Anda di halaman 1dari 30

90

80
70 Manajemen
60
50 East

40 West

30 North

20
Produksi
10
0
Tanaman Tanaman
1st Qtr 2nd Qtr 3rd Qtr 4th Qtr
cabai cabai

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL


DIREKTORAT JENDERAL PENINGKATAN MUTU PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN
PUSAT PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN
PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN PERTANIAN
2009
DAFTAR ISI

JUDUL HAL
DAFTAR ISI 2
A. Tujuan Umum 3
B. Diskripsi 3
C. Uraian Materi Pembelajaran 3
1. Pengertian manajemen Produksi 3
2. Komponen yang tercakup dalam manajemen Produksi 4
3. Penataan Administrasi Keuangan 12
4. Pemasaran hasil Produksi 15
5. Fungsi Pemasaran 17
Daftar Pustaka 21

2
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tujuan umum perusahaan adalah membuat suatu produk atau jasa dengan biaya
yang serendah-rendahnya, menjual dengan harga yang wajar dan membentuk
kebiasaan. Pernyataan tersebut apabila dianalisis terdapat 2 fungsi esensial setiap
produksi perusahaan dan pemasaran. Fungsi pemasaran berkenaan dengan sisi
permintaan (Demand), misalnya pembentukan pembiasaan harga. Sedangkan
produksi berurusan dengan sisi penawaran (Suply Side) misalnya penciptaan
produk dengan biaya minimal dari seluruh tipe organisasi, baik manufaktoring
(pabricasi), jasa, perusahaan swasta, perusahaan negara, bermotif.
Keuntungan maupun non profit. Bidang-bidang tanggung jawab fungsional lainnya
mencakup keuangan yang penting bagi penyediaan modal sendiri dan hutang
secukupnya pada saat untuk membayar karyawan, bahan-bahan dan fasilitas-
fasilitas. Para spesialis personalia yang menarik dan melatih para karyawan,
mengembangkan rencana-rencana pembayaran buat mereka dan membantu dalam
evaluasi pelaksanaan kegiatan mereka, serta bidang-bidang fungsional lainnya.
Kerja seluruh bidang-bidang fungsional ini saling berkaitan dengan yang lain dan
sangat membantu memerlukan komunikasi dan koordinasi.
Kegiatan manajemen produksi yaitu pemrosesan berbagai barang yang
dilaksanakan diperusahaan-perusahaan manufacturing, sedangkan manajemen
operasi secara inplisit adalah operasi-operasi. Istilah ini digunakan pada
perusahaan yang memproduksi jasa. Manajemen produksi dan operasi merupakan
usaha-usaha pengelolaan secara optimal penggunaan sumberdaya (atau sering
disebut factor-faktor produksi), tenaga kerja, mesin-mesin, peralatan, bahan
mentah dan sebagainya. Dalam proses transportasi bahan mentah dan tenaga
kerja menjadi berbagai produk dan jasa.

3
Para manajer produk dan operasi mengarahkan berbagai masukan (input) agar
dapat memproduksi berbagai output dalam jumlah, kualitas, harga, waktu dan
tempat tertentu sesuai dengan permintaan konsumen.

B. Deskripsi Singkat
Bahan ajar ini membahas tentang materi: pengertian manajemen produksi,
komponen manajemen produksi ( lokasi, bahan mentah, tenaga kerja dan modal)
dan penataan administrasi keuangan.
.
C. Manfaat Modul
Sebagai seorang Widyaiswara selain dituntut untuk menguasai materi atau bidang
keahliannya, juga dituntut untuk mampu menyampaikan materi pembelajaran secara
sistematis dan efektif kepada peserta diklat, sehingga dalam penyampaian materi
bisa berjalan dengan efektif dan efisien serta menarik bagi peserta diklat.
Melalui modul pelatihan ini dapat mengaplikasikan manajemen produksi secara
efektif dan efesien meliputi: pengertian manajemen produksi, komponen yang
tercakup dalam manajemen produksi, penataan administrasi keuangan, dan
pemasaran hasil produksi.

D. Tujuan Pembelajaran
1. Kompetensi Dasar
Setelah selesai mengikuti pembelajaran ini peserta diharapkan dapat
mengaplikasikan manajemen produksi secara efektif dan efesien meliputi:
pengertian manajemen produksi, komponen yang tercakup dalam manajemen
produksi, penataan administrasi keuangan, dan pemasaran hasil produksi.

2. Indikator keberhasilan
Iindikator akan disajikan disetiap awal bab.

4
E. Materi Pokok
Modul ini terdiri dari 4 bab dengan rincian sebagai berikut:
Bab satu Pendahuluan :
Gambaran umum temtang perbanyakan tanaman secara vegegtatif ,
disertai dengan manfaat modul baik bagi peserta diklat maupun
widyaiswara.
Bab dua Pengertian dan Komponen-komponen Manajemen Produksi:
Menjelaskan Pengertian manajemen produksi, Komponen-komponen
manajemen produksi
Bab tiga Pemasaran Hasil
Menjelaskan Fungsi Pemasaran, Lingkup Pemasaran, Fungsi-fungsi
pemasaran.
Bab empat penutup memberikan kesimpulan, implikasi dan tindak lanjut.

F. Petunjuk Belajar
Untuk memudahkan dalam melakukan pembelajaran ini, diharapkan untuk
memperhatikan proses atau prosedur prosedur pada setiap bab. Sehingga
peserta mampu melakukan pengolahan lahan.
Peserta harus melakukan latihan-latihan untuk memperlancar proses pengolahan
lahan.

5
BAB II
PENGERTIAN DAN KOMPONEN-KOMPONEN MANAJEMEN PRODUKSI

Indikator Keberhasilan :
Peserta Mampu Mendefinisikan pengertianmanajemen produksi dan
komponen-komponen manajemen produksi

A. Pengertian manajemen produksi


Setiap usaha yang didirikan bukan untuk ditutup hari ini atau besok, namun
diharapkan untuk berkembang dan berjalan secara terus-menerus (kontinyu).
Untuk memperoleh keberhasilan sebagaimana yang diharapkan diperlukan
memahami kaidah-kaidah manajemen, manajemen secara umum adalah proses
menciptakan kerjasama sekelompok orang untuk mencapai suatu tujuan, dengan
memberdayakan sejumlah sumberdaya secara efektif dan efesien.
Dalam kontek ini kita akan membahas kegiatan-kegiatan dalam hubungannya
dengan manajemen produksi. Manajemen produksi adalah seluruh usaha manusia
untuk merencanakan, mengorganisasikan, mengarahkan,dan mengawasi segala
kegiatan membuat/menciptakan barang dan atau jasa guna meningkatkan daya
guna dari suatu barang tertentu.
Dalam kehidupan ini kita mengenal barang-barang dan jasa yang bereaneka
ragam jenisnya. Barang dan jasa tersebut kita gunakan untuk memenuhi
kebutuhan. Disamping itu kita mengetahui bahwa barang dan jasa tersebut dibuat
atau diciptakan yang sering disebut diproduksi guna memenuhi kebutuhan
manusia.
Proses produksi barang atau jasa kita ketahui bahwa selalu membutuhkan faktor-
faktor produksi seperti, lokasi/tempat, bahan mentah, tenaga kerja, modal, dan
keahlian serta pemasaran.
Jadi proses produksi adalah, setiap kegiatan manusia untuk membuat atau
menciptakan barang atau jasa dengan menggunakan faktor-faktor produksi dalam

6
jumlah tertentu dapat mencapai hasil yang optimum (sesuai dengan kaidah-
kaidah ekonomi).
Dengan demikian tujuan manajemen produksi adalah memproduksikan atau
mengatur produksi barang atau jasa dalam jumlah tertentu, pada waktu tertentu,
dan dengan kualitas tertentu, dan harga tertentu (produsen) sesuai dengan
kemampuan dan kebutuhan konsumen.

B. Komponen-komponen manajemen produksi


Manajemen produksi merupakan proses kegiatan manajemen dalam bidang
kegiatan produksi agar tercapai tujuannya.

Diagram 1. Siklus Manajemen

Faktor
Produksi:
1. Alam/bahan
bakar
2. Manusia
3. Modal
4. Keahliam
5. Dan lain-lain

Tujuan
Lingkungan Perusahaan:
Umum: Kegiatan 1. Keuntungan
1. Politik Perusahaan:
2. Pemenuhan
2. Ekonomi 1. Produksi
Lingku 2. Pemasaran kebutuhan
3. Sosial ngan masyarakat
3. Pengelolaan
4. Kebudayaan Khusus dana 3. Mengurangi
5. Hukum 4. Personalia pengangguran
6. Demografi 5. Dan lain-lain 4. Meningkatkan
7. Teknologi income
8. Pendidikan daerah
5. Dan lain-lain

Sebagaimana telah diuraikan diatas, cakupan manajemen produksi meliputi :


lokasi/tempat, bahan mentah, tenaga kerja, modal atau Pembiayaan, pemasaran.

7
a. Lokasi / Tempat
Berbagai faktor yang berpengaruh dalam penentuan lokasi/tempat, namun
dalam penentuan lokasi ini sangat ditentukan oleh jenis usaha/perusahaan.
Untuk perusahaan yang bergerak dalam produksi barang (pabrik) dan jasa
berbeda dengan budidaya pertanian, penentuan lokasi menjadi pertimbangan
yang sangat strategis. Pengertian strategis disini lebih ditinjau dari aspek
ekonomis, sebab akan mempengaruhi besar kecilnya biaya produksi dan biaya
investasi lainnya.
Menentukan letak/lokasi usaha bisa disebabkan alasan historis, misalnya
perusahaan batik, daerah yang sudah terkenal Solo dan Pekalongan yaitu
sejak dahulu secara turun temurun nenek moyang kita membuat batik di
daerah ini. Begitu pula penentuan lokasi berdasarkan alam, misalnya untuk
Perusahaan budidaya pertanian sayur-sayuran (cabai), seperti daerah
Cipanas, Lembang, dan Pengalengan untuk Jawa Barat , daerah Sumatra
Utara Brastagi, dan daerah Jawa Tengah Dieng dan Jawa Timur Gunung
Bromo secara turun temurun nenek moyang kita membudidayakan komoditas
ini.

