Anda di halaman 1dari 14

FILSAFAT ILMU

ILMU SEBAGAI AKTIVITAS PENELITIAN

Nama Kelompok :
Akhmal Taufiqul Hakim (1605045004)
Debora Febrina Sinaga (1605045009)
Asmariyah Athaillah (1605045025)
Ayu Lestari (1605045066)

Kelas : Matematika A

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA


JURUSAN PENDIDIKAN MIPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MULAWARMAN
SAMARINDA
2017
KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, akhirnya


penyusun dapat menyelesaikan tugas ini, yang berjudul Ilmu Sebagai Aktivitas
Penelitian

Penyusun menyadari sepenuhnya bahwa tugas ini masih jauh dari


kesempurnaan dan masih banyak kekurangannya, hal ini dikarenakan keterbatasan
waktu, pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki penyusun, oleh karena itu
penyusun sangat mengharapkan adanya saran dan kritik yang sifatnya membangun
untuk perbaikan dimasa yang akan datang.

Pada kesempatan ini, penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua


pihak yang telah membantu terselesaikannya tugas ini, semoga Allah SWT,
membalas amal kebaikannya. Amin.

Dengan segala pengharapan dan doa semoga makalah ini dapat memberikan
manfaat bagi penyusun khususnya dan bagi pembaca umumnya.

Samarinda, 12 Oktober 2017

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

COVER ............................................................................................................... i

DAFTAR ISI ...................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah .......................................................................... 1

B. Rumusan Masalah ................................................................................... 2

C. Tujuan Penulisan ..................................................................................... 2

D. Manfaat Penulisan ................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Ilmu ....................................................................................... 3

B. Ilmu Sebagai Rangkaian Aktivitas ......................................................... 4

C. Tujuan Ilmu Menurut Para Ahli ............................................................. 5

D. Peran Ilmu Sebagai Aktivitas Penelitian ................................................ 6

E. Tahap-tahap Penelitian ............................................................................ 8

BAB KESIMPULAN

A. Simpulan................................................................................................ 10

B. Saran ...................................................................................................... 10

DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam hubