Anda di halaman 1dari 17

BAB I

LINGKUNGAN ALAM, MANUSIA DAN BUDAYA PRASEJARAH

A. Alam
1. Awal Kehadiran Manusia
Manusia muncul pertama kali dimuka bumi kira-kira 3 juta tahun yang
lalu, bersamaan dengaan terjadinya berkali-kali pengesan (glasial) dalam
jaman yang disebut kala pleistosen. Kala pleistosen berlangsung kira-kira
antara 3.000.000-10.000 tahun yang lalu. Pada waktu glasial suhu dibumi
menurun dan gletser yang biasanya terdapat di daerah-daerah kutub serta
puncak-puncak gunung api dan pegunungan tinggi meluas, sehingga daerah-
daerah yang berdekatan dengan tempat-tempat tersebut dan tempat-tempat lain
tertentu terjadi penutupan oleh daratan-daratan es. Pada saat pengesan, daerah
tropik yang tidak terkena pelebaran es, keadaannya lembab dan mengalami
saat yang disebut masa pluvial (masa hujan). Masa berlangsungnya pluvial
dan antar pluvial di Asia dan kepulauan Indonesia belum diketahui dengan
jelas, karena penyelidikan-penyelidikan endapan Plestosen didaerah tersebut
belum banyak dilakukan.
Alam menyediakan segala kebutuhan untuk hidup. Untuk menjaga
kelangsungan hidup maka semua makhluk harus makan. Dengan kelebihan
dalam menggunakan inilah manusia kemudian dapat menciptakan berbagai
alat-alat untuk membantu dan mempermudah mencari makanan. Dengan
membuat alat-alat dari batu, kayu dan tulang yang kemudian digunakan untuk
memburu hewan dan mengumpulkan umbi-umbian, buah-buahan, dan daun-
daunan, manusia lebih mudah mendapatkan makanan. Cara hidup yang
demikian ini merupakan salah satu ciri kehidupan manusia kala Plestosen.
2. Keadaan Alam Pada Kala Plestosen Sampai Kini
Berbagai peristiwa alam yang dapat menyebabkan perubahan bentuk
muka bumi antara lain ialah gerakan pengangkatan (orogenesa), gerakan
pengikisan (erosi) dan kegiatan gunung api. Pada kala Plestosen bagian barat
kepulauan Indonesia berhubungan dengan daratan Asia Tenggara sebagai
akibat dari turunnya muka air laut. Sementara itu kepulauan Indonesia bagian
timur berhubungan dengan daratan Australia. Daratan yang menghubungkan
Indonesia bagian barat dengan Asia Tenggara disebut paparan sunda (Sunda
Shelf), dan daratan yang menghubungkan Irian dengan Australia disebut
paparan sahul (Sahul Shelf).
B. Manusia
1. Kedudukan Manusia
Untuk mengetahui keadaan manusia pada berbagai masa dan
evolusinya, kita perlu mengetahui bagaimana dan dimana kedudukan manusia
dalam alam dan hubungannya dengan benda-benda atau makhluk dalam alam
menurut suatu system. Dalam penyusunan bahan tentang manusia purba dan
perkembangannya harus diadakan pilihan antara berbagai teori dan hipotetis
alternatif. Tetapi itu semua belum menjawab secara mutlak persoalan evolusi
manusia, baik didunia maupun di Indonesia. Banyak sekali masalah yang
belum dapat dipecahkan dengan memuaskan, malahan masih banyak data yang
diperlukan. Tidak diragukan bahwa manusia tergolong makhluk hidup didalam
alam. Makhluk hidup sudah ada dibumi sejak kira-kira 600.000.000 tahun
yang lalu. Berbeda dengan benda atau makhluk tak hidup, makhluk hidup itu
melakukan pertukaran zat dan berkembang biak, tubuhnya merupakan
kesatuan, dan bagian bagiannya dapat melakukan gerakan-gerakan dan dapat
meneruskan informasi, serta mempunyai kemampuan untuk bertahan hidup.