b. Bahan Mentah.
Adanya sentra-sentra pruduksi seperti ini, dimana lingkungan yang selalu
menyedikan bahan mentah/baku tidak menjadikan faktor penghambat bagi
produsen dalam memproduksi barang, implikasi lebih jauh tidak mengakibatkan
biaya produksi menjadi mahal/besar. Sehingga produsen dapat bersaing
secara sehat dan dapat menekan harga jual, dan konsumen dapat memperoleh
produk yang berkualitas dengan harga yang wajar. Oleh karena faktor
lingkungan yang strategis, kedekatan dengan sumber bahan baku/mentah
merupakan faktor yang harus dipertimbangkan sebaik-baiknya.

c. Tenaga Kerja.
Kita tidak bisa mengingkari bahwa tersedianya tenaga kerja baik terdidik ( skill)
dan tenaga kerja tidak terdidik ( non skill) yang cukup sangat mendukung

8
lancarnya proses produksi, faktor ketersediaan tenaga kerja tidak kalah
pentingnya dengan penentuan lokasi perusahaan/usaha pertanian. Sebab
usaha dibidang pertanian adalah bersifat padat karya, artinya menggunakan
tenaga kerja dalam jumlah yang besar. Sedangkan kompetensi yang
dibutuhkan relatif tidak menjadikan pertimbangan yang khusus, rata-rata yang
dipekerjakan pada sektor budidaya pertanian tergolong masih rendah ( non
skill).
Oleh karena itu lokasi perusahaan mencoba mendekati sentra-sentra produksi
seperti tersebut diatas, faktor biaya tenaga kerja menjadi efektif dan efesien,
karena perusahaan tidak perlu menyediakan infra struktur seperti perumahan,
dan menyedikan alat transportasi, hal ini juga berdampak terhadap penetapan
harga produksi.

d. Modal atau Pembiayaan


Modal atau dana dalam suatu kegiatan usaha/perusahaan merupakan alat
pembayaran yang harus dimiliki setiap saat untuk menunjang kelangsungan
hidupnya. Tersedianya modal yang cukup sangat menentukan keberhasilan
usaha, dan merupakan salah satu syarat untuk dapat dilaksanakannya
kegiatan usaha sehari-hari. Dikatakan sebagai salah satu syarat karena
disamping modal/dana banyak faktor lain yang juga ikut menentukan seperti,
Sumber daya manusia dan kompetensinya, bahan baku, bahan penolong,
peralatan, dan teknologi. Kesemua faktor tersebut harus dapat saling
menunjang dan melengkapi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Kurangnya modal / dana dapat berpengaruh terhadap kemampuan usaha /
perusahaan untuk membiayai kegiatan produksi, karenanya ketersediaan
modal yang cukup perlu mendapat perhatian. Pengertian kecukupan modal
dalam arti tidak berlebihan dan tidak pula sangat kekurangan, disesuaikan
dengan ukuran usaha, bidang usaha, dan perputaran modal usaha. Bila
usaha/perusahaan memiliki modal / dana berlebihan dari seharusnya, akan
menimbulkan berbagai akibat negatif seperti, dalam jangka panjang akan
merugikan perusahaan karena tidak terkendalinya investasi, dan akan

9
cenderung terjadi pemborosan lebih lagi bila modal/dana tersebut berasal dari
pinjaman yang memiliki beban bunga tetap yang harus dibayar selama periode
pinjaman.
Sering orang mengumpamakan modal / dana seperti darah yang beredar
dalam tubuh manusia, yang berperan penting dalam menentukan tenaga dan
kemampuan bahkan kelangsungan hidup seseorang. Hal ini sangat beralasan
karena setiap tindakan perusahaan sehari-hari ditentukan oleh modal / dana
yang dimiliki. Karena itu modal / dana memerlukan pengelolaan yang sebaik
mungkin. Pada dasarnya ada beberapa hal utama yang perlu diperhatikan oleh
pengelola modal / dana perusahaan yaitu :

e. Modal atau Pembiayaan


1) Sumber Modal / Dana
Berapa sesungguhnya dana yang dibutuhkan oleh perusahaan, dan dari
mana kebutuhan dana tersebut dapat dipenuhi? Hal ini sangat erat
kaitannya dengan jumlah dana yang dibutuhkan jangan berlebihan dan
sebaliknya.
Apabila ditinjau dari sumbernya, maka modal / dana dapat digolongkan
menjadi dua sumber adalah :
(1) Sumber dana Intern (di dalam perusahaan)
Untuk menjelaskan pengertian Sumber Dana Intern sebaiknya dipahami
terlebih dahulu bahwa dalam manajemen keuangan dikenal istilah
Pembelanjaan dari dalam perusahaan artinya seluruh dana yang
digunakan untuk memenuhi kebutuhan berasal dari dalam perusahaan.
Sumber dana intern yang utama berasal dari :
Pemilik perusahaan
Keuntungan dari operasional usaha
Akumulasi dari penyusutan aktiva tetap
(2) Sumber Dana Extern (di Luar Perusahaan)
Pembelanjaan dari luar perusahaan, pembelanjaan yang menggunakan
dana bukan berasal dari kegiatan perusahaan, melainkan diambilkan dari

