Anda di halaman 1dari 61

1

JABARAN Skenario
Seorang perempuan berusia 30 tahun datang ke klinik gigi untuk melanjutkan perawatan gigi
tiruan cekat. Pasien datang dengan menggunakan mahkota tiruan pasak sementara pada
gigi 11, mahkota tiruan sementara pada gigi 21, dan gigi tiruan jembatan sementara pada
gigi 44,45,46. Pada gigi 11 sudah dilakukan preparasi dan pemasangan pasak inti dan gigi
21,44,46 sudah dilakukan preparasi mahkota. Setelah pencetakan, minggu berikutnya pasien
akan datang untuk melanjutkan perawatan. Dokter gigi menjelaskan tahap yang akan
dilakukan selanjutnya, serta permasalahan apa yang mungkin timbul setelah pemasangan
gigi tiruan. Di bawah ini adalah foto klinis kondisi gigi 11 dan 21 setelah mahkota tiruan
dibuka :

2
Sasaran Belajar

1. Penatalaksanaan pembuatan coping logam


2. Evaluasi kegagalan pada tahap laboratorium
3. Evaluasi kegagalan pada tahap klinis
4. Penatalaksanaan pencobaan coping logam dan evaluasi secara klinis
5. Penatalaksanaan pembuatan facing porselen
6. Pencobaan dan evaluasi gigi tiruan cekat
7. Tahapan sementasi gigi tiruan cekat sementara dan tetap
8. Pemilihan material sementasi yang tepat
9. Permasalahan dan penanggulangan masalah yang terjadi setelah pemasangan gigi tiruan cekat
10. Teknik pembongkaran gigi tiruan jembatan

3
1. PENATALAKSANAN PEMBUATAN COPING LOGAM
Dibuat oleh Kevin Setijono

Setelah laboran menerima model kerja yang dikirim dokter gigi ke laboratorium, tahap selanjutnya
adalah casting. Casting adalah suatu proses untuk membuat/membentuk restorasi atau rehabilitasi
gigi dengan bahan logam.

Tahap-tahap dalam casting :

1. Pembuatan Die
Die adalah model cetakan dari gigi pilar (abutment) yang terbuat dan gips keras (stone) dan
berguna untuk pembuatan pola malam.

2. Waxing
Waxing adalah cara pembuatan pola malam (wax pattern). Wax
pattern berguna untuk membentuk ruang cetak (mould space) di dalam
bahan investment setelah malam dan pola malam dihilangkan (wax
elimination).

Cara pembuatan pola malam ada 3 cara :


- Cara direct
Cara langsung ini dibuat seluruhnya di dalam mulut pasien, sehingga tidak memerlukan die.

- Cara indirect
Cara tidak langsung ini pola malam dibuat seluruhnya pada die, sehingga pembuatannya
di luar mulut pasien.

- Cara direct-indirect
Pada cara ini mula-mula sebagian pola malam dibuat di mulut pasien untuk mendapatkan
oklusi yang baik, kemudian ditransfer ke die, dan dibuat pola malam sampai selesai,
sehingga cara ini dibutuhkan die.

4
Malam yang digunakan untuk pembuatan pola malam adalah
casting wax atau blue inlay wax yang berwarna biru atau hijau.

Jenis malam pola ada 2 tipe yaitu :


Tipe I (tipe B) soft wax, berguna untuk pembuatan pola malam
secara langsung.

Tipe II (tipe A) hard wax, berguna untuk pembuatan pola malam secara tidak langsung atau
cara langsung - tidak langsung

3. Spruing

Spruing adalah pembuatan sprue pin atau sprue tormer.

Kegunaan sprue pin untuk :


1) Pembentukan sprue di dalam invesmen.
Sprue adalah rongga/saluran yang terjadi setelah dilakukan
wax elimination terhadap pola malam, yang menghubuhgkan
crucible dengan mould space.
(sprue pin setelah dilelehkan jadi sprue namanya)
2) Pegangan pola malam pada waktu investing.

Pembuatan sprue pin dapat dibuat dan bahan :


- Logam
sprue pin logam dilapisi dengan malam.
Keuntungan : sprue pin yang terbuat dan logam apabila dilekatkan pada pola malam,
maka retensinya lebih erat dan kuat.

- Inlay casting wax seluruhnya


Sprue pin yang terbuat seluruhnya dan malam inlal (inlay casting wax) maka pada wax
elimination tidak perlu diambil karena sprue pin akan hilang bersama - sama dengan pola
malamnya.
Keuntungannya :
o Pada wax elimination, sprue pin akan menguap bersamasama dengan pola malamnya,
sehingga tidak meninggalkan malam sedikitpun dalam mould space.

5
o Perlekatannya dengan pola malam kuat dan tidak mudah lepas.
Kerugiannya : mudah patah, karena malam inlay apabila sudah keras bersitat getas.

Pemasangan sprue pin

Posisinya pada pola malam dapat tegak (90 o) atau miring


(45o) terhadap permukaan pola malam.
- Penempatan sprue pin pada pola malam dengan posisi
tegak lurus apabila daerah yang ditempati cukup
ketebalannya.
- Penempatan sprue pin pada pola malam dengan posisi
miring apabila daerah yang ditempati sprue pin pada pola malam tidak cukup
ketebalannya atau tipis.
- Hal ini ada hubungannya dengan gerakan turbulensi yang diakibatkan adanya back
presser / tekanan balik.

Tahap selanjutnya, sprue yang sudah menyatu dengan pola


malam ditempel pada crucible former/sprue base. Crucible former
ini nanti yang akan membentuk crucible yaitu bangunan seperti
corong / kawah dari adonan invesmen, yang terdapat di salah
satu ujung casting ring berguna untuk tempat melelehkan logam.

4. Investing

Investing adalah cara untuk menanam pola malam dalam bahan


investment.
Yang perlu diperhatikan pada investing :
- Letak pola malam di dalam casting ring
Pola malam letaknya harus ditengah tengah agar jarak antar
pola malam dan dinding dinding casting ring sama/seimbang.
- Jarak pola malam dan dasar casting ring terletak antara (6 - 8 mm)
- w/p ratio harus tepat.

6
Macam-Macam Jenis Bahan Invesment

Berdasarkan bahan pengikatnya, maka ada 3 jenis invesmen yaitu :


1. Gypsum-bonded invesment materials
- mengandung bahan pengikat gips.
- digunakan pada proses casting untuk pengecoran logam yang titik cairnya kurang dan
1000 o C.
- bahan pengencernya adalah air.

2. Phospate/sulfate-bonded invesment materials


- bahan invesmen yang mengandung bahan pengikat asam phosphat atau sulfat.
- digunakan pada proses casting untuk pengecoran logam yang titik cairnya lebih besar
dari 1000 o C.
- bahan pengencernya adalah liquid, yang merupakan satu paket dengan powder
invesmennya.

3. Silicate-bonded invesment materials


- bahan invesmen yang mengandung bahan pengikat silica.
- digunakan pada proses casting untuk pengecoran logam yang titik cairnya lebih besar
dari 1000 o C.

5. Pre heating, wax elimination, heating

Preheating
Preheating adalah pemanasan permulaan pada casting ring agar adonan bahan tanam lebih
kering. Sebelum wax elimination, dilakukan dahulu preheating pada temperatur kamar sampai
150 o C dalam waktu 15 menit di dalam alat pemanas yang disebut furnace, yang dapat diatur
temperatur dan waktunya. Preheating dilakukan dengan tujuan agar adonan invesmen betul-
betul kering.

7
Wax Elimination
Penghilangan malam dari pola malam yang tertanam dalam adonan bahan
invesmen (yang ada di dalam casting ring). Wax elimination dilakukan dari suhu
150 o C dinaikkan sampai 350 o C dengan perlahanlahan dalam waktu 30 menit.
Pada temperatur 350 o C diperkirakan seluruh malam yang ada di dalam adonan
invesmen sudah hilang tak bersisa.
Setelah wax elimination yang menghasilkan mould space di dalam invesmen.

Heating
Kemudian dilakukan heating yaitu temperatur dinaikkan dan 350C sampai 700C dalam
waktu 30 menit. Heating ini bertujuan agar terjadi baik pemuaian invesmen maupun pemuaian
mould space dapat maksimal. Pemanasan hanya sampai 700C, karena stabilitas bahan
invesmen jenis gypsum-bonded invesment materials diperkirakan dalam keadaan stabil.
Selanjutnya pada temperatur 700oC didiamkan selama 30 menit.

6. Melting dan casting

Setelah tahap sebelumnya, casting ring dengan cepat


dipindah ke alat casting machine dan selanjutnya dilakukan
melting.

7. Pickling

Pickling adalah suatu cara penghilangan / pembersihan oksidasi yang terjadi pada permukaan
logam cor yang mengandung logam mulia dengan larutan pickling.
Larutan pickling ada 2 jenis :
- larutan asam hidro chlorida (HCl) 50%
- larutan asam sulfat (H2SO4)

8
Cara pickling :
Hasil casting logam alloy yang mengandung dasar logam mulia warnanya hitam diikat dengan
benang dan dipanasi dahulu. Sebelumnya sudah dipersiapkan dahulu salah satu larutan pickling
yang sudah diencerkan. Sesudah panas, hasil cor dimasukkan ke dalam larutan pickling sebentar
sarnpai warna hilang dan warna semula muncul. Oleh
karena larutan pickling ini sangat toksis, maka untuk
menetralisir, hasil cor dimasukkan ke dalam larutan sodium
bicarbonat.

8. Finishing dan polishing


Finishing : menghilangkan/membuang kelebihan-kelebihan pada permukaan hasil casting dan
logam yang tidak berguna. Setelah dilakukan finishing maka bentuk coping logam menjadi lebih
baik tetapi masih kasar.

Polishing : hasil coping logam menjadi rata, halus dan mengkilap.

9
2. EVALUASI KEGAGALAN PADA TAHAP LABORATORIUM

Dibuat oleh Ligar Galarliyasa

Tahap pembuatan die


Sumber : Shilinburg pg. 306-308

- Kesalahan pada saat melakukan trim : kesalahan yang dapat terjadi berupa pecahnya die
yang bisa disebabkan saat pengetriman cast tidak melakukan tahanan/dipegang pada
bagian basis nya melainkan dipegang pada bagian gigi sehingga die dapat mudah lepas dan
mengurangi keakuratan die.
- Pegangan die harus lebih besar diameternya
dibandingkan dengan gigi yang dipreparasi dan
paralel dengan long axis gigi. Jika tidak, akan
mempersulit adaptasi margin pada saat wax pattern.
Panjang pegangan yang disarankan sekitar 1inch (2.5
cm), jika lebih pendek akan sulit untuk di pegang.

10
- Kontur die harus sama dengan keadaan gigi
- Garis akhir saat preparasi die ditandai dengan pensil merah
untuk mempermudah membuat margin saat wax pattern. Tidak
disarankan menggunakan pensil hitam karena saat
pembuatan wax warna hitam tidak akan terlihat.

Pembuatan die spacer terlalu tebal


Kegunaan die spacer :
- Menambah ketebalan die, meningkatkan jarak semen antara dinding aksial dari gigi yang
dipreparasi dan restorasi.
- Melindungi die dari abrasi karena instrumen saat pembuatan wax.

11
- Untuk mempertahankan bagian marginal maka die spacer diberikan hanya sampai 1 mm diatas
margin gigi.
- Pemberian die spacer yang digunakan sifatnya harus low viscocity dan hanya diaplikasikan
secara ringan/tipis.

Pembuatan pola malam


Sumber : Shilinburg pg. 329
- Untuk mencegah wax menempel pada die dan mempermudah pelepasan wax, lapisi die
dengan pelumas (vaselin).
- Jika pembuatan wax tidak pada single die : untuk memastikan hasil akhir wax memiliki kontak
proksimal yang baik dengan gigi sebelahnya, pola wax dilebihkan
sedikit untuk bagian mesiodistal. Hal ini untuk memberikan area
kontak yang cukup ketika casting, finishing dan polishing sehingga
tidak menyebabkan kontak terbuka
- Jika pada single die : lapisi die dengan pelumas. Dan celupkan die
kedalam wax. Hilangkan wax 1mm dari marginal dan bentuk sesuai
kontur.

12
- Kontur aksial :
o Permukaan aksial pada bagian servikal ke kontak proksimal harus rata atau sedikit cekung
agar tidak terjadi gangguan pada papila interdental. Kontur yang rata memudahkan
dalam penggunaan floss.
o Overcontouring (gambar C) yang cekung dari permukaan proksimal apikal ke titik kontak
dapat menyebabkan inflamasi gingiva

a. Baik
b. Terlalu besar
c. Terlalu kecil

- Periksa margin dengan hati-hati untuk mencegah ketidakcocokan berikut :


o Overwaxed margins : daerah dimana lapisan wax melebihi garis merah yang sudah dibuat,
hal ini dapat menyebabkan wax patah ketika dilepaskan dari die .
o Short margins : daerah dimana lapisan wax kurang dari batas merah yang sudah dibuat,
hal ini dapat menyebabkan kurang kuatnya tahanan untuk coping.
o Ripples any roughness in the wax : kekasaran pada lilin di daerah dekat margin yang tidak
dihilangkan akan ikut terduplikasi saat casting bagian kasar ini dapat menjadi tempat
berkumpulnya plak dan menyebabkan iritasi jaringan gingiva.
o Thick margins : margin yang tebal dan membulat akan menghasilkan ketahanan yang buruk
dari restorasi dan kontur aksial yang akan menyebabkan masalah pada periodontal
o Open margins.

13
- Jika menggunakan teknik indirect, cek margin dari arah gingiva. Hasil akhir permukaan wax
harus halus.
.

Proses pengecoran

3. EVALUASI KEGAGALAN PADA TAHAP KLINIS

Dibuat oleh Ligar Galarliyasa

Preparasi
- Hasil preparasi tidak boleh ada undercut diantara
dinding aksial. Jika masih ada undercut maka
lakukan preparasi ulang.
- Kesalahan umum yang sering terjadi pada
preparasi mahkota tiruan penuh adalah
overtapering dari dinding aksial ke arah yang
berlawanan. Hal ini secara signifikan akan
menurunkan retensi dari restorasi penuh yang akan
dibuat. Solusinya, dapat diberikan tambahan
grooves, boxes, atau pinholes untuk meningkatkan
retensi dan resistensi.

14
Pencetakan
Sumber : Shilinburg pg. 309
- Setelah dicetak, cetakan dibersihkan dengan air dingin untuk menghilangkan saliva yang
menempel lalu diberikan cairan disinfektan. Poin-poin penting dalam Mengevaluasi Hasil
Pencetakan
- Setelah dilakukan disinfeksi, hasil cetak harus diperiksa seluruhnya sebelum pengecoran
dilakukan. Hal-hal yang harus diperhatikan adalah :
o Apakah material sudah teraduk dengan rata, karena jika hasil cetak memiliki material base
atau katalis yang terlihat, harus dilakukan pengulangan
o Apakah ada area dimana tray tipis, biasanya disebabkan karena rotasi dan penempatan
tray yang tidak akurat. Hasilnya adalah tray berkontak dengan beberapa gigi dan
ketebalan yang tidak rata pada material cetak. Apabila bagian yang tipis tidak dekat
gigi yang dipreparasi, tidak perlu dilakukan pengulangan cetakan.
o Apakah ada void, lipatan, atau kerutan. Namun, hasil cetak masih dapat diterima apabila
defek kecil dan pada daerah yang tidak kritikal (contoh : jauh dari margin gigi yang
dipreparasi)
o Apakah ekstensi dari material cetak yang melebihi margin gigi yang dipreparasi rata,
karena hal ini penting apabila akan dibuat restorasi dengan margin yang pas dan kontur
yang tepat.
o Apakah material cetak terpisah dari sendok cetak. Hal ini umum terjadi karena adanya
distorsi dan hasil dari aplikasi yang tidak tepat atau pengeringan yang inadekuat dari
bahan adesif.

Pengecoran model kerja


Sumber : Shilinburg pg. 309

Bahan yang digunakan harus cukup keras untuk menahan abrasi saat pembuatan wax pattern, oleh
karena itu disarankan menggunakan dental stone tipe IV yaitu high-strength low expansion. Hasil
cetakan yang diharapkan adalah tidak ada porus dan anatomis dari cetakan negatif tercetak
dengan baik.

15
4. PENATALAKSANAAN PENCOBAAN COPING LOGAM DAN EVALUASI
SECARA KLINIS

Dibuat oleh Listyowati


Referensi:
1. Rosentiel, Land, Fujimoto. Contemporary of Fixed Prosthodontics. 4th ed. Elsevier. 2006:p.
887-905
2. Shillingburg HTJ, Hobo S, Whitesett LD, Jacobi R, Brackett SE. fundamental of Fixed
Prosthodontics. 4rd ed. Chicago: Quintessence Publishing Co. Inc 1997:p. 1087-1100
3. https://iits.dentistry.utoronto.ca/node/678
4. Department Of Restorative Sciences Dental College Of Georgia At Augusta University.
Guidelines For Clinical Instruction In Fixed Prosthodontics

Terdapat dua macam pencobaan coping logam, yaitu:

1. Extra-oral assessment
Coping logam yang telah dikirim dari dental laboratorium, pertama kali akan dicek pada
working die atau pada model kerja. Ketika dicobakan pada die periksa ketepatan seluruh
bentuk anatomisnya dalam hubungannya dengan gigi tetangga dan lengkung rahang, kontak
proksimal yang adekuat, kehalusan permukaan secara umum dan kualitas margin. Idealnya
restorasi harus dicobakan ke model terlebih dahulu sebelum dicobakan ke pasien secara klinis.
Working die biasanya sudah di-trim oleh teknisi untuk mengklarifikasi ketepatan margin pada
preparasi mahkota. Jika memungkinkan, minta working die yang belum di-trim dari cetakan
yang sama untuk menentukan keakuratan proses trimming dan untuk mengkonfirmasi
keakuratan marginal pada gigi yang telah dipreparasi. Permukaan internal restorasi juga
harus diperiksa, tidak boleh ada lubang, voids, atau perbedaan yang tidak terdapat pada
preparasi mahkota.
Evaluasi coping untuk memastikan bahwa coping logam menyediakan ketebalan yang cukup
agar memberikan kekuatan yang optimal, kecocokan marginal finish dan ruang yang cukup
untuk porcelain build-up agar terbentuk estetik yang optimal dan kontur pada mahkota gigi
tiruan yang sudah selesai dibuat.

16
2. Intra-oral assessment (clinical try-in)
Jika pencobaan pada model memberikan hasil yang memuaskan, maka dilanjutkan pencobaan
pada pasien secara klinis. Sebelum dicobakan ke pasien, coping logam direndam ke dalam
larutan disinfektan selama 3 menit.

Gigi yang telah dipreparasi harus asimptomatik. Diperlukan anastesi lokal pada gigi yang
masih vital dengan dentin yang baru dipreparasi, karena gigi yang telah dipreparasi biasanya
lebih sensitif, terlebih pada pasien yang masih muda dengan kamar pulpa yang besar, atau
pada pasien dengan gigi sensitif. Gigi yang telah dilakukan perawatan endodontik tidak
memerlukan anastesi. Gigi yang telah dilakukan restorasi sebelumnya pada pasien tua dengan
pulpa yang mengecil, biasanya tidak sensitif.

Mahkota sementara dibongkar dengan hari-hati dan sisa-sisa semen pada sementasi
sementara dibersihkan dengan hand instrument. Tidak boleh ada sisa bahan semen sedikitpun
karena akan mengganggu keakuratan seating restorasi dan perlekatan sementasi berikutnya.
Sebelum menempatkan mahkota di mulut, pasien harus diberi tahu bahwa akan dilakukan
pencobaan coping logam dan bahwa untuk menghindari dislodgement coping logam pasien
tidak boleh mencoba untuk berbicara, atau bergerak secara tiba-tiba. Selanjutnya, harus
dijelaskan kepada pasien bahwa dia harus tetap waspada dan jika mahkota tergelincir dari
gigi dia harus segera mengangkat kepala dan melepaskan mahkota ke tangan mereka sendiri.
Keselamatan saat dicoba sangat penting untuk menghindari pasien menelan atau tersedak
coping logam.

Pasien pada posisi semi-supine/semi-reclining (posisi setengah telentang, mencegah agar coping
tidak tertelan), coping logam yang telah direndam dalam larutan disinfeksi ditempatkan pada
gigi dan pertahankan posisi jari selalu di permukaan oklusal. Kesesuaian margin diperiksa
dengan menggunakan ujung sonde yang dijalan ke perifer (dari servikal ke insisal) dengan
tetap memastikan bahwa coping logam benar-benar terpasang pada gigi. Harus ada transisi
yang relatif mulus dari gigi ke coping logam tidak ada yang terbuka, overhanging atau
ketidaksesuaian lainnya.

Jika ada margin yang terbuka artinya ada satu permukaan coping logam yang tidak
sepenuhnya seated. Penyebab paling umum dari margin yang terbuka (open) ini adalah kontak
proksimal yang terlalu ketat. Penyebab lainnya adalah adanya sisa-sisa semen sementara atau
kotoran lainnya di permukaan gigi, terperangkapnya gingiva, atau ketidaksesuaianlainnya di

17
permukaan internal coping logam. Internal fit dapat diperiksa dengan coating atau disclosing
medium untuk melihat area yang terikat. Permukaan internal dilapisi dengan pewarna,
kemudian pasangkan ke gigi. Area yang warnanya hilang perlu disesuaikan. Jika kontak
internal baik tapi margin tetap terbuka, maka coping logam harus dibuat ulang.

Evaluasi kontak proksimal untuk coping logam harus tersedia ruang yang cukup untuk porcelain
build-up.
Evaluasi oklusal dilakukan dengan coping logam dipasangkan pada gigi dan pasien
diinstruksikan untuk oklusi pada maximum cuspal position. Dengan menggunakan kaca mulut
pada sulcus bukalis periksa apakah ada ketidaksesuaian oklusal. Untuk mengetahui area yang
memerlukan penyesuaian periksa dengan menggunakan articulating paper.
Setelah evaluasi oklusi sentris, selanjutnya adalah pergerakan lateral, beberapa
ketidaksesuaian (working or non-working interferences) harus disesuaikan. Pasien diminta untuk
menggigit dan kemudian dipandu secara lateral dari satu sisi ke sisi lainnya menjaga gigi tetap
bersentuhan. Penilaian akhir gerakan lateral lebih aman bila dilakukan paska sementasi,
terutama bila ada group function. Begitu oklusi dianggap sempurna, area yang telah
disesuaikan perlu dihaluskan.

5. PENATALAKSANAAN PEMBUATAN FACING PORSELEN


Dibuat oleh Marcos.F

Referensi : Rosentiel, Land, Fujimoto. Contemporary of Fixed Prosthodontics. 4th ed. Elsevier.
2006

Dental ceramic umumnya terbagi menjadi 3 bedasarkan maturasi atau fusing range:
1. High-fusing (1290 - 1370C)
2. Medium-fusing (1090-1260C)
3. Low-fusing (870-1070C)

Namun, pada pembuatan restorasi metal-ceramic veneer, kita menggunakan low-fusing porcelains.
Sementara high-fusing dan medium-fusing digunakan untuk denture teeth and original porcelain
jacket crowns.

18
Tipe Porcelain

Tipe campuran porcelain dibagi berdasarkan kegunaan tiap porcelain pada fabrikasi restorasi
metal-ceramic, yakni:

1. Opaque
Ini merupakan coating ceramic yang pertama dan bertugas untuk 2 hal utama: untuk menutupi
warna alloy dan bertugas untuk membentuk ikatan antara ceramic dan metal.
Opacifying oxides ditambahkan ke campuran porcelain dan mereka memiliki densitas yang
lebih berat dari glass matrix. Opacifying oxides seperti tin, titanium, zirconium (2.01 -2.61)
memiliki refractive index yang lebih tinggi daripada komponen glass matrix seperti feldspar
dan quartz (1.52-1.54). Ketika kita menggunakan kisaran ukuran partikel yang spesifik, maka
hampir seluruh cahaya insiden akan direfleksikan dan scattered , sehingga warna alloy pun
tertutup.

2. Body
Body porcelain dipanaskan ke dalam lapisan opaque, biasanya berbarengan dengan incisal
porcelain. Body porcelain memberikan sedikit translusensi dan memiliki metallic oxide yang
membantu dalam shade matching. Shade pada body porcelain bermacam-macam jenisnya
agar bisa disesuaikan dengan warna alami gigi sebelahnya. Namun, walaupun sudah ada
nominal shade guide yang umum (Vita Classical Shade Guide), antar manufaktur umumnya
memiliki variasi warna yang signifikan sehingga perlu disesuaikan dengan teknisinya. Warna
body porcelain yang lebih cocok untuk bagian servikal disebut dengan neck.

3. Incisal
Incisal porcelain umumnya translusen sehingga warna restorasi sangat dipengaruhi oleh warna
body porcelain dibawahnya.

19
Prosedur Fabrikasi

Opaque porcelain

Sebelum diberikan porcelain, pastikan adanya uninterrupted oxide layer pada area yang akan
di-veneer.

1. Kocokan powder opaque pada botol agak kencang. Lalu diamkan agar segmen partikel yang
kecil turun ke dasar.
2. Letakan sejumlah kecil bubuk pada glass slab, letakan liquid juga pada mixing slab. Aduk
hingga mendapatkan konsistensi yang sesuai. Jangan gunakan instrumen metal karena
partikel metal dapat terlepas dan menjadi kontaminan pada campuran porcelain.
3. Basahkan campuran dengan liquid, lalu celupkan kuas pada larutan. Kemudian, oleskan pada
coping logam.
4. Gunakan vibrasi yang ringan agar material terbagi dengan rata. Larutan yang berlebih di
permukaan dapat dibersihkan dengan tisu.
5. Setelah seluruh permukaan telah tertutup dan kering, aplikasikan larutan porcelain kembali.
Namun, basahkan lapisan permukaan awal terlebih dahulu agar mencegah air dari larutan
yang baru terserap ke larutan yang kering. Bila tidak dibasahkan, material tidak akan
terkondensasi dengan baik dan larutan akan menjadi porus. Pemberian liquid dan vibrasi
berlanjut dapat mencegah agar masalah ini tidak terjadi.
6. Kalau seluruh permukaan telah tertutup dan ketebalan porcelain memadai, maka buang
lapisan yang berlebih dengan kuas yang sedikit lembab.
7. Sebelum pembakaran, pastikan bahwa :
o Seluruh permukaan veneer tertutup dengan merata yang menutupi warna alloy
o Tidak ada excess di permukaan veneer
8. Setelah pembakaran pertama, biarkan veneer mendingin hingga ke suhu ruangan

20
9. Periksa veneer untuk crack, lapisan yang tipis, dan apakah seluruh lapisan tertutup semua.
Bila ada masalah tersebut, aplikasikan porcelain kembali dan lakukan pembakaran kedua.
Hasil akhirnya harus memiliki lapisan yang halus dan merata sehingga menutupi warna metal,
eggshell appearance, dan tidak ada excess.

Body and Incisal Porcelains

1. Letakan neck, body, incisal, dan powder lainnya pada glass slab. Pastikan slab bersih bila
sebelumnya digunakan untuk opaque porcelain.
2. Adukkan powder dan liquid dengan rasio yang sesuai.
3. Basahkan opaque layer sebelumnya dengan liquid, dan letakkan sedikit neck powder pada
bagian servikal. Lakukan hentakan ringan untuk menghasilkan vibrasi agar terjadi kondensasi.
Bila ada excess, buang dengan tisu.
4. Setelah kontur pada bagian servikal telah dibentuk, lanjutkan dengan body powder untuk
membentuk kontur pada sisa permukaan gigi. Gunakan gigi di sebelahnya sebagai panduan.

21
Untuk mengkompensasi shrinkage saat pembakaran, lakukan overbuild sedikit. Umumnya
terjadi shrinkage sebanyak 0.6 mm pada bagian insisal dan 0.5 mm pada bagian tengah.
Pastikan bentuk gigi sesuai.
5. Lakukan hal yang sama untuk incisal powder dan pastikan overbuild untuk mengkompensasi
shrinkage. Taruh di artikulator dan periksa untuk oklusinya apakah baik atau tidak. Lakukan
perbaikan apabila diperlukan.
6. Restorasi akan dipisahkan, dipotong per gigi dengan blade sebelum dibakar. Basahkan
bagian proksimal dan tambahkan porcelain apabila diperlukan untuk membentuk kontur.
Lakukan pembakaran dan biarkan suhu veneer menurun ke suhu ruangan. Lakukan
pendinginan sesuai dengan rekomendasi manufaktur.
7. Evaluasi hasil porcelain setelah pembakaran (low-bisque). Bila terdapat fissure, lakukan
grinding sebelum ditambahkan porcelain kembali. Bentuk restorasi harusnya sesuai dengan
anatomi dan skema oklusi gigi yang telah ditentukan. Buang excess dengan stone.
8. Setelah melakukan perbaikan yang diperlukan, lapiskan porcelain yang kedua bila
diperlukan untuk memperbaiki kontur gigi yang kurang. Bersihkan restorasi secara ultrasonic
untuk membuang debris dari grinding.
9. Lakukan pembakaran kedua. Saat pembakaran, lakukan evaluasi pada warna. Ulangi
pelapisan korektif porcelain bila diperlukan. Namun, perlu diperhatikan bahwa pembakaran
berulang mengakibatkan devitrifikasi (translusensi hilang dan daya tahan fraktur dari
restorasi menurun).

22
23
Konturing dan glazing

Saat glazing, suhu contoured bisque bake dinaikkan ke temperatur fusi dan dipertahankan
selama beberapa menit. Maka, akan terbentuk aliran pyroplastic di permukaan sehingga
terbentuk lapisan glaze. Sudut yang tajam juga akan membulat saat proses ini terjadi. Namun,
kontak oklusal pun juga dapat berubah saat proses glazing.

24
25
6. PENCOBAAN DAN EVALUASI PENCOBAAN GIGI TIRUAN CEKAT

Dibuat oleh Marcella Lydia


Referensi : Rosentiel

Sebelum dilakukan sementasi, protesa yang dikeluarkan dari laboratorium harus dicoba terlebih
dahulu di dalam mulut pasien. Hal-hal yang perlu dievaluasi antara lain :

Kontak Proksimal
Lokasi, ukuran, dan ketepatan mahota tiruan harus menyerupai gigi asli. Cara untuk menentukan
ketepatan kontak proksimal adalah dengan menggunakan dental floss. Dental floss harus dapat
melewati kontak proksimal dengan sedikit hambatan. Apabila dental floss terhambat, maka dapat
dikatakan bahwa kontak proksimal terlalu ketat. Sedangkan, apabila dental floss terlalu longgar,
maka dapat menyebabkan mudahnya terselipnya makanan.

26
Kontak Proksimal Terlalu Ketat
Pada Restorasi Metal
Kontak proksimal yang terlalu ketat dapat
dibenarkan dengan menggunakan rubber
wheel. Restorasi dibenarkan di luar mulut
pasien, dan kemudian dievaluasi kembali.
Dokter gigi harus ingat bahwa harus
menyisakan sedikit ketebalan metal untuk
polishing, sehingga hasil restorasi bisa pas,
tidak terlalu ketat dan tidak terlalu longgar.

Pada Restorasi Porcelain


Kontak proksimal yang terlalu ketat pada
unglazed porcelain dapat dibenarkan
menggunakan stone silindris. Area yang terlalu
ketat dapat diidentifikasi menggunakan
marking tape sehingga dapat ditentukan mana
yang akan dipoles lagi. Untuk glazed
porcelain, apabila kontak proksimal terlalu
ketat, maka dapat diperbaiki dengan
menggunakan diamond impregnated silicone points, pumice atau diamond polishing paste

Kontak Proksimal Terlalu Longgar


Pada Restorasi Metal
Kontak proksimal yang terlalu longgar dapat dibenarkan menggunakan teknik soldering.
Waktu yang dibutuhkan untuk soldering tidak lama dan dapat dilaksanakan di tempat praktik.
Setelah dilakukan soldering, bahan restorasi perlu dipoles ulang.

Pada Restorasi Porcelain


Kontak proksimal yang terlalu longgar dapat dibenarkan menggunakan firing tambahan.

Integritas Marginal
Protesa yang terbuat harus dapat beradaptasi dengan baik pada marginal gigi. Cara untuk
menentukan apakah protesa beradaptasi dengan baik atau tidak adalah dengan menggunakan

27
pasta elastomeric. Pasta ini memiliki material yang mirip dengan material impression silicon dan
terdiri dari 2 pasta. Viskositas yang dimiliki pasta ini sama seperti luting agent dan dapat
digunakan untuk menentukan kontak internal yang tidak diinginan serta marginal fitness protesa
gigi.

Evaluasi
Marginal fitness dapat dicek menggunakan sonde
dengan cara menelusuri gigi dengan ujung
marginal dari restorasi. Apabila kesalahan
restorasi minimum, maka restorasi tidak diperlu
dibuat lagi. Namun, pastikan untuk tidak
memaksakan agar protesa fit.

Finishing
Margin subgingiva tidak mudah dijangkau untuk
dilakukan proses finishing, sehingga finishing
dilakukan pada model. Namun, karena eksaminasi
klinis tidak mudah, maka disarankan untuk
melakukan presementasi dan dilihat melalui
radiograf.
Margin supragingiva dapat dilakukan saat casting
berada pada gigi. Alat yang digunakan adalah
white stone dan cuttle disk.
Stabilitas
Saat protesa ditempatkan pada gigi yang telah dipreparasi, protesa tersebut harus stabil. Ketika
diberi gaya, protesa tidak boleh berputar ataupun goyang. Kegoyangan dalam bentuk apapun
akan menyebabkan kegagalan saat gigi melakukan fungsinya. Apabila kegoyangan tersebut
disebabkan karena adanya nodul kecil, maka protesa dapat dibenarkan, namun apabila
kegoyangan disebabkan karena adanya distorsi, makan protesa baru dibutuhkan.

Oklusi
Setelah protesa telah ditempatkan pada gigi yang telah dipreparasi dan telah memenuhi syarat
integritas margin dan stabilitas, oklusi dengan gigi antagonis harus dicek. Apabila keadaan oklusi
saat statis dan dinamis terlihat adanya supraoklusi (protesa terlalu tinggi), maka dapat diperbaiki
(dengan direduksi). Apabila terdapat undercontour maka protesa dapat dibuat ulang

28
Contouring, Characterization dan Glazing
Pada restorasi keramik, terdapat tahap tambahan untuk memenuhi syarat estetis, biologis dan
mekanis. Tahap estetis ditentukan tergantung kontur restorasi, surface texture characterization, dan
warna dari gigi.

Contouring
Kontur protesa harus sesuai dengan anatomi gigi, yaitu
membentuk 1/3 servikal, tengah dan insisal. Hal ini
dilakukan untuk menjaga kesehatan dari periodontal

Characterization
Setiap gigi pasien memiliki karakteristik yang berbeda.
Sehingga, protesa yang dibuat sebaiknya disesuaikan
dengan gigi tetangganya. Hal ini dapat dilaksanakan dengan cara membentuk area
hipoklasifikasi, enamel crack, stained crack line dan proximal coloration

Glazing
Merupakan tahap menghilangkan defek pada permukaan porselen dan meningkatkan kilaunya.
Fungsi dari glazing ini juga untuk menghindari protesa dari fraktur dan menghindari dari retensi
plak

7. TAHAPAN SEMENTASI GIGI TIRUAN CEKAT SEMENTARA DAN TETAP

Armamentarium dan Tahapan Sementasi dibuat oleh Morina Leony Himra


Sumber: Rosentiel SF, Land MF, Fujimoto J. Contemporary Fixed Prosthodontics, 4th ed. Louis:
Mosby Inc. 2006. Page 15:499, 31:917-920.

Evaluasi Sementasi dibuat oleh Adnan Fanani


Sumber :
1. Rosenstiel SF, Land MF, Fujimoto J. Contemporary fixed prosthodontics, 4th ed. Elsevier,
ST. Louis. 2016. P 499.
2. Shilingburg HTJ, Hobo S, Whitsett LD, Jacobi R, Brackett SE. Fundamental of Fixed
Pristhodontic, 4th ed. Chocago: Quintessence Publishing Co. Inc 1997. Chapter 21.

29
Tahapan Sementasi Gigi Tiruan Cekat Sementara
Setelah mahkota tiruan dievaluasi dan kriterianya sudah terpenuhi, kemudian mahkota tiruan
disementasi sementara untuk melihat fungsi penggunaanya pada pasien.

Armamentarium :
- Interim luting agent (A)
- Mixing pad (B)
- Cement spatula (C)
- Plastic filling (D)
- Petrolatum (E)
- Kaca mulut dan eksplorer (F)
- Dental floss (G)
- Kasa (H)

Tahapan sementasi :
1. Untuk memudahkan pengangkatan kelebihan semen, olesi permukaan restorasi (mahkota tiruan)
yang sudah dipoles dengan petrolatum (gambar A).
2. Campurkan kedua pasta (interim luting agent) dengan cepat dan aplikasikan sedikit pada
cavosurface margin (gambar B). Semen pada margin tersebut berfungsi untuk menghambat
masuknya oral fluids. Mengisi mahkota tiruan atau abutment retainer dengan luting agent
sebaiknya dihindari karena akan mempersulit pembersihan semen dan meningkatkan risiko
tertinggalnya debris pada sulkus.
3. Pasang restorasi (mahkota tiruan) dan biarkan hingga setting (gambar C).
4. Bersihkan kelebihan semen menggunakan sonde dan dental floss dengan hati-hati (gambar D-
F).

30
Sisa semen yang tertinggal pada sulkus dapat mengiritasi gingiva dan menyebabkan inflamasi
periodontal yang memungkinkan terjadinya bone loss. Oleh karena itu, sulkus harus diperiksa
dengan teliti dan diirigasi menggunakan air-water syringe.

Evaluasi :
Sisa-sisa semen yang tersisa di sulkus memiliki efek iritasi pada gingiva dan dapat menyebabkan
peradangan periodontal yang parah dengan kemungkinan kehilangan tulang. Oleh karena itu,
sulkus harus diperiksa dengan teliti dan diirigasi dengan air-water syringe.

Setelah restorasi disementasikan, adapun hal-hal yang perlu dilihat antara lain adalah:
- Adanya keluhan ngilu/sakit
- Kemerahan pada gingiva sekitar servikal
- Gangguan pada saat pengunyahan
- Adanya keluhan bentuk dan warna mahkota tiruan
- Tidak terdapat gangguan dan fungsi mastikasi, fonetik, dan gerakan artikulasi dapat berjalan
dengan baik

31
Berikut ini beberapa hal yang perlu dievaluasi dalam sementasi :

A. Daerah preparasi harus bersih; dokter gigi harus memastikan seluruh luting agent sementara
telah dihilangkan. (lihat Gambar 31-17A).
B. Ketika restorasinya dicoba untuk dipasang, daerah margin harus mudah diakses dan dapat
diperiksa dengan sonde (gambar 31-17B); Evaluasi ini menyediakan referensi untuk complete
seating selama sementasi.
C. Restorasi dibersihkan dengan air abrasion, steam cleaning, atau ultrasonik (lihat Gbr.31-17C).
D. Luting agent dicampur sesuai dengan rekomendasi pabrik (lihat Gambar 31-17D).
E. Restorasi dipasang pada gigi yang telah dipreparasi dengan tekanan yang adekuat dengan
menggunakan jari (lihat Gambar 31-17E).
F. Pada area margin, dengan cepat diperiksa ulang untuk memastikan telah dipasang dengan
sempurna (lihat Gbr. 31-17F).
G. Setelah luting agent benar-benar mengeras, kelebihannya dibuang. Tidak ada sisa semen
yang terlihat di sekitar gigi. (lihat Gambar 31-17G dan H).

32
Hal yang Perlu Diperhatikan Setelah Sementasi :
- Dokter gigi perlu mengecek dengan hati-hati bagian sulkus gingiva harus bersih dari sisa luting
agent.
- Hindari penggunaan semen yang bersifat radiolusen. Hal tersebut dikarenakan jika material
semen bersifat radiolusen, maka jika terdapat kelebihan semen, tidak dapat terdeteksi melalui
radiografis. Namun apabila semen bersifat radiopak, maka jika semen nya berlebihan maka
dapat terdeteksi melalui radiografis.

Tahapan Sementasi Gigi Tiruan Cekat Tetap

Armamentarium :
- Kaca mulut (A) - Anestesi lokal (jika dibutuhkan) (I)
- Sonde (B) - Saliva evacuator (J)
- Dental floss (C) - Forceps (K)
- Cotton rolls (D) - Glass slab (L)
- Cup profilaksis (E) - Cement spatula (M)
- Tepung pumice (F) - Kasa (N)
- Semen (powder dan liquid) (G) - Foil adesif (O)
- Stone putih dan cuttle disk (H) - Plastic filling (P)

Tahapan sementasi :
1. Periksa kebersihan permukaan preparasi, tidak boleh ada interim luting agent yang tersisa
agar tidak terjadi kegagalan restorasi (gambar A).
2. Isolasi area restorasi dengan cotton roll, letakkan saliva evacuator.

33
3. Oleskan cavity varnish untuk mengurangi iritasi pulpa dari zinc phosphate cement. Varnish tidak
diaplikasikan jika menggunakan bahan adesif seperti resin, glass ionomer, atau polycarboxylate
karena dapat mencegah adhesi material terhadap dentin.
4. Dinginkan glass slab di bawah air mengalir, keringkan, letakkan powder dan liquid. Slab yang
dingin memundurkan setting time sehingga memungkinkan untuk memberikan tambahan powder
pada liquid. Hal ini menghasilkan compressive strength yang lebih tinggi dan mengurangi
solubility semen.
5. Bagi powder menjadi 6 bagian, aduk satu per satu ke dalam liquid masing selama 15-20 detik
hingga semuanya tercampur (90 detik) (gambar B). Selama pengadukan, gunakan permukaan
slab secara besar untuk menghamburkan panas eksotermik dari reaksi setting. untuk
penggunaan GIC powder hanya dibagi menjadi 2 bagian dengan lama pengadukan masing
10 detik.
6. Periksa konsistensi semen. Konsistensinya tepat jika dapat ditarik sekitar 20 mm ( inci) dari
panjang sebelumnya. Konsistensi GIC lebih kental dibandingkan zinc phosphate.
7. Oleskan semen dengan tipis ke bagian dalam restorasi (mahkota tiruan) (gambar D-E).
8. Keringkan gigi dengan semprotan udara ringan kemudian pasang restorasi pada gigi (gambar
F). Gunakan orangewood stick untuk mendapatkan final seating (gambar G).
9. Periksa margin untuk memastikan restorasi sudah terpasang seutuhnya.
10. Jika sudah setting, buang kelebihan semen dengan sonde dan dental floss (gambar I-J)
11. Semen membutuhkan waktu 24 jam untuk mendapatkan final setting. oleh karena itu pasien
harus mengunyah dengan hati-hati selama 1-2 hari (gambar K).

34
35
8. PEMILIHAN MATERIAL SEMENTASI YANG TEPAT
Dibuat oleh Lily Sutanto

Referensi:
1. Yu H, Zheng M, Chen R, Cheng H. Proper selection of contemporary dental cements. OHDM.
2014 March;13(1):54-9.
2. Craig R, Powers J. Restorative dental materials. 11th ed. St. Louis, MO: Mosby; 2002.
3. Anusavice K, Phillips R, Shen C, Rawls H. Phillips' science of dental materials. 12th ed.
Philadelphia: Elsevier Saunders; 2012.
4. Sumber: Craig RG, Power JM, Wataha JC. Dental Materials Properties and manipulation. 8th
ed. Mosby Elsevier. 2004.

Sementasi Sementara3
1. Zinc phosphate

Powder terdiri dari 75% zinc oxide dan 13 magnesium oxide, dicampur dengan bubuk radiopak.
Liquid terdiri dari asam fosfat.

36
Zinc phosphate memiliki sifat :
- Semakin kecil ukuran powder, semakin cepat semen setting.
- Penambahan air pada liquid akan mempercepat reaksi
- Untuk memperlama working time dapat dilakukan :
o Pengurangan rasio P/L
o Mencampurkan powder dan liquid secara sedikit-sedikit.
o Memperlama spatulasi karena dapat menghancurkan matrix yang telah terbentuk
- Zinc phosphate mendapatkan retensi secara mekanikal dan bukan secara kimiawi.
- Memiliki compressive strength sebesar 104 MPa
- Memiliki tensile strength sebesar 5.5 Mpa
- Memiliki elastic modulus 13 GPa
- Solubilitas yang rendah di dalam air

2. Zinc polycarboxylate

Zinc polycarboxylate menggunakan sistem powder-


liquid dengan acid-base reaction. Powder terdiri
dari zinc oxide, magnesia, tin oxide, bismuth oxide,
dan/atau alumina. Sedangkan liquid terdiri dari
larutan asam poliakrilik atau kopolimer dari asam
akrilik dengan asam karboksilat.

Zinc polycarboxylate memiliki sifat :


- Lebih tidak asam dibandingkan zinc phosphate
(1.7), dan akan meningkat hingga 6 saat
setting.
- Setting time antara 6-9 menit, merupakan jarak yang baik sebagai luting cements.
- Memiliki ikatan terhadap struktur gigi yang baik. Lebih mengikat enamel dibandingkan
dentin.
- Memiliki retensi yang lebih rendah dibandingkan zinc phosphate.
- Dalam pemakaian, crown harus dilapisi dengan petroleum jelly.
- Memiliki compressive strength yang lebih rendah dibandingkan zinc phosphate.
- Lebih elastik dibandingkan zinc phosphate, sehingga lebih sulit untuk menghilangkan semen
yang berlebihan setelah setting.

37
- Iritasi minimal pada pulpa.
- Ukuran molekul asam poliakrilik yang lebih besar dibandingkan asam fosforik menahan
penetrasi molekul ke dalam tubulus dentin, sehingga lebih biokompatibel.

3. Semen resin

Semen resin memiliki sifat :


- Viskositas rendah
- Tidak larut dalam cairan mulut
- Resisten terhadap wear
- Setting-nya bisa secara kimiawi, light, atau dual-cure.
- Dapat mengiritasi pulpa jika ketebalan dentin kurang dari 0.5 mm

Semen resin penemuan terbaru menggunakan acidic group yang sudah ada dalam semen resin
dan akan berikatan dengan ion kalsium ketika berkontak dengan gigi, sehingga disebut
sebagai self-adhesive resin cement.

4. Zinc oxide eugenol

Semen ZOE sering digunakan sebagai luting agent dan


restorasi sementara. ZOE pada dasarnya menggunakan
sistem powder-liquid atau two-paste. Powder terdiri dari
partikel zinc oxide dan liquid terdiri dari eugenol.
Sedangkan dengan sistem two-paste, base paste terdiri
dari bubuk zinc oxide dan eugenol terdapat dalam
accelerator.

ZOE memiliki sifat :


- Strength yang berkisar pada 3 55 MPa tergantung dengan formulasinya.
- Semakin halus bubuknya, semakin tinggi strength yang didapatkan.
- Memiliki sifat antimicrobial sehingga dapat digunakan sebagai root canal sealer.
- Seal tubulus dentin dengan sangat baik sehingga microleakage minimal.
- Memiliki efek sedatif pada pulpa.
- Dapat menyebabkan nekrosis pulpa bila berkontak langsung dengan pulpa

38
ZOE dibagi menjadi 4 tipe yaitu,
- Tipe I untuk sementasi sementara
- Tipe II untuk sementasi tetap dari GTC
- Tipe III untuk restorasi sementara
- Tipe IV untuk sebagai intermediate fillings.

5. Zinc oxide non eugenol


- Komposisi : minyak aromatik, zinc oxide, minyak zaitun, petroleum jelly, asam oleic, dan
beeswax.
- Manipulasi :
Dispensing semen zinc-oxide non eugenol terdiri atas dua pasta. Keluarkan setiap pasta
dengan panjang yang sama dan aduk hingga warnanya homogen.
Mixing reaksi setting-nya tidak exotermis, maka tidak diperlukan mixing slab, biasanya
digunakan mixing pad kertas.

- Sifat :
o Cocok untuk pasien yang sensitif terhadap eugenol
o Film thickness: Untuk sementasi sementara, tidak boleh lebih dari 40 m.
o Setting time : 4-10 menit.
o Compressive strength : untuk sementasi sementara, dibutuhkan maksimum 35 MPa.
Menurut penelitian, sementasi sementara dengan compressive strength 1,4 sampai 21
MPa sudah bisa digunakan. Strength semen dipilih berdasarkan sifat retentif dari
restorasinya dan masalah-masalah yang dapat timbul saat melepas restorasinya.

39
o Tidak beradhesi dengan baik dengan mahkota logam, namun tidak melunakkan
mahkota akrilik.

Sementasi Tetap
Material untuk sementasi tetap terdiri dari1 :

1. Zinc phospate
- Gold standard sementasi definitif untuk crown dan GTJ tradisional untuk restorasi alloy.1
- Terdiri dari power dan liquid dengan kandungan pada tabel2.
- Reaksi antara zinc oxide dan phosphoric acid : reaksi eksotermik dan asam-basa. 3
- Liquid dapat menguap sehingga harus disimpan dengan baik.3

Cara manipulasi2 :
1. Letakkan powder dan liquid di atas mixing slab
dingin (sekitar 21C, rasio P:L sesuai anjuran
pabrik atau keperluan semakin banyak
powder, konsistensi meningkat)
2. Masukkan dan aduk bubuk sedikit demi sedikit ke
dalam liquid. Gunakan spatula stainless steel untuk
menyebarkan semen di atas mixing slab. Gerakan
ini ditujukan untuk memperpanjang waktu setting.
3. Campurkan bubuk lain secara inkremental dalam
jumlah yang sedikit hingga dicapai konsistensi
yang diinginkan. Biasanya ada jeda waktu 15-20
detik sebelum memasukkan inkremental bubuk.3
Working time sekitar 5 menit. Rata-rata zinc
phospate memerlukan 60-90 detik pengadukan
untuk mencapai konsistensi semen yang baik.

40
4. Angkat semen perlahan dengan spatula dan amati konsistensinya. Apabila semen dapat
diangkat dan tidak putus dalam 12-19 mm, semen dianggap sudah baik untuk sementasi
protesa. Bila >19 mm, maka semen terlalu kental untuk sementasi.3

Sifat :
- kurang memiliki ikatan kimia dengan struktur gigi
- moderate compressive strength (62-101 MPa)
- tensile strength rendah (5-7 MPa)
- tingkat kelarutan tinggi (0,36%)
- setelah dicampur, pH semen ini rendah (pH 2), kemudian meningkat menjadi 5,5 setelah 24
jam

2. Zinc polycarboxylate
- Mirip dengan zinc phosphate, reaksinya merupakan reaksi asam-basa.1
- Semen pertama yang memiliki ikatan kimia pada gigi; dan merupakan semen yang opak.3

41
- Sifat adesifnya menghasilkan ikatan lemah pada enamel dan lebih lemah pada dentin (1-
2 MPa), memiliki compressive strength rendah (67-91 MPa), dan tensile strength rendah (8-
12 MPa). 1
- Semen ini dapat mengalami deformasi plastis di bawah tekanan dinamis setelah setting.
Oleh sebab itu, penggunaan semen ini terbatas untuk restorasi single unit atau sementasi
GTC dalam jangka waktu pendek.1
- Manipulasi semen mirip dengan manipulasi semen zinc fosfat, namun semen ini harus
digunakan sebelum penampilan glossynya hilang glossy mengindikasikan adanya
kelompok asam karboksilat bebas untuk berikatan dengan baik terhadap gigi. 3
- Semen yang berlebih tidak boleh dilepas pada saat rubbery stage karena dapat
mengakibatkan void. Semen berlebih dapat dilepaskan segera setelah sementasi selesai
dan sebelum semen benar-benar mengeras. 3
- Working time lebih singkat dari semen zinc fosfat, yaitu sekitar 2.5 menit.3
- pH dari semen ini awalnya 3, kemudian meningkat menjadi 6 seiring reaksi setting. 3
- Setting time antara 6-9 menit. 3
- Semen ini tidak lebih superior dibandingkan semen zinc phosphate akibat kemungkinan
kontaminasi permukaan protesa. 3
- Permukaan luar protesa harus dilapisi dengan medium pemisah seperti petroleum jelly untuk
mencegah semen polikarboksilat berlebih melekat ke permukaannya. 3
- Permukaan gigi harus benar-benar bersih untuk mendapatkan adesi dan kontak yang baik.
3

- Aplikasikan 10% larutan asam maleat sebelum aplikasi semen pada gigi selama 10-15
detik, kemudian bilas dengan air dan keringkan untuk mencegah kontaminasi. 3
- Semen ini menghasilkan iritasi minimal terhadap pulpa.3

42
3. Conventional glass-ionomer cement (GIC)
- Merupakan hibrid dari1 :
o semen silikat (memberikan sifat menghasilkan
fluoride)
o semen polikarboksilat (memberikan sifat
melekat pada enamel dan dentin)

- Terdiri dari bubuk yang mengandung


aluminosilikat dengan kandungan fluoride tinggi,
serta liquid yang terdiri dari asam poliakrilik dan
tartar. 1
- Proses pengerasan material berlangsung selama 24 jam.1
- Klasifikasi GIC3 :

Bubuk yang digunakan untuk sementasi adalah bubuk dengan partikel glass yang lebih halus
(finer glass particles), sekitar 15 m.3

- Sifat1 :
o low bonding strength ke struktur gigi
o moderate compressive strength (85-126 MPa)
o tensile strength rendah (6-7 MPa)

43
o sifat fisiknya bergantung dari rasio powder/liquid, instruksi pabrik pembuatnya
sebaiknya diikuti

- Cara manipulasi2:
1. Siapkan bubuk dan liquid dengan rasio anjuran pabrik di atas kertas atau mixing slab
2. Bagi bubuk menjadi dua bagian sama besar
3. Campurkan satu bagian ke dalam liquid dengan spatula, waktu mencampur 30-60 detik
4. Campurkan sisa bubuk dan aduk hingga homogen
5. Gunakan semen secepatnya karena working time setelah pencampuran hanya sekitar 2
menit di suhu ruangan (23C)
6. Setelah semen mencapai initial setting, lapisi semen dengan bahan coating yang
disediakan

- Keuntungan :
o Menghasilkan fluoride secara konstan dalam jangka panjang, dan kemampuan fluoride
recharge dapat prevensi karies.1
o Translusen dan dapat menempel ke struktur gigi.3
o Reaksi pulpa lebih rendah dibandingkan dengan semen zinc fosfat.3

- Kekurangan1 :
o Rentan terhadap kontaminasi dari kelembaban dan pengeringan berlebih pada saat
initial setting period. Paparan air yang terlalu cepat dan kontaminasi saliva
meningkatkan kelarutan dan mengurangi kekerasan dari GIC.
o Resistensi rendah terhadap asam (misal asam lambung dari refleks muntah) maupun
bleaching.
o Tidak kaku dan lebih rentan terhadap deformasi elastis. Elastisitas yang lebih tinggi
(modulus elastis yang rendah) membuat GIC kurang dipakai dibandingkan semen zinc
fosfat untuk mendukung all-ceramic crown tensile strength yang lebih tinggi dapat
terjadi pada crown yang didukung dengan GIC di bawah tekanan oklusal.3
o Rentan aus.3

44
4. Resin-modified glass-ionomer cement (RMGIC)

- Campuran dari resin dan GIC konvensional yang mengatasi kelemahan GIC, yaitu
sensitivitas pada kontaminasi cairan dan kelarutan tinggi.1
- RMGIC dibuat dengan menggantikan bagian asam poliakrilik pada GIC dengan
polymerizable functional methacrylate monomers.1
- Mekanisme settingnya melibatkan dua mekanisme, yaitu reaksi asam-basa dan
polimerisasi.1
- Komponen liquid dari semen hibrida ionomer ini mengandung larutan asam poliakrilik,
HEMA, dan asam poliakrilik yang dimodifikasi dengan metakrilat. Bubuknya mengandung
partikel fluoroaluminosilicate glass dari GIC ditambah dengan initiator seperti
camphoroquinone untuk light/chemical curing.3
- Ketika powder dan liquid dicampur, reaksi asam-basa terjadi dengan formasi polyacrylate
salt. Inisiasi dari polimerisasi dilakukan dengan cahaya atau radikal bebas (secara kimia).1
- Reaksi asam-basa masih berlangsung setelah polimerisasi dengan laju yang lebih rendah
dari GIC karena memiliki kandungan air yang lebih sedikit dan reaksinya lebih lambat di
fase padat dibandingkan fase cair.3
- Sifat1:
o Perlekatan pada struktur gigi yang lebih baik
o Compressive (93-226 MPa) /tensile strength (13-24 MPa) yang lebih tinggi
o Kelarutan rendah dapat menjaga integritas margin jangka panjang
o Moderate bonding strength (8 MPa)
o Sensitivitas setelah sementasi yang rendah
o Degradasi polimer seiring berjalannya waktu

45
5. Semen resin
-
Merupakan adaptasi berviskositas rendah dari komposit restoratif3, dari bisphenol-a-
glycidyl methacrylate (Bis-GMA) resin dan metakrilat lainnya.1
-
Memiliki reaksi setting berupa polimerisasi.1

Keuntungan1:
- Kekuatan compressive, tensile, bonding tinggi
- Kelarutan rendah
- Estetis memiliki translusensi menyerupai gigi, ada pilihan tooth shades untuk mencocokkan
warna dengan gigi sebelahnya
- Sifat mekanis dan fisik yang paling tinggi, tahan aus
- Beberapa semen resin mengandung
ytterbium trifluoride atau barium aluminium
fluorosilicate filler sehingga mampu
menghasilkan fluoride setelah tahap setting
berpotensi untuk kariostatik

Kekurangan1:
- Harga yang mahal
- Degradasi polimer seiring berjalannya
waktu
- Komponen monomernya dapat mengiritasi
pulpa digunakan liner untuk proteksi
pulpa apabila dentin yang tersisa <0.5 mm.

