Anda di halaman 1dari 27

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Karet Alam


Karet alam adalah bahan polimer alam yang diperoleh dari Hevea brasiliensis atau
Guayule. Sejak pertama sekali proses vulkanisasi diperkenalkan pada tahun 1839,
karet alam telah dimanfaatkan secara meluas pada pembuatan ban, selang, sepatu, alat
rumah tangga, olah raga, peralatan militer dan kesehatan.
Karet alam yang berwujud cair disebut lateks. Lateks merupakan suatu cairan
yang berwarna putih atau putih kekuning-kuningan, yang terdiri atas partikel karet
dan bahan non karet yang terdispersi di dalam air (Triwiyoso et al., 1995). Lateks
segar pada umumnya berupa cairan susu, tetapi kadang-kadang sedikit berwarna,
tergantung dari klon (varietas) tanaman karet.
Lateks atau getah karet terdapat di dalam pembuluh-pembuluh lateks yang
letaknya menyebar secara melingkar di bagian luar lapisan kambium. Lateks
diperoleh dengan membuka atau menyayat lapisan korteks. Penyayatan lapisan
korteks tanaman karet dikenal sebagai proses penyadapan, yaitu suatu tindakan
membuka pembuluh lateks agar lateks yang terdapat di dalam tanaman dapat keluar.
Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi lateks adalah penyadapan, arah dan sudut
kemiringan irisan sadap, panjang irisan sadap, letak bidang sadap, kedalaman irisan
sadap, frekuensi penyadapan dan waktu penyadapan. Lateks hasil penyadapan dikenal
dengan nama lateks kebun (Junaidi, 1996).
Karet alam adalah senyawa hidrokarbon yang merupakan polimer alam hasil
penggumpalan lateks alam dan merupakam makromolekul poliisoprena (C5H8)n yang
bergabung secara ikatan kepala ke ekor (head to tail). Menurut Honggokusumo
(1978), bahan penyusun karet alam adalah isoprena C5H8 yang saling berikatan secara
kepala ke ekor 1,4 membentuk poliisoprena (C5H8)n , dimana n adalah derajat
polimerisasi yang menyatakan banyaknya monomer yang berpolimerisasi membentuk
polimer

7
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
8

Karet alam mempunyai struktur molekul cis-1,4-polyisoprena. Umumnya berat


molekulnya berkisar 104-107 dan indeks distribusi berat molekul diantara 2.5 sampai
10. Dengan kelenturan rantai molekul yang tinggi, karet alam memiliki elastisitas
luar biasa, ketahanan leleh yang tinggi, dan kehilangan histerisis yang rendah. Di saat
yang sama streoregulitas tinggi dari struktur molekul karet alam menyebabkan
ketegangan pada daerah kristal yang berakibat pada kemampuan memperkuat diri
sendiri yang ditandai dengan menjadi naiknya kemampuan tarik, ketahanan koyak
(tear strength) dan ketahanan gores. Selain itu, sifat di atas membuat karet alam
mudah untuk diproses. Rumus bangun molekul isoprena (2-metil-1,3-butadiena) dan
cis-1,4 poliisoprena adalah sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 2.1

H2C C CH CH2

CH3
(a)

H3C H H3C H

C=C C=C

H2C CH2 H2 C CH2

(b)

Gambar 2.1. Rumus Struktur Kimia Karet Alam. (a) 2-metil-1,3-butadiena, (b) cis-
1,4 poliisoprena

Komposisi karet alam secara umum adalah senyawa hidrokkarbon, protein,


karbonhidrat, lipida, persenyaan organik lain, mineral, dan air. Besarnya persentase
dari masing-masing bagian tersebut tidak sama, tergantung pada cara pengerjaan dan
peralatan yang digunakan. Menurut Surya (2006), komposisi karet alam sebagai
berikut :

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


9

Tabel. 2.1. Komposisi Karet Alam (Surya , 2006)

No Komponen Komponen dalam Komponen dalam


latex segar (%) latex kering (%)
1 Karet Hidrokarbon 36 92-94
2 Protein 1,4 2,5-3,5
3 Karbohidrat 1,6 -
4 Lipida 1,6 2,5-3,2
5 Persenyawaan Organik Lain 0,4 -
6 Persenyawaan Anorganik 0,5 0,1-0,5
7 Air 58,5 0,3-1,0

Menurut Triwiyoso dan siswanto (1995), lateks terdiri atas partikel karet dan
bahan bukan karet yang terdispersi di dalam air dengan jumlah yang relatif kecil.
Untuk mengetahuinya, lateks hevea di pusingkan delam alat pemusing ultra dengan
kecepatan 18.000rpm selama 15 menit. Lateks terdiri dari empat fraksi, yaitu fraksi
karet (37%), fraksi frey wyssling, fraksi serum (48%) dan fraksi dasar (15%).
Menurut Tanaka (1998), partikel karet terdidi atas hidrokarbon yang diselimuti
oleh fosfolipida dan protein dengan diameter 0,1 m - 1,0 m. Partikel karet tersebar
secara merata (tersuspensi) dalam serum lateks dengan ukuran 0,04 -3,0 mikron atau
0,2 milyar partikel karet per mililiter lateks. Partikel karet memiliki bentuk lonjong
sampai bulat. Bobot jenis lateks 0,045 pada suhu 70 0F, serum 1,02 dan karet 0,91.
Perbedaan bobot jenis dapat menyebabkan terjadinya pemisahan pada permukaan
lateks. Bentuk partikel karet dapat ditunjukkan pada gambar 2.2 di bawah ini.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


10

Gambar 2.2 Partikel Karet (Tanaka, 1998)

2.1.1 Peranan Karet Alam Dalam Perekonomian Nasional


Karet memiliki berbagai peranan penting bagi Indonesia, antara lain : (a) Sumber
pendapatan dan lapangan kerja penduduk; (b) Sumber devisa negara dari ekspor non-
migas; (c) Mendorong tumbuhnya agro-industri di bidang perkebunan; dan (d)
Sumber daya hayati dan pelestarian lingkungan. Luas areal tanaman karet pada tahun
2006 sekitar 3,31 juta hektar, dengan produksi 2,64 juta ton atau 27,3% produksi
karet alam dunia (9.2 juta ton), menempatkan Indonesia sebagai negara penghasil
karet alam terbesar kedua setelah Thailand (IRSG, 2007). Pada tahun 2005, karet
mampu menghasilkan devisa hingga US $ 2,58 milyar, naik menjadi US $ 3,77
milyar pad tahun 2006, menempatkan karet sebagai komoditas penghasil devisa
terbesar diantara komoditas perkebunan. Ekspor Karet Indonesia selama 20 tahun
terakhir terus menunjukkan adanya peningkatan dari 1.0 juta ton pada tahun 1985
menjadi 1,3 juta ton pada tahun 1995 dan 2,29 juta ton pada tahun 2006. Pendapatan
devisa dari komoditi ini pada tahun 2005 mencapai US$ 2,58 milyar, dan meningkat
tajam menjadi US $ 4,36 milyar pada tahun 2006 seiring dengan melonjaknya harga
karet dari 1,2 USD/kg hingga sekitar 2 USD/kg pada tahun 2006 (Depperind, 2007).
Bagi perekonomian nasional, karet merupakan komoditas perkebunan yang
sangat penting. Selain sebagai sumber lapangan kerja, komoditas ini juga
memberikan kontribusi yang signifikan sebagai salah satu sumber devisa non-migas,
pemasok bahan baku karet dan berperan penting dalam mendorong pertumbuhan
sentral-sentral ekonomi baru di wilayah-wilayah pengembangan karet. Karet