10
pihak luar perusahaan. Yang dimaksud pihak luar semua sumber dana
untuk kegiatan operasional usaha berasal dari :
Pinjaman dari Bank
Investasi dari para kreditur
Saham

2) Pengelolaan dan Penggunaan


seorang maneger perusahaan berkewajiban untuk menghitung dengan
seksama untung dan rugi penggunaan dana untuk suatu keperluan.
Kesalahan dalam mengambil keputusan akan berdampak negatif ( rugi )
terhadap keuangan perusahaan.
Salah satu alat teknis yang penting dalam perencanaan dan pengelolaan
dana, apa yang disebut Budget Kas / Cash Flow, alat analisis ini
memberikan informasi disamping memperhatikan tingkat likuiditas juga
solvabilitas dari suatu usaha / perusahaan, serta kapan perusahaan
mengalami defisit dan surplus dana, sehingga kebutuhan dana dapat
terkontrol / diawasi setiap waktu.

Contoh, Format Budget Kas / Cash Flow


No Perkiraan Januari Februari Maret
I Saldo Kasa Awal X
II Penerimaan Kas
Hasil Penjualan X
Pembayaran Piutang X
Pinjaman Bank X
Penerimaan Lain-lain X
Total Penerimaan XX
III Pengeluaran Kas
Pembelian Lahan X
Pembayaran Gaji X
Biaya Umum X
Biaya Penjualan X
Pembayaran Bunga X
Biaya lain-lain X
Total Pengeluaran XX
IV Surplus / Defisit Kas XXX

11
3) Pengendalian Dana / Modal
setiap usaha / perusahaan yang bergerak dalam proses produksi sudah
dapat dipastikan akan mengoptimalkan faktor-faktor produksi yang dimiliki
secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan. Dalam penggunaan
faktor-faktor produksi tentunya menimbulkan apa yang disebut dengan
biaya produksi. Dalam hubungan dengan pengertian biaya produksi, maka
biaya produksi dapat dibedakan menjadi tiga yaitu :

(1) Biaya Tetap


Biaya tetap adalah jenis biaya yang besar kecilnya tidak terpengaruh oleh
perubahan jumlah barang yang diproduksikan. Biaya tetap ini secara total
tetap , tidak terpengaruh oleh besarnya volume produksi, tetapi secara per
satuan berubah. Tentunya dalam batas range tertentu, misalnya bila
dikaitkan dengan produk antara 1000 unit - 10.000 unit, atau satuan luas
tertentu bila dihubungkan dengan pertanian budidaya.
Biaya yang umumnya termasuk Biaya Tetap ( Fixed Cost) antara lain :
Gaji pegawai
Biaya pemeliharaan fasilitas
Biaya penyusutan
Biaya Bunga
Biaya Sewa

(2) Biaya Variabel


Biaya Variabel adalah, jenis biaya yang besar kecilnya terpengaruh oleh
perubahan jumlah barang yang diproduksikan. Biaya variabel ini secara
total berubah tergantung pada besarnya volume produksi, tetapi secara per
satuannya tetap. Biaya yang umumnya termasuk Biaya Variabel ( Variabel
Cost) antara lain :
Biaya bahan baku
Biaya tenaga kerja langsung
Biaya bahan penolong lainnya.

12
(3) Biaya Semi Variabel
Biaya Semi Variabel ini jenis-jenis biaya yang memiliki unsur variabel dan
tetap. Biaya yang umumnya termasuk katagori ini adalah :
Biaya kebutuhan kantor seperti alat tulis
Biaya tenaga kerja tidak langsung seperti gaji pengawas
Biaya listrik atau tenaga lainnya
Biaya air dan Gas
Biaya telepon dll
Dengan menyimak komponen biaya dalam memproduksi suatu produk,
maka dapat dilakukan analisis perkiraan dan gambaran pendapatan yang
digunakan untuk menentukan dalam jumlah berapa perusahaan akan
berproduksi. Dengan demikian kita dapat mengendalikan biaya produksi
secara efektif dan efisien.
Salah satu alat teknis yang dapat mempelajari hubungan antara biaya tetap,
biaya variabel, dan semi variabel serta keuntungan dan vulume kegiatan
antara lain Analisis yang dapat digunakan yaitu Break even point .
Analisa ini memberikan informasi usaha / perusahaan tidak memperoleh
keuntungan dan juga tidak menderita kerugian.

