Anda di halaman 1dari 25

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam kehidupan sehari-hari semua yang kita lihat adalah pantulan dari
suatu cahaya. Dari pantulan tersebut kita dapat menikmati segala keindahan
ciptaanNYA. Bisa dibayangkan bagaimana dunia ini tanpa cahaya, mungkin
seperti malam hari tanpa sinar lampu pijar. Mungkin itulah kenapa Allah SWT
menciptakan matahari sebagai sumber cahaya alami.
Pertanyaan yang muncul adalah apa yang dimaksud dengan cahaya?
Bagaimana dan kenapa cahaya dapat dipantulkan? Ternyata cahaya adalah suatu
gelombang tranversal, dan mungkin jawaban pertanyaan terakhir adalah
menyangkut sifat dari cahaya itu sendiri, yaitu mengalami pemantulan (refleksi),
pembiasan (refraksi), intervensi, pelenturan (difraksi), dan polarisasi.
Muncul pertanyaan lagi, apa bukti dari semua sifat cahaya tersebut? Bukti
dari sifat polarisasi misalnya, jika kita keluar pada siang hari kita akan merasa
silau oleh terik matahari. Itu tidak akan terjadi jika kita memakai kacamata hitam
karena gelombang dari sinar matahari tersebut akan terserap oleh kacamata hitam.
Disini penulis akan mengkaji lebih jauh tentang salah satu sifat cahaya tersebut,
yakni polarisasi.

1.2 Tujuan Percobaan


1. Memahami bahwa cahaya adalah gelombang transversal sehingga dapat
dipolarisasi.
2. Memahami cara kerja alat polarimeter.
3. Menghitung daya putar spesifik dari larutan gula tebu dengan menggunakan
cahaya yang dipolarisasi.

1
1.3 Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam percobaan ini yaitu:
1. Polarimeter
2. Tabung pemutar 1 buah
3. Sumber cahaya monokromatis
4. Aquades 4 botol 25 mL
5. Gulaku secukupnya
6. Pipet tetes 3 buah
7. Gelas Ukur (Aqua Gelas) 2 buah
8. Tisu secukupnya

2
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Polarimeter

Polarimeter adalah alat yang digunakan untuk mengukur besarnya putaran


optik yang dihasilkan oleh suatu zat yang bersifat optis aktif yang terdapat dalam
larutan.Jadi polarimeter ini merupakan alat yang didesain khusus untuk
mempolarisasi cahaya oleh suatu senyawa optis aktif.
Senyawa optis aktif adalah senyawa yang dpat memutar bidang polarisasi,
sedangkan yang dimaksud dengan polarisasi adalah pembatasan arah getaran
(vibrasi) dalam sinar atau radiasi elektromagnetik yang lain. Untuk mengetahui
besarnya polarisasi cahaya oleh suatu senyawa optis aktif, maka besarnya
perputaran itu bergantung pada beberapa faktor yakni struktur molekul,
temperatur, panjang gelombag, banyaknya molekul pada jalan cahaya, jenis zat,
ketebalan, konsentrasi dan juga pelarut.

2.2 Bagian-Bagian Polarimeter


2.2.1. Sumber Cahaya
Alat polarimeter terdiri dari beberapa bagian. Bagian yang pertama
ialah sumber cahaya. Sumber cahaya terdiri dari dua jenis, yaitu sumber
cahaya filament dan sumber cahaya natrium. Sumber cahaya filament
digunakan untuk alat model lama, sedangkan sumber cahaya natrium
digunakan untuk alat model baru. Filter dari sumber cahaya natrium ialah
filter orange dengan panjang gelombang 589 nm. Sumber cahaya ditutup agar
cahayanya focus dan tidak ada udara.

2.2.2 Prisma Nicole


Bagian lain dari polarimeter ialah prisma Nicole. Bagian ini disebut
polarisator yang berfungsi mengubah cahaya monokromatis menjadi lebih
terpolarisasi.

