Anda di halaman 1dari 20

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Defenisi Berat Badan Lebih

Overweight dan Obesitas yang didefinisikan sebagai berat badan lebih

merupakan suatu kelainan kompleks pengaturan nafsu makan dan metabolisme

energi yang dikendalikan oleh beberapa faktor biologi spesifik. Secara fisiologis,

obesitas didefinisikan sebagai suatu keadaan dengan akumulasi lemak yang tidak

normal atau berlebihan di jaringan adiposa sehingga dapat mengganggu kesehatan

(Sugondo, 2009). Pada pria, kandungan lemak tubuh yang sehat mungkin

berjumlah 15% dari keseluruhan berat badan; sedangkan pada wanita sekitar 25%

(Barasi, 2007). Overweight dan obesitas harus dibedakan dengan keadaan

kelebihan berat badan yang sering dijumpai di antara para atlet olahraga beban

atau pada orang-orang tertentu dengan kerangka tubuh yang besar (Hartono,

2009).

Berdasarkan Indeks Massa Tubuh, Overweight didefinisikan dengan angka

Indeks Massa Tubuh (IMT) 25-29.9 kg/m sedangkan pada obesitas, IMT

menunjukkan angka lebih besar dari 30kg/m (Grundy , 2010).

2.2 Pengukuran dan Klasifikasi Berat Badan Lebih

Salah satu cara penentuan overweight dan obesitas adalah dengan

menggunakan Indeks Massa Tubuh. IMT dapat menggambarkan lemak tubuh

yang berlebihan secara sederhana dan bisa digunakan dalam penelitian populasi
berskala besar. Pengukurannya hanya membutuhkan data berupa berat badan dan

tinggi badan yang dapat dilaukan oleh seseorang secara akurat (Egger, 2003).

Menurut WHO, klasifikasi derajat obeitas adalah sebagai berikut :

Tabel 2.1 Klasifikasi Overweight dan Obesitas berdasarkan IMT menurut WHO
Klasifikasi BMI (kg/m)
Berat Badan Kurang (underweight) <18.50
Normal 18.50-24.99
Berat Badan Lebih (Overweight) >25.00
Pra-obesitas 25.00-29.99
Obesitas >30.00
Obesitas Tingkat I 30.00-34.99
Obesitas Tingkat II 35.00-39.99
Obesitas Tingkat III >40.00

Sumber: diadopsi dari WHO (1995, 2000, 2004)

Sedangkan untuk wilayah Asia Pasifik mempunyai klasifikasi obesitas sendiri:

Tabel 2.2 Klasifikasi Overweight dan Obesitas berdasarkan IMT menurut kriteria
Asia Pasifik
Klasifikasi BMI (kg/m)
Berat Badan Kurang (underweight) <18.50
Normal 18.50-22.99
Berat Badan Lebih (Overweight) >23.00
Risiko Obesitas 23.00-24.99
obesitas I 25-29.99
Obesitas II >30.00

Sumber: diadopsi dari WHO (1995, 2000, 2004)

2.3 Patogenesis Berat Badan Lebih

Berat badan lebih merupakan hasil interaksi yang kompleks antara faktor

lingkungan dan faktor genetik, serta ketidakseimbangan antara energi yang masuk

dengan energi yang keluar (Greganti, 2009). Berat badan lebih terjadi ketika

energi yang masuk melebihi energi yang keluar dalam waktu beberapa tahun.

Dalam keadaan normal, tubuh berusaha mempertahankan keseimbangan energi

agar tetap berada pada berat badan tertentu. Regulasi ini diatur oleh sistem

9
orexigenic (perangsangan nafsu makan) dan anorexigenic (penekanan nafsu

makan) dari sistem neuroendokrin yang kompleks (Hawkesworth, 2014).

2.3.1 Masukan Energi

Regulasi biologi yang terjadi pada proses pemasukan energi telah dipelajari pada

hewan coba. Sinyal-sinyal yang diciptakan pada sistem neuroendokrin

mempengaruhi perilaku makan individu. Beberapa pengaruhnya antara lain:

Hunger (lapar), yaitu kebutuhan mendesak atau keinginan untuk

makan

Satiation (kenyang), yaitu keadaan merasa penuh dan tidak dapat

makan lebih banyak

Satiety (kekenyangan), yaitu rasa tidak lagi menjadi lapar, satu set

kompleks peristiwa postprandial yang mempengaruhi interval untuk

makan berikutnya atau jumlah yang dikonsumsi pada waktu makan

berikutnya

Sebagai contoh, ghrelin, senyawa peptida yang dihasilkan lambung

menyebabkan hunger, Cholecystokinin menyebabkan satiation, dan leptin dapat

menyebabkan hunger, satiation, dan satiety.

Faktor-faktor hormonal yang berperan terhadap perilaku makan antara lain

derivat usus (ghrelin, cholecystokinin, glucagon-like peptide 1), derivat

pankreas (insulin), hormon peptida seperti apolipoprotein A-IV, yang disekresi

dengan kilomikron. Sinyal-sinyal ini dipicu oleh rangsangan mekanik

(misalnya, keadaan perut penuh) dan keadaan nutrisi dalam jejunum dan ileum.

Pengaturan perilaku makan ini juga dipengaruhi oleh sistem saraf pusat.

Sejumlah neuropeptida, turunan lipid, dan monoamina memiliki sifat anabolik

10
atau katabolik. Senyawa-senyawa yg berperan dapat di lihat pada tabel 2.3.

Beberapa dari senyawa ini melayani lebih dari satu fungsi, seperti regulasi

sekresi hormon (thyrotropin-releasing hormone dan corticotropin-releasing

hormon), kesadaran (norepinefrin), atau memperkuat sistem (endocannabinoid)

(Jensen, 2012)

Tabel 2.3 Modulator Sistem Saraf Pusat Pada Keseimbangan Energi


Central Anabolic (Intake) Central Catabolic ( Intake)
Neuropeptide Y a-Melanocyte-stimulating
hormone
Agouti-related protein Melanin-concentrating
Corticotropin-releasing hormone Thyrotropin-releasing
hormone hormone

Hypocretins and orexins transcript (CART)


Cocaine- and amphetamine-
regulated
Galanin Interleukin-1

Norepinephrine Urocortin

Sumber: Goldmans Cecil Medicine, 2012

2.3.2 Keluaran Energi

Ada berbagai macam pengeluaran energi harian pada orang dewasa, mulai

dibawah 1400 kcal / hari sampai 5.000 kkal / hari atau lebih. Biasanya

pengeluaran energi harian dibagi menjadi laju metabolisme basal, proses

termogenesis dan pengeluaran energi karena aktivitas fisik (Jensen, 2012)

2.4 Faktor Risiko Berat Badan Lebih

2.4.1 Faktor Genetik

11
Berdasarkan studi terbaru yang dilakukan pada hewan coba mengenai

pengaruh genetik terhadap obesitas, diketahui ada 5 gen yang berperan. Salah satu

yang paling berperan adalah gen ob atau lep, yang merupakan gen kode yang

terdapat pada protein leptin yang diproduksi di dalam sel lemak, usus, dan

plasenta. Gen ini meningkat pada jaringan adiposa yang mensekresi leptin,

memberikan sinyal pada otak untuk menahan nafsu makan, mengurangi asupan

kalori dan meningkatkan pengeluaran energi. Leptin dapat bekerja dengan

menurunkan sekresi Neuropeptida Y pada inti arkuata. Neuropeptida Y adalah

stimulus kuat yang merangsang nafsu makan.

Terapi pada penderita obesitas dengan leptin dosis fisiologis menunjukkan

penurunan pada intake makanan dan berat badan. Defisiensi reseptor leptin bisa

juga terjadi pada manusia, dimana kondisi ini disebabkan oleh resistensi reseptor

terhadap leptin (Greganti, 2009).

Cacat pada gen agonti diketahui juga menunjunjukkan pengaruhnya

terhadap tikus percobaan. Dimana protein sinyal gen agonti bersaing dengan

ikatan MSH-melanocortin 4 receptor pada hipotalamus. Reseptor ini menurunkan

intake makanan dan mengurangi terjadinya hiperfagia.