2. Evolusi Manusia
Untuk pembicaraan lebih lanjut perlu kiranya diuraikan serba singkat
tentang evolusi. Ciri tubuh makhluk hidup itu ditimbulkan oleh faktor
pewarisan dan lingkungan. Satuan pewarisan yang terkecil adalah gena, yang
terdapat berderet pada kromosom. Kromosom terdapat berpasang-pasangan
dalam inti sel. Manusia sekarang mempunyai 23 pasang kromosom dan pada
sebuah kromosom terdapat beberapa ribu gena. Setiap manusia ditaksir
100.000 gena.
Didalam evolusi manusia kita lihat ada beberapa proses penting yang
terjadi. Pertama-tama adalah sikap tubuh dan cara bergerak. Sikap tegak
adalah hal yang pokok, oleh karena mempunyai rentetan akibat evolusi
manusia selanjutnya. Sikap tegak mulai dengan kemampuan duduk tegak, dan
melalui tahapan berlari tegak, serta berjalan tegak, berakhir dengan berdiri
tegak dengan waktu yang lama. Dalam proses ini terjadilah perubahan-
perubahan pada tulang belakang, berpindahnya titik tulang belakang anggota
bawah untuk menampung berat badan seluruhnya serta bergerak.
Tulang-tulang tungkai makin bertambah kuat untuk menunjang berat
badan. Tulang paha relatif bertambah panjang dan berat, tulang kering
bertambah besar. Jarak kaki mengalami reduksi, oleh karena tidak dipakai lagi
untuk menggenggam. Dari fosil jejak kakinya dapat diketahui bahwa kaki
manusia Neanderthal (homo neanderthalensis) pendek dan lebar.
Perubahan makanan dan cara mengolahnya mempengaruhi alat
pengunyah. Mulut pada Primates tidak merupakan alat penangkap atau
pengambil makanan, makanan dibawa dengan tangan ke mulut, yang bekerja
sebagai alat pengunyah dan sebagai alat pencerna.
Penemuan dan pembuatan api pada Plestosen tengah dan kemajuan
yang dicapai dalam membuat alat-alat batu menimbulkan kemajuan pula
dalam mengolah makanan. Akibatnya ialah pekerjaan mengunyah berkurang,
yang selanjutnya mengakibatkan reduksi alat pengunyah. Gigi pipi mengecil,
demikian pula rahang dan otot-ototnya. Tempat perlekatan otot ini juga tidak
menyolok lagi dan bangunan-bangunan pada tulang yang menampung gaya
kunyah menyusut. Bagian yang tidak menyusut pada rahang bawah tinggal
sebagai dagu. Moncong mundur, sehingga berada tepat vertikal dibawah muka
bagian atas.
Seperti telah dikatakan diatas, evolusi otak sangat menyolok pada
manusia, baik dalam besarnya maupun strukturnya. Dari Australopithecus ke
Pithecantropus isi tengkorak yang mencerminkan isi (volume) otak, melipat
dua dan dari Pithecantropus ke Homo membesar kira-kira satu setengah kali.
Pembesaran otak tentu saja mengubah bentuk tengkorak, ia bertambah tinggi
serta membulat dimuka atas, samping dan belakang.
Dengan demikian sampailah kita pada perkembangan biososial
manusia. Yang terpenting dalam aspek ini ada tiga hal, yaitu pembuatan alat,
organisasi social dan komunikasi dengan bahasa.
C. Budaya
1. Kehidupan Sosial Kala Plestosen
Jenis-jenis manusia purba yang hidup di Indonesia telah meninggalkan jejak
mereka pada Plestosen awal yang umur untuk tingkat atasnya telah ditentukan
di Indonesia 1,9 juta tahun. Dikala Plestosen yang keseluruhannya
berlangsung lebih dari 3 juta tahun, manusia mengalami perkembangan
jsmaniah maupun rohaniah yang sangat lamban. Selama beberapa juta tahun
ini cara hidup berburu dan mengumpulkan makanan diikuti oleh manusia
tanpa banyak mengalami perubahan dan dengan alat-alat sederhana mereka
melangsungkan dan mempertahankan kehidupannya
2. Kehidupan Sosial Pada Pasca Plestosen
Corak penghidupan yang menggantungkan diri kepada alam masih lanjut pada
masa Plestosen atau permulaan Holosen. Corak penghidupan yang
mementingkan perburuan dan pengumpulan bahan makanan diteruskan,
terbukti dari bentuk-bentuk alat yang tidak jauh berbeda dari bentuk-bentuk
sebelum ini.
