Anda di halaman 1dari 82

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Derajat kesehatan masyarakat merupakan salah satu indikator kemajuan

suatu masyarakat. Faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat

diantaranya tingkat ekonomi, pendidikan, keadaan lingkungan, dan kehidupan

sosial budaya. Faktor yang penting dan dominan dalam penentuan derajat

kesehatan masyarakat adalah keadaan lingkungan. Salah satu komponen

lingkungan yang mempunyai peranan cukup besar dalam kehidupan adalah air

(Kusnaedi,2004:1).

Air adalah sumberdaya alam yang diperlukan untuk hajat hidup orang

banyak, bahkan oleh semua makhluk hidup. Oleh karena itu sumber daya air harus

dilindungi agar tetap dimanfaatkan dengan baik oleh manusia serta makhluk hidup

lainnya. Pemanfaatan air untuk berbagai kepentingan harus dilaksanakan secara

bijak yaitu dengan memperhitungkan generasi sekarang tanpa harus merugikan

generasi yang akan datang. Aspek penghematan dan pelestarian sumber daya air

harus ditanamkan kepada segenap pengguna air (Rhomaidhi, 2008).

Air merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi kehidupan manusia.

Air digunakan untuk berbagai macam kebutuhan diantaranya minum, mandi,

mencuci, dan memasak. Air yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari disetiap

tempat dan setiap tingkatan tidak sama, artinya semakin tinggi taraf kebutuhan

hidup manusia, semakin menigkat pula jumlah air yang diperlukan (Kurniawan,

2009).
2

Kebutuhan akan air bersih dan air minum semakin tinggi seiring dengan

laju pertumbuhan penduduk. Selain kebutuhan air meningkat pengotoran air juga

bertambah sesuai dengan cepatnya pertumbuhan . Sebagai akibat sumber air tawar

dan air bersih semakin langka. Hal ini tidak hanya dirasakan oleh masyarakat

perkotaan , akan tetapi hal ini juga dirasakan oleh masyarakat pedesaan. Yang

menggantungkan hidup pada air sumur dangkal (Slamet, 2004).

Upaya pemenuhan kualitas air oleh manusia dapat mengambil air dari

tanah, air permukaan, atau langsung dari air hujan. Dari ketiga sumber air tersebut

air tanahlah yang paling banyak digunakan karena air tanah memiliki beberapa

kelebihan dibanding sumber-sumber air lainnya antara lain karena kualitas airnya

yang lebih baik serta pengaruh akibat pencemaran yang relatif kecil (Anisa, 2006).

Air tanah adalah air yang terdapat dalam lapisan tanah atau bebatuan di

bawah permukaan tanah. Air tanah merupakan salah satu sumber daya air selain

air sungai dan air hujan, air tanah juga mempunyai peranan yang sangat penting

terutama dalam menjaga keseimbangan dan ketersediaan bahan baku air untuk

kepentingan rumah tangga (domestik) maupun untuk kepentingan industri. Air

tanah merupakan sumber air bersih yang banyak digunakan dalam aktivitas

manusia. Hasil pemantauan Bapedalda Propinsi Sumatera Barat tahun 2001

terindikasi adanya kontaminasi pada sumber-sumber air tanah dangkal terutama di

daerah pemukiman. Dari hasil analisis sampel air diketahui beberapa parameter

telah melewati ambang batas toleransi mutu sumber air bersih (PERMENKES 416

Tahun 1991), meliputi parameter: bau, rasa, Cl, Bakteri Coli, dan Deterjen

MBAS. Kecenderungan ini terutama terjadi di daerah perkampungan padat


3

penduduk. Dari pengamatan di lapangan ternyata air tanah dangkal masih

mendominasi sebagai sumber air bersih untuk kebutuhan rumah tangga

masyarakat Kota Padang (Bapedalda Sumatera Barat, 2001).

Sungai merupakan suatu media yang rentan terhadap pencemaran. Hal ini

disebabkan karena sungai merupakan tempat buangan akhir limbah dan

mengakibat kualitas air sungai tidak sesuai dengan peruntukannya. Sungai yang

berada dekat dengan aktifitas industri dan pemukiman penduduk yang limbahnya

dibuang ke sungai tersebut sering tercemar oleh logam berat. Menurut Ridhowati

(2013) daya racun yang dimiliki akan bekerja sebagai penghalang kerja enzim,

sehingga proses metabolisme tubuh terputus. Logam berat dapat masuk ke dalam

tubuh manusia melalui rantai makanan, pernafasan maupun air yang

terkontaminasi oleh logam berat. Apabila keadaan ini berlangsung dalam jangka

waktu lama dan kadar logam berat yang terlarut dalam tubuh manusia cukup tinggi

atau melebihi standar baku mutu maka dapat membahayakan kesehatan manusia.

Hal ini berkaitan dengan sifat -sifat logam berat yaitu tidak dapat dihancurkan

secara alami, sehingga mudah terakumulasi dalam lingkungan perairan.

Logam berat yang sering ditemui dalam air sungai yang tercemar limbah

industri adalah besi (Fe), tembaga (Cu), mangan (Mn), seng (Zn), kadmium (Cd),

cromium (Cr), timbal (Pb), nikel (Ni) dan raksa (Hg) (Yudo, 2006). Mardhatilah

dkk. (2014) menemukan bahwa limbah cair industri pabrik karet di Pekanbaru

mengandung logam berat Cu dengan konsentrasi 1,97 mg/l dan Zn 10,04 mg/l.

Selain itu, Ningsih dkk. (2014) juga menemukan bahwa limbah cair pabrik

pengolahan karet di Riau mengandung logam Zn sebesar 0,34 mg/l yang telah
4

melebihi baku mutu yaitu 0,05 mg/l berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 82

Tahun 2001.

Muara Sungai Batang Arau (Muara Padang) adalah daerah pemukiman

dengan jumlah penduduk tinggi yang sebagian besar memiliki mata pencarian

sebagai nelayan dan pedagang. Pemanfaatan Sungai Batang Arau dan daerah

Muara Padang cukup beragam diantaranya adalah pertanian, industri, perumahan

penduduk, rumah sakit, pelabuhan kapal-kapal nelayan dan kapal penumpang serta

sebagai daerah rekreasi terutama sejak dibangun Jembatan Siti Nurbaya. Karena

fungsinya yang beragam, perairan Muara Padang mulai mengalami penurunan

kualitas lingkungan yang tergambar dari warna perairan keruh cenderung coklat

serta tingkat sedimentasi yang tinggi yaitu 3482 ton/hari (Bapedalda Kota Padang

2004). Rendahnya kualitas air sungai, dan pengaruh aktivitas masyarakat di sekitar

lahan sangat berpotensi menyebabkan rendahnya kualitas air tanah dangkal di

kawasan ini.

Kualitas air pada bagian hilir DAS Batang Arau, termasuk pada Pelabuhan

Muaro, semakin menurun seiring meningkatnya konsentrasi polutan dan termasuk

air kategori kelas IV. Pencemaran Air pada DAS Batang Arau pada bagian tengah

hingga hilir terjadi akibat berbagai kegiatan industri tanpa melalui pengolahan

terlebih dahulu, lingkungan pemukiman, pasar dan berbagai kegiatan lain yang

membuang limbah cair yang belum memenuhi baku mutu lingkungan, sehingga

muara sungai Batang Arau telah mengalami penurunan kualitas lingkungan, baik

akibat pencemaran maupun pengendapan. Sehingga perlu adanya penetapan

Keputusan Walikota tentang Peruntukan Sungai dan Baku Mutu Air Sungai serta
5

Baku Mutu Limbah Cair yang diizinkan masuk ke badan sungai. Pemko Padang

perlu melengkapi jaringan sanitasi bagian-bagian kota termasuk instalasi pengola-

han limbah domestik sebelum masuk ke badan air sungai Batang Arau. Termasuk

dalam mitigasi ini pencegahan bahan-bahan sedimen yang bersumber dari

pemecahan batu untuk keperluan bahan baku semen Padang. Pemerintah Kota

perlu mengendalikan tutupan vegetasi di dalam DAS Batang Arau agar aliran

dasar (base flow) sungai Batang Arau tetap stabil.

Berdasarkan hasil survey (melalui kuesioner) yang dilakukan terhadap

masyarakat di kawasan ini diketahui bahwa 60% masyarakat di kawasan Muara

Batang Arau masih menggunakan air sumur sebagai air baku air minum, di

samping untuk keperluan rumah tangga lainnya. Meskipun kawasan tersebut

termasuk ke dalam daerah pelayanan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM),

namun pada kenyataan di lapangan ditemukan bahwa sebagian besar fasilitas

hidran umum dan sebagian kecil sambungan langsung air minum yang terletak di

sekitar kawasan Muara Batang Arau tidak dapat difungsikan lagi. Hal ini sebagian

disebabkan kurangnya partisipasi masyarakat dalam memelihara fasilitas tersebut.

Di samping itu kondisi ekonomi masyarakat sekitar yang tergolong menengah ke

bawah menyebabkan sulitnya pemungutan biaya retribusi penyediaan air minum.

Kondisi ini menyebabkan beberapa fasilitas tersebut dihentikan fungsinya oleh

PDAM dengan alasan efisiensi biaya.

Hasil survey yang telah dilakukan oleh Tim Survey Hidrogeologi

Departemen Pertambangan dan Energi Propinsi Sumatera Barat tahun 2003

terhadap air tanah dari salah satu sumur penduduk di Kawasan Muara tepatnya di
6

Kelurahan Seberang Penggalangan, menemukan beberapa zat pencemar seperti

mangan dengan kadar dua puluh kali lebih besar dari pada nilai ambang

maksimum yang diperbolehkan dan sulfat dalam konsentrasi empat belas kali

memenuhi baku mutu sesuai PP RI No. 82 tanggal 14 Agustus 2001. Selain itu

padatan terlarut dan klorida juga di atas nilai ambang batas (Subdin Geologi

Sumber Daya Mineral, 2003).

Selain logam mangan, logam berat seperti besi juga dicurigai melebihi

batas baku mutu ditandai dengan adanya gangguan kesehatan seperti hipertensi.

Dimana mengkonsumsi air yang terkontaminasi logam besi dapat

meningkatkankan kadar zat besi dalam aliran darah sehingga memicu timbulnya

penyakit hepertensi atau tekanan darah tinggi. Hal ini dikuatkan dengan adanya

data dari puskesmas setempat yang menunjukan persentasi yang tinggi terhadap

kunjungan pasien hipertensi :

Tabel 1. 10 Penyakit terbanyak Puskesmas Padang Pasir

Penyakit/ Jumlah Persentase


Diseases Total %
(1) (2) (3)
1. ISPA 7.396 34,2
2. Hipertensi 3.585 16,6
3. Rongga Mulut 2.733 12,6
4. Rematik 2.583 11,9
5. Gastritis 1.164 5,4
6. Kelainan Refraksi 951 4,3
7. Dm 929 4,2
8. Infeksi 790 3,7
9. Commond Cold 776 3,6
10. Kulit Alergi 711 3,3
Jumlah / Total 2016 21.618
Sumber : BPS, Kecamatan Padang Barat Dalam Angka 2016

Tabel 2. 10 Penyakit terbanyak Puskesmas Pemancungan


7

Penyakit/ Jumlah Persentase


Diseases Total %
(1) (2) (3)
1. ISPA 3673 34,2
2. Hipertensi 1436 13,4
3. Bronchitis 818 7,6
4. Penyakit Kulit 501 4,7
5. Myalgia 874 8,1
6. Rematik Atritis 1306 12,2
7. Gastritis 753 7,0
8. Neuralgia 638 5,9
9. Diare 515 4,8
10. OMSK 220 2,0
Jumlah / Total 2016 10.733
Sumber : BPS, Kecamatan Padang Selatan Dalam Angka 2016

Berdasarkan hal tersebut di atas, sebagai upaya perlindungan terhadap

konsumen, perlu dilakukan suatu kegiatan pemantauan terhadap kualitas air tanah

dangkal di Kawasan Muara Sungai Batang Arau Kota Padang. Hal ini dapat

digunakan sebagai pertimbangan bagi masyarakat dalam pemanfaatannya.

Berdasarkan uraian diatas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian di

Kawasan Muara Sungai batang Arau ini dengan judul penelitian Analisis

Kandungan Logam Berat Dalam Air Tanah dangkal di Kawasan Muara

Sungai Batang Arau Kota Padang

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang yang dikemukakan mengenai masalah-

masalah yang terkait dengan Kawasan Muara, air tanah dangkal, dan kandungan

logam berat maka masalah yang dapat diidentifikasikan yaitu:

1. Keadaaan air sungai yang buruk mempengaruhi kualitas air tanah dangkal
2. Terdapat bayak limbah industri dan domestik yang mempengaruhi kualitas

air
3. Potensi Kandungan logam berat dalam air yang melebihi batas baku
8

4. Logam berat pada air tanah dangkal dapat memicu gejala penyakit pada

konsumen.

C. Batasan Masalah

Agar masalah bertumpu pada titik tujuan penelitian maka, batasan

masalah difokuskan mengenai analisi kandungan logam berat dalam air tanah

dangkal di Kawasan Muara Sungai Batang Arau Kota Padang.

D. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas pokok permasalahan yang timbul dalam

masalah ini adalah :

1. Bagaimana kandungan logam Besi (Fe) dalam air tanah dangkal di

Kawasan Muara Sungai Batang Arau Kota Padang?


2. Bagaimana kandungan logam Mangan (Mn) dalam air tanah dangkal di

Kawasan Muara Sungai Batang Arau Kota Padang?


3. Gangguan Penyakit apa yang dapat ditimbulkan akibat konsumsi jangka

panjang air tanah dangkal yang terkontaminasi logam besi (Fe) dan

mangan (Mn) dalam kadar yang melampaui batas standar kualitas air

menurut KEMENKES?

E. Tujuan Penelitian

Penelitian dengan judul Analisis Kandungan Logam Besi (Fe) dan Mangan

(Mn) di Kawasan Muara Sungai Batang Arau Kota Padang, bertujuan untuk :
9

1. Untuk mendapatkan informasi dan data serta menganalisis kandungan

logam besi (Fe) dalam air tanah dangkal di Kawasan Muara Sungai

Batang Arau Kota Padang

2. Untuk mendapatkan informasi dan data serta menganalisis kandungan

logam mangan (Mn) dalam air tanah dangkal di Kawasan Muara

Sungai Batang Arau Kota Padang

3. Untuk mendapatkan informasi gangguan penyakit apa yang dapat

ditimbulkan akibat konsumsi jangka panjang air tanah yang

terkontaminasi logam besi (Fe) dan mangan (Mn) dalam kadar yang

melempaui batas standar kualitas air menurut KEMENKES?

F. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat akademis dan praktis

yaitu :

1. Merupakan salah satu syarat menempuh kelulusan sarjana program

strata satu (S1) Jurusan geografi

2. Memberikan sumbangan pengetahuan bagi masyarakat dalam

memenuhi kebutuhan air bersih yang semakin hari terancam

kualitasnya khusunya di Kawasan Muara Sungai Batang Arau kota

Padang.
10

BAB II
KAJIAN TEORI

A. Pengertian Air Tanah

Ada banyak pengertian atau definisi mengenai air tanah. Undang Undang

Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air (UU No. 7/2004) mendefinisikan

air tanah sebagai air yang terdapat dalam lapisan tanah atau batuan di bawah

permukaan tanah. Sementara beberapa ahli di dalam buku-buku teks memberikan

definisi seperti berikut; Air tanah adalah sejumlah air di bawah permukaan bumi

yang dapat dikumpulkan dengan sumur-sumur, terowongan atau

sistem drainase atau dengan pemompaan. Dapat juga disebut aliran yang secara

alami mengalir ke permukaan tanah melalui pancaran atau rembesan (Bouwer,

1978; Freeze dan Cherry, 1979; Kodoatie, 1996). Sedangkan menurut Soemarto

(1989) air tanah adalah air yang menempati rongga-rongga dalam lapisan geologi.

Lapisan tanah yang terletak di bawah permukaan tanah dinamakan

lajur jenuh (saturated zone), dan lajur tidak jenuh terletak di atas lajur jenuh

sampai ke permukaan tanah, yang rongga-rongganya berisi air dan udara.

Air yang berada pada lajur jenuh adalah bagian dari keseluruhan air

bawah permukaan yang biasa disebut air tanah (groundwater). Air bawah

tanah (underground water dan sub terranean water) adalah istilah lain yang
11

digunakan untuk air yang berada pada lajur jenuh, namun istilah yang lazim

digunakan adalah air tanah (Johnson, 1972).

Pada kedalaman tertentu, pori-pori tanah atau batuan mulai terisi air dan

mulai jenuh. Batas atas lajur jenuh air disebut dengan muka air tanah (water

table). Air yang tersimpan pada lajur jenuh disebut dengan air tanah, yang

kemudian bergerak sebagai aliran air tanah melalui batuan dan lapisan-lapisan

tanah yang ada di bumi sampai air tersebut keluar sebagai mata air, atau terkumpul

masuk ke kolam, danau, sungai, dan laut (Fetter, 1994).

Air bawah permukaan adalah segala bentuk aliran air hujan yang

mengalir di bawah permukaan tanah sebagai akibat struktur perlapisan geologi,

beda potensi kelembaban tanah, dan gaya gravitasi bumi. Air bawah permukaan

tersebut biasa dikenal dengan air tanah (Asdak, 2002). Air yang berada di bawah

muka air pada umumnya disebut air tanah, dan lajur di bawahnya disebut sebagai

lajur jenuh. Curah hujan yang masuk ke dalam tanah dan meresap ke lapisan yang

ada di bawahnya, yang kemudian tertampung pada lapisan di bawah pemukaan

tanah disebut air tanah (Wilson, 1993).

Jumlah air tawar yang terbesar, menurut catatan yang ada, tersimpan di

dalam perut bumi, yang dikenal sebagai air tanah (Chow, 1978). Berdasarkan

Perkiraan Jumlah Air di Bumi (UNESCO, 1978 dalam Chow et al,

1988) dijelaskan bahwa jumlah air tanah yang ada di bumi ini jauh lebih besar

dibanding jumlah air permukaan (98% dari semua air di daratan tersembunyi di

bawah permukaan tanah dalam pori-pori batuan dan bahan-bahan butiran). Air

tanah mempunyai 3 (tiga) fungsi bagi manusia (Toth, 1990) yaitu:


12

1. Sebagai sumber alam yang dimanfaatkan untuk berbagai keperluan

manusia.

2. Bagian dari hidrologi dalam tanah yang mempengaruhi keseimbangan

siklus hidrologi global.

3. Sebagai anggota/agen dari geologi.

Ada dua sumber air tanah yaitu:

1. Air hujan yang meresap ke dalam tanah melalui pori-pori atau retakan

dalam formasi batuan dan akhirnya mencapai muka air tanah.

2. Air dari aliran air permukaan seperti sungai, danau, dan reservoir yang

meresap melalui tanah ke dalam lajur jenuh.

Air tanah dan air permukaan merupakan sumber air yang mempunyai

ketergantungan satu sama lain, Air tanah adalah sumber persediaan air yang sangat

penting, terutama di daerah-daerah di mana musim kemarau atau kekeringan yang

panjang menyebabkan berhentinya aliran sungai. Banyak sungai di

permukaan tanah yang sebagian besar alirannya berasal dari air tanah, sebaliknya

juga aliran air sungai merupakan sumber utama untuk imbuhan air tanah.

Pembentukan air tanah mengikuti siklus peredaran air di bumi yang disebut daur

hidrologi, yakni proses alamiah yang berlangsung pada air di alam, yang

mengalami perpindahan tempat secara berurutan dan terus menerus.


13

Di dalam suatu sistem Daerah Aliran Sungai, sungai yang berfungsi

sebagai wadah pengaliran air selalu berada di posisi paling rendah dalam landskap

bumi, sehingga kondisi sungai tidak dapat dipisahkan dari kondisi Daerah Aliran

Sungai (PP 38 Tahun 2011). Kualitas air sungai dipengaruhi oleh kualitas pasokan

air yang berasal dari daerah tangkapan sedangkan kualitas pasokan air dari daerah

tangkapan berkaitan dengan aktivitas manusia yang ada di dalamnya (Wiwoho,

2005).

Perubahan kondisi kualitas air pada aliran sungai merupakan dampak dari

buangan dari penggunaan lahan yang ada (Tafangenyasha dan Dzinomwa, 2005) .

Perubahan pola pemanfaatan lahan menjadi lahan pertanian, tegalan dan

permukiman serta meningkatnya aktivitas industri akan memberikan dampak

terhadap kondisi hidrologis dalam suatu Daerah Aliran Sungai. Selain itu, berbagai

aktivitas manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya yang berasal dari kegiatan

industri, rumah tangga, dan pertanian akan menghasilkan limbah yang memberi

sumbangan pada penurunan kualitas air sungai (Suriawiria, 2003).

B. Air Tanah Dangkal

Air tanah dangkal adalah air tanah sampai kedalaman 15 m. Dinamakan

juga air tanah bebas karena lapisan air tersebut tidak berada di dalam tekanan.

Profil permukaan air tanah dangkal tergantung dari profil permukaan tanah dan

lapisan tanah sendiri (Surbakti, 1987 : 4).

Pemanfaatan air tanah dangkal untuk memenuhi keperluan rumah tangga

akan air bersih dan untuk industri sudah banyak dilakukan. Di daerah daratan

rendah umumnya didapat cukup air tanah dangkal. Bila tidak ada sumber air
14

minum lainnya air tanah dangkal merupakan sumber utama dan sebagian besar

dieksploitasi dengan jalan membuat sumur. Sehingga air sumur merupakan sumber

air yang penting maka dari itu lingkungan sumur maupun konstruksinya harus

diperhatikan (Surbakti, 1989 : 53).

Gambar 1. Sumur Gali

Sumur gali merupakan salah satu sumber penyediaan air bersih bagi

masyarakat di pedesaan, maupun perkotaan. Sumur gali menyediakan air yang

berasal dari lapisan tanah yang relatif dekat dengan permukaan tanah, oleh karena

itu mudah terkena kontaminasi melalui rembesan yang berasal dari kotoran

manusia, hewan maupun untuk limbah rumah tangga. Sumur gali sebagai sumber

air bersih harus ditunjang dengan syarat konstruksi, syarat lokasi untuk

dibangunnya sebuah sumur gali, hal ini diperlukan agar kualitas air sumur gali

aman sesuai dengan aturan yang ditetapkan (Angela dkk, 2015).

Sumur gali juga pengusahaan air tanah untuk kebutuhan air minum

maupun keperluan hidup sehari-hari dengan sistem penggalian tanah sampai pada

tingkat kedalaman tertentu secara terbuka. Sumur pompa adalah pengusahaan air

tanah sebagai sumber air untuk keperluan sehari-hari dengan bantuan pompa.

Keberadaan sumur gali (SGL) baik dari segi konstruksinya maupun jarak
15

peletakan terhadap sumber pencemaran masih sangat memprihatinkan disebabkan

karena adanya konstruksi SGL yang tidak memenuhi syarat kesehatan dan letaknya

kurang diperhatikan, sehingga mempunyai risiko tinggi terjadinya pencemaran

kualitas air baik yang berasal dari jamban, sampah dan dari air buangan lainnya

(Setiyono, 2014).

Hal-hal yang diperlukan dalam membuat air sumur dangkal adalah :

1. Sumur harus diberi tembok rapat air 3,00 m2 dari permukaan tanah,

agar perembesan air permukaan dapat dihindari.

2. Sekeliling sumur harus diberi rantai rapat air selebar 1 1,5 m 2 untuk

mencegah terjadinya pengotoran dari luar.

3. Pada lantai sekelilingnya harus diberi saluran pembuangan air kotor

agar air dapat tersalurkan dan tidak akan mengotori sumur.

4. Pengambilan air sebaiknyna dengan pipa kemudian air dipompa ke

luar.

5. Pada bibir sumur hendaknya diberi tembok pengaman setinggi 1 m2.

C. Arti Penting Air

Air adalah sarana utama untuk menigkatkan derajat kesehatan masyarakat

karena air merupakan media penularan penyakit, disamping itu juga pertambahan

jum;lah penduduk didunia ini yang semakin bertambah jumlahnya sehingga

menambah aktivitas kehidupan yang mau tidak mau menambah pencemaran air

yang pasa hakikatnya dibutuhkan (Sutrisno, 2000).

Pertumbuhan Penduduk yang begitu pesat mengakibatkan sumber daya air

didunia telah menjadi salah satu kekayaan yang sangat penting. Air merupakan hal
16

pokok bagi konsumsi dan sanitasi umat manusia, untuk produksi barang industri,

serta untuk produksi makanan dan kain. Air tidak tersebar merata di atas

permukaan bumi, sehingga ketersediaannya disuatu tempat sangat bervariasi

menurut waktu.

Air merupakan satu kebutuhan pokok yang tidak bisa dipisahkan dengan

kehidupan sehari-hari makhluk hidup didunia. Air merupakan bagian yang esensial

bagi makhluk hidup baik hewan, tumbuhan, maupun manusia. Semua mahkluk

hidup memerlukan air bahkan tanpa air memungkinkan tidak ada kehidupan.

Demikian pula manuasia mungkin dapat hidup selama beberapa hari tanpa makan

tetapi tidak akan bertahan hidup selama beberapa hari tanpa minum.

Air sangat penting untuk kehidupan bukanlah suatu yang baru karena telah

lama diketahui bahwa tidak satupun kehidupan yang ada didunia dapat

berlangsung terus tanpa air yang cukup. Banyak sekali bentuk kehidupan (baik

tumbuhan dan hewan) berada di air. Semua Kehidupan di bumi diyakini muncul

dari air. Sebagian besar tubuh semua organisme yang hidup terdiri dari air.

Sedangkan bagi manusia sendiri air merupakan kebutuhan yang mutlak karena

sebenarnya zat pembentuk tubuh manusia sebagian besar terdiri dari air yang

jumlahnya sekitar 73 % dari bagian tubuh.

Sehingga untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya manusia

berupaya mengadakan air yang cukup bagi dirinya. Akan tetapi banyak air

dipergunakan tidak selalu sesuai dengan syarat kesehatan, karena sering ditemui

air tersebut banyak mengandung bibit ataupun zat-zat tertentu yang dapat

menimbulkan penyakit yang justru membahayakan kelangsungan hidup manusia.


17

Padahal dalam menjalankan fungsi kehidupan sehari-hari manusia amat tergantung

pada air, karena air dipergunakan untuk mencuci, membersihkan, mandi, dan lain

sebagainya. Manfaat lain dari air berupa pembangkit tenaga, irigasi, media

transportasi, dan lain sebagainya yang sejenis dengan ini. Semakin maju tingkat

kebudayaan masyarakat maka penggunaan air makin meningkat.

D. Sarana Air Bersih

1. Sumur Gali ( Sumur Dangkal )

Sumur gali adalah satu konstruksi sumur yang paling umum dan

meluas dipergunakan untuk mengambil air tanah bagi masyarakat kecil

dan rumah- rumah perorangan sebagai air minum dengan kedalaman 7-

10 meter dari permukaan tanah. Sumur gali menyediakan air yang

berasal dari lapisan tanah yang relatif dekat dari permukaan tanah, oleh

karena itu dengan mudah terkena kontaminasi melalui rembesan.

Umumnya rembesan berasal dari tempat buangan kotoran manusia

kakus/jamban dan hewan, juga dari limbah sumur itu sendiri, baik

karena lantainya maupun saluran air limbahnya yang tidak kedap air.

Keadaan konstruksi dan cara pengambilan air sumur pun dapat

merupakan sumber kontaminasi, misalnya sumur dengan konstruksi

terbuka dan pengambilan air dengan timba.

Dari segi kesehatan sebenarnya penggunaan sumur gali ini kurang

baik bila cara pembuatannya tidak benar-benar diperhatikan, tetapi

untuk memperkecil kemungkinan terjadinya pencemaran dapat


18

diupayakan pencegahannya. Pencegahan ini dapat dipenuhi dengan

memperhatikan syarat-syarat fisik.

Syarat konstruksi pada sumur gali tanpa pompa meliputi dinding

sumur, bibir sumur, lantai sumur, serta jarak dengan sumber pencemar.

Sumur gali sehat harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :

1. Syarat Lokasi atau Jarak

Agar sumur terhindar dari pencemaran maka harus

diperhatikan adalah jarak sumur dengan jamban, lubang galian

untuk air limbah (cesspool, seepage pit), dan sumber-sumber

pengotoran lainnya. Jarak tersebut tergantung pada keadaan serta

kemiringan tanah.

a) Lokasi sumur pada daerah yang bebas banjir.

b) Jarak sumur >11 meter dari sumber pencemaran seperti kakus,

kandang ternak, tempat sampah, dan sebagainya. Selain itu

konstruksinya dibuat lebih tinggi dari sumber pencemaran.


19

.Gambar 2. Sumur Gali Tampa Pompa Tangan

2. Dinding Sumur Gali

a) Jarak kedalaman 3 meter dari permukaan tanah, dinding sumur

gali harus terbuat dari tembok yang kedap air (disemen). Dinding

bagian atas terbuat dari pasangan bata/batako/batu belah tebal

1/2 bata diplester adukan 1 PC : 2 PS stebal 1 cm atau pipa beton

kedap air 0,80cm x 1m atau beton bertulang 0,80 cm x 1 m. Hal

tersebut dimaksudkan agar tidak terjadi perembesan

air/pencemaran oleh bakteri dengan karakteristik habitat hidup

pada jarak tersebut. Selanjutnya pada kedalaman 1,5 meter

dinding berikutnya terbuat dari pasangan batu bata tanpa

semen /pecahan adukan PC/pecahan marmer ukuran 3 5 cm,


20

setebal 50 cm, sebagai bidang perembesan dan penguat dinding

sumur.

b) Kedalaman sumur gali dibuat sampai mencapai lapisan tanah

yang mengandung air cukup banyak walaupun pada musim

kemarau.

