Anda di halaman 1dari 22

Laporan Hasil Praktikum

SIFAT-SIFAT UNSUR

CINDY RESTU BHAKTI

H021 17 1514

LABORATORIUM KIMIA DASAR


UNIT PELAKSANA TEKNIS - MATA KULIAH UMUM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2017
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam sistem periodik unsur-unsur disusun berdasarkan urutan kenaikan nomor

atomnya. Unsur-unsur yang terletak dalam satu baris disebut periode, sedang unsur-

unsur yang terletak dalam satu jalur dinamakan satu golongan. Unsur-unsur yang

terletak dalam satu golongan mempunyai sifat-sifat fisik dan sifat kimia yang hampir

sama. Dalam sistem periodik ini seluruhnya terdapat 16 golongan, yaitu golongan I

sampai golongan VIII dan masing-masing terbagi menjadi golongan A dan golongan

B. Dalam sistem periodik unsur-unsur yang terletak di sebelah kiri bersifat logam

sedangkan yang terletak di sebelah kanan bersifat bukan logam (Purwanto, 1999).

Logam-logam golongan 1 dan 2 dalam Susunan Berkala berturut-turut disebut

logam-logam alkali dan alkali tanah karena logam-logam tersebut membentuk oksida

dan hidroksida yang larut dalam air menghasilkan larutan basa. Logam alkali terdiri

atas enam unsur yaitu litium (Li), natrium (Na), rubidium (Rb), sesium (Cs), dan

fransium (Fr). Logam alkali tanah meliputi berilium, magnesium, kalsium,

stronsium, barium dan radium. Kelarutan logam alkali dan alkali tanah dalam

pereaksi tertentu berbeda-beda. Logam alkali dapat larut dalam air dan amonia

menghasilkan larutan berwarna biru jika encer, sedangkan logam alkali tanah

memiliki kelarutan yang kecil di dalam air dimana kelarutannya dalam pereaksi

hidroksida, sulfat, kromat, karbonat dan oksalat berbeda-beda dalam satu golongan

(Chang, 2013). Berdasarkan latar belakang ini, maka dilakukan percobaan untuk

mengetahui warna yang dihasilkan oleh oleh logam alkali dan alkali tanah serta

kelarutan dari logam alkali tanah dalam pereaksi yang berbeda-beda.


1.2 Maksud dan Tujuan Percobaan

1.2.1 Maksud Percobaan

Maksud dari percobaan sifat-sifat unsur kimia adalah untuk mengetahui dan

mempelajari beberapa sifat unsur golongan alkali (IA) dan alkali tanah (IIA).

1.2.2 Tujuan Percobaan

Tujuan percobaan ini yaitu sebagai berikut:

1. Mempelajari reaktifitas unsur golongan alkali (IA) dan golongan alkali tanah

(IIA) dengan air.

2. Mempelajari kelarutan golongan alkali (IA) dan golongan alkali tanah (IIA)

dalam garam sulfat (H2SO4).

3. Mempelajari kelarutan golongan alkali (IA) dan golongan alkali tanah (IIA)

dalam garam hidroksida (NaOH).

I.3 Prinsip Percobaan

Adapun prinsip dari percobaan ini adalah mereaksikan unsur-unsur golongan

alkali dan alkali tanah dengan air untuk mengetahui sekaligus membandingkan

reaktifitas unsur-unsur tersebut. Serta mereaksikan senyawa garam dari unsur-unsur

golongan alkali dan alkali tanah tersebut dengan asam (H2SO4) dan basa (NaOH)

untuk mengetahui dan membandingkan sifat kelarutan garam sulfat dan garam

hidroksida dari golongan unsur tersebut.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Golongan logam alkali merupakan golongan dari logam yang paling aktif.

Logam tersebut menunjukkan energi ionisasi yang rendah, potensi elektronya besar

dan negatif. Logam alkali tanah memiliki jari-jari atom yang besar dan energi

ionisasi yang kecil. Berarti unsur-unsur logam alkali tanah mudah melepaskan

elektron. Mudah melepaskan elektron artinya mudah mengalami oksidasi sehingga

unsur ini bersifat pereduksi kuat akan tetapi karena elektron valensinya terdiri dari

dua elektron, sifat pereduksinya tidak sekuat golongan alkali yang memiliki satu

elektron valensi. Hal ini dapat dilihat dari gejala reaksinya dengan air yang tidak

sehebat unsur golongan alkali. Unsur-unsur yang terdapat pada golongan IA disebut

juga unsur alkali karena sifat logam ini membentuk basa-basa yang kuat. Dalam

sistem periodik terletak pada jalur paling kiri. Unsur-unsur alkali (IA)

merupakan unsur-unsur logam dengan satu elektron pada elektron terluarnya

sehingga merupakan reduktor kuat. Unsur-unsur yang terletak dalam logam alkali

adalah Litium (Li), Natrium (Na), Kalium (K), Rubidium (Rb), Cesium (Cs), dan

Fransium (Fr). Reaktivitas unsur-unsur tersebut bertambah dari atas ke bawah, hal ini

dapat pada reaksinya dengan air (H2O). Litium (Li) dalam golongan IA terletak

paling atas bereaksi lambat dengan air (H2O), sedangkan logam alkali lainnya

bereaksi sangat cepat dan eksoterm (Purwanto, 1999).

Sistem periodik panjang, unsur-unsur alkali tanah terletak pada golongan IIA,

yaitu satu jalur di sebelah kanan golongan logam alkali. Unsur golongan IIA berisi

Berilium (Be), Magnesium (Mg), Calsium (Ca), Stronsium(Sr), Barium (Ba) dan

Radium. Unsur ini bersifat logam karena cenderung melepaskan elektron. Unsur ini
disebut logam alkali tanah karena oksidasinya bersifat biasa (alkalis) dan senyawa

banyak terdapat pada kerak bumi. Seperti halnya dengan unsur alkali, unsur alkali

tanah sangat reaktif walaupun tidak sereaktif unsur alkali. Unsur alkali tanah dengan

dua elektron valensinya yang sangat mudah dilepaskan menandakan bahwa unsur

alkali tanah sangat bersifat elektro positif, karena unsur golongan ini mudah

melepaskan elektron valensinya. Maka unsur alkali tanah merupakan pereduksi yang

baik, walaupun tidak sebaik sifat pereduksi unsur alkali yang seperiode. Sesuai

dengan sifat keperiodikan unsur-unsur dalam golongannya maka unsur-unsur alkali

tanah makin ke bawah letaknya dalam susunan berkala makin elektropositif. Karena

makin ke bawah makin banyak pula jumlah lintasannya sehingga jari-jarinya makin

besar pula. Sifat pereduksi logam alkali tanah lebih kecil dari logam alkali dan jari-

jari ion logam tanah lebih kecil dari alkali (Chang, 2003).

Unsur Mg dan Ca adalah unsur golongan alkali yang terbanyak terdapat di

kerak bumi. Atom-atom golongan ini memiliki konfigurasi elektron np6 (n + 1) s2

kecuali Be. Kerapatan unsur-unsur golongan ini lebih besar dari unsur alkali dalam

satu periode. Unsur-unsur ini mempunyai dua elektron valensi yang terlibat dalam

ikatan logam. Oleh karena itu dibandingkan dengan unsur golongan IA, unsur-unsur

ini lebih keras, energi kohesinya lebih besar, dan titik lelehnya lebih tinggi. Titik

leleh unsur-unsur alkali tanah tidak berubah secara teratur karena mempunyai

struktur kristal yang berbeda. Misalnya unsur Be dan Mg memiliki struktur kristal

heksagonal terpejal, sedangkan struktur kristal unsur Sr berbentuk kubus berpusat

muka dan struktur kristal unsur Ba berbentuk kubus berpusat badan (Chang, 2003).