4) Formulasi Break Even Point


Atas dasar produk Atas dasar penjualan dalam rupiah

FC FC
BEP BEP
P V 1
VC
P

FC = Biaya tetap
P = Harga jual per unit FC = Biaya tetap
VC = Biaya variabel per unit VC = Biaya Variabel
P = Penjualan

13
Contoh kasus:
Diketahui biaya variable sebesar = Rp 40; biaya tetap sebesar = Rp 300;
Harga jual per unit = Rp 100. Ditanyakan berapa jumlah yang harus
diproduksi / dijual agar perusahaan tidak mengalami kerugian dan
sebaliknya.
Untuk menyelesaikan kasus tersebut langsung kita masukkan dalam rumus

Rp 300.000 ;
BEP = = 5000 unit
Rp 100 - Rp 40
Jika digambarkan dengan grafik sebagai berikut :

5) Analsis NPV
NPV adalah suatu cara penilaian investasi yang praktis untuk mengetahui
apakah pekerjaan layak atau tidak untuk dikerjakan. NPV adalah selisih
antara Present Value dari arus Benefit dikurangi Present Value dari arus
biaya (Soekartawi, 1996). Pekerjaan akan memberikan keuntungan apabila
memiliki nilai positif, atau NPV > 0 artinya manfaat yang diterima lebih

14
besar dari semua biaya total yang dikeluarkan. Jika NPV = 0, berarti
manfaat yang diperoleh hanya cukup untuk menutupi biaya total yang
dikeluarkan. NPV < 0, berarti rugi, biaya total yang dikeluarkan lebih besar
dari manfaat yang diperoleh. Secara matematis NPV dirumuskan sebagai
berikut :

n
Bt Ct
NPV
t 1 1 i t
Bt = Benefit pada tahun ke-t
Ct = Biaya pada tahun ke-t
t = lamanya waktu investasi
i = tingkat bunga

6) PBP/Payback Period
Suatu metode memperhitungkan tingkat pengembalian investasi, diartikan
jangka waktu pengembalian investasi yang dikeluarkan melalui keuntungan
yang diperoleh dari suatu kegiatan. Menghitung Payback Period tidak perlu
memperhitungkan tingkat bunga dan Present Value. Semakin cepat tingkat
pengembalian investasi maka pekerjaan layak untuk diusahakan dan
sebaliknya semakin lambat investasi yang digunakan itu dikembalikan maka
pekerjaan tidak layak untuk diusahakan
n n

I i Bicp1
PBP T p 1
i 1 i 1
BP

PBP = Payback Period


Tp-1 = Jumlah benefit yang telah di-discount
Bicp-1= Jumlah benefit yang telah di-discount sebelum Payback Period
Bp = Jumlah benefit pada Payback Period berada

15
7) Analsis R/C Ratio
Analisis R/C rasio adalah, menunjukkan perbandingan antara total
penerimaan dengan total pengeluaran (Soekartawi, 2005). Pendapatan
tergantung pada dua faktor utama : harga jual dan biaya usaha.
Adapun rumus R/C rasio adalah sebagai berikut :

Dimana TR adalah Total penerimaan, TC adalah total biaya, NT adalah


biaya tetap, NTT adalah biaya tidak tetap. Total penerimaan kegiatan usaha
yang diperoleh dari total produksi fisik dikalikan dengan harga produksi.
Hasil R/C rasio yang didapatkan ada 3 kemungkinan, yaitu :
1) Jika R/C rasio > 1, maka kegiatan usaha tani adalah menguntungkan.
2) Jika R/C rasio = 1, maka kegiatan usaha tani adalah impas.
3) Jika R/C rasio < 1, maka kegiatan usaha tani adalah rugi (Soekartawi,
2005 dalam Amik Krismawati dan Andy Bhermana, 2005).
4) Contoh Neraca Usaha / Perusahaan
Periode :
No Perkiraan Jumlah No Perkiraan Jumlah
I Aset Lancar V Hutang Lancar
Kas umum X Hutang Dagang X
Bank X Hutang Pegawai X
Kas kecil X Hutang dll X
II Piutang Total Hutang Lancar XX
Piutang lain-lain X VI Hutang Jk Panjang
III Persediaan Macam-macam Hutang Jk Panjang X
Persediaan lain-lain X Total Hutang XX
Total Aset Lancar XX VII Moadal/Ekuitas
IV Aktiva Tetap Modal X
Ak Tetap berujud X Laba Ditahan X
Ak Tdk Berujud X Total Modal XX
Total Aset Tetap XX
Total Aktiva

16
Contoh Laporan Pendapatan
Periode :
Penjualan
Penjualan produk utama Rp x
Penjualan produk sampingan Rp x
Penjualan produk lain-lain Rp x +

Total Pendapatan Rp

Beban Biaya
Biaya produk utama Rp x
Biaya produk pembantu Rp x
Biaya umum Rp x
Biaya gaji Rp x
Biaya lain-lain Rp x +

Total Biaya Produksi Rp


Pendapatan Bersih sebelum pajak Rp x
Pajak penghasilan Rp

Pendapatan bersih sesudah pajak Rp

17
BAB III
PEMASARAN HASIL PRODUKSI

Indikator Keberhasilan :
Peserta Mampu melakukan pemasaran hasil produksi

A. Fungsi Pemasaran
a. Fungsi Pemasaran
Pemasaran merupakan salah satu kegiatan sangat penting harus dilakukan para
pengusaha untuk mempertahankan kelangsungan hidup usaha / perusahaannya.
Berhasil tidaknya mencapai tujuan tersebut sangat tergantung pada keahlian
mereka dibidang pemasaran. Pemasaran secara umum dapat dilihat dari dua
asfek yaitu, arti sempit dan arti luas.

