Anda di halaman 1dari 12

Proses Pengolahan Emas

Meskipun proses baru banyak yang sedang diusulkan, tidak terdapat perubahan yang begitu signifikan dalam teknik metalurgi
untuk ekstraksi emas sejak diperkenalkannya proses sianida (Leaching sianida atau sianidasi) oleh McArthur dan Forrester pada
tahun 1887 [2]. Diagram alir dasar untuk recovery emas dari bijih ditunjukkan pada Gambar 1.

Kategori utama proses recovery komersial adalah sebagai berikut:


1. Amalgamasi (dengan merkuri)
2. Gravity Concentration (menggunakan jog, meja, spiral, Reichert cone, moving belt separator, dll)
3. Flotasi (sebagai partikel bebas atau terkandung dalam logam dasar konsentrat sulfida)
4. Pirometalurgi (pada peleburan dan pemurnian bijih logam dasar dan konsentrat)
5. Hidrometalurgi (sianidasi langsung, sianidasi dengan adsorpsi karbon, heap-leaching dan klorinasi-leach)
6. Pengolahan bijih refractory
7. Lixiviants Alternatif

1. Amalgamasi
Ini adalah proses kuno yang melibatkan paduan dari partikel emas dengan logam merkuri untuk membentuk amalgam dan
kemudian pemisahan emas dari merkuri dengan pemanasan dalam retort sampai merkuri adalah distilasi. Metode ini digunakan
untuk treatment emas kasar (30 mikron dalam diameter atau lebih besar). Proses ini sangat tidak disukai oleh perusahaan
tambang besar, karena sifat sangat beracun dari merkuri dan proses kinerja yang rendah jika dibandingkan dengan alternatif
yang tersedia. Namun proses ini masih digunakan secara luas oleh tambang artesis di negara-negara dunia ketiga dan di
tambang-tambang kecil, karena kemudahannya dalam mengolah.

2. Konsentrasi gravitasi
proses konsentrasi gravitasi bergantung pada prinsip di mana emas yang terkandung dalam badan bijih memiliki berat jenis
lebih tinggi daripada batuan host yang mengandung emas [4]. elemen emas memiliki berat jenis 19,3, dan bijih khas memiliki
berat jenis sekitar 2,6. Semua perangkat konsentrasi gravitasi membuat gerakan antara emas dan batuan induk partikel dengan
cara di mana dapat memisahkan bagian berat dari bagian-bagian yang lebih ringan dari material. Panning mungkin merupakan
teknik tertua yang digunakan untuk recovery emas. Panning adalah jenis gravitasi konsentrasi yang digunakan oleh prospectors
untuk recovery emas dari dasar sungai. Paning mengumpulkan partikel emas yang berat di bagian bawah panci sedangkan
gangue yang ringan terbuang pada bagian atas.
3. Flotasi
Proses flotasi terdiri dari memproduksi konsentrat mineral melalui penggunaan agen pengondisi kimia, diikuti oleh agitasi intens
dan sparging udara pada slurry bijih yang diagitasi untuk menghasilkan konsentrat. Proses ini katanya ditemukan oleh seorang
penambang yang menyaksikan proses saat mencuci pakaian kerja kotor di mesin cuci rumah nya.
Bahan kimia tertentu ditambahkan untuk mengapungkan mineral tertentu atau untuk menekan mineral lainnya. Beberapa tahap
pengolahan umumnya dilakukan pada produk flotasi massal kasar di mana dikenakan langkah flotasi tambahan untuk
meningkatkan kemurnian produk.
Proses flotasi secara umum tidak mengapungkan partikel emas bebas tapi sangat efektif bila emas
Berasosiasi dengan mineral sulfida seperti pirit. Dalam bijih emas pyrytic umumnya, emas diselubungi dalam struktur kristal
sulfida besi. Bijih yang sangat mudah teroksidasi umumnya tidak bekerja dengan baik pada flotasi.
Keuntungan dari proses flotasi adalah emas terlibrasi pada ukuran partikel yang cukup kasar (28 mesh) sehingga biaya grinding
bijih diminimalkan. Reagen yang digunakan untuk flotasi umumnya tidak beracun, sehingga biaya pembuangan tailing rendah.
Flotasi akan sering digunakan saat emas direcovery bersamaan dengan logam lain seperti tembaga, timah, atau seng.
Leaching sianda sering digunakan bersamaan dengan flotasi. Sianidasi dari konsentrat hasil flotasi atau tailing hasil flotasi
dilakukan tergantung pada spesifikasi mineral dan ekonomi flowsheet.

4. Proses sianidasi
Ini adalah proses yang paling umum digunakan untuk ekstraksi emas. Proses ini melibatkan pelarutan emas ( dan semua perak
dalam bentuk yang dapat larut) dari bijih yang telah di grinding dalam larutan encer sianida (biasanya NaCN atau KCN) dengan
tambahan kapur dan oksigen menurut reaksi [2,5]:

Dengan konsentrasi sianida optimum (sekitar 0,05% NaCN), partikel emas bersih larut pada tingkat 3,25 mg per sq cm per jam
sedangkan untuk perak sekitar satu-setengah dari emas. Oleh karena itu, partikel emas kasar (lebih besar dari 100 mesh)
biasanya dipisahkan oleh metode konsentrasi gravitasi sebelum sianidasi. Secara umum, proses sianidasi terdiri dari perkolasi
atau agitasi leaching bijih emas dan perak dengan larutan encer sianida, umumnya kurang dari 0,3 persen natrium sianida.
Dalam praktiknya di pabrik, penambahan kapur untuk pulp sianida bersifat universal untuk mencegah hidrolisis dan untuk
menetralisir asam utama apapun di dalam bijih. keuntungan tambahan dari penambahan kapur termasuk dekomposisi
bikarbonat dalam air pabrik, peningkatan laju pengendapan pada thickener dekantasi counter current dan peningkatan laju
ekstraksi untuk jenis bijih tertentu seperti tellurides dan perak ruby.

Heap Leaching
Heap leaching diperkenalkan pada tahun 1970-an sebagai sarana untuk secara drastis mengurangi biaya recovery emas. Proses
ini telah benar-benar membuat banyak tambang mengambil sumber daya geologi low grade dan mentransformasikannya
menjadi kategori bijih ekonomis . kadar bijih serendah 0,01 oz Au per ton telah ekonomi diproses dengan heap leaching [4].
Heap leaching meliputi tahap-tahap menempatkan bijih tambang ROM dari di tumpukan dibangun di atas sebuah kapal tahan.
larutan sianida didistribusikan di bagian atas tumpukan dan larutan merembes ke bawah melalui tumpukan dan melarutkan
emas. Pregnant solution yang berisi emas mengalir keluar dari bawah tumpukan dan dikumpulkan untuk pemulihan emas
dengan baik adsorpsi karbon atau pengendapan seng. Barren solution kemudian didaur ulang ke dalam tumpukan.
Heap leaching umumnya membutuhkan 60 sampai 90 hari untuk pengolahan bijih yang bisa dileaching dalam 24 jam di proses
leaching agitasi konvensonal. recovery emas biasanya 60-80% dibandingkan dengan 85-95% dalam proses leaching agitasi
konvensional. Bahkan dengan kinerja rendah ini, proses telah menemukan bantuan yang luas, karena sangat mengurangi biaya
pengolahan dibandingkan dengan agitasi leaching.

Kelebihan proses heap leaching

1. Kominusi : pada heap leaching biasanya dilakukan pada batuan -3/4 inch, agitasi leaching membutuhkan
reduksi hingga -200 mesh. Penambahan tahap ini biasanya dilakukan menggunakan mill gerinda yang besar yang
mengkonsumsi satu horsepower per ton per hari.
2. Langkah pemisahan padatan dan larutan tidak dibutuhkan pada heap leaching
3. Biaya pembuangan tailing jauh lebih tinggi pada plant agitasi leaching. bendungan penahanan cairan yang
besar dan mahal diperlukan. Sebagai perbandingan, bantalan heap leaching umumnya dapat ditinggalkan di tempat
setelah reklamasi.

Pelatihan Ekstraksi Emas Sulfida Tinggi Menggunakan Aluminium

Aluminium bisa digunakan sebagai bahan kimia dalam proses pengolahan batuan emas
bersulfida tinggi. Aluminium bereaksi dengan sulfur dan logam-logam yang lebih mulia
darinya, di mana reaksi kimia yang terjadi akan menghasilkan panas yang cukup tinggi
untuk melelehkan logam-logam dengan titik cair dibawah 1200 0C. Aluminium bereaksi
dengan belerang membentuk senyawa Al 2S3, yang ketika terpapar udara akan bereaksi
membentuk senyawa Al2O3 dan gas SO2. Kemampuan aluminium yang sangat baik dalam
proses desulfurisasi mineral sulfide bisa dimanfaatkan untuk pengolahan emas bersulfida
tinggi.

Bestekin.com telah berhasil mengembangkan teknik pengolahan batuan atau konsentrat


mineral emas bersulfida tinggi, yang menggunakan aluminium sebagai reduktor, penghasil
panas, dan agen dalam proses desulfurisasi. Hasil uji proses pengolahan batuan emas
sulfida tinggi yang menggunakan aluminium sebagai reduktor dalam suhu tinggi, mampu
menghasilkan produk dalam waktu yang tersingkat dibanding proses-proses lain yang telah
ada saat ini. Proses ekstraksi emas menggunakan aluminium juga memiliki biaya yang
termurah, aman, dan sangat ramah terhadap lingkungan.

Pengolahan emas sulfide tinggi yang menggunakan aluminium sebagai bahan kimia, tak
memerlukan panas yang ditimbulkan oleh pembakaran, dan juga tidak menggunakan panas
yang berasal dari energy listrik. Panas yang dibutuhkan agar terjadi proses desulfurisasi,
metalisasi, dan pelelehan logam, sudah cukup terpenuhi dari panas yang timbul akibat
peristiwa oksidasi logam aluminium dan belerang di dalam tungku.

Pelatihan pengolahan batuan / konsentrat emas sulfide tinggi menggunakan aluminium


disusun lengkap, dari mulai awal berupa batuan, hingga proses akhir yang mnerupakan
proses pemurnian emas dan perak.

Materi pelatihan :
1. Penentuan atau pengujian kadar atau kandungan logam emas, perak, dan mineral
ikutan di dalam sampel batuan emas (raw material).