3
2.2.3 Tabung Sampel
Bagian berikutnya ialah tabung sampel. Tabung sampel terbuat dari
kaca yang memiliki dua pengaman, yaitu karet dan skrup. Pemasangan
pengaman harus dilakukan secara berurutan jika tidak akan merusak lensa.
Urutan pemasangan ialah lensa, karet, setelah itu baru skrup. Tabung sampel
terdiri dari bermacam-macam ukuran tergantung jumlah sampel yang diuji.
Pada saat memasukkan sampel lebih baik yang dibuka ialah bagian bawahnya
supaya tidak ada gelembung udara pada tabung. Pengisian sampel jangan
sampai ada gelembung udara karena dapat menyebabkan pembiasan cahaya.
Bagian gondok pada tabung dirancang untuk menjebak udara dalam tabung.
2.2.4. Prisma Analisator
Prisma analisator merupakan bagian lain dari alat ini. Fungsi prisma
ini ialah untuk mensejajarkan sudut yang dihasilkan dari senyawa aktif optik.
Bagian lain dari polarimeter ialah mikroskop dan skala. Mikroskop berguna
untuk menentukkan cahaya yang sudah sejajar sehingga sudut hitung
rotasinya dapat dilihat dari skala. Bagian yang diatur pada alat polarimeter ini
ialah lensa analisator. Sudut putar adalah sudut yang ditunjukkan oleh
analisator setelah sinar melewati larutan dan membentuk cahaya yang redup.
Apabila bidang polarisasi berputar kea rah kiri (levo) dilihat dari pihak
pengamat, peristiwa ini disebut polarisasi putar kiri. Demikian juga untuk
peristiwa sebaliknya (dextro).

2.2.5. Skala Lingkar


Skala lingkar merupakan akala yang bentuknya melingkar dan
pembiasan skalanya dilakukan jika telah didapatkan pengamatan tepat baur-
baur.

2.2.6. Detektor
Detektor pada polarimeter manual yang digunakan sebagai detector
adalah mata, sedangkan polarimeter lain dapat digunakan detector
fotoelektrik.

4
2.3. Prinsip Kerja Polarimeter
Prinsip kerja alat polarimeter adalah sebagai berikut:
Sinar yang datang dari sumber cahaya (misalnya lampu natrium) akan
dilewatkan melalui prisma terpolarisasi (polarizer), kemudian diteruskan ke
sel yang berisi larutan. Dan akhirnya menuju prisma terpolarisasi kedua
(analizer). Polarizer tidak dapat diputar-putar sedangkan analizer dapat diatur
atau di putar sesuai keinginan.
Bila polarizer dan analizer saling tegak lurus (bidang polarisasinya
juga tega lurus), maka sinar tidak ada yang ditransmisikan melalui medium
diantara prisma polarisasi. Pristiwa ini disebut tidak optis aktif. Jika zat yang
bersifat optis aktif ditempatkan pada sel dan ditempatkan diantara prisma
terpolarisasi maka sinar akan ditransmisikan.
Putaran optik adalah sudut yang dilalui analizer ketika diputar dari
posisi silang ke posisi baru yang intensitasnya semakin berkurang hingga
nol.Untuk menentukan posisi yang tepat sulit dilakukan, karena itu digunakan
apa yang disebut setengah bayangan (bayangan redup). Untuk mancapai
kondisi ini, polarizer diatur sedemikian rupa, sehingga setengah bidang
polarisasi membentuk sudut sekecil mungkin dengan setengah bidang
polarisasi lainnya. Akibatnya memberikan pemadaman pada kedua sisi lain,
sedangkan ditengah terang.
Bila analizer diputar terus setengah dari medan menjadi lebih terang
dan yang lainnya redup. Posisi putaran diantara terjadinya pemadaman dan
terang tersebut, adalah posisi yang tepat dimana pada saat itu intensitas kedua
medan sama. Jika zat yang bersifat Optis aktif ditempatkan diantara polarizer
dan analizer maka bidang polarisasi akan berputar sehingga posisi menjadi
berubah. Untuk mengembalikan ke posisi semula, analizer dapat diputar
sebesar sudut putaran dari sampel. Sudut putar jenis ialah besarnya perputaran
oleh 1,00 gram zat dalam 1,00 mL larutan yang barada dalam tabung dengan
panjang jalan cahaya 1,00 dm, pada temperatur dan panjang gelombang
tertentu. Panjang gelombang yang lazim digunakan ialah 589,3 nm, dimana 1
nm = 10-9m.

5
Sudut putar jenis untuk suatu senyawa (misalnya pada 25o C) Macam
macam polarisasi antara lain, polarisasi dengan absorpsi selektif, polarisasi
akibat pemantulan, dan polarisasi akibat pembiasan ganda..
Menurut Farmakope Indonesia Edisi IV prinsip kerja Polarimeter
adalah : Tabung polarimeter harus diisi sedemikian agar tidak terbentuk atau
meninggalkan gelembung udara yang mengganggu berkas cahaya yang lewat.
Gangguan dari gelembung dapat dikurangi dengan tabung yang lubangnya
diperbesar pada salah satu ujungnya. Pada tabung dengan lubang yang
seragam, misalnya tabung semi mikro, perlu hati-hati pada waktu pengisian.
Dianjurkan agar menggunakan tabung yang bukan logam pada pengujian zat
yang korosif atau larutan zat pada pelarut yang korosif.
Pada waktu menutup tabung yang mempunyai keeping ujung yang
dapat dilepas serta dilengkapi dengan cincin karet dan penutup, maka penutup
ini harus dikencangkan secukupnya saja, agar tidak ada kebocoran di keping
ujung dan badan tabung. Tekanan berlebihan pada keeping ujung dapat
menimbulkan keregangan yang mengakibatkan gangguan terhadap
pengukuran. Pada penetapan rotasi jenis suatu zat dengan daya rotasi lemah,
sebaIknya tutup dilonggarkan dan dikencangkan kembali di antara
pembacaan yang berturut-turut, baik pada pengukuran rotasi maupun pada
pembacaan titik nol. Perbedaan yang ditimbulkan keregangan keping ujung
umumnya akan tampak, serta dapat dilakukan pengaturan yang tepat untuk
menghilangkan penyebabnya.

6
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian


Jenis penelitian yang akan dilaksanakan adalah eksperimen, sehingga
desain yang akan digunakan adalah Desain Kelompok.
3.2 Waktu dan Tempat Penelitian
Pelaksanaan praktikum gelombang dan optik dilaksanakan di Lab
Elektronika, Laboratorium Fisika. Praktikum dimulai pada hari Selasa 08
november 2016 pukul 09.30 WITA sampai dengan selesai. Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tadulako.
3.3 Prosedur Kerja
Adapun prosedur kerja yang dilakukan dalam percobaan ini yaitu:

3.3.1. Larutan Aquades

1. Menyiapkan alat dan bahan yang digunakan


2. Menyusun alat dan bahan yang digunakan seperti pada gambar berikut

Gambar 1. Polarimeter

3. Mencuci bersih tabung pemutar, kemudian mengisi aquades ke dalamnya


(jangan sampai ada gelembung udara) dan memasukkan tabung ke dalam
polarimeter. Menjaga bagian luar tabung agar tetap kering, terutama pada
bagian ujungnya.

4. Menentukan posisi setimbang yaitu pada skala 0

7
5. Memutar analisator pada kedudukan tertentu sampai memperoleh sisi
setimbang polarisasi, yaitu ditandai dengan cahaya terang, redup, redup
sekali yang teramati pada polarimeter.

6. Mencatat yang diperoleh.

7. Mengulangi langkah 4 - 6 dengan 2 kali perlakuan.

3.3.2. Larutan Gula


1. Membuat larutan gula dengan kosentarasi k1, k2, dan k3.
2. Mengulangi semua prosedur kerja pada aquades untuk larutan gula k1, k2,
dan k3.
3. Mencatat hasil yang diperoleh pada table hasil pengamatan.

8
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan

L = Daya putar spesifik larutan gula ( =66,540)


L = Panjang tabung
K = Konsentrasi larutan

a. Aquades
Larutan (L) (0)
1 2 3
Aquades
57,5 77,5 35,5

b. Gula
(0)
Konsentrasi
1 2 3
K1 73,0 42,0 57,0
K2 77,0 123,0 19,5
K3 84,5 90,5 81,5

Ket:
Nst polarimeter = 0,5o
Nst neraca digital = 1 x 10-5 kg
Nst mistar = 0,1 cm
Vaquades = 25 mL
mGula = 1 gr,2 gr, dan 3 gr
Panjang tabung = 21 cm

9
4.2. Analisa Data

4.2.1 Perhitungan umum


Kosentrasi gula

=

1
1 = = 0,04 /
25

2
2 = = 0,08 /
25

3
3 = = 0,12 /
25

Daya Putar Spesifik


= . .

