Anda di halaman 1dari 13

MENGUKUR KADAR HEMOGLOBIN (Hb)

A. Tujuan Praktikum

Mengukur kadar hemoglobin (Hb) darah

B. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan :


1. Hemoglobinometer Sahli
2. Blood lancet steril (disposable)
3. Pipet khusus dengan selang karet
4. Pipet tetes
5. Pengaduk

Bahan yang digunakan :


1. Darah naracoba
2. HCl 0,1 N
3. Kapas Alkohol
4. Tisu
C. Langkah Kerja

Mensterilkan ujung jari manis atau jari tengah dengan kapas yang telah ditetesi
alkohol

Menusuk ujung jari dengan blood lancet steril (disposable) sehingga darah keluar

Menghisap darah menggunakan pipet khusus yang telah disediakan hingga tanda
garis pada pipet

Memasukkan darah kedalam tabung dan menambahkan larutan HCl 0,1 N

Mengaduk larutan dalam tabung hingga merata

Menambahkan tetes demi tetes aquadest sambil terus diaduk hingga warnanya sesuai
dengan warna larutan standar pada Hemoglobinometer Sahli

Mencatat angka pada tabung berskala yang menujukkan kadar Hb dalam gr/100
mL darah atau gr/dl
F. Pembahasan

Praktikum kali ini bertujuan untuk mengukur kadar hemoglobin darah. Kadar
hemoglobin merupakan salah satu indikator apakah manusia menderita anemia atau tidak.
Kadar Hb pada kondisi normal tergantung dari usia masing-masing individu. Pengukuran kadar
hemoglobin dalam darah memerlukan alat dan bahan yaitu hemoglobinometer Sahli,
bloodlancet steril (disposable), kapas, alkohol, aquadest, dan larutanHCl 0,1 N.

Hemoglobin adalah pigmen merah pembawa O2 pada eritrosit dan di bentuk oleh
eritrosit yang berkembang dalam sum-sum tulang. Pembentukan berlangsung dari setadium
perkembangan eritroblas sampai retukulosit. Molekul-molekul Hemoglobin terdiri atas dua
pasang rantai polipeptida (Globin) dan empat kelompok heme (Price & Wilson, 2004). Globulin
merupakan satu protein yang terbentuk dari empat polipetida yang sangat berlipat-lipat.
Sedangkan heme merupakan gugus nitrogenosa non protein yang mengandung besi
(Sherwood, 2001).

Hemoglobin adalah protein yang kaya akan zat besi. Memiliki afinitas (daya gabung)
terhadap oksigen dan dengan oksigen itu membentuk oxihemoglobin di dalam sel darah merah.
Dengan melalui fungsi ini maka oksigen dibawa dari paru-paru ke jaringan-jaringan. Hemoglobin
merupakan senyawa pembawa oksigen pada sel darah merah. Hemoglobin dapat diukur secara
kimia dan jumlah Hb/100 ml darah dapat digunakan sebagai indeks kapasitas pembawa oksigen
pada darah. Hemoglobin adalah kompleks protein-pigmen yang mengandung zat besi.
Kompleks tersebut berwarna merah dan terdapat didalam eritrosit. Sebuah molekul
hemoglobin memiliki empat gugus haeme yang mengandung besi fero dan empat rantai
globin (Rindamusti, 2012).

Hemoglobin adalah metaloprotein pengangkut oksigen yang mengandung besi dalam


sel merah dalam darah mamalia dan hewan lainnya. Hemoglobin adalah suatu protein dalam
sel darah merah yang mengantarkan oksigen dari paru-paru ke jaringan di seluruh tubuh dan
mengambil karbondioksida dari jaringan tersebut dibawa ke paru untuk dibuang ke udara bebas
( Evelyn, 2000 ).
Molekul hemoglobin terdiri dari globin, apoprotein, dan empat gugus heme, suatu
molekul organik dengan satu atom besi. Mutasi pada gen protein hemoglobin mengakibatkan
suatu golongan penyakit menurun yang disebut hemoglobinopati, di antaranya yang paling
sering ditemui adalah anemia sel sabit dan talasemia.

Hemoglobin (Hb) tersusun atas protein globin dan ferroproto-porfirin (heme) yang
berikatan non-kovalen. Setiap molekul Hb memiliki 4 atom Fe yang terdapat pada heme, dan
setiap atom Fe dapat mengikat oksigen secara reversibel, dengan demikian setiap molekul Hb
teroksigenasi atau disebut HbO2 (oksiHb) mengandung 4 mol oksigen. Hb juga dapat berikatan
dengan CO2 pada gugus asam aminonya membentuk karbaminoHb (HbCO2), juga dengan NO
membentuk HbNO. Peroksid, ferrisianid dan kuinon dapat mengoksidasi Fe2+ menjadi Fe3+
sehingga terbentuk met Hb yang tidak mampu mengikat O2 maupun CO2. Met Hb dapat
direduksi menjadi Hb oleh dithionit (Na2S2O4). Met Hb dapat bereaksi dengan anion OH- pada
H+ basa/ alkalis dan Cl- pada pH asam.

Hb + HClGlobin-HCl + Ferroproto-porfirin

Hb A (dewasa) terdiri atas rantai alfa () dan beta () dengan ikatan non-kovalen. Tiap
rantai mempunyai 80 lebih asam amino dan setiap sub-unit terdiri atas 7 segmen helik yang
ditandai A-H.
SifatunikHbadalahkemampuannyaberikatansecarareversibeldenganoksigendenganmem
bentukkompleksoksigen yang stabiltanpaterjadioksidasi Fe2+ menjadi Fe3+.
Halinikarenaadanyasifathidrofilikkantungheme.

Hemoglobin tersusun dari empat molekul protein (globulin chain) yang terhubung satu
sama lain. Hemoglobin normal orang dewasa (HbA) terdiri dari 2 alpha-globulin chains dan 2
beta-globulin chains, sedangkan pada bayi yang masih dalam kandungan atau yang sudah lahir
terdiri dari beberapa rantai beta dan molekul hemoglobinnya terbentuk dari 2 rantai alfa 8 dan
2 rantai gama yang dinamakan sebagai HbF. Pada manusia dewasa, hemoglobin berupa
tetramer (mengandung 4 subunit protein), yang terdiri dari masing-masing dua subunit alfa dan
beta yang terikat secara nonkovalen. Subunit-subunitnya mirip secara struktural dan berukuran
hampir sama. Tiap subunit memiliki berat molekul kurang lebih 16,000 Dalton, sehingga berat
molekul total tetramernya menjadi sekitar 64,000 Dalton.

Pusat molekul terdapat cincin heterosiklik yang dikenal dengan porfirin yang menahan
satu atom besi; atom besi ini merupakan situs/loka ikatan oksigen. Porfirin yang mengandung
besi disebut heme . Tiap subunit hemoglobin mengandung satu heme, sehingga secara
keseluruhan hemoglobin memiliki kapasitas empat molekul oksigen. Pada molekul heme inilah
zat besi melekat dan menghantarkan oksigen serta karbondioksida melalui darah.

Kapasitas hemoglobin untuk mengikat oksigen bergantung pada keberadaan gugus


prastitik yang disebut heme. Gugus heme yang menyebabkan darah berwarna merah. Gugus
heme terdiri dari komponen anorganik dan pusat atom besi. Komponen organik yang disebut
protoporfirin terbentuk dari empat cincin pirol yang dihubungkan oleh jembatan meterna
membentuk cincin tetra pirol. Empat gugus mitral dan gugus vinil dan dua sisi rantai propionol
terpasang pada cincin ini ( Nelson dan Cox, 2005 ).

Hemoglobin juga berperan penting dalam mempertahankan bentuk sel darah yang
bikonkaf, jika terjadi gangguan pada bentuk sel darah ini, maka keluwesan sel darah merah
dalam melewati kapiler jadi kurang maksimal. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa
kekurangan zat besi bisa mengakibatkan anemia. Jika nilainya kurang dari nilai diatas bisa
dikatakan anemia, dan apabila nilainya kelebihan akan mengakibatkan polinemis (Evelyn, 2000).

Setiap rantai globin terdiri atas delapan daerah helik dan terdapat daerah nonhelik di
antara daerah helik tersebut dan pada terminal-terminal karboksil dan amino. Sekelompok
heme letaknya tersisip ke dalam celah yang terdapat pada permukaan dari tiap-tiap rantai
globin. Heme pada dasarnya bersifat nonpolar dan sebagian penggabungannya dengan globin
dipertahankan oleh interaksi hidrofobik dengan asam amino nonpolar pada lapisan celah heme
tersebut. Tiap-tiap atom besi yang terdapat pada heme dapat membentuk hingga enam ikatan
dan empat ikatan di antaranya terbentuk akibat ikatan antara atom besi tersebut dengan atom
pirol nitrogen.

