Anda di halaman 1dari 14

TUGAS REKAYASA TAMBAK

PASANG SURUT

OLEH :

ILHAM AKBAR
1407122941

KELAS PILIHAN

PRODI TEKNIK SIPIL S1

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS RIAU

2017
1. Dasar Analisa Pasang Surut

Variasi muka air menimbulkan arus yang disebut dengan arus pasang
surut, yang mengangkut massa air dalam jumlah sangat besar. Arus pasang terjadi
pada waktu periode pasang dan arus surut terjadi pada periode air surut. Titik
balik (slack) adalah saat dimana arus berbalik antara arus pasang dan arus surut.
Titik balik ini bisa terjadi pada saat muka air tertinggi dan muka air terendah.
Pada saat tersebut kecepatan arus adalah nol. Periode pasang surut adalah waktu
antara puncak atau lembah gelombang ke puncak atau lembah gelombang
berikutnya. Harga periode pasang surut bervariasi antara 12 jam 25 menit hingga
24 jam 50 menit.

Pasang purnama (spring tide) terjadi ketika bumi, bulan dan matahari berada
dalam suatu garis lurus. Pada saat itu akan dihasilkan pasang tinggi yang sangat
tinggi dan pasang rendah yang sangat rendah. Pasang surut purnama ini terjadi
pada saat bulan baru dan bulan purnama.

Pasang perbani (neap tide) terjadi ketika bumi, bulan dan matahari membentuk
sudut tegak lurus. Pada saat itu akan dihasilkan pasang tinggi yang rendah dan
pasang rendah yang tinggi. Pasang surut perbani ini terjadi pasa saat bulan 1/4 dan
3/4

Bentuk pasang surut di berbagai daerah tidak sama. Di suatu daerah dalam
satu hari dapat terjadi satu kali pasang surut. Secara umum pasang surut di
berbagai daerah dapat dibedakan empat tipe, yaitu pasang surut harian tunggal
(diurnal tide), harian ganda (semidiurnal tide) dan dua jenis campuran.

1. Pasang surut harian ganda (semi diurnal tide)

Dalam satu hari terjadi dua kali air pasang dan dua kali air
surut dengan tinggi yang hampir sama dan pasang surut terjadi
secara berurutan secara teratur. Tipe pasang surut rata-rata adalah
12 jam 24 menit. Pasang surut jenis ini terdapat di selat Malaka
sampai laut Andaman.
2. Pasang surut harian tunggal (diurnal tide)

Dalam satu hari terjadi satu kali air pasang dan satu kali air
surut dengan periode pasang surut adalah 24 jam 50 menit. Pasang
surut tipe ini terjadi di perairan selat Karimata.

3. Pasang surut campuran condong ke harian ganda (mixed tide


prevelailing semidiurnal tide)

Dalam satu hari terjadi dua kali air pasang dan dua kali air
surut, tetapi tinggi dan dan periodenya berbeda. Pasang surut jenis
ini banyak terdapat di perairan Indonesia Timur.

4. Pasang surut campuran condong ke harian tunggal (mixed tide


prevelailing diurnal tide)

Pada tipe ini, dalam satu hari terjadi satu kali air pasang dan
satu kali air surut, tetapi kadang-kadang untuk sementara waktu
terjadi dua kali pasang dan dua kali surut dengan tinggi dan
periode yang sangat berbeda. Pasang surut jenis ini terdapat selat
Kalimantan dan pantai utara Jawa Barat..

Mengingat elevasi di laut selalu berubah satiap saat, maka diperlukan


suatu elevasi yang ditetapkan berdasar data pasang surut, yang dapat digunakan
sebagai pedoman dalam perencanaan pelabuhan. Beberapa elevasi tersebut adalah
sebagai berikut :

1. Muka air tinggi (high water level), muka air tertinggi yang dicapai
pada saat air pasang dalam satu siklus pasang surut.
2. Muka air rendah (low water level), kedudukan air terendah yang
dicapai pada saat air surut dalam satu siklus pasang surut.
3. Muka air tinggi rerata (mean high water level, MHWL), adalah
rerata dari muka air tinggi selama periode 19 tahun.
4. Muka air rendah rerata (mean low water level, MLWL), adalah
rerata dari muka air rendah selama periode 19 tahun.
5. Muka air laut rerata (mean sea level, MSL), adalah muka air rerata
antara muka air tinggi rerata dan muka air rendah rerata. Elevasi
ini digunakan sebagai referansi untuk elevasi di daratan.
6. Muka air tinggi tertinggi (highest high water level, HHWL),
adalah air tertinggi pada saat pasang surut purnama atau bulan
mati.
7. Muka air rendah terendah (lowest low water level, LLWL), adalah
air terendah pada saat pasang surut purnama atau bulan mati.
8. Higher high water level, adalah air tertinggi dari dua air tinggi
dalam satu hari, seperti dalam pasang surut tipe campuran.
9. Lower low water level, adalah air terendah dari dua air rendah
dalam satu hari.