=
.
Aquades
57,5
1 = = 68,45
(21)(0,04)

77,5
2 = = 46,13
(21)(0,08)
35,5
3 = = 14,09
(21)(0,12)

Larutan gula ( Aquades 25 ml + 1 gram gula)


73,0
1 = = 86,9
21 (0,04)
42,0
2 = = 25
21 (0,08)
57,0
3 = = 22,6
21 (0,12)

10
Larutan gula (Aquades 25 ml + 2 gram gula)
77,0
1 = = 91,7
21 (0,04)
123,0
2 = = 73,2
21 (0,08)
19,5
3 = = 7,7
21 (0,12)

Larutan gula (Aquades 25 ml + 3 gram gula)


84,5
1 = = 100,6
21 (0,04)
90,5
2 = = 53,9
21 (0,08)
81,5
3 = = 32,3
21 (0,12)

4.2.2 Perhitungan Ralat


Kosenterasi gula

= | | || + | | ||

1
= | | || + | 2 | ||

= = 1 102
1 1
= = 10 = 5
2 2

k1 = konsentrasi gula 1

1 1
1 = | | |1 102 | + | | |5|
25 (25)2
= |4 102 ||1 102 | + |1,6 103 ||5|
= |4 104 | + |8 103 |

11
= 8,4 103 /
= 8,4 103 /
1
= 100%
1
8,4 103
= 100%
4 102
= 21 %
1
= 1 ( )
1
= 1 log(0,21)
= 1 (0,68)
= 1,68 2
= (1 + 1 ) /
= (4, 0 0,084) 102 /

k2 = konsentrasi gula 2

1 2
2 = | | |1 102 | + | | |5|
25 (25)2
= |0,04||1 102 | + |3,2 103 ||5|
= |4 104 | + |0,016|
= 1,64 102 /
= 1,64 102 /
2
= 100%
2
1,64 102
= 100%
8 102
= 21 %
2
= 1 ( )
2
= 1 log(0,21)
= 1 (0,68)
= 1,68 2

12
= (2 + 2 )/
= (8, 0 1,6) 102 /

k3 = konsentrasi gula 3
1 3
3 = | | |1 102 | + | | |5|
25 (25)2
= |0,04||1 102 | + |4,8 102 ||5|
= |4 104 | + |0,024|
= 0,02 /
= 0,02 /
3
= 100%
3
0,02
= 100%
0,12
= 16 %
1
= 1 ( )
1
= 1 log(0,246)
= 1 (0,77)
= 1,77 2
= (3 + 3 )/

= (1,2 0,20) 101 /

Daya Putar Spesifik



= | | || + | | || + | | ||

1 . .
= | | || + | | || + | | ||
. (. )2 (. )2
= 0,5
1 1
= = (0,1) = 0,05
2 2

13
1 = 8,4 103 /
2 = 1,64 102 /
3 = 0,02 /

Aquades
1 0,04(5,75) 2 |
21(57,5)
1 = | | |0,5| + | 2
| |5 10 + | 2
| |8,4 103 |
210,04 (210,04) (210,04)
= |1,19||0,5| + |0,33||5 102 | + |1,71 103 ||8,4 103 |
= |0,60| + |0,02| + |13,37|
= 13,99
= 13,99
1
= 100%
1

13,99
= 100%
68,45
= 20 %
1
= 1
1
= 1 log(0,20)
= 1 (0,70)
= 1,70 2
= (68 13)

1 0,08(77,5) 2 |
21(77,5)
2 = | | |0,5| + | 2
| |5 10 + | 2
| |1,64 102 |
210,08 (210,08) (210,08)
= |0,60||0,5| + |2.20||5 102 | + |5,76 102 ||1,64 102 |
= |0,3| + |0,11| + |9,45|
= 9,86
= 9,86

14
2
= 100%
2
9,86
= 100%
46,13
= 21,4 %
2
= 1
2
= 1 log(0,21)
= 1 (0,68)
= 1,68 2
= (46 9,9)

