Anda di halaman 1dari 9

METODE PELAKSANAAN

Kegiatan : Peningkatan Jalan Kabupaten DAK (Luncuran)


Pekerjaan : Jl. Serindang Pelanjau (STA. 0+000 1+250) Kecamatan Tebas
Lokasi : Kecamatan Tebas
Kabupaten : Kabupaten Sambas

PEKERJAAN UMUM (PERSIAPAN)


Mobilisasi
a. Memobilisasi, staf inti dan pelaksana serta peralatan konstruksi .
b. Melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait didaerah dimana lokasi proyek berada,
khususnya dengan pihak kepolisian untuk menentukan waktu / jam kerja yang diijinkan dan
yang terbaik ditinjau dari segi kepadatan lalu lintas.
c. Menyiapkan peralatan komunikasi untuk petugas lapangan, agar dapat berkomunikasi dengan
base camp sehingga selalu terpantau kondisi kepadatan lalu lintas dilapangan.
d. Menyiapkan kantor lapangan dan fasilitas penunjang.
e. Melakukan pengukuran lapangan dan pembuatan shop drawings.
f. Melakukan dokumentasi (photo) pada kondisi progres nol persen.

Pengadaan dan Pemasangan Jembatan Darurat


Konstruksi jembatan darurat terdiri dari cerucuk / doken yang berfungsi untuk tiang dan gelegar,
serta papan kayu untuk lintasan roda. Untuk dimensi dan bentuk juga perlu dimintai persetujuan
dari Direksi Pekerjaan agar saat digunakan, jembatan darurat ini aman dan tidak membahayakan
bagi penggunanya.

DRAINASE
Galian untuk Drainase, Selokan dan Saluran Air (Manual)
Penggalian dikerjakan sesuai dengan Petunjuk Direksi dan Gambar Kerja. Penggalian dilakukan
dengan tenaga manusia menggunakan alat bantu. Material hasil galian dibuang/ditumpukan
disekitar badan jalan.
PEKERJAAN TANAH
Urugan Tanah Kong
- Timbunan harus ditempatkan ke permukaan yang telah disiapkan dan disebar dalam lapisan yang
merata yang setelah dipadatkan akan memenuhi toleransi tebal lapisan yang disyaratkan.
- Timbunan untuk batu kong disusun dalam lapisan yang merata yang setelah dipadatkan akan
memenuhi toleransi tebal lapisan yang disyaratkan. Bilamana timbunan terakhir yang akan dihampar
lebih 20 cm dan kurang dari 40 cm maka dibagi 2 sama tebalnya
Tanah timbunan diangkut langsung dari lokasi sumber bahan ke permukaan yang telah disiapkan pada
saat cuaca cerah. Penumpukan tanah di lokasi sumber ataupun di lokasi timbunan untuk persediaan
tidak diperkenankan, terutama selama musim hujan kecuali dengan perlindungan sehingga air hujan
tidak membasahi tumpukan tanah.
- Penimbunan dalam suatu lokasi (lot) dan pada satu lapis hanya boleh digunakan bahan tanah yang
berasal dari satusumber bahan dan yang seragam.
- Timbunan di atas selimut pasir atau bahan drainase porous, harus diperhatikan agar kedua bahan
tersebut tidak tercampur
- Segera setelah penempatan dan penghamparan timbunan, setiap lapis harus dipadatkan dengan
peralatan pemadat yang memadai dan disetujui Direksi Pekerjaan sampai mencapai kepadatan.
- Timbunan pada lokasi yang tidak dapat dicapai dengan peralatan pemadat mesin gilas, harus
dihampar dalam lapisan horizontal dengan tebal gembur tidak lebih dari 10 cm dan dipadatkan
dengan penumbuk loncat mekanis dengan berat kurang lebih 70 kg atau timbris (tamper) manual
dengan berat minimum 10 kg. Pemadatan di bawah maupun di tepi pipa harus mendapat perhatian
khusus untuk mencegah timbulnya rongga-rongga dan untuk menjamin bahwa pipa terdukung
sepenuhnya.