Dalam arti sempit adalah, Pasar tempat / daerah bertemunya antara penjual
dan pembeli, atau tempat terjadinya penawaran dan permintaan dalam
menentukan harga. Dalam arti luas pemasaran adalah sebagai suatu sistem
dari kegiatan-kegiatan yang saling berhubungan, mulai dari merencanakan,
menentukan harga, mempromosikan, mendistribusikan barang dan jasa kepada
konsumen.

b. Berbagai ahli memberikan pengertian pemasaran adalah:


Pemasaran meliputi segala kegiatan mendistribusian barang dan jasa dari
tangan produsen ke tangan konsumen. (P.H. Nystrom).

Pemasaran meliputi keseluruhan system yang berhubungan dengan kegiatan-


kegiatan usaha yang bertujuan merencanakan, menentukan harga hingga
mempromosikan dan mendistribusikan barang dan jasa yang akan memuaskan
kebutuhan pembeli baik yang aktual maupun yang potensial. (Ny. Stanton).

18
Pemasaran adalah pelaksanaan kegiatan usaha niaga yang diarahkan pada arus
aliran barang dan jasa dari produsen ke konsumen. (American Marketing
Association).

Dari definisi yang dikemukakan diatas dapat dilihat terdapat kesamaan


pengertian tentang pemasaran, yaitu sebagai kegiatan penyaluran produk
(barang dan jasa) dari produsen ke konsumen.

Ditinjau dari segi ekonomi, pemasaran merupakan kegiatan yang produktif


karena menghasilkan pembentukan kegunaan (Utility) yang mencakup kegunaan
tempat (place utility), waktu (time utility), bentuk (form utility) dan kegunaan hak
milik (own utility), sehingga mempertinggi nilai guna atau manfaat ekonomi dari
suatu barang yang dimiliki oleh seorang konsumen.

Faktor-faktor Factor-faktor Sumber-sumber


lingkungan makro lingkungan mikro non marketing
dalam perusahaan
Demografi Penyedia
Produksi
Kondisi Keuangan
perekonomian Personalia
Perantara Lokasi
Sosbud R&d
Pandangan
Marketing masyarakat
Politik dan
Perencanaan
hukum
Harga
Teknologi
System
Persaingan
distribusi
Keg. Promosi

Perantara

Pasar

19
B. Lingkup Pemasaran
Proses perpindahan barang dan jasa dari tangan produsen ke tangan konsumen
tidak sederhana. Jangkauan pemasaran sangat luas. Berbagai tahap kegiatan
harus dilalui oleh barang dan jasa sebelum sampai ketangan konsumen. Ruang
lingkup yang luas ini dapat disederhanakan menjadi empat kegiatan utama yang
sering disebut 4 P dalam pemasaran.

a. Unsur-unsur 4 P tersebut adalah:


Product (Produk), menyangkut pemilihan barang atau jasa yang akan
ditawarkan secara tepat.
Price (harga), menyangkut penetapan harga jual barang/barang produk
sesuai dengan kualitas barang dan dapat dijangkau konsumen.
Place (tempat), menyangkut pemilihan cara penyampaian barang/jasa
sehingga sampai ke konsumen.
Promotion (Promisi), menyangkut pemilihan kebijakan promosi (advertensi =
iklan), yang tepat sesuai dengan barang jasa yang ditawarkan.

ANALISIS KESEMPATAN PASAR

PERENCANAAN
TUJUAN STRATEGI RENCANA

PENGAWASAN
PENGUKURAN PELAKSANAAN

20
C. Fungsi-fungsi Pemasaran
Untuk melancarkan arus pemindahan barang dari produsen ke konsumen
diperlukan proses pemasaran yang disebut : fungsi pemasaran.

a. Fungsi Pemasaran
Fungsi pemasaran dikelompokan menjadi 2 yakni : Fungsi Permintaan dan
Fungsi Penawaran

1) Fungsi Permintaan ( Demand )

Suatu kurva yang menggambarkan prilaku konsumen dan produsen dalam


pasar persaingan sempurna. Jika barang yang diminta oleh konsumen jumlah
yang sedikit (menurun), maka harga produk yang ditawarkan oleh produsen juga
akan mengalami penurunan.

DEMAND
HARGA

QUANTITY

Kurva Permintaan produk

2) Fungsi penawaran ( Suply )

Suatu kurva yang menggambarkan prilaku konsumen dan produsen dalam


pasar persaingan sempurna. Jika barang yang diminta oleh konsumen naik,
maka harga produk yang ditawarkan produsen juga akan ikut dinaikan.