BAB II
MASA BERBURU DAN MENGUMPULKAN MAKANAN TINGKAT
SEDERHANA

A. Manusia Purba Indonesia Pada Zaman Berburu


Banyaknya fosil manusia purba ditemukan di Indonesia. Berkaitan erat dengan
letak Indonesia di katulistiwa sehingga suhu pada daerah ini lebih stabil dibandingkan
dunia bagian utara dan selatan. Hal ini memungkinkan manusia purba untuk
berkembang di Indonesia. Ada tiga jenis manusia purba yang pernah ditemukan di
Indonesia :
1. Meganthropus Paleojavanicus
Nama ini diambil berdasarkan ciri fisik dan tempat ditemukannya fosil
manusia purba tersebut. Mega artinya besar, tropus artinya manusia,
java artinya jawa. Dari arti yang dipakai dapat kita beri Megantropus
Paleojavanicus pengertiannya manusia besar dari jawa. Ciri-ciri
Megantropus Paleojavanicus yaitu, berbadan tegap, pada bagian kepala
terdapat tonjolan yang tajam, tulang pipi tebal, tidak berdagu, geraham
yang besar. Dari ciri fisik dan bentuk geraham di perkirakan
Megantropus merupakan pemakan tumbuh-tumbuhan.
2. Pithecantropus
Pithecantropus merupakan jenis manusia purba paling banyak
ditemukan di Indonesia, sampai saat ini ada tiga jenis, yaitu
Pthecantropus Erectus, Pithecantropus Soloensis, Pithecantropus
Paleojavanicus. Ciri-ciri Pithecantropus yaitu, volume otak 900 cc,
geraham besar, hidung lebar, kening tebal, tidak berdagu, makanan
daging dan tumbuh-tumbuhan, tinggi 165-180 cm. Manusia purba ini
hidup diperkirakan 300-900.000 tahun yang lalu.
3. Homo Sapiens
Fosil manusia dari genur Homo, yang berasal dari kala Plestosen di
Indonesia, adalah rangka wajak dan mungkin juga beberapa tulang
paha dari Trinil. Isi tengkoraknya bervariasi antara 1000-2000 cc,
tinggi badannya juga bervariasi lebih besar, yaitu antara 130-210 cm.
Dan demikian pula berat badannya, yaitu antara 30-150 kg.
B. Alat Yang Digunakan
Pada zaman berburu dan mengumpulkan makanan ini. Alat yang digunakan
untuk memenuhi kebutuhan hidupnya masih sangat sederhana. Peralatannya
umumnya dari batu yang belum diasah karena memang keterbatasan mereka dalam
menciptakan alat dalam kehidupannya. Dari hasil penggalian para arkeolog yang
ditemukan peralatan mereka dari batu. Alat yang digunakan pada masa berburu dan
mengumpulkan makanan tingkat sederhana yaitu:
1. Kapak Perimbas
Kapak perimbas digunakan untuk memukul dan membelah hewan hasil
buruan. Kapak perimbas dapat dikategorikan beberapa tipe. Yaitu tipe
setrika (bentuknya memanjang dan menyerupai setrika), tipe kura-
kura(permukaan atas mencembung dan bawahnya meruncing), tipe
serut samping (tidak beraturan). Alat ini ditemukan di Indonesia
contohnya di Sangiran.
2. Alat Serpih
Alat serpih merupakan alat yang terbuat dari batu yang bentuknya
pipih. Kegunaan dari alat serpih ini untuk memotong tubuh hewan
menjadi bagian yang lebih kecil. Para arkeolog menemukan alat serpih
bersamaan dengan kapak perimbas di Indonesia yang ditemukan di
Ngandong.
