Anda di halaman 1dari 6

SDIDTK (Stimulasi Deteksi Intervensi Dini Tumbuh Kembang)

SDIDTK adalah pembinaan tumbuh kembang anak secara komprehensif dan


berkualitas melalui kegiatan stimulasi, deteksi dan intervensi dini penyimpangan
tumbuh kembang pada masa 5 tahun pertama kehidupan . Dapat dilakukan antara :
keluarga, masyarakat dengan tenaga professional (kesehatan, pendidikan dan sosial).

Ada beberapa prinsip dasar yang perlu diperhatikan dalam melakukan stimulasi
tumbuh kembang anak,yaitu dengan cara pada saat melakukan stimulasi dilandasi
dengan rasa kasih sayang dan tunjukan perilaku yang baik karena anak dapat meniru
tingkah kita sebagai orang yang dekat pada anak tersebut, kemudian dapat
memberikan stimulasi sesuai dengan kelompok umur anak tersebut dengan cara
mengajak anak bermain, bernyanyi, bervariasi, menyenangkan tanpa adanya paksaan
dan hukuman yag diberikan pada anak. Dapat dilakukan dengan bantuan alat bantu
permainan, dan pada saat melakukan stimulasi jangan lupa untuk memberikan pujian
dan hadiah apabila anak berhasil melakukan perintah dengan baik yang kita berikan.

Dalam melakukan deteksi dini ini ada beberapa jenis deteksi dini tumbuh
kembang yang dapat dikerjakan oleh tenaga kesehatan di puskesmas dan jaringannya,
yaitu :

Deteksi dini penyimpangan pertumbuhan, yaitu untuk


mengetahui/menemukan status gizi kurang/buruk dan
mikrosefali/makrosefali. Deteksi dini penyimpangan pertumbuhan dilakukan
dengan pengukuran Berat Badan terhadap Tinggi Badan dengan tujuan untuk
memnetukan status gizi anak, normal, kurus, kurus sekali atau gemuk. Selain
itu, juga dilakukan pengukuran Lingkar Kepala Anak (LKA) dengan tujuan
untuk mengetahui lingkar kepala anak dalam batas normal atau diluar batas
normal.
Deteksi dini penyimpangan perkembangan yaitu untuk mengetahui gangguan
perkembangan anak (Keterlambatan), gangguan daya lihat, gangguan daya
dengar. Deteksi dini penyimpangan perkembangan dilakukan dengan :
o Skrining/Pemeriksaan perkembangan anak menggunakan Kuisioner Pra
Skrining Perkembangan (KPSP) dengan tujuan untuk mengetahui
perkembangan anak normal atau ada penyimpangan.
o Tes Daya Dengar (TDD) dengan tujuan untuk menemukan gangguan
pendengaran sejak dini, agar dapat segera ditindak lanjuti untuk meningkatkan
kemampuan daya dengar dan bicara anak.
o Tes daya Lihat (TDL) dengan tujuan untuk mendeteksi secara dini kelainan
daya dengar agar segera dapat dilakukan tindakan lanjutan sehingga
kesempatan untuk memperoleh ketajaman daya lihat menjadi lebih besar.
Deteksi dini penyimpangan mental emosional, yaitu untuk mengetahui adanya
masalah mental emosional, autisme dan gangguan pemusatan perhatian dan
hiperaktivitas. Ada beberapa jenis alat yang digunakan untuk mendeteksi
secara dini adanya penyimpangan mental emosional pada anak,
yaitu; Kuisioner Masalah Mental Emosional (KMME) bagi anak umur 36
bulan sampai 72 bulan.

Tujuan SDIDTK ini agar semua balita umur 05 tahun dan anak prasekolah umur 5-6
tahun tumbuh dan berkembang secara optimal. Dengan sasarannya dapat dibagi
menjadi :

1. Sasaran Langsung : Semua anak umur 0-6 tahun yang ada di wilayah kerja
Puskesmas
2. Sasaran Tidak Langsung : Tenaga kesehatan yang berkerja di lini terdepan
(Dokter, Bidan, Perawat, Ahli Gizi, Penyuluhan Kesehatan Masyarakat dan
sebagainya). Tenaga pendidik, Petugas lapangan KB, Petugas sosial yang
terkait dengan pembinaan tumbuh kembang anak, Petugas sektor swasta dan
profesi lainnya.
Rujukan Dini Penyimpangan Perkembangan Anak

Rujukan diperlukan jika masalah/penyimpangan perkembangan anak tidak dapat


ditangani meskipun sudah dilakukan tindakan intervensi. Rujukan penyimpangan
tumbuh kembang dilakukan secara berjenjang sebagai berikut :

a) Tingkat keluarga dan masyarakat


Keluarga dan masyarakat (orang tua, anggota keluarga lainnya dan kader)
dianjurkan untuk membawa anak ke tenaga kesehatan di Puskesmas dan
jaringan atau Rumah Sakit. Orang tua perlu diingatkan membawa catatan
pemantauan tumbuh kembang buku KIA.
b) Tingkat Puskesmas dan jaringannya
Pada rujukan dini, bidan dan perawat di posyandu, Polindes, Pustu termasuk
Puskesmas keliling, melakukan tindakan intervensi dini penyimpangan
tumbuh kembang sesuai standar pelayanan yang terdapat pada buku
pedoman. Bila kasus penyimpangan tersebut ternyata memerlukan
penanganan lanjut, maka dilakukan rujukan ke tim medis di Puskesmas.
c) Tingkat Rumah Sakit Rujukan
Bila kasus penyimpangan tersebut tidak dapat di tangani di Puskesmas maka
perlu dirujuk ke Rumah Sakit Kabupaten yang mempunyai fasilitas klinik
tumbuh kembang anak dengan dokter spesialis anak, ahli gizi serta
laboratorium/pemeriksaan penunjang diagnostic. Rumah Sakit Provinsi
sebagai tempat rujukan sekunder diharapkan memiliki klinik tumbuh
kembang anak yang didukung oleh tim dokter spesialis anak, kesehatan
jiwa, kesehatan mata, THT, rehabilitasi medik, ahli terapi, ahli gizi dan
psikolog.

Sedangkan jenis kegiatan SDIDTK,yaitu :


a. Deteksi Dini Penyimpangan Pertumbuhan
Dalam deteksi dini penyimpangan pertumbuhan ini terdapat pengukuran berat
badan terhadap tinggi badan (BB/TB), dengan tujuan untuk menentukan status gizi
anak, normal, kurus, kurus sekali atau gemuk. Jadwal pengukuran BB/TB disesuaikan
dengan jadwal DDTK. Pengukuran dan penilaian BB/TB dilakukan oleh tenaga
kesehatan terlatih, yaitu tenaga kesehatan yang telah mengikuti pelatihan SDIDTK.
Kemudian pengukuran lingkar kepala anak (LKA) dengan tujuan pengukura untuk
mengetahui lingkaran kepala anak dalam batas normal atau diluar batas normal,
deteksi dini penyimpangan pertumbuhan ini dapat dilakukan di semua
tingkat pelayanan.
Dalam buku pedoman pelaksanaan SDIDTK pada pelaksanan dan alat yang
digunakan untuk deteksi dini penyimpangan pertumbuhan terdapat dua tingkat
pelayanan yaitu keluarga/masyarakat dan puskesmas, pada tingkat pelayanan di
keluarga/pelayanan yang menjadi pelaksana antara lain orang tua,kader kesehatan,
petugas PAUD, BKB, TPA dan guru TK dengan menggunakan alat yaitu KMS dan
timbangan dancin. Sedangkan dalam tingkat pelayanan di puskesmas dapat dilakukan
oleh pelaksana yaitu dokter, bidan, perawat, ahli gizi dan petugas lainnya dengan
menggunakan alat seperti table BB/TB, grafik LK, timbangan, alat ukur tinggi badan
dan pita pengukur lingkar kepala

b. Deteksi Dini Penyimpangan Mental Emosional


Deteksi dini penyimpangan mental emosional adalah kegiatan/pemeriksaan untuk
menemukan gangguan secara dini adanya masalah emosional, autisme dan gangguan
pemusatan perhatian dan hiperaktivitas pada anak, agar dapat segera dilakukan
tindakan intervensi. Bila penyimpangan mental emosional terlambat diketahui maka
intervensinya akan lebih sulit dan hal ini akan berpengaruh pada tumbuh kembang
anak. Deteksi ini dilakukan oleh tenaga kesehatan.
1) Deteksi dini masalah mental emosional pada anak pra sekolah. Bertujuan untuk
mendeteksi secara dini adanya penyimpangan/masalah mental emosional pada anak
prasekolah
2) Deteksi dini autis pada anak pra sekolah. Bertujuan untuk mendeteksi secara dini
adanya autis pada anak umur 18 bulan sampai 36 bulan. Jadwal kegiatan dan jenis
skrining/deteksi dapat dilakukan pada anak umur 0 bulan 72 bulan , kemudian
untuk deteksi tumbuh kembang yang harus dilakukan adalah deteksi dini
penyimpangan pertumbuhan, deteksi dini penyimpangan perkembangan dan deteksi
dni penyimpangan mental emosional
Sehingga dalam SDIDTK ini untuk mengetahui perkembangan dan
pertumbuhan anak apakah anak mengalami keterlambatan atau tidak dalam tumbuh
kembangnya sehingga dapat dilakukan tidakan selanjunya dan dapat mencegah hal
yang buruk terjadi pada anak. Tumbuh kembang anak harus dipantau dari sekarang
jangan mengabaikan setiap perkembangan anak tiap bulannya, yang dapat dilakukan
pemeriksaan ditempat pelayanan kesehatan yang ada.