21
SUPLY

HARGA

QUANTITY
Kurva penawaran produk

Fungsi lain yang masih berhubungan dengan fungsi pemasaran adalah,


mempertahankan kualitas produk sebelum sampai ketangan konsumen, dalam
mempertahankan kualitas produk tetap prima maka perlu ada penanganan
terhadap fisik produk itu sendiri antara lain : Fungsi Fisik , dan fungsi Fasilitas

b. Fungsi Fisik
Suatu kurva yang menggambarkan prilaku konsumen dan produsen dalam
pasar persaingan sempurna. Jika barang yang diminta oleh konsumen naik,
maka harga produk yang ditawarkan produsen juga akan ikut dinaikan.

SUPLY
HARGA

QUANTITY
Kurva penawaran produk

22
Fungsi lain yang masih berhubungan dengan fungsi pemasaran adalah,
mempertahankan kualitas produk sebelum sampai ketangan konsumen, dalam
mempertahankan kualitas produk tetap prima maka perlu ada penanganan
terhadap fisik produk itu sendiri antara lain : Fungsi Fisik , dan fungsi Fasilitas.

3) Fungsi Fisik

Semua tindakan atau perilaku terhadap barang sehingga memperoleh kegunaan


tempat dan kegunaan waktu disebut fungsi-fungsi fisik yang meliputi:

(1) Fungsi Penyimpanan

Fungsi ini diperlukan untuk menyimpan barang selama waktu barang belum
terjual. Kadang-kadang sebelum barang terjual perlu pengelolaan terhadap
barang tersebut. Khususnya untuk hasil pertanian, fungsi ini mendatangkan
kegunaan waktu dalam hubungan dengan memperkecil resiko terjadinya
kerusakan produk.

(2) Fungsi pengangkutan/Transpotasi

Fungsi pengangkutan menghasilkan kegunaan tempat dalam


memindahkan barang dari produsen ketempat konsumen tanpa mengurangi
kualitas produk.

23
c. Fungsi Fasilitas
Semua tindakan atau perlakuan yang menunjang kelancaran pelaksanaan
fungsi pertukaran/penjualan adalah :

1) Fungsi standarisasi dan grading

Yang dimaksud dengan grading ialah kegiatan yang mengklasifikasikan


produk kedalam beberapa golongan, perbedaan dapat ditentukan oleh
bentuk , ukuran, rasa, tingkat kematangan dan spesifikasi lainnya.

Sedangkan pengertian standarisasi adalah penentuan ukuran atau


patokan mutu tertentu, misalnya warna, rupa, air, rasa, dll. Standar ini
menunjukkan keseragaman barang diberbagai tempat / penjual. Dengan
standarisasi dan grading yang baik, maka pemasaran akan dapat berjalan
lebih lancar dan produsen serta konsumen masing-masing terlindung dari
paktek-praktek yang kurang jujur dalam pemasaran.

24
2) Fungsi Penanggungan Resiko

Produsen atau lembaga pemasaran akan menanggung resiko


kemungkinan terjadinya kerusakan atau kehilangan atau yang
berhubungan dengan kerugian selama barang itu dalam proses
pemasaran, karena pangangkutan, penyimpanan, dan kehilangan dll.

Untuk mengurangi beban resiko ini produsen atau lembaga pemasaran


dapat berhubungan dengan lembaga asuransi yang akan
menanggungnya.

Ada dua macam resiko:

Resiko fisik, susut, kehilangan, kebakaran, dll


Resiko ekonomis, yang ditimbulkan oleh karena pengaruh harga dan
situasi moneter.

3) Fungsi dan Peran Informasi Pasar

Fungsi informasi pasar dapat mengarahkan aktifitas produksi, kapan, apa


dan kemana hasil produksi itu disalurkan, dan juga dapat menentukan
tindakan ekonomi ( perencanaan ) dalam jangka pendek dan jangka
panjang.

Peranan informasi pasar adalah, gambaran perkiraan permintaan dan


penawaran mendatang. Informasi yang valid umumnya dapat
menggunakan imformasi harga lima tahun yang lalu yang
menggambarkan jumlah permintaan dan penawaran yang terjadi
dibeberapa sentra pasar.
Informasi pasar dapat diperoleh dari institusi pemerintah atau lembaga
privat yang mempunyai tugas melakukan pencatatan terhadap
perkembangan harga dan permintaan untuk satu atau beberapa
komoditas pertanian, disamping digunakan untuk memantau
perkembangan harga dan permintaan juga dapat digunakan untuk
mengambil kebijakan-kebijakan tertentu oleh pemerintah. Institusi atau

25
lembaga tersebut seperti Badan Pusat Statistik atau Pasar Induk Jakarta
atau Lembaga konsumen.

D. Rangkuman
Dalam arti sempit adalah, Pasar tempat / daerah bertemunya antara penjual dan
pembeli, atau tempat terjadinya penawaran dan permintaan dalam menentukan harga.
Dalam arti luas pemasaran adalah sebagai suatu sistem dari kegiatan-kegiatan yang
saling berhubungan, mulai dari merencanakan, menentukan harga, mempromosikan,
mendistribusikan barang dan jasa kepada konsumen.
Ditinjau dari segi ekonomi, pemasaran merupakan kegiatan yang produktif karena
menghasilkan pembentukan kegunaan (Utility) yang mencakup kegunaan tempat (place
utility), waktu (time utility), bentuk (form utility) dan kegunaan hak milik (own utility),
sehingga mempertinggi nilai guna atau manfaat ekonomi dari suatu barang yang dimiliki
oleh seorang konsumen.

E. Evaluasi
1. Pilih salah satu fungsi pembiayaan
a. Pembiayaan
b. Perencanaan
c. Perhitungan

26
d. Penjualan
e. Peminjaman
2. Pilih salah satu faktor produksi
a. Bahan Mentah
b. Barang jadi
c. Pengawasan
d. Sosial ekonomi
e. Permintaan
3. Apa guna mempelajari pentingnya BEP
a. Menentukan titik impas
b. Menentukan produk jadi
c. Menentukan biaya produksi
d. Menentukan pemasaran
e. Menentukan modal
4. Tentukan mana yang termasuk biaya tetap
a. Biaya bahan baku
b. Biaya tenaga kerja langsung
c. Biaya penyusutan fasilitas
d. Biaya telepon
e. Biaya asuransi

BAB IV
PENUTUP

27
A. Kesimpulan
Setelah mempelajari materi manajemen produksi diharapkan peserta diklat mampu
melakukan persiapan dan perhitungan dalam melaksanakan proses budidaya yang
akan dikelola. Kemampuan dalam memanajerial akan membantu untuk
menentukan biaya-biaya yang akan dikeluarkan dan bagaimana untuk dapat
menghasilkan, sehingga dalam melakukan budidaya akan mendapatkan
keuntungan yang optimal dengan pengeluaran yang sangat minim.
Semua aspek yang ada dalam bahan ajar ini merupakan aspek yang harus
diperhatikan agar tidaka ada kendala dalam melakukan proses budidaya tersebut.

B. Inflikasi
Demi tercapainya tujuan pembelajaran maka, harus ada media pembelajaran.
Media pembelajaran tersebut dapat diberikan dalam berbagai bentuk, diantaranya
adalah bahan ajar, maka bahan ajar ini diharapkan bisa menjadi sebuah bagian dari
proses pembelajaran agar mampu melaksanakan semua indikator-indikator yang
telah digariskan ini, sehingga peserta dapat memahami dan dapat
melaksanakannnya untuk dikembangkan, baik untuk lingkungan sekolah maupun
lapisan masyarakat yang membutuhkan.
Harapannya, bahwa dengan bahan ajar ini dapat dijadikan sebagai pegangan untuk
melakukan pengembangan-pengembangan dalam bidang manajemen produksi
tanaman.

C. Tindak Lanjut
Sebagai tindak lanjut dari kegiatan pembelajaran Manajemen produksi ini, peserta
diklat diwajibkan untuk melaksanakan kegiatan di rumah agar menjadi lebih terbiasa
dan dapat mengambil dari kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan apabila
mengalami kegagalan.
DAFTAR PUSTAKA

28
Setyati, S. Dasar-Dasar Hortikultura, Departemen Budi Daya Pertanian Fakultas
Pertanian !PB Bogor
Duriat, A.S., S. Sastrosiswojo. 1994. Pengendalian Hama Penyakit Terpadu pada
Agribisnis Cabai. Makalah pada seminar Agribisnis Cabai. Kerjasama Agri-
Business Club dan Puslitbanghort Pasarminggu.Jakarta

Suwandi., Sumarni, N dan Farid, A.B. 1994. Teknologi Budidaya, Panen dan
Penanganan Hasil Panen serta Analisis Ekonomi Usahatani cabai,.
Makalah pada seminar Agribisnis Cabai. Kerjasama Agri- Business Club dan
Puslitbanghort
Pasarminggu.Jakarta

29
BIODATA

Enang Hadaitna dilahirkan di Cianjur tanggal 21 Pebruari 1968,


Lulus Sekolah Dasar di SD Kademangan tahun 1982, lulus SMP
pada tahun 1985 di SMP Mande 1, melanjutkan ke sekolah
pertanian (SPP-SPMA) dan Lulus pada tahun 1988. Pada tahun
1990 diangkat menjadi PNS di lingkungan PPPG Pertanian
(sekarang PPPPTK Pertanian Cianjur)sampai sekarang.
Penulis pernah magang pertanian di Jepang selama setahun, tepatnya di Kannami
Cho, Shizuoka pada tahun 1997-1998. Pada tahun 2005 Penulis lulus S1 di
Universitas Winaya Mukti.
Pengalaman menulis selain modul modul pertanian di PPPPTK Pertanian Cianjur juga
telah menulis buku dengan judul Mari bertanam terung Jepang yang diterbitkan oleh
Penerbit PT. Sinergi Bandung tahun 2007.

30