3. Bibir sumur gali

Untuk keperluan bibir sumur ini terdapat beberapa pendapat antara

lain :

a) Di atas tanah dibuat tembok yang kedap air setinggi minimal 70

cm untuk mencegah pengotoran dari air permukaan serta untuk

aspek keselamatan.

b) Dibuat lebih tinggi dari permukaan air banjir, apabila daerah

tersebut adalah daerah banjir.

c) Memiliki tutup sumur yang kuat dan rapat.

4. Lantai Sumur Gali

Beberapa persyaratan konstruksi lantai sumur antara lain :

a) Lantai sumur dibuat dari tembok yang kedap air 1,5 m

lebarnya dari dinding sumur. Dibuat agak miring dan ditinggikan

20 cm di atas permukaan tanah, bentuknya bulat atau segi empat.

b) Lantai sumur dibuat dari pasangan bata/batu belah diplester

dengan adukan 1 PC : 2 PS atau beton tumbuk 1 PC : 3 PS : 5

kerikil.

5. Saluran Pembuangan Air Limbah


21

Saluran Pembuangan Air Limbah dari sekitar sumur, dibuat

dari pasangan bata diplester adukan 1 PC : 3 PS. Panjang saluran

pembuangan air limbah (SPAL) sekurang-kurangnya 10 m.

Sedangkan pada sumur gali yang dilengkapi pompa, pada dasarnya

pembuatannya sama dengan sumur gali tanpa pompa, tapi air sumur

diambil dengan mempergunakan pompa. Kelebihan jenis sumur ini

adalah kemungkinan untuk terjadinya pengotoran akan lebih sedikit

disebabkan kondisi sumur selalu tertutup. (SNI 03 2916 1992)

6. Kebersihan lingkungan sekitar sumur

Kebersihan sekitar sumur merupakan hal yang sangat penting

sehingga tidak menimbulkan gangguan kesehatan serta menurunkan

nilai estetika. Sumur dangkal adalah salah satu konstruksi yang

paling umum dipergunakan untuk mengambil air tanah bagi

masyarakat kecil dan rumah-rumah perorangan sebagai air minum.

Sumur gali menyediakan air yang berasal dari lapisan air tanah yang

relatif dekat dari tanah permukaan, oleh karena itu dengan mudah

terkontaminasi melalui rembesan (Daud, 2002).

Penentuan persyaratan dari sumur gali didasarkan pada hal-hal sebagai berikut:

1. Kemampuan hidup bakteri patogen selama 3 hari dan perjalanan air

dalam tanah 3 meter/hari.

2. Kemampuan bakteri patogen menembus tanah secara vertical sedalam

3 meter.

3. Kemampuan bakteri patogen menembus tanah secara horizontal sejauh

1 meter.
22

4. Kemungkinan terjadinya kontaminasi pada saat sumur digunakan

maupun sedang tidak digunakan.

5. Kemungkinan runtuhnya tanah dinding sumur.

Pada filtrasi air sumur gali dengan menggunakan saringan

pasir cepat merupakan saringan air yang dapat menghasilkan debit

air hasil penyaringan yang lebih banyak dari pada saringan pasir

lambat. Walaupun demikian saringan ini kurang efektif untuk

mengatasi bau dan rasa yang ada pada air yang disaring. Selain itu

karena debit air yang cepat, lapisan bakteri yang berguna untuk

menghilangkan patogen tidak akan terbentuk sebaik apa yang terjadi

di Saringan Pasir Lambat.

Gambar 3. Sketsa saringan pasir cepat


23

Saringan pasir cepat juga bekerja atas dasar gaya gravitasi

melalui pasir berdiameter 0,2-2,0 mm, dan kerikil berdiameter 25-50

mm, kecepatan filtrasi 100-125 m/hari. Tebal pasir efektif sekitar 80-

120 cm. Saringan pasir cepat ini dapat menyaring telur cacing, kista

amoeba, larva cacing. Pasir cepat ini juga bisa digunakan untuk

mengurangi Fe dan Mn (Sanropie, 1984).

2. Sumur Bor ( Sumur Dalam )

Dengan cara pengeboran, lapisan air tanah yang lebih dalam

ataupun lapisan tanah yang jauh dari tanah permukaan dapat dicapai

sehingga sedikit dipengaruhi kontaminasi. Umumnya air ini bebas dari

pengotoran mikrobiologi dan secara langsung dapat dipergunakan

sebagai air minum. Air tanah ini dapat diambil dengan pompa tangan

maupun pompa mesin.


24

Gambar 4. Sumur Bor

E. Persyaratan Kualitas Air Bersih

Secara langsung atau tidak langsung pencemaran akan berpengaruh

terhadap kualitas air. Sesuai dengan dasar pertimbangan penetapan kualitas air

minum, usaha pengelolaan terhadap air yang digunakan oleh manusia sebagai air

minum berpedoman pada standar kualitas air terutama dalam penilaian terhadap

produk air minum yang dihasilkannya, maupun dalam merencanakan sistem dan

proses yang akan dilakukan terhadap sumber daya air (Anisa, 2005)

Kualitas air dipengaruhi beberapa hal antara lain iklim, geologi, waktu, dan

aktivitas manusia. Pada penelitian ini peneliti hanya membahas kualitas air yang

dipengaruhi oleh geologi yang menyebabkan menimbulkan unsur kimia tertentu.

Secara garis besar batuan dibumi ini dapat dikelompokan menjadi 3 macam batuan

yaitu batuan beku, batuan sedimen, dan batuan metamorf. Kondisi ketiga macam

batuan ini berbeda dalam bentuk, struktur, bahkan kekerasan serta unsur kimianya.

Sehingga air yang melalui ketiga macam batuan ini, kandungan kimia dan

konsentrasinya juga akan berbeda, karena susunan kimia masing-masing jenis

batuan tersebut berbeda dan kemudahan untuk dilarutkan juga berbeda.

a. Kualitas air pada batuan beku

Batuan beku terdiri dari batuan intrusi dan batuan ekstrusi. Batuan

intrusi bersifat impermeable, oleh karena itu air yang mengalir melalui

batuan intrusi akan sedikit kandungan kimianya, karena air mengalir

dengan cepat sehingga kontak antara air dengan batuan intrusi tersebut
25

tidak lama. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kualitas air yang

melalui batuan intrusi adalah rendah.

Lain halnya dengan batuan ekstrusi yang lebih bersifat permeable.

Pada batuan ini air dapat masuk menembus pori-pori batuan sehingga

memungkinkan terjadinya kontak antara air dengan batuan lebih lama.

Dengan demikian kualitas air pada batuan ekstrusi baik, maksudnya unsur-

unsur kimia yang terlarut berkadar cukup tinggi.

Contoh : Batuan intrus : Granit, diorit, gabro

Batuan ekstrus : Porfirit, Endesit, Basal

Umumnya pada batuan beku air banyak mengandung SiO2, CA, Fe,

Ag, dan K. Pada batuan ultra basa seperti gabro dan basal, akan ditandai

dengan banyaknya unsur Mg2+ ini sebagai akibat kandungan Mg yang

cukup tinggi pada batuan tersebut. Pada batuan rhiolit (ekstrusi), air yang

melalui batuan ini banyak mengandung silikat (SiO2).

b. Kualitas Air Pada batuan Sedimen

1. Batuan Pasir

Pada batuan pasir (Sand Stone) kandungan kimianya lebih

didominasi oleh unsur pengikatnya. Pada batuan pasir berupa pasir

yang membantu pada unsur pengikat yang ada diantara butir-butir

pasir. Pada kenyataannya unsur pengikat lebih mudah larut dalam

air jika dibandingkan dengan pasir itu sendiri, sehingga yang


26

banyak berpengarush pada kualitas air justru unsur pengikatnya

tersebut.

Contoh :

a) Batu pasir sungai, padas sumur dan padas sawah merupakan

batu pasir magnetik, dengan unsur pengikat Fe3O4 (ferri oksida),

sehingga air yang melalui batuan ini akan banyak mengandung

unsur besi (Fe).

b) Pada batuan pasir kwarsa, air yang melalui akan banyak

mengandung SiO3

c) Pada batuan margel (pasir halus) air yang melaluinya banyak

mengandung CaCO3

Secara rinci faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kualitas

air pada batuan pasir meliputi :

a. Material pengikat yang mengeras

b. Pergantian ion dan kation

c. Adanya reaksi reduksi membentuk pirit

d. Terjadinya mineralisasi dalam air.

2. Batu Lempung

Batuan lempung sering dijumpai pada breckist water (saline

water) di daerah lagon/pantai. Lagon adalah genangan air dipantai


27

namun air yang menggenangi berasal dari daratan, dan dalam

prosesnya mendapat pengaruh dari lautan.

Bahan asal abtuan lempung biasanya berasal dari tempat yang

tinggi. Daerah itu dengan akifer yang cukup luas. Air yang masuk

didaerah itu, karena selama mengalir telah mengalami kontak

dengan batuan yang dilalui, maka terjadi pelarutan lempung dalam

air yang mengalir tersebut. Pada air didaerah lagon ini, saline water

umumnya mengandung unsur Na, K cukup tinggi. Namun karena

tidak menetapnya Na, K ini maka sering terjadi pergantian ion yaitu

ion Na dan K diganti oleh ion Ca dan Mg.

3. Batuan Endapan (Presipitat)

Salah satu contoh batuan endapan adalah batuan gamping.

Secara umum kecepatan aliran air yang melalui batuan gamping

lebih cepat daripada batuan pasir. Pada batuan gamping gerakan air

hanya terjadi pada betuan luarnya saja, Sehingga kontak antara

batuan dan air secara keseluruhan kuran intensif. Akibatnya jumlah

zat terlarut yang dihasilkan pada batuan gamping kecil, lebih kecil

jika dibandingkan pada batuan pasir.

Contoh :

a. Air yang melalui batuan kapur banyak mengandung kalsium

dan bikarbonat.
28

b. Batuan kapur dolomit menghasilkan larutan Ca dan Mg dalam

air dengan perbandingan 1 : 1.

c. Kualitas Air Pada batuan Metamorf

Ciri utama dari batuan metamorf adalah bahwa pada umumnya

unsur batuan ini bersifat masif. Sifat demikian kurang mendukung bagi

pelarutan unsur kimia mineral kedalam air yang melaluinya, sehingga

air yang telah kontak dengan batuan ini senantiasi menunjukkan kualitas

air yang rendah, maksudnya air tidak mengandung unsur-unsur terlarut.

Seandainya air ini dijumpai unsur kimia terlarut yang tinggi, paling-

paling hanya unsur silikat sebagai akibat dari proses pelapukan kwarsa.

Jadi dari ketiga jenis batuan yaitu batuan beku, sedimen, dan metamorf,

sebenarnya kualitas air pada batuan metamorf adalah yang paling

rendah atau miskin unsur kimia terlarut.


Kualitas air yang baik adalah :

a. Secara fisik

1. Bau dan Rasa

Bau dan rasa air merupakan dua hal yang mempengaruhi

kualitas air secara bersamaan. Bau dan rasa dapat dirasakan

langsung oleh indra penciuman dan pengecap. Biasanya, bau dan

rasa saling berhubungan. Air yang berbau busuk memiliki rasa

kurang (tidak) enak. Bau dan rasa biasanya disebabkan oleh

adanya bahan-bahan organik yang membusuk, tipe-tipe tertentu

organisme mikroskopik, serta persenyawaan-persenyawaan kimia


29

seperti fenol. Bahan-bahan yang menyebabkan bau dan rasa ini

berasal dari berbagai sumber. Intensitas bau dan rasa dapat

meningkat bila di dalam air dilakukan klorinasi. Karena

pengukuran bau dan rasa itu tergantung pada reaksi individual,

maka hasil yang dilaporkan tidak mutlak. Untuk standard air

bersih dan air minum ditetapkan oleh Permenkes RI No. 416

Tahun 1990, yaitu tidak berbau dan tidak berasa (Depkes RI,

2002).

Bau dan rasa biasanya terjadi secara bersamaan dan

biasanya disebabkan oleh adanya bahan-bahan organik yang

membusuk, tipe-tipe tertentu organisme mikroskopik, serta

persenyawaan-persenyawaan kimia seperti phenol. Bahan-bahan

yang menyebabkan bau dan rasa ini berasal dari berbagai sumber.

Intensitas bau dan rasa dapat meningkat bila terdapat klorinasi.

Timbulnya rasa yang menyimpang biasanya disebabkan oleh

adanya bahan kimia yang terlarut, dan rasa yang menyimpang

tersebut umunya sangat dekat dengan baunya karena pengujian

terhadap rasa air jarang dilakukan. Air yang mempunyai bau yang

tidak normal juga dianggap mempunyai rasa yang tidak normal

(Moersidik, 1999)
2. Suhu

Secara umum, kenaikan suhu perairan akan mengakibatkan

kenaikan aktivitas biologi sehingga akan membentuk O 2 lebih

banyak lagi. Kenaikan suhu perairan secara alamiah biasanya


30

disebabkan oleh aktivitas penebangan vegetasi di sekitas sumber air

tersebut, sehingga menyebabkan banyaknya cahaya matahari yang

masuk tersebut memperngaruhi akuifer yang ada secara langsung

atau tidak langsung.

b. Secara kimia

Kandungan zat atau mineral yang bermanfaat dan tidak mengandung

zat beracun.

1. Besi

Besi adalah salah satu elemen kimiawi yang dapat ditemui

pada hampir setiap tempat-tempat di bumi, pada semua lapisan

geologis dan semua badan air. Pada umumnya, besi yang ada di

dalam air dapat bersifat terlarut sebagai Fe2+(fero) atau Fe3+ (feri);

tersuspensi sebagai butir koloidal (diameter <1 m) atau lebih

besar, seperti Fe2O3, FeO, Fe(OH)2, Fe(OH)3 dan sebagainya;

tergabung dengan zat organis atau zat padat yang anorganis (seperti

tanah liat).

Pada air permukaan jarang ditemui kadar Fe lebih besar dari 1

mg/l, tetapi di dalam air tanah kadar Fe dapat jauh lebih tinggi.

Konsentrasi Fe yang tinggi ini dapat dirasakan dan dapat menodai

kain dan perkakas dapur. Besi (Fe) berada dalam tanah dan batuan

sebagai ferioksida (Fe2O3) dan ferihidroksida (Fe(OH)3). Dalam air,

besi berbentuk ferobikarbonat (Fe(HCO3)2), ferohidroksida

(Fe(OH)2), ferosulfat (FeSO4) dan besi organik kompleks. Air tanah


31

mengandung besi terlarut berbentuk ferro (Fe2+). Jika air tanah

dipompakan keluar dan kontak dengan udara (oksigen) maka besi

(Fe2+) akan teroksidasi menjadi ferihidroksida (Fe(OH)3).

Ferihidroksida dapat mengendap dan berwarna kuning kecoklatan.

Hal ini dapat menodai peralatan porselen dan cucian. Bakteri

besi (Crenothrix dan Gallionella) memanfaatkan besi fero (Fe2+)

sebagai sumber energi untuk pertumbuhannya dan mengendapkan

ferrihidroksida. Pertumbuhan bakteri besi yang terlalu cepat

(karena adanya besi ferro) menyebabkan diameter pipa berkurang

dan lama kelamaan pipa akan tersumbat. Besi (Fe) dibutuhkan

tubuh dalam pembentukan hemoglobin. Banyaknya besi dalam

tubuh dikendalikan oleh fase adsorpsi.

Tubuh manusia tidak dapat mengekskresikan besi (Fe),

karenanya mereka yang sering mendapat transfusi darah, warna

kulitnya menjadi hitam karena akumulasi Fe. Air minum yang

mengandung besi cenderung menimbulkan rasa mual apabila

dikonsumsi. Sekalipun Fe diperlukan oleh tubuh, tetapi dalam dosis

yang besar dapat merusak dinding usus. Kematian sering

disebabkan oleh rusaknya dinding usus ini. Kadar Fe yang lebih

dari 1 mg/l akan menyebabkan terjadinya iritasi pada mata dan

kulit. Apabila kelarutan besi dalam air melebihi 10 mg/l akan

menyebabkan air berbau seperti telur busuk.

Debu Fe juga dapat diakumulasi dalam alveoli dan

menyebabkan berkurangnya fungsi paru-paru (Slamet, 2004). Air


32

yang mengandung banyak besi akan berwarna kuning dan

menyebabkan rasa logam besi dalam air, serta menimbulkan korosi

pada bahan yang terbuat dari metal. Besi merupakan hasil

pelapukan batuan induk yang banyak ditemukan diperairan umum.

Batas maksimal yang terkandung didalam air adalah 0,3 mg/l. Jika

Melebihi Ambang batas maka akan menimbulkan gangguan

kesehatan seperti Hipertensi hingga Stroke.

2. Mangan

Mangan merupakan unsur logam yang termasuk golongan

VII, dengan berat atom 54,93, titik lebur 12470C, dan titik didihnya

20320C (BPPT, 2004). Menurut Slamet (2007), mangan (Mn)

adalah metal berwarna kelabu-kemerahan, di alam mangan (Mn)

umumnya ditemui dalam bentuk senyawa dengan berbagai macam

valensi. Air yang mengandung mangan (Mn) berlebih

menimbulkan rasa, warna (coklat/ungu/hitam), dan kekeruhan

(Fauziah, 2010).

Toksisitas mangan relatif sudah tampak pada konsentrasi

rendah. Kandungan mangan yang diizinkan dalam air yang

digunakan untuk keperluan domestik yaitu dibawah 0,05 mg/l. Air

yang berasal dari sumber tambang asam dapat mengandung

mangan terlarut dengan konsentrasi 1 mg/l. Pada pH yang agak

tinggi dan kondisi aerob terbentuk mangan yang tidak larut seperti

MnO2, Mn3O4 atau MnCO3 meskipun oksidasi dari Mn2+ itu

berjalan relatif lambat (Achmad, 2004).


33

Dalam jumlah yang kecil (<0,5 mg/l) , mangan (Mn) dalam

air tidak menimbulkan gangguan kesehatan, melainkan bermanfaat

dalam menjaga kesehatan otak dan tulang, berperan dalam

pertumbuhan rambut dan kuku, serta membantu menghasilkan

enzim untuk metabolisme tubuh untuk mengubah karbohidrat dan

protein membentuk energi yang akan digunakan. (Anonymous,

2010).

Unsur Mn mempunyai sifat sifat yang sangat mirip dengan

besi sehingga pengaruhnya juga hampir sama. Mangan termasuk

logam esensial yang dibutuhkan oleh tubuh sebagaimana zat besi.

Tubuh manusia mengandung Mn sekitar 10 mg dan banyak

ditemukan di liver, tulang, dan ginjal. Mn dapat membantu kinerja

liver dalam memproduksi urea, superoxide dismutase, karboksilase

piruvat, dan enzim glikoneogenesis serta membantu kinerja otak

bersama enzim glutamine sintetase. Kelebihan Mn dapat

menimbulkan racun yang lebih kuat dibanding besi, serta

menimbulkan gangguan kesehatan berupa geala seperti Penyakit

Parkinson. Batas maksiamal mangan terkandung dalam air

maksimum sebesar 0.1 mg/l.

F. Pengertian Logam Berat

Istilah logam biasanya diberikan kepada semua unsur-unsur kimia dengan

ketentuan atau kaidah-kaidah tertentu. Unsur ini dalam kondisi suhu kamar, tidak

selalu berbentuk padat melainkan ada yang berbentuk cair. Logam-logam cair,

contohnya adalah air raksa atau hidragyrum (Hg), serium (Ce) dan gallium (Ga).
34

Logam berat masih tergolong logam dengan kriteria-kriteria yang sama

dengan logam-logam lain. Perbedaannya terletak dari pengaruh yang dihasilkan

bila logam berat ini berikatan dan atau masuk ke dalam tubuh organisme hidup.

Sebagai contoh, bila unsur logam besi masuk kedalam tubuh, meski dalam jumlah

berlebihan, biasanya tidaklah menimbulkan pengaruh yang buruk terhadap tubuh

karena unsur besi (Fe) dibutuhkan dalam darah untuk mengikat oksigen.

(Toksiologi logam berat).

Keberadaan logam-logam dalam badan perairan dapat berasal dari sumber-

sumber alamiah dari aktivitas yang dilakuakan oleh manusia. Sumber-sumber

alamiah yang masuk kedalam badan perairan bisa berupa pengikisan dari dari batu

mineral yang banyak disekitar perairan. Disamping itu partikel-partikel logam

yang ada di udara, dikarenakan oleh hujan, juga dapat menjadi sumber logam

diperairan. Adapun logam yang berasal dai aktivitas manusia dapat berupa

buangan sisa industri ataupun buangan rumah tangga.

Umumnya logam-logam yang terdapat dalam tanah dan perairan dalam

bentuk persenyawaannya, seperti senyawa hidroksida, senyawa oksida, senyawa

karbonat dan senyawa sulfida. Senyawa-senyawa ini sangat mudah larut dalam air.

Namun demikian pada badan perairan yang mempunyai derajat keasaman (pH)

mendekati normal pada daerah kisaran pH 7 sampai 8, kelarutan dari senyawa-

senyawa ini cenderung stabil.

Kenaikan pH pada badan perairan biasanya akan diikuti dengan semakin

kecilnya tingkat kelarutan dari senyawa-senyawa logam tersebut. Perubahan

tingkat stabil dari kelarutan tersebut biasanya terlihat dalam bentuk pergeseran
35

persenyawaan. Umumnya pada pH yang semakin tinggi, maka kestabilan akan

bergeser dari karbonat ke hidroksida. Hidroksida-hidroksida ini mudah sekali

membentuk ikatan permukaaan dengan partikel-partikel yang terdapat pada badan

perairan. Lama-kelamaan persenyawaan yang terjadi antara hidroksida dengan

partikel-partikel yang ada dibadan perairan akan mengendap dan membentuk

lumpur.

G. Mekanisme Toksisitas Logam Berat

Studi tentang hubungan antara struktur kimia dan biologi dari senyawa-

senyawa serta mekanismenya dalam tubuh telah dikembangkan untuk dapat

meramalkan cara kerja racun dalam tubuh.

Tabel 3. Mekanisme toksisitas logam Berat

Enzim Logam Fungsi


Ferredoksin Fotosintesis
Suksinat dehidrogenesa Oksidasi karbohidrat
Peroksidase Oksidasi bila ada peroksida

Katalase Fe Menguraikan Peroksida


Aldehid oksidase Oksidasi alhedid
Sitokrom Transportasi elektron
Arginase Mn Pembentukan urea
Piruvat karboksilase Metabolisme piruvat

Mekanisme keracunan terbagi atas dua fase, yaitu fase kinetik dan fase

dinamik. Fase kinetik meliputi proses-proses biologi biasa seperti ; penyerapan,

penyebaran dalam tubuh, metabolisme dam proses pembuangan atau ekresi.


36

Adapun fase dinamik meliputi semua reaksi reaksi biokimia yang terjadi dalam

tubuh, berupa katabolisme yang memilibatkan enzim-enzim.

Ochiai (1977), seorang ahli kimia telah mengelompokkan mekanisme

keracunan oleh logam ke dalam 3 kategori yaitu :

(1) Memblokir atau menghalangi kerja gugus fungsi biomolekul yang esensial

untuk proses-proses biologi, seperti protein dan enzim


(2) Mengganti ion-ion logam esesnsial yang terdapat dalam molekul terkait
(3) Mengadakan modifikasi atau perubahan bentuk dari gugs-gugus aktif yang

dimiliki oleh biomolekul

Mekanisme kerja reaksi dari logam terhadap protein, pada umumnya

menyerang ikatan sulfida. Penyerangan terhadap ikatan sulfida yang selalu ada

pada molekul protein itu akan menimbulkan kerusakan dari struktur protein

terkait.

Urutan yang merupakan tingkatan dari daya racun yang dimiliki oleh logam-

logam hampir tidak ada (atau dapat dikatakan sama). Namun demikian, pengaruh

racun yang dimiliki oleh logam-logam tersebut akan berbeda pada setiap

organisme yang menerima logam tersebut. Perbedaan pengaruh daya racun

tersebut bersesuaian dengan adanya pengelompokan ion-ion logam kedalam kelas

A, kelas B dan kelas antara.

Ion-ion logam yang berada atau digolongkan sebagai kelas A adalah ion-ion

logam yang dengan mudah dapat berikatan dengan gugus oksigen yang terdapat

dalam suatu molekul. Sebagai contoh adalah ion logam besi (Fe ++). Ion besi dalam

hemoglobin darah berfungsi untuk mengikat gugus oksigen yang masuk melalui
37

saluran pernafasan. Ion-ion yang digolongkan kedalam kelas B adalah ion-ion

logam yang cenderung untuk berikatan dengan gugus belerang (sulfur) atau

nitrogen. Sedangkan untuk ion-ion logam kelas Antara merupakan ion-ion logam

yang memiliki kemampuan untuk menggantikan tugas dari ion-ion logam lain dari

kelasnya sendiri dan ion-ion logam dari kelas A.

Persyaratan Kualitas Air Minum Golongan B

Tabel 4. Parametr Kimia

Parameter Satuan Kadar Maksimum Keterangan


yang diperbolehkan

1 2 3 4
Parameter Fisik

Warna TCU 15
Rasa dan bau - -
0
Suhu C Suhu udara + 3 0C Tdk berbau dan berasa

Sumber : Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor :


907/Menkes/SK/VII/2010/Tanggal 29 Juli 2010.

Tabel 5. Parametr Kimia

Kadar maksimum
Parameter Satuan Keterangan
yang diperbolehkan

1 2 3 4
Besi (Fe) (mg/Liter) 0,3
Mangan (Mn) (mg/Liter) 0,1

Sumber : Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor :


907/Menkes/SK/VII/2010/Tanggal 29 Juli 2010.
38

H. Spektrofotometri Serapan Atom

Metode SSA berprinsip pada absorbsi cahaya oleh atom. Atom-atom

menyerap cahaya tersebut pada panjang gelombang tertentu, tergantung pada

sifat unsurnya. Prinsip dasar spektrofotometri serapan atom adalah interaksi

antara radiasi elektromagnetik dengan sampel. Spektrofotometri serapan atom

merupakan metode yang sangat tepat untuk analisis zat pada konsentrasi

rendah. Tehnik ini adalah tehnik yang paling umum dipakai untuk analisis

unsur. Tehnik-tehnik ini didasarkan pada emisi dan absorbasi dari uap atom.

Komponen kunci pada metode spektrofotometri serapan atom adalah sistem

(alat) yang dipakai untuk menghasilkan uap atom dalam sampel.

Gambar. Spektrofotometri Serapan Atom

Cara kerja spektrofotometri serapan atom ini adalah berdasarkan atas

penguapan larutan sampel, kemudian logam yang terkandung di dalamnya

diubah menjadi atom bebas. Atom tersebut mengabsorbsi radiasi dari sumber

cahaya yang dipancarkan dari lampu katoda (Hollow Cathode Lamp) yang

mengandung unsur yang akan ditentukan. Banyaknya penyerapan radiasi

kemudian diukur pada panjang gelombang tertentu menurut jenis logamnya.


39

Gambar 3. Lampu Katoda Berongga

Jika radiasi elektomagnetik dikenakan kepada suatu atom, maka akan

terjadi eksitasi elektron dari tingkat dasar ke tingkat tereksitasi. Maka setiap

panjang gelombang memiliki energi spesifik untuk dapat tereksitasi ke

tingkat yang lebih tinggi. Besarnya energi dari tiap panjang gelombang

dapat dihitung dengan menggunakan persamaan :

E= h.

Dimana E= Energi (joule)

h= Tetapan Plank (6,63 . 10-34J.s)

Kecepatan Cahaya (3. 108 m/s)

Panjang Gelombang (nm)

Larutan sampel yang diaspirasikan ke suatu nyala dan unsur-unsur di

dalam sampel diubah menjadi uap atom sehingga nyala mengandung atom

unsur-unsur yang dianalisis. Beberapa diantara atom akan tereksitasi secara

termal oleh nyala, tetapi kebanyakan atom tatap tinggal sebagai atom netral

dalam keadaan dasar (ground state). Atom-atom ground state ini kemudian

menyerap radiasi yang diberikan oleh sumber radiasi yang terbuat oleh unsur-

unsur yang bersangkutan.

Panjang gelombang yang dihasilkan oleh sumber radiasi adalah sama

dengan panjang gelombang yang diabsorbsi oleh atom dalan nyala. Absorbsi

mengikuti hukum Lambert-Beer, yaitu absorbansi berbanding lurus dengan

panjang nyala yang dilalui sinar dan konsentrasi uap atom dalam nyala.

Kedua variable ini sulit untuk ditentukan tetapi panjang nyala dapat dibuat

konstan sehingga absorbansi hanya berbanding langsung dengan konsentrasi


40

analit dalam larutan sampel. Tehnik-tehnik analisisnya yaitu kurva kalibrasi,

standar tunggal dan kurva adisi standar.

Aspek kuantitatif dari metode spektrofotometri diterangkan oleh hukum

Lam-Beer, yaitu:

A= c atau A= a . b .c

Dimana:

Absorbansi Absorptivitas molar (mol/L)

b= Tebal Nyala (nm)

c= Konsentrasi (ppm)

a= Absorptivitas (gr/L)

Absorptivitas molar adalah suatu konstanta dan nilainya sangat spesifik

untuk jenis zat dan panjang gelombang tertentu, sedangkan tebal media (sel)

dalam prakteknya tetap. Dengan demikian absorbansi suatu spesies akan

merupakan fungsi linear dari konsentrasi, sehingga dengan mengukur

absorbansi suatu spesies konsentrasinya dapat ditentukan dengan

membandingkannya dengan konsentrasi larutan standar.

Teknik SSA menjadi alat yang canggih dalam analisis, ini disebabkan di

antaranya oleh kecepatan analisisnya, ketelitiannya sampai tingkat runut,

tidak memerlukan pemisahan pendahuluan. Kelebihan kedua adalah

kemungkinannya untuk menentukan konsentrasi semua unsur pada

konsentrasi runut. Ketiga, sebelum pengukuran tidak selalu perlu memisahkan

unsur yang ditentukan karena kemungkinan penentuan satu unsur dengan

kehadiran unsur lain dapat dilakukan asalkan katoda berongga yang

diperlukan tersedia.
41

Alat spektrofotometri serapan atom terdiri dari rangkaian dalam

diagram skematik berikut:

Gambar 4. Diagram Spektrometer Serapan Atom atau SSA

Keterangan :

1. Sumber sinar
2. Pemilah (Chopper)
3. Nyala
4. Monokromator
5. Detektor
6. Amplifier
7. Meter atau recorder

Metoda SSA mempunyai segi-segi yang baik sebagai berikut:

1. Spesifik.
2. Batas deteksi yang rendah.
3. Dari larutan yang sama, beberapa unsur yang dapat diukur.
4. Pengukuran dapat langsung dilakukan terhadap larutan.
5. Output data (Absorbansi) dapat dibaca langsung.
6. Cukup ekonomis.
7. Dapat diaplikasikan kepada banyak jenis unsur.
8. Batas kadar-kadar yang dapat ditentukan adalah amat luas.

Adapun instrumentasi SSA adalah sebagai berikut:

1. Sumber sinar

Sumber sinar yang lazim dipakai adalah lampu katoda

berongga (hollow cathode lamp). Lampu ini terdiri atas tabung kaca

tertutup yang mengandung suatu katoda dan anoda. Katoda sendiri

berbentuk silinder berongga yang terbuat dari logam atau dilapisi

dengan logam tertentu. Tabung logam ini diisi dengan gas mulia (neon

dan argon). Neon biasanya lebih disukai karena memberikan intensitas

pancaran lampu yang lebih rendah. Bila antara anoda dan katoda
42

diberi suatu selisih tegangan yang tinggi (600 volt), maka katoda akan

memancarkan berkas-berkas elektron yang bergerak menuju anoda

yang mana kecepatan dan energinya sangat tinggi. Elektron-elektron

dengan energi tinggi ini dalam perjalanannya menuju anoda akan

bertabrakan dengan gas-gas mulia yang diisikan tadi.

Setiap pengukuran dengan SSA kita harus menggunakan

Hallow Cathode Lamp khusus misalnya akan menentukan konsentrasi

besi dari suatu cuplikan. Maka kita harus menggunakan Hallow

Cathode khusus. Hallow Cathode akan memancarkan energi radiasi

yang sesuai dengan energi yang diperlukan untuk transisi elektron

atom.20 Hallow Cathode Lamp terdiri dari katoda cekung yang silindris

yang terbuat dari unsur yang sama dengan yang akan dianalisis dan

anoda yang terbuat dari tungsten. Dengan pemberian tegangan pada

arus tertentu, logam mulai memijar dan dan atom-atom logam

katodanya akan teruapkan dengan pemercikan.

Akibat dari tabrakan-tabrakan ini membuat unsur-unsur gas

mulia akan kehilangan elektron dan menjadi ion bermuatan positif. Ion-

ion gas mulia yang bermuatan positif ini selanjutnya akan bergerak ke

katoda dengan kecepatan dan energi yang tinggi pula. Sebagaimana

disebutkan di atas, pada katoda terdapat unsur-unsur yang sesuai

dengan unsur yang akan dianalisis. Unsur-unsur ini akan ditabrak oleh

ion-ion positif gas mulia. Akibat tabrakan ini, unsur-unsur akan

terlempar ke luar dari permukaan katoda. Atom-atom unsur dari katoda

ini kemudian akan mengalami eksitasi ke tingkat energi-energi


43

elektron yang lebih tinggi dan akan memancarkan spektrum pancaran

dari unsur yang sama dengan unsur yang akan dianalisis.

Salah satu kelemahan penggunaan lampu katoda berongga

adalah satu lampu digunakan untuk satu unsur, akan tetapi saat ini

telah banyak dijumpai suatu lampu katoda berongga kombinasi; yakni

satu lampu dilapisi dengan beberapa unsur sehingga dapat digunakan

untuk analisis beberapa unsur sekaligus.

Sumber radiasi lain yang sering dipakai adalah "Electrodless

Dischcarge Lamp" lampu ini mempunyai prinsip kerja hampir sama

dengan Hallow Cathode Lamp (lampu katoda cekung), tetapi

mempunyai output radiasi lebih tinggi dan biasanya digunakan untuk

analisis unsur-unsur As dan Se, karena lampu HCL untuk unsur-unsur

ini mempunyai signal yang lemah dan tidak stabil yang bentuknya

dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5. Electrodless Dischcarge Lamp

2. Tempat sampel

Dalam analisis dengan spektrofotometri serapan atom, sampel

yang akan dianalisis harus diuraikan menjadi atom-atom netral yang

masih dalam keadaan asas. Ada berbagai macam alat yang dapat
44

digunakan untuk mengubah suatu sampel menjadi uap atom-atom

yaitu dengan nyala (flame) dan dengan tanpa nyala (flamelees).

a. Nyala (Flame)

Nyala digunakan untuk mengubah sampel yang berupa

padatan atau cairan menjadi bentuk uap atomnya, dan juga berfungsi

untuk atomisasi. Pada cara spektrofotometri emisi atom, nyala ini

berfungsi untuk mengeksitasikan atom dari tingkat dasar ke tingkat

yang lebih tinggi.

1) Nyala Udara Asetilen

Biasanya menjadi pilihan untuk analisis mengunakan SSA.

Temperatur nyalanya yang lebih rendah mendorong terbentuknya

atom netral dan dengan nyala yang kaya bahan bakar pembentukan

oksida dari banyak unsur dapat diminimalkan.

2) Nitrous oksida-asetilen

Dianjurkan dipakai untuk penentuan unsur-unsur yang mudah

membentuk oksida dan sulit terurai. Hal ini disebabkan karena

temperatur nyala yang dihasilkan relative tinggi. Unsur-unsur tersebut

adalah: Al, B, Mo, Si, So, Ti, V, dan W.

Prinsip dari SSA, larutan sampel diaspirasikan ke suatu nyala

dan unsur-unsur di dalam sampel diubah menjadi uap atom sehingga

nyala mengandung atom unsur-unsur yang dianalisis. Beberapa

diantara atom akan tereksitasi secara termal oleh nyala, tetapi

kebanyakan atom tetap tinggal sebagai atom netral dalam keadaan

dasar ( ground state). Atom-atom ground state ini kemudian


45

menyerap radiasi yang diberikan oleh sumber radiasi yang terbuat

dari unsur-unsur yang bersangkutan. Panjang gelombang yang

dihasilkan oleh sumber radiasi adalah sama dengan panjang

gelombang yang diabsorbsi oleh atom dalam nyala.

Suhu yang dapat dicapai oleh nyala tergantung pada gas-gas

yang digunakan, misalnya untuk gas batu bara-udara, suhunya kira-

kira sebesar 1800 C; gas alam-udara; 1700 C; asetilen-udara; 2200

C; dan gas asetilen-dinitrogen oksida (N2O) sebesar 3000 C.

Pemilihan macam bahan pembakar dan gas pengoksidasi serta

komposisi perbandingannya sangat mempengaruhi suhu nyala. Pada

umumnya nyala dari gas asetilen-nitro oksida menunjukkan emisi

latar belakang (background) yang kuat. Efek emisi nyala dapat

dikurangi dengan menggunakan keping pemotong radiasi.

Sumber nyala yang paling banyak digunakan adalah campuran

asetilen bahan pembakar dan udara sebagai pengoksidasi. Propana-udara

dipilih untuk logam-logam alkali karena suhu nyala yang lebih rendah

akan mengurangi banyaknya ionisasi.

b. Tanpa nyala (Flamelees)

Teknik atomisasi dengan nyala dinilai kurang peka karena: atom

gagal mencapai nyala, tetesan sampel yang masuk kedalam nyala terlalu

besar, dan proses atomisasi kurang sempurna. Oleh karena itu

muncullah suatu teknik atomisasi yang baru yakni atomisasi tanpa

nyala. Sistem pemanasan dengan tanpa nyala ini dapat melalui 3 tahap

yaitu: pengeringan yang membutuhkan suhu yang relatif rendah rendah;


46

pengabuan yang membutuhkan suhu yang tinggi karena untuk

menghilangkan matriks kimia dengan mekanisme volatilasi atau

pirolisis; dan pengatoman.

3. Monokromator

Pada SSA, monokromator dimaksudkan untuk memisahkan dan

memilih panjang gelombang yang digunakan dalam analisis. Di samping

sistem optik, dalam monokromator juga terdapat suatu alat yang digunakan

untuk memisahkan radiasi resonansi dan kontinyu.

4. Detektor

Detektor merupakan alat yang mengubah energi cahaya menjadi

energi listrik, yang memberikan suatu isyarat listrik berhubungan \dengan

daya radiasi yang diserap oleh permukaan yang peka. Detektor juga

digunakan untuk mengukur cahaya yang melalui tempat pengatoman.

Detektor digunakan untuk mengukur intensitas cahaya yang melalui tempat

pengatoman.

5. Readout

Readout merupakan suatu alat penunjuk atau dapat juga diartikan

sebagai sistem pencatatan hasil. Pencatatan hasil dilakukan dengan suatu alat

yang telah terkalibrasi untuk pembacaan suatu trasmisi atau absorbsi. Hasil

pembacaan dapat berupa angka atau kurva dari suatu recorder yang

menggambarkan absorbansi atau intensitas emisi.

Untuk keperluan analisis kuantitatif dengan SSA, maka sampel harus

dalam bentuk larutan. Untuk menyiapkan larutan, sampel harus diperlakukan

sedemikian rupa yang pelaksanannya tergantung dari macam dan jenis


47

sampel. Yang penting untuk diingat adalah bahwa larutan yang akan

dianalisis haruslah sangat encer. Ada beberapa cara untuk melarutkan

sampel, yaitu:

a. Langsung dilarutkan dengan pelarut yang sesuai

b. Sampel dilarutkan dalam suatu asam

c. Sampel dilarutkan dalam suatu basa atau dilebur dahulu dengan basa

kemudian hasil leburan dilarutkan dalam pelarut yang sesuai.

Dalam analisa secara spektrometri teknik yang biasa dipergunakan antara lain:

a. Metode kurva kalibrasi

Dalam metode kurva kalibrasi ini, dibuat seri larutan standard

dengan berbagai konsentrasi dan absorbansi dari larutan tersebut diukur

dengan SSA. Selanjutnya membuat grafik antara konsentrasi (C) dengan

Absorbansi (A) yang akan merupakan garis lurus melewati titik nol dengan

slope = . B atau slope = a.b, konsentrasi larutan sampel diukur dan

diintropolasi ke dalam kurva kalibrasi atau di masukkan ke dalam

persamaan regresi linear pada kurva kalibrasi.

Disarankan absorbansi sampel tidak melebihi dari absorbansi baku

tertinggi dan tidak kurang dari absorbansi baku terendah. Dengan kata lain,

absorbansi sampel harus terletak pada kisaran absorbansi kurva kalibrasi.

Jika absorbansi terletak diluar kisaran absorbansi kurva kalibrasi maka

diperlukan pengenceran atau pemekatan. Ekstrapolasi atau pembacaan


48

absorbansi diluar kisaran absorbansi baku tidak direkomendasikan karena

kurangnya linieritas.

b. Metode standar tunggal

Metode ini sangat praktis karena hanya menggunakan satu larutan

standar yang telah diketahui konsentrasinya (Cstd). Selanjutnya absorbsi

larutan standard (Astd) dan absorbsi larutan sampel (Asmp) diukur dengan

spektrofotometri.

Dari hukum Beer diperoleh:

Astd = E. B. Cstd Asmp = E. B. Csmp

E. B = Astd/Cstd E. B = Asmp/Csmp

Sehingga:

Astd/Cstd = Asmp/Csmp Csmp = (Asmp/Astd).Cstd .........(3)

Dengan mengukur absorbansi larutan sampel dan standard, konsentrasi

larutan sampel dapat dihitung.

c. Metode adisi standard

Metode ini dipakai secara luas karena mampu meminimalkan

kesalahan yang disebabkan oleh perbedaan kondisi lingkungan (matriks)

sampel dan standard. Dalam metode ini dua atau lebih sejumlah volume

tertentu dari sampel dipindahkan ke dalam labu takar. Satu larutan diencerkan

sampai volume tertentu, kemudian diukur absorbansinya tanpa ditambah

dengan zat standard, sedangkan larutan yang lain sebelum diukur

absorbansinya ditambah terlebih dulu dengan sejumlah tertentu larutan

standard dan diencerkan seperti pada larutan yang pertama. Menurut hukum

Beer akan berlaku hal-hal berikut:


49

Ax = k.Cx; AT = k(Cs+Cx) .................(4)

Keterangan:

Cx = konsentrasi zat sampel

Cs= konsentrasi zat standar yang ditambahkan ke larutan sampel Ax =

Absorbansi zat sampel (tanpa penambahan zat standar)

AT = Absorbansi zat sampel + zat standar

Jika kedua persamaan di atas digabung, akan diperoleh:

Cx = Cs x {Ax/(AT-Ax)} .........................................................(5)

Konsentrasi zat dalam sampel (Cx)dapat dihitung dengan mengukur Ax

dan AT dengan spektrofotometer. Jika dibuat suatu seri penambahan zat

standar dapat pula dibuat suatu grafik antara AT lawan C s, garis lurus yang

diperoleh diekstrapolasi ke AT = 0, sehingga diperoleh:

Cx = Cs x {Ax/(0-Ax)} ; Cx = Cs x (Ax/-Ax) ...........................(6)

Metode pelarutan apapun yang akan dipilih untuk dilakukan analisis

dengan SSA, yang terpenting adalah bahwa larutan yang dihasilkan harus

jernih, stabil, dan tidak mengganggu zat-zat yang akan dianalisis. Ada

beberapa metode kuantifikasi hasil analisis dengan metode SSA salah

satunya dengan menggunakan kurva kalibrasi.

AAS bukan merupakan metode analisis yang obsolut. Suatu

perbandingan dengan baku (biasanya berair) merupakan metode yang umum

dalam melakukan metode analisis kuantitatif. Kurva kalibrasi dalam SSA

dibuat dengan memasukkan sejumlah tertentu konsentrasi larutan dalam

sistem dilanjutkan dengan pengukuran. Dalam prakteknya disarankan untuk

membuat paling tidak 4 baku dan 1 blanko untuk membuat kurva kalibrasi
50

linier yang menyatakan hubungan antara absorbansi (A) dengan konsentrasi

analit untuk melakukan analisis. Disarankan absorbansi sampel tidak

melebihi dari absorbansi baku tertinggi dan tidak kurang dari absorbansi

baku terendah. Dengan kata lain, absorbansi sampel harus terletak pada

kisaran absorbansi kurva kalibrasi.

