Anda di halaman 1dari 9

Indah Rachmawati

15010113140188

PSIKODIAGNOSTIK: TES KEPRIBADIAN

TES WARTEGG

A. Teori dan Definsi Tes Wartegg

Tes Wartegg pertama kali dikembangkan pada tahun 1920 dan 1930-an dipelopori oleh
Ehrigg Wartegg yang bermula di negara Jerman. Tes Wartegg merupakan tes yang muncul dari
psikoanalisis dan psikologi Gestalt. Psikologi Gestalt berasumsi jika objek atau gambar dalam tes
wartegg adalah sebuah kesatuan yang merupakan cerminan dari pengalaman subjek. (Roivainen,
2009)

Psikologi Gestalt dikembangkan dari Teori Psikoanalisa yang menekankan jika manusia
terbentuk oleh pengalaman masa lalu yang tidak bisa lepas dari dirinya saat ini. Begitu juga dalam
menggambar, saat subjek memunculkan respon dari stimulus hal itu merupakan pengalaman masa
lalu atau apa yang pernah ia alami sebelumnya. Respon-respon yang muncul dalam gambar tes
merupakan suatu ide yang dapat memunculkan ide-ide baru. (Roivainen, 2009)

Tes Wartegg merupakan salah satu asesmen tes psikologi yang digunakan untuk evaluasi
kepribadian (personality assessment). Tes ini termasuk tes proyektif yang merupakan kombinasi
dari teknik completions dan expressions karena memiliki stimulus-stimulus yang perlu
diselesaikan dengan mengekspresikan s

uatu gambar. Teknik proyektif dalam tes wartegg adalah teknik konstitutif yang dimana
subjek diberikan materi yang belum berstuktur, kemudian subjek diminta untuk memberi struktur
(Karmiyati & Suryaningrum, 2008).
Materi tes yang digunakan dalam tes wartegg bertujuan untuk menghindarkan faktor-faktor
yang mengancam, misalnya dari tes yang ambigu dan asing, yang mungkin dapat menimbulkan
keragu-raguan. Ukuran segi empat bertujuan membantu subjek memusatkan perhatiannya pada
tempat yang terbatas pada stimulus. Bingkai hitam segiempat bertujuan untuk memusatkan
perhatian pada stimulus. Hasil karya wartegg kemudian lebih dikenal dengan istilah drawing
completion test, hal ini karena subyek harus melengkapi gambar-gambar kecil yang telah tersedia
dengan tujuan mengeksplorasi struktur kepribadian/ fungsi-fungsi dasar. (Kinget, 2012).

Cakupan diagnostik dari tes wartegg adalah menggali fungsi dasar kepribadian seperti
emosi, imajinasi, dinamika, kontrol dan fungsi realitas yang dimiliki oleh individu. Dasar dari tes
ini adalah bahwa tiap individu memiliki cara-cara yang berbeda di dalam mempersepsi dan
bereaksi terhadap situasi yang tidak terstruktur dan cara-cara ini merupakan pembeda bagi masing-
masing kepribadian (Kinget, 2012).

B. Stimulus Drawing Relation

Tanda-tanda yang ada dalam blangko tes dimaksudkan sebagai stimuli bagi aktivitas
asosiatif dan aktivitas grafik. Tanda tersebut juga dimaksudkan sebagai sarana perlakuan objektif
dalam menggambar. Karena rangkaiannya sama maka pembandingan dari klasifikasi hasil diantara
banyak subjek dapat dilakukan. (Kinget, 2012)

Karena variasi stimuli yang banyak, maka dari itu terdapat pula beragam kualitas yang
diungkap. Berdasarkan komentar dan kata-kata langsung dari subjek yang pernah dikenai tes ini,
suatu deskripsi mengenai berbagai kualitas dari masing-masing stimuli disajikan sebagai berikut
ini (Kinget, 2012):