1 0,12(35,5) 2 |
21(35,5)
3 = | | |0,5| + | | |5 10 + | | |0,02|
210,12 (210,12)2 (210,12)2
= |0,40||0,5| + |0,67||5 102 | + |1,17102 ||0,02|
= |0,2| + |0,03| + |2,34|
= 2,57
= 2,57
3
= 100%
3
2,57
= 100%
14,09
= 18,2 %
3
= 1
3
= 1 log(18,2)
= 1 (1,26)
= 2,26 2
= (3 3 )
= (14 2,6)

15
Larutan gula (Aquades 25 ml + 1 gram gula)
1 0,04(73,0) 21(73,0)
1 = | | |0,5| + | 2
| |5 102 | + | | |8,4 103 |
210,04 (210,04) (210,04)2
= |1,19||0,5| + |4,14||5 102 | + |2,172 103 ||8,4 103 |
= |0,60| + |0,21| + |18,2|
= 19,01
= 19,01
1
= 100%
1
19,01
= 100%
86,9
= 21,88%
1
= 1
1
= 1 log(0,22)
= 1 (0,66)
= 1,66 2
= (1 1 )
= (86 19)

1 0,08(42,0) 2 |
21(42,0)
2 = | | |0,5| + | | |5 10 + | | |1,64 102 |
210,08 (210,08)2 (210,08)2
= |0,60||0,5| + |1,19||5 102 | + |3,12 102 ||1,64 102 |
= |0,3| + |0,06| + |5,12|
= 5,48
= 5,48
2
= 100%
2
5,48
= 100%
25
= 21,9 %

16
2
= 1
2
= 1 log(0,22)
= 1 (0,66)
= 1,66 2
= (2 2 )
= (25 5,5)

1 0,12(57,0) 21(57,0)
3 = | | |0,5| + | 2
| |5 102 | + | | |2 102 |
200,12 (200,12)) (210,12))2
= |0,40||0,5| + |1,08||5 102 | + |1,88 102 ||2 102 |
= |0,2| + |0,05| + |3,76|
= 4,01
= 4,01
3
= 100%
3
4,01
= 100%
22,6
= 17,7%
3
= 1
3
= 1 log(0,18)
= 1 (0,74)
= 1,74 2
= (3 3 )
= (22 4,0 )

Larutan gula (air 21 ml + 2 gram gula)


1 0,04(77,0) 21(77,0)
1 = | | |0,5| + | 2
| |5 102 | + | | |8,4 103 |
210,04 (210,04) (210,04)2
= |1,19||0,5| + |4,37||5 102 | + |2,291 103 ||8,4 103 |
= |0,60| + |0,22| + |19,24|

17
= 20,06
= 20,06
1
= 100%
1
20,06
= 100%
91,67
= 21,88%
1
= 1
1
= 1 log(0,22)
= 1 (0,66)
= 1,66 2
= (1 1 )
= (91 20)

1 0,08(123,0) 21(123,0)
2 = | | |0,5| + | 2
| |5 102 | + | | |1,64 102 |
200,08 (210,08) (210,08)2
= |0,63||0,5| + |3,49||5 102 | + |9,15 102 ||1,64 102 |
= |0,32| + |0,17| + |15,0|
= 15,49
= 15,49
2
= 100%
2
15,49
= 100%
73,21
= 21,16%
2
= 1
2
= 1 log(0,21)
= 1 (0,68)
= 1,68 2

18
= (2 2 )
= (73 15)

1 0,12(19,5) 21(19,5)
3 = | | |0,5| + | 2
| |5 104 | + | | |2 102 |
210,12 (210,12) (210,12)2
= |0,40||0,5| + |0,37||5 104 | + |64,48 102 ||2 102 |
= |0,2| + |1,84104 | + |1,28102 |
= 0,22
= 0,22
3
= 100%
3
0,22
= 100%
7,74
= 2,84%
3
= 1
3
= 1 log(0,03)
= 1 (1,52)
= 2,52 3
= (3 3 )
= (7,74 0,220 )

Larutan gula (air 21 ml + 3 gram gula)


1 0,04(84,5) 21(84,5)
1 = | | |0,5| + | 2
| |5 102 | + | | |8,4 103 |
210,04 (210,04) (210,04)2
= |1,19||0,5| + |4,79||5 102 | + |2,514 103 ||8,4 103 |
= |0,60| + |0,24| + |21,12|
= 21,96
= 21,96
1
= 100%
1

19
21,96
= 100%
100,60
= 21,83%
1
= 1
1
= 1 log(0,22)
= 1 (0,66)
= 1,66 2
= (1 1 )
= (10 21)

1 0,08(90,5) 2 |
21(90,5)
2 = | | |0,5| + | 2
| |5 10 + | 2
| |1,64 102 |
210,08 (210,08) (21(0,08))
= |0,60||0,5| + |2,57||5 102 | + |6,73 102 ||1,64 102 |
= |0,3| + |0,13| + |11,04|
= 11,47
= 11,47
2
= 100%
2
11,47
= 100%
53,87
= 21,29%
2
= 1
2
= 1 log(0,21)
= 1 (0,68)
= 1,68 2
= (2 2 )
= (5,3 11)

20
1 0,12(81,5) 2 |
21(81,5)
3 = | | |0,5| + | | |5 10 + | | |2 102 |
210,12 (210,12)2 (210,12)2
= |0,40||0,5| + |1,54||5 102 | + |2,69 102 ||2 102 |
= |0,2| + |0,08| + |5,38|
= 5,66
= 5,66
3
= 100%
3
5,66
= 100%
32,34
= 17,50%
3
= 1
3
= 1 log(0,18)
= 1 (0,74)
= 1,74 2
= (3 3 )
= (32 5.7)

21
4.3 Pembahasan
Polarimeter adalah alat yang digunakan untuk mengukur besarnya putaran
optik yang dihasilkan oleh suatu zat yang bersifat optis aktif yang terdapat dalam
larutan.Jadi polarimeter ini merupakan alat yang didesain khusus untuk
mempolarisasi cahaya oleh suatu senyawa optis aktif.
Senyawa optis aktif adalah senyawa yang dpat memutar bidang polarisasi,
sedangkan yang dimaksud dengan polarisasi adalah pembatasan arah getaran
(vibrasi) dalam sinar atau radiasi elektromagnetik yang lain. Untuk mengetahui
besarnya polarisasi cahaya oleh suatu senyawa optis aktif, maka besarnya
perputaran itu bergantung pada beberapa faktor yakni struktur molekul,
temperatur, panjang gelombag, banyaknya molekul pada jalan cahaya, jenis zat,
ketebalan, konsentrasi dan juga pelarut.
Prinsip kerja alat polarimeter yaitu Sinar yang datang dari sumber cahaya
(misalnya lampu natrium) akan dilewatkan melalui prisma terpolarisasi
(polarizer), kemudian diteruskan ke sel yang berisi larutan. Dan akhirnya menuju
prisma terpolarisasi kedua (analizer). Polarizer tidak dapat diputar-putar
sedangkan analizer dapat diatur atau di putar sesuai keinginan.
Bila polarizer dan analizer saling tegak lurus (bidang polarisasinya juga
tega lurus), maka sinar tidak ada yang ditransmisikan melalui medium diantara
prisma polarisasi. Pristiwa ini disebut tidak optis aktif. Jika zat yang bersifat optis
aktif ditempatkan pada sel dan ditempatkan diantara prisma terpolarisasi maka
sinar akan ditransmisikan.
Adapun tujuan pada percobaan ini yaitu memahami bahwa cahaya adalah
gelombang transversal sehingga dapat dipolarisasi, memahami cara kerja alat
polarimeter dan menghitung daya putar spesifik dari larutan gulaku dengan
menggunakan cahaya yang dipolarisasi.
Alat dan bahan yang kami gunakan pada percobaan ini yaitu Polarimeter,
Tabung pemutar 1 buah, Sumber cahaya monokromatis, Aquades 4 botol 25 mL,
Gulaku secukupnya, Pipet tetes 3 buah, Gelas Ukur (Aqua Gelas) 2 buah, Tisu
secukupnya.