2. Proses penghalusan batuan (option) emas sulfida berkadar rendah dan sedang.

3. Proses peleburan menggunakan aluminium sebagai reduktor dan bahan bakar.

4. Penyulingan gas SO2 dan pengkonversian menjadi larutan H 2SO4 atau gypsum
(CaSO4).

5. Pemisahan hasil logam dari kotoran (slag / terak)

6. Metode pemurnian logam emas dan perak, yang disesuaikan dengan jenis logam-
logam pengikut.

7. Pembuatan Peralatan Pengolahan.

8. Analisa Biaya Produksi

PENGOLAHAN BIJIH EMAS


12:06 AM 1 comment

PENDAHULUAN
DEFENISI PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
Pengolahan bahan galian (mineral beneficiation/mineral processing/mineral dressing) adalah suatu proses
pengolahan dengan memanfaatkan perbedaan-perbedaan sifat fisik bahan galian untuk memperoleh produkta bahan
galian yang bersangkutan. Khusus untuk batu bara, proses pengolahan itu disebut pencucian batu bara (coal
washing) atau preparasi batu bara (coal preparation).
Yang dimaksud dengan bahan galian adalah bijih (ore), mineral industri (industrial minerals) atau bahan galian
Golongan C dan batu bara (coal). Pada saat ini umumnya endapan bahan galian yang ditemukan di alam sudah
jarang yang mempunyai mutu atau kadar mineral berharga yang tinggi dan siap untuk dilebur atau dimanfaatkan.
Oleh sebab itu bahan galian tersebut perlu menjalani pengolahan bahan galian (PBG) agar mutu atau kadarnya
dapat ditingkatkan sampai memenuhi kriteria pemasaran atau peleburan.
Tujuan Pengolahan Bahan Galian
Keuntungan yang bisa diperoleh dari proses PBG tersebut antara lain adalah :
1. Mengurangi ongkos angkut.
2. Mengurangi jumlah flux yang ditambahkan dalam peleburan, serta mengurangi metal yang hilang bersama slag.
3. Mereduksi ongkos keseluruhan dalam peleburan, karena jumlah tonase yang dileburkan lebih sedikit.
4. Bila dilakukan pengolahan akan menghasilkan konsentrat yang mempunyai kadar mineral berharga relative tinggi,
sehingga lebih memudahkan umtuk diambil metalnya.
5. Bila konsentratnya mengandung lebih dari satu mineral berharga, maka ada kemungkinan dapat diambil yang lain
sebagai by produck.
Ruang Lingkup
Makalah ini akan membahas tentang logam emas sebagai bahan galian yang tak terbarukan, serta menekankan
pada pengolahan bahan galian emas.
(http://1902miner.wordpress.com/2011/09/30/pengolahan-bahan-galian-mineral-processing/ (Diakses 23 Oktober
2011)
DEFENISI DAN MINERALOGI EMAS
Faktor-faktor yang mempengaruhi perolehan emas
Pengetahuan tentang mineralogy emas sangat diperlukan dalam memahami teknologi pengolahan emas.
Keberhasilan atau kegagalan penerpan suatu teknologi pengolahan dapat dimengerti atau dijelaskan oleh kondisi
mineralogy batuan (bijih) emas yang sedang dikerjakan. Mineralogy dari batuan (bijih) emas yang dimiliki harus
diketahui sebelum menentukan teknologi pengolahan yang akan diterapkan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi perlehan emas dalam pengolahan emas adalah:
1. Mineral-mineral pembawa emas
2. Ukuran butiran mineral emas
3. Mineral-mineral induk
4. Asosiasi mineral pembawa emas dengan mineral induk
Mineral-mineral pembawa emas
Emas urai merupakan mineral emas yang amat biasa editemukan di alam. Mineral emas yang menempati urutan
kedua dalam keberadaannya di alam adalah electrum. Minerl-mineral pembawa emas lainnya sangat jarang dan
langka. Mineral-mineral pembawa emas antara lain: Emas urai (Au), Elektrum (Au,Ag), kuproaurid Au,Cu), porpesit
(Au, Pd), rodit (Au, Rh), emas iridium (Au, Ir), platinum (Au, Pd), emas bismutan Au, Bi), amlgam (Au2Hg3), maldonit
(Au2Bi), aurikuprit (AuCu3), roskovit (Cu, Pd)3Au2, kalaveit (AuTe2) krenerit (Au, Ag)Te2, monbrayit (Au, Sb)2Te3,
petsit (Ag3AuTe2) mutamanit (Ag, Au)Te, silvanit (Au, Ag)Te4, kostovit (AuCuTe4), nagyagit (Pb5Au(Te,Sb)4S5-8),
uyterbogardtit (Ag3AuSb2), aurostibnit (AuSb2), fisceserit (Ag3AuSe3)
Emas urai pada dasarnya adalah logam emas walaupun biasanya mengandung perak yang bervariasi sampai
sebesar 18% dan kadang-kadang mengandung sedikit tembaga atau besi. Oleh karena itu warna emas urai
bervariasi dari kuning emas, kuning muda sampai keperak-perakan sampai berwarna merah orange. Berat jenis
emas urai bervariasi dari 19,3 (emas murni) sampai 15,6 bergantung pada kandungan peraknya. Bila berat jenisnya
17,6 maka kandungan peraknya sebesr 9% dan bila beat jenisnya 16,9 kandungan peraknya 13,2%.
Sementara itu, elektrum adalah variasi emas yang mengandung perak diatas 18%. Dengan kandungan perak yang
lebih tinggi lagi maka warna elektrum bevariasi dari kuning pucat sampai warna perak kekuningan. Selanjutnya berat
jenis elektrum bervariasi sekitar 15,5-12,5. Bila kandungan emas dan perak berbanding 1:1 berarti kandungan
peraknya sebesar 36%, dan bila perbandingannya 21/2:1 berarti kandungan peraknya 18%.