Urugan Pasir
- Pasir dihampar dengan peralatan yang sesuai dengan kondisi lapangan, dengan ketebalan sesuai
rencana;
- Pemadatan dengan cara penyiraman air, dilaksanakan sedemikian rupa sehingga lapisan pasir cukup
padat dan stabil. Selama proses pemadatan harus dilakukan kontrol ketebalan, sehingga ketebalan
lapisan pasir yang terpasang setelah dipadatkan sesuai dengan ketebalan rencana.
Perkuatan Tanah dengan Cerucuk
Galar cerucuk
- Meratakan tanah dasar, sedemikian rupa sehingga kedudukan cerucuk cukup stabil;
- Menyusun batang arah memanjang badan jalan pada posisinya dengan jumlah dan jarak sesuai
gambar rencana
- Menyusun batang arah melintang badan jalan di atas batang arah memanjang, disusun sedemikian
rupa sehingga susunan rapat;
- Memasang batang memanjang sebagai batang gapit di atas susunan batang melintang, dengan jumlah
sesuai gambar rencana diperkuat dengan paku atau tali, sehingga susunan galar cerucuk kokoh dan
stabil.

Tiang cerucuk
- Cerucuk diruncingkan pada bagian ujung yang akan ditanamkan ke dalam tanah;
- Cerucuk yang telah diruncingkan, diletakan pada posisinya dengan jarak antar cerucuk sesuai
ketentuan dalam gambar rencana
- Cerucuk dipancang dengan peralatan yang sesuai sampai kedalaman yang disyaratkan, pemancangan
dilakukan sedemikian rupa sehingga tiang terpasang tegak dengan jarak sesuai yang direncanakan;
- Setelah selesai dipancang, agar tidak tajam bagian atas cerucuk diratakan dengan cara memotong
bagian yang runcing dan pecah akibat pemancangan.

PELEBARAN PERKERASAN DAN BAHU JALAN

Bahu Jalan Timbunan Biasa

1. Pengangkutan Material / Bahan Timbunan :


Pengangkutan Material / Bahan Timbunan kelokasi pekerjaan menggunakan Dump Truck.
Pengecekan dan pencatatan volume material dilakukan saat penghamparan agar tidak terjadi
kelebihan material disatu tempat dan kekurangan material ditempat lain.
2. Penghamparan Material / Bahan Timbunan
Penghamparan material dilakukan dengan menggunakan motor grader, dalam tahap
penghamparan ini harus memperhatikan hal hal berikut :
a. Kondisi cuaca yang memungkinkan
b. Panjang hamparan pada setiap section yang didapatkan sesuai dengan kondisi lapangan.
Lebar penghamparan disesuaikan dengan kondisi lapangan dan tebal penghamparan sesuai
dengan spesifikasi, semua tahapan pekerjaan penghamparan dan tebal haparan
berdasarkan petunjuk dan persetujuan Direksi Pekerjaan.
c. Material yang tidak dipakai, dipisahkan dan ditempatkan pada lokasi yang ditetapkan.

3. Pemadatan Material
Pemadatan material dengan menggunakan Vibrator Roller, dimulai dari bagian tepi ke bagian
tengah. Timbunan di padatkan mulai dari tepi luar dan begerak menuju sumbu jalan. Selama
pemadatan, sekelompok pekerja akan merapikan tepi hamparan dan level permukaan dengan
menggunakan alat bantu.

PERKERASAN BERBUTIR
Lapis Pondasi Agregat Kelas B
- Wheel Loader mencampur dan memuat agregat ke dalam Dump Truck di Base Camp
- Dump Truck mengangkut agregat ke lokasi pekerjaan dan dihampar dengan Motor Grader.
- Hamparan Agregat dipadatkan dengan Vibrator Roller.
- Selama pemadatan sekelompok pekerja akan merapikan tepi hamparan dan level permukaan
dengan menggunakan alat bantu.

