Anda di halaman 1dari 5

Mengenal CVT pada motor bertransmisi

otomatis
Oleh : Mustafa Iman
| 09:57 WIB - Senin , 18 April 2016

Berdasarkan data yang dikeluarkan Asosiasi Industri Sepeda motor Indonesia (AISI) Maret
2016, empat peringkat tertinggi diraih oleh motor skuter dengan sistem transmisi otomatis
(skutik).

Honda BeAT Series yang menjadi pemuncak daftar dengan penjualan 193.147 unit dalam
satu bulan, disusul Vario Series (140.054 unit), dan Scoopy (42.778 unit). Skutik premium
Yamaha NMax menyusul di posisi keempat dengan total penjualan 20.998 unit.

Tentunya banyak alasan mendasar mengapa masyarakat lebih memilih motor dengan
transmisi otomatis dibanding transmisi manual.

"Lebih simpel aja sih, dan mudah cara penggunaannya," kata Eva, seorang mahasiswi
pengguna Honda BeAT kepada Beritagar.id, Sabtu (16/4/2016).

Transmisi otomatis memang mempermudah orang dalam mengendalikan sepeda motor.


Pengemudi tidak perlu lagi memindah-pindahkan persneling untuk mengatur tenaga dan
putaran mesin.

Salah satu jenis transmisi otomatis yang banyak digunakan sepeda motor, pun mobil, saat ini
adalah jenis CVT (Continuously Variable Transmission).
Apa itu CVT?

CVT, sistem penggerak yang kini banyak digunakan pada motor jenis skuter matik. Honda
/Welovehonda.com

CVT merupakan cara paling fleksibel dalam memindahkan tenaga yang dihasilkan mesin
kepada roda-roda kendaraan.

Sistem ini menghasilkan pergerakan secara otomatis sesuai dengan putaran mesin, sehingga
pengendara terbebas dari keharusan memindah gigi. Hasilnya, pengendara lebih nyaman dan
santai dalam mengendarai motor.

CVT juga menghindari hentakan mesin yang biasa timbul pada pemindahan transmisi manual
pada mesin-mesin konvensional. Pergantian transmisi pada sistem CVT pun sangat lembut,
seiring dengan penambahan tenaga mesin dan kecepatan.

Seperti dituliskan Tempo.co, ada tiga komponen utama yang memegang peran penting dalam
CVT.

Yang pertama adalah pulley depan atau Drive Pulley (primer), kemudian pulley belakang
atau Driven Pulley (sekunder), dan yang terakhir adalah V-belt yang berperan
menghubungkan keduanya.

Secara singkat, kinerja pulley depan dihubungkan kruk-as mesin, dan bertugas menampung
tenaga dari mesin dan memindahkannya ke pulley belakang yang dihubungkan ke as roda.
Fungsi V-belt tak ubahnya rantai di motor manual yang tugasnya meneruskan putaran mesin
ke roda.

V-belt ini dibuat sedemikian rupa sehingga terbebas dari kotoran, debu, dan air. Pabrik motor
sengaja merancang lubang pemasukan udara pendingin lebih tinggi dari as roda untuk
menghindari masuknya air saat sepeda motor berjalan di daerah banjir.
Komponen dalam CVT, berupa pulley, V-belt, dan kopling sentrifugal Tangkapan layar Youtube

Bagaimana cara kerja CVT?

Saat motor dinyalakan dan mesin berputar pada putaran rendah, tenaga daya putar dari poros
engkol (piston) kemudian diteruskan ke pulley depan, ditransfer melalui V-belt, ke pulley
belakang, dan kopling sentrifugal. Demikian dijelaskan Teknikotomotif.com.

Bila gas belum dipuntir, maka tenaga putar belum mencukupi, dan kopling sentrifugal belum
mengembang. Hal tersebut membuat rumah kopling dan roda belakang tidak berputar.

Pengendara mesti berhati-hati saat mesin sudah menyala karena jika gas tak sengaja diputar
maka roda belakang bisa langsung berputar menggerakkan motor.

Ketika pengendara memuntir gas dan masuk pada rasio putaran 3.000 rpm, maka pulley
depan akan berputar kuat dan menggerakkan V-belt yang langsung memindahkan tenaga ke
pulley belakang.