Pada umumnya sifat pasang surut di perairan ditentukan dengan


menggunakan rumus Formzahl, yang berbentuk :

F = K1+O1 / M2+S2 ..

dimana nilai Formzahl:

F=0.00 0.25; pasut bertipe ganda (semi diurnal)

F= 0.26 1.50 ; pasut bertipe campuran dengan tipe ganda yang menonjol

(mixed,mainly semi diurnal)

F= 1.51 3.00 ; pasut bertipe campuran dengan tipe tunggal yang


menonjol

(mixed,mainlydiurnal)

F>3.00; pasut bertipe(diurnal)

O1 = unsur pasut tunggal utama yang disebabkan oleh gaya tarik bulan

K1 = unsur pasut tunggal yang disebabkan oleh gaya tarik matahari

M2 = unsur pasut ganda utama yang disebabkan oleh gaya tarik bulan
S2 = unsur pasut ganda utama yang disebabkan oleh gaya tarik matahari

Metode yang digunakan adalah metode Admiralty untuk mendapatkan konstanta


harmonik pada melalui persamaan pasang surut :

dimana :

A(t) = Amplitudo

So = Tinggi muka air laut rata-rata (MSL)

An = Amplitudo komponen harmonis pasang surut.

Gn = Phase komponen pasang surut

n = konstanta yang diperoleh dari hasil perhitungan astronomis

t= waktu

Penentuan tinggi dan rendahnya pasang surut ditentukan dengan rumus-rumus


sebagai berikut :

MSL = Z0 + 1,1 ( M2 + S2 )

DL = MSL Z0 MHWL = Z0 + (M2+S2)

HHWL = Z0+(M2+S2)+(O1+K1)

MLWL = Z0 (M2+S2)

LLWL = Z0-(M2+S2)-(O1+K1) .

HAT = Z0 + Ai

= Z0 + (M2 + S2 + N2 + P1 + O1 + K1)

LAT = Z0 Ai

= Z0 (M2 + S2 + N2 + P1 + O1 + K1)
dimana :

MSL = Muka air laut rerata (mean sea level ), adalah muka air rerata antara muka
air tinggi rerata dan muka air rendah rerata. Elevasi ini digunakan sebagai
referensi untuk elevasi di daratan

MHWL = Muka air tinggi rerata (mean high water level), adalah rerata dari muka
air tinggi selama periode 19 tahun

HHWL = Muka air tinggi tertinggi (highest high water level), adalah air tertinggi
pada saat pasang surut purnama atau bulan mati

MLWL = Muka air rendah rerata (mean low water level), adalah rerata dari muka
air rendah selama periode 19 tahun

LLWL = Air rendah terendah (lowest low water level), adalah air terendah pada
saat pasang surut purnama atau bulan mati

DL = Datum level

HAT = Tinggi pasang surut

LAT = Rendah pasang surut

2. Hubungan Pasang surut terhadap Wilayah Potensi Tambak


Pasang surut merupakan proses naik turunya muka air laut secara
hampir periodik karena gaya tarik benda-benda angkasa, terutama bulan dan
matahari (Nontji, 1987). Lahan pertambakan harus terletak pada daerah
pasang surut dengan ketinggian yang sesuai, sehingga memudahkan dan
ekonomis dalam konstruksi serta pengelolaan air. Arti penting elevasi yang
dihubungkan dengan keadaan pasang surut air laut di lokasi setempat ialah
agar usaha tambak bisa dikelolah secara ekonomis, terutama menyangkut
pekerjaan pengairan, pergantian air tambak, serta pengeringan dasar
menjelang musim tanam (Buwono, 1993).
Menurut Suseno (1984), ketinggian alas seluruh tambak tidak boleh
melebihi tinggi permukaan air pasang tertinggi oleh karena pasokan air laut
hanya dapat dilakukan jika ketinggian lahan tambak dibawah ketinggian
permukaan air pada saat pasang tertinggi. Demikian pula ketinggian lahan
tambak tidak boleh kurang (lebih rendah) daripada tinggi permukaan air surut
terendah oleh karena pada kondisi ini tidak memungkinkan untuk dilakukan
pengurasan meskipun pada saat air laut surut.
Menurut Afrianto dan Liviawaty (1991), fluktuasi pasang surut air
laut yang dianggap memenuhi syarat untuk lahan tambak adalah antara 1 - 3
meter. Apabila suatu daerah memiliki fluktuasi pasang surut lebih dari dari 4
meter, daerah tersebut tidak sesuai untuk lahan tambak. Kondisi ini
memungkinkan sering terjadi banjir dan meluap terutama pada saat terjadi
pasang tertinggi. Selain itu, tambak yang terletak pada lokasi dengan pasang
surut yang besar pada umumnya memiliki tanggul yang tinggi menyulitkan
dalam mempertahankan volume air di dalam tambak agar tetap memadai pada
saat air sedang surut, karena tekanan air terhadap pamatang tambak menjadi
sangat besar dan sering mengakibatkan bobolnya pamatang. Bila fluktuasi
pasang surut di suatu daerah kurang dari satu meter, daerah tersebut juga
kurang baik untuk lahan tambak, sebab daya jangkau air terlalu pendek
sehingga proses pengisian dan pengeringan air tidak dapat dilakukan dengan
baik.
Manfaat pasang surut air laut lainnya adalah untuk mencari ikan.
Ketika air laut sedang mengalami pasang, maka ikan-ikan banyak yang ikut
terbawa hingga sangat dekat dengan pesisir pantai. Dan ketika surut, banyak
pula ikan-ikan yang terdampar di pinggir pantai. Hal inilah yang seringkali
dimanfaatkan oleh para penduduk di pesisir pantai untuk digunakan sebagai
mata pencarian di laut atau di pantai, dengan memanfaatkan pasang surut air
laut, dapat dengan mudah mencari ikan, dan menemukan hewan laut lainnya,
seperti kepiting, udang dan juga lobster.
3. Rawa
A. Pengertian
Rawa adalah lahan genangan air secara ilmiah yang terjadi terus-menerus
atau musiman akibat drainase yang terhambat serta mempunyai ciri-ciri
khusus secara fisika, kimiawi dan biologis / semua macam tanah berlumpur
yang terbuat secara alami, atau buatan manusia dengan mencampurkan air
tawar dan air laut, secara permanen atau sementara, termasuk daerah laut
yang dalam airnya kurang dari 6 m pada saat air surut yakni rawa dan tanah
pasang surut. Rawa merupakan gudang harta ekologis untuk kehidupan
berbagai macam makhluk hidup. Rawa juga disebut "pembersih alamiah",
karena rawa-rawa itu berfungsi untuk mencegah polusi atau pencemaran
lingkungan alam. Dengan alasan itu, rawa memiliki nilai tinggi dalam segi
ekonomi, budaya, lingkungan hidup dan lain-lain, sehingga lingkungan rawa
harus tetap dijaga kelestariannya. Rawa bisa juga merupakan suatu cekungan
yang menampung luapan air disekitarnya.

Manfaat rawa yaitu sebagai tempat pemeliharaan ikan tambak, misalnya


bandeng dan udang atau bisa juga untuk sawah pasang surut. Di rawa-rawa
yang airnya asam, tidak terdapat kehidupan binatang. Berdasarkan sifat
airnya, rawa terbagi atas rawa air payau; rawa air tawar; dan rawa air asin.

Keadaan air di rawa, ada yang tidak mengalami pergantian (tidak


mengalir). Ciri airnya sangat asam, berwarna merah, tidak dapat dijadikan air
minum, tidak ada organisme yang hidup, dan sukar dimanfaatkan. Akan
tetapi banyak juga rawa yang keadaan airnya selalu mengalami pergantian,
misalnya karena pengaruh pasang surut air laut atau karena luapan sungai.

Gambut yang terdapat di rawa untuk masa yang akan datang bisa
dipergunakan untuk bahan bakar karena gambut itu sifatnya mudah terbakar.
Gambut juga berguna untuk bahan isolasi panas dan untuk bahan pupuk. Di
daerah yang mengalami pasang surut, kadang-kadang rawa masih dapat
diusahakan dalam bentuk sawah pasang surut.
B. Klasifikasi Rawa

Berdasarkan pengaruh air pasang surut, khususnya sewaktu pasang


besar(spring tides) di musim hujan, bagian daerah aliran sungai di bagian
bawah (downstream area) dapat dibagi menjadi 3 (tiga) zona. Klasifikasi
zona-zona wilayahrawa ini telah diuraikan oleh Widjaja-Adhi et al. (1992),
dan agak mendetail olehSubagyo (1997).