STRUKTUR
Baja Tulangan BJ24 Polos
1. Material baja tulangan yang telah disetujui akan disupply oleh supplier dan diterima dilokasi
base camp.
2. Baja tulangan U-24 akan distock dan dipisahkan sesuai ukuran.
3. Perakitan (cuting dan bending) akan dilakukan dengan menggunakan alat pemotong (bar
cutting) dan alat pembengkok (bar bending) sesuai ukuran yang ada di shop drawing yang
disetujui.
4. Baja tulangan yang telah dipotong dan dibentuk, kemudian diangkut kelokasi pekerjaan dan
dipasangan dengan menggunakan tenaga pekerja (manual).
Untuk menjaga mutu baja tulangan yang masih di stock di base camp, sebaiknya dilindungi dengan
penutup agar terhindar dari pengkaratan.
Pekerjaan Beton
1. Penyiapan Tempat Kerja
a. Seluruh dasar fondasi, fondasi dan galian untuk pekerjaan beton harus dijaga agar
senantiasa kering. Beton tidak boleh dicor di atas tanah yang berlumpur, bersampah atau di
dalam air. Apabila beton akan dicor di dalam air, maka harus dilakukan dengan cara dan
peralatan khusus untuk menutup kebocoran seperti pada dasar sumuran atau cofferdam
dan atas persetujuan Direksi Pekerjaan;
b. Sebelum pengecoran beton dimulai, seluruh acuan, tulangan dan benda lain yang harus
berada di dalam beton (seperti pipa atau selongsong) harus sudah dipasang dan diikat kuat
sehingga tidak bergeser pada saat pengecoran;
c. Direksi Pekerjaan akan memeriksa seluruh galian yang disiapkan untuk fondasi sebelum
menyetujui pemasangan acuan, baja tulangan atau pengecoran beton. Penyedia Jasa dapat
diminta untuk melaksanakan pengujian penetrasi kedalaman tanah keras, pengujian
kepadatan atau penyelidikan lainnya untuk memastikan cukup tidaknya daya dukung tanah
di bawah fondasi;
d. Bilamana dijumpai kondisi tanah dasar fondasi yang tidak memenuhi ketentuan, maka
Penyedia Jasa dapat diperintahkan untuk mengubah dimensi atau kedalaman fondasi
dan/atau menggali dan mengganti bahan di tempat yang lunak, memadatkan tanah fondasi
atau melakukan tindakan stabilisasi lainnya sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi
Pekerjaan;
e. Penyedia Jasa harus memastikan lokasi pengecoran bebas dari resiko terkena air hujan
dengan memasang tenda seperlunya. Direksi Pekerjaan berhak menunda pengecoran
sebelum tenda terpasang dengan benar. Penyedia Jasa juga harus memastikan lokasi
pengecoran bebas dari resiko terkena air pasang atau muka air tanah dengan penanganan
seperlunya.
2. Acuan
a. Bilamana disetujui oleh Direksi Pekerjaan, maka acuan dari tanah harus dibentuk dari
galian, dan sisi-sisi samping serta dasarnya harus dipangkas secara manual sesuai dimensi
yang diperlukan. Seluruh kotoran tanah yang lepas harus dibuang sebelum pengecoran
beton;
b. Acuan dibuat dari kayu atau baja dengan sambungan yang kedap dan kaku untuk
mempertahankan posisi yang diperlukan selama pengecoran, pemadatan dan perawatan;
c. Untuk permukaan akhir struktur yang tidak terekspos dapat digunakan kayu yang tidak
diserut permukaannya. Sedangkan untuk permukaan akhir yang terekspos harus digunakan
kayu yang mempunyai permukaan yang rata. Seluruh sudut-sudut tajam acuan harus
ditumpulkan;
d. Acuan harus dibuat sedemikian rupa sehingga dapat dibongkar tanpa merusak permukaan
beton dengan memberikan pelumas (oil form).
3. Pengecoran
a. Pelaksanaan Pengecoran
- Penyedia Jasa harus memberitahukan Direksi Pekerjaan paling sedikit 24 jam sebelum
memulai pengecoran beton, atau meneruskan pengecoran beton bilamana pengecoran
beton telah ditunda lebih dari 6 jam (final setting). Pemberitahuan harus meliputi
lokasi, kondisi pekerjaan, mutu beton dan tanggal serta waktu pencampuran beton;
- Walaupun persetujuan untuk memulai pengecoran sudah dikeluarkan, pengecoran
beton tidak boleh dilaksanakan bilamana Direksi Pekerjaan atau wakilnya tidak hadir
untuk menyaksikan operasi pencampuran dan pengecoran secara keseluruhan;
- Segera sebelum pengecoran beton dimulai, acuan harus dibasahi dengan air atau diolesi
pelumas di sisi dalamnya agar didapat kemudahan pembukaan acuan tanpa
menimbulkan kerusakan pada permukaan beton;
- Pengecoran beton ke dalam acuan harus selesai sebelum terjadinya pengikatan awal
beton, atau dalam waktu yang lebih pendek sebagaimana yang diperintahkan oleh
Direksi Pekerjaan berdasarkan pengamatan karakteristik waktu pengerasan (setting
time) semen yang digunakan, kecuali digunakan bahan tambahan untuk memperlambat
proses pengerasan (retarder) yang disetujui oleh Direksi Pekerjaan;
- Pengecoran beton harus berkesinambungan tanpa berhenti sampai dengan lokasi
sambungan pelaksanaan (construction joint) yang telah disetujui sebelumnya atau
sampai pekerjaan selesai;
- Pengecoran beton harus dilaksanakan sedemikian rupa sehingga tidak terjadi segregasi
antara agregat kasar dan agregat halus dari campuran. Beton harus dicor dalam cetakan
sedekat mungkin dengan yang dapat dicapai pada posisi akhir beton. Pengaliran beton
tidak boleh melampaui satu meter dari tempat awal pengecoran;
- Pengecoran beton ke dalam acuan struktur yang berbentuk rumit dan penulangan yang
rapat harus dilaksanakan secara lapis demi lapis dengan tebal yang tidak melampaui
150 mm. Untuk dinding beton, tebal lapis pengecoran dapat sampai 300 mm menerus
sepanjang seluruh keliling struktur;
- Tinggi jatuh bebas beton ke dalam cetakan tidak boleh lebih dari 1,5 m. Beton tidak
boleh dicor langsung ke dalam air. Bilamana beton dicor di dalam air dan tidak dapat
dilakukan pemompaan dalam waktu 48 jam setelah pengecoran, maka beton harus
dicor dengan metode tremi atau metode Drop-Bottom-Bucket, dimana pengggunaan
bentuk dan jenis yang khusus untuk tujuan ini harus disetujui terlebih dahulu oleh
Direksi Pekerjaan. Dalam hal pengecoran dibawah air dengan menggunakan beton
tremi maka campuran beton tremi tersebut harus dijaga sedemikian rupa agar
campuran tersebut mempunyai slump tertentu, kelecakan yang baik dan pengecoran
secara keseluruhan dari bagian dasar sampai atas tiang pancang selesai dalam masa
setting time beton. Untuk itu harus dilakukan campuran percobaan dengan
menggunakan bahan tambahan (retarder) untuk memperlambat pengikatan awal beton,
yang lamanya tergantung dari lokasi pengecoran beton, pemasangan dan penghentian
pipa tremi serta volume beton yang dicor. Pipa tremi dan sambungannya harus kedap
air dan mempunyai ukuran yang cukup sehingga memungkinkan beton mengalir
dengan baik. Tremi harus selalu terisi penuh selama pengecoran. Bilamana aliran beton
terhambat maka tremi harus ditarik sedikit keatas dan diisi penuh terlebih dahulu
sebelum pengecoran dilanjutkan. Baik tremi atau Drop-Bottom-Bucket harus
mengalirkan campuran beton di bawah permukaan beton yang telah dicor sebelumnya;
- Pengecoran harus dilakukan pada kecepatan sedemikian rupa hingga campuran beton
yang telah dicor masih plastis sehingga dapat menyatu dengan campuran beton yang
baru;
- Bidang-bidang beton lama yang akan disambung dengan beton baru yang akan dicor,
harus terlebih dahulu dikasarkan, dibersihkan dari bahan-bahan yang lepas dan rapuh
dan dilapisi dengan bonding agent yang disetujui oleh Direksi Pekerjaan.
- Dalam waktu 24 jam setelah pengecoran permukaan pekerjaan beton, tidak boleh ada
air yang mengalir di atasnya. Untuk perawatan dengan pemberian air di atas
permukaan, dapat dilakukan sebelum 24 jam setelah pengecoran dengan persetujuan
Direksi Pekerjaan;
4. Pemadatan
a. Beton harus dipadatkan dengan penggetar mekanis dari dalam atau dari luar acuan yang