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


11

bersama-sama dengan kelapa sawit merupakan dua komoditas utama penghasil devisa
terbesar dari subsektor perkebunan. dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, karet
menyumbang devisa dari 25% hingga 40% terhadap total ekspor produk perkebunan.

Gambar 2.3 Kebun Karet Alam

Disamping sebagai penghasil devisa ekspor, perkebunan karet sebagian besar


merupakan perkebunan rakyat dengan rata-rata luas kepemilikan relatip kecil, tetapi
merupakan sumber mata penghasilan bagi berjuta-juta keluarga petani karet. Pada
tahun 2006, luas areal perkebunan rakyat mencapai tidak kurang dari 85%, sisanya
merupakan perkebunan Negara dan Swasta. Dari total produksi, hampir 76% nya
berasal dari perkebunan rakyat.

2.1.2. Prospek Perdagangan Karet Alam


Hasil kajian para pakar memperlihatkan bahwa prospek perdagangan karet alam
dunia sangat baik. Dalam jangka panjang, perkembangan produksi dan konsumsi
karet menurut ramalan ahli pemasaran karet dunia yang juga Sekretaris Jenderal
International Rubber Study Goup, Dr. Hidde P. Smit, mennunjukkan bahwa konsumsi
karet alam akan mengalami peningkatan yang sangat signifikan dari 8,5 juta ton di
tahun 2005, naik menjadi 9,23 pada tahun 2006, dan diprediksi menjadi 11,9 juta ton
pada tahun 2020. Sementara itu produksi karet alam dunia sebesar 8,5 juta ton pada
tahun 2005, naik menjadi 9,18 juta ton pada tahun 2006, diprediksi menjadi 11,4 juta

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


12

ton di tahun 2020. Harga karet alam di pasar dunia juga diprediksikan tetap bertahan
pada level di atas US $ 1 per kg, bahkan pada tahun 2013 diperkirakan bisa
menembus US $ 2,4 per kg dan bahkan level harga tersebut telah dicapai pada tahun
2006 ini. Pada tahun 2020 diperkirakan harga karet alam di pasaran dunia tetap
bertahan pada angka US $ 1,9 per kg. Timbulnya peningkatan konsumsi karet alam di
negara-negara Asia disebabkan makin meningkatnya perkembangan industri ban dan
komponen industri lainnya. Konsumsi karet alam dan karet sintetik dunia yang pada
tahun 2004 baru mencapai 20,03 juta ton akan meningkat mencapai 28,67 juta ton
pada tahun 2020, diantaranya 11,9 juta ton karet alam. Indonesia diharapkan dapat
memasok 3,5 juta ton pada tahun 2020.
IRSG berpendapat bahwa pada jangka panjang diperkirakan terdapat kekurangan
pasok yang tidak saja disebabkan oleh permintaan dunia yang meningkat dengan
cepat tetapi juga 2 diantara 3 negara penghasil karet alam yaitu Malaysia dan
Thailand yang merupakan negara dengan ekonomi yang berkembang cepat, mungkin
menjadi generasi baru dari Newly Industrialized Countries (NICs), sehingga kedua
negara akan meninggalkan agobisnis karet. Indonesia diharapkan dapat mengisi
kekurangan pasok untuk kebutuhan dunia.

2.1.3. Jenis-Jenis Karet Alam


Karet merupakan polimer yang bersifat elastis, sehingga dinamakan pula sebagai
elastomer. Saat ini karet digolongkan atas karet sintetik dan karet alam. Karet sintetik
dibuat secara polimerisasi fraksi-fraksi minyak bumi. Contoh karet sintetik yang kini
banyak beredar adalah SBR (Strirene Butadiene Rubber), NBR (Nitrile Butadiene
Rubber), karet silikon, Urethane, dan karet EPDM (Ethilena Propilena Di Monomer).
Karet alam diperoleh dengan cara penyadapan pohon Hevea Braziliensis. Karet
alam memiliki berbagai keunggulan dibanding karet sintetik, terutama dalam hal
elastisitas, daya redam getaran, sifat lekuk lentur (flex-cracking) dan umur kelelahan
(fatigue). Berdasarkan keunggulan tersebut, maka saat ini karet alam sangat
dibutuhkan terutama oleh industri ban.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


13

Berdasarkan cara pengolahan dan jenis bahan baku penggumpalan, karet alam
dibedakan dalam 2 golongan :

1. Karet konvensional.
Karet konvensional adalah karet yang tingkatan mutunya ditetapkan berdasarkan
sifat-sifat visual, seperti warna, kotoran, gelembung udara, jamur dan noda-noda lain.
Sesuai dengan mutu, sifat visual dan cara pengepakan, karet alam terdiri dari 8 tipe
(Anonim, 2012), yaitu :
1) Ribbed Smoked Sheets (RSS)
2) White and Pale Crepes
3) Estate Brown Crepes
4) Compo Crepes
5) Thin Crepes
6) Thin Blanket Crepes
7) Flat Bark Crepesa
8) Pure Smoked Blanket Crepes.

2. Karet spesifikasi teknis.


Karet spesifikasi teknis adalah karet yang diolah dalam bentuk karet remah dan jenis
mutunya ditetapkan berdasarkan pengujian sifat-sifat teknis sesuai dengan rumusan
International Standard Organization , yaitu mencakup kadar kotoran, kadar abu,
kadar tembaga, kadar mangan, kadar zat yang mudah menguap, kadar nitrogen, PRI
dan karakteristik vulkanisasi (curing characteristics). Di Indonesia karet spesifikasi
teknis ini dikenal sebagai SIR (Standars Indonesian Rubber), yang ditetapkan oleh
Menteri Perdagangan dan Perindusterian Republik Indonesia dan mengacu kepada
perkembangan teknologi serta permintaan konsumen. Selain itu mengenal lateks
kebun yang berwarna putih kekuning-kuningan, diperoleh dari pohon Hevea
brasiliensis. Komponen utamanya adalah karet (36%, b/b), protein (2%, b/b), air
(59%, b/b), damar (1%, b/b), abu (0,5%, b/b), dan gula (1,5%, b/b). Angka-angka
tersebut diatas tidak tetap, tergantung pada beberapa faktor seperti jenis klon karet,

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


14

keadaan tanah, keadaan cuaca, keadaan iklim, musim dan lain sebagainya. Hasil
pengolahan lateks kebun secara teknis pemusingan kimiawi, dengan menambahkan
bahan penggumpal asam organik seperti asam formiat dan asam asetat pada pH
sekitar 4,5 menghasilkan lateks pekat dengan kadar karet kering 60 % dan mutunya
memenuhi spesifikasi teknis yang mengacu kepada American Society for Testing and
Material D 1076 (ASTM.D.1076) atau International Organization for Standardization
2004 (ISO. 2004). Berdasarkan kadar amonia yang terdapat dalam lateks pekat kita
mengenal : Lateks pekat amonia rendah (Low Ammonia) adalah lateks pekat yang
mengandung amonia maksimum 0,29%, lateks pekat amonia tinggi (High Ammonia)
adalah lateks pekat yang mengandung amonia maksimmum 0,60%.
Dewasa ini karet alam diproduksi dalam berbagai jenis, yakni lateks pekat, karet
sit asap, karet krep dan crumb rubber.
a) Lateks pekat diolah langsung dari lateks kebun melalui proses pemekatan yang
umumnya secara sentrifugasi sehingga kadar airnya turun dari sekitar 70%
menjadi 40-45%. Lateks pekat banyak dikonsumsi untuk bahan baku sarung
tangan, kondom, benang karet, balon, kateter, dan barang jadi lateks lainnya.
Mutu lateks pekat dibedakan berdasarkan analisis kimia antara lain kadar karet
kering, kadar NaOH, Nitrogen, MST dan analisis kimia lainnya.
b) Karet sit asap atau dikenal dengan nama RSS (Ribbed Smoked Sheet) dan karet
krep (creep) digolongkan sebagai karet konvensional, juga dibuat langsung dari
lateks kebun, dengan terlebih dulu menggumpalkannya kemudian digiling
menjadi lembaran-lembaran tipis, dan dikeringkan dengan cara pengasapan untuk
karet sit asap, dan dengan cara pengeringan menggunakan udara panas untuk
karet krep. Mutu karet konvensional dinilai berdasarkan analisis visual
permukaan lembaran karet. Mutu karet akani makin tinggi bila permukaannya
makin serag, tidak ada gelembung, tidak mulur, dan tidak ada kotoran serta
teksturnya makin kekar/kokoh.
c) Crumb rubber (karet remah) digolongkan sebagai karet spesifikasi teknis
(TSR=Technical Spesified Rubber), karena penilaian mutunya tidak dilakukan

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


15

secara visual, namun dengan cara menganalisis sifat-sifat fisiko-kimianya seperti


kadar abu, kadar kotoran, kadar N, plastisitas Wallace dan viskositas Mooney.
Crumb rubber produksi Indonesia dikenal dengan nama SIR (Standard
Indonesian Rubber). Saat ini umumnya (SIR 10 dan 20) dibuat dari lump atau
sleb dari perkebunan rakyat. Disebabkan bahan bakunya kotor, maka proses
pengolahan dipabrik crumb rubber melibatkan berbagai peralatan pengecilan
ukuran (size reduction) dan pencucian.

2.2 Kemantapan dan penggumpalan Lateks


Lateks dikatakan mantap apabila sistem koloidnya stabil, yaitu tidak terjadi koagulasi
atau penggumpalan selama penyimpanan. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi
kestabilan lateks tersebut adalah sebagai berikut :
1) Ada kecenderungan setiap partikel karet berinteraksi dengan fase air (serum)
misalnya assosiasi komponen-komponen bukan karet pada permukaan partikel-
partikel karet.
2) Adanya interaksi antara partikel-partikel karet itu sendiri (Robert, A. D., 1988).
Disamping kedua faktor di atas ada tiga faktor lain yang dapat menyebabkan
sistem koloid partikel-partikel karet menjadi tetap stabil, yaitu :
1) Adanya muatan listrik pada permukaan partikel karet sehingga terjadi gaya tolak
menolak antara dua atau lebih partikel karet tersebut.
2) Adanya interaksi antara molekul air dengan partikel karet yang menghalangi
terjadinya penggabungan partikel-partikel karet tersebut.
3) Energi bebas antara permukaan yang rendah.
Sistem koloid lateks terbentuk karena adanya lapisan lipida yang teradsorpsi
pada pernukaan partikel karet (lapisan primer) dan lapisan protein pada lapisan luar
(lapisan sekunder) memberikan muatan pada permukaan partikel koloid. Penambahan
bahan pengawet ammonia dan bahan pemantap ammonium laurat akan
menyempurnakan lapisan pelindung tersebut (Ompusunggu, M dan A. Darussamid,
1989).

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


16

Penggumpalan atau koagulasi lateks merupakan peristiwa perubahan fasa sol ke


fasa gel dengan pertolongan bahan penggumpal. Kemantapan koloid lateks
merupakan hal yang penting untuk mengetahui sifat-sifat fisis dan kimia lateks.
Menurut Honggokusumo (1978), kemantapan lateks dipengaruhi oleh tiga faktor
yaitu gerak Brown, muatan listrik dan dehidrasi.
Lateks dapat menggumpal secara alami (spontaneus coagolation) apabila setelah
penyadapan lateks dibiarkan. Menurut Goutara et. al (1985), peristiwa spontaneus
coagolation dapat dihindari dengan penambahan bahan pengawet (anti Koagulan).
Bahan yang sering digunakan pada lateks dalah NH3. Anti koagulan tersebut
berfungsi untuk menaikkan pH lateks, sehingga dapat meningkatkan kemantapan
lateks dan juga berfungsi sebagai bakterisida.
Menurut Barney (1973), penggumpalan lateks dapat terjadi karena penurunan
muatan listrik dan dehidrasi. Penggumpalan lateks dapat berlangsung dengan
penambahan elektrolit, penambahan zat aktif permukaan dan pengaruh enzim. Dilain
pihak, Honggokusumo (1978) menyatakan bahwa penggumpalan lateks mengikuti
prinsip dehidrasi, dilakukan dengan menambahkan bahan yang menyerap lapisan
molekul air disekeliling partikel karet yang bersifat sebagai selaput pelindung.
Penurunan pH dalam lateks terjadi karena terbentuknya asam-asam yang
dihasilkan oleh bakteri, pelepasan serum B dari fraksi dasar yang sifatnya relatif asam
atau oleh penambahan asam. Penambahan asam akan menyebabkan turunnya pH
sampai pada titik isoelektrik (4,7), yang dapat menyebabkan partikel-partikel karet
kehilangan muatan atau netral, sehingga tidak terdapat lagi daya tolak partikel-
partikel karet yang selanjutnya mengakibatkan terjadinya penggumpalan.
Penggumpalan diawali dengan flokulasi yaitu interaksi antara partikel karet dengan
partikel karet lainnya selanjutnya terjadilah koagulasi.
Untuk memperoleh hasil karet yang bermutu tinggi, penggumpalan lateks hasil
penyadapan di kebun dan kebersihan harus diperhatikan. Hal ini pertama-tama
berlaku untuk alat-alat yang digunakan dalam pekerjaan penggumpalan lateks
bersentuhan dengannya. Selain dari kemungkinan pengotor lateks oleh kotoran-

