Anda di halaman 1dari 4

Bedah Buku

Dina mik a
B
uku yang ditulis Dr. Arief Daryanto yang latar

Dayasaing belakang akademisnya ekonomi pertanian ini


merupakan buku non-teknis peternakan yang

Peter n a k a kaya informasi tentang situasi makro yang berpengaruh


terhadap perkembangan industri peternakan. Isu

n
substansi yang diangkat dalam buku ini mencakup
banyak hal tentang upaya non teknis dalam
menghasilkan bahan baku pangan sumber protein
hewani bagi lebih dari 240 juta penduduk Indonesia.
Secara umum, substansinya banyak memberikan
pencerahan kepada birokrat dan pelaku bisnis
peternakan tentang aspek manajemen dan bisnis dalam
animal business dan animal industry. Yang nampak
juga dalam tulisan ini adalah pemikiran penulis
termasuk bermazhab populis berciri keberpihakan.

Semua pemikiran yang progresif dan futuristik itu


menjadi sangat penting bagi komunitas peternakan
karena potensi komoditas ternak di Indonesia
sebenarnya dapat menjadi lokomotif pembangunan
pertanian dalam arti luas. Jagung, sebagai contoh,
yang merupakan bahan baku utama pakan ternak
mestinya dapat dipenuhi sendiri dan tidak harus impor.
Kotoran ternak yang dihasilkan juga menyuburkan
lahan pertanian. Ternaknya itu sendiri merupakan alat
transportasi dan alat pembajak tamah bagi masyarakat
pedesaan. Dengan kata lain, peternakan juga dapat
menjadi penggerak roda perekonomian di perdesaan.

Karena produk peternakan merupakan bahan baku


pangan sumber protein pencerdas bangsa, upaya
Prof. Dr. Ir. Muladno, berswasembada semua produk peternakan harus
dilakukan secara terus menerus dan benar-benar
MSA Guru Besar Fakultas
diimplemetasikan programnya. Ketergantungan bangsa
Peternakan IPB dan pemerhati
masalah peternakan Indonesia terhadap produk peternakan yang semakin
32
Agrim
32
Agrimedia
besar dari luar negeri sangat membahayakan kedaulatan sehingga tidak mampu bersaing dalam pengembangannya.
bangsa dalam memajukan generasi mudanya ke depan. Hal ini diperparah dengan masih banyaknya peternak yang
Dalam konteks berswasembada tersebut, kita memiliki kurang terampil dan tidak profesional. Harga produknya
sumberdaya ternak lokal yang belum digali potensinya juga sangat mahal, serta pasarnya hanya terbatas. Secara
secara maksimal. makro, dalam rangka penyediaan bahan pangan sumber
protein pencerdas bangsa, kondisi ini sangat tidak baik dan
Ternak lokal seperti sapi Bali, domba Garut, dan ayam tidak menguntungkan. Dari sisi kebijakan, kadang-kadang
lokal merupakan beberapa contoh komoditas ternak yang Pemerintah terlalu toleran terhadap pelanggaran aturan
prospektif untuk lebih dikembangkan lagi. Sapi Bali yang yang dilakukan pelaku usaha.
berasal dari spesies Bos sundaicus (hanya ada di Indonesia)
memiliki reproduktivitas tinggi, dapat hidup di lingkungan Oleh kerena itu, UU No 18 tahun 2009 Tentang Peternakan
buruk dengan pakan apa adanya. Untuk domba Garut, dan Kesehatan Hewan yang bersifat aspiratif, akomodatif,
budaya yang sudah dikembangkan secara turun temurun futuristik, terbuka, dan mengedepankan kepentingan
oleh masyarakat Jawa Barat (yaitu adu seni ketangkasan nasional harus dapat dijabarkan dan dioperasionalkan
domba) telah menjadikan domba Garut memiliki performa dalam pengembangan peternakan di Indonesia. Peran besar
yang sangat baik karena seleksi dilakukan secara terus pemerintah yang diamanahkan oleh UU tersebut harus
menerus. Untuk komoditas ternak ayam, hasil penelitian dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat
Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia (LIPI) bekerjasama melalui usaha peternakan. Pemerintah dalam hal ini bukan
dengan International Livestock Research Institute (ILRI) berarti hanya Kementerian Pertanian saja tetapi semua
menyimpulkan bahwa ayam kampung di Indonesia lembaga kementerian dan non kementerian yang terkait
merupakan salah satu dari empat nenek moyang ayam yang dalam pengembangan peternakan tersebut. Sinergisme
saat ini ada di dunia (atau dengan kata lain Indonesia adalah antara pemerintah dan swasta dalam implementasi UU
satu dari empat pusat domestikasi ayam di dunia). Jelas No.18 tahun 2009 mutlak diperlukan untuk keberhasilan
bahwa ternak lokal Indonesia menjadi salah satu komoditas membangun peternakan di Indonesia, dengan perguruan
strategis yang wajib dikembangkan tentunya. tinggi sebagai mediator independen yang efektif.

Namun demikian, hingga saat ini, masih banyak kendala Terkait dengan peran besar pemerintah dalam
yang dihadapi komunitas peternakan di Indonesia. Hampir mengimplementasikan substansi UU No 18 tahun 2009
semua sarana produksi utama (bibit/benih dan pakan/ tersebut, pemikiran non teknis yang kaya wawasan makro
bahan baku pakan) masih impor dan semakin tergantung seperti kebijakan, perdagangan, ekonomi, manajemen,
pada luar negeri. Di sisi lain, ternak lokal cenderung dan bisnis dalam industri peternakan sebagaimana banyak
terlantar dan semakin menurun kualitas dan jumlah dikupas dalam buku Dinamika Dayasaing Peternakan
populasinya. Efisiensi dan produktivitas ternak lokal masih menjadi acuan penting bagi birokrat maupun para praktisi
sangat rendah peternakan dalam rangka: (1) menjadikan pertanian
dan peternakan sebagai sektor yang mampu
menyelesaikan kemiskinan di Indonesia sebagai
dampak dari pergerakan ekonomi di perdesaan;
(2) menekan laju liberalisasi perdagangan yang
merugikan pasar domestik melalui aturan yang lebih
menekankan kepentingan nasional; (3) membiasakan
dan membudayakan masyarakat mengonsumsi
protein hewani secara lebih banyak; dan (4)
mendorong peningkatan efisiensi dan
produktivitas dalam menghasilkan
komoditas pertanian dan peternakan.

Bagi saya, buku ini wajib hukumnya untuk dibaca oleh


para pengambil keputusan (birokrat maupun praktisi);
sunat hukumnya bagi akademisi atau mahasiswa;
makruh hukumnya bagi para orang beraliran pesimis
dan apatis; haram hukumnya bagi orang bodoh. ===
Volume 15 No 1 Juni 2010 33

Volume 15 No 1 Juni 2010 33

Anda mungkin juga menyukai