Ketiga zona wilayah rawa tersebut adalah:


Zona I : Wilayah rawa pasang surut air asin/payau
Zona II : Wilayah rawa pasang surut air tawar
Zona Ill : Wilayah rawa lebak, atau rawa non-pasang surut

Secara umum rawa diklasifikasikan menjadi 2 (dua) macam yaitu :


1. Rawa Pasang Surut adalah rawa yang terletak di pantai atau dekat
pantai, di muara atau dekat muara sungai sehingga dipengaruhi oleh
pasang surut.
2. Rawa Lebak (rawa pedalaman) adalah rawa yang terletak di lahan
yang tidak terkena pengaruh pasang surut.

Berdasarkan hidro-topografi nya, rawa pasang surut dibagi menjadi 4


kategori :
1. Kategori A : Merupakan areal lahan rawa yang dapat terluapi air
pasang, baik di musim hujan maupun di musim kemarau. Lahan
dapat diluapi oleh air pasang paling sedikit 4 atau 5 kali selama 14
hari siklus pasang purnama, baik musim hujan maupun musim
kemarau. Permukaan lahan umumnya masih lebih rendah jika
dibandingkan elevasi air pasang tinggi rata-rata. Umumnya areal ini
terletak di lahan cekungan atau dekat dengan muara sungai. Lahan
ini potensial untuk ditanami dua kali padi sawah setahun, karena ada
jaminan suplai air pada setiap musim.
2. Kategori B : Merupakan areal lahan rawa yang hanya dapat terluapi
air pasang di musim hujan. Permukaan lahan umumnya masih lebih
tinggi dari elevasi air pasang tinggi rata-rata di musim kemarau,
namun masih lebih rendah jika dibandingkan elevasi air pasang
tinggi rata-rata di musim hujan. Lahan dapat diluapi oleh air pasang
paling sedikit 4 atau 5 kali selama 14 hari siklus pasang purnama
hanya pada musim hujan saja. Lahan ini potensial ditanami padi
sawah di musim hujan, sedangkan di musim kemarau ditanami
palawija.
3. Kategori C : Merupakan lahan rawa yang tidak dapat terluapi oleh
air pasang sepanjang waktu (atau hanya kadang-kadang saja).
Permukaan lahan umumnya relatif lebih tinggi jika dibandingkan
kategori A dan B, sehingga air pasang hanya berpengaruh pada
muka air tanah dengan kedalaman kurang dari 50 cm dari
permukaan lahan. Karena lahan tidak dapat terluapi air pasang
secara reguler, akan tetapi air pasang masih mempengaruhi muka air
tanah. Elevasi lahan yang relatip tinggi dapat mengakibatkan
banyaknya kehilangan air lewat rembesan. Lahan ini cocok untuk
sawah tadah hujan/tegalan, dan ditanami padi tadah hujan atau
palawija.
4. Kategori D : Merupakan lahan rawa yang cukup tinggi sehingga
sama sekali tidak dapat terjangkau oleh luapan air pasang (lebih
menyerupai lahan kering). Permukaan air tanah umumnya lebih
dalam dari 50 cm dari permukaan lahan. Variasi kapasitas drainase
tergantung perbedaan antara muka tanah di lahan dan muka air di
sungai terdekat dengan lahan. Lahan cocok diusahakan untuk lahan
kering/tegalan, ditanami padi gogo/palawija dan tanaman keras.

Adapun pembagian rawa lebak berdasarkan hidro-topografi, dibagi


menjadi 4 kategori :
1. Lebak pematang, yaitu rawa lebak dengan genangan relatif agak
dangkal dengan priode waktu genangan pendek;
2. Lebak tengahan, yaitu lahan dengan genangan relatif agak dalam
dengan periode waktu genangan agak lama;
Lebak dalam, yaitu rawa lebak dengan genangan relatif dalam dengan
periode waktu genangan lama atau terus menerus sepanjang tahun.

C. Karakteristik Rawa
a. Lahan rawa yang berada di daratan dan menempati posisi peralihan
antara sungai atau danau dan tanah darat (uplands) :
1. ditemukan di depresi,
2. cekungan-cekungan di bagian terendah pelembahan sungai,
3. di dataran banjirsungai-sungai besar,

b. Lahan rawa yang beradadi wilayah pinggiran danau, tersebar


1. di dataran rendah,
2. dataran berketinggian sedang, dan
3. dataran tinggi.

c. Lahan rawa yangtersebar di dataran berketinggian sedang dan dataran


tinggi,
1. umumnya sempitatau tidak luas, dan
2. terdapat setempat-setempat.

d. Lahan rawa yang terdapat didataran rendah, baik yang menempati


dataran banjirsungai maupun yangmenempati wilayah dataran pantai,
khususnya di sekitar muara sungai-sungaibesar dan pulau-pulau deltanya
adalah yang dominan.