Mineral induk
Emas berasosiasi dengan kebanyakan mineral yang biasa membentuk batuan. Bila ada sulfida, yaitu mineral yang
mengandung sulfur/belerang (S), emas biasanya berasosiasi denagn sulfida. Pirit merupakan mineral induk yang
paling biasa untuk em,as. Emas ditemukan dalam pirit sebagai emas urai dan elektrum dalam berbagai bentuk dan
ukuran yang bergantung pada kadar emas dalam bijih dan karakteristik lainnya. Selain itu emas juga ditemukan
dalam arsenopirit dan kalkopirit. Mineral sulfida berpotensi juga menjadi mineral induk bagi emas.
Bila mineral sulfida tidak terdapat dalm batuan, maka emas berasosiasi dengan oksida besi (magnetit dan oksida
besi sekunder), silikat dan karbonat, material berkarbon serta pasir dan krikil (endapan plaser).
Ukuran butiran mineral emas
Ukuran butiran mineral-mineral pembawa emas (misalnya emas urai atau elektrum) berkisar dari butiran yang dapat
dilihat tanpa lensa (bebnerapa nm) sampai partikel-partikel berukuran fraksi (bagian) dari satu mikron (1 mikron=
0,001 mm= 0,0000001 cm). ukuran butiran biasanya sebanding dengan kadar bijih, kadar emas yang rendah dalam
batuan (bijih) menunjukkan butran yang halus.
Berikut mineral induk Emas berupa sulfida
pirit (FeS2), arsenopirit (FeAsS), kalkopirit (CuFeS2), kalkosit (Cu2S), kovelit (CuS), pirhoit (FeS2), Glen (PbS),
Sfalerit (ZnS), armonit (Sb2S3)
Asosiasi mineral
Dari sudut pandang pengolahan/metalurgi ada tiga variasi distribusi emas dalam bijih. Pertama, emas
didiostribusikan dalam retakan-retakan atau diberi batas antara butiran-butiran mineral yang sama (misalnya
retyakan dalam butiran mineral pirit atau dibatasi antara dua butiran mineral (pirit). Kedua, emas didistribusikan
sepanjang batas diantara butiran-butiran dua mineral yang berbeda ( misalnya dibatas butiran pirit dan arsenopirit
atau dibatas antara butiran mineral kalkopirit dan butiran mineral silikat). Dan yang ketiga emas terselubung dalam
mineral induk (misal, emas terbungkus ketat dalam mineral pirit).
Sifat Fisik Emas (Au)
Emas merupakan logam yang bersifat lunak dan mudah ditempa, kekerasannya berkisar antara 2,5 3 (skala Mohs),
serta berat jenisnya tergantung pada jenis dan kandungan logam lain yang berpadu dengannya. Mineral pembawa
emas biasanya berasosiasi dengan mineral ikutan (gangue minerals). Mineral ikutan tersebut umumnya kuarsa,
karbonat, turmalin, flourpar, dan sejumlah kecil mineral non logam. Mineral pembawa emas juga berasosiasi dengan
endapan sulfida yang telah teroksidasi. Mineral pembawa emas terdiri dari emas nativ, elektrum, emas telurida,
sejumlah paduan dan senyawa emas dengan unsur-unsur belerang, antimon, dan selenium. Elektrum sebenarnya
jenis lain dari emas nativ, hanya kandungan perak di dalamnya >20%.
Emas terbentuk dari proses magmatisme atau pengkonsentrasian di permukaan. Beberapa endapan terbentuk
karena proses metasomatisme kontak dan larutan hidrotermal, sedangkan pengkonsentrasian secara mekanis
menghasilkan endapan letakan (placer). Genesa emas dikatagorikan menjadi dua yaitu endapan primer dan
endapan plaser
Emas banyak digunakan sebagai barang perhiasan, cadangan devisa, dll.
Potensi endapan emas terdapat di hampir setiap daerah di Indonesia, seperti di Pulau Sumatera, Kepulauan Riau,
Pulau Kalimantan, Pulau Jawa, Pulau Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua.
http://ovan-indra.blogspot.com/2009/10/emas.html (diakses 23 Oktober 2011 )
PENGOLAHAN BIJIH EMAS
Pengolahan Bijih Emas Diawali Dengan Proses kominusi kemudian dilanjutkan dengan proses yang di sebut
Metalurgy.
KOMINUSI
Kominusi adalah proses reduksi ukuran dari ore agar mineral berharga yang mengandung emas dengan tujuan untuk
membebaskan ( meliberasi ) mineral emas dari mineral-mineral lain yang terkandung dalam batuan induk.
Tujuan liberasi bijih ini antara lain agar :
Mengurangi kehilangan emas yang masih terperangkap dalam batuan induk
Kegiatan konsentrasi dilakukan tanpa kehilangan emas berlebihan
Meningkatkan kemampuan ekstraksi emas
Proses kominusi ini terutama diperlukan pada pengolahan bijih emas primer, sedangkan pada bijih emas sekunder
bijih emas merupakan emas yang terbebaskan dari batuan induk yang kemudian terendapkan. Derajat liberasi yang
diperlukan dari masing-masing bijih untuk mendapatkan perolehan emas yang tinggi pada proses ekstraksinya
berbeda-beda bergantung pada ukuran mineral emas dan kondisi keterikatannya pada batuan induk.
Proses kominusi ini dilakukan bertahap bergantung pada ukuran bijih yang akan diolah, dengan menggunakan :
Refractory ore processing, bijih dipanaskan pada suhu 100 110 0C, biasanya sekitar 10 jam sesuai
dengan moisture. Proses ini sekaligus mereduksi sulfur pada batuan oksidis.