Mekanisme curing1:
- Light-cured dibatasi pada sementasi porcelain veneers dan restorasi glass-ceramic di
mana cahaya curing dapat mempenetrasi porselen
- Self-cured dapat digunakan dalam semua aplikasi sementasi
- Dual-cured dapat digunakan dalam semua aplikasi sementasi. Apabila tidak diberi
cahaya curing, resin ini menunjukkan bonding strength dan microhardness yang berkurang
penting untuk light cure semua semen dual-cured di semua margin restorasi.1 Tidak dapat
digunakan pada protesa yang tebalnya >2.5mm, sebaiknya menggunakan chemical-cure
(self-cure) cement untuk protesa tersebut.

46
Mekanisme bonding1:
- Total-etch (etch-and-rinse)/conventional resin cement memiliki tiga tahap:
1. Etsa asam, bilas, dan keringkan
2. Aplikasi agen bonding dan di-cure
3. Aplikasi semen resin, cure.
- Self-etch tahap etsa asam dan bonding digantikan dengan aplikasi self-etch bonding
agent yang mengkombinasikan conditioner, primer, dan adhesive.
- Self-adhesive tidak memerlukan surface pretreatment dan bonding agent untuk
memaksimalkan kemampuan mereka.

Manipulasi3 :
- Chemically cured resin tersedia dalam powder dan liquid atau dua pasta, yang dicampur di atas
paper pad selama 20-30 detik. Aktivasi kimia sangat lambat dan menyediakan working time
yang lebih panjang, kekuatan meningkat seiring berjalannya proses kimia. Semen yang
berlebih harus segera dibuang setelah restorasi diletakkan.
- Dual-cure cements memerlukan pencampuran yang sama dengan sistem chemical-cure/self-cure.
Proses curing berlangsung lambat sampai semen diekspos kepada cahaya curing yang akan
membuat semen mengeras dengan cepat. Kelebihan semen dibuang setelah restorasi
diletakkan atau setelah beberapa waktu seperti di instruksi pabrik.
- Light-cure resin cements letakkan protesa di atas semen dengan tekanan ringan untuk
mengeluarkan semen yang berlebih, pasang protesa dengan cara curing bagian protesa tanpa
mengenai kelebihan semen, bersihkan semen berlebih dari margin dan kemudian light cure area
yang tersisa dalam durasi waktu yang diinstruksikan pabrik.

47
48
9. PERMASALAHAN DAN PENANGGULANGAN MASALAH YANG
TERJADI SETELAH PEMASANGAN GIGI TIRUAN CEKAT
Telah dibahas di Tentir Skenario 2 IKGK 3, sasaran belajar nomor 10.

49
10. TEKNIK PEMBONGKARAN GIGI TIRUAN JEMBATAN
Dibuat oleh Muhammad Satrio Prabowo
Referensi: Rosenstiel SF, Land MF, Fujimoto J. Contemporary fixed prostodontics, 4th Ed. St. Louis. 2006.

Penanggulangan masalah setelah pemasangan gigi tiruan cekat, terutama gigi tiruan jembatan
adalah dengan membuka gigi tiruan.

Alasan Membuka Gigi Tiruan Jembatan


- Gigi tiruan melengkung, robek, atau patah
- Facing lepas
- Patahnya daerah penyolderan (solder joint)
- Estetika buruk
- Kondisi jaringan periodontal yang buruk
- Perubahan oklusi

Cara Membuka Gigi Tiruan Jembatan


Membuka gigi tiruan jembatan merupakan hal yang sulit karena adanya efek splinting antar gigi
penyangga. Keadaan ini akan lebih sulit bila menginginkan lepasnya gigi tiruan jembatan tersebut
tanpa merusak gigi tiruan atau gigi penyangga.
Sebaliknya, pembongkaran gigi tiruan jembatan akan menjadi lebih mudah apabila ada
kegagalan sementasi pada saat pemasangan sebelumnya. Selain itu, sementasi menggunakan zinc-
phophate cement, zinc-eugenol cement, carboxylate cement lebih mudah dibongkar dibandingkan
sementasi menggunakan glass-ionomer cement dan dual cement.
Cara membongkar gigi tiruan jembatan dapat dibedakan berdasarkan situasi klinisnya. Cara ini
dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu:

50
1. Konservatif
Gigi tiruan dipertahankan utuh. Teknik ini menggunakan gaya traksi atau perkusi untuk
membongkar luting cement dan membuat gigi tiruan dapat dilepas.
2. Semi-Konservatif
Gigi tiruan akan mengalami kerusakan minor dan masih dapat digunakan kembali. Teknik ini
dilakukan dengan membuat lubang kecil pada gigi tiruan sehingga gaya dapat diberikan
diantara preparasi tersebut dan gigi tiruan, sehingga luting cement dapat dibongkar.
3. Destruktif
Gigi tiruan menjadi rusak dan tidak dapat digunakan kembali. Gigi tiruan dibelah sehingga
dapat dilepas.

Cara pembongkaran dengan metode konservatif, meliputi :

Penggunaan crown retractor


Pemakaian crown remover/crown tracker/crown retractor sering dipakai untuk membongkar gigi
tiruan jembatan, tetapi alat harus diletakkan dengan cermat dan pada lokasi yang tepat untuk
menghindari fraktur maupun rusaknya restorasi.

- Crown Removers Back Action


Bila hanya menggunakan satu crown retractor, gunakan secara bergantian di masing-masing
retainer. Arahkan alat sejajar sumbu gigi, fiksasi alat dan gigi dengan telunjuk dan ibu jari.

51
- Crown Removers Spring-Activated (Sliding Hammer)
Prinsip utama sliding hammer adalah memilih tip yang sesuai dengan margin mahkota gigi tiruan
lalu beban diluncurkan sepanjang poros untuk melonggarkan restorasi. Teknik ini mungkin dapat
membuat pasien merasa tidak nyaman. Teknik ini juga tidak diindikasikan untuk pasien dengan
masalah periodontal yang melibatkan gigi karena gigi ditakutkan ikut terekstraksi. Kerusakan
margin pada gigi tiruan porselen juga mungkin terjadi.

Crown Removers Spring-Activated (Sliding Hammer) (Sumber gambar: http://www.medicinaoral.com/odo/volumenes/v4i3/jcedv4i3p167.pdf)

- Removal Devices : P.Y. Pliers.

Removal Devices: P.Y. Pliers. (Sumber gambar: Rosenstiel SF, Land MF, Fujimoto J. Contemporary fixed prostodontics,
4th Ed. St. Louis. 2006)

Alat ini didesain khusus untuk memegang mahkota tiruan atau partial fixed dental prosthesis
(FDP) dengan rubber grips dan pins yang tajam dan kecil. Alat ini juga dilengkapi dengan
powder ampelas agar pelepasan gigi tiruan tidak menimbulkan kerusakan. Alat ini efektif

52
terutama untuk melepas mahkota tiruan sementara, mahkota tiruan yang sudah disemen
permanen, atau mahkota tiruan yang sulit dilepas pada saat try in. Soft grip pada alat ini
mencegah kerusakan pada margin mahkota tiruan porselen.

Removal Devices: Easy Pneumatic C&B Remover II

Removal Devices: Easy Pneumatic C&B Remover II (Sumber


gambar: Rosenstiel SF, Land MF, Fujimoto J. Contemporary
fixed prostodontics, 4th Ed. St. Louis. 2006)

Alat ini menggunakan kompresi udara untuk memberikan gaya yang dapat melepas gigi tiruan
dan dapat dikendalikan dan disesuaikan.

Penggunaan brass ligature wire


Cara ini dapat dipakai, karena tidak merusak marginal
retainer seperti pada penggunaan crown retractor. Bibir dan
mukosa harus dilindungi dari kemungkinan luka. Wire
diletakkan pada dua konektor sehingga mencegah timbulnya
daya ungkit.

Menggunakan Richwil Crown and Bridge Remover


Pertama-tama, adhesive resin yang berbentuk tablet dilunakkan denga cara direndam di dalam
air selama 1-2 menit, lalu instruksikan pasien untuk menggigitnya. Saat pasien membuka mulut,
crown akan ikut terangkat. Hal ini harus dilakukan dengan hati-hati untuk mencegah terlepasnya
restorasi pada rahang antagonisnya.

53
Membuka gigi tiruan jembatan dengan Richwil Crown and Bridge Remover (Rosenstiel SF, Land MF, Fujimoto J.
Contemporary fixed prostodontics, 4th Ed. St. Louis. 2006.)

Menggunakan CORONAFlex Crown Remover


Sama seperti crown remover pada umumnya. Terdiri dari loop, holder, caliper, dan penjepit untuk
membuka mahkota tiruan tunggal. Penjepit (adhesive clamp) terpasang dengan autopolymerizing
resin untuk mengangkat mahkota tiruan tunggal tersebut.
KaVo CORONAflex merupakan alat yang digerakkan dengan kekuatan udara (air-driven) yang
tersambung dengan alat standar. Cara kerjanya :
1. Berikan guncangan (shock) beramplitudo rendah dan terkontrol pada tip-nya.
2. Terdapat pula loop yang sama seperti brass ligature wire yang diletakkan pada kedua
konektor sehingga mencegah timbulnya daya ungkit, lalu tip dari KaVo CORONAflex
diletakkan pada bar penghubung loop tersebut (gambar B).
3. KaVo CORONAflex lalu diaktifkan dengan memindahkan jari pada katup udara di handpiece.
4. KaVo CORONAflex juga dilengkapi dengan clamps yang dapat menempel pada mahkota
tiruan dengan resin autopolimerisasi; saat shock diberikan melalui clamp maka terjadi gaya
yang melepas gigi tiruan (gambar C)

54
Membuka gigi tiruan jembatan dengan CoronaFlex Crown Remover (Rosenstiel SF, Land MF, Fujimoto J. Contemporary
fixed prostodontics, 4th Ed. St. Louis. 2006.)

Cara pembongkaran dengan metode semi konservatif


Pembongkaran gigi tiruan jembatan tanpa merusaknya belum tentu berhasil. Penggunaan alat-alat
pelepas gigi tiruan juga mungkin dapat membuat pasien menjadi tidak nyaman. Teknik semi-
konservatif dilakukan pada kasus dimana kerusakan minor dilakukan untuk melepas gigi tiruan.
Keuntungannya : aplikasi dari gaya yang melepas restorasi (dislodging force) dapat lebih dikontrol
dan minim trauma.

Wamkeys
Wamkeys adalah alat narrow-shanked cam sederhana yang tersedia dalam tiga ukuran.
1. Awalnya, dokter gigi harus membuat lubang pada bagian labial mahkota tiruan atau retainer
yang sejajar dengan permukaan oklusal dan setinggi permukaan inti (core) atau gigi
penjangkaran di dalamnya.

55
2. Kemudian Wamkey yang ukurannya sesuai dimasukkan ke dalam mahkota tiruan melalui lubang
tersebut lalu diputar 90o.
3. Gaya yang dihasilkan harus berada di path of insertion dari mahkota tiruan ataupun retainer
sehingga dapat dengan mudah dilepas. Hal yang penting untuk diperhatikan adalah
menentukan lokasi dari lubang yang dibuat, karena sulit untuk memperkirakan lokasi di antara
permukaan oklusal dan inti atau gigi penjangkaran di dalamnya.
4. Selanjutnya, restorasi yang tadi dilubangi dapat disementasi ulang dan lubangnya diisi dengan
plastic filling material.

Wankeys (Sumber gambar :


http://www.medicinaoral.com/odo/volumenes/v4i3/jcedv4i3p167.pdf)

Video : https://www.youtube.com/watch?v=-7DnP7qStkk

Metalift System
Sistem ini didasari dengan prinsip jack-screw.
1. Awalnya, sebuah permukaan oklusal dibur untuk membuat sebuah lubang yang presisi pada
kedua retainer dari gigi tiruan jembatan.
2. Alat Metalift kemudian dimasukkan ke dalam lubang tersebut dengan gerakan memutar, saat
alat Metalift sudah berkontak dengan inti atau gigi penjangkaran, gerakan memutar tetap
dilanjutkan sehingga menghasilkan jacking force yang melepas gigi tiruan.
3. Gigi tiruan jembatan metal porselen dapat dilepas menggunakan sistem ini. Hal yang penting
untuk diperhatikan adalah porselen yang diambil harus cukup untuk menghindari fraktur.
Selanjutnya, restorasi yang tadi dilubangi diperbaiki dengan plastic filling material.

56
Metalift system (Rosenstiel SF, Land MF, Fujimoto J. Contemporary fixed prostodontics, 4th Ed. St.
Louis. 2006)
Video : https://www.youtube.com/watch?v=1yWyCSzEDnI

57
Cara pembongkaran dengan metode destruktif :

Sectioning
Cara ini merupakan yang termudah untuk melepas gigi tiruan jembatan :
1. Dengan cara memotong/memisahkan gigi tiruan dengan disc atau pointed tapered bur menjadi
2 bagian
2. Kemudian membelah retainer dengan pointed tapered bur
3. Setelah itu retainer dipisahkan dari semen dan gigi penyangga dengan cara mengungkit dengan
instrumen yang kecil (excavator)
4. Baru dilepas dengan crown retractor
5. Setelah memisahkan gigi tiruan jembatan menjadi 2 bagian atau lebih, bagian-bagian tersebut
dilepas dengan straight chisel.
6. Cara ini diterapkan untuk membuka
mahkota tiruan penuh yang rusak
sedangkan untuk mengeluarkan pasak inti
pada mahkota tiruan pasak diperlukan
alat Masserans kits.

Sectioning (Rosenstiel SF, Land MF, Fujimoto


J. Contemporary fixed prostodontics, 4th Ed.
St. Louis. 2006.)

58
PEMBAHASAN KASUS
Dibuat oleh Nadia Shabrina

Tahapan perawatan gigi tiruan cekat setelah tahap pencetakan :

1. Evaluasi pembuatan coping logam


Evaluasi kegagalan pada tahap laboratorium :
- Tahap pembuatan die
- Die spacer terlalu tebal
- Pembuatan pola malam
- Proses pengecoran

Evaluasi kegagalan pada tahap klinis :


- Preparasi (masih adanya undercut)
- Pencetakan
- Pengecoran model kerja

2. Pencobaan coping logam


Hal yang perlu dievaluasi :
- Kecekatan/fitness yang membentuk self retention
- Adaptasi marginal/servikal (menggunakan sonde halfmoon dari servikal ke insisal)
- Evaluasi titik kontak (coping metal tidak boleh mencapai titik kontak)
- Stabilitas dan adaptasi dimana kedudukan coping tidak goyang, berputar/terungkit pada gigi
penyangga
- Ketebalan dan bentuk coping (0,3-0,5 mm sehingga kuat namun estetis)
- Ketersediaan ruang untuk porselen (minimal 0,7 mm)

3. Pembuatan facing porcelain


Melalui tahapan :
Pembuatan 3 lapis tipe porcelain secara berurutan
1. Opaque porcelain (yang melapisi metal alloy)
2. Body /dentin porcelain (dapat dimodifikasi shade dan bentuk agar sesuai dan natural)
3. Incisal/enamel porcelain (dapat dimodifikasi shade dan bentuk agar sesuai dan natural)

59
Membuat karakterisasi gigi tiruan melalui internal characterization (staining), contouring, polishing
dan glazing

Evaluasi :
- Warna/shade : disesuaikan dengan gigi tetangga dan antagonis sekitarnya
- Bentuk/kontur : sesuai dengan anatomis gigi asli dan tidak over contour
- Adaptasi servikal : pastikan tidak ada daerah yang terbuka (open margin) dicek dengan
gerakan dari arah servikal ke oklusal/insisal menggunakan sonde halfmoon
- Titik kontak : evaluasi dengan dental floss/benang gigi, benang gigi harus dapat keluar dengan
sedikit tahanan pada titik kontak
- Oklusi dan artikulasi : kontak merata pada seluruh gigi geligi. Kontak saat beroklusi dan gerak
ke lateral sama seperti sebelum menggunakan gigi tiruan cekat

4. Sementasi sementara
Setelah didapatkan hasil gigi tiruan cekat yang sesuai, maka dilakukan sementasi sementara untuk
melihat adaptasi gigi tiruan dengan jaringan sekitar selama kurang lebih 1 minggu.
- Bahan yang dapat digunakan pada kasus : ZOnE karena tidak adanya eugenol bebas (free
eugenol) yang dapat bereaksi melunakkan resin sehingga merusak protesa/restorasi.
- Setelah dilakukan sementasi sementara, evaluasi kembali, pastikan tidak ada semen yang
tersisa di sekitar gigi penyangga dan/ atau pontik GTJ.

5. Sementasi tetap
Prosedur sementasi tetap melalui tahapan :
- Sebelum dilaukan sementasi tetap, evaluasi apakah ada keluhan dari pasien seperti rasa
sakit/ngilu, gangguan saat pengunyahan, keluhan bentuk dan warna dari gigi tiruan dan
evaluasi pemeriksaan klinis apakah terdapat kemerahan disekitar gingiva, kontak berlebihan
pada GTC, dll.
- Pembongkaran sementasi sementara, (untuk GTJ pastikan tidak ada semen berlebih yang
tersisa dengan meletakkan dental floss di sekitar konektor GTJ untuk membersihkan sisa semen
di sekitar gigi penyangga dan dasar pontik). Lalu mulai tahapan sementasi tetap.
- Bahan yang dapat digunakan pada kasus : Resin Ionomer (RM-GIC) dengan alasan sifat estetik
yang baik, dan perpaduan antara resin yang memiliki strength baik dan GIC yang memiliki
biokompabilitas baik.
- Setelah dilakukan sementasi tetap, evaluasi kembali protesa melalui segi anatomis, fungsional
dan estetis :

60
o Tidak ada semen berlebih yang tersisa di sekitar gigi/gigi penyangga dan/atau dasar
pontik GTJ
o Stabilitas restorasi
o Protesa tidak mengganggu oklusi (dari kontak proksimal dan integritas margin yang baik)
o Fungsi mastikasi, fonetik (berbicara) dan gerak artikulasi pada pasien

6. Kontrol periodik
Perawatan GTC memerlukan kontrol rutin untuk monitor keadaan gigi tiruan terjaga dengan baik

61