Pada kedua wilayah terakhir ini, karena posisinya bersambungan dengan laut
terbuka, pengaruh pasang surut dari laut sangat dominan. Di bagian muara sungai
dekat laut, pengaruh pasang surut sangat dominan, dan ke arah hulu atau daratan,
pengaruhnya semakin berkurang sejalan dengan semakin jauhnya jarak dari laut.
Karakteristik rawa antara lain :

1. Dilihat dari air rawa adalah airnya asam dan berwarna coklat tampak
kehitam-hitaman.
2. Berdasarkan tempatnya, Rawa-rawa ada yang terdapat di pedalaman
daratan tetapi banyak pula yang terdapat di sekitar pantai.
3. Air rawa disekitar pantai sangat dipengaruhi oleh pasang surutnya air laut
4. Pada saat air luat pasang permukaan rawa tergenang banyak dan saat air
surut daerah ini kering.
5. Rawa di tepi pantai ini banyak ditumbuhi oleh pohon bakau sedangkan
yang ada di daerah pedalaman banyak dtumbuhi palem nipah (Sejenis
palem ).
6. Kadar keasaman airnya tinggi.
7. Airnya tidak dapat di minum.
8. Dasar rawa terdapat tanah gambut.

D. Faktor yang Mempengaruho Karakteristik Rawa


1. Pelapukan (dekomposisi) zat organik
Air yang ada di rawa-rawa biasanya berwarna sehingga tidak layak
dimanfaatkan secara langsung sebelum diolah untuk keperluan
domestik dan industri. Penyebab warnanya adalah pelapukan
(dekomposisi) zat organik seperti daun, kayu, binatang mati dan lain-
lain. Asam humat yang berasal dari dekomposisi lignin inilah penyebab
warna air, selain besi dalam wujud ferric humat. Secara umum dapat
dikatakan, penyebab warna air ialah kation Ca, Mg, Fe, Mn. Oksida
besi ini menyebabkan air berwarna kemerahan, oksida mangan
menyebabkan air berwarna coklat kehitaman.
Berkaitan dengan warna tersebut, jenisnya dapat dibedakan
menjadi dua. Yang pertama disebut warna asli (true color), disebabkan
oleh materi organik berukuran koloid dan terlarut (dissolved solid).
Contohnya air gambut. Dari hasil penelitian diketahui bahwa warna air
gambut di Kalimantan, Sumatra, dan Sulawesi dapat dihilangkan
dengan kombinasi koagulan alum sulfat, besi sulfat (ion trivalent) atau
PAC dengan tanah liat setempat. Yang kedua ialah warna palsu
(apparent color). Jenis ini disebabkan oleh zat tersuspensi dan zat
terendapkan (coarse solid, partikel kasar) dan dapat dihilangkan dengan
proses sentrifugasi, sedimentasi dan filtrasi.

2. Pengendapan sedimen
Pengendapan sedimen membuat wilayah rawa sudah cukup dangkal
sehingga tumbuhan rawa sudah bisa tumbuh.

3. Proses pembusukan
Wilayah yang tergenang air tersebut ditumbuhi berbagai jenis
tumbuhan rawa, pembusukan sisa tanaman dan organisme lainnya
terjadi di tempat tanpa ada sirkulasi air yang berarti. Proses
pembusukan menghasilkan asam (asam humus) sehingga air rawa
memiliki pH yang rendah (bersifat asam), dan berwarna coklat.\

4. Dari keberadaan komponen biotik,


Misalnya tumbuhan ganggang atau hewan.

5. Komponen abiotik
Misalnya jenis tanah atau keasaman air.

6. Cuaca dan iklim


Dilihat dari suhu dan penyinaran matahari.
http://yogatiyas.blogspot.co.id/2015/06/rawa_14.html

https://rahmatriski.com/2009/01/22/analisa-pasang-surut/

http://seputar-dunialaut.blogspot.co.id/2013/12/kesesuaian-lahan-untuk-budidaya-
tambak.html

http://sobatgeo.blogspot.co.id/2017/01/pengertian-rawa-dan-manfaatnya.html

https://syafasiti.wordpress.com/2015/06/12/klasifikasi-lahan-rawa/