Gen lain yang bertanggung jawab terhadap obesitas adalah gen FTO yaitu

gen yang terletak pada kromosom 16 manusia. Berdasarkan hasil penelitian, orang-

orang yang memiliki gen FTO dan memiliki pasangan alel homozigot varian tersebut

di dalam genomnya memiliki berat badan 3 kg lebih berat dari orang biasa dan

memiliki risiko terserang obesitas 1,5 kali lebih besar dari orang biasa. Penelitian

yang dilakukan oleh Sekolah Medis Universitas Boston menemukan bahwa gen

bernama INSIG2 bertanggung jawab terhadap obesitas. Gen INSIG2 bertanggung

12
jawab dalam menginhibisi sintesis asam lemak dan kolesterol. Selain itu, ada gen

lain yang masih dipelajari karena diduga ada pengaruh terhadap terjadinya obesitas.

Gen tersebut antara lain gen B3-adrenergik receptor, peroxisome proliferator-

activated receptor l2, dan melanocortin-4 receptor (Greganti, 2009).

Pada populasi umum, meskipun cacat gen spesifik belum teridentifikasi

dengan jelas, pengaruh riwayat keluarga jelas menunjukkan peran genetik sebagai

faktor obesitas manusia (Greganti, 2009). Menurut (Mustofa, 2010) Parental

fatness merupakan faktor genetik yang memiliki peranan besar.Bila kedua orang

tua obesitas, 80% anaknya menjadi obesitas. Bila salah satu orang tua obesitas,

kejadian obesitas menjadi 40% dan bila kedua orang tua tidak obesitas, prevalensi

menjadi 14%.

2.4.2 Lingkungan Intrauterin

Faktor-faktor penyebab obesitas pada dewasa mungkin berawal sejak

dalam kandungan. Beberapa pengaruh lingkungan intrauterin dan periode

perinatal telah dilakukan pengkajian. Asupan kalori selama masa kehamilan

mempengaruhi risiko obesitas di kemudian harinya (Greganti, 2009). Gizi yang

kurang pada trimester terakhir kehamilan dan periode perinatal menurunkan risiko

obesitas, namun meningkatkan risiko hipertensi, toleransi glukosa abnormal, dan

penyakit kardiovaskuler. Sedangkan dua trimester awal meningkatan

kemungkinan peningkatan berat badan di kemudian harinya (Jensen, 2012).

Selama kehamilan, ibu yang merokok dan juga penderita diabetes melitus

menyebabkan seorang anak juga berisiko obesitas. Pemberian ASI pada bayi

13
dapat menurunkan risiko obesitas pada anak dan masa-masa berikutnya (Greganti,

2009).

2.4.3 Asupan Makanan

Sejumlah faktor lingkungan dapat mempengaruhi asupan makanan. Faktor

tersebut antara lain kepadatan energi makanan, porsi sekali makan, variasi jenis

makanan, ketersediaan makanan, selera makan konsumen, dan harga yang

terjangkau. Mengkonsumsi makanan padat energi menghasilkan asupan energi

yang lebih besar. Ukuran porsi makanan yang besar juga dapat meningkatkan

asupan energi yang masuk. Variasi jenis makanan dalam satu kali makan juga

dapat mempengaruhi asupan energi misalnya mengkonsumsi berbagai jenis

makanan karbohidrat dalam waktu yang sama. Sedangkan, peningkatan asupan

sayuran tidak mengakibatkan asupan energi meningkat dan tidak terkait dengan

peningkatan berat badan. Faktor lain yang mungkin memiliki pengaruh terhadap

angka kejadian obesitas antara lain semakin terjangkaunya harga makanan,

ketersediaan makanan, dan selera makan konsumen. Selain itu ada bukti yang

menunjukkan bahwa mengkonsumsi minuman seperti soft drink dan jus buah akan

menambah asupan energi dan meningkatkan berat badan (Jensen, 2012).

Faktor asupan karbohidrat sangat berperan dengan terjadinya berat badan

lebih. Fungsi karbohidrat dalam tubuh adalah sebagai sumber energi dan yang

paling utama, melaksanakan dan melangsungkan proses metabolisme lemak,

menghemat protein, menyimpan cadangan energi siap pakai dalam bentuk

glikolisis, mengatur gerak peristaltik usus, terutama usus besar (Kartasapoetra,

2008). Karbohidrat yang dikonsumsi di dalam tubuh akan dicerna dan dipecah

14
menjadi molekul yang lebih sederhana yaitu glukosa. Glukosa di dalam darah

diperlukan tubuh sebagai sumber energi utama. Jika aktivitas tubuh memerlukan

jumlah glukosa yang sedikit, maka kelebihan glukosa akan disimpan menjadi

glikogen. Proses ini disebut glikogenesis. Jika cadangan glikogen dalam tubuh

sudah banyak maka tubuh akan menyimpan kelebihannya dalam bentuk

trigliserida dalam jaringan adiposa. (Guyton,2006)

Faktor asupan protein mempunyai peranan terhadap berat badan lebih.

Protein yang dikonsumsi di dalam tubuh akan dicerna dan dipecah menjadi

molekul yang lebih sederhana yaitu asam amino. Bila seseorang mengkonsumsi

banyak protein dalam makanannya daripada yang dapat digunakan jaringannya,

maka molekul asam amino akan diubah menjadi Asetil-Koa. Aseltil-Koa ini

kemudian dapat disintesis menjadi trigliserida yang disimpan dalam jaringan

adiposa (Guyton, 2006).

Faktor asupan lemak mempunyai peranan yang sangat penting terhadap

kejadian berat badan lebih. Lemak merupakan penyumbang energi terbesar

dibandingkan karbohidrat dan protein, dimanna 1 gram lemak menghasilkan 9

kkal. Lemak disimpan dalam bentuk trigliserida di dalam sel lemak dan jaringan

adiposa. Kelebihan energi yang berasal dari karbohidrat dan protein dapat diubah

menjadi lemak dan disimpan di dalam jaringan adiposa (Almatsier, 2001)

2.4.4 Aktivitas Fisik

Aktivitas fisik sehari-hari dipercaya menjadi salah satu faktor

munculnya obesitas pada seseorang (Purnamawati I, 2009). Anak yang kurang

15
melakukan aktivitas fisik menyebabkan tubuh kurang menggunakan energi yang

tersimpan di dalam tubuh. Oleh karena itu, jika asupan energi berlebihan tanpa

diimbangi dengan aktivitas fisik yang sesuai secara terus menerus dapat

mengakibatkan obesitas. Padahal cara yang paling mudah dan umum dipakai

untuk meningkatkan pengeluaran energi adalah dengan melakukan latihan fisik

atau gerak badan (Damayanti, 2002).

Aktivitas fisik dapat dibagi menjadi tiga kategori:

latihan (fitness dan kegiatan yang berhubungan dengan olahraga);

aktivitas fisik yang berhubungan dengan pekerjaan; dan

nonexercise, nonemployment (aktivitas spontan).

Data terbaru menunjukkan bahwa jumlah waktu yang dihabiskan dalam

kegiatan menetap/ sedentary (misalnya, menonton televisi, komputer) adalah

penyebab utama dari kelainan metabolik yang berhubungan dengan obesitas

(Jensen, 2012).

Zurlo et al. mempelajari bahwa aktivitas spontan berkorelasi dengan

peningkatan berat badan dan adipositas. Perbedaan dalam pengeluaran energi

sebesar 600 kkal / hari, suatu jumlah yang dapat menjelaskan perbedaan yang

cukup besar dalam berat badan (Zurlo, 1992).

2.4.5 Obat-obatan

Beberapa jenis obat diketahui dapat menyebabkan peningkatan asupan

makanan atau berat badan. Obat-obat tersebut antara lain Glukokortikoid, Insulin,

Fenotiazin, Siproheptadin, asam valproat, dan propranolol (Atkinson, 2005).

2.4.6 Penyakit

16
Kurang dari 1% dari pasien obesitas memiliki penyakit yang mendasar.

Endokrinopati adalah penyebab sekunder yang paling umum dari obesitas. Selain

itu sindrom Cushing, dan kerusakan hipotalamus mengakibatkan asupan makanan

meningkat (paling sering setelah operasi hipofisis), insulinoma dan

hipotiroidisme (Jensen, 2012).

2.4.7 Stress Emosional

Beberapa jenis stres dapat menyebabkan obesitas, yang paling dipelajari

yaitu stres emosional. Depresi dikaitkan dengan kenaikan berat badan dalam

waktu sekitar 10 sampai 20% kasus (Atkinson, 2005). Kekerasan Seksual, fisik,

dan emosional, terutama pada wanita, dapat mengakibatkan dampak merugikan

jangka-panjang yang berhubungan dengan obesitas. Efek dari kekerasan

cenderung paling mendalam jika terjadi pada masa kanak-kanak dan remaja

(Jensen, 2012). Hasil penelitian dari Brydon et al. menunjukkan bahwa orang

yang lebih responsif terhadap stres psikologis lebih berisiko untuk mengalami

obesitas (Brydon, 2008).

2.4.8 Sosial Ekonomi

Perubahan pengetahuan, sikap, perilaku dan gaya hidup, pola makan, serta

peningkatan pendapatan mempengaruhi pemilihan jenis dan jumlah makanan

yang dikonsumsi serta aktivitas fisik yang dilakukan (Syarif, 2003).

Hasil penelitian Drewnowski dan Specter juga menyatakan bahwa epidemi

obesitas saat ini banyak terjadi karena fenomena sosial dan ekonomi. Berdasarkan

review epidemiologi yang dilakukan Drewnowski diketahui bahwa angka

17
kejadian obesitas di Amerika Serikat, lebih tinggi ditemukan pada kelompok

dengan pendidikan lebih rendah dan tingkat pendapatan yang rendah, di antara

ras dan suku minoritas, dan di lingkungan dengan tingkat kemiskinan yang tinggi.

Obesitas pada masyarakat sosial ekonomi rendah berhubungan dengan

keterbatasan sumber daya sosial dan ekonomi dan mungkin memiliki hubungan

dengan ketidakmampuan untuk memperoleh makanan sehat. Semakin banyak

beredar makanan dengan kandungan gula dan lemak yang melebihi jumlah yang

direkomendasikan. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Drewnowski terdapat

hubungan berbanding terbalik antara makanan padat energi (kJ/g) dengan biaya

energi ($/MJ), sehingga makanan manis dan tinggi lemak menjadi makanan

pilihan yang menyediakan energi yang tinggi dengan harga yang lebih murah bagi

konsumen (Drewnowski, 2004). Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Basiotis

(2002), yang juga menyatakan bahwa obesitas dapat diperantarai oleh makanan

padat energi yang memiliki biaya rendah. Konsumen dengan penghasilan rendah

memilih makanan padat energi yang tinggi gula dan lemak yang memiliki harga

lebih murah sebagai jalan untuk menghemat uang dan tetap mempertahankan

energi tubuhnya

2.4.6 Faktor Hormonal

Ketidakseimbangan hormon insulin dan glukagon dapat menyebabkan

obesitas. Mengkonsumsi kerbohidrat yang berlebihan dapat memacu produksi

insulin yang berlebih pula, yang akan menyebabkan pembentukan lemak

yang berujung pada obesitas (Palilingan, 2008)

2.5 Pendekatan Diagnostik Berat Badan Lebih

18
Diagnosis kelebihan berat badan, obesitas, dan obesitas morbid didasarkan

pada definisi sebelumnya, yaitu berdasarkan Indeks massa tubuh dan lingkar

pinggang-pinggul. Pada anamnesis ada beberapa hal yang ditanyakan, diantaranya

berat badan di usia 18 sampai 20 tahun, kebiasaan olahraga dan aktivitas fisik

lainnya, riwayat pemakaian obat yang berhubungan dengan penambahan berat

badan, termasuk antidepresan, antipsikotik, atau antikonvulsan. Mengingat

hubungan obesitas dengan hipertensi, pengukuran tekanan darah yang akurat juga

sangat penting. Evaluasi harus mencakup tes laboratorium berikut: glukosa puasa

darah, hemoglobin A1C, thyroid-stimulating hormone, kolesterol total, kolesterol

HDL, kolesterol LDL, dan trigliserida (Greganti, 2009).

