Anda di halaman 1dari 13

KELOMPOK : 10

Analisis Kasus BAB III Kode Etik Psikologi


( Kompetensi Psikolog dan Ilmuwan Psikologi)

Nama Anggota Kelompok:


Adhitya Destario 15081084
Siti Fitriani 15081117
Dhiajeng Melati Sukma 15081153
Rifani Kurniawati 15081162
Rahayu Ningrum 15081206
Agung Putra Dwijaya 15081290
Liana Pappa 15081308
Nico Sarapang 16081238

FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS MERCU BUANA YOGYAKARTA
2017
KODE ETIK PSIKOLOGI
KOMPETENSI PSIKOLOG DAN ILMUWAN PSIKOLOGI

A. Pengertian Kode Etik


Kode etik adalah pola aturan, tata cara, tanda, pedoman etis dalam melakukan suatu
kegiatan atau pekerjaan. Kode etik merupakan pola aturan atau tata cara etis sebagai
pedoman dalam berperilaku. Etis berarti sesuai dengan nilai-nilai dan norma yang dianut
oleh sekelompok orang atau masyarakat tertentu. Dalam kaitannya dengan Istilah profesi,
kode etik merupakan tata cara atau aturan yang menjadi standar kegiatan anggota suatu
profesi.
Menurut Gibson and Mitchel (1995;449): suatu kode etik menggambarkan nilai-nilai
profesional suatu profesi yang diterjemahkan dalam standar perilaku anggotanya. Nilai
profesional tadi ditandai adanya sifat altruistis, artinya lebih mementingkan kesejahteraan
orang lain dan berorientasi pada pelayanan umum dengan prima. Kode etik dijadikan
standar aktivitas anggota profesi, kode etik itu sekaligus dijadikan pedoman tidak hanya
bagi anggota profesi tetapi juga dijadikan pedoman bagi masyarakat untuk menjaga bias
penggunaan kode etik.
Kode Etik Psikologi Indonesia merupakan ketentuan tertulis yang diharapkan menjadi
pedoman dalam bersikap dan berperilaku, serta pegangan teguh seluruh Psikolog dan
kelompok Ilmuwan Psikologi, dalam menjalankan aktivitas profesinya sesuai dengan
kompetensi dan kewenangan masing-masing, guna menciptakan kehidupan masyarakat
yang lebih sejahtera.

B. Pengertian Kompetensi
Kompetensi berasal dari kata competency merupakan kata benda yang menurut
Powell (1997:142) diartikan sebagai 1) kecakapan, kemampuan, kompetensi 2)
wewenang. Kata sifat dari competence adalah competent yang berarti cakap, mampu, dan
tangkas. Pengertian kompetensi ini pada prinsipnya sama dengan pengertian kompetensi
menurut Stephen Robbin (2007:38) bahwa kompetensi adalah kemampuan (ability) atau
kapasitas seseorang untuk mengerjakan berbagai tugas dalam suatu pekerjaan, di mana
kemampuan ini ditentukan oleh 2 (dua) faktor yaitu kemampuan intelektual dan
kemampuan fisik.
Pengertian kompetensi sebagai kecakapan atau kemampuan juga dikemukakan oleh
Robert A. Roe (2001:73) sebagai berikut; Competence is defined as the ability to
adequately perform a task, duty or role. Competence integrates knowledge, skills, personal
values and attitudes. Competence builds on knowledge and skills and is acquired through
work experience and learning by doing Kompetensi dapat digambarkan sebagai
kemampuan untuk melaksanakan satu tugas, peran atau tugas, kemampuan
mengintegrasikan pengetahuan, keterampilan-keterampilan, sikap-sikap dan nilai-nilai
pribadi, dan kemampuan untuk membangun pengetahuan dan keterampilan yang
didasarkan pada pengalaman dan pembelajaran yang dilakukan.
Dari uraian pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kompetensi yaitu sifat
dasar yang dimiliki atau bagian kepribadian yang mendalam dan melekat kepada seseorang
serta perilaku yang dapat diprediksi pada berbagai keadaan dan tugas pekerjaan sebagai
dorongan untuk mempunyai prestasi dan keinginan berusaha agar melaksanakan tugas
dengan efektif. Dengan kata lain, kompetensi adalah penguasaan terhadap seperangkat
pengetahuan, ketrampilan, nilai-nilai dan sikap yang mengarah kepada kinerja dan
direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak sesuai dengan profesinya.

C. Analisis Kasus Pelanggaran Kode Etik Psikologi Dalam Hal Kompetensi


Kasus Pertama
Kasus
Setelah menempuh pendidikan strata 1 dan 2 dalam bidang psikologi, seorang
psikolog X kemudian membuka praktik psikologi dengan memasang plang di
depan rumahnya. Padahal psikolog X belum memiliki izin praktik. Dalam 1
tahun, X telah melakukan beberapa praktik antara lain mendiagnosis,
memberikan konseling dan psikoterapi terhadap kliennya.
Namun ketika memberikan hasil diagnosis, ia justru menggunakan istilah-
istilah psikologi yang tidak mudah dimengerti oleh kliennya, sehingga sering
terjadi miss communication terhadap beberapa klien tersebut. Hal lain sering pula
terjadi saat ia memberikan prognosis kepada klien, seperti menganalisis
gangguan syaraf yang seharusnya ditangani oleh seorang dokter. X juga sering
menceritakan masalah yang dialami klien sebelumnya kepada klien
barunya dengan menyebutkan namanya saat memberikan konseling. Psikolog X
tersebut terkadang juga menolak dalam memberikan jasa dengan alasan honor
yang diterima lebih kecil dari biasanya.
Pasal Kode Etik yang Dilanggar
1. BAB III Kompetensi
- Pasal 7 ayat (1)
- Pasal 7 ayat (2)

Analisis Kasus
Sebagai seorang psikolog yang sudah menempuh pendidikan di strata 1 dan 2,
jika ingin membuka praktik sudah seharusnya mengajukan permohonan agar
memiliki izin praktik sesuai kompetensinya. Namun yang dilakukan oleh
psikolog X adalah salah. Ia tetap membuka praktik psikologi walaupun belum
memiliki izin praktik yang sesuai kompetensinya. Hal ini melanggar kode etik
psikologi dalam hal kompetensi. Kode Etik Psikologi BAB III tentang
kompetensi, pasal 7 ayat (2) berbunyi Psikolog dapat memberikan layanan
sebagaimana yang dilakukan oleh Ilmuwan Psikologi serta secara khusus dapat
melakukan praktik psikologi terutama yang berkaitan dengan asesmen dan
intervensi yang ditetapkan setelah memperoleh ijin praktik sebatas kompetensi
yang berdasarkan pendidikan, pelatihan, pengalaman terbimbing, konsultasi,
telaah dan/atau pengalaman profesional sesuai dengan kaidah-kaidah ilmiah
yang dapat dipertanggungjawabkan.
Selain itu psikolog X juga memberikan sebuah diagnosa yang bukan di ranah
psikolog yaitu analisa gangguan saraf yang seharusnya masuk ranah dokter
spesialis saraf. Bila kondisinya hanya sebagai partner kerja dari dokter maka
bukan masalah, namun apabila ini tidak ada kaitannya sebagai bahan
pertimbangan dokter, maka hal ini juga dapat dikatakan sebagai pelanggaran kode
etik. Mestinya ia tidak melakukan hal itu karena gangguan saraf memang bukan
di ranahnya psikolog, karena nanti akan memberikan hasil analisa yang kurang
akurat. Hal ini melanggar kode etik psikologi dalam hal kompetensi. Kode Etik
Psikologi BAB III tentang kompetensi, pasal 7 ayat (1) berbunyi Ilmuwan
Psikologi memberikan layanan dalam bentuk mengajar, melakukan penelitian
dan/atau intervensi sosial dalam area sebatas kompetensinya, berdasarkan
pendidikan, pelatihan atau pengalaman sesuai dengan kaidah-kaidah ilmiah
yang dapat dipertanggungjawabkan.
Berdasarkan dua pelanggaran dalam hal kompetensi tadi, seharusnya seorang
psikolog harus memiliki izin praktik yang sesuai dengan kompetensinya agar bisa
melakukan assesmen dan intervensi secara legal. Selain itu psikolog juga
seharusnya melakukan assesmen, diagnosa dan intervensi sesuai kemampuan dan
ranah pengetahuannya.