I. Kerangka Konseptual

Air merupakan unsur utama bagi kehidupan kita dibumi ini. Kita

mampu bertahan hidup tanpa makan dalam beberapa minggu, namun

tampa air kita akan mati dalam beberapa hari saja. Dengan berkembangnya

zaman kegunaan air telah dilipat gandakan oleh makhluk hidup terutama

manusia. Sumber-sumber air semakin dicemari oleh limbah industri dan

rum ah tangga yang tidak diolah atau tercemar karena penggunaannya yang

melebihi kapasitasnya untuk dapat diperbaharui.


Masalah air bersih merupakan hal yang paling vital bagi kehidupan

kita. Dimana setiap hari kita membutuhkan air bersih untuk minum,

memasak, mandi, mencuci dan sebagainya. Dengan air bersih tentunya

membuat kita terhindar dari penyakit. Untuk itu diperlukan kajian tentang

kualitas air dengan melihat persyaratan air bersih berupa kondisi kimia (Fe

dan Mn) yang sesuai dengan standar Depertemen Kesehatan Republik

Indonesia. Dengan memperhatikan kondisi-kondisi diatas diharapkan air

yang digunakan untuk kebutuhan rumah tangga khususnya air minum

dapat memenuhi standar yang ditetapkan oleh Dep. Kes RI, supaya

masyarakat terhindar dari penyakit dan gangguan kesehatan. Untuk lebih

jelasnya kerangka konseptual dapat dilihat pada gambar dibawah ini.


51

Air Sumur

Air Tanah Dangkal

Kondisi Fisika (Suhu, Rasa, Bau)

Kondisi Kimia (Fe dan Mn)

Standar Dep. Kes. RI No. 97/ 2002

Uji Laboratorium

Kualitas Air Tanah Dangkal Untuk Air Minum

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual


52

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif deskriptif.

Penelitian kuantitatif deskriptif bertujuan membuat gambaran secara

sistematis, faktual dan akurat mengenai faktor sifat-sifat serta hubungan

yang diteliti. Metode dan teknik penelitian ini mencakup bagaimana

memperoleh data, cara-cara yang digunakan serta alat yang digunakan

untuk melaksanankan pengukuran di lapangan dan di laboratorium

sehingga dapat dicapai tujuan penelitian (Suyanti, 1998).

B. Bahan dan Alat Penelitian

Untuk melaksanakan penelitian ini, maka perlu bahan-bahan sebagai

berikut :

1. Peta DAS Kota padang

2. Peta DAS Batang Arau

3. Peta Administrasi Kecamatan Padang Barat

4. Peta Adminitrasi Kecamatan Padang Selatan

5. Peta Penggunaan Kawasan Muara Sungai Batang Arau

6. Peta Geologi Kawasan Muara Sungai Batang Arau


53

7. Peta Jenis Tanah Kawasan Muara Sungai Batang Arau

8. Peta Lokasi Penelitian

9. Peta Sampel

10. Alat yang digunakan :

a. Komputer/laptop

b. Spektrofotometri Serapan Atom (AAS)

c. Software pendukung, seperti: Arcgis dan Microsoft

d. Botol sampel untuk menyimpan sampel

e. Meteran

f. Buku dan alat tulis

g. Alat-alat laboratorium kimia

C. Jenis Data

Berdasarkan sumber data, maka data yang digunakan pada penelitian

ini adalah data primer dan data sekunder. Data Primer diperoleh dari

pengambilan sampel langsung di lapangan yang kemudian di uji

dilaboratorium. Sedangkan data sekunder adalah yang diperoleh dari

pustaka dan berbagai instansi yang ada.

D. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data adalah suatu proses pengadaan data untuk

kepentingan penelitian. Teknik pengumpulan data dilakuakan sesuai

dengan metode penelitian yang dilakukan. Secara rinci, perolehan data

sebagai berikut :

a. Teknik Perngumpulan Data Primer


54

Teknik pengumpulan data primer dilakukan dengan melakukan

pengukuran, pengamatan, dan wawancara tersruktur. Data primer

diambil dari sampel penelitian yang telah direncanakan. Adapun data

yang diambil langsung di lapangan adalah data tentang kualitas air

tanah dangkal yang berasal dari sumur-sumur penduduk yang

selanjutnya diuji di laboratorium.

b. Teknik Pengumpulan Data Sekunder

Teknik ini ditempuh untuk mengungkap variabel air sumur sebagai air

bersih yang digunakan oleh masyarakat di Kawasan Muara Sungai

Batang arau Kota Padang. Data sekunder diperoleh dari buku dan

teori-teori yang mendukung penelitian dan instansi-instansi terkait.

E. Teknik Penentuan Sampel

Penentuan wilayah penelitian ini berdasarkan teknik purposive

sampling, dimana pengambilan sampel dilakukan secara sengaja dan telah

sesuai dengan semua persyaratan sampel yang diperlukan.

F. Tahap tahap Penelitian

1. Tahap persiapan

a. Studi kepustakaan

b. Observasi pendahuluan pada daerah rencana penelitian

c. Observasi kesediaan data sekunder

d. Orientasi ketersediaan alat-alat laboratorium

e. Persiapan peta yang berkaitan dengan penelitian


55

2. Tahap Lapangan

a. Persiapan

Pada tahap ini, penulis menyiapkan segala macam alat-alat yang

dibutuhkan saat turun ke lapangan seperti peta sampel, tempat

pengambilan sampel (botol, tali dan meteran untuk mengukur

ketinggian sumur) dan alat-alat yang dibutuhkan di lapangan.

b. Observasi lapangan

Tahap ini diawali dengan orientasi peta kemudian diikuti dengan

pengamatan air sumur. Pengamatan ini dilakukan didaerah sampel

yang diarahkan pada sifat kimia (logam besi (Fe) dan mangan

(Mn)) pada air sumur yang bisa mempengaruhi kualitas air untuk

kebutuhan air minum

3. Tahap Pasca Lapangan

Pada tahap ini dilakukan pengumpulan data yang diperoleh di

lapangan, setelah itu dilakukan pengolahan data. Data yang tidak bisa

diolah langsung di lapangan seperti pengambilan sampel air, dianalisa

dan diinterprestasikan di laboratorium.


56

Peta DAS
Kota Padang

Clip

Peta Das Batang Arau

Peta Peta Peta Peta Peta


Administrasi Penggunaan Geologi Kota Tanah Kota Administrasi
Kecamatan Lahan Kota Padang Padang Kecamatan
Padang Selatan Padang Padang Barat

Overlay

Peta Lokasi Penelitian

Peta Sampel

Data Primer Data Sekunder

Analisis
kandungan logam besi Kualitas Air Minum Berdasarkan
(fe) dan mangan (Mn)
di laboratorium Kep. Menkes RI No: 907/2002
57

Peta Persebaran Fe dan


Mn dalam airtanah
dangkal

Gambar 3.1 Kerangka Alur Penelitian

G. Teknik Analisis Data

Untuk mengetahui kelayakan air tanah dangkal di Kawasan Muara

Sungai Batang Arau sebagai air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

Penelitian dilakukan dengan cara observasi dan wawancara berdasarkan

kuesioner dengan teknik analisa data pada penelitian ini adalah analisa

laboratorium, yaitu untuk mengetahui kualitas air sumur dangkal sebagai

air bersih untuk kebutuhan sehari-hari masyarakat di Kawasan Muara

Sungai Batang Arau Kota Padang dan dianalisa secara deskriptif

berdasarkan keputusan Menteri kesehatan RI Nomor: 970/2002 tentang

syarat-syarat dan pengawasan kualitas air minum, khususnya untuk batas

kadar kandungan logam besi (Fe) dan mangan (Mn).


58

BAB IV
HASIL PENELITIAN

A. Temuan Penelitian
1. Gambaran Umum Wilayah Penelitian
a. Letak Geografis Kota Padang secara umum
Kota Padang adalah kota terbesar di pantai barat Pulau

Sumatera sekaligus Ibukota dari Provinsi Sumatera Barat. Kota Padang

membujur dari Utara ke Selatan memiliki pantai sepanjang 68,126 km

dan terdapat deretan Bukit Barisan, perpaduan kedua letak tersebut

menjadikan Kota Padang memiliki alam yang sangat indah dan

menarik. Secara geografis, Kota Padang berada di antara 004400-

010835LS dan 1000505-1003409 BT. Kota Padang memiliki

luas wilayah 694,96 km yang terdiri dari 11 (sebelas) kecamatan dan

104 (seratus empat) kelurahan yang membujur dari Utara ke Selatan.

Luas wilayah kecamatan di Kota Padang dapat dilihat dari tabel 7

berikut:

Tabel 6. Luas Wilayah Kota Padang per Kecamatan


Tahun 2015
Luas Wilayah
No Nama Kecamatan
(Ha)
1 Padang Barat 7,00
2 Padang Timur 8,15
3 Padang Utara 8,08
4 Padang Selatan 10,03
59

5 Nanggalo 8,07
6 Kuranji 57,41
7 Pauh 146,29
8 Lubuk Begalung 30,91
9 Lubuk Kilangan 85,99
10 Koto Tangah 232,25
11 Bungus Teluk Kabung 100,78
Total 694,96
Sumber : Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Padang
tahun 2016.

Berdasarkan tabel luas wilayah Kota Padang per kecamatan di

atas, kecamatan yang paling luas adalah Kecamatan Koto Tangah

dengan luas wilayahnya 232,25 ha, diikuti oleh Kecamatan Pauh

dengan luas wilayah 146,29 ha, sedangkan kecamatan dengan luas

yang paling kecil adalah Kecamatan Padang Barat dengan luas

wilayahnya adalah 7,00 km .

Kota Padang terletak pada ketinggian antara 0 2.075 meter di

atas permukaan laut (dpl). Wilayah dengan ketinggian di atas 500 m

dpl terletak memanjang dari arah Timur Laut hingga Selatan Kota

Padang. Wilayah tersebut merupakan rangkaian dari Pegunungan Bukit

Barisan di Pulau Sumatera, dengan punggung gunung menjadi batas

administratif antara Kota Padang dengan kabupaten sekitarnya. Adapun

wilayah dengan ketinggian di bawah 500 m dpl terletak di bagian Barat

Kota Padang, yang hingga saat ini telah berkembang menjadi kawasan

perkotaan dan sebagian kecil di bagian Selatan kota tersebut. Di bawah

ini merupakan tabel ketinggian kecamatan di Kota Padang.

Tabel 7. Ketinggian Wilayah Daratan Kota Padang


Menurut Kecamatan
No Kecamatan Ketinggian (mdpl)
60

1 Padang Barat 08
2 Padang Timur 4 10
3 Padang Utara 0 25
4 Padang Selatan 0 322
5 Nanggalo 38
6 Kuranji 8 1000
7 Pauh 10 1600
No Kecamatan Ketinggian (mdpl)
9 Lubuk Kilangan 25 1853
10 Koto Tangah 0 1600
Bungus Teluk
11 0 850
Kabung
Sumber : Badan Pertanahan Nasional Kota Padang,
2016.

Ketinggian wilayah Kota Padang dari permukaan laut yang

bervariasi merupakan kawasan yang telah ditetapkan sebagai kawasan

hutan lindung umumnya terdapat di wilayah Timur Kota Padang.

Wilayah yang mempunyai topografi relatif datar adalah Kecamatan

Padang Utara, Padang Barat, Padang Timur, Nanggalo, dan sebagian

Kecamatan Kuranji, Pauh, Lubuk Begalung, Lubuk Kilangan serta

sebagian kecil Padang Selatan. Sedangkan wilayah perbukitan terdapat

di sebagian besar Wilayah Kecamatan Koto Tangah bagian timur,

Kecamatan Pauh, Lubuk Kilangan dan Kecamatan Bungus Teluk

Kabung.

Kota Padang berbatasan dengan wilayah sebagai berikut:


1. Sebelah Utara dengan Kabupaten Padang Pariaman
2. Sebelah Barat dengan Samudera Hindia
3. Sebelah Timur dengan Kabupaten Solok
4. Sebelah Selatan dengan Kabupaten Pesisir Selatan
Lebih jelasnya perbatasan Kota Padang dengan wilayah

lain, dapat dilihat pada gambar 29. Secara ringkas kondisi geografis

Kota Padang dapat digambarkan dalam tabel 9 berikut :


Tabel 8. Kondisi Umum Kota Padang
61

No Uraian Data
004400- 010835LS dan
1 Letak wilayah
1000505- 1003409 BT
Luas wilayah
2 694,96 km
darat
3 Luas wilayah laut
720 km
4 Panjang pantai 68,126 km
5 Temperatur 22o C 31,7oC
6 Curah hujan 384,88 mm/bulan
5 sungai besar dan 16 sungai
7 Jumlah sungai
kecil
8 Jumlah pulau 19 pulau
Sumber : Profil Kota Padang (BMG, Dinas pertambangan dan
Energi Sumater Barat) 2016.

b. Lokasi Penelitian

- Sebelah utara : berbatasan dengan DAS Batang Kuranji

- Sebelah selatan : berbatasan dengan DAS Timbalun dan DAS

Batang Tarusan

- Sebelah timur : berbatasan dengan Kabupaten Solok

- Sebelah barat : berbatasan dengan Samudera Indonesia

Secara geografis, DAS Batang Arau terletak pada

0o48 sampai dengan 0o56LS dan 100o21 sampai dengan

100o33 BT, dengan ketinggian 0 sampai dengan 1.210 m dari

permukaan laut (dpl). Sungai Batang Arau merupakan sungai utama

pada DAS Batang Arau, yang sumber airnya berasal dari Sungai

Lubuk Paraku, Sungai Padang Idas, dan Sungai Lubuk Sarik.

Daerah tangkapan air DAS Batang Arau bagian hulu hanya sekitar

3.090 hektar (30,90 Km2), meliputi kawasan konservasi, hutan

lindung dan lahan milik masyarakat.


62

c. Kondisi Demografis
a. Jumlah Penduduk
Berdasarkan hasil pengolahan data Sistem Informasi

Administrasi Kependudukan (SIAK) Kota Padang tahun 2016, terdapat

jumlah penduduk sebanyak 873.086 jiwa, yang terdiri dari perempuan

sebanyak 433.303 jiwa atau sebanyak 49,63% dan laki-laki sebanyak

439.783 jiwa atau sebesar 50,37%. Secara umum penduduk Kota

Padang dilihat dari jenis kelamin, penduduk laki-laki lebih besar

jumlahnya dari penduduk perempuan. Untuk lebih jelas dapat dilihat

pada tabel 10 berikut:

Tabel 9. Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan dan Jenis Kelamin, Kota Padang
Tahun 2016
Laki-Laki Perempuan L+P
No Kecamatan
(Jiwa) % (Jiwa) % (Jiwa) %
1 Padang Barat 24,681 2,83 24,713 2,83 49,394 5,66
2 Padang Timur 41,143 4,71 40,930 4,69 82,073 9,4
3 Padang Utara 9,054 3,33 28,467 3,26 57,521 6,59
4 Padang Selatan 1,934 3,66 31,945 3,66 63,879 7,32
5 Nanggalo 8,304 3,24 28,672 3,28 56,976 6,53
6 Kuranji 9,026 7,91 67,509 7,73 136,535 15,64
7 Pauh 29,075 3,33 28,022 3,21 57,097 6,54
8 Lubuk Begalung 58,457 6,7 57,182 6,55 115,639 13,24
9 Lubuk Kilangan 28,340 3,25 27,409 3,14 55,749 6,39
10 Koto Tangah 86,497 9,91 85,958 9,85 172,455 19,75
Bungus Teluk
11 3,272 1,52 12,496 1,43 25,768 2,95
Kabung
Total 439,783 50,37 433,303 49,63 873,086 100
Sumber : Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Padang tahun 2016

Lain halnya dengan wilayah lokasi penelitian penulis. Mayoritas

penduduk laki-laki lebih mendominasi dari penduduk perempuan

terutama dikelurahan berok nipah yang jumlah penduduk laki-lakinya

2.894 jiwa sedangkan jumlah penduduk perempuan hanya 2.171 jiwa.