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


17

kotoran yang kelak sukar dihilangkan, kotoran tersebut dapat pula menyebabkan
terjadinya prokougulasi dan terbentuknya lump sebelum lateks sampai di pabrik untuk
diolah.
Penggumpalan lateks dilaksanakan 3-4 jam setelah penyadapan dilakukan.
Dalam keadaan tertentu, pada saat penggumpalan lateks biasa juga menggunakan
obat anti koagulasi (antikoagulan) untuk mencegah terjadinya prokougulasi. Tetapi
penggunaan anti koagulasi ini harus dibatasi sampai batas sekecil-kecilnya, karena
biasanya cukup besar dan kadang-kadang lateks yang dibubuhi antikoagulan
memerlukan obat koagulan (misalnya asam semut) yang terpaksa kadarnya harus
dinaikkan. Penambahan asam yang berlebihan dalam proses koagulasi juga dapat
menghambat proses pengeringan (Setyamidjaja, 1993).
Penggumpalan dengan cara penetralan muatan dalam lateks dapat juga terjadi
dengan sendirinya akibat kontaminasi dengan mikroba yang terdapat disekelilingnya.
Mikroba ini merombak senyawa-senyawa bukan karet seperti karbohidrat, protein
atau lipid menghasilkan lemak eteris (asam asetat dan asam propionat).
Penggumpalan dapat juga terjadi dengan cara dehidrasi yaitu dengan penambahan
alcohol yang bersifat menarik air. Penggumpalan dapat juga dilakukan dengan
penambahan larutan elektrolit bermuatan positif yang menetralkan muatan negatif
dari sistem koloid seperti kalsium dan magnesium (Roberts, 1988)
Adapun bahan-bahan penggumpal lateks yang sering digunakan adalah asam
asetat (CH3COOH) dan asam formiat (HCOOH). Pada waktu penggumpalan lateks
harus diperhatikan hal-hal berikut :
1) JumLah asam yang harus sesuai dengan yang dianjurkan yaitu 20 mL
CH3COOH 2,5% atau 20 mL HCOOH 2% tiap 1 liter lateks.
2) Pengadukan harus hati-hati dan sempurna karena dapat menyebabkan gelembung
udara, ketebalan dan kekerasan koagulum yang tidak merata.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


18

2.3. Kontaminasi Pada Bahan Olah Karet

Lateks sebagai sumber pertama dari bahan baku crumb rubber sesungguhnya
merupakan material alam yang sangat bersih, bahkan mengandung bahan-bahan yang
berperan penting dalam menjaga mutunya agar tetap baik. Didalam lateks, selain
hidrokarbon karet (polimer poliisoprena), terkandung juga berbagai senyawa penting
antara lain lipid dan protein. Lipid berperan sebagai antioksidan, yakni bahan
pencegah terjadinya oksidasi terhadap molekul karet. Sedangkan protein, selain
berfungsi sebagai penstabil sistem koloid lateks juga berperan sebagai bahan yang
mempercepat proses vulkanisasi pada pembuatan barang jadi karet. Masuknya
kontaminan ke dalam karet, akan merusak bahan-bahan alami tersebut . Kontaminasi
terhadap sesuatu produk diartikan sebagai pencemaran. Dengan demikian kontaminan
bisa didefinisikan sebagai zat pencemar, karena berdampak buruk terhadap mutu,
seperti bersifat meracuni, produk menjadi cepat busuk, merusak tekstur, warna, dan
kerusakan mutu lainnya. Demikian pula untuk karet, kontaminan bisa menyebabkan
karet mudah teroksidasi, memperlemah elastisitas, menurunkan kekuatan tarik, dan
ketahanan sobek dari vulkanisatnya.
Sebagai contoh kasus untuk karet, tawas sebagai koagulan bisa dianggap sebagai
kontaminan, karena didalam tawas terkandung logam alkali yang bersifat sebagai pro-
oksidan, serta berdampak menahan air yang memudahkan berkembangnya
mikroorganisme pengurai protein dan hidrokarbon karet. Itulah sebabnya mengapa
koagulan yang disarankan hingga kini adalah asam semut, asam cuka atau asam
lemah lainnya. Koagulan-koagulan tersebut tidak berbahaya, bahkan meningkatkan
mutu karena bersifat mendorong air/serum untuk segera keluar dari koagulum.
Contoh lain yang sering terjadi di dalam bahan baku crumb rubber adalah sering
masuknya pasir dan tatal ke dalam bokar secara sengaja maupun tidak disengaja.
Untuk mengeluarkan kedua zat pengotor tersebut diperlukan serangkaian proses
pengecilan dan pencucian yang banyak memerlukan air, listrik dan waktu proses.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


19

Dengan demikian, kontaminan tidak hanya berpengaruh langsung terhadap mutu


produk, namun juga memerlukan biaya ekstrak untuk membersihkannya.