Rantai yang sebelah tepi dari residu-residu histidin (asam amino E7 dan F8 di dalam
rantai dan ) terletak pada tiap tepi bidang datar dari kelompok heme yang berinteraksi
dengan atom besi, akan tetapi hanya satu di antaranya yang membentuk ikatan permanen,
yaitu bagian proksimal dari histidin sedangkan bagian distalnya berhubungan dengan
sekelompok heme tetapi tidak membentuk ikatan dengan atom besi. Enam ikatan terbentuk
oleh adanya molekul oksigen, di mana penggabungannya dengan heme yang berada di tepi
distal.

Fungsi Hemoglobin yaitu:

1. Mengangkut O2 dari organ respirasi ke jaringan perifer dengan cara membentuk


oksihemoglobulin. Oksihemoglobin ini akan beredar secara luas pada seluruh jaringan tubuh.
Jika kandungan O2 di dalam tubuh lebih rendah dari pada jaringan paru-paru, maka ikatan
oksihemoglobulin akan dibebaskan dan O2 akan digunakan dalam metebolisme sel.
2. Mengangkut karbon dioksida dari berbagai proton, seperti ion Cldan ion hidrogen asam (H+
) dari asam karbonat (H2CO3) dari jaringan perifer ke organ respirasi untuk selanjutnya
diekskresikan ke luar. Oleh karena itu, hemoglobin juga termasuk salah satu sistem buffer atau
penyangga untuk menjaga keseimbangan pH ketika terjadi perubahan PCO2 (Martini, 2009).

Kadar hemoglobin bisa saja berubah-ubah karena ada beberapa faktor yang
mempengaruhi jumlah atau kadar hermoglobin dalam darah. Beberapa faktor-faktor yang
mempengaruhi kadar hemoglobin yaitu sebagai berikut (Sopny, 2010) :

1. Kecukupan Besi dalam Tubuh

Menurut Parakkasi, Besi dibutuhkan untuk produksi hemoglobin, sehingga anemia gizi
besi akan menyebabkan terbentuknya sel darah merah yang lebih kecil dan kandungan
hemoglobin yang rendah. Besi juga merupakan mikronutrien essensil dalam memproduksi
hemoglobin yang berfungsi mengantar oksigen dari paru-paru ke jaringan tubuh, untuk
diekskresikan ke dalam udara pernafasan, sitokrom, dan komponen lain pada sistem enzim
pernafasan seperti sitokrom oksidase, katalase, dan peroksidase. Besi berperan dalam sintesis
hemoglobin dalam sel 13 darah merah dan mioglobin dalam sel otot. Kandungan 0,004%
berat tubuh (60-70%) terdapat dalam hemoglobin yang disimpan sebagai feritin di dalam hati,
hemosiderin di dalam limfa dan sumsum tulang (Zarianis,2006).

Kurang lebih 4% besi di dalam tubuh berada sebagai mioglobin dan senyawa-senyawa
besi sebagai enzim oksidatif seperti sitokrom dan flavoprotein. Walaupun jumlahnya sangat
kecil namun mempunyai peranan yang sangat penting. Mioglobin ikut dalam transportasi
oksigen menerobos sel-sel membran masuk kedalam sel-sel otot, sitokrom, flavoprotein, dan
senyawa-senyawa mitokondria yang mengandung besi lainnya, memegang peranan penting
dalam proses oksidasi menghasilkan Adenosin Tri Phosphat (ATP) yang merupakan molekul
berenergi tinggi. Sehingga apabila tubuh mengalami anemia gizi besi maka terjadi penurunan
kemampuan bekerja (WHO dalam Zarianis, 2006). Menurut Kartono J dan Soekatri M,
kecukupan besi yang direkomendasikan adalah jumlah minimum besi yang berasal dari
makanan yang dapat menyediakan cukup besi untuk setiap individu yang sehat pada 95%
populasi, sehingga dapat terhindar kemungkinan anemia kekurangan besi (Zarianis, 2006).

2. Metabolisme Besi dalam Tubuh

Menurut Wirakusumah, Besi yang terdapat di dalam tubuh orang dewasa sehat
berjumlah lebih dari 4 gram. Besi tersebut berada di dalam 14 sel-sel darah merah atau
hemoglobin (lebih dari 2,5g), mioglobin (150 mg), phorphyrin cytochrome, hati, limfa sumsum
tulang (> 200-1500 mg). Ada dua bagian besi dalam tubuh, yaitu bagian fungsional yang di pakai
untuk keperluan metabolic dan bagian yang merupakan cadangan. Hemoglobin, mioglobin,
sitokrom, serta enzim hem dan non hem adalah bentuk besi fungsional dan berjumlah antara
25-55 mg/kg berat badan. Sedangkan besi cadangan apabila dibutuhkan untuk fungsi-fungsi
fisiologis dan jumlahnya 5-25 mg/kg berat badan. Feritin dan hemosiderin adalah bentuk besi
cadangan yang biasanya terdapat dalam hati, limpa dan sumsum tulang. Metabolisme besi
dalam tubuh terdiri dari proses absorpsi, pengangkutan, pemanfaatan, penyimpanan dan
pengeluaran (Zarianis, 2006).

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kadar Hemoglobin dari Segi Asupan Makanan

1. Budaya pangan :
Kegiatan budaya suatu keluarga, suatu kelompok masyarakat, suatu negara mempunyai
pengaruh yang kuat terhadap apa, kapan dan bagaimana penduduk makan.
2. Pola makanan
Di beberapa daerah pedesaan di Asia Tenggara umumnya makan satu atau dua kali
sehari. Cara penyiapan pangan secara tradisional, biasanya tidak menggunakan bahan bakar
dan cenderung mempertahankan zat gizi yang terdapat dalam pangan.
3. Pembagian makanan dalam keluarga
Kekurangan pangan dalam rumah tangga akan menyebabkan kecukupan gizi anggota
keluarga terganggu. Kekurangan pangan yang kronik akan berpengaruh terhadap kadar
hemoglobin.
4. Besar keluarga
Banyaknya anggota dalam suatu keluarga akan mempengaruhi pemenuhan gizi keluarga
tersebut.
5. Faktor pribadi
Faktor pribadi dan kesukaan yang mempengaruhi jumlah dan jenis makanan yang
dikonsumsi penduduk.
6. Pengetahuan gizi
Pengetahuan yang kurang menyebabkan bahan makanan bergizi yang tersedia tidak
dikonsumsi secara optimal. Kesalahan pemilihan bahan makanan dan pola makan yang salah,
cukup berperan dalam terjadinya anemia (Depkes RI, 2003).
7. Tampilan
Suatu bahan makanan dianggap memenuhi selera atau tidak, tergantung tidak hanya
pada pengaruh sosial dan budaya tetapi juga dari bentuk makanan secara fisik.
8. Status kesehatan
Tingkat konsumsi pangan adalah suatu bagian penting dari status kesehatan seseorang.
9. Segi psikologi
Sikap manusia terhadap makanan banyak dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman
dan respon-respon yang diperlihatkan oleh orang lain terhadap makanan sejak masa kanak-
kanak.
10. Kepercayaan terhadap Makanan
Manusia selalu berpikir dalam menentukan menu dari makanan yang akan dikonsumsi.
Bahwa makanan tertentu akan memberikan dampak bagi tubuh mereka (Irianti, 2008).

Penetapan Hb metode Sahli didasarkan atas pembentukan hematin asam setelah darah
ditambah dengan larutan HCl 0.1N kemudian diencerkan dengan aquadest. Pengukuran secara
visual dengan mencocokkan warna larutan sampel dengan warna batang gelas standar. Metode
ini memiliki kesalahan sebesar 10-15%, sehingga tidak dapat untuk menghitung indeks
eritrosi. Anemia adalah suatu keadaan dengan kadar hemoglobin yang lebih rendah dari
normal. Anemia bisa juga berarti suatu kondisi ketika terdapat defisiensi ukuran atau jumlah
eritrosit atau kandungan hemoglobin. Anemia yang paling umum ditemukan di masyarakat
adalah anemia gizi besi. Terjadinya anemia gizi besi ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor,
diantaranya kandungan zat besi dalam makanan sehari-hari, penyerapan zat besi dari makanan
yang sangat rendah, adanya parasit dalam tubuh seperti cacing tambang atau cacing pita, diare,
kehilangan banyak darah akibat kecelakaan atau operasi karena penyakit (Wirakusumah, 1999)

Anemia gizi besi adalah anemia yang terjadi akibat kekurangan zat besi dalam darah.
Artinya, konsentrasi hemoglobin dalam darah berkurang karena terganggunya pembentukan
sel-sel darah merah akibat kurangnya kadar zat besi dalam darah. Semakin berat kurangnya
kadar zat besi yang terjadi, akan semakin berat anemia yang diderita. Anemia gizi besi berakibat
buruk bagi penderita terutama bagi golongan rawan gizi yaitu anak balita, anak sekolah, remaja,
ibu hamil dan ibu menyusui serta pekerja terutama yang berpenghasilan rendah. Pada anak dan
remaja yang terkena anemia gizi akan terganggu 2 pertumbuhan fisik dan perkembangan.
Selain itu, aktivitas fisiknya juga akan menurun (Wirakusumah, 1999). Prevalensi anemia (< 12g/
dl) adalah sebesar 27% ( remaja desa) dan 22% (remaja kota) pada saat tidak sedang
menstruasi. Sebanyak 24% (remaja desa) dan 27,8% (remaja kota) pada saat menstruasi. Data
tersebut menunjukkan bahwa kadar hemoglobin lebih tinggi pada remaja desa pada saat
menstruasi, sedangkan kadar hemoglobin lebih rendah pada remaja desa pada saat tidak
sedang menstruasi (Vasanthi et.al, 1991).

Pemeriksaan hemoglobin dalam darah mempunyai peranan yang penting dalam


diagnose suatu penyakit, karena hemoglobin merupakan salah satu protein khusus yang ada
dalam sel darah merah dengan fungsi khusus yaitu mengangkut O2 ke jaringan dan
mengembalikan CO2 dari jaringan ke paru-paru. Kegunaan dari pemeriksaan hemoglobin ini
adalah untuk mengetahui ada tidaknya gangguan kesehatan pada pasien, misalnya kekurangan
hemoglobin yang biasa disebut anemia. Hemoglobin bisa saja berada dalam keadaan terlarut
langsung dalam plasma. Akan tetapi kemampuan hemoglobin untuk mengikat oksigen tidak
bekerja secara maksimum dan akan mempengaruhi pada faktor lingkungan.

Pada saat praktikum metode yang di gunakan dalam praktikum ini adalah metode
dengan menggunakan haemometer sahli untuk mengetahui kadar hemoglobin (Hb) karena
metode ini dilakukan dengan cara sederhana, namun tetap membutuhkan keterampilan dan
ketelitian dalam pengamatan angka Hemoglobin (Hb).

Pada metode Sahli, hemoglobin dihidrolisis dengan HCl menjadi globin ferroheme.
Ferroheme oleh oksigen yang ada di udara dioksidasi menjadi ferriheme yang akan segera
bereaksi dengan ion Cl membentuk ferrihemechlorid yang juga disebut hematin atau hemin
yang berwarna cokelat. Warna yang terbentuk ini dibandingkan dengan warna standar (hanya
dengan mata telanjang). Untuk memudahkan perbandingan, warna standar dibuat konstan,
yang diubah adalah warna hemin yang terbentuk. Perubahan warna hemin dibuat dengan cara
pengenceran sedemikian rupa sehingga warnanya sama dengan warna standar. Karena yang
membandingkan adalah dengan mata telanjang, maka subjektivitas sangat berpengaruh. Di
samping faktor mata, faktor lain, misalnya ketajaman, penyinaran dan sebagainya dapat
mempengaruhi hasil pembacaan. Meskipun demikian untuk pemeriksaan di daerah yang belum
mempunyai peralatan canggih atau pemeriksaan di lapangan, metode sahli ini masih memadai
(Sopny, 2011).

Penetapan Hb metode Sahli didasarkan atas pembentukan hematin asam setelah darah
ditambah dengan larutanHCl 0.1 N kemudian diencerkan dengan aquadest. Pengukuran secara
visual dengan mencocokkan warna larutan sampel dengan warna batang gelas standar. Metode
ini memiliki kesalahan sebesar 10-15%, sehingga tidak dapat untuk menghitung indeks eritrosi.

Kadar hemoglobin dalam darah sangat tergantung pada jenis kelamin dan umur
seseorang.

Pria dewasa : 13.2 - 17.3 g/100 ml darah

Perempuan : 11.7 - 15.5 g/100 ml darah

Bayi baru lahir : 15.2 - 23.6 g/100 ml darah

Anak usia 1-3 tahun : 10.8 - 12.8 g/100 ml darah

Anak usia 4-5 tahun : 10.7 - 14.7 g/100 ml darah

Anak usia 6-10 tahun : 10.8 - 15.6 g/100 ml darah

Pemeriksaaan hemoglobin memiliki beberapa manfaat yaitu :


1. Untuk mengevaluasi kapasitas pengangkutan oksigen.
2. Menilai struktur dan fungsi eritrosit.
3. Memberikan pemahaman mengenai penyakit sel darah merah.
4. Memperkirakan ukuran rata-rata dan kandungan hemoglobin di masing-masing eritrosit
(MCH dan MCHC).
5. Mengetahui penyebab umum hipoksia jaringan.
(Ronald A.Sacher, 2004)
Prosedur kerja yang dilakukan dalam kegiatan pengukuran kadar hemoglobin yaitu
mensterilkan ujung jari manis atau jari tengah dengan kapas yang telah ditetesi alkohol.
Kemudian menusuk ujung jari dengan blood lancet steril (disposable) sehingga darah keluar.
Lalu menghisap darah menggunakan pipet khusus yang telah disediakan hingga tanda garis
pada pipet. Setelahi itu, memasukkan darah ke dalam tabung dan menambahkan larutan HCl
0,1 N kemudian dikocok hingga merata. Kemudian menambahkan tetes demi tetes aquadest
sambil terus diaduk hingga warnanya sesuai dengan warna larutan standar pada
Hemoglobinometer Sahli. Langkah terakhir, mencatat angka pada tabung berskala yang
menujukkan kadar Hb dalam gr/ 100 mL darah atau gr/ dl.

Berdasarkan hasil pengamatan tentang kadar Hemoglobin (Hb) yang telah di peroleh,
ternyata kadar Hemoglobin yang di dapat tidak sesuai dengan ketetapan normal kadar
hemoglobin, pada sampel yang telah di amati rata-rata kadar hemoglobin wanita sebesar 9,93
gr/ dl. Batas normal kadar hemoglobin wanita adalah 12 gr/ dl sedangkan pada pria sebesar
10,42 gr/ dl, pada sampel wanita dan pria rata-rata kadar hemoglobin sangat jauh dari batas
normal. Dapat disimpulkan bahwa rata-rata probandus mengalami anemia.

Namun tidak dapat ditarik kesimpulan yang pasti bahwa probandus menderita anemia,
mungkin saja dikarenakan oleh beberapa faktor, seperti kondisi tubuh ke empat relawan yang
menjadi sampel praktikum kurang stabil, kemudian kesalahan yang terjadi pada saat praktikan
membaca angka penetapan kadar hemoglobin. Pada saat menyamakan warna dengan batang
standar praktikan terlalu banyak menambahkan aquades atau terlalu sedikit menambahkan
aquades, sehingga pada saat praktikan membaca penetapan angka kadar hemoglobin kurang
akurat.
G. Kesimpulan

Pengukuran kadar hemoglobin dalam darah pada praktikum ini dilakukan dengan
metode Sahli. Dari hasil pengukuran yang dilakukan, praktikan wanita memiliki rata-rata
kadar hemoglobin sebanyak 9,93 gr/dl dan praktikan pria memiliki rata-rata 10,42 gr/dl.
Kadar hemoglobin dapat berubah-ubah karena dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti
usia, jenis kelamin, keadaan kesehatan, dan juga pola makan.

H. Daftar pustaka

Campbel,neil A. , Jane B Reece, Lawrence G. Mitchell. 2004. Biologi Edisi Kelima Jilid III.
Erlangga : Jakarta.

Heru Cahyono. 2015. Dikat Kuliah Fisiologi Hewan. Yogyakarta: Fmipa Uny.

Hoffbrand et al., 2005. Selekta Hematologi Edisi 4. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC

Isbister, James P. dan Pittiglio, D. Harmening, alih bahasa Devy H. Ronaldi. 1999.

Hematologi Klinik: Pendekatan Berorientasi Masalah. Jakarta: Hipokates.

Mescher, Anthony L. 2010. Histology Dasar Junqueira. EGC: Jakarta.

Sawali. 2013. Jumlah Eritrosit, Kadar Hemoglobin, Dan Hematokrit Pada Berbagai Jenis Itik
Lokal Terhadap Penambahan Probiotik Dalam Ransum
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=142301&val=5351.Diakses pada
senin, 15 Desember 2014.

Sherwood, L. 2001. Fisiologi Manusia; dari Selke Sistem. Edisi 2.Jakarta: EGC.

Sopny. 2010. Kadar hemoglobin darah http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/


20481/4/Chapter%20II.pdf. diakses pada Sabtu, 17 Desember 2016.