3. Alat Tulang
Merupak alat yang terbuat dari bagian tulang hewan buruan. Misalnya
tulang kaki, tulang tangan. Alat tulang ini digunakan untuk mengiris
hewan buruan. Selain itu juga digunakan sebagai belati. Di Indonesia
tempat ditemukan alat tulang yaitu di Ngandong.
C. Kehidupan Sosial Masyarakat
Pada masa berburu dan mengumpulkan makanan manusia purba hidup secara
kelompok. Hal ini dilakukan karena factor makanan. Cara mereka memenuhi
kebutuhan hidupnya dengan berburu dan mengumpulkan makanan. Sehingga
kehidupan mereka sangat tergantung pada alam. Apabila suatu wilayah ketersediaan
hewan buruannya sudah habis maka mereka akan mencari tempat yang baru
(nomaden).Pembagian tugas dalam kehidupan manusia purba yaitu berburu dilakukan
oleh pria. Sedangkan wanita bertugas meramu (mengumpulkan dedaunan dan hewan
kecil). Selain meramu wanita juga bertugas menjaga api pada akhir masa berburu
tingakt sederhana.
BAB III
MASA BERBURU DAN MENGUMPULKAN MAKANAN TINGKAT LANJUT

Pada masa berlangsungnya hidup berburu tingkat lanjut di kala Pasca-Plestosen, corak
hidup yang berasal dari masa sebelumnya masih berpengaruh. Keadaan lingkungan hidup
pada masa Pasca-Plestosen tidak banyak berbeda dengan keadaan sekarang ini. Hidup
berburu dan mengumpulkan makanan yang terdapat dialam sekitarnya dilanjutkan, ini
terbukti dari bentuk alat-alatnya yang terbuat dari batu, tulang dan kulit kerang.
A. Keadaan Bumi Pada Kala Pasca-Plestosen
Perubahan-perubahan penting yang terjadi pada awal kala Pasca-Plestosen ialah
berubahnya iklim. Berakhirnya masa glasial menyebabkan berakhirnya musim dingin
dan iklim kemudian menjadi panas dengan akibat semua daratan yang semula
terbentuk karena turunnya muka air laut, kemudian tertutup kembali, termasuk
Paparan Sunda dan Paparan Sahul. Pada masa Pasca-Plestosen, iklim didaerah tropik
dan di Indonesia khususnya telah menunjukkan persamaan dengan iklim sekarang.
B. Alam Binatang
Akibat terputusnya wilayah Indonesia dari daratan Asia pada akhir masa glasial
Wurm, terputus pula jalan hubungan kewan kedua daerah tersebut yang sebelumnya
dapat dilalui dengan leluasa, bergerak dari daerah yang satu ke daerah yang lain.
Hewan-hewan yang hidup di pulau-pulau kecil kemudian hidup terasing, dan terpaksa
menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru, dan beberapa diantaranya kemudian
mengalami evolusi lokal.
C. Alat-alat Kebudayaan
Teknik pembuatan alat pada masa ini melanjutkan teknik pembuatan pada masa
sebelumnya. Ada beberapa jenis alat baru dan modifikasi alat yang digunakan pada
masa sebelumnya. Pada masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut ini,
diantaranya:
1. Serpih Billah
Serpih billah merupakan batu yang terlepas dari batu induknya dalam bentuk
pecahan yang lebih kecil. Pecahan tersebut di modifikasi sesuai dengan
kegunaan dengan cara di asah. Di Indonesia ini serpih billah ditemukan di
goa-goa daerah Sulawesi Selatan. Teknik Pembuatan alat-alatnya melanjutkan
teknik pada masa sebelumnya, tetapi bentuk alat-alatnya tampak lebih maju
dalam berbagai corak untuk bermacam kegunaan.
2. Alat Tulang
Di daerah Asia Tenggara alat-alat tulang ditemukan di Tonkin, tetapi disana
bercampur dengan kapak genggam Sumatera. Selain itu alat-alat tulang
terdapat juga di bukit kerang di Da But.
3. Kapak Genggam Sumatera
Kapak genggam merupakan alat yang digunakan untuk memukul hewan
buruan. Alat ini aslinya berasal dari Hoabin (daerah Vietnam) kemudian
dibawa oleh irigasi masyarakat dataran Asia ke daerah Sumatera dan Jawa.
Hal ini di asumsikan berdasarkan temuan arkeologi yang terdapat Sumatera
dan Jawa.
D. Kehidupan Sosial, Ekonomi, dan Budaya
Pola hidup di masa ini dipengaruhi masa sebelumnya. Dimana factor alam dan
ketersediaan sumber daya alam sangat berpengaruh pada kehidupan mereka. Pada
tahap ini pola kehidupan ekonomi mereka sudah mulai ada upaya untuk beternak
seiring dengan kehidupan mereka didalam goa. Pemilihan goa juga
mempertimbangkan kedekatan dengan air.
Dalam kehidupan social mereka dipimpin oleh ketua kelompok yang
ditentukan oleh kekuatan, umur dan kemampuan dalam berburu. Dalam pembagian
tugas pada masa ini sudah ditentukan dimana laki-laki untuk berburu dan perempuan
untuk meramu, menjaga api, dan mengurus anak-anak.
Dalam kehidupan religi belum banyak bukti bahwa mereka sudah memeluk
agama atau kepercayaan. Namun adanya lukisan yang terdapat pada dinding-dinding
goa mengindikasikan mereka sudah mempercayai adanya kekuatan besar diluar diri
mereka.
BAB IV
MASA BERCOCOK TANAM

Masa bercocok tanam lahir melalui proses yang panjang, dan tak mungkin dpisahkan
dari usaha manusia prasejarah dalam memenuhi kebutuhan hidupnya pada masa-masa
sebelumnya. Setelah cara hidup berburu dan mengumpulkan makanan dilampaui, maka
manusia menginjak suatu masa kehidupan yang disebut bercocok tanam. Masa ini sangat
penting dalam sejarah perkembangan masyarakat dan peradaban. Karena pada masa ini
beberapa penemuan baru berupa penguasaan sumber-sumber alam bertambah cepat.
Pada masa ini mulai ada tanda-tanda cara hidup menetap disuatu perkampungan yang
terdiri atas tempat-tempat tinggal sederhana yang didiami secara berkelompok oleh beberapa
keluarga. Populasi mulai meningkat dan kegiatan-kegiatan dalam kehidupan perkampungan
yang terutama ditujukan untuk mencukupi kebutuhan bersama, mulai diatur dan dibagi antar
anggota masyarakat.
A. Peningkatan Kemampuan Membuat Alat
1. Beliung Persegi
Daerah penemuan beliung persegi hamper meliputi seluruh Indonesia. Pada
umumnya, beliung ini berbentuk memanjang dengan penampang lintang
persegi. Seluruh bagiannya diupam halus-halus kecuali, kecuali pada bagian
pangkalnya sebagai tempat ikatan tangkai. Tajamannya dibuat dengan
mengasah bagian ujung permukaan bawah landau kea rah pinggir ujung
permukaan atas. Dengan cara demikian diperoleh bentuk tajaman yang miring
seperti terlihat pada tajaman pahat buatan masa kini. Ukuran dan bentuknya
bermacam-macam, tergantung pada penggunaannya. Yang terkecil ialah
semacam pahat yang berukuran kira-kira 4 cm panjang dan terpanjang kira-
kira 25 cm dipergunakan untuk mengerjakan kayu.
2. Kapak Lonjong
Secara tekno-morfologis, tradisi kapak lonjong dapat diduga lebih tua daripada
tradisi beliung persegi. Bukti-bukti stratigrafis telah ditunjukkan oleh T.
Harrison dalam ekskavasi yang dilakukan di goa Niah, Serawak. Dan menurut
pertanggalan C-14 yang diperolehnya, kapak lonjong ditemukan dalam lapisan
tanah yang berumur kurang lebih 8000 tahun. Daerah penemuan kapak
lonjong di Indonesia hanya terbatas di daerah bagian timur.
3. Alat-alat Obsidian
Alat-alat yang khusus dibuat dari batu kecubung (obsidian) berkembang
sangat terbatas di beberapa tempat saja seperti di Jambi, dekat Danau Kerinci,
di sekitar bekas Danau Bandung, di Leles (sekitar Danau Cangkuang) dekat
Garut, di Leuwilliang (Bogor).
4. Mata Panah
Sebagaimana halnya dengan alat-alat obsidian, maka alat ini juga
mencerminkan kehidupan berburu. Ada dua tempat penemuan yang penting,
yaitu Jawa Timur dan Sulawesi Selatan. Para ahli yang menganggap bahwa
unsur mata panah ini menerima pengaruh dari luar Indonesia, selalu
menghubungkan dengan temuan mata panah di Jepang yang banyak
menunjukkan persamaan dengan mata panah dari Sulawesi. Ahli-ahli tersebut
ialah, Van Stein Callenfels, Von Heine Geldern dan Van Heekern.
5. Gerabah
Penyelidikan arkeologis membuktikan bahwa benda-benda gerabah mulai
dikenal pada masa bercocok tanam. Bukti-bukti tersebut berasal dari
Kendenglembu (Banyuwangi). Dari temuan-temuan tersebut dapat kita
simpulkan bahwa teknik pembuatan gerabah dari masa bercocok tanam masih
sangat sederhana.
6. Alat Pemukul Kulit Kayu
Beberapa dari alat ini yang dibuat dari batu ditemukan di Kalimantan (Ampah)
dan Sulawesi Tengah (Kalumpang, Minanga Sipakka, Langkoka dan di Poso).
Sebuah tipe dari alat ini berbentuk persegi panjang dan terdiri dari gagang dan
bagian pemukul. Bagian untuk memukul kulit kayu ini memuat jalur-jalur
cekung yang sejajar.
7. Perhiasan
Dalam masa bercocok tanam perhiasan-perhiasan berupa gelang dari batu dan
kulit kerang rupa-rupanya telah dikenal. Perhiasan seperti ini pada umumnya
di temukan di Jawa Tengah dan Jawa Barat.
B. Kehidupan Sosial-Ekonomi Pada Masa Bercocok Tanam
Kehidupan manusia senantiasa mengalami perkembangan. Perkembangan itu
dapat disebabkan karena ada interaksi antara manusia dengan manusia, dan manusia
dengan alam. Manusia tidak perlu susah-susah membuat dan mengolah makanan.
Manusia cukup mengambil dari alam, karena alam banyak menyediakan kebutuhan
manusia terutama makanan. Makanan antara lain buah-buahan dan binatang buruan.
Kehidupan awal manusia sangat tergantung dari alam. Ketika alam sudah tidak
mencukupi kebutuhan hidup manusia, yang disebabkan populasi manusia bertambah
dan sumber daya alam berkurang, maka manusia mulai memikirkan bagaimana dapat
menghasilkan makanan.
Manusia harus mengolah alam. Pada masa ini kehidupan manusia berkembang
dengan mulai cara bercocok tanam. Karena manusia sudah beralih pada tingkat
kehidupan bercocok tanam, maka pola hidupnya tidak lagi nomaden. Manusia sudah
mulai menetap disuatu tempat yang dekat dengan alam yang diolahnya. Binatang
buruanpun sudah ada yang mulai di pelihara. Dengan demikian, bercocok tanam dan
beternak sudah berkembang pada masa ini. Alam yang dipakai untuk bercocok tanam
adalah hutan-hutan. Hutan itu ditebang, dibersihkan, kemudian ditanami dengan
tumbuh-tumbuhan, buah-buahan, atau pepohonan lainnya yang dibutuhkan oleh
manusia atau masyarakat. Cara yang mereka lakukan masih sangat sederhana.
Berhuma merupakan cara bercocok tanam yang sederhana. Karena berhuma
memerlukan tempat yang subur. Maka ketika tanah itu sudah tidak subur, mereka
akan mencari daerah baru. Dengan demikian hidup mereka berpindah ke tempat baru
untuk waktu tertentu dan begitu seterusnya.
BAB V
MASA PERUNDAGIAN

Berbagai usaha dilakukan manusia menuju ke penyempurnaan kegiatan-kegiatan yang


telah mulai dilaksanakan misalnya dalam bidang pertanian, peternakan, pembuatan gerabah,
dan sebagainya. Hal-hal barupun telah ditemukan manusia dan yang terpenting diantaranya
ialah peleburan bijih logam dan pembuaatan benda-benda dari logam. Pembagian kerja untuk
melaksanakan berbagai macam kegiatan tampak makin ketat. Khususnya dalam melakukan
kegiatan-kegiatan yang menghendaki pengetahuan dan latihan tersendiri diperlukan
golongan-golongan tertentu dalam masyarakat untuk pelaksanaannya. Timbullah dalam
masyarakat golongan undagi atau golongan yang trampil dalam melakukan suatu jenis usaha
tertentu, yaitu dalam pembuatan rumah kayu, pembuatan gerabah, pembuatan benda-benda
logam, perhiasan, dan lain sebagainya.
A. Kemahiran Membuat Alat
Dalam masa perundagian ini teknologi berkembang lebih pesat, sebagai akibat
dari tersusunnya golongan-golongan dalam masyarakat yang dibebani pekerjaan
tertentu. Pada masa ini teknologi pembuatan benda-benda jauh lebih tinggi tingkatnya
dibandingkan dengan masa sebelumnya. Hal tersebut dimulai dengan penemuan-
penemuan berupa teknik peleburan, pencampuran, penempaan, dan pencetakan jenis-
jenis logam, diantaranya:
1. Benda-benda Perunggu
Jenis benda perunggu yang dikenal di Indonesia ialah nekara, berbagai jenis
kapak, bejana, boneka-boneka, perhiasan dan senjata-senjata. Diantara benda-
benda perunggu tersebut yang pertama kali menarik perhatian adalah nekara.
2. Benda-benda Besi
Berbeda dengan benda perunggu, penemuan benda-benda besi terbatas
jumlahnya. Seringkali benda-benda besi ditemukan sebagai bekal kubur,
misalnya dalam kubur-kubur di Wonosari (Jawa Tengah) dan Besuki (Jawa
Timur). Atau jenis-jenis kubur lain dari tingkat perundagian
3. Gerabah
Dalam masa perundagian, pembuatan gerabah telah mencapai tingkat yang
lebih maju daripada masa sebelumnya. Daerah penemuannya lebih jelas
diketahui serta ragamnya lebih kaya. Tampak sekali bahwa peranan gerabah
dalam kehidupan masyarakat sangat penting dan fungsinya tidak dapat dengan
mudah digantikan oleh alat-alat yang dibuat dari logam (perunggu atau besi).
4. Manik-manik
Di Indonesia, pemakaian manik-manik umum sekali, sejak dahulu hingga
sekarang. Pada tingkat kehidupan gua-gua manik-manik dibuat dari kulit
kerang seperti yang ditemukan di Sampung (Jawa Timur). Pada masa
perundagian ini manik-manik dibuat dari bermacam-macam bahan dengan
berbagai bentuk dan warna, antara lain dari batu akik (kornalin), kaca dan
tanahliat yang dibakar. Yang sangat menarik adalah jenis-jenis manik dari
kaca yang berwarna-warna.
B. Kehidupan Masyarakat Sosial-Ekonomi
Pada masa perundagian manusia di Indonesia hidup di desa-desa di daerah
pegunungan, dataran rendah dan tepi pantai dalam tata kehidupan yang semakin
teratur dan terpimpin. Kemajuan-kemajuan yang dicapai dalam bidang teknologi yang
bertujuan meningkatkan kesejahteraan kehidupan serta terdapatnya surplus dalam
memenuhi keperluan hidup, mengakibatkan meningkatnya jumlah penduduk dimana-
mana.
Perdaganga dilakukan antar-pulau di Indonesia dan antara kepulauan
Indonesia dengan Daratan Asia Tenggara. Perahu bercadik memainkan peranan yang
besar dalam hubungan-hubungan perdagangan ini. Perdagangan dilakukan dengan
cara tukar menukar barang-barang yang diperlukan masing-masing pihak.
C. Kehidupan Sosial-Budaya
Yang sangat menonjol pada masa perundagian ini ialah segi kepercayaan
kepada pengaruh arwah nenek moyang-moyang terhadap perjalanan hidup manusia
dan masyarakatnya. Karena itu arwah nenek moyang harus selalu diperhatikan dan
dipuaskan melalui upacara-upacara. Demikian pula kepada orang-orang yang
meninggal diberikan penghormatan dan persajian selengkap mungkin dengan maksud
mengantar arwah dengan sebaik-baiknya ke tempat tujuannya, yaitu ke dunia arwah.
BAB VI

SISA-SISA KEHIDUPAN MASA KINI

Walaupun masa prasejarah telah berakhir secara formil di Indonesia dengan


ditemukannya tulisan-tulisan pertama dari sekitar abad 4-5 Masehi, namun banyak di
Indonesia terlihat tanda-tanda bertahannya tradisi prasejarah. Sampai jauh memasuki masa
sejarah, bahkan hingga masa kini.

A. Penduduk
Populasi bertambah dengan cukup pesat dengan pemusatan-pemusatan di
daerah-daerah yang subur, tempat terdapatnya pusat-pusat pertanian yang mampu
menampung populasi yang lebih besar. Migrasi, baik di dalam maupun dari luar, tidak
hanya terjadi satu arah, meskipun ada kecenderungan yang dominan ke salah satu
arah. Pemencilan-pemencilan menjadi berkurang secara (pencilan-pencilan menjadi
runtuh) sedikit demi sedikit, dengan meningkatnya perhubungan dan lalu lintas,
sehingga pembauran antara berbagai populasi makin bertambah. Bentuk kepulauan
negeri kita menyebabkan masih ada juga populasi-populasi lokal yang terpencil,
sehingga arus gena dan hibridasi tidak merata. Maka terdapatlah kantong-kantong
populasi kecil yang yang berlain-lainan di latar belakang luas yang homogen.
B. Tradisi Hidup Bercocok Tanam
Di beberapa tempat di Indonesia masih terdapat cara-cara pembuatan gerabah
yang mengingatkan kita kepada teknik yang dikenal pada masa bercocok tanam. A.C
Kruyt dan H.R van Heekern mencatat cara pembuatan gerabah di kalangan penduduk
beberapa desa yang didiami oleh orang-orang toraja di Sulawesi Tengah bagian barat.
Dari tempat-tempat tersebut dikenal cara pengaerjaan yang sangat sederhana. Segala
sesuatunya disiapkan dengan tangan. Alat-alat yang dipergunakan hanya berupa batu
kali yang berfungsi sebagai tatap. Keseluruhan bentuk tergantung pada kemahiran
tangan.
C. Tradisi Megalitik
Tradisi megalitik muncul setelah tradisi bercocok tanam mulai meluas, tidak
ketinggalan terus menerus ikut menghayati setiap corak budaya yang masuk di
Indonesia. Bentuk-bentuk menhir, batu lumping, batu dakon, serta sususnan batu
berundak masih banyak diperlihatkan di kuburan-kuburan Islam maupun Kristen,
seperti yang terdapat di Sulawesi Selatan, Flores, Timor dan daerah-daerah lain.
Tradisi megalitik di Nias dipandang sangat maju dibandingkan dengan daerah-daerah
lain. Sebagai keseluruhan, megalit-megalit di Nias dianggap sebagai pusat kehidupan
yang erat hubungannya dengan barang emas.