2.4. Standart Mutu Karet Indonesia


Pengawasan mutu dalam kegiatan penerapan jaminan mutu karet, merupakan
langkah penting bagi pelaku usaha untuk mendapatkan pengakuan formal terkait
dengan konsistensi standar mutu produk yang dihasilkan. Pemerintah Republik
Indonesia melalui Badan Standardisasi Nasional (BSN) telah mengeluarkan SNI 06-
1903-2000 tentang Standard Indonesia Rubber (SIR)
Standar ini meliputi ruang Iingkup, definisi, penggolongan, bahan olah, syarat
ukuran, syarat mutu, pengbilan contoh, cara uji, pengemasan, syarat penandaan dan
catatan umum Standard Indonesian Rubber (SIR).
Standard Indonesian Rubber adalah karet alam yang diperoleh dengan
pengolahan bahan olah karet yang berasal dari getah batang pohon Hevea Brasiliensis
secara mekanis dengan atau tanpa bahan kimia, serta mutunya ditentukan secara
spesifikasi teknis.
SIR digolongkan dalam 6 jenis mutu yaitu:
1) SIR 3 CV ( Constant Viscosity )
2) SIR 3 L ( Light )
3) SIR 3 WF ( Whole Field )
4) SIR 5
5) SIR 10
6) SIR 20

Syarat mutu karet yang telah ditetapkan oleh pemerintah Republik Indonesia
melalui Badan Standardisasi Nasional (BSN) dengan mengeluarkan SNI 06-1903-
2000 tentang Standard Indonesia Rubber (SIR), ditunjukkan dalam Tabel 2.2. di
bawah ini.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


20

Tabel 2.2. Skema Persyaratan Mutu Karet Indonesia

JENIS PERSYARATAN
MUTU SIR CV SIR 3 L SIR 3 WF SIR 5 SIR 10 SIR 20
JENIS UJI /
NO
KARAKTERISTIK BAHAN
OLAH LATEKS KOAGULUM LATEKS

SATUAN
1 Kadar Kotoran (b/b) % Maks 0.03 Maks 0.03 Maks 0.03 Maks 0.03 Maks 0.03 Maks 0.03
2 Kadar Abu (b/b) % Maks 0.50 Maks 0.50 Maks 0.50 Maks 0.50 Maks 0.75 Maks 1.00
3 Kadar Zat Menguap (b/b) % Maks 0.80 Maks 0.80 Maks 0.80 Maks 0.80 Maks 0.80 Maks 0.80
4 PRI - Min 60 Min 75 Min 75 Min 70 Min 60 Min 50
5 Po - - Min 30 Min 30 Min 30 Min 30 Min 30
6 Nitrogen (b/b) % Maks 0.60 Maks 0.60 Maks 0.60 Maks 0.60 Maks 0.60 Maks 0.60
7 Kemantapan - Maks 8 - - - - -
Visikositas/WASHT
(Skala Plastisitas
Wallace)
8 Viskositas Moony - *) - - - - -
ML (1 + 4) 100 C
9 Warna Skala Lovibond - - Maks 6 - - - -

10 Pemasakan ( cure) - **) **) **) - - -


11 Warna Lambang - Hijau Hijau Hijau Hijau Berga- Coklat Merah
ris Coklat
12 Warna Plastik - Transparan Transparan Transparan Transparan Transparan Transparan
Pembungkus Bandela
13 Warna Pita Plastik - Jingga Transparan Putih Susu/ Putih Susu/ Putih Susu/ Putih Susu/
Transparan Transparan Transparan Transparan
14 Tebal Plastik Mm 0.03 0.01 0.03 0.01 0.03 0.01 0.03 0.01 0.03 0.01 0.03 0.01
Pembungkus Bandela
o
15 Titik Leleh Plastik C Maks 108 Maks 108 Maks 108 Maks 108 Maks 108 Maks 108
Pembungkus Bandela

Keterangan :
*) Tanda Pengenal Tingkatan Batasan Viskositas Mooney :
CV 50 45 55
CV 60 55 65
CV 70 65 75
'*) Informasi mengenai cure diberikan dalam bentuk rheogaph sebagai standard
nonmandatory. (SNI 06-1903-2000)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


21

2.4.1 Kadar Kotoran


Kotoran adalah benda asing yang tidak larut dan tidak dapat melalui saringan 325
mesh. Adanya kotoran didalam karet yang relatif tinggi dapat mengurangi sifat
dinamika yang unggul darl vulkanisat karet alam antara lain kalor timbul dan
ketahanan retak lenturnya. Kotoran tersebut juga mengganggu pada pembuatan
vulkanisat tipis
Potongan uji untuk penetapan kadar kotoran perlu ditipiskan lagi untuk
memudahkan pelarutan. Potongan uji yang telah digiling ulang, dilarutkan didalam
pelarut yang mempunyai titik didih tinggi, disertai penambahan suatu zat untuk
memudahkan larutnya karet (rubber peptiser). Larutan kotor yang tertinggal
kemudian dituangkan melalui saringan 325 mesh. Kotoran yang tertinggal pada
saringan setelah dikeringkan didalam oven, kemudian ditimbang setelah didinginkan.
Hasil pelaksanaan pengujian yang baik, dapat dilihat dari mudah bergeraknya
kotoran kering didalam saringan

Kadar kotoran dapat dihitung dengan rumus :

Kadar kotoran = x 100 % .................................(2.1)

dengan:
A = bobot saringan berikut kotoran
B = bobot saringan kosong
C = bobot potongan uji

2.4.2 Kadar Abu


Abu didalam karet terjadi dari Oksida, Karbonat dan Fosfat dari Kalium, Magnesium,
Kalsium, Natrium dan beberapa unsur lain dalam jumlah yang berbeda-beda. Abu
dapat pula mengandung silicat yang berasal dari karet atau benda asing yang jumlah
kandungannya bergantung pada pengolahan bahan mentah karet.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


22

Tingginya kadar abu dapat disebabkan beberapa faktor seperti tanah yang
mengandung kalsium tinggi, musim gugur (dimana daun akan membusuk). Kadar abu
ini dapat tinggi akibat perlakukan yang tidak dianjurkan misalnya penggumpalan
lateks dengan menggunakan ammonium sulfat mengakibatkan kadar abu karet kering
tinggi.
Faktor pengolahan dapat mempengaruhi kadar abu, dimana makin besar tinggkat
pengolahan maka kadar abu semakin rendah, misalnya lateks yang digumpalkan
tanpa pengenceran mempunyai kadar abu yang lebih tinggi dari pada dengan
pengenceran. Dengan kata lain semakin encer lateks yang digumpalkan maka
semakin rendah kadar abu karet yang diperoleh karena sebagian besar akan tercuci
bersama serum (Kartowardoyo, 1980).
Abu dari karet memberikan sedikit gambaran mengenai jumlah bahan mineral
didalam karet. Beberapa bahan mineral didalam karet yang meninggalkan abu dapat
mengurangi sifat dinamika yang unggul seperti kalor timbul ( heat build - up) dan
ketahanan retak Ientur (flex cracking resistance) dari vulkanisat karet slam.