Crushing merupakan suatu proses peremukan ore ( bijih ) dari hasil penambangan melalui perlakuan
mekanis, dari ukuran batuan tambang <40 cm menjadi 1%)

Milling merupakan proses penggerusan lanjutan dari crushing,hingga mencapai ukuran slurry dari hasil
milling yang diharapkan yaitu minimal 80% adalah -200#, misalnya dengan menggunakan Hammer Mill, Ball Mill,
Rod Mill, Disc Mill , dll.

Seteleah mengalami proses kominusi selanjutnya dihasilkan konsentrat yang selanjutnya di olah di dalam proses
yang di sebut Metalurgy, dalam proses metallurgy ada banyak metode yang di gunakan namun dalam pengolahan
emas kali ini menitik beratkan pada metode Sianida dan amalgamasi
Proses pemisahan Emas dari konsentrat
Cara memisahkan konsentrat yang di dalamnya ada kandungan Emas, Konsentrat ini wujudnya seperti pasir.
Proses ini memakai 3 jenis furnace.
(1) Smelting Furnace,
(2) Slag cleaning Furnace,
(3) Converting Furnace, lalu masuk ke pembentuk anoda Cu (diesbut anoda furnace) lalu dicetak bentuknya
batangan anoda Cu.
Proses pertama :
(1) Smelting Furnace, konsetrat yang dihasilkan di freeport akan dilebur, disini sudah ditambahkan flux SiO2 dan
dihembus udara (biasanya udara bebas dengan kompresor diatur oksigennya 60%). Tujuannya untuk mengoksidasi
unsur pengotor utama berupa Fe (oksidasi jadi FeO, Fe3O4) dan mulai kurangi sulfur dalam konsentrat (jadi SO2),
lalu masuk furnace no (2)
(2) Slag Cleaning, sesuai namanya disini leburan Cu (masih dibilang Matte) kerena Sulfur masih banyak akan
dipisahkan dengan terak/slag yang terbentuk dari proses (1). disini pakai Electric arc furnace, jadi matte yang lebih
berat akan dibawah lalu terak/slag akan mengapung diatas sambil terus dipanaskan, disini metal/slag sudah terpisah.
Lanjut ke proses (3) untuk menghilangkan Sulfur.
(3) Converting Furnace, proses ini matte diblowing udara + pakai flux batukapur (CaCO3), tujuan utamanya untuk
mengoksidasi Sulfur, memakai kapur untuk menjaga komposisi slag (biar tidak kental, Fe3O4 solid tidak bisa
diblowing).
Setelah converting Furnace, Sulfur sudah low (0.8%) disebut gold blister (bukan lagi matte). lalu dilanjut ke Furnace
untuk cetak anoda Cu blister (sebab perlu elektrowining untuk tahap selanjutnya), dibeberapa proses ada tambahan
proses pemurnian untuk dioksidasikan S sampai light. Setelah dicetak jadi anoda, Cu anoda akan benar-benar
dimurnikan (pengotor S, Au, Ag, Pt, Co, Ni) masih ada dan harus dielektrowining. Katodanya biasanya steel. Pakai
larutan CuSulfat + Asam Sulfat + air, jangan lupa arus harus searah, disini metal akan dipisahkan dengan perbedaan
sifat kemurniannya (berdasarkan nilai E nol-nya) makanya perlu memakai voltase DC yang tepat, biasanya Cu di
(+)0.34V. Nah disini Cu di anode akan larut dilarutan lalu akan menempel di katoda (puritynya bisa mencapai 99%);
nah disini baru dibagi antara Cu dan logam yang lebih mulia (Platina, Au, Ag). karena lebih mulia mereka tidak ikut
larut, tetapi biasanya membentuk endapan (disebut slime), slime biasanya tidak ikut menempel di katoda (karena
tidak larut). Selanjutnya slime ini yang harus diolah lagi. Slime harus dilebur lagi, lalu ++ flux lagi, borax biasanya
untuk ikat pengotor. Setelah cair digunakan metode Klorifikasi, dimana akan dipisahkan antara pengotor dengan
logam mulia AgCl, AuCl, dll.
Bagaimana memisahkannya ?, masuk lagi ke elektrowining cell dimana tegangannya diatur untuk memisahkan
logam mulia didalamnya, lalu dilebur lagi untuk mendapatkan purity
sampai Au 99.99 %.
Proses Pengolahan Emas dengan Sianida
Sianidasi Emas (juga dikenal sebagai proses sianida atau proses MacArthur-Forrest) adalah teknik metalurgi untuk
mengekstraksi emas dari bijih kadar rendah dengan mengubah emas ke kompleks koordinasi yang larut dalam air. Ini
adalah proses yang paling umum digunakan untuk ekstraksi emas. Produksi reagen untuk pengolahan mineral untuk
memulihkan emas, tembaga, seng dan perak mewakili sekitar 13% dari konsumsi sianida secara global, dengan 87%
sisa sianida yang digunakan dalam proses industri lainnya seperti plastik, perekat, dan pestisida. Karena sifat yang
sangat beracun dari sianida, proses ini kontroversial dan penggunaannya dilarang di sejumlah negara dan wilayah.
Pada tahun 1783 Carl Wilhelm Scheele menemukan bahwa emas dilarutkan dalam larutan mengandung air dari
sianida. Ia sebelumnya menemukan garam sianida. Melalui karya Bagration (1844), Elsner (1846), dan Faraday
(1847), dipastikan bahwa setiap atom emas membutuhkan dua sianida, yaitustoikiometri senyawa larut. Sianida
tidak diterapkan untuk ekstraksi bijih emas sampai 1887, ketika Proses MacArthur-Forrest dikembangkan di Glasgow,
Skotlandia oleh John Stewart MacArthur, didanai oleh saudara Dr Robert dan Dr William Forrest. Pada tahun 1896
Bodlnder dikonfirmasi oksigen yang diperlukan, sesuatu yang diragukan oleh MacArthur, dan menemukan bahwa
hidrogen peroksida dibentuk sebagai perantara.
Reaksi kimia untuk pelepasan emas, Persamaan Elsner, berikut:
4 Au + 8 NaCN + O2 + 2 H2O 4 Na [Au (CN) 2] + 4 NaOH
Dalam proses redoks, oksigen menghilangkan empat elektron dari emas bersamaan dengan transfer proton (H +)
dari air.
(http://d7070ch.blogspot.com/2011/02/proses-pengolahan-emas.html) (diakses 23 Oktober 2011 )

Berikut cara kerja pengolahan Emas dengan Sianida :


Cara Kerja
1. Bahan berupa batuan dihaluskan dengan menggunakan alat grinding sehingga menjadi tepung (mesh +
200).
2. Bahan di masukkan ke dalam tangki bahan, kemudian tambahkan H2O (2/3 dari bahan).

3. Tambahkan Tohor (Kapur) hingga pH mencapai 10,2 10,5 dan kemudian tambahkan Nitrate (PbNO3)
0,05 %.

4. Tambahkan Sianid 0.3 % sambil di aduk hingga (t = 48/72h) sambil di jaga pH


larutan (10 11) dengan (T = 85C).

5. Kemudian saring, lalu filtrat di tambahkan karbon (4/1 bagian) dan di aduk hingga (t= 48h), kemudian di
saring.

6. Karbon dikeringkan lalu di bakar, hingga menjadi Bullion atau gunakan. (metode 1)

7. Metode Merill Crow (dengan penambahan Zink Anode / Zink Dass), saring lalu
dimurnikan / dibakar hingga menjadi Bullion. (metode 2).

8. Karbon di hilangkan dari kandungan lain dengan Asam (3 / 5 %), selama (t =30/45m), kemudian di bilas
dengan H2O selama (t = 2j) pada (T = 80C 90C).

9. Lakukan proses Pretreatment dengan menggunakan larutan Sianid 3 % dan Soda


(NaOH) 3 % selama (t =15 20m) pada (T = 90C 100C).

10. Lakukan proses Recycle Elution dengan menggunakan larutan Sianid 3 % dan Soda
3 % selama (t = 2.5 j) pada (T = 110C 120C).

11. Lakukan proses Water Elution dengan menggunakan larutan H2O pada (T = 110C
120C) selama (t = 1.45j).

12. Lakukan proses Cooling.

13. Saring kemudian lakukan proses elektrowining dengan (V = 3) dan (A = 50) selama
(t = 3.5j). (metode 3)

Proses Pemurnian (Dari Bullion)


Dapat dilakukan dengan beberapa metode, yaitu:
1. Metode Cepat
Secara Hidrometallurgy yaitu dengan dilarutkan dalam larutan HNO3 kemudian tambahkan garam dapur untuk
mengendapkan perak sedangkan emasnya tidak larut dalam larutan HNO3 selanjutnya saring aja dan dibakar.
2. Metode Lambat
Secara Hidrometallurgy plus Electrometallurgy yaitu dengan menggunakan larutan H2SO4 dan masukkan plat
Tembaga dalam larutan kemudian masukkan Bullion ke dalam larutan tersebut, maka akan terjadi proses Hidrolisis
dimana Perak akan larut dan menempel pada plat Tembaga (menempel tidak begitu keras/mudah lepas) sedangkan
emasnya tidak larut (tertinggal di dasar), lalu tinggal bakar aja masing masing, jadi deh logam murni.
(http://knol.google.com/k) (diakses 24 oktober 2011)
Proses Perendaman
Ada pula proses pengolahan emas dengan perendaman, berikut caranya:
BAHAN
Ore/ bijih emas yang sudah dihaluskan dengan mesh + 200 = 30 ton
Formula Kimia
1. NaCn = 40 kg
2. H2O2 = 5 liter
3. Kostik Soda/ Soda Api = 5 kg
4. Ag NO3 =100 gram
5. Epox Cl = 1 liter
6. Lead Acetate = 0.25 liter (cair)/ 1 ons (serbuk)
7. Zinc dass/ zinc koil = 15 kg
8. H2O (air) = 20.000 liter
(http://knol.google.com/k) (diakses 24 oktober 2011)
Perendaman di Bak Kimia
1. NaCn dilarutkan dalam H2O (air) ukur pada PH 7
2. Tambahkan costik soda (+ 3 kg) untuk mendapatkan PH 11-12

3. Tambahkan H2O2, Ag NO3, Epox Cl diaduk hingga larut, dijaga pada PH 11-12

Percobaan di Bak Lumpur


1. Ore/ bijih emas yang sudah dihaluskan dengan mesh + 200 = 30 ton dimasukkan ke dalam bak.
2. Larutan kimia dari Bak I disedot dengan pompa dan ditumpahkan/ dimasukkan ke Bak II untuk
merendam lumpur ore selama 48 jam.

3. Setelah itu, air/ larutan diturunkan seluruhnya ke Bak I dan diamkan selama 24 jam, dijaga pada PH 11-
12. Apabila PH kurang untuk menaikkannya ditambah costic soda secukupnya.

4. Dipompa lagi ke Bak II, diamkan selama 2 jam lalu disirkulasi ke Bak I dengan melalui Bak
Penyadapan/ Penangkapan yang diisi dengan Zinc dass/ zinc koil untuk mengikat/ menangkap logam Au dan Ag
(emas dan perak) dari larutan air kaya

5. Lakukan sirkulasi larutan/ air kaya sampai Zinc dass/ zinc koil hancur seperti pasir selama 5 10 hari

6. Zinc dass/ zinc koil yang sudah hancur kemudian diangkat dan dimasukkan ke dalam wadah untuk
diperas dengan kain famatex

7. Untuk membersihkan hasil filtrasi dari zinc dass atau kotoran lain gunakan 200 ml H2SO4 dan 3 liter air
panas

8. Setelah itu bakar filtrasi untuk mendapatkan bullion

(http://tambangemasindonesia.com/) (diakses 24 Oktober 2011 )


Teknologi Amalgamasi
Mekanisme Amalgamasi
Air aksa atau merkuri (Hg), pad temperature (suhu) kamar, adalah zat cair. Bila terjadi kontak antara merkuri (zat
cair) deengan logam (zat padat), maka ai raks membasahi dan menenbus logam untuk membentuk larutan padat
merkuri-logam yang disebut amalgam. Proses yang terjadi disebut amalgamasi. Logam-logam yang dapat
membentuk amalgam adalah emas, perak, tembaga, timah, cadmium, seng, alkali dan alkali tanah. Paduan merkuri
emas disebut amalgam emas, yang mempunyai rumus kimia dari kombinasi 2 atau bahkan 3 dari 4 rumus kimia
berikut ini yaitu AuHg2, Au2Hg, Au3Hg atau AuHg. Kelarutan emas dalam air raksa bertambah dengan naiknya
temperature. Paad temperature kamar kandungan emas dalam amlgam kira-kira 0,14% Au, sedangkan pada
temperatu 1000C sebesar 0,65% Au. Produk amalgasi bijih emas selanjutnya disebut amalgam, karena tidak hanya
mengandung emas melainkan juga logam lain terutama perak dan tembaga.
Ukuran Butiran
Butiran emas yang bebas, tidak terselubung mineral induk, menjadi pasyarat dalam amalgasi, sehingga pembasahan
emas dalam bijih emas bervariasi dari yang kasa (bijih emas yang kaya) sampai yang halus (bijih emas yang miskn).
Dengan demikian batuan atau bijih perlu dipecah atau digerus sampai diperoleh butiran emas yang bebas (tidak
terselubung oleh mineral induk). Namun, kenyataan menunjukkan bahwa butiran emas yang berukuran lebih besar
dari 0,074 mmyang dapat diolah dengan teknik amalgamasi.
Gangguan Amalgamasi
Keberhasilan amalgamasi ditentukan oleh dua kondisi, yaitu (1) kondisi mineralogy dari bijih yang diolah dan (2)
kondisi pulp (campuran material padat yang halus dan air). Kondisis yang buruk menyebabkan butiran emas tidak
dapat dibasahi oleh merkuri dam merkuri terpecah menjadi partikel-partikel halus, sehingga amlgamasi tidak dapat
berlangsung secar baik.
Butiran emas yang berasal dari bijih emas primer yang tidak teroksidasi biasanya bersih dan mengkilap. Kondisi ini
baik untuk amlgamsi. Namun, butiran emas yang berasal dari bijih yang teroksidasi biasanya kusam dan sering
dilapisi oleh oksida besi. Emas kusam mengurangi
kemampuan beramalgamasi dan emas yang dilapisi oksida besi cendrung tidak bias beramalgamasi. Untuk
menghindari terdapatnya emas kusam dan emas yang dilapisi oksida besi dapat dicegah secar mekanik (sambil
menggerus).
Mineral sulfide terutama sulfide arsen, antimony, bismuth dan besi berpeluang untuk menghasilkan in sulfide (sulfide
telarut) di dalam pulp. Ion sulfide dapat menghambat amalgamasi. Penambahan bahan kimia yang dapat
memberikan ion-ion timbaldan tembaga dapat menolong untuk mengurangi gangguan ini. Penambahan bahan alkali
yang kuat dapat mengurangi gangguan ini.
Apabila minyak pelumas masuk ke gelundung saat menggerus atau pada saat amalgamasi. Minyak dapat berperan
mengurangikemampuan amalgamasi. Keberadaannya dalam pulp harus duhindari dengan penambahan kapur yang
sedikit.
Penggerusan
Saat penggerusan, kondisi yang perlu diperhatikan adalah jumlah (volume) media penggerus, kecepatan putar barel
(gelundung), persentase padatan dalam pulp, dan lamanya penggerusan. Volume media penggerus dapat diatur
sehingga media penggers mengisi barel/gelundung sedikit diats setengah isi barel/gelundung. Keceptan putar yang
sedemikian rupa menyebabkan media penggerus tidak bergerak di bagian bawah gelundung saja tetappi juga pada
suatu posisi sewaktu berputar media penggerus diberikan kesempatan untuk jatuh.
Alat untuk penggerusn dikenal dengan nama ball mill dan rod mill. Alat ini seharusnya memakailiner, pelapisan barel
di bagaian dalam yang bergelombang. Permukaan bergelombang ydimaksudkan untuk membantu mengangkat
media penggerus sewaktu barel berputar dan untuk mencegah selip diantara media penggerus. Lineer biasanya
terbuat dari paduan baj, dan sewaktu- waktu dapat dilepas untuk diganti apabila telah aus. Media penggerus bias
berbentuk bola atu batangan. Diameter bola atu batnag penggerus berkisar antara 1-6 inci. Bergantung pada ukuran
barel atau gelundung, yang bervariasi antara 18 inci x 24 inci sampai sebesar 4 kakix 6 kaki (dikaitkan dengan
ukuran gelundung yang biasa digunakan dalam tahap amalgasi).
Pengikatan Emas oleh Merkuri
Pengikatan emas oleh merkuri atau amalgamasi dapat dilakukan dengan menggunakan 4 jenis cara atau alat yaitu
pelat, kantong, penggerusan dan pencampuran. Dari keemapt cara atau alat iniyang akan dibahas adalah hanya
amalagasi dengan tekananan dan penggerusan. Alasannya, selain telah dikenal masyarakat, cara ini berfaedah
untuk emas yang berkrat dan sulit dmalgamasi, atau amat halus, atau tidak terikat dengan mineral lain, atau dalam
bijih uyang menyebabkan merkuri tidak bekerja baik.
Masyarakat menggunakan bael atau gelundung baik untuk penggerusan maupun amlgamasi. Nmun kedua kegiatan
ini (penggerusan dan amlgamasi) sebaiknya dipisahkan. Dengan kata lain dua barel atau gelundung seharusnya
dimiliki, yang satu memakai liner (untuk penggerusan) dn satu lagi tanpa iner (untuk amlgamasi)
Ukuran yang telah disebutkan dalam pembahasan tentang penggerusan dan perbedaannya adalah bahwa paad
tahap amlgamasi (penambahan merkuri ke dalam pulp) media penggerus berjumlah 1 atau 2 batang yang
berdiameter 4 atau 5 inci, atau sengh lusin bola bediameter 4 atau 5 inci. Selanjutnya kecepatan putarannya rendah
dan lamanya amalgamasi berkisar antara 1 jam sampai beberapa jam. Pulp dan media penggerus mengisi barel atu
gelundung dengan kisaran dari sepertiga sampai setengah volume barel. Jika operasi penggerusan penting, operasi
amlgamasi memakai 60-80% padatan. Jika amlgamasi saja, operasi dengan 30-50% padatan. Jumlah merkuri yang
ditambahkan bergantung pada kadar emas dalam bijih dan jumlah merkuri ditambah apabila kadar emasnya tinggi.
Perolehan Emas
Perolehan emas denag teknologi amlgamasi relative rendah (artinya apabila dibandingkan dengan teknologi sianida).
Untuk memperbaiki teknologi amalgamasi (perolehan emas dan kehilangan merkuri) dari tambang rakyat dapat
dilakukan dengan penambahan baha kimia dan pengaturan teknik (berat umpan, persentase padatan, waktu giling,
dan waktu amalgamasi) perolehan emas dapat mencapai 55%. Air raksa yang hilang sangat kecil (> 1%)
Untuk menentukan perolehan emas perlu diketahui kandungan emas sebenarnya dalam batuan (bijih) di
laboratorium. Ada 2 metode yang digunakan yaitu metode gravimetric dan metode dengan alat modern yaitu AAS.
(http://www.scribd.com/doc/33920112/Bahan-galian-Emas) (Diakses 23 Oktober 2011 )
PENUTUP
Kesimpulan
Dalam menentukan kadar emas yang terdapat dalam berbagai mineral yang ada pada lapisan bumi dapat dilakukan
dengan berbagai teknologi yang berkompetensi dalam menghasilkan butiran emas yang dapat dijadikan bahan baku
untuk pembuatan asesoris, lapisan logam, filament dan sebagai katalis untuk berbagai reaksi kimia.
Ekstraksi butiran emas dapat dapat dilakukan dengan teknologi amalgamasi dan teknologi sianidasi yang masing-
masing memiliki kekurangan dan kelebihan. Kedua metode tersebut dapat diandalkan untuk menghasilkan emas
dalam kuantitas yang tinggi. sedangkan efek dari teknologi pengolahan bijih emas dengan kedua metode tersebut,
dapat menghasilkan limbah-limbah yang bersifat toksik yang dapat membahayakan lingkungan sekitarnya.