Berbeda dengan garam-garam golongan logam alkali yang mudah larut dalam

air, sebagai garam logam golongan alkali tanah tidak larut dalam air. Pada umumnya

garam alkali tanah yang larut adalah garam-garam nitrat dan klorida dari anion
valensi tunggal sedangkan yang sukar larut adalah garam-garam seperti karbonat dan

fosfat (anion valensi ganda). Beberapa anion menunjukkan kecenderungan kelarutan

yang cukup mencolok misalnya garam sulfat yang mempunyai kecenderungan

semakin sukar larut dari atas ke bawah dalam golongannya sedangkan hidroksidanya

menunjukkan hal yang sebaliknya yaitu sukar larut dalam golonganya (Chang,

2003).

Berilium dan magnesium membentuk oksida (BeO dan MgO) hanya pada suhu

tinggi, sedangkan CaO, SrO, dan BaO terbentuk pada suhu kamar. Kalsium,

Stronsium, dan Barium juga bereaksi dengan asam menghasilkan gas hidrogen dan

menyebabkan terjadi dua reaksi yang berbeda secara serentak (Harianto, 2013).

Sifat-sifat kalsium dan stronsium memeberi suatu contoh menarik tentang

kemiripan golongan dalam tabel periodik Stronsium-90, suatu isotop radioaktif,

adalah produk utama dari ledakan bom atom. Jika suatu bom atom diledakkan

diatmosfer, Stronsium-90 yang terbentuk akan tercampur dengan tanah dan air, dan

masuk ke dalam tubuh kita lewat rantai makanan yang relatif pendek (Chang,2003).

Logam-logam alkali dikhususkan pada logam Li, Na, K, Rb dan Cs dengan

konfigurasi elektron terluar (ns1, n2). Logam alkali mempunyai energi ionisasi

rendah dan kecenderugannya kuat melepaskan elektron valensi tunggalnya, cukup

reaktif sehingga jarang ditemukan secara bebas di alam. Logam alkali

dapat bereaksi dengan air membentuk hidroksida, logam alkali dengan melepaskan

gas hidrogen, dapat membentuk oksida, peroksida, bahkan superoksida yang

ketiganya menghilangkan bentuk kilauan logamnya. Selain Litium yang hanya dapat

membentuk oksida, maka logam alkali yang lain dapat membentuk peroksida dan

untuk K, Rb, dan Cs dapat pula membentuk superoksida logam alkali, artinya

reaktifitas logam alkali dengan oksigen meningkat dai atas ke bawah (Beck, 2010).
Natrium (Na) merupakan logam alkali yang berwarna putih perak, sangat

reaktif dan merupakan logam yang lunak. Natrium (Na) dapat bereaksi hebat dengan

air yang membentuk natrium hidroksida (NaOH) dan gas hidrogen. Unsur natrium di

alam ditemukan dalam bentuk garam-garam mineral seperti natrium klorida (NaCl),

natrium karbonat (Na2CO3) dan natrium sulfat (Na2SO4). Untuk memperoleh natrium

(Na) dapat dilakukan dengan elektrolisis lelehan NaCl. Natrium juga dapat

digunakan pada alat pendingin reaktor nuklir, garam dapur (NaCl) digunakan sebagai

bumbu masak dan natrium bikarbonat atau sering disebut soda kue digunakan dalam

pembuatan kue (Beck, 2010).

Perbedaan jenis oksida yang terbentuk ketika logam alkali bereaksi dengan

oksigen haruslah berkaitan kestabilan oksida tersebut dalam keadaan padat. Karena

oksida ini seluruhnya adalah senyawa ionik, kestabilannya bergantung pada seberapa

kuat kation dan anion saling tertarik satu sama lain. Litium cenderung untuk

membentuk litium oksida yang demikian karena senyawa ini lebih stabil

dibandingkan litium peroksida. Pembentukan oksida logam alkali yang lain dapat

dijelaskan dengan cara yang sama (Chang, 2003).

Energi hidrasi ion alkali tanah lebih besar dari alkali. Karena energi itu

bergantung pada jari-jari ion dan besarnya muatan. Muatan ion alkali tanah lebih

besar dari ion alkali, maka daya tarik tersebut lebih kuat pada logam alkali tanah

dibandingkan dengan logam alkali (Syukri, 1999).