Kadar abu dapat dihitung dengan rumus :

Kadar Abu = x 100 % ......................................(2.2)

dengan
A = bobot cawan berikut abu
B = bobot kosong
C = bobot potongan uji

2.4.3. Kadar Nitrogen


Karet alam pada umumnya memiliki kadar nitrogen yang cukup tinggi, yang besarnya
berpengaruh terhadap sifat teknis karet. Menurut Alfa et al (1998), tingginya kadar
nitrogen akan mempengaruhi karakteristik vulkanisasi dan sifat vulkanisat karet.
Kandungan nitrogen karet alam terdapat dalam bentuk protein. Menurut Yapa dan

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


23

Yapa (1984), hidrolisis protein dapat dilakukan dengan metode kimiawi dan metode
enzimatis.
Menurut Johnson dan Peterson (1974), cara efisien untuk menghidrolisis protein
adalah dengan menggunakan enzim protease. Enzim protease atau proteolitik adalah
enzim yang dapat menguraikan atau memecahkan protein. Protease termasuk dalam
kelas utama enzim hidrolase yang mengkatalisis reaksi reaksi hidrolisis. Menurut
Winarno (1989), reaksi kalalisis enzim protease adalah menghidrolisis ikatan peptida
pada protein. Reaksi hidrolisisi protein dapat dilihat pada Gambar 2.4.

Gambar 2.4. Hidrolisa Protein (Winarno, 1989)

Nitrogen terdapat di dalam karet terutama berasal dari protein dan dapat
digunakan sebagai petunjuk besarnya kadar protein. Walaupun banyaknya nitrogen
bergantung pada jenis protein, diperkirakan kadar protein = 6,25 x kadar nitrogen,
tetapi tidak dapat dianggap sebagai kadar protein yang sebenarnya. Karet Skim
mengandung kadar nitrogen yang tinggi. Nitrogen ditetapkan dengan cara semimikro
Kjeldahl. Karet dioksidasi dengan pemanasan oleh campuran katalis dan asam sulfat
pekat, yang merubah senyawaan nitrogen menjadi ammonium hidrogensulfat. Setelah
suasana dirubah menjadi basa, amonia dipisahkan dengan destilasi uap dan diikat
oleh larutan standar asam borat, kemudian dititer dengan larutan standar asam sulfat.
Kadar nitrogen dapat dihitung dengan rumus :

-
Kadar Nitrogen = x 100 % ............(2.3)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


24

dengan :
V1 = mL H2SO4 untuk titrasi larutan berisi contoh
V2 = mL H2SO4 untuk titrasi larutan blanko
N = Normalitas H2SO4
W = bobot contoh (g)

2.4.4. Kadar Zat Menguap


Zat menguap di dalam karet sebagian besar terdiri dari uap air dan sisanya adalah zat-
zat lain seperti serum yang mudah menguap pada suhu 100 0C. Kadar zat menguap
adalah bobot yang hilang dari potongan uji setelah pengeringan.
Adanya zat yang mudah menguap di dalam karet, selain dapat menyebabkan bau
busuk, memudahkan tumbuhnya jamur yang dapat menimbulkan kesulitan pada
waktu mencampurkan bahan-bahan kimia ke dalam karet pada waktu pembuatan
kompon tersebut terutama untuk pencampuran karbon black pada suhu rendah.

Kadar zat menguap dapat dihitung dengan rumus :

Kadar Zat Menguap = x 100 % ..............................(2.4)

dengan :

A = bobot cawan berikut contoh sebelum dipanaskan


B = bobot cawan berikut contoh setelah dipanaskan
C = bobot potongan uji

2.4.5. Plastisitas Retention Index


Plasticity Retention Index (PRI) adalah cara pengujian yang sederhana dan cepat
untuk mengukur ketahanan karet terhadap degadasi oleh oksidasi pada suhu tinggi.
Oksidasi karet oleh udara (O2) terjadi pada ikatan rangkap molekul karet, yang akan
berakhir dengan pemutusan ikatan rangkap karbon-karbon sehingga panjang rantai
polimer semakin pendek.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


25

Terputusnya rantai polimer pada karet mengakibatkan sifat karet menjadi rendah.
Bila nilai PRI diketahui, dapat diperkirakan mudah atau tidaknya karet mudah
menjadi lunak atau lengket jika lama disimpan atau dipanaskan. Hal ini berhubungan
dengan vulkanisasi karet pada pembuatan barang jadi, agar diperoleh sifat dari barang
jadi karet yang lebih kuat.
Tinggi rendahnya nilai PRI dipengaruhi oleh jenis bahan baku yang digunakan
dan proses pengolahan karet. Terdapatnya nilai PRI yang rendah, disebabkan karena
terjadinya reaksi oksidasi pada karet. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya
oksidasi pada karet antara lain adalah:
a). Sinar Matahari
Sinar matahari mengandung sinar ultraviolet yang menggiatkan terjadinya
oksidasi pada karet apabila bahan baku lateks dan koagulum tekena langsung
oleh sinar matahari, hal ini ditandai dengan mengeringnya kulit permukaan lateks
dan koagulum.
b. Pengenceran lateks dan Koagulum
Pengenceran lateks dengan penambahan air yang terlalu banyak dan perendaman
dengan air yang terlalu lama yang tujuannya untuk mencuci kotoran-kotoran
yang melekat pada koagulum. Hal ini akan menurunkan konsentrasi zat-zat non-
karet didalam lateks seperti terlarutnya asam-asam amino yang berfungsi sebagai
anti oksidasi dan dapat juga berfungsi sebagai bahan pemacu cepat pada
pembuatan barang jadi karet yang selanjutnya menurunkan PRI pada karet.
c. Zat-zat pro-oksidasi (tembaga atau mangan)
Kandungan ion-ion log seperti Cu, Mg, Mn, dan Ca berkolerasi dengan kadar abu
didalam analisa karet. Kadar abu diharapkan rendah karena sifat logam tembaga
(Cu) dan mangan (Mn) adalah zat pro-oksidasi yang dalam bentuk ion
merupakan katalis reaksi oksidasi pada karet sehingga dalam jumlah yang
melewati batas konsentrasinya akan merusak mutu karet, sehingga oksidasi
dipercepat dan mengakibatkan nilai PRI karet menjadi rendah.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


26

d. Pengeringan karet
Penguraian molekul karet oleh reaksi oksidasi dapat pula terjadi bila karet
dikeringkan terlalu lama dan temperatur pengeringan yang dipakai adalah 127oC,
dengan waktu pengeringan 2 - 4 jam tergantung pada jenis alat pengeringan.
Nilai PRI akan turun bila terjadi ikatan silang (Storage Hardening) didalam lateks
kebun dan diantara butiran-butiran karet hasil pengeringan. Ikatan silang terjadi
pada pembentukan gel secara perlahan-lahan sehingga butiran-butiran karet
menjadi melendir dan lengket-lengket. Hal ini akan menyebabkan plastisitas
karet Po karet, maka akan merubah nilai PRI karet sehingga menjadi
turun.(Oppusunggu, 1998)

Nilai PRI yang tinggi menunjukkan bahwa karet tahan terhadap oksidasi
khususnya pada suhu tinggi, sebaliknya karet dengan nilai PRI rendah akan peka
terhadap oksidasi dan pada suhu tinggi cepat lunak. Faktor utama yang
mempengaruhi nilai PRI adalah perimbangan prooksidan dan anti oksidan dalam
karet. (Wadah, 1991)
Pengujian ini meiiputi pengujian plastisitas Wallace dari potongan uji sebelum
dan sesudah pengusangan didalam oven. Nilai PRI diukur dari besarnya keliatan
karet mentah yang masih tertinggal apabila sampel karet tersebut dipanaskan didalam
oven selama 30 menit pada suhu 140 oC. Nilai PRI adalah persentase keliatan karet
sesudah dipanaskan dan ditentukan dengan alat ukur Wallace Plastimeter.
Suhu dan waktu pengusangan diatur sedemikian rupa sehingga dapat
memberikan perbedaan yang nyata dari berbagai jenis karet mentah. Nilai PRI yang
tinggi menunjukkan ketahanan yang tinggi terhadap degadasi oleh oksidasi.
Besarnya nilai plasticity retention index (PRI) dapat dihitung dengan rumus :

Plasticity Retention Index (PRI) = x 100 ...............(2.5)

dengan :

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


27

Po = Plastisitas awal
Pa (P30) = Plastisitas setelah pengusangan selama 30 menit

2.4.6. Viskositas Mooney


Viskositas Mooney karet alam (Heave Brasiliensi) menunjukkan panjangnya rantai
molekul karet atau berat molekul serta derajat pengikatan silang rantai molekulnya.
Pada umumnya semakin tinggi berat molekul (BM) hidrokarbon karet semakin
panjang rantai molekul dan semakin tinggi tahanan terhadap aliran dengan dengan
kata lain karetnya semakin kental dan keras, sebaliknya karet yang memiliki
viskositas sangat rendah akan memberikan sifat karet jadi lembek dan kuat. Dalam
pembuatan ban dari karet alam dengan berat molekul tinggi cukup menarik karena
sifat fisika ban yang dihasilkan seperti daya kenyal, tegangan tarik, perpanjangan
putus dan sebagainya cukup baik.
Karet mempunyai nilai viskositas yang berbeda-beda dan nilai ini naik terus
selama penyimpanan atau disebut juga dengan pengerasan selama penyimpanan.
Karet yang sudah direaksikan dengan bahan kimia ini akan mempunyai nilai
viskositas yang tetap dan tidak berubah lagi untuk beberapa waktu. Karet yang
mempunyai viskositas konstan disebut viscosity stabilized rubber.
Viskositas dari karat pada umumnya di uji dengan alat ' Mooney Viscometer'
yang prinsip kerjanya adalah memutarkan sebuah rotor yang berbentuk silinder
didalam karat tersebut. Makin besar viskositas karet, makin besar pula perlawanan
yang diberikan oleh karet tersebut kepada rotor. Besarnya torak yang dialami oleh
sumbu rotor diukur oleh sebuah pegas yang berbentuk U dan dihubungkan dengan
dengan mikrometer yang mempunyai skala 0 100.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


28

2.5. Tanaman Nenas


2.5.1. Ciri-ciri Tanaman Nenas
Nanas (Ananas sativus) adalah sejenis tumbuhan tropis yang berasal dari Brazil,
Bolivia dan Paraguay. Tumbuhan ini termasuk dalam familia nanas-nanasan (Famili
Bromeliaceae). Perawakan tumbuhannya rendah, dengan 30 atau lebih daun yang
panjang, berujung tajam, tersusun dalam bentuk roset mengelilingi batang yang tebal
(Wikipedia, 2013).
Tanaman nanas yang berusia satu sampai dua tahun, tingginya 50- 150 cm,
mempunyai tunas yang merayap pada bagian pangkalnya. Daun berkumpul dalam
roset akar, dimana bagian pangkalnya melebar menjadi pelepah. Daun berbentuk
seperti pedang, tebal dan liat, dengan panjang 80-120 cm dan lebar 2-6 cm, ujungnya
lancip menyerupai duri, berwarna hijau atau hijau kemerahan. Buahnya berbentuk
bulat panjang, berdaging, dan berwarna hijau, jika masak warnanya menjadi kuning,
rasanya asam sampai manis (Dalimartha, 2001).
Menurut Muchtadi et al. (1994), buah nenas termasuk buah non klimaterik, yaitu
buah yang dipetik saat masak dan tidak mengalami kenaikkan respirasi yang cepat
selama pematangan . Tanaman nenas tumbuh dengan baik pada daerah tropis dengan
ketinggian 100 m sampai 800 meter di atas permukaan laut dengan suhu antara 21 oC
sampai 27 oC, curah hujan rata-rata 1000 mm sampai 1500 mm (Muljohardjo, 1984).
Tanah yang cocok untuk pertumbuhan nenas adalah tanah berpasir yang kaya akan
bahan organik dengan pH kurang dari 5,5 dan kandungan garam rendah.
Buah yang dihasilkan dari tanaman nenas merupakan buah majemuk berbentuk
slinder dengan bobot berkisar 0,5 kg sampai 3,0 kg. Panjang buah nenas berkisar
antara 10 cm sampai 14 cm dengan lingkar buah antara 30 cm sampai 36 cm
(Hudayah dan Hansani, 1981). Pada umumnya buah nenas memiliki daging buah
yang relatif tebal, tidak berbiji dan penuh kelopak yang berdaging. Bagian-bagian
buah nenas dapat dilihat pada Gambar 2.5

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


29

Gambar 2.5. Bagian-bagian Buah Nenas (Dull, 1971)


1. Mahkota 5. Kulit
2. Hati 6. Kelopak
3. Kelanjar madu 7. Daun pelindung
4. Plasenta 8. Tangkai

2.5.2. Klasifikasi Tanaman Nenas


Klasifikasi tanaman nanas adalah sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Kelas : Angiospermae
Ordo : Bromeliales
Famili : Bromiliaceae
Genus : Ananas
Species : Ananas sativus
(Wikipedwia Indonesia, 2010).

2.5.3. Jenis-Jenis Nanas


Berdasarkan habitat tanaman, terutama bentuk daun dan buah dikenal 4 jenis
golongan nanas, yaitu:
a. Cayenne
Daun halus, ada yang berduri dan ada yang tidak berduri, ukuran buah besar,
silindris, mata buah agak datar, berwarna hijau kekuning-kuningan, dan rasanya
agak masam.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


30

b. Queen
Daun pendek dan berduri tajam, buah berbentuk lonjong mirip kerucut sampai
silindris, mata buah menonjol, berwarna kuning kemerah-merahan dan rasanya
manis.
c. Spanyol
Daun panjang kecil, berduri halus sampai kasar, buah bulat dengan mata datar.
d. Abacaxi
Daun panjang berduri kasar, buah silindris atau seperti piramida.

Varietas nanas yang banyak ditanam di Indonesia adalah golongan Cayene dan
Queen. Golongan Spanish dikembangkan di Kepulauan India Barat, Puerto Riko,
Meksiko dan Malaysia. Golongan Abacaxi banyak ditanam di Brazilia (Santoso,
2010).

2.5.4. Kandungan Gizi Buah Nanas


Buah Nenas dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu kulit buah, daging buah dan hati
buah. Kandungan kimia buah nenas dari bagian buah yang dapat dimakan sangat
bervariasi tergantung daerah pertumbuhan, kondisi sebelum panen dan kondisi
sesudah panen. Menurut Samson (1980) buah nenas mengandung protein 0,4%, gula
12-15% (2/3 bagian sukrosa), asam 0,6% (terbanyak 85% asam sitrat), air 80-85%,
abu 0,5%, lemak 0,1%, serat kasar dn vitamin.
Menurut Wirakusumah (2000) kandungan gizi dalam 100 g buah nanas adalah
sebagai berikut :

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


31

Tabel 2.3. Kandungan Gizi Buah Nenas

No. Unsur Gizi Jumlah


1. Kalori (kal) 50,00
2. Protein ( g ) 0,40
3. Lemak ( g ) 0,20
4. Karbohidrat (g) 13,00
5. Kalsium (mg) 19,00
6. Fosfor (mg) 9,00
7. Serat (g) 0,40
8. Besi (g) 0,20
9. Vitamin A (IU) 20,00
10. Vitamin B1 (mg) 0,08
11. Vitamin B2 (mg) 0,04
12. Vitamin C (mg) 20,00
13. Niacin (g) 0,20

Menurut Dull (1971) , asam organik utama yang terdapat dalam buah nenas
adalah asam sitrat, yang merupakan asam tidak menguap yang terbanyak dalam buah
nenas. Selain asam sitrat, dalam buah nenas juga terdapat asam malat dan asam
oksalat. Vitamin yang bayak terdapat dalam buah nenas adalah vitamin C, yang
besarnya dipengaruhi oleh tingkat kematangan , bagian daging buah dan varietas.
Pigmen yang terdapat dalam buah nenas adalah karoten dan xantofil yang
keduanya berperan dalam memberikan warna buah, Kandungan pigmen karoten
dalam buah nenas lebih besar dibandingkan dengan pigmen xantofil.

2.5.5. Ekstrak Nenas


Sari buah nenas atau ekstrak buah nenas merupakan cairan hasil pemerasan dengan
tekanan atau alat mekanis yang dikeluarkan dari bagian buah yang dapat dimakan.
Cairan tersebut dapat keruh atau bening tergantung dari jenis yang digunakan.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


32

Menurut Muchtadi et. al (1994), ekstrak buah adalah hasil ekstraksi (sari) dari buah
segar, merupakan cairan jernih atau keruh, tidak difermentasi, mengandung gula
dangan atau tanpa penambahan bahan tambahan lain.
Ekstrak nenas merupakan cairan hasil ekstraksi dari buah nenas melalui
pemerasan dengan tekanan. Menurut Indrawati et. al (1983), dalam ekstrak buah
nenas terdapat enzim bromelin yang dapat langsung digunakan. Bromelin merupakan
enzim proteotik yang berasal dari buah nenas. Bromelin sebagai enzin proyeotik,
bromelin mampu memecah molekul-molekul protein menjadi asam amino. Enzim
bromelin diperoleh dari tanaman famili Bromeliaceae. Selain terdapat pada hati
nenas, bromelin ditemukan pula pada daging buah, kulit buah dan daun tanaman
buah, dengan jumLah yang berbeda-beda pada setiap tempat. Kandungan bromelin
dalam tanaman nenas dapat dilihat pada tabel 2.4.

Tabel 2.4.. Kandungan Bromelin dalam Tanaman Nenas


Bagian buah JumLah ( %)
Buah utuh masak 0,060 - 0,080
Daging buah masak 0,080 - 0,125
Kulit buah 0,050 - 0,075
Tangkai 0,040 - 0,060
Batang 0,100 - 0,600
Buah utuh mentah 0,040 - 0,060
Daging buah mentah 0,050 - 0,070
Sumber : Awang dan Razak (1978)
Menurut Indrawati et. al. (1983), aktivitas enzim bromelin dapat dipengaruhi
oleh beberapa hal, diantaranya adalah :
1. Kematangan Buah
Tingkat kematangan buah mempengaruhi aktivitas enzim bromelin. Semakin
matang buah, aktivitas enzim semakin berkurang. Hal ini disebabkan pada waktu
pematangan buah terjadi pembentukan senyawa tertentu, dalam hal ini enzim

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


33

sebagai protein akan terpakai dalam senyawa tersebut, sehingga sebahagian


struktur enzim akan rusak, akibatnya keaktifannya berkurang. Buah yang masak
mempunyai pH 3,0 - 3,5 dan pada suasana asam sebahagian enzim bromelin
terdenaturasi atau mengalami perubahan konformasi struktur, sehingga
keaktifannya berkurang.
2. Pengaruh pH
Aktifitas enzim bromelin optimum pada pH 6,5. Pada pH tersebut enzim
bromelin mempunyai konformasi yang mantap dan juga mempunyai aktivitas
maksimum. Apabila pH yang digunakan terlalu tinggi atau rendah akan terjadi
beberapa perubahan yaitu denaturasi protein yang menyebabkan kecepatan
katalis enzim akan menurun.
3. Pengaruh Suhu
Suhu optimum untuk aktivitas enzim bromelin adalah 35 0C - 50 0C. Keaktifan
enzim bromelin jauh lebih rendah pada suhu di atas atau di bawah suhu optimum.
Hal tersebut disebabkan oleh energi kinetik molekul atau substrat yang lebih
rendah.
4. Pengaruh Konsentrasi dan Waktu
Kecepatan katalis enzim meningkat hanya sampai dengan batas-batas tertentu
pada konsentrasi yang lebih besar dan waktu yang lebih lama, yang disebabkan
oleh adanya konsentrasi substrat efektif untuk tiap molekul enzim.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA