran untuk Pembiayaan, terdiri dari
Pembayaran Pokok Pinjaman
Penyertaan modal pemerintah
Belanja investasi Permanen
Pemberian pinjaman jangka panjang

3. Pemerintah Kabupaten/Kota
Dalam APBD Kabupaten/Kota, pengeluaran negara dibedakan menjadi:
Pengeluaran untuk Belanja
Belanja Operasi, yang terdiri dari
Belanja Pegawai
Belanja Barang dan jasa
Belanja Pemeliharaan
Belanja perjalanan Dinas
Belanja Pinjaman
Belanja Subsidi
Belanja Hibah
Belanja Bantuan Sosial
Belanja Operasi Lainnya
Belanja Modal, terdiri dari:
Belanja Aset Tetap
Belanja aset lain-lain
Belanja tak tersangka
Dalam APBD Kabupaten/Kota, pengeluaran negara dibedakan menjadi:
Bagi hasil pendapatan ke desa/kelurahan, terdiri dari
Bagi hasil pajak ke Desa/Kelurahan
Bagi hasil retribusi ke Desa/Kelurahan
Bagi hasil pendapatan lainnya ke Desa/Kelurahan
Pengeluaran untuk Pembiayaan, terdiri dari
Pembayaran Pokok Pinjaman
Penyertaan modal pemerintah
Pemberian pinjaman kepada BUMD/BUMN/Pemerintah Pusat/Kepala Daerah
otonom Lainnya

Menurut Sifatnya
1. PENGELUARAN INVESTASI
Pengeluaran yang ditujukan untuk menambah kekuatan dan ketahanan ekonomi di
masa datang
Misalnya, pengeluaran untuk pembangunan jalan tol, pelabuhan, bandara, satelit,
peningkatan kapasitas SDM, dll
2. PENGELUARAN PENCIPTAAN LAPANGAN KERJA
Pengeluaran untuk menciptakan lapangan kerja, serta memicu peningkatan
kegiatan perekonomian masyarakat
3. PENGELUARAN KESEJAHTERAAN RAKYAT
Pengeluaran yang mempunyai pengaruh langsung terhadap kesejahteraan
masyarakat, atau pengeluaran yang dan membuat masyarakat menjadi bergembira
Misalnya pengeluaran untuk pembangunan tempat rekreasi, subsidi, bantuan
langsung tunai, bantuan korban bencana, dll
4. PENGELUARAN PENGHEMATAN MASA DEPAN
Pengeluaran yang tidak memberikan manfaat langsung bagi negara, namun bila
dikeluarkan saat ini akan mengurangi pengeluaran pemerintah yang lebih besar di
masa yang akan datang
Pengeluaran untuk kesehatan dan pendidikan masyarakat, pengeluaran untuk
anak-anak yatim, dll
5. PENGELUARAN YANG TIDAK PRODUKTIF
Pengeluaran yang tidak memberikan manfaat secara langsung kepada masyarakat,
namun diperlukan oleh pemerintah
Misalnya pengeluaran untuk biaya perang

D. PENGELUARAN NEGARA DAN PENGARUHNYA TERHADAP


PEREKONOMIAN
Ada beberapa sektor perekonomian yang umumnya terpengaruh oleh besar atau
kecilnya pengeluaran negara, antara lain

1. Sektor produksi

Pengeluaran negara secara langsung atau tidak langsung berpengaruh terhadap sektor
produksi barang dan jasa. Dilihat secara agregat pengeluaran negara merupakan faktor produksi
(money), melengkapi faktor-faktor produksi yang lain (man, machine, material, method,
management). Pengeluaran pemerintah untuk pengadaan barang dan jasa akan berpengaruh
secara langsung terhadap produksi barang dan jasa yang dibutuhkan pemerintah. Pengeluaran
pemerintah untuk sektor pendidikan akan berpengaruh secara tidak langsung terhadap
perekonomian, karena pendidikan akan menghasilkan SDM yang lebih berkualitas. Dengan
SDM yang berkualitas produksi akan meningkat.

2. Sektor distribusi

Pengeluaran negara secara langsung atau tidak langsung berpengaruh terhadap sektor
distribusi barang dan jasa. Misalnya, subsidi yang diberikan oleh masyarakat menyebabkan
masyarakat yang kurang mampu dapat menikmati barang/jasa yang dibutuhkan, misalnya subsidi
listrik, pupuk, BBM, dll. Pengeluaran pemerintah untuk biaya pendidikan SD-SLTA membuat
masyarakat kurang mampu dapat menikmati pendidikan yang lebih baik (paling tidak sampai
tingkat SLTA). Dengan pendidikan yang lebih baik, diharapkan masyarakat tersebut dapat
meningkatkan taraf hidupnya di masa yang akan datang. Apabila pemerintah tidak mengeluarkan
dana untuk keperluan tersebut, maka distribusi pendapatan, barang, dan jasa akan berbeda.
Hanya masyarakat mampu saja yang akan menikmati tingkat kehidupan yang lebih baik,
sementara masyarakat kurang mampu tidak memperoleh kesempatan untuk meningkatkan tara
hidupnya.

3. Sektor konsumsi masyarakat

Pengeluaran negara secara langsung atau tidak langsung berpengaruh terhadap sektor
konsumsi masyarakat atas barang dan jasa. Dengan adanya pengeluaran pemerintah untuk
subsidi, tidak hanya menyebabkan masyarakat yang kurang mampu dapat menikmati suatu
barang/jasa, namun juga menyebabkan masyarakat yang sudah mampu akan mengkonsumsi
produk/jasa lebih banyak lagi. Kebijakan pengurangan subsidi, misalnya BBM, akan
menyebabkan harga BBM naik, dan kenaikan harga BBM akan menyebabkan konsumsi
masyarakat terhadap BBM turun

4. Sektor keseimbangan perekonomian

Untuk mencapai target-target peningkatan PDB, pemerintah dapat mengatur alokasi dan
tingkat pengeluaran negara. Misalnya dengan mengatur tingkat pengeluaran negara yang tinggi
(untuk sektor-sektor tertentu), pemerintah dapat mengatur tingkat employment (menuju full
employment). Apabila target penerimaan tidak memadai untuk membiayai pengeluaran tersebut,
pemerintah dapat membiayainya dengan pola defisit anggaran.

E. ANALISIS KEBIJAKAN PENGELUARAN NEGARA

Analisis kebijakan program pengeluaran negara diperlukan untuk mengetahui tingkat


efisiensi dan equity dari suatu kebijakan pengeluaran negara.

Analisis kebijakan pengeluaran negara dapat dilakukan melalui 9 tahap kegiatan,


mencakup:

1. perlunya program pengeluaran negara


Analisis kebijakan program pengeluaran negara dapat diawali dengan melakukan
investigasi terhadap:
1. riwayat dari program tersebut, apa yang melatarbelakangi program tersebut
2. lingkungan sekitar atau kondisi yang membentuk dan mempengaruhi program
tersebut
3. Siapa yang menjadi target dari program tersebut
4. Kebutuhan apa yang ingin dicapai dari program tersebut

Sebagai contoh, program pengeluaran pemerintah dalam bentuk bantuan langsung


tunai (BLT) pada tahun 2005:
1. Program tersebut dipicu kenaikan harga BBM di pasar internasional yang jauh
melampaui prakiraan harga BBM yang ditetapkan pemerintah dalam APBN
2005
2. Kenaikan harga BBM akan mengakibatkan subsidi BBM yang dikeluarkan
pemerintah menjadi membengkak, sementara pengguna BBM, terutama
premium ke atas, adalah masyarakat kelas menengah ke atas. Hanya sedikit
masyarakat kelas bawah yang menikmati subsidi BBM
3. Untuk mengurangi biaya subsidi BBM, pada 1 Oktober 2005 pemerintah
menaikkan harga BBM. Kenaikan BBM telah diprediksi akan memicu
kenaikan harga barang-barang lain, termasuk barang kebutuhan pokok
masyarakat.
4. BLT dirancang untuk membantu masyarakat kelas bawah untuk memperkecil
kesulitan hidup, berkaitan dengan kenaikan harga-harga barang

2. kegagalan pasar yang terjadi pada program pengeluaran negara

Pada tahap ini perlu dicari jawaban atas pertanyaan: apakah terjadi kegagalan pasar
sehingga pemerintah perlu turun tangan dengan program pengeluaran tersebut? Dalam contoh
kasus program BLT, telah terjadi kegagalan pasar di mana pasar tidak dapat mengendalikan
harga BBM di pasar internasional. Kenaikan harga BBM di pasar internasional mengakibatkan
perbedaan harga BBM dalam negeri dengan harga BBM di pasar internasional semakin besar,
yang selanjutnya berdampak subsidi BBM yang harus dikeluarkan pemerintah semakin besar

3. alternatif-alternatif intervensi pemerintah melalui program pengeluaran


negara

Pemerintah perlu mencari alternatif-alternatif kebijakan untuk mengatasi kegagalan pasar


yang ada, dengan memperhatikan dampak dari masing-masing alternatif:

Alternatif intervensi pemerintah dapat berupa:

1. Apabila diproduksi oleh pemerintah, alternatif kebijakan antara lain:

distribusi gratis

distribusi dengan harga di bawah harga produksi

distribusi dengan harga sama dengan harga produksi

2. Apabila Produksi oleh swasta/private, alternatif kebijakan antara lain:

Subsidi pemerintah untuk produsen

Subsidi pemerintah untuk konsumen


Distribusi langsung dari pemerintah

Aturan pemerintah

Dalam kasus program BLT, beberapa alternatif dapat ditempuh pemerintah:

1. Pemerintah tidak melakukan kebijakan apa-apa, harga BBM dalam negeri tidak
dinaikkan:

kenaikan harga BBM di pasar internasional akan menyebabkan


pengeluaran pemerintah untuk subsidi BBM membengkak

tidak ada kenaikan harga BBM, serta harga barang-barang lainnya

Kenaikan subsidi dinikmati masyarakat kelas menengah ke atas,


sementara hanya sedikit dari masyarakat kelas bawah yang ikut menikmati
subsidi BBM

2. Pemerintah menaikkan harga BBM dalam negeri, tanpa memberikan BLT kepada
masyarakat miskin:

Pengeluaran pemerintah untuk subsidi BBM dapat ditekan

Kenaikan harga BBM akan memicu kenaikan harga barang-barang lain

Daya beli masyarakat akan berkurang, terutama masyarakat kelas bawah


paling menderita dengan adanya kebijakan ini

Untuk mengurangi penderitaan masyarakat kelas bawah/miskin,


pemerintah memberikan bantuan langsung tunai (BLT)

4. rancangan feature khusus dari program pengeluaran negara

Setelah dipilih satu alternatif intervensi pemerintah melalu program pengeluaran


negara, perlu dilihat bagaimana rancangan rinci dari program yang dipilih. Perlu ada
keterbukaan dan efisiensi dalam rancangan program, tentang:

- siapa yang menjadi target program?


- apa bentuk programnya?
- bagaimana program tersebut akan dilaksanakan?
- siapa yang bertanggungjawab melaksanakan program tersebut?
- dimana program tersebut akan dilaksanakan?
- kapan program tersebut akan dilaksanakan?

Dalam kasus program BLT,


- yang menjadi target program adalah masyarakat miskin. Di sini perlu ada
kejelasan kriteria-kriteria masyarakat miskin itu seperti apa
- bentuk programnya berupa pemberian uang tunai secara langsung
- program tersebut akan dilaksanakan dengan membuat kriteria tentang
keluarga miskin, mengidentifikasi keluarga miskin, menghitung kebutuhan
pengeluaran program, mendistribusikan uang tunai kepada keluarga miskin
- yang bertanggungjawab melaksanakan program:
- penentuan kriteria keluarga miskin oleh Menko Ekuin, Bapenas, dan BPS
- identifikasi keluarga miskin oleh BPS
- pendistribusian keluarga miskin oleh kantor pos
- pendistribusian bantuan langsung tunai oleh kantor pos
- program BLT dilaksanakan segera setelah kenaikan BBM

5. respon sektor swasta

Menilai respon sektor swasta terhadap kebijakan program pemerintah merupakan bagian
yang sulit untuk dikerjakan. Dalam sistem perekonomian campuran, pemerintah tidak dapat
sepenuhnya mengatur perilaku masyarakat atas suatu kebijakan pemerintah.