a. Stimulus 1: Titik
Memiliki karakteristik kecil, ringan, bundar dan sentral. Sendirian, stimulus ini tidak
menonjol dan mudah terlewatkan oleh subjek yang kurang perseptif atau kurang sensitif.
Akan tetapi, letaknya yang persis ditengah-tengah menyebabkannya begitu penting dan
tidak dapat diabaikan. Dengan begitu munculah ketegangan antara imajinasi dan pemikiran
dikarenakan stimulus ini secara materi tidak berarti namun fungsinya sangatlah penting
dalam mewujudkan suatu gambar.
b. Stimulus 2 : Garis kecil menggelombang
Mensugestikan sesuatu yang hidup, bergerak, bebas, tumbuh, atau mengalir. Kualitas
stimulus ini menolak perlakuan seadanya atau penggunaan cara-cara teknikal akan tetapi
menghendaki suatu integras kedalam sesuatu yang hidup dan dinamik.
c. Stimulus 3 : Tiga garis vertikal yang menaik secara teratur
Mengekspresikan kualitas kekakuan, kekerasan, keteraturan, dan kemajuan. Kualitas-
kualitas ini berbaur dan menimbulkan kesan rumit mengenai organisasi yang dinamik,
perkembangan bertingkat, konstruksi metodik, dan semacamnya.
d. Stimulus 4 : Segiempat hitam
Tampak berat, utuh, padat, menyudut dan statik, mengesankan materi yang keras. Jika
stimulus 3 memiliki karakteristik mekanik namun tetap memperlihatkan sesuatu yang
bertumbuh dan dinamik, stimulus 4 sama sekali diam dan tidak hidup. Stimulus ini juga
tampil suram sehingga mudah diasosiasikan dengan sesuatu yang depresif bahkan sesuatu
yang mengancam.
e. Stimulus 5 : Dua garis miring yang berhadapan
Sangat kuat mengesankan gagasan mengenai konflik dan dinamika. Posisi garis yang lebih
yang lebih panjang menggambarkan sesuatu yang langsung terarah keatas berhadapan
dengan garis pendek yang menghadangnya. Kekakuan garis-garis ini dan posisinya yang
saling tegak lurus mensugestikan konstruksi dan pemakaian yang bersifat teknikal.
f. Stimulus 6 : Garis-garis horizontal dan vertikal
Sanga tapa adanya, kaku, bersahaja tidak menarik dan tidak memancing inspirasi. Sekilas
tampaknya hanya cocok untuk dijadikan pola-pola geometrik atau objek dasar. Namun
pengalaman telah menunjukkan bahwa stimulus ini dapat dibuat menjadi berbagai
kombinasi yang menarik. Posisinya yang tidak di tengah menyebabkan penyelesaiannya
untuk menjadi sesuatu yang berimbang merupakan tugas yang sulit dan memerlukan
perencanaan yang sungguh-sungguh.
g. Stimulus 7 : Titik-titik membentuk setengah lingkaran
Mengesankan sesuatu yang sangat halus, bundaran yang mungil dan lentur. Menarik hati
sekaligus mendatangkan teka-teki dikarenakan strukturnya yang kompleks seperti manik-
manik. Aspek stimulus ini yang berstruktur jelas disertai letaknya yang agak tanggung
memaksa subjek untuk bekerja berhati-hati dan tidak bertindak asal-asalan.
h. Stimulus 8 : Garis lengkung besar
Memiliki kualitas kebundaran dan fleksibilitas yang hidup sebagaimana stimulus 7. Akan
tetapi, tidak seperti stimulus 7 yang agak mengganggu dikarenakan kecil dan rumitnya,
stimulus 8 tampak tenang, besar, dan mudah dihadapi. Lengkungnya yang halus
mendorong penyelesaian ke bentuk benda hidup sedangkan arah lengkungnya yang
mengarah kebawah serta letaknya dalam segiempat mengesankan gagasan sebagai suatu
penutup, pelindung, atau tempat berteduh. Dimensinya yang relatif besar juga
menggambarkan perluasan dan kebesaran sebagaimana terlihat pada hasil gambar yang
kebanyakan berupa fenomena alam seperti peelangi atau matahari terbenam.

ASPEK-ASPEK KEPRIBADIAN

Menurut Freud kepribadian terdiri atas tiga aspek, ketiga aspek tersebut masing-masing
memiliki fungsi, sifat, komponen, prinsip kerja dan dinamikanya sendiri-sendiri. Ketiga aspek
tersebut adalah (Suryabrata, 2006):

a. Id/ Das Es
Aspek ini adalah aspek biologis dan dari aspek inilah kedua aspek yang lain tumbuh. Freud
juga menyebutnya dengan realitas psikis yang sebenar-benarnya. Id berisikan hal-hal yang
dibawa sejak lahir atau unsur-unsur biologis dan merupakan energi psikis yang
menggerakan ego dan superego. Energi psikis didalam id dapat meningkat dikarenakan
stimulus, baik itu stimulus dari dalam atau luar. Yang menjadi pedoman dalam id adalah
prinsip kenikmatan yaitu menghindarkan diri dari ketidaknikmatan dan mengejar
kenikmatan. Untuk mencapai kenikmatan id mempunyai du acara yaitu:
Refleks dan reaksi otomatis
Proses primer, seperti orang yang lapar kemudian membayangkan makanan

Akan tetapi cara tersebut tentu saja tidak memenuhi kebutuhan, maka dari itu diperlukan
adanya sistem lain yang menghubungkan pribadi dengan dunia obyektif yaitu ego.
b. Ego/Das Ich
Aspek ini adalah aspek psikologis yang timbul karena adanya kebutuhan organisme untuk
berhubungan secara baik dengan dunia kenyataan. Sebagaimana dikatakan, id hanya
mengenal dunia subyektif (dunia batin) maka ego membedakan sesuatu yang hanya ada di
dalam batin dan apa yang ada di dunia kenyataan. Ego berpegang pada prinsip realitas
dan bereaksi dengan proses sekunder, tujuan dari prinsip realitas adalah mencari objek
yang tepat untuk mereduksikan tegangan yang timbul dalam seseorang. Sedangkan, proses
sekunder merumuskan suatu rencana untuk pemuasan kebutuhan dan mengujinya dengan
suatu tindakan. Ego mengontrol jalan-jalan yang ditempuh, memilih kebutuhan-kebutuhan
yang dapat dipenuhi serta cara-cara untuk memenuhinya. Dalam menjalankan fungsinya,
ego harus mempersatukan pertentangan dari id, superego dan dunia luar, karena peran
utamanya adalah menjadi perantara antara kebutuhan-kebutuhan instingtif dengan keadaan
lingkungan.

c. Superego/Das Ueber Ich


Superego adalah wakil dari nilai-nilai tradisional serta cita-cita masyarakat sebagaimana
yang diberitahukan orangtua kepada anak-anaknya, yang diajarkan dengan berbagai
perintah dan larangan. Superego lebih kepada sebuah kesempurnaan daripada kesenangan,
maka dari itu superego dapat pula dianggap sebagai aspek moral kepribadian. Fungsinya
yang pokok adalah menentukan apakah sesuatu benar atau salah, pantas atau tidak, susila
atau tidak, dan dengan demikian pribadi dapat bertindak sesuai moral masyarakat. Adapun
fungsi pokok dari superego adalah:
Merentangi impuls-impuls dari id, terutama impuls seksual dan agresif yang
pernyataannya sangat ditentang oleh masyarakat
Mendorong ego untuk lebih mengejar hal-hal yang moralistis daripada realistis
Mengejar kesempurnaan
HOUSE TREE PERSON

Tes House-Tree-Person (HTP) adalah tes proyektif yang dirancang untuk mengukur aspek
kepribadian seseorang. Tes ini juga bisa digunakan untuk menilai fungsi mental secara umum.
Subjek menerima instruksi singkat dan tidak jelas (stimulus) untuk menggambar rumah, sebatang
pohon, dan sosok seseorang. Begitu subjek selesai, mereka diminta untuk menggambarkan gambar
yang telah mereka lakukan. Asumsinya dari tes ini adalah ketika subjek menggambar, mereka
memproyeksikan dunia batin mereka dalam gambar. Tester menggunakan alat dan keterampilan
yang telah ditetapkan untuk tujuan menyelidiki dunia batin subjek melalui gambar.

House Tree Person test dikembangkan oleh Buck tahun 1947, direvisi tahun 1948. Pada
prinsipnya tes ini dikembangkan dari Goodenough Scale yang berfungsi untuk mengukur fungsi
atau kematangan intelektual. Buck meyakini bahwa gambar rumah dan pohon juga dapat
memberikan informasi yang relevan mengenai kepribadian individu. merupakan salah satu tes
grafis yang berguna untuk melengkapi tes grafis yang lain, yaitu mengetahui hubungan
keluarga.Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam tes ini adalah HTP digunakan oleh para ahli
jiwa untuk mendapatkan data yang cukup signifikan yang mempunyai sifat diagnosa atau prognosa
mengenai keseluruhan pribadi individu yang bersangkutan dan juga dapat mengetahui bagaimana
interaksi pribadi dengan lingkungan baik yang umum ataupun spesifik. Menurut John Duck, HTP
digunakan untuk mendapatkan data tentang kemajuan individu yang dikenai suatu treatment.

Baik HTP ataupun tes grafis lainnya dapat disertai dengan warna dan interpretasinya
mencakup juga sesuai atau tidak sesuainya penggunaan warna terhadap objek. Yang paling penting
di interpretasi adalah orientasi individu (terhadap ruang dan daya abstraksi). Umumnya tes ini
diberikan sebagai bagian dari serangkaian tes kepribadian dan kecerdasan, seperti tes Rorschach,
TAT (atau CAT for children), Bender, dan Wechsler. Pemeriksa mengintegrasikan hasil tes ini,
menciptakan dasar untuk mengevaluasi kepribadian subjek dari perspektif kognitif, emosional,
intra dan interpersonal. (Buck & Warren, 1992)
Langkah dalam interpretasi menurut John Buck menekankan pada keseluruhan atau
harmonisasi ketiganya

1. Kesan Umum
Proporsi Gambar yang proporsional atau tidak
Posisi letak masing-masing gambar
Komposisi bagaimana ia menempatkan diri individu, apakah menggunakan
ratio atau tidak
Penyelesaian berhububungan dengan perhatian, penilaian & penghargaan
subjek terhadap apa yangg disimbolkan dari komponen yg diselesaikannya.
2. Rumah
Menggambarkan kehidupan sosial terutama pola kontak/interaksi interpersonal
Merupakan simbol dari peran ibu, sebagai pelindung dan pemelihara
Secara keseluruhan dapat dipertimbangkan sebagai refleksi persepsi diri
isubjek atau sebagai potret pengalaman di masa lalu subjekpada keluarga serta
aspirasinya pada keluarga
Bentuk rumah yang normal, sekurang-kurangnya memiliki 1 pintu, 1 jendela,
dinding dan atap
Bila subjek menggambar kurang 1 dari bagian tersebut untuk usia > 7 tahun
dan anak normal, menunjukkkan tidak tercukupinya intelektual/gangguan
emosi yang berat
Penambahan bagian2 dari rumah (di luar bagian2 utama) keadaan kecemasan
menyeluruh
3. Bagian-bagian Rumah
Atap : berasosiasi dengan super-ego yang terdapat di dalam keluargaserta
hub.sosialnya
Dinding : merefleksikan karakteristik ego dalam kontak dengan realitas
Jendela & Pintu : berasosiasi dengan bentuk hub.interpersonal dg lingkungan
eksternal
Jalan setapak : berasosiasi dengan akses untuk melakukan kontak dalam hub.
Interpersonal
Pagar : berasosiasi dengan batas antara lingkungan eksternal (sosial) dengan
dunia internal yang dapat berupa aturan-aturan
Penampakan rumah : berasosiasi dengan keseluruhan dan fungsi ibu serta
gambaran sikap hub.interpersonal subjek
4. Pohon
Menggambarkan interaksi kehidupan vitalitas/peranan hidup individu yang
berssangkutan dalam hubungan dengan kemampuan yang dimilikinya
Merupakan simbol peran dari figur ayah

5. Orang
Menggambarkan kehidupan hubungan interpersonal yang bersifat umum atau
spesifik
Merupakan simbol dari kondisi diri subjek
DAFTAR PUSTAKA

Buck, J. N., & Warren, W. L. (1992). The House-Tree-Person projective drawing technique:
Manual and interpretive guide. Revised edition. Los Angeles: Western Psychological
Services.

Karmiyati, D., & Suryaningrum, C. (2008). Pengantar Psikologi Proyektif. Universitas


Muhammadiyah Malang: UMM Press.

Kinget, G. M. (2012). WARTEGG: Tes Melengkapi Gambar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Roivainen, E. (2009). A Brief History of the Wartegg Drawing Test. Jurnal Gestalt. 31, (1), 55-71.

Suryabrata, S. (2006). Psikologi Kepribadian. Jakarta: Rajawali Pers.