Tabel 10. Sex Ratio per Kelurahan


63

N Jenis kelamin Jumla Sex


Kelurahan
o Laki-laki Perempuan h Ratio
1 Berok Nipah 2.894 2.171 5.065 133,3
2 Batang Arau 2.223 2.208 4.431 101
Sumber : Padang dalam angka 2016

b. Kepadatan Penduduk
Kepadatan penduduk di Kota Padang dengan luas 694,96

km2, Kota Padang didiami oleh 873.086 jiwa atau dengan

kepadatan sebesar 1.256 jiwa/km2. Dengan kata lain rata-rata setiap

km2 Kota Padang didiami sebanyak 1.256 jiwa.

Tabel 11. Jumlah Penduduk dan Luas Wilayah Per Kecamatan


Tahun 2016
Jumlah Luas Kepadatan
No Kecamatan Penduduk Wilayah Penduduk
(Jiwa) (km2) (Jiwa)
1 Padang Barat 49,394 7 7,056
2 Padang Timur 82,073 8,15 10,070
3 Padang Utara 57,521 8,08 7,119
4 Padang Selatan 63,879 10,03 6,369
5 Nanggalo 56,976 8,07 7,060
6 Kuranji 136,535 146,29 2,378
7 Pauh 57,097 146,29 390
8 Lubuk Begalung 115,639 30,91 3,741
9 Lubuk Kilangan 55,749 85,99 648
10 Koto Tangah 172,455 232,25 743
Bungus Teluk
11 25,768 100,78 256
Kabung
Total 873,086 694,96 1,256
Sumber : Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Padang
tahun 2016.

Persebaran penduduk di setiap kecamatan, dapat terlihat

bahwa Kecamatan Padang Timur merupakan wilayah terpadat

dengan kepadatan sebesar 10.070 jiwa/km2, Kecamatan Padang

Barat sebesar 7.056 jiwa/km2, dan Kecamatan Padang Selatan


64

sebesar 6.369 jiwa/km2, sedangkan wilayah dengan kepadatan

terrendah di Kecamatan Bungus Teluk Kabung yaitu sebesar 256

jiwa/ km2 dan terkecil selanjutnya terdapat pada Kecamatan Pauh,

Lubuk Kilangan dan Koto Tangah.

Jika melihat lokasi penelitian yang hanya terdiri dari 2

kelurahan dari 2 kecamatan. Kepadatan penduduk lebih tinggi di

kelurahan batang arau daripada kelurahan berok nipah. Kelurahan

batang arau merupakan kelurahan paling selatan dari kecamatan

madang selatan yang langsung menghadap samudera hindia yang

berada pada kawasan muara sungai batang arau. Kepadatan

penduduk dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 12. Kepadatan Penduduk per Kelurahan


No Kelurahan Luas Area Penduduk Kepadatan
1 Berok Nipah 0,31 5.065 16.339
2 Batang Arau 0,34 4.431 13.302
Sumber : Padang dalam Angka 2016

d. Iklim

Kota Padang mempunyai iklim tropis dimana hujan turun

hampir sepanjang tahun. Tingkat curah hujan di Kota Padang

mencapai rata-rata 336,25 mm per bulan dengan rata-rata hari

hujan 16 hari per bulan pada tahun 2016. Tingkat curah hujan

tertinggi terjadi pada Bulan Maret sebesar 585,4 mm dan sering

terjadi hujan sepanjang bulan, yakni dengan banyaknya hari hujan

terjadi selama 16 hari sedangkan terendah terjadi pada Bulan Juli

sebesar 194,9 mm yang terjadi hujan selama 16 hari.


65

Hari hujan terlama/sering terjadi hujan sepanjang bulan

adalah pada Bulan November, yakni selama 27 hari dengan curah

hujan sebesar 575 mm dan hari hujan tersingkat/jarang terjadi

hujan yakni pada Bulan Januari, Mei dan Juni yang hanya terjadi

selama 10 hari dengan curah hujan masing-masing sebesar 216

mm, 214,9 mm dan 244,9 mm.

Tabel 13. Kondisi Temperatur dan Kelembaban Menurut Bulan di Kota Padang Tahun
2016

Suhu Udara (0C) Kelembaban


Bulan
Maksimum Minimum Rata-rata Rata-rata (%)
Januari 32.2 22.2 26.8 80
Februari 31.7 22.9 26.7 78
Maret 32.0 22.3 26.6 81
April 32.7 23.0 27.3 80
Mei 32.5 23.0 27.3 81
Juni 32.1 22.5 26.7 81
Juli 31.7 22.6 26.5 82
Agustus 30.2 22.6 25.9 85
September 30.4 22.6 26.0 86
Oktober 30.3 23.3 26.1 87
November 30.6 23.2 26.2 84
Desember 30.6 23.3 26.3 84
Sumber : Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika 2016

Selama Tahun 2016 suhu udara Kota Padang terjadi cukup

tinggi yaitu antara 22,2 oC s/d 32,7 oC. Suhu udara maksimum

terjadi pada bulan April sebesar 32,7 oC dengan suhu minimum

sebesar 22,3 oC, hal ini menunjukkan bahwa sepanjang Bulan April

suhu udara Kota Padang sangat panas dengan rata-rata kelembaban

80%. Rata-rata kelembaban sepanjang Tahun 2016 berkisar antara

78% 87%.
66

e. Topografi

Kota Padang memiliki topografi yang bervariasi terdiri dari

perpaduan daratan yang landai dan perbukitan bergelombang yang

curam. Sebagian besar topografi wilayah Kota Padang memiliki

tingkat kelerengan lahan rata-rata > 40%.

Tabel 14. Topografi dan Ketinggian Wilayah Kota Padang Tahun 2016
Luas
No Kondisi Topografi
Ha Persentase (%)
I Kelerengan Lahan
0 2% Datar 16.379,82 23,57
3 15% Bergelombang 5.510,93 7,93
16 40% Curam 13.219,48 19,02
>40% Sangat Curam 34.385,77 49,48
Jumlah 69.496,00 100,00
II Ketinggian
0 25 m dpl 15.898,68 22,88
25 100 m dpl 6.479,39 9,32
100 500 m dpl 19.324,56 27,81
100 1.000 m dpl 15.787,23 22,72
>1.000 m dpl 12.006,13 17,28
Jumlah 69.496,00 100,00

Sumber : Babpeda Kota Padang, 2016

Wilayah Kota Padang yang berada dipantai barat Pulau

Sumatera mempunyai topografi bervariasi perpaduan dataran

rendah, perbukitan dan daerah aliran sungai. Bagian utara Kota

Padang merupakan daerah pantai, perbukitan dan sebagian daratan

tinggi.

Bagian barat Kota Padang terdiri dari daratan rendah yang

landai dengan ketinggian rata-rata 0 25 meter di atas permukaan

laut. Kearah timur dan selatan topografi wilayah Kota Padang


67

merupakan daerah perbukitan, bergelombang dan curam dengan

ketinggian yang bervariasi, dimana yang tertinggi mencapai 1.800

meter di atas permukaan laut pada kawasan yang berbatasan

dengan Kabupaten Solok.

f. Geologi

Wilayah Kota Padang terbentuk oleh endapan permukaan,

batuan vulkanik dan intrusi serta batuan sedimen dan betamorf.

Aliran yang tidak teruraikan (Qtau) mencakup seluruh kawasan

Bukit Barisan yang ada di wilayah Kota Padang dan sekitar kawasan

Gunung Padang serta Bukit Air Manis. Aluvium (Qal) yang

menyebar dari utara ke selatan di seluruh dataran rendah wilayah

Kota Padang umumnya terdiri dari Lanau, Lempeng, Pasir

Lempung, Lempeng Pasiran, dan Bongkahan Batuan Andesit.

Kipas Aluvium (Qf) terlihat pada singkapan di bagian bawah

lereng-lereng pegunungan dan perbukitan Bukit Barisan dan

sebagian bersebelahan dengan kipas aluvium setempat yang terdapat

di Bukit Air Manis. Sebagian besar menutupi perbukitan di

sepanjang pantai bagian selatan wilayah Kota Padang mulai dari

Telung Nibung hingga keperbukitan Labuan Tarok Kecamatan Teluk

Kabung. Andesit dan Tufa (Qtta dan QTp) yang terlihat pada

singkapan setempat di perbukitan yang berdekatan dengan daerah


68

Pengambiran dan Tarantang, Perbukitan sekitar Air Dingin yang

bersebelahan dengan batu gamping.

Kipas Alluvium (Qt) merupakan batuan terdiri dari

rombakan batuan andesit berupa bongkah-bongkah yang berasal dari

gunung api strato, berwarna abu-abu kehitaman, keras, komposisi

mineral piroksen, homblende dan mineral hitam lainnya. Batuan ini

tersebar di bagian bawah lereng-lereng pegunungan dan perbukitan

sekitar Bukit Nago dan Limau Manis.

Tufa Kristal (QTt) Merupakan tufa kristal yang mengeras yang

terlihat pada singkapan setempat di perbukitan Bukit Air Manis,

Teluk Nibung dan Lubuk Begalung hingga ke perbukitan di

Kelurahan Labuhan Tarok.

Andesit (Qta) dan Tufa (QTp) merupakan batuan gunung

berapi yang masih pasif bewarna hitam keabu-abuan hingga putih,

Andesit berselingan dengan tufa, terlihat pada singkapan setempat di

Pegambiran, Tarantang dan perbukitan Air Dingin yang

bersebelahan dengan batu gamping. Batu Gamping (PTIs) Berwarna

putih hingga ke abu-abuan, terlihat pada singkapan di Indarung,

sekitar Bukit Karang Putih.

Fillit berwarna hitam hingga abu kemerahan, Batu Pasir

berwarna abu-abu kehijauan mengandung klorit keras dan berbutir

halus, Batu Lanau bewarna hijau kehitaman dan Meta (PTps).


69

Batuan ini terlihat pada singkapan Koto lalang (jalan ke arah Solok).

Umumnya mendasari bukit-bukit dan pegunungan yang landai.

Tabel 15. Jenis Batuan Geologi yang Terdapat di Kota Padang

Luas Persentase
Jenis Batuan (Ha) (%)
No
(Litologi)
1 Aluvium 21.566,89 31,03
2 Batuan Gunung Api 34.972,34 50,32
3 Batuan Intrusi 1.337,81 1,93
4 Batuan Metamorf 1.189,56 1,71
5 Batu Kapur 1.158,56 1,67
6 Formasi Palepat 0,01 0,00
7 Formasi Painan 9.270,83 13,34
Jumlah 69.496,00 100,00
Sumber : Bappeda Kota Padang Tahun 2016

Wilayah Kota Padang terdiri dari 7 jenis tanah yang tersebar

di seluruh wilayah, yaitu: Aluvial, Andosol (humus), Komplek

Podsolik Merah Kuning Latosol dan Litosol, Latosol, Latosol dan

Podsolik Merah Kuning, Organosol dan Glei Humus (humus

pemukaan bagian bawah) dan Regosol (batuan melapuk bagian

atas). Dari semua jenis tanah tersebut, yang terluas adalah jenis

tanah Latosol mencapai 46,70%. Secara rinci jenis tanah di

wilayah Kota Padang dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 16. Jenis Tanah di Kota Padang


Lu
No Jenis Tanah) Persentase (%

1 Aluvial 15.948,07 22,95%


2 Andosol 5.623,77 8,09%
Komplek Podsolik Merah Kuning
3 10.794,68 15,53%
Latosol dan Litosol
70

4 Latosol 32.453,15 46,70%


5 Latosol dan Podsolik Merah Kuning 3.027,21 4,36%
6 Organosol dan Glei Humus 688,30 0,99%
7 Regosol 960,81 1,38%
Kota Padang 69.496,00 100,00%
Sumber : Bappeda Kota Padang Tahun 2016

g. Tata Penggunaan Lahan

Karena letak Kota Padang yang berada di antara pertemuan

dua lempeng Esia dan lempeng Eurasia bisa menimbulkan gempa

besar dan dapat diikuti oleh tsunami, seperti yang terjadi pada saat

gempa tanggal 30 September 2009 yang lalu. Akibat dari kejadian

tersebut penggunaan lahan di Kota Padang terjadi sedikit

pergeseran yakni dari lahan pertanian ke perkantoran dan

perumahan masyarakat yaitu dari zona merah (tepi pantai) ke zona

hijau (daerah by pass) dimana masih banyaknya masyarakat Kota

Padang yang bermukim di zona merah. Perpindahan yang dilakukan

ini untuk meminimalisir dampak yang akan timbul dari bahaya

gempa dan tsunami yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

Dampak dari perubahan Rencana Tata Ruang dan Wilayah ini

akan mengurangi penggunaan lahan pertanian menjadi lahan

pemukiman dan berbagai fasilitas pelayanan perkantoran. Tetapi

sepanjang lahan pertanian itu masih produktif akan tetap dijadikan

sebagai lahan pertanian seperti di Kecamatan Bungus, Koto Tangah,

Kuranji dan Pauh yang memiliki tingkat kesuburan tanah yang

tinggi, sedangkan tanah yang tak produktif akan dialih fungsikan.


