Anda di halaman 1dari 5

Perhitungan luas luka bakar menurut Lund dan Browder:

Area 0-1 thn 1-4 thn 5-9 thn 10-14 thn 15 thn Dws

Kepala 19 17 13 10 9 7
Leher 2 2 2 2 2 2
Anterior tubuh 13 13 13 13 13 13
Posterior tubuh 13 13 13 13 13 13
Bokong kanan 2,5 2,5 2,5 2,5 2,5 2,5
Bokong kiri 2,5 2,5 2,5 2,5 2,5 2,5
Genitalia 1 1 1 1 1 1
Lengan atas kanan 4 4 4 4 4 4
Lengan atas kiri 4 4 4 4 4 4
Lengan bawah kanan 3 3 3 3 3 3
Lengan bawah kiri 3 3 3 3 3 3
Telapak tangan kanan 2,5 2,5 2,5 2,5 2,5 2,5
Telapak tangan kiri 2,5 2,5 2,5 2,5 2,5 2,5
Paha kanan 5,5 6,5 8 8,5 9 9,5
Paha kiri 5,5 6,5 8 8,5 9 9,5
Tungkai kanan 5 5 5,5 6 6,5 7
Tungkai kiri 5 5 5,5 6 6,5 7
Telapak kaki kanan 3,5 3,5 3,5 3,5 3,5 3,5
Telapak kaki kiri 3,5 3,5 3,5 3,5 3,5 3,5
Total 100 100 100 100 100 100

(Klasifikasi Luka Bakar) 8

Tes Jarum Waktu


Klasifikasi Jaringan yang rusak Klinis Hasil
Pin prick Sembuh
I Epidermis - Sakit Hiperalgesi 7 hari Normal

- Merah

- Kering
II Sebagian dermis, folikel, Sakit Hiperalgesi 7 14 hari Normal, pucat,
rambut dan kelenjar merah/kuning, atau normal berbintik
Dangkal keringat utuh basah, bula
II Hanya kelenjar keringat Sakit Hipoalgesi 14 31 hari Pucat, depigmen-
yang utuh merah/kuning, tasi, rata,
Dalam basah, bula mengkilat, rambut
(-), cicatrix,
hipertropi
III Dermis seluruhnya Tidak sakit, Analgesi 21 hari Cicatrix,
putih, coklat, persekundam hipertropi
hitam, kering

Untuk keperluan klinik terdapat juga klasifikasi yang didasari ketebalan luka, kerusakan kulit
dan perlu tidaknya penderita luka bakar mendapat perawatan intensif, yaitu : 1

1. Luka bakar superfisial (superficial burn)

2. Luka bakar dangkal (superficial partial-thickness burn)

3. Luka bakar dalam (deep partial-thickness burn).

4. Luka bakar seluruh tebal kulit (full thickness burn).

Karena luka bakar sangat bervariasi baik mengenai luas permukan tubuh maupun dalamnya
jaringan yang terbakar, maka perlu ditetapkan keadaan-keadaan yang memerlukan perawatan
dan pengobatan di Rumah Sakit. Dalam hal ini dapat dipakai patokan sebagai berikut: 1

1. Luka bakar berat (perlu dirawat di RS dan mendapat pengobatan intensif)

a. Derajat II (dewasa > 30 %, anak > 20 %).

b. Derajat III > 10%

c. Luka bakar dengan komplikasi pada saluran nafas, fraktur, trauma jaringan lunak yang hebat.

d. Luka bakar akibat sengatan listrik

e. Derajat III yang mengenai bagian tubuh yang kritis seperti muka, tangan, kaki, mata, telinga,
dan anogenital.

2. Luka bakar sedang (perlu dirawat di RS untuk mendapat pengobatan yang baik, biasanya tak
seintensif luka bakar berat)

a. Derajat II dangkal > 15% (dewasa), 10% (anak)

b. Derajat II dalam antara 15-30% (dewasa), 10-20% (anak)


c. Derajat III < 10% yang tidak mengenai muka, tangan, kaki, mata, telinga, dan anogenital.

3. Luka bakar ringan

a. Derajat I

b. Derajat II < 15% (dewasa), < 10% (anak-anak)

c. Derajat III < 2%

G. Komplikasi

Infeksi. Infeksi merupakan masalah utama. Bila infeksi berat, maka penderita dapat mengalami
sepsis. Berikan antibiotika berspektrum luas, bila perlu dalam bentuk kombinasi. Kortikosteroid
jangan diberikan karena bersifat imunosupresif (menekan daya tahan), kecuali pada keadaan
tertentu, misalnya pda edema larings berat demi kepentingan penyelamatan jiwa penderita.

Curlings ulcer (ulkus Curling). Ini merupakan komplikasi serius, biasanya muncul pada hari ke
510. Terjadi ulkus pada duodenum atau lambung, kadang-kadang dijumpai hematemesis.
Antasida harus diberikan secara rutin pada penderita luka bakar sedang hingga berat. Pada
endoskopi 75% penderita luka bakar menunjukkan ulkus di duodenum.

Gangguan Jalan nafas. Paling dini muncul dibandingkan komplikasi lainnya, muncul pada hari
pertama. Terjadi karena inhalasi, aspirasi, edema paru dan infeksi. Penanganan dengan jalan
membersihkan jalan nafas, memberikan oksigen, trakeostomi, pemberian kortikosteroid dosis
tinggi dan antibiotika.

Konvulsi. Komplikasi yang sering terjadi pada anak-anak adalah konvulsi. Hal ini disebabkan
oleh ketidakseimbangan elektrolit, hipoksia, infeksi, obat-obatan (penisilin, aminofilin,
difenhidramin) dan 33% oleh sebab yang tak diketahui.

Komplikasi luka bakar yang lain adalah timbulnya kontraktur dan gangguan kosmetik akibat
jaringan parut yang dapat berkembang menjadi cacat berat. Kontraktur kulit dapat mengganggu
fungsi dan meyebabkan kekakuan sendi sehingga memerlukan program fisioterapi yang intensif
dan tindakan bedah. 4

E. Perubahan Anatomi Patologi pada Kulit dan Perubahan Fisiologi

1. Perubahan anatomi patologi pada kulit

Pada luka bakar terjadi perubahan mikrosirkulasi kulit dan terbentuk edema. Trauma panas
menghasilkan perubahan karakteristik pada daerah yang terbakar, yaitu zone dengan sel-sel mati
sehingga sifatnya irreversible (zona koagulasi) dan daerah paling luar yang memperlihatkan
hiperemia dimana kerusakan sel sangat minim dan paling dini menunjukkan perbaikan (zona
hiperemia). Diantara keduanya terdapat zona statis dengan gangguan pada sel dan sirkulasi darah
yang bersifat sementara. Tetapi zona statis ini sangat potensial untuk menjadi luka yang lebih
luas dan lebih dalam sehingga mengenai seluruh tebal kulit karena kondisi sel-selnya sangat peka
terhadap infeksi dan kekeringan yang menimbulkan kematian sel.

Dengan penanganan luka bakar yang adekuat akan memberikan kesempatan kepada pembuluh
darah untuk menghilangkan sludging (pengendapan partikel padat dari cairan) dan hipoksia
jaringan tidak berlarut-larut.3

1. Perubahan Fisiologi

Cedera termis menyebabkan gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit sampai syok, yang
dapat menimbulkan asidosis, nekrosis tubular akut, dan disfungsi serebral. Kondisi-kondisi ini
dijumpai pada fase awal ( akut atau syok) yang biasanya berlangsung sampai 72 jam pertama.3

Pada luka bakar timbul beberapa macam gangguan fisiologi yang akut, antara lain:

a. Gangguan Cairan

Terjadi perpindahan cairan dan elektrolit dari intravaskular ke ekstra vaskular dan penguapan air
yang berlebihan melalui permukaan kulit yang rusak.

Cairan dalam darah dan cairan ekstra sel dari bagian tubuh yang tidak terbakar pindah tempat
masuk ke dalam bagian tubuh yang mengalami edema dan ke dalam bula untuk kemudian
sebagian melalui kulit yang rusak. Ini menjelaskan bahwa pada syok luka bakar selain
hipovolemia juga terjadi kekurangan cairan ekstra sel dalam jaringan yang sehat sehingga terjadi
gangguan metabolisme sel yang memperberat syok.10

Insensible Loss

Orang normal : 15 21 cc/jam/m2 Luas Permukaan Tubuh (LPT)

Penderita luka bakar : (25 % LB) cc/jam/m2 LPT

b. Gangguan Sirkulasi dan Hematologi

Resistensi perifer naik karena sistem arteriola mengalami vasokonstriksi disamping viskositas
darah yang bertambah. Hemokonsentrasi ini menimbulkan fenomena sludging yang
mengakibatkan bertambah hebatnya gangguan sirkulasi perifer sehingga oksigenasi dan perfusi
jaringan sangat buruk.1

c. Gangguan Hormonal dan Metabolisme

Perubahan pada fungsi ini, pada posisi anterior bersifat neurogen dan tidak jelas apakah
dipengaruhi oleh rangsangan metabolik. Sistem saraf simpatis terangsang akibat trauma yang
cukup lama. Pengaruh perubahan pola produksi dan sekresi berbagai hormon mengakibatkan
adanya perubahan metabolik dalam jaringan.1
d. Gangguan Imunologi

Netrofil-netrofil yang seharusnya memfagositosis kuman-kuman, terperangkap dalam kapiler di


zona stasis. Secara bertahap penurunan daya tahan ini berkurang. Bila tubuh adekuat akan terjadi
granulasi di zona stasis dan dapat menahan pertumbuhan bakteri, tetapi bila tidak, pada saat
penurunan kemampuan neutrofil dapat timbul sepsis.1

F. Penatalaksanaan

Penalataksanaan dan penanganan awal luka bakar berjalan simultan mengikuti kaidah standar
Advanced Trauma Life Support dari Komite Trauma American College of Surgeons. Pada survei
primer dinilai dan ditangani A, B, C dan D penderita. 9

A (Airway) : Jalan nafas, adalah sumbatan jalan atas (larinx, pharinx) akibat cedera inhalasi
yang ditandai kesulitan bernafas atau suara nafas yang berbunyi (stridor hoarness). Kecurigaan
dibuat bila ditemukan oedem mukosa mulut dan jalan nafas, ditemukan sisa-sisa pembakaran di
hidung atau mulut dan luka bakar mengenai muka atau leher. Cedera ini harus segera ditangani
karena angka kematiannya sangat tinggi.

B (Breathing) : Kemampuan bernafas, ekspansi rongga dada dapat terhambat karena nyeri atau
eschar melingkar di dada.

C (Circulation) : Status volume pembuluh darah. Keluarnya cairan dari pembuluh darah terjadi
karena meningkatnya permeabilitas pembuluh darah (jarak antara sel endotel dinding pembuluh
darah). Bila disertai syok (suplai darah ke jaringan kurang), tindakannya adalah atasi syok lalu
lanjutkan resusitasi cairan.

D (Disability) : Status neurologis pasien.