2.6 Komplikasi Berat Badan Lebih

2.6.1 Penyakit Kardiovaskuler

Kini diakui bahwa obesitas, khususnya obesitas sentral merupakan faktor

risiko untuk penyakit kardiovaskuler. Dari hasil the Nurses Health Study,

perempuan Amerika dengan IMT diatas 30 kg/m memiliki risiko tiga kali lipat

lebih tinggi untuk mengalami infark miokard nonfatal jika dibandingkan dengan

wanita yang IMT nya di bawah 21kg/m. Dari hasil the Health Professional Study,

laki-laki Amerika dengan IMT antara 29 dan 33 kg/m memiliki risiko dua kali

lipat lebih tinggi untuk mengalami penyakit kardiovaskuler dan laki-laki dengan

IMT lebih tinggi dari 33kg/m memiliki risiko tiga kali lipat lebih tinggi untuk

mengalami penyakit kardiovaskuler jika dibandingkan dengan laki-laki yang IMT

nya dibawah 23kg/m. Di antara laki-laki dan perempuan ini, IMT yang tinggi

juga berhubungan dengan onset serangan strok.

19
Diperkirakan jika setiap orang dapat memelihara berat badan yang

optimal, kejadian penyakit kardiovaskuler menjadi 25% lebih rendah dan

serangan strok atau episode gagal jantung menjadi 35% lebih rendah (Seidell,

2005).

2.6.2 Diabetes Melitus Tipe 2

Obesitas sentral kini dianggap sebagai bagian dalam kelompok faktor risiko

utama yang sering terlihat pada penyakit kardiovaskuler dan diabetes melitus tipe

2. Faktor risiko ini sering digambarkan sebagai sindrom metabolik atau sindrom

resisten insulin (Seidell, 2005).

2.6.3 Penyakit Kanker

Sebuah kelompok kerja dari the International Agency For Research on

Cancer (IARC) pada WHO meninjau kembali keterkaitan antara overweight dan

penyakit kanker. Kelompok kerja tersebut menyimpulkan adanya bukti yang

menunjukkan bahwa tindakan menghindari kenaikan berat badan mempunyai

efek preventif terhadap penyakit kanker.

Mekanisme yang dapat menjelaskan hubungan antara berat badan lebih

penyakit kanker sebagaimana yang disebutkan oleh IARC dan the World Cancer

Research Fund adalah massa tubuh yang besar dapat mengakibatkan kelainan

metabolik dan sindrom metabolik. Keadaan fisiologis ini dapat meningkatkan

pertumbuhan sel secara umum dan juga pertumbuhan sel-sel tumor mengingat

kemampuan sel-sel ini dalam menggunakan glukosa dan karena up-regulation

reseptor untuk faktor pertumbuhan yang menyerupai insulin. Jaringan adiposa

20
mengubah hormon androgen menjadi estrogen. Pada wanita pascamenopause,

jaringan adiposa merupakan sumber yang paling penting bagi peredaran hormon

estrogen. Peningkatan hormon estrogen endogenus pada wanita pascamenopause

meningkatkan risiko terjadinya kanker payudara (Seidell, 2005).

2.6.4 Kelainan Muskuloskeletal

Obesitas merupakan salah satu faktor risiko paling penting yang dapat

dicegah untuk terjadinya osteoartritis pada sendi lutut serta sendi paha. Hubungan

antara overweight dan osteoartritis dijelaskan melalui tekanan sendi yang tinggi

pada orang-orang yang berat badannya berlebih. Pada keadaan ini mungkin

terdapat pula aspek metabolik mengingat obesitas tampaknya berhubungan pula

dengan insidens osteoartritis pada tangan. Sebuah penelitian case control yang

dilakukan antara tahun 1990 dan 1993 terhadap perempuan yang berusia 20-80

tahun menemukan odds ratio 3,0-10,5 untuk insiden osteoartritis bagi tertile

tertinggi massa tubuh yang dibandingkan dengan tertile terendah. Selain

osteoartritis, obesitas juga berisiko menimbulkan hernia discus intervertebratalis

lumbalis, low back pain, dan nyeri leher kronis (Seidell, 2005).

2.6.5 Kelainan Pernafasan

Selama tahun 1990-an, peranan lemak yang berlebihan pada paru-paru

merupakan permasalahan kesehatan masyarakat yang berhubungan dengan

obesitas karena keterkaitannya dengan napas yang pendek, sleep apnea, dan

morbiditas psikososial yang terjadi secara bersamaan. Odds ratio untuk napas

21
pendek ketika menaiki anak tangga pada orang-orang dengan IMT 30kg/m atau

lebih adalah 3,5 pada laki-laki dan 3,3 pada perempuan jika dibandingkan dengan

IMT di bawah 25 kg/m yang berdasarkan sampel orang dewasa di Belanda yang

berusia 20-59 tahun. Diperkirakan bahwa risiko ganggguan pernapasan pada saat

tidur lebih tinggi sekitar empat kali lipat jika IMT lebih tinggi dari 25kg/m

(Seidell, 2005).

2.6.6 Disabilitas Kerja

Di Finlandia, pensiun karena alasan disabilitas terjadi dua kali lebih sering

pada laki-laki yang gemuk dan satu setengah kali lebih sering pada perempuan

yang gemuk jika dibandingkan dengan orang-orang yang IMTnya rendah.

Penelitian ini didasarkan pada sampel survei nasional 31.000 orang finlandia yang

diikuti sejak tahun 1966/1972 hingga tahun 1982.

Hal yang sama terjadi pada 12% wanita Swedia obese yang berusia 30-59

tahun yang mendapatkan pensiun disabilitas jika dibandingkan dengan angka 5%

dalam populasi umum, dan wanita obese dilaporkan 1,5-1,9 kali lebih sering

mengambil cuti sakit selama 1 tahun jika dibandingkan dengan populasi Swedia

yang normal (Seidell, 2005).

2.7 Penatalaksanaan Berat Badan Lebih

Obesitas dapat dikategorikan sebagai penyakit kronis. Oleh karena itu perlu

dilakukan penanganan secara komprehensif agar komplikasi yang akan terjadi

dapat dihindari (Jensen, 2012).

22
Diagram berikut menggambarkan alur penanganan pasien obesitas berdasarkan

indeks massa tubuh:

Gambar 2.1 Alur penanganan obesitas


(Sumber: Netters Internal Medicine )
Berdasarkan diagram di atas dapat diketahui bahwa prinsip

penanganan obesitas didasarkan pada indeks massa tubuh pasien. Jika IMT

pasien 25-29,9 kg/m atau overweight maka penanganannya dengan diet dan

exercise saja. Jika IMT 30-34,9 kg/m atau obesitas, penanganan ditambah

dengan terapi perilaku, apabila terapi tidak menunjukkan hasil diberikan

farmakoterapi berupa orlistat dan sibutramin. Jika IMT pasien 35-39,9 kg/m

atau obesitas berat, penanganannya sama dengan obesitas biasa namun jika

tidak menunjukkan hasil penanganan dilanjutkan dengan tindakan bedah.

Jika IMT menunjukkan nilai lebih dari 40 kg/m atau obesitas morbid, maka

dilakukan terapi kombinasi yaitu diet, exercise, terapi perilaku, dan

farmakoterapi. Apabila tidak menunjukkan hasil maka dilakukan tindakan

bedah (Greganti, 2009).

2.7.1 Terapi Diet

23
Meskipun penting untuk mengatasi perilaku makan yang merugikan

tertentu, pasien perlu memahami beberapa prinsip umum tentang diet.

Mengurangi kepadatan energi dari makanan dengan cara mengurangi lemak dari

makanan dapat memungkinkan pasien untuk merasa kenyang. Selain itu, pasien

harus memahami bahwa peningkatan konsumsi makanan tinggi air dan serat dapat

memberikan rasa kenyang tanpa kelebihan kalori.

Diet kalori sangat rendah (<800 kalori per hari) telah digunakan selama bertahun-

tahun untuk menurunkan berat badan (Jensen, 2012).

2.7.2 Aktivitas Fisik

Sejumlah aktivitas fisik, baik melalui kegiatan sehari-hari atau melalui

olahraga teratur, adalah kunci untuk mencegah kenaikan berat badan. Untuk

melakukan penurunan berat badan, pengeluaran energi harian perlu diubah

menjadi 80-90% dari BMR. Sebagai contoh, seseorang dengan BMR 1500 kkal /

hari perlu mengeluarkan sekitar 1000 kkal / hari dalam aktivitas fisik untuk

memenuhi target. Secara bertahap meningkatkan jumlah langkah rutin dilakukan

siang hari melalui serangkaian perubahan dalam kebiasaan (misalnya, parkir lebih

jauh, berjalan saat istirahat kerja) lebih cenderung menunjukkan hasil jangka

panjang dalam upaya menurunkan berat badan (Jensen, 2012).

2.7.3 Terapi Perilaku

Untuk mencapai penurunan berat badan dan mempertahankannya,

diperlukan suatu strategi untuk mengatasi hambatan yang muncul saat terapi diet

dan aktivitas fisik, strategi yang spesifik meliputi pengawansan mandiri terhadap

kebiasaan makan dan aktivitas fisik, manajemen stress, stimulus control,

24
pemecahan masalah, contigency management, cognitive restructuring dan

dukungan sosial (Sugondo, 2009).

2.7.4 Farmakoterapi

Sibutramine dan orlistat merupakan obat-obat penurun berat badan yang

telah disetujui oleh FDA di Amerika Serikat, untuk penggunaan jangka panjang.

Sibutramine ditambah diet rendah kalori dan aktivitas fisik terbukti efektif

menurunkan berat badan dan mempertahankannya. Sibutramin dapat

meningkatkan tekanan darah dan denyut jantung sehingga pemberiannya tidak

dianjurkan pada pasien dengan riwayat hipertensi, penyakit jantung koroner,

gagal jantung kongestif, aritmia, atau riwayat strok.

Orlistat menghambat absorpsi lemak sebanyak 30 persen. Pengawasan

secara berkelanjutan oleh dokter dibutuhkan untuk mengawasi tingkat efikasi dan

keamanan (Sugondo, 2009).

2.7.5 Terapi Bedah

Pembedahan harus dipertimbangkan pada pasien dengan IMT lebih dari

40 kg/m dan pada mereka dengan IMT lebih dari 35 kg/m yang gagal

menggunakan metode lain serta memiliki komplikasi kesehatan seperti sleep

apnea, gagal jantung, diabetes mellitus yang tidak terkontrol, atau stasis vena

berat. Tujuan dari operasi ini adalah untuk meningkatkan metabolisme dan fungsi

organ dan untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas yang berhubungan dengan

obesitas. Prinsip pembedahan yaitu membatasi ukuran reservoir perut (terbatas)

dan menurunkan efektivitas penyerapan nutrisi (malabsorptive). Bentuk-bentuk

terapi bedah antara lain vertical banded gastroplasty, laparoscopic adjustable

25
gastric banding, dan gastric bypass dan biliopancreatic diversion (Greganti,

2009; Brethauer et al., 2006).

Terapi bedah mempunyai beberapa manfaat, di antaranya:

1. Menurunkan berat badan pasien obesitas

Dalam studi meta-analisis yang dilakukan Buchwald et al, jumlah penurunan

berat badan lebih setelah dilakukan terapi bedah bariatrik adalah 61% untuk

semua jenis prosedur. Jenis prosedur operasi dengan penurunan berat badan

tertinggi adalah biliopancreatic diversion memiliki angka (70%), diikuti

oleh gastroplasty (68%), gastric bypass (62%), dan gastric banding (48%)

(Buchwald et al., 2004).

2. Mengurangi penyakit komorbid

Penyakit-penyakit komorbid yang dapat dikurangi dengan terapi bedah antara

lain migrain, hiperkolesteroemia, sinndrom metabolik, diabetes melitus tipe

2, depresi, asma, hipertensi, penyakit kardiovaskuler, peningkatan kualitas

hidup, dan lain-lain (Brethauer et al., 2006).

3. Memperpanjang usia harapan hidup

Dalam penelitian kohort observasional yang dilakukan Christou et al.

didapatkan bahwa angka mortalitas pada kelompok bedah bariatrik adalah

0,68% dalam waktu 5 tahun. Angka ini cukup kecil dibanding kelompok yang

diberikan penanganan medis saja tanpa operasi yaitu 16,2% (Christou et al.,

2004).

Flum dan Dellinger mengevaluasi pasien pasca bypass lambung dalam studi

kohort retrospektif dan menemukan angka mortalitas pada pasien tersebut

26
adalah adalah 27% dalam waktu 15 tahun, ini lebih rendah dibandingkan

dengan mereka yang tidak melakukan tindakan operasi

(Flum & Dellinger, 2004).

27