71

Tabel 17. Tata Penggunaan Lahan di Kota Padang Tahun 2014 s/d 2016
Luas Lahan (Ha)
No Jenis Penggunaan 2014 2016
Lahan 2014 2015 2016
1 Tanah Perumahan 7.123,23 6.696,27 6.907,62 9,63 9,94
2 Tanah Perusahaan 254,26 261,06 261,06 0,38 0,38
Tanah Industri
3 702,25 702,25 702,25 1,01 1,01
(Termasuk PT.
Semen Padang)
4 Tanah Jasa 715,32 715,32 715,32 1,03 1,03
5 Sawah Berigasi Teknis 4.934,00 4.934,00 4.934,00 7,10 7,10
6 Sawah non Irigasi 173,94 124,74 80,25 0,17 0,12
7 Ladang/Tegalan 952,75 952,75 942,23 1,37 1,36
8 Perkebunan Rakyat 2.147,50 2.147,50 2.147,50 3,09 3,09
9 Kebun Campuran 13.044,98 13.829,40 13.711,02 19,90 19,73
10 Kebun Sayuran 1.343,00 1.343,00 1.343,00 1,93 1,93
11 Peternakan 26,83 26,83 26,83 0,04 0,04
12 Kolam Ikan 100,80 100,80 100,80 0,15 0,15
13 Danau Buatan 2,25 2,25 2,25 0,00 0,00
14 Tanah Kosong 27,86 27,86 15,26 0,04 0,02
15 Tanah Kota 16,00 16,00 16,00 0,02 0,02
16 Semak 1.848,07 1.533,32 1.508,98 2,21 2,17
17 Rawa 120,00 120,00 120,00 0,17 0,17
Jalan Arteri dan Jalan
18 Kolektor 135,00 135,00 135,00 0,19 0,19

19 Hutan Lebat 35.448,00 35.448,00 35.448,00 51,01 51,01


20 Sungai dan Lain-lain 379,45 379,45 379,45 0,55 0,55

Total 69.496,00 69.496,00 69.496,00 100 100


Sumber : Badan Pertanahan Nacional Kota Padang Tahun 2016

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa terjadi beberapa

peningkatan, penurunan dan kesamaan terhadap penggunaan lahan

di Kota Padang dari tahun 2014 ke tahun 2016. Peningkatan terjadi


72

pada jenis penggunaan lahan tanah perumahan. Peningkatannya

sebesar 211,35 Ha, dimana pada tahun 2014 luas tanah perumahan

sebesar 6.696,27 Ha naik menjadi 6.907,62 Ha atau sekitar 9,94 %

dari total luas penggunaan lahan di Kota Padang secara

keseluruhan. Peningkatan ini terjadi akibat meningkatnya

permintaan terhadap perumahan yang terjadi di Kota Padang. Hal

ini juga mengakibatkan penurunan terhadap jenis penggunaan

lahan lainnya.

Penurunan penggunaan lahan di Kota Padang terjadi pada jenis

penggunaan sawah non irigasi, ladang/tegalan, kebun campuran,

tanah kosong dan semak. Penggunaan lahan untuk sawah non irigasi

turun sebesar 44,49 Ha, ladang/tegalan turun sebesar 10,52 Ha,

kebun campuran turun sebesar 118,38 Ha, tanah kosong turun

sebesar 112,60 Ha dan semak turun sebesar 24,34 Ha dari tahun 2014

ke tahun 2016.

Sementara itu beberapa jenis penggunaan lahan yang tidak

terjadi perubahan dari tahun 2014 ke tahun 2016 adalah untuk tanah

perusahaan, tanah industri, tanah jasa, sawah berigasi teknis,

perkebunan rakyat, kebun sayuran, peternakan, kolam ikan, danau

buatan, tanah kota, rawa, jalan arteri, hutan lebat, sungai dan lain-

lain.

Sawah yang beririgasi teknis tidak mengalami perubahan

yakni seluas 4.934 Ha, hal ini sejalan dengan kebijakan yang tetap
73

dipertahankan oleh Pemko Padang yakni tidak dibolehkan

pengalihan fungsi atas lahan pertanian yang produktif dengan arti

kata lahan pertanian tersebut tetap dipertahankan untuk menunjang

ketahanan pangan daerah. Penggunaan lahan sebagai hutan lebat di

Kota Padang masih dominan dan luasnya masih sama/tidak berubah

dengan tahun sebelumnya yakni seluas 35.448 Ha. Hal ini

menandakan belum adanya hak penguasaan atas hutan lebat atau

hutan lindung yang terdapat di Kota Padang.

h. Pengukuran Besi (Fe) dan Mangan (Mn)

Metode AAS berprinsip pada absorbsi cahaya oleh atom.

Atom-atom menyerap cahaya tersebut pada panjang gelombang

tertentu, tergantung pada sifat unsurnya. Prinsip dasar

spektrofotometri serapan atom adalah interaksi antara radiasi

elektromagnetik dengan sampel. Spektrofotometri serapan atom

merupakan metode yang sangat tepat untuk analisis zat pada

konsentrasi rendah.
74

Gambar. Pemberian senyawa nitrit pada tiap sampel

Untuk tahapan awal tiap sampel tidak perlu dilakukan proses

dekstruksi, cukup dengan penambahan senyawa nitrit (HNO3)

sebanyak mL per sampel yang jumlah tiap sampel adalah 16,5

mL. Tujuan pemberian nitrit ini adalah agar pH sampel menjadi 2

hingga keadaan logam stabil untuk diukur. Pemberian senyawa

nitrit ini dilakukan pada lebari asam agar gas dari senyawa tersebut

tidak menyebar.

Gambar. Penyaringan dengan kertas whatman

Tahap kedua, siapkan Erlenmenyer dan corong penyaring,

lalu masukkan kertas whatman pada corong yang sebelumnya

kertas tersebut di lipat menjadi empat. Penggunaan kertas whatman

karena pori kertas whatman lebih rapat dan dapat menghasilkan

saringan yang bagus sehingga tidak menyumbat pipa kapiler AAS

saat pengukuran nanti.


75

Gambar. Sampel setelah disaring

Keadaan sampel setelah disaring dengan kertas whatman

menjadi lebih jernih. Tujuan dari penyaringan adalah memisahkan

kandungan logam berat yang akan diukur dengan partikel berupa

padatan yang nantinya dapat menyumbat pipa kapiler ASS sehingga

dapat memberikan hasil pengukuran yang akurat.

Gambar. Persiapan sampel menuu AAS


76

Tahap berikutnya ialah membuat larutan induk dimulai dari

menyiapkan labu ukur, pipet takar larutan induk Besi dan Mangan.

Tiap larutan di buat deret standar menjadi 0.25 ppm, 0.50 ppm, 0.75

ppm dan 1 ppm yang kemudian larutan tersebut dicampur dengan

aquades hingga 100 mL. Setelah itu sampel dan larutan siap di bawa

untuk diukur dengan AAS

Gambar. Semua sampel dihisap ke pipa kapiler AAS

Cara kerja spektrofotometri serapan atom ini adalah

berdasarkan atas penguapan larutan sampel, kemudian logam yang

terkandung di dalamnya diubah menjadi atom bebas. Atom tersebut

mengabsorbsi radiasi dari sumber cahaya yang dipancarkan dari

lampu katoda (Hollow Cathode Lamp) yang mengandung unsur

yang akan ditentukan. Banyaknya penyerapan radiasi kemudian

diukur pada panjang gelombang tertentu menurut jenis logamnya.


77

Gambar. Menunggu hasil Pengukuran Besi dan Mangan Keluar

Setelah semua sampel dihisap masing masingnya oleh SSA

maka akan keluar hasil pengukuran berupa hubungan jumlah

konsentrasi dan absorbsi Besi (Fe) dan Mangan (Mn) dari komputer

melalui aplik vasi WizAArd, yang kemudian hasil tersebut keluar

dalam bentuk kurva kalibrasi yang dapat dijelahakan hubungannya

dengan analisi regresi linier.

i. Hasil pengukuran Besi (Fe) dan Mangan (Mn)

Berdasarkan hasil uji laboratorium yang peneliti lakukan di

laboratorium Kimia FMIPA UNP menunjukkan bahwa dari sampel

1 sampai sampel 8 mempunyai kosentrasi besi (Fe) yang berbeda-

beda. Adapun nilai dari data hasil pengukuran besi (Fe)

menunjukan bahwa nilai kosentrasi Fe melebihi batas baku yang

ditunjukan kemenkes RI yaitu 0,3 mg/l. Dimana 1 mg/l sama

dengan 1 ppm. Adapun data hasil pengukuran besi (Fe) per sumur
78

sampel dan absorbsi dari Fe tersebut dapat dilihat pada tabel di

bawah ini.

Tabel 18. Hasil Pengukuran Besi (Fe)


Konsentrasi
No Nama Sampel Absorbsi Batas Baku
(ppm)
1 Sumur gali 1 0,8030 0,0337
2 Sumur gali 2 0,9141 0,0338
3 Sumur gali 3 0,5000 0,0339
4 Sumur gali 4 0,3990 0,0340
0,3 mg/L
5 Sumur bor 1 0,5606 0,0341
6 Sumur bor 2 0,8737 0,0342
7 Sumur bor 3 0,4596 0,0343
8 Sumur bor 4 0,9040 0,0426
Sumber : Hasil Pengukuran AAS

Terlihat pada kedua tabel bahwa kandungan besi dan mangan

pada semua sampel sudah melebihi batas baku yang di tentukan.

Hal ini telah dicurigai sejak awal bahwa Kawasaan Muara Sungai

Batang Arau, airtanah dangkalnya telah tercemar.

Muara Sungai Batang Arau (Muara Padang) adalah

daerah pemukiman dengan jumlah penduduk tinggi yang

sebagian besar memiliki mata pencarian sebagai nelayan dan

pedagang. Pemanfaatan Sungai Batang Arau dan daerah

Muara Padang cukup beragam diantaranya adalah pertanian,

industri, perumahan penduduk, rumah sakit, pelabuhan kapal-

kapal nelayan dan kapal penumpang serta sebagai daerah

rekreasi terutama sejak dibangun Jembatan Siti Nurbaya.

Tabel 19. Hasil Pengukuran Mangan


(Mn)
Konsentrasi Batas
No Nama Sampel Absorbsi
(ppm) Baku
79

1 Sumur gali 1 0.2140 0.0049


2 Sumur gali 2 0.2003 0.0045
3 Sumur gali 3 0.2723 0.0066
4 Sumur gali 4 0,2175 0.0050
0,1 mg/L
5 Sumur bor 1 0,2003 0.0045
6 Sumur bor 2 0,2620 0.0063
7 Sumur bor 3 0,2688 0.0065
8 Sumur bor 4 0.3545 0.0090
Sumber : Hasil pengukuran AAS

Selain penggunaan lahan, faktor geologi juga mempengaruhi

jumlah konsentrasi besi dan mangan dalam air tanah dangkal di

Kawasan Muara Sungai Bartang Arau ini yaitu formasi Aliran yang

tak teruraikan (QTau) yang terdiri atas lahar, fanglomerat dan

endapan-endapan koluvium yang lain berkombinasi dengan batuan

beku dan batuan metamorf (Qh) yang merupakan jenis baruan

yang kaya akan ketersediaan besi dan mangan.


80

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian tentang Analisis Kandungan Logam Berat

dalam Air Tanah Dangkal di Kawasan Muara Sungai Batang Arau Kota Padang

maka dapat disimpulkan bahwa :

1. Berdasarkan hasil analisis pengujian sampel air sumur dangkal secara

Kimia dengan alat Spektrofotometri Serapan Atom (AAS) diperoleh

bahwa dua parameter yaitu Besi (Fe) dan Mangan (Mn) yang sangat

melampui kadar maksimum baku mutu yang menyebabkan air tanah

dangkal menjadi tercemar.

2. Terdapat banyak potensi gangguan kesehatan akibat konsumsi airtanah

dangkal yang mengandung konsentrasi Besi (Fe) dan Mangan (Mn) dalam

jangka waktu panjang seperti mekanisme keracunan Besi (Fe) yang

terbagi atas dua fase, yaitu fase kinetik dan fase dinamik. Fase kinetik

meliputi proses-proses biologi biasa seperti ; penyerapan, penyebaran

dalam tubuh, metabolisme dam proses pembuangan atau ekresi. Adapun

fase dinamik meliputi semua reaksi reaksi biokimia yang terjadi dalam

tubuh, berupa katabolisme yang memilibatkan enzim-enzim, yang memicu

pada tekanan darah tinggi atau Hipertensi. Begitu pula pada logam Mangan

(Mn) yang mekanisme toksisitasnya mempengaruhi kinerjja syaraf pusat

dan syaraf tepi yang berujung pada gejala penyakit Parkinson.

3. Kualitas air sumur dangkal di Kawasan Muara Sungai batang Arau untuk

peruntukannya sebagai bahan baku air minum sangat tercemar sehingga


81

harus dimasak sebelum dikonsumsi, sebab parameter yang melampaui

batas maksimum adalah parameter yang bisa hilang pada suhu air

mendidih yaitu 1000C.

4. Sebagian besar sumur warga terutama sumur gali telah dilengkapi dengan

alat penyaring, namun masi belum ada alat penyaring air sumur yang

sesuai standar penyaringan air bersih yang ditentukan KEMENKES.

Meskipun alat penyaring tersebut sudah cukup untuk mengurangi

konsentrasi logam berat Besi (Fe) dan Mangan (Mn) serta kadar

konsentrasi tersebut juga semakin menurun dengan memasak air hingga

mendidih pada suhu 1000C, sehingga megurangi kemungkinan gangguan

kesehatan sebagaimana yang dipaparkankan di atas.

5.2 Saran

1. Diharapkan adanya studi yang dilakukan dengan menggunakan metode

lain, sehingga didapatkan hasil yang saling melengkapi antara satu dengan

lainnya.

2. Diharapkan adanya perhatian pemerintah untuk mengadakan solusi untuk

mencari sumber air yang lain agar masyarakat tidak bergantung kepada air

tanah dangkal(air sumur) misanya dengan memperluas pengadaan aliran

air dari PDAM.

3. Pemerintah Kota Padang perlu secepatnya melakukan usaha-usaha

untuk mengatasi pencemaran air, khususnya air sumur gali dan sumur bor,

dengan cara memperbaiki konstruksi sumur (dinding beton, penutup

sumur) dan juga membuat sanitasi.


82

DAFTAR PUSTAKA

Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 907/MENKES/SK/VII/2002 tanggal 29


juli 2002 tentang syarat-syarat dan pengawasan kualitas air minum

Kusnaedi. 2004. Mengolah Air Gambut dan Air Kotor untuk Air Minum, Jakarta :
Puspa Swara.

Rhomaidi . 2008. Pengelolaan Sanitasi secara terpadu Sungai Widuri : Studi


Kasus Kampung Nitiprayan, Yogyakarta :Skripsi Teknik Lingkungan
Fakultas Teknik Sipil Dan Perencanaan Universitas Islam Indonesia.

Ridhowati, S, Mengenal Pencemaran Ragam Logam, Graha Ilmu, Yogyakarta


(2013).
Slamet, J.S. 2004. Kesehatan Lingkungan, Yogyakarta : Gadjah Mada University
Press.

Freeze, A.R., Cherry, J.A. 1979. Grounwater. Prentice-Half, Englewood-Cliffs,


NJ.

Soemarto, C.D, 1986. Hidrologi Teknik, Penerbit Usaha Nasional.


Surabaya

Asdak, Chay. 2002. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai.


Yogyakarta : UGM Press

Wilson, E.M., 1993. Hidrologi Teknik. Penerbit ITB Bandung, Bandung.

Chow, Ven Te. 1985. Hidrolika Saluran Terbuka. Jakarta: ERLANGGA.

Dwi, Ratno. 1992. Analisi Regresi. Yogyakarta: Andi Ofseet.

Usman, Husaini. 2006. Pengantar Stastistik. Yogyakarta : Bumi Aksara.

Yudo, S., Jurnal Akuakultur Indonesia 2, 1-14 (2006).