22
Adapun hasil yang kami peroleh dari perhitungan umum untuk konsentrasi
gula yaitu k1 bernilai 0,04 gr/l, k2 bernilai 0,08 gr/l, dan k3 bernilai 0,12 gr/l. Dan
untul nilai dari Daya putar spesifik yaitu pertama untuk nilai dari aquades
bernilai 68,450, 2 bernilai 46,130, dan 3 bernilai 14,090. Kemudian untuk nilai
dari larutan gulaku (aquades 25 mL + 1 gr gula) bernilai 86,90, 2 bernilai 250,
dan 3 bernilai 22,60, kemudian untuk (aquades 25 mL + 2 gr gula) bernilai
91,670, 2 bernilai 73,210, dan 3 bernilai 7,740, dan untuk (aquades 25 mL + 3
gr gula) bernilai 100,600, 2 bernilai 53,87, dan 3 bernilai 32,34,
Percobaan yang kami lakukan, bertujuan untuk mengukur konsentrasi dan
jenis larutan (gula) yaitu dengan cara membuat larutan gula dengan massa yang
berbeda dan masing-masing dilarutkan dengan 25 ml air mineral dimana akan
mempengaruhi sudut putar dari jenis larutan tersebut.
Pada percobaan ini terdapat empat perlakuan, pertama yang kami amati
adalah air murni ( aquades ) yang dimasukkan kedalam tabung pemutar lalu
mengamati cahaya yang paling terang yaitu cahaya berwarna orange pada
polarisator dengan cara memutar sudut putar sampai cahaya gelap tersebut dapat
diamati. Selanjutnya mengganti air murni yang didalam tabung dengan larutan
gula yang berbeda konsentrasinya dan diamati dengan cara yang sama.
Berdasarkan referensi, pada konsentrasi gula semakin tinggi,
menyebabkan cahaya yang tampak dianalisator menjadi lebih redup sehingga
sudut putar spesifiknya menjadi semakin besar. Ini menandakan larutan gula dapat
membelokkan arah getar cahaya. Namun yang kami peroleh tidak demikian, hal
tersebut disebabkan karena beberapa hal, diantaranya pada saat pengisian larutan
kedalam tabung putar masih ada rongga udara yang terdapat didalam larutan,
sehingga mempengaruhi cahaya yang diteruskan pada polarisator(sukar
mengamati pola cahaya dititik paling gelap) , selain itu kurangnya keterampilan
praktikan dalam menentukan sudut putar, dan alat yang digunakan kurang baik
kinerjanya sehingga menghasilkan data yang tidak akurat.

23
BAB V
PENUTUP

1.1 Kesimpulan

Setelah melakukan percobaan ini dapat disimpulkan bahwa:


1. Polarimeter adalah dasar ilmiah alat yang digunakan untuk melakukan
pengukuran ini, walaupun ini istilah yang jarang digunakan untuk
menjelaskan sebuah polarimetry proses yang dilakukan oleh komputer,
seperti dilakukan di polarimetric sintetis kecepatan rana radar.
Polarimetry film yang tipis dan permukaan yang umum dikenal sebagai
ellipsometry.
2. Polarimetry dapat digunakan untuk mengukur berbagai properti optik
dari bahan, termasuk linear birefringence, surat edaran birefringence
(juga dikenal sebagai optik rotasi optik atau rotary pertebaran), linear
dichroism, surat edaran dichroism dan penghamburan.
3. Cahaya merupakan gelombang transversal (merambat lurus), sehingga
cahaya dapat dipolarisasi dengan baik.
4. Prinsip kerja polarimeter berdasarkan fungsinya, yaitu sinar yang datang
dari sumber cahaya (misalnya lampu natrium) akan dilewatkan melalui
sebuahalat terpolarisasi (polarizer), kemudian diteruskan kesel yang
berisi larutan.Danakhirnya menuju alat yang terpolarisasi kedua
(analizer).

1.2 Saran
Sebagai saran pada percobaan ini agar supaya tempat praktikum lebih di
perhatikan lagi agar dalam melakukan praktikum semua dapat berjalan
nyaman dan lancer.

24
DAFTAR PUSTAKA

Physichollic.(2014).Polarimeter.[Online].Tersedia : http://blognyaanak
fisikausu.blogspot.co.id/2014/04/i.html. (Pada Tanggal 30 Oktober 2016)

Tim Penyusun. (2016). Penuntun Praktikum Gelombang dan Optik. Palu :


Universitas Tadulako.

(Nur Husnul Dienyati)

25