telah disetujui. Bilamana diperlukan dan disetujui oleh Direksi Pekerjaan, penggetaran
harus disertai penusukan secara manual dengan alat yang cocok untuk menjamin
kepadatan yang tepat dan memadai. Alat penggetar tidak boleh digunakan untuk
memindahkan campuran beton dari satu titik ke titik lain di dalam acuan;
b. Pemadatan harus dilakukan secara hati-hati untuk memastikan semua sudut, diantara dan
sekitar besi tulangan benar-benar terisi tanpa menggeser tulangan sehingga setiap rongga
dan gelembung udara terisi;
c. Lama penggetaran harus dibatasi, agar tidak terjadi segregasi pada hasil pemadatan yang
diperlukan;
d. Alat penggetar mekanis dari luar harus mampu menghasilkan sekurang-kurangnya 5000
putaran per menit dengan berat efektif 0,25 kg, dan boleh diletakkan di atas acuan supaya
dapat menghasilkan getaran yang merata;
e. Posisi alat penggetar mekanis yang digunakan untuk memadatkan beton di dalam acuan
harus vertikal sedemikian hingga dapat melakukan penetrasi sampai kedalaman 100 mm
dari dasar beton yang baru dicor sehingga menghasilkan kepadatan yang menyeluruh pada
bagian tersebut. Apabila alat penggetar tersebut akan digunakan pada posisi yang lain
maka, alat tersebut harus ditarik secara perlahan dan dimasukkan kembali pada posisi lain
dengan jarak tidak lebih dari 450 mm. Alat penggetar tidak boleh berada pada suatu titik
lebih dari 15 detik atau permukaan beton sudah mengkilap;
5. Pengerjaan Akhir
a. Pembongkaran Acuan
- Acuan tidak boleh dibongkar dari bidang vertikal, dinding, kolom yang tipis dan
struktur yang sejenis lebih awal 30 jam setelah pengecoran beton tanpa mengabaikan
perawatan. Acuan yang ditopang oleh perancah di bawah pelat, balok, gelegar, atau
struktur busur, tidak boleh dibongkar hingga pengujian kuat tekan beton menunjukkan
paling sedikit 85% dari kekuatan rancangan beton;
- Untuk memungkinkan pengerjaan akhir, acuan yang digunakan untuk pekerjaan yang
diberi hiasan, tiang sandaran, tembok pengarah (parapet), dan permukaan vertikal yang
terekspos harus dibongkar dalam waktu paling sedikit 9 jam setelah pengecoran dan
tidak lebih dari 30 jam, tergantung pada keadaan cuaca dan tanpa mengabaikan
perawatan.
6. Perawatan Beton
1. Segera setelah pengecoran, beton harus dilindungi dari pengeringan dini, temperatur yang
terlalu panas, dan gangguan mekanis. Beton harus dijaga agar kehilangan kadar air yang
terjadi seminimal mungkin dan diperoleh temperatur yang relatif tetap dalam waktu yang
ditentukan untuk menjamin hidrasi yang sebagaimana mestinya pada semen dan
pengerasan beton;
2. Pekerjaan perawatan harus segera dimulai setelah beton mulai mengeras (sebelum terjadi
retak susut basah) dengan menyelimutinya dengan bahan yang dapat menyerap air.
Lembaran bahan penyerap air ini yang harus dibuat jenuh dalam waktu paling sedikit 7
hari. Untuk beton yang menggunakan fly Ash perawatan minimal 10 hari. Semua bahan
perawatan atau lembaran bahan penyerap air harus menempel pada permukaan yang
dirawat;
3. Permukaan beton yang digunakan langsung sebagai lapis aus harus dirawat setelah
permukaannya mulai mengeras (sebelum terjadi retak susut basah) dengan ditutupi oleh
lapisan pasir lembab setebal 50 mm paling sedikit selama 21 hari;
4. Beton semen yang mempunyai sifat kekuatan awal yang tinggi, harus dibasahi sampai kuat
tekannya mencapai 70% dari kekuatan rancangan beton berumur 28 hari.

Pembongkaran Box Culvert / Gorong - Gorong


Pembongkaran dikerjakan secara manual dengan menggunakan alat bantu. Pembongkaran
dilakukan sampai lokasi bekas box culvert / gorong gorong benar benar bebas dari bahan sisa.
Sisa material bongkaran disingkirkan pada lokasi yang telah ditentukan olek pengawas / Direksi.