Dalam kondisi ini, V-belt di bagian pulley depan berada pada posisi diameter dalam (kecil),
dan bagian pulley belakang pada posisi luar (besar). Hal tersebut memberikan perbandingan
putaran yang menyebabkan roda belakang mudah berputar.

Semakin gas dipuntir atau tenaga mesin makin besar, maka pulley depan akan membuat V-
belt semakin mengembang lebar, dan posisi V-belt pada pulley belakang akan mengecil.

Apa CVT bisa bekerja dengan baik di tanjakan?

Hal ini banyak ditanyakan oleh mereka yang meragukan kemampuan motor dengan transmisi
otomatis seperti CVT. Saat motor menghadapi jalanan menanjak, memang dibutuhkan tenaga
besar untuk dapat melaju dengan mulus.
Seperti dituliskan Otomotifnet, jika pengemudi tiba-tiba dihadapkan pada jalanan menanjak,
ia hanya perlu untuk memutar gas lebih kencang secar spontan. Kenaikan putaran mesin yang
mendadak ini akan membuat CVT langsung menurunkan gigi sehingga torsi yang dihasilkan
menjadi lebih besar.

Teknik ini biasa disebut kick down.

Selain pada jalan menanjak, kick down juga bisa dilakukan saat pengemudi ingin melaju lebih
cepat di jalan datar atau menyusul kendaraan lain.

Tetapi terlalu sering melakukan kick down membuat konsumsi bahan bakar menjadi lebih
boros. Selain itu, jika teknik ini tidak dilakukan dengan benar, tenaga motor bisa malah turun.

Motor skutik NMax saat melintasi jalan menanjak Jakarta Max Owners /Facebook.com

Bagaimana merawat CVT?

Karena mudah digunakan, ada sebagian pengendara yang kerap menganggap enteng
perawatan CVT. Hal tersebut akan berdampak pada penggunaan motor yang terasa tidak
nyaman, atau terasa tersendat-sendat saat digunakan.
DetikOto sedikit menjabarkan cara mudah untuk merawat elemen penggerak CVT pada
skutik. Ada perawatan yang hanya dapat dilakukan oleh mekanik terlatih, namun ada juga
perawatan yang dapat dilakukan pemilik motor.

Pertama, lakukan pengecekan V-belt dengan cara membuka baut cover CVT, lepas selang
udara dengan menggunakan obeng plus, lalu buka mur crankshaft untuk melepas drive belt.
Disarankan, serahkanlah hal ini pada mekanik ahli di bengkel yang direkomendasikan.

Cek lebar V-belt, usahakan tidak kurang dari 20mm (2cm), juga cek apakah kondisi V-belt
masih lentur, keras, atau adakah keretakan. Disarankan untuk mengganti komponen V-bet
ketika motor telah menempuh jarak 15.000 km.

Kedua, lakukan pengecekan komponen Roller yang terletak pada pulley depan. Pastikan
Roller dalam keadaan normal tidak rusak atau permukaannya tidak rata. Bila Roller rusak
atau tak rata, motor skutik akan terasa tersendat-sendat ketika dijalankan.

Ketiga, usahakan setiap menempuh jarak 8.000 km, untuk mengganti oli gearbox.

Keempat, ada sebuah komponen filter udara pada CVT harus sering dibersihkan, minimal 3
bulan sekali, atau saat melakukan servis berkala di bengkel rekomendasi.

Apabila melalui genangan air, usahakan agar tinggi air tak melebih rumah CVT karena bisa
merusak atau memperpendek umur komponen di dalamnya.

"Secara kinerja motor dengan penggerak jenis ini memang lebih mudah dikendarai. Cuma
sekedar saran, jangan sering-sering membetot gas secara mendadak, karena akan membuat
motor langsung berakselerasi. dan biasanya sulit dikendalikan. kecuali saat melewati
tanjakan,'' saran Fajar, penggawa Bangky Motor Sport.

"Mengendarai motor secara biasa dan rutin melakukan servis, maka motor akan awet kok.
Kecuali memang motor diperuntukkan untuk ajang balap," pungkasnya.

https://beritagar.id/artikel/otogen/mengenal-cvt-pada-motor-bertransmisi-otomatis

http://www.teknikotomotif.com/prinsip-cara-kerja-cvt-pada-motor-matic/