Semua ion alkali tak berwarna dan agak tak reaktif. Garamnya yang sederhana

seperti LiCl, KNO3, Cs2SO4, dan Rb2CO3 biasanya sangat larut dalam air. Larutan

senyawa ini merupakan elektrolit kuat yang khas. Senyawa litium mirip dengan

senyawa magnesium. Sebagai contoh, kelarutan karbonat dan fosfatnya adalah

rendah. Di antara unsur-unsur alkali tanah, kalium, stronsium, dan barium


membentuk senyawa yang sangat serupa satu dengan yang lainnya. Magnesium, dan

lebih khususnya lagi berilium membentuk senyawa yang berbeda dari senyawa

ketiga unsur lainnya itu. Karena ukuran ionnya yang kecil berilium membentuk

ikatan kovalen-ionik dengan sejumlah atom yang berdekatan (Syukri, 1999).

Unsur-unsur golongan alkali hanya mempunyai satu elektron valensi yang

terlibat dalam pembentukan ikatan logam. Oleh karena itu, logam ini mempunyai

energi kohesi yang kecil yang menjadikan logam golongan ini lunak. Contohnya

logam natrium yang lunak sehingga dapat diiris dengan pisau. Hal ini juga

mengakibatkan makin berkurangnya titik leleh dan titik didih unsur-unsur alkali.

Unsur-unsur alkali adalah reduktor kuat. Kekuatan reduktor dapat dilihat dari

potensial elektron. Unsur-unsur alkali dapat larut dalam cairan amonia. Larutan encer

logam alkali dalam amonia cair berwarna biru. Larutan ini adalah penghantar listrik

yang lebih baik daripada larutan garam (Ulumudin, 2008).

Pada saat unsur-unsur alkali di panaskan (diberi energi), elektron dalam atom

alkali dan alkali tanah akan mengalami eksitasi, dan pada saat kembali kekeadaan

stabil, setiap elektron akan melepas energi radiasi elektromagnetik berupa

pancaran cahaya. Nyala setiap atom berbeda-beda dan sangat khas pada setiap unsur

alkali (James, 2002).

Kecenderungan tiap unsur dalam menarik elektron berbeda-beda. Besarnya

kecenderungan suatu atom untuk menarik elektron biasa disebut dengan

keelektronegatifan. Nilai keelektronegatifan berkaitan dengan afinitas elektron dan

energi ionisasi (Charles, 2009).


BAB III

METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan Percobaan

3.1.1 Bahan Percobaan

Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah: logam Li, Na, Mg

dan Ca, indikator PP, larutan BaCl2 0,5 M, larutan CaCl2 0,5 M, larutan SrCl2 0,5 M,

larutan MgCl2 0,5 M, larutan NaOH 0,5 M, larutan H2SO4 0,5 M, dan akuades.

3.1.2 Alat Percobaan

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum adalah: tabung reaksi, pipet tetes,

spiritus, pinset, korek, penjepit tabung, tissue rol, dan rak tabung.

3.2 Prosedur Percobaan

3.2.1 Reaktifitas Unsur

Menyiapkan 3 buah tabung reaksi yang berisi air 2 mL. Tabung reaksi (1) diisi

logam Li, tabung (2) dengan logam Mg dan tabung (3) dengan logam Ca. Mengamati

dan memperhatikan reaksi yang terjadi, jika tidak terjadi reaksi, panaskan tabung

hingga terjadi reaksi (terjadi reaksi ditandai adanya gelembung-gelembung gas).

Teteskan indikator PP kedalam masing-masing tabung dan catat perubahan

warnanya.

