Anda di halaman 1dari 13

DIAN PURNAMASARI

A31115308

PENGAUDITAN I
RANGKUMAN MATERI KULIAH
(Materialitas, Risiko, dan Strategi Audit Pendahuluan)

Materialitas
Materialitas adalah hal yang menjadi dasar penerapan standar-standar
auditing yang berlaku umum. Oleh karena itu, materialitas sangatlah berdampak
terhadap audit laporan keuangan. Materialitas dipertimbangkan dalam
merencanakan audit, dan mengevaluasi apakah laporan keuangan secara
keseluruhan telah disajikan secara wajar sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi
yang berlaku umum.

Konsep Materialitas
Materialitas didefinisikan sebagai besarnya suatu pengabaian atau salah saji
informasi akuntansi yang di luar keadaan di sekitarnya, memungkinkan bahwa
pertimbangan seseorang yang bergantung pada informasi tersebut akan berubah
atau terpengaruh oleh pengabaian atau salah saji tersebut. Dari definisi tersebut, ada
dua hal yang diharapkan menjadi pertimbangan auditor yaitu situasi yang
berkenaan dengan entitas, dan informasi yang dibutuhkan oleh mereka yang akan
bergantung pada laporan keuangan yang diaudit.

Pertimbangan Pendahuluan Mengenai Materialitas


Dalam merencanakan audit, auditor membuat pertimbangan pendahuluan
mengenai tingkat materialitas. Hal ini seringkali disebutmaterialitas
perencanaan. Dalam merencanakan audit, auditor harus menilai materialitas pada
dua tingkat berikut, yaitu:
- Tingkat laporan keuangan, karena pendapat auditor mengenai kewajaran
meluas sampai laporan keuangan secara keseluruhan.
- Tingkat saldo akun, karena auditor menguji saldo akun dalam memperoleh
kesimpulan keseluruhan atas kewajaran laporan keuangan.
DIAN PURNAMASARI
A31115308

Materialitas pada Tingkat Laporan Keuangan


Materialitas laporan keuangan adalah salah saji agregat minimum dalam
suatu laporan keuangan yang cukup penting untuk mencegah laporan disajikan
secara wajar sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum. Dalam
perencanaan audit, auditor harus mengakui bahwa terdapat lebih dari satu tingkat
materialitas yang berhubungan dengan laporan keuangan.
Dalam membuat suatu pertimbangan pendahuluan mengenaai materialitas,
auditor mula-mula menentukan tingkat agregat materialitas untuk setiap laporan.
Untuk tujuan perencanaan, auditor harus menggunakan tingkat agregat terkecil dari
salah saji yang dipertimbangkan sebagai material untuk setiap laporan keuangan.
Hal ini memang tepat karena laporan keuangan saling berkaitan dan banyak
prosedur audit berkaitan dengan lebih dari satu laporan keuangan. Pertimbangan
pendahuluan auditor mengenai materialitas seringkali dibuat enam hingga sembilan
bulan sebelum tanggal neraca. Pertimbangan materialitas melibatkan pertimbangan
kuantitatif dan kualitatif.

Materialitas pada Tingkat Saldo Akun


Materialitas pada tingkat saldo akun adalah salah saji minimum yang dapat
muncul dalam suatu saldo akun hingga dianggap mengandung salah saji material.
Salah saji hingga tingkat ini masih dapat dikategorikan sebagai salah saji yang dapat
ditolerir. Materialitas saldo akun berbeda dengan saldo akun material. Saldo akun
material merujuk kepada ukuran dari suatu saldo akun yang tercatat. Materialitas
lebih berkenaan dengan jumlah salah saji yang dapat memengaruhi keputusan
seorang pemakai laporan keuangan.
Dalam membuat pertimbangan-pertimbangan mengenai materialitas pada
tingkat saldo akun, auditor harus mempertimbangkan hubungan antara materialitas
pada tingkat saldo akun dengan materialitas pada tingkat laporan keuangan.
Pertimbangan ini harus mengarahkan auditor untuk merencanakan audit guna
mendeteksi salah saji yang mungkin tidak material secara individual, tetapi apabila
diagregasi dengan salah saji pada saldo akun lainnya, mungkin akan material
terhadap laporan keuangan secara keseluruhan.
DIAN PURNAMASARI
A31115308

Mengalokasikan Materialitas Laporan Keuangan pada Akun-akun


Ketika pertimbangan pendahuluan auditor mengenai materialitas laporan
keuangan dikuantifikasi, suatu estimasi pendahuluan mengenai materialitas setiap
akun dapat diperoleh dengan mengalokasikan materialitas laporan keuangan pada
akun-akun individual. Pengalokasian ini dapat dilakukan baik pada akun-akun
neraca maupun akun-akun laporan laba-rugi. Dalam membuat alokasi, auditor harus
mempertimbangkan kemungkinan salah saji dalam akun, dan biaya yang mungkin
untuk menguji akun.

Hubungan Antara Materialitas dan Bukti Audit


Hubungan yang terbentuk antara materialitas dengan bukti audit
menunjukkan hubungan terbalik. Artinya, semakin rendah tingkat materialitas,
semakin besar jumlah bukti yang diperlukan. Namun, secara umum juga benar jika
dikatakan bahwa semakin besar atau semakin signifikan suatu saldo akun, maka
semakin besar jumlah bukti yang diperlukan. Hal ini disebut hubungan langsung.

Risiko Audit
Risiko audit adalah risiko bahwa auditor mungkin tanpa sengaja telah gagal
untuk memodifikasi pendapat secara tepat mengenai laporan keuangan yang
mengandung salah saji material. Konsep keseluruhan mengenai risiko audit
merupakan kebalikan dari konsep keyakinan yang memadai. Semakin tinggi
kepastian yang ingin diperoleh auditor dalam menyatakan pendapat benar, semakin
rendah risiko audit yang akan ia terima.

Model Risiko Audit


Telah diketahui bahwa ada tiga komponen risiko audit, yaitu risiko bawaan,
risiko pengendalian, dan risiko deteksi. Untuk tingkat risiko audit tertentu, terdapat
hubungan terbalik antara tingkat risiko bawaan dan risiko pengendalian yang dinilai
atas suatu asersi dan tingkat risiko deteksi yang dapat diterima oleh auditor untuk
asersi tersebut. Oleh karena itu, semakin rendah penilaian risiko bawaan dan risiko
pengendalian, semakin tinggi tingkat yang dpaat diterima untuk risiko deteksi.
DIAN PURNAMASARI
A31115308

Dalam menghubungkan komponen-komponen risiko audti, auditor dapat


mengekspresikan setiap komponen dalam istilah kuantitatif, sepertipersentase, atau
dalam istilah nonkuantitatif seperti sangat rendah, rendah, sedang, tinggi, atau
maksimum.
Mengilustrasikan Model Risiko Audit
Model risiko audit mengekspresikan hubungan antara komponen-komponen
risiko audit, seperti berikut:
AR= IR x CR x DR

Dimana, AR adalah risiko audit, IR adalah risiko bawaan, CR adalah risiko


pengendalian, dan DR adalah risiko deteksi.
Terdapat banyak jenis pengujian substantif. Suatu model risiko audit mengalami
perluasan dalam Lampiran AU 350, yang membagi risiko deteksi menjadi dua
komponen yaitu AP untuk risiko prosedur analitis dan TD untuk risiko pengujian
terinci. Sehingga hubungan antar komponen-komponen risiko audit menjadi:
AR= IR x CR x AP x TD

Model risiko audit yang diperluas menyediakan auditor suatu alat untuk
mempertimbangkan keyakinan yang diperoleh dengan melaksanakan prosedur
analitis. Hal ini memungkinkan auditor untuk mempertimbangkan keyakinan
yang diperoleh baik dari prosedur audit top-down maupun bottom-up.

Matriks Komponen Risiko


Beberapa auditor yang menggunakan ekspresi nonkuantitatif untuk risiko
menggunakan suatu matriks komponen risiko. Studi mengenai matriks ini
menunjukkan bahwa hal tersebut konsisten dengan model risiko audit, yaitu
bahwa tingkat risiko deteksi yang dapat diterima berhubungan secara terbalik
dengan penilaian risiko bawaan, risiko pengendalian, dan risiko prosedur
analitis.
DIAN PURNAMASARI
A31115308

Menilai Komponen Risiko Audit


Dalam mengimplementasikan model-model risiko audit, auditor harus memahami
faktor-faktor yang memengaruhi penilaian risiko bawaan, risiko pengendalian, dan
risiko prosedur analitis.
Risiko Bawaan
Risiko bawaan adalah kerentanan suatu saldo akun atau golongan transaksi
terhadap suatu salah saji material, dengan asumsi bahwa tidak terdapat kebijakan
dan prosedur struktur pengendalian intern yang terkait. Penilaian risiko bawaan
merupakan pertimbangan mengenai hal-hal yang mungkin memiliki dampak
yang mendalam terhadap asersi-asersi untuk semua atau banyak akun dan hal-
hal ang hanya berkaitan dengan asersi spesitifk untk suatu akun spesifik.
Risiko bawaan muncul secara independen dari audit laporan keuangan. Oleh
karena itu, auditor tidak dapat mengubah tingkat aktual dari risiko bawaan. Akan
tetapi, auditor dapat mengubah tingkat risiko bawaan yang dinilai. Auditor
secara normal akan mampu mengevaluasi faktor-faktor risiko bawaan dengan
memahami siklus bisnis klien.

Risiko Pengendalian
Risiko pengendalian adalah risiko terjadinya salah saji material dalam suatu
asersi yang tidak dapat dicegah atau dideteksi secara tepat waktu oleh struktur
pengendalian intern entitas. Seperti halnya dengan risiko bawaan, auditor tidak
dapat mengubah tingkat aktual dari suatu risiko pengendalian untuk suatu asersi.
Akan tetapi auditor dapat memvariasikan tongkat risiko pengendalian yang
dinilainya dengan memodifikasi prosedur-proseduryang digunakan untuk
memperoleh suatu pemahaman tentang struktur pengendalian intern yang
berhubungan dengan asersi, dan prosedur-prosedur yang digunakan untuk
melaksanakan pengujian pengendalian.
Secara normal, auditor menentukan penilaian tingkat risiko pengendalian
yang direncanakan untuk setiap asersi dalam tahap perencanaan audit. Penilaian
tingkat yang direncanakan didasarkan pada asumsi-asumsi mengenai efektivitas
dari rancangan dan pengoperasian bagian pengendalian intern klien yang
DIAN PURNAMASARI
A31115308

relevan. Penilaian tingkat risiko pengendalian aktual selanjutnya ditentukan


untuk setiap asersi berdasarkan bukti yang diperoleh dari studi dan evaluasi
pengendalian intern klien selama pekerjaan interim dalam tahap pengujian pada
audit berjalan.

Risiko Bawaan, Risiko Pengendalian, dan Risiko Kecurangan


Auditor memiliki suatu tanggung jawab untuk menyediakan keyakinan
yang memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji yang material, baik
itu kekeliruan maupun kecurangan. Berdasarkan SAS 82, ada dua jenis salah
saji, yaitu:
- Salah saji yang muncul dari pelaporan keuangan yang curang.
Merupakan salah saji yang disengaja atau penghilangan suatu jumlah atau
pengungkapan dalam laporan keuangan untuk menipu para pemakai laporan
keuangan. Jenis kecurangan ini mungkin akan melibatkan tindakan-
tindakan seperti:
a. Manipulasi, pemalsuan, dan perubahan catatan akuntansi.
b. Interpretasi yang salah atau penghilangan yang disengaja dalam
kejadian-kejadian dalam laporan keuangan.
c. Penerapan yang salah secara sengaja dari prinsip-prinsip akuntansi.
- Salah saji yang muncul akibat penyalahgunaan aktiva.
Salah saji ini termasuk pencurian atas aktiva entitas di mana dampak
pencurian tersebut menyebabkan laporan keuangan tidak disajikan sesuai
dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum. Penyalahgunaan
dapat dilakukan dengan berbagai cara, termasuk penyelundupan
penerimaan, pencurian aktiva, atau menyebabkan suatu entitas untuk
membayar barang atau jasa yang tidak diterima.
SAS No. 82 menyarankan agar auditor mempertimbangkan faktor-faktor risiko
yang berhubungan salah saji material yang muncul dari pelaporan keuangan
yang curang dan penyalahgunaan aktiva. Faktor-faktor spesifik yang mungkin
berkaitan dengan risiko bawaan dan risiko pengendalian adalah ekstensif.
DIAN PURNAMASARI
A31115308

Risiko Deteksi
Risiko deteksi adalah risiko bahwa auditor tidak akan mendeteksi salah saji
material yang ada dalam suatu asersi. Risiko deteksi dapat dinyatakan sebagai
suatu kombinasi dari risiko prosedur analitis dan risiko pengujian terinci.
Penggunaan prosedur audit yang lebih efektif akan menghasilkan suatu risiko
deteksi yang lebih rendah daripada prosedur audit yang tidak efektif. Dalam
tahap perencanaan audit, suatu tingkat risiko deteksi yang direncanakan dapat
diterima untuk prosedur analitis dan pengujian terinci ditentukan untuk setiap
asersi yang signifikan dengan menggunakan model risiko audit.

Risiko Audit pada Tingkat Laporan Keuangan dan Tingkat Saldo Akun
Auditor menentukan tingkat risiko audit secara keseluruhan yang akan
dicapai untuk laporan keuangan secara keseluruhan. Secara umum, tingkat yang
sama diterapkan pada setiap saldo akun dan semua asersi yang berkaitan. Auditor
tidak mengendalikan tingkat komponen risiko pengendalian dan risiko bawaan, dan
secara sengaja memvariasikan tingkat risiko deteksi yang dapat diterima secara
terbalik dengan tingkat yang dinilai dari komponen risiko lainnya untuk menjaga
agar risiko audit konstan. Oleh karena itu, penyataan mengenai tingkat risiko
bawaan, risiko pengendalian, risiko prosedur analitis, dan risiko pengujian terinci
berhubungan dengan asersi individual pada tingkat saldo akun, bukan pada laporan
keuangan secara keseluruhan.

Hubungan antara Risiko Audit dan Bukti Audit


Terdapat suatu hubungan terbalik antara risiko audit dengan jumlah bukti
yang diperlukan untuk mendukung pendapat auditor atas laporan keuangan. Untuk
klien tertentu, semakin rendah tingkat risiko audit yang ingin dicapai, semakin besar
jumlah bukti yang diperlukan. Hubungan terbalik ini juga berlaku bagi komponen
risiko deteksi. Untuk asersi tertentu, semakin rendah tingkat yang dapat diterima
dari risiko prosedur analitis atau risiko pengujian terinci yang ditentukan oleh
auditor, maka semakin besar kecukupan dan kompetensi pengujian substansial yang
diperlukan untuk membatasi risiko deteksi keseluruhan pada tingkat tersebut.
DIAN PURNAMASARI
A31115308

Hubungan Timbal Balik antara Materialitas, Risiko Audit, dan Bukti Audit

HUBUNGAN TIMBAL BALIK ANTARA


MATERIALITAS, RISIKO AUDIT, DAN
BUKTI AUDIT

Tingkat
Materialitas Risiko Audit

Bukti Audit

Dari gambar di atas, jika ditetapkan risiko audit konstan dan mengurangi
tingkat materialitas, maka bukti audit harus ditingkatkan. Jika ditetapkan tingkat
materialitas konstan dan mengurangi bukti audit, maka risiko audit harus
ditingkatkan. Jika diinginkan mengurangi risiko audit, maka tingkat materialitas
ditingkatkan sementara bukti audit dibiarkan konstan, atau menaikkan bukti audit
sementara menahan tingkat materialitas konstan, atau bisa saja membuat kenaikan
yang lebih kecil untuk jumlah bukti audit dan tingkat materialitas.

Peringatan akan Adanya Risiko Audit


Tujuan peringatan ini adalah memberikan suatu tinjauan mengenai
perkembangan ekonomi baru-baru ini kepada auditor, perkembangan profesional
dan perkembangan peraturan yang mungkin akan mempengaruhi audit unutk klien
dalam banyak industri.

Strategi Audit Pendahuluan


Tujuan utama auditor dan pelaksanaan audit adalah untuk mengurangi risiko
audit hingga tingkat rendah yang sesuai untuk mendukung suatu pendapat apakah
laporan keuangan telah disajikan secara wajar dalam segala hal yang material. Hal
ini dicapai dengan mengumpulkan dan mengevaluasi bukti berkenaan dengan
asersi-asersi yang terdapat dalam laporan keuangan manajemen.
DIAN PURNAMASARI
A31115308

Strategi audit pendahuluan bukan merupakan spesifikasi mendetil dari


prosedur audit yang akan dilaksanakan dalam menyelesaikan audit. Sebaliknya,
stratgei ini merepresentasikan pertimbangan pendahuluan auditor mengenai suatu
pendekatan audit dan didasarkan pada aumsi-asumsi tertentu mengenai pelaksanaan
audit.

Komponen Strategi Audit Pendahuluan


Dalam mengembangkan strategi audit pendahuluan untuk asersi-asersi, auditor
menspesifikasikan empat komponen sebagai berikut:
1. Tingkat risiko bawaan yang dinilai
2. Tingkat risiko pengendalian yang direncanakan untuk dinilai dengan
mempertimbangkan:
- Luas pemahaman mengenai pengendalian intern yang diperoleh.
- Pengujian pengendalian yang dilaksanakan dalam mengukur risiko
pengendalian.
3. Tingkat risiko prosedur analitis yang direncanakan untuk dinilai dengan
mempertimbangkan:
- Luas pemahaman tentang bisnis dan industri yang diperoleh.
- Prosedur analitis yang akan dilaksanakan yang menyediakan bukti mengenai
penyajian wajar dari suatu asersi.
4. Tingkat pengujian rincian yang direncanakan, apabila dikombinasikan dengan
prosedur lain, mengurangi risiko audit hingga tingkat rendah yang sesuai.

Terdapat dua strategi audit utama yang ekuivalen dengan suatu pendekatan
substantif utama yang menekankan pengujian rincian dan suatu tingkat risiko
pengendalian yang dinilai lebih rendah. Dua strategi audit utama berada pada akhir
yang berlawanan dari suatu angkaian kemungkinan keputusan mengenai:
- Tingkat risiko pengendalian yang direncanakan untuk dinilai.
- Luasnya pemahaman mengenai pengendalian intern.
- Keyakinan yang diinginkan dari pengujian pengendalian.
DIAN PURNAMASARI
A31115308

- Tingkat pengujian substantif yang direncanakan akan dilaksanakan untuk


mengurangi risiko audit hingga suatu tingkat rendah yang sesuai.

Suatu Pendekatan Substantif Utama dengan Penekanan terhadap


Pengujian Terinci
Menurut pendekatan substantif utama yang menekankan pada pengujian terinci,
auditor menspesifikasikan komponen-komponen strategi audit sebagai berikut:
- Gunakan tingkat risiko prosedur analitis yang direncanakan untuk dinilai
pada tingkat yang tinggi.
- Gunakan tingkat risiko pengendalian yang direncanakan untuk dinilai pada
tingkat yang tinggi.
- Rencanakan untuk memperoleh pemahaman minimum mengenai bagian-
bagian yang relevan dari pengendalian interm.
- Rencanakan sedikit, jika ada, pengujian pengendalian.
- Rencanakan pengujian substantif yang luas atas transaksi dan saldo
berdasarkan pada tingkat risiko deteksi yang direncanakan dapat diterima
yang rendah.
Auditor dapat memilih pendekatan ini ketika ia mengetahui dari awal, mungkin
dari pengalaman masa lalu berhadapan dengan klien atau dari langkah
perencanaan awal, bahwa pengendalian intern yang berkaitan dengan asersi
tidak ada atau tidak efektif.

Suatu Tibgkat Risiko Pengendalian yang Dinilai Lebih Rendah


Menurut pendekatan tingkat risiko pengendalian yang dinilai lebih rendah,
auditor menspesifikasikan komponen-komponen dari strategi audit sebagai
berikut:
- Gunakan tingkat risiko prosedur analitis yang direncanakan untuk dinilai
pada tingkat yang tinggi.
- Gunakan tingkat risiko pengendalian yang direncanakan untuk dinilai pada
tingkat sedang atau rendah.
DIAN PURNAMASARI
A31115308

- Rencanakan pengujian pengendalian, mungkin pengujian pengendalian


komputer yang berada dalam sistem klien.
- Rencanakan pengujian substantif atas transaksi atau saldo yang terbatas
berdasarkan tingkat risiko deteksi yang direncanakan untuk diterima pada
tingkat sedang atau tinggi.
Auditor dapat memilih strategi ini ketika ia percaya bahwa pengendaian yang
berhubungan dengan suatu asersi telah dirancang dengan baik dan berjalan
dengan sangat efektif.

Strategi Audit Tambahan


Tantangan dalam merencakan strategi audit adalah bahwa model risiko audit
bukan model yang memiliki dua dimensi. Pilihan auditor tidak hanya
bergantung pada pengendalian intern atau untuk melakukan pengujian secara
substantif. Komponen model risiko audit yang penting lainnya melibatkan
prosedur analitis. Kedua strategi audit tambahan juga menyajikan akhir yang
berlawanan dari suatu rangkaian strategi-strategi yang mungkin yang
melibatkan spesifikasi berbeda tentang:
- Tingkat risiko prosedur analitis yang direncanakan untuk dinilai.
- Luas pemahaman tentang bisnis dan industri yang akan diperoleh.
- Keyakinan yang diperoleh dari prosedur analitis.
- Tingkat pengujian substantif yang direncanakan akan dilaksanakan untuk
mengurangi risiko audit hingga pada suatu tingkat rendah yang sesuai.

Pendekatan Substantif Utama yang Menekankan pada Prosedur Analitis


Menurut pendekatan substantif utama yang menekankan pada prosedur analitis,
auditor menspesifikasikan komponen-komponen strategi audit sebagai berikut:
- Memperoleh pengetahuan yang luas mengenai proses bisnis klien yang
relevan dengan asersi.
- Auditor mengantisipasi bahwa dia dapat memperoleh bukti kompeten dari
prosedur analitis untuk mendukung suatu penilaian risiko sedang atau
rendah dari bukti tersebut.
DIAN PURNAMASARI
A31115308

- Gunakan suatu tingkat risiko pengendalian yang direncanakan untuk dinilai


pada tingkat yang tinggi.
- Rencanakan untuk memperoleh suatu pemahaman minimum mengenai
bagian relevan dari pengendalian intern.
- Rencanakan sedikit, jika ada, pengujian pengendalian.
- Rencanakan pengujian substantif atas transaksi dan asldo yang lebih sempit
sebagai akibat dari pengurangan risiko yang diberikan prosedur analitis.

Auditor dapat memilih pendekatan ini apabila ia memiliki keahlian dan


pengetahuan mengenai bisnis dan industri untuk mengembangkan prediksi yang
akurat mengenai saldo laporan keuangan. Strategi audit ini mempresentasikan
suatu bauran yang seimbang secara relatif dari prosedur audit top-down dan
bottom-up.

Penekanan pada Risiko Bawaaan dan Prosedur Analitis


Setiap pendekatan sebelumnya mengasumsikan bahwa risiko bawaan dinilai
pada tingkat maksimum. Akan tetapi, terdapat banyak asersi yang tidak
demikian. Penekanan pada risiko bawaan dan prosedur analitis
mengasumsikan bahwa prosedur analitis lebih murah daripada prosedur audit
lainnya. Oleh karena itu, menurut pendekatan audit ini auditor
menspesifikasikan komponen-komponen strategi audit sebagai berikut:
- Risiko bawaan dinilai pada tingkat di bawah maksimum.
- Gunakan tingkat risiko prosedur analitis yangdirencanakan untuk dinilai
serendah mungkin.
- Gunakan tingkat risiko pengendalian yang direncanakan untuk dinilai pada
tingkat yang tinggi.
- Rencanakan untuk memperoleh pemahaman minimum mengenai bagian
yang relevan dari pengendalian intern.
- Rencanakan sedikit, jika ada, pengujian pengendalian.
DIAN PURNAMASARI
A31115308

- Rencanakan pengujian substantif atas transaksi dan saldo yang lebih sempit
sebagai akibat dari pengurangan risiko yang diperoleh dari risiko bawaan
dan prosedur analitis yang lebih rendah.
Auditor dapat memilih strategi ini ketika risiko bawaan berada di abawah
maksimum dan auditor dapat mengembangkan ekspektasi yang dapat
diandalkan berkenaan dengan saldo akun. Strategi ini menempatkan penekanan
yang luas pada prosedur audit top-down.

Hubungan antara Strategi dan Siklus Transaksi


Strategi-strategi yang telah dijelaskan sebelumnya dimaksudkan untuk
mendeskripsikan pendekatan audit untuk asersi-asersi yang ebrbeda, bukan untuk
keseluruhan audit. Dalam beberapa audit, pendekatan tersebut digunakan untuk
sejumlah asersi. Namun seringkali suatu strategi yang serupa diterapkan pada
sekelompok asersi yang dipengaruhi oleh golongan transaksi dalam suatu siklus
transaksi.

Anda mungkin juga menyukai