Pihak swasta dapat saja merespon negatif terhadap kebijakan pemerintah. Dalam kasus
BLT, banyak masyarakat yang berpendapat bahwa kebijakan pemerintah tidak mendidik
masyarakat. Banyak masyarakat yang mengaku miskin dengan memanipulasi kondisi mereka
sehingga sesuai dengan kriteria yang ditetapkan sebagai keluarga miskin

Dalam menilai konsekuensi dari suatu program, perlu dilihat konsekuensi jangka pendek
dan jangka panjang. Seberapa jauh BLT dapat membantu masyarakat miskin? Berapa lama BLT
harus diberikan? Bagaimana dampak BLT terhadap kondisi keuangan negara?

6. konsekuensi efisiensi

Hal yang perlu dikaji dari suatu kebijakan pengeluaran pemerintah, apakah terjadi
peningkatan efisiensi atau inefisiensi setelah kebijakan tersebut diimplementasikan? Efisiensi
bisa terjadi pada sektor produksi, bisa pula pada sektor konsumsi. Kebijakan pemerintah
menaikkan harga BBM dibarengi dengan BLT diharapkan:

a. penggunaan BBM akan menurun, yang berdampak pengeluaran pemerintah untuk


subsidi BBM juga akan turun

b. penerimaan masyarakat miskin akan meningkat, pengeluaran masyarakat akan


meningkat

7. trade-off efisiensi-ekuiti
Adakalanya, suatu program pengeluaran pemerintah dapat membuat semua pihak
bahagia, dalam arti terjadi efisiensi dalam perekonomian, tidak ada pihak yang dirugikan Namun
dalam banyak hal, kebijakan pengeluaran pemerintah harus mengorbankan efisiensi untuk
membuat semua pihak bahagia, atau mengorbankan pihak-pihak tertentu agar terjadi efisiensi.
Sebagai contoh, pungutan atas pengguna jalan tol merupakan kebijakan yang mengorbankan
efisiensi, karena penggunanya tidak sebanyak kalau pungutan ditiadakan. Namun pungutan
tersebut dinilai adil, karena pengguna harus membayar pungutan, yang tidak menggunakan tidak
dikenai biaya. Contoh lain, kenaikan TDL membuat pengguna listrik akan berhemat sehingga
terjadi efisiensi penggunaan listrik, namun kurang adil, karena ada sebagian masyarakat yang
tidak dapat menikmati listrik karena adanya kenaikan tersebut.

8. sasaran kebijakan publik

Adakalanya, kebijakan publik dibuat bukan hanya didasarkan pertimbangan efisiensi


ekonomi dan keadilan/distribusi saja, tetapi ada tujuan-tujuan khusus yang lain, misalnya untuk
meningkatkan kesejahteraan pribumi, membantu sektor informal, dsb.

Dalam hal demikian, analisis kebijakan pengeluaran pemerintah harus diarahkan untuk
mengukur seberapa jauh keberhasilan program untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

9. proses politik

Dalam negara yang demokratis, perancangan program kebijakan pengeluaran pemerintah


akan melibatkan banyak kelompok, dengan kepentingan yang berbeda. Program yang dibuat
(merupakan hasil kompromi) biasanya dipengaruhi oleh pihak-pihak yang terlibat, terutama
pihak-pihak yang memiliki mayoritas suara. Analisis proses politik dari suatu kebijakan akan
memberikan pemahaman yang lebih baik, kenapa program tersebut ada, kenapa program dibuat
seperti itu, dsb.