3.2.2 Kelarutan Garam Sulfat

Menyiapkan 4 tabung reaksi. Tabung reaksi (1) diisi dengan MgCl, tabung

reaksi (2) diisi dengan CaCl2, tabung reaksi (3) diisi dengan SrCl2 dan tabung reaksi

(4) diisi dengan BaCl2, masing-masing 1 mL dengan konsentrasi 0,5 M. Masing-

masing tabung reaksi tersebut ditambahkan 1 mL H2SO4 0,5 M. Perhatikan endapan


yang terbentuk.

3.2.3 Kelarutan garam hidroksida

Menyiapkan 4 tabung reaksi. Tabung reaksi (1) diisi dengan MgCl2, tabung

reaksi (2) diisi dengan CaCl2, tabung reaksi (3) diisi dengan SrCl2, dan tabungreaksi

(4) diisi dengan BaCl2, masing-masing 1 mL dengan konsentrasi 0,5 M. Masing-

masing tabung reaksi tersebut ditambahkan 1 mL NaOH 0,5 M. Perhatikan endapan

yang terbentuk.
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan

4.1.1 Reaktifitas Unsur

Ditambah air Ditambah air panas Ditambah


Unsur
dingin atau dipanaskan phenolptalin (PP)
Terjadi perubahan
Li Tidak ada reaksi Ada gelembung warnah menjadi
ungu tua
Terjadi perubahan
Terjadi ledakan
Na Ada gelembung warnah menjadi
kecil
ungu tua
Terjadi perubahan
Mg Tidak ada reaksi Ada gelembung warnah menjadi
merah lembayu
Terjadi perubahan
Adanya Terjadi gelembung gas
Ca warnah menjadi
gelembung kecil yang lebih banyak
ungu tua

4.1.2 Pengendapan Garan Sulfat

Larutan Ditambahkan H2SO4 0.5 M Keterangan


MgCl2 0.5 M Tidak terjadi endapan -

CaCl2 0.5 M Terbentuk endapan +


SrCl2 0.5 M Terbentuk endapan +++
BaCl2 0.5 M Terbentuk endapan ++

4.1.3 Pengendapan Garan Hidroksida

Larutan Ditambahkan NaOH 0.5 M Keterangan


MgCl2 0.5 M Terbentuk endapan +++
CaCl2 0.5 M Terbentuk endapan ++
SrCl2 0.5 M Terbentuk endapan +
BaCl2 0.5 M Terbentuk endapan +
4.2 Reaksi

4.2.1 Reaksi Reaktifitas Unsur

Li(s) + 2H2O(l) Li(OH)2 + H2(q)

Li(s) + 2H2O(l) Li(OH)2 + H2(q)

Na(s) + 2H2O(l) Na(OH)2 + H2(q)

Na(s) + 2H2O(l) Na(OH)2 + H2(q)

Mg(s) + 2H2O(l)

Mg(s) + 2H2O(l) Mg(OH)2 + H2(q)

Ca(s) + 2H2O(l) Ca(OH)2 + H2(q)

Ca(s) + 2H2O(l) Ca(OH)2 + H2(q)

4.2.2 Reaksi dengan Garam Sulfat

MgCl2 + H2SO4

CaCl2 + H2SO4 CaSO4 + 2HCl

SrCl2 + H2SO4 SrSO4 + 2HCl

BaCl2 + H2SO4 BaSO4 + 2HCl

4.2.3 Reaksi dengan Garam Hidroksida

MgCl2 + 2NaOH Mg(OH)2 + 2NaCl

CaCl2 + 2NaOH Ca(OH)2 + 2NaCl

SrCl2 + 2NaOH Sr(OH)2 + 2NaCl

BaCl2 + 2NaOH Ba(OH)2 + 2NaCl


4.3 Pembahasan

Reaktifitas berarti mudah atau sukarnya logam tersebut melepaskan elektron

untuk menjadi kation. Suatu logam yang reaktif adalah logam yang mudah

melepaskan elektronnya, artinya mudah dioksida. Kecenderungan reaktivitas sejajar