Kasus Kedua
Kasus
Salah satu organisasi daerah yang ada di kota Yogyakarta, berasal dari salah
satu kabupaten di Sulawesi Utara mengadakan safari pendidikan sebagai program
yang bertujuan untuk memperkenalkan pendidikan di kota Yogyakarta, termasuk
PTN/PTS. Sasaran utamanya adalah mengunjungi SMA/SMK di kabupaten
tersebut.
Pada saat melakukan safari, dilakukan test psikologi. Yang memberi intruksi,
intervensi, dan supervisi adalah guru yang memiliki pendidikan strata 1 dalam
bidang pendidikan, yang bergelar S.Pd. Lembaga yang mengadakan tes tersebut
merupakan biro Psikologi yang berkedudukan di ibukota provinsi. Biro ini
melakukan kerja sama dengan pihak sekolah dalam bentuk pelaksanaan psikotes.
Biro hanya mengirimkan alat tesnya dan kemudian hasilnya akan dikirim ulang.
Bentuk intervensi dan supervisi selanjutnya diserahkan kepada guru BK.

Pasal Kode Etik yang Dilanggar


1. BAB III Kompetensi
- Pasal 10

Analisis Kasus
Kasus di atas melanggar kode etik dalam hal pendelegasian pekerjaan pada
orang lain. Pelanggaran ini dilakukan oleh psikolog yang memimpin Biro
Layanan Psikologi. Kode Etik Psikologi BAB III, pasal 10 berbunyi bahwa
Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi yang mendelegasikan pekerjaan pada
asisten, mahasiswa, mahasiswa yang disupervisi, asisten penelitian, asisten
pengajaran, atau kepada jasa orang lain seperti penerjemah; perlu mengambil
langkah-langkah yang tepat untuk:
a. Menghindari pendelegasian kerja tersebut kepada orang yang memiliki
hubungan ganda dengan yang diberikan layanan psikologi, yang mungkin
akan mengarah pada eksploitasi atau hilangnya objektivitas.
b. Memberikan wewenang hanya untuk tanggung jawab di mana orang yang
diberikan pendelegasian dapat diharapkan melakukan secara kompeten atas
dasar pendidikan, pelatihan atau pengalaman, baik secara independen, atau
dengan pemberian supervisi hingga level tertentu; dan
c. Memastikan bahwa orang tersebut melaksanakan layanan psikologi secara
kompeten.
Berdasarkan pasal tersebut, psikolog selaku kepala biro layanan psikologi
melakukan pelanggaran karena memberikan kewenangan kepada guru BK
dengan latar belakang sarjana pendidikan yang tidak mempelajari lebih dalam
mengenai psikologi, tidak adanya pelatihan ataupun pengalaman sebelumnya
dalam melakukan assesmen, intervensi maupun supervisi. Selain itu juga
psikolog yang mengepalai biro tersebut tidak bisa memastikan bahwa guru BK
tersebut melaksanakan tugasnya secara kompeten karena tidak melihat langsung
ataupun tidak mengenal langsung yang bersangkutan karena hanya mengirim alat
tes.

Seharusnya psikolog yang mengepalai biro layanan psikologi tersebut


mendelegasikan tugasnya pada asisten, mahasiswa, mahasiswa yang disupervisi,
asisten penelitian maupun penerjemah yang memiliki pengetahuan dalam bidang
psikologi, selain itu juga sudah mengikuti pelatihan dan berpengalaman dalam
hal melakukan tes psikologi.

Kasus Ketiga
Kasus
NN adalah seorang mahasiswa psikologi yang baru saja menyandang gelar
sarjana psikologi dan bekerja pada salah satu biro psikologi di Kota JK bersama
dengan beberapa ilmuan psikologi dan psikolog yang lain. Suatu hari, datang
klien berinisial AB yang menderita depresi berat sehingga mencoba membunuh
diri dan membutuhkan layanan darurat di biro tersebut, namun para psikolog
senior sedang ke luar kota untuk melakukan perjalanan dinas selama beberapa
minggu sehingga klien tersebut diberikan kepada NN dengan maksud pemberian
layanan darurat untuk sementara waktu.
Beberapa hari kemudian, salah seorang psikolog senior berinisial SH kembali
ke Kota JK untuk melakukan penanganan kepada klien AB, namun NN menolak
untuk memberikan penanganan klien tersebut kepada psikolog SH karena
menganggap bahwa dirinya mampu menyelesaikan masalah klien AB hingga
selesai tanpa bantuan dari psikolog SH walaupun penanganan yang diberikan oleh
NN ke AB tidak menunjukkan hasil yang signifikan.

Pasal Kode Etik yang Dilanggar


1. BAB III Kompetensi
- Pasal 12 ayat (3)
- Pasal 12 ayat (4)

Analisis Kasus
Sebagai seorang yang baru saja menyandang gelar sarjana psikologi, NN
belum memiliki kompetensi yang cukup untuk melakukan assesmen dan
intervensi pada klien yang datang untuk konsultasi. Namun karena keadaan
darurat, NN diperbolehkan untuk memberikan layanan darurat kepada klien
tersebut sesuai BAB III Kode etik psikologi pasal 12 ayat (1) dan (2) sampai
psikolog atau ilmuwan psikologi yang berkompeten kembali. Namun NN
melanggar kode etik karena setelah psikolog SH kembali dari tugasnya, NN
menolak untuk memberikan penanganan kepada psikolog SH yang lebih
berkompeten karena menganggap dirinya mampu menangani klien tersebut,
walaupun tidak ada hasil yang signifikan.
Hal ini melanggar kode etik psikologi dalam hal kompetensi. Kode etik
psikologi BAB III tentang kompetensi, pasal 12 ayat (3) yang berbunyi Selama
memberikan layanan psikologi dalam keadaan darurat, Psikolog dan/atau
Ilmuwan Psikologi yang belum memiliki kompetensi yang dibutuhkan perlu
segera mencari psikolog yang kompeten untuk mensupervisi atau melanjutkan
pemberian layanan psikologi tersebut. Serta pasal 12 ayat (4) yang berbunyi
Apabila Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi yang lebih kompeten telah
tersedia atau kondisi darurat telah selesai, maka pemberian layanan psikologi
tersebut harus dialihkan kepada yang lebih kompeten atau dihentikan segera.
Dari kasus di atas sudah jelas bahwa NN tidak segera mencari
psikolog/ilmuwan psikologi yang kompeten untuk mensupervisi atau
melanjutkan pemberian layanan psikologi seperti yang sudah dijelaskan pada ayat
(3), dan tidak bersedia mengalihkan layanan klien AB kepada psikolog SH
walaupun tidak ada perubahan yang signifikan pada AB seperti yang dijelaskan
pada pasal 4.

Kasus Keempat
Kasus
Sebut saja namanya bapak L, ia lulusan S2 magister sains dalam bidang
psikologi. Setelah beberapa bulan dari kelulusannya ia direkrut menjadi dosen di
sebuah Sekolah Tinggi di salah satu lembaga pendidikan di tempat tinggalnya.
Satu hari ia diminta oleh pihak pengelola SMA swasta di daerahnya untuk
melakukan tes psikologi yang bertujuan untuk melihat kemampuan minat dan
bakat penjurusan kelas III (IPA, IPS dan Bahasa). Mendapat tawaran untuk
melakukan pengetesan semacam itu, tanpa pikir panjang L langsung menerima
dan melakukan tes psikologi serta mengumumkan hasil tes kepada pihak sekolah
tentang siapa saja siswa yang bisa masuk di kelas IPA, IPS dan bahasa.
L melakukan tes psikologi tersebut ternyata tidak sendirian, ia bekerja sama
dengan M (pr) yang memang seorang psikolog. Mereka berteman akrab sejak
seperguruan waktu dulu mereka menempuh S2 hanya saja M adalah adik tingkat
L dan dulu sempat terjalin hubungan dekat antara keduanya sehingga M merasa
sungkan jika menolak kerja sama dengan L. Antara keduanya memang terjalin
kerja sama akan tetapi yang memegang peranan utama dalam tes psikologi
tersebut adalah L, sedangkan M sebagai psikolog sendiri hanya sebatas
pendamping L mulai dari pemberian tes sampai pada penyampaian data dan hasil
asesmen.

Pelanggaran Kode Etik yang Dilakukan


1. BAB III Kompetensi
- Pasal 7 ayat (1)
Analisis Kasus
Dari kasus di atas, apa yang dilakukan L sangat jelas melanggar kode etik
psikologi, khususnya dalam hal kompetensi. L adalah lulusan Magister Sains
(Ilmuwan Psikologi) bukan sebagai lulusan Magister Profesi (Psikolog). L hanya
bisa melakukan pengadministrasian assesmen, bukan sebagai penyelenggara
assesmen seperti kasus tersebut di mana L melakukan tes psikologi dengan
menggunakan alat tes dan memberikan hasil assesmen meskipun L bekerja sama
dengan rekannya yang lulusan Magister Profesi. Dalam kasus ini M selaku rekan
L juga melanggar kode etik psikologi, namun dalam hal lain, bukan dalam hal
kompetensi, karena M memang memiliki hak untuk menggunakan alat tes
psikologi dan memberikan hasil assesmen.
L melanggar kode etik psikologi BAB III tentang kompetensi. Kode etik
psikologi BAB III pasal 7 ayat (1) berbunyi Ilmuwan Psikologi memberikan
layanan dalam bentuk mengajar, melakukan penelitian dan/atau intervensi sosial
dalam area sebatas kompetensinya, berdasarkan pendidikan, pelatihan atau
pengalaman sesuai dengan kaidah-kaidah ilmiah yang dapat
dipertanggungjawabkan. Dalam hal ini L seharusnya tidak melakukan
penyelenggaraan tes dan memberikan hasil assesmen karena tidak sesuai dengan
kompetensinya sesuai dengan yang tertera pada ayat (1). Kasus ini bisa legal dan
tidak melanggar kode etik jika rekan L, yaitu M yang menyelenggarakan tes serta
memberikan hasil assesmen, sementara L hanya melakukan administrasi
assesmen.

Kasus Kelima
Kasus
IK adalah seorang Psikolog yang baru 3 bulan menyandang gelar psikolog. Ia
mendapatkan izin praktik setelah lulus ujian kompetensi. Saat membuka praktik,
datang seorang pasien berinisial DN yang menceritakan permasalahannya kepada
psikolog IK. Setelah mendengar permasalahan tersebut, psikolog IK langsung
mendiagnosa dan melakukan intervensi kepada pasien DN. Bahkan psikolog IK
melakukan intervensi baru yang dibuatnya sendiri tanpa adanya penelitian terkait
hal tersebut. Psikolog IK juga mengambil keputusan yang menurutnya benar.
Pasal Kode Etik yang Dilanggar
1. BAB III Kompetensi
- Pasal 9

Analisis Kasus
Pada kasus tersebut, psikolog IK melanggar kode etik karena langsung
mendiagnosa bahkan langsung memberikan intervensi tanpa adanya proses
assesmen yang mendalam terhadap klien. Selain itu juga, psikolog IK
memberikan intervensi baru yang dibuatnya sendiri, padahal belum ada penelitian
terkait intervensi yang diberikan. Hal ini jelas melanggar kode etik psikologi
dalam hal kompetensi.
Kode etik psikologi BAB III, pasal 9 berbunyi Psikolog dan/atau Ilmuwan
Psikologi dalam pengambilan keputusan harus berdasar pada pengetahuan
ilmiah dan sikap profesional yang sudah teruji dan diterima secara luas atau
universal dalam disiplin Ilmu Psikologi. Dalam hal ini psikolog IK tidak
mengambil keputusan berdasarkan pengetahuan ilmiah dan sikap profesional
yang sudah teruji. Seharusnya psikolog IK tidak memberikan intervensi yang
dibuatnya sendiri karena tidak berdasar pengetahuan ilmiah. Psikolog IK harus
memberikan intervensi yang sudah teruji dan diterima secara luas dalam disiplin
ilmu psikologi.

Kasus Keenam
Kasus
Psikolog IZ sudah selama 12 tahun membuka praktik psikologi. Di kota tempat
psikolog IZ praktik diadakan pelatihan terhadap penanganan baru dalam bidang
psikologi dan panitianya berharap para psikolog yang ada di kota tersebut ikut
serta karena pelatihan ini penting dalam proses penanganan terhadap kasus-kasus
baru yang muncul saat ini. Namun psikolog IZ menolak untuk ikut pelatihannya
dengan alasan sudah cukup mengetahui proses penanganan karena menganggap
dirinya senior di kota tersebut. Bahkan dia berkata bahwa kasus-kasus yang baru
muncul itu hanya pada segelintir orang dan dia tidak menemukan klien yang
memiliki masalah tersebut, sehingga ia tidak mau mengikuti pelatihan tersebut.
Pasal Kode Etik yang Dilanggar
1. BAB III Kompetensi
- Pasal 8

Analisis Kasus
Pada kasus di atas, apa yang dilakukan oleh psikolog IZ merupakan
pelanggaran kode etik karena tidak berusaha untuk menambah pengetahuannya
dalam meningkatkan kompetensinya sebagai psikolog. Hal ini melanggar kode
etik psikologi dalam hal peningkatan kompetensi. Kode etik psikologi BAB III
pasal 8 berbunyi Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi wajib melaksanakan
upaya-upaya yang berkesinambungan guna mempertahankan dan meningkatkan
kompetensi mereka. Apa yang dilakukan oleh psikolog IZ melanggar pasal 8
karena tidak berusaha melakukan upaya peningkatan kompetensinya dalam
bidang ilmu psikologi.

Kasus Ketujuh
Kasus
Psikolog Z membuka sebuah praktik psikologi di sebuah kota. Ia tinggal
bersama istri dan 2 orang anak. Pada suatu malam, terjadi konflik antara psikolog
Z dengan istrinya sehingga membuat istri dari psikolog Z memilih pergi dari
rumah. Psikolog Z masih terus memikirkan masalahnya di tempat praktiknya.
Hingga siangnya datang seorang klien yang berniat konsultasi pada psikolog Z.
Pada saat klien menceritakan permasalahannya, psikolog Z merenung dan
tidak mendengarkan cerita dari kliennya. Klien tersebut akhirnya protes dan
meminta psikolog Z untuk mendengarkan ceritanya. Namun psikolog Z malah
memarahi kliennya dan mengusirnya dari tempat praktik.

Pasal Kode Etik yang Dilanggar


1. BAB III Kompetensi
- Pasal 11 ayat (1)
- Pasal 11 ayat (2)
Analisis Kasus
Apa yang dilakukan oleh psikolog Z jelas melanggar kode etik. Psikolog Z
tidak profesional karena membawa masalah atau konflik yang terjadi dalam
rumah tangganya ke tempat praktiknya. Psikolog Z juga tidak mendengarkan
keluhan dari klien dan malah balik memarahi klien saat klien protes. Apa yang
dilakukan oleh psikolog Z melanggar kode etik dalam hal kompetensi.
Kode etik psikologi BAB III pasal 11 ayat (1) berbunyi Psikolog dan/atau
Ilmuwan Psikologi menyadari bahwa masalah dan konflik pribadi mereka akan
dapat mempengaruhi efektifitas kerja. Dalam hal ini Psikolog dan/atau Ilmuwan
Psikologi mampu menahan diri dari tindakan yang dapat merugikan pengguna
layanan psikologi serta pihak-pihak lain, sebagai akibat dari masalah dan/atau
konflik pribadi tersebut. Seharusnya psikolog Z bisa menyadari
permasalahannya dan tidak membawa permasalahannya saat melakukan praktik
psikologi. Psikolog Z harus bersikap profesional dengan cara menahan diri agar
tidak muncul tindakan yang merugikan klien seperti yang dilakukannya pada
klien.
Selain itu pasal 11 ayat (2) berbunyi Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi
berkewajiban untuk waspada terhadap tanda-tanda adanya masalah dan konflik
pribadi, bila hal ini terjadi sesegera mungkin mencari bantuan atau melakukan
konsultasi profesional untuk dapat kembali menjalankan pekerjaannya secara
profesional. Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi harus menentukan akan
membatasi, menangguhkan, atau menghentikan kewajiban layanan psikologi
tersebut. Dari ayat 2 di atas, seharusnya psikolog Z mengetahui tanda-tanda
bahwa dirinya sedang dalam masalah dan berusaha mencari pertolongan, semisal
dengan mendatangi rekan sejawat psikolog untuk melakukan konsultasi agar bisa
kembali menjalankan tugasnya sebagai psikolog. Selain itu juga seharusnya
psikolog Z menghentikan sementara praktik psikologinya sampai dia benar-benar
bisa bersikap profesional.
DAFTAR PUSTAKA

Amatillah, Vira. 2013. Kasus Pelanggaran Kode Etik psikologi dan Penjelasan Pasal2nya
(Tugas Mata Kuliah). (Online). Dari
http://pemujawarnaungu.blogspot.co.id/2013/05/kasus-pelanggaran-kode-etik-
psikologi.html. Diakses pada tanggal 30 September 2017

Angkamutu, Eebno. 2013. Pelanggaran Kode Etik Psikologi di Indonesia. (Online). Dari
https://plus.google.com/115025026357171140117/posts/TZqjSTAUDW9. Diakses pada
tanggal 30 September 2017

Halman, Sri Utami. 2014. Contoh Kasus Pelanggaran Kode Etik Psikologi. (Online). Dari
http://utamitamii.blogspot.co.id/2014/10/contoh-kasus-pelanggaran-kode-etik.html.
Diakses pada tanggal 1 Oktober 2017

Himpsi. (2010). Kode Etik Psikologi Indonesia. Jakarta: Pengurus Pusat Himpunan Psikologi
Indonesia.

Psikologi Karawaci. 2014. Kode Etik Psikologi. (Online). Dari


https://www.academia.edu/26228713/TUGAS_KODE_ETIK. Diakses pada tanggal 30
September 2017

Purwakania Hasan, Aliah B. 2009. Kode Etik Psikologi dan Ilmuan Psikologi. Yogyakarta:
Graha Ilmu

Anda mungkin juga menyukai