dengan keragamaan dalam energi ionisasi. Hal ini dikarenakan ketika bereaksi,

logam akan kehilangan elektronya (Brady, 1998). Pada percobaan pertama ini

bertujuan untuk mengetahui kereaktifan logam pada logam alkali dan alkali tanah

dengan menggunakan logam Li, Na, Mg dan Ca Pada saat keempat logam ini

dimasukkan kedalam tabung reaksi yang masing-masing telah diisi air, logam ini

tidak bereaksi. Setelah dipanaskan maka dari keempat tabung reaksi akan terbentuk

gelembung yang merupakan gas H2, ini menunjukkan telah terjadi reaksi. Ketika

dimasukkan indikator pp ke dalam larutan tersebut, larutan tersebut berwarna ungu

tua dan merah lembayu, hal ini menandakan bahwa larutan itu bersifat basa. Akan

tetapi hasil percobaan ini sedikit melenceng dari teori yang ada, yaitu warna larutan

yang terjadi setelah ditambahkan indikator PP ada yang berubah menjadi ungu tua.

Warna larutan yang seharusnya terjadi adalah warna merah lembayu. Hal ini terjadi

karena indikator PP yang ditambahkan sedikit lebih banyak dari yang seharusnya.

Salah satu yang membedakan antara senyawa alkali dan alkali tanah adalah

kelarutannya. Pada umumnya, senyawa alkali mudah larut dalam air, sedangkan

alkali tanah sukar larut dalam air. Jika kelauratan suatu zat semakin besar, berarti

semakin banyak zat tersebut yang larut dan kemungkinan terionisasi juga semakin

besar (Charles, 2009). Pada percobaan kedua ini bertujuan untuk mengetahui

kelarutan garam sulfat pada golongan IIA, yang pertama dilakukan adalah

menambahkan H2SO4 0,1 M pada BaCl2 0,1 M, SrCl2 0,1 M, MgCl2 0,1 M dan CaCl2

0,1 M. Pada BaCl2 dan SrCl2 yang telah ditambahkan H2SO4, terbentuk larutan yang
keruh dan banyak terdapat endapan putih. Dan pada CaCl2 yang telah ditambahkan

H2SO4 larutannya sedikit agak keruh dan hanya terdapat sedikit endapan. Sedangkan

pada larutan MgCl2 tidak terbentuk endapan sedikitpun dan larutannya jernih.

Terbentuknya endapan manandakan bahwa kelarutan senyawa tersebut adalah lebih

kecil begitupun sebaliknya, dengan membandingkan banyaknya endapan yang

terbentuk maka dapat diketahui bahwa kelarutan garam sulfat dari golongan IIA

adalah cenderung akan berkurang atau menurun dari atas ke bawah.

Salah satu yang membedakan antara senyawa alkali dan alkali tanah adalah

kelarutannya. Pada umumnya, senyawa alkali mudah larut dalam air, sedangkan

alkali tanah sukar larut dalam air. Jika kelauratan suatu zat semakin besar, berarti

semakin banyak zat tersebut yang larut dan kemungkinan terionisasi juga semakin

besar (Charles, 2009). Pada percobaan ketiga bertujuan untuk mengetahui kelarutan

garam hidroksida pada golongan IIA, yang pertama dilakukan adalah

menambahkan NaOH 1 M pada BaCl2 0,1 M, SrCl2 0,1 M, MgCl2 0,1 M dan CaCl2

0,1 M. Pada MgCl2 dan CaCl2 yang telah ditambahkan NaOH, terbentuk larutan yang

keruh dan endapan yang banyak. Sedangkan pada larutan SrCl2 dan BaCl2 yang

ditambah NaOH larutan menjadi keruh namun terdapat sedikit endapan. Sehingga

dari percobaan ini dapat diketahui bahwa kelarutan garam hidroksida pada golongan

IIA adalah kelarutannya cenderung akan bertambah/meningkat dari atas ke bawah.


BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Dari percobaan ini dapat disimpulkan bahwa :

1. unsur-unsur golongan alkali sedikit lebih reaktif jika dibandingkan dengan

logam alkali tanah.

2. Sifat kelarutan garam sulfat dari golongan IIA adalah cenderung akan

berkurang atau menurun dari atas ke bawah.

3. Sifat kelarutan garam hidroksidanya cenderung akan bertambah/meningkat

dari atas ke bawah.

5.2 Saran

5.2.1 Saran untuk Laboratorium

Saya berharap agar kebersihan di dalam laboratorium selalu dijaga agar hati

menjadi nyaman ketika melaksanakan praktikum.

5.2.2 Saran untuk Asisten

Cara asisten memberikan penjelasan sudah baik, semoga kedepannya dapat

lebih memuaskan.
DAFTAR PUSTAKA

Beck, F. A., 2010, Internasional Jurnal of Kimia Anorganik, USA.

Brady, E. J., 1998, Kimia Universitas Asas dan Struktur, Jakarta Barat, Binarupa Ak.

Chang, R., 2003, Kimia Dasar Konsep Kimia Inti, Jakarta: Erlangga.

Harianto, F., Darminto, 2013, Sintesis Kalsium Ferit Berbahan Dasar Pasir Besi dan
Batu Kapur dengan Metode Reaksi Padatan, ITS.

Purwanto, A., dkk, Evaluasi Logam Alkali dan Alkali Tanah dalam Asam Humat
Hasil Isolasi Tanah Gambut, 1999, Yogyakarta : P3TM-BATAN.

S, Syukri, 1999, Kimia Dasar 3, Bandung : Penerbit ITB

Ulumudin, I., Djunaida, C. M., dan Khabibi, Pemisahan Kation Menggunakan


Senyawa Carrier Poli Hasil Sintesis dengan Teknik BLM, Semarang.

Wilcox, C. F.,1995, Experimental Chemistry A Small- Scale Approach, New Jersey,


Prentice- Hall A Simon & Schuster Company.
Lampiran 1. Bagan Kerja

A. Reaktifitas Unsur

Logam Li

- Dimasukkan kedalam tabung reaksi yang telahdiisi air 2 mL.

- Diamati dan diperhatikan reaksi yang terjadi.

- Dipanaskan apabila tidak terjadi reaksi hinggareaksi erjadi

(munculnya gelembung menandakanreaksi telah terjadi).

- Diteteskan indikator PP.

- Diamati perubahan warna yang terjadi.

- Dilakukan hal yang sama pada logam Ca, Mg, dan Na.

Hasil

B. Kelarutan Garam Sulfat

1 ml MgCl2 0,5 M

- Dimasukkan kedalam tabung reaksi.

- Ditambahkan 1 mL H2SO4 0,5 M.

- Diamati endapan yang terbentuk pada tabung reaksi.


- Dilakukan hal yang sama pada CaCl2, SrCl2, dan BaCl2.

Hasil

C. Kelarutan Garam Hidroksida

1 ml MgCl2 0,5 M

- Dimasukkan kedalam tabung reaksi.

- Ditambahkan 1 mL NaOH 0,5 M.

- Diamati endapan yang terbentuk pada tabung reaksi.

- Dilakukan hal yang sama pada CaCl2, SrCl2, dan BaCl2.

Hasil
Lampiran 2. Foto Percobaan

Gambar 1. Larutan MgCl2 ditambahkan Gambar 2. Larutan CaCl2 ditambahkan


H2SO4 H2SO4
Gambar 3. Larutan SrCl2 ditambahkan Gambar 4. Larutan BaCl2 ditambahkan
H2SO4 H2SO4

Gambar 5. Larutan MgCl2 ditambahkan Gambar 6. Larutan CaCl2 ditambahkan


NaOH NaOH

Gambar 7. Larutan MgCl2 ditambahkan


NaOH
LEMBAR PENGESAHAN

IKATAN KIMIA

Disusun dan diajukan oleh :

CINDY RESTU BHAKTI

H021 17 1514

Loporan ini telah diperiksa dan disetujui oleh :

Makassar, 19 Oktober 2017

Asisten, Praktikan,

WINA KHATRINI DARWIN CINDY RESTU BHAKTI


NIM : H31113505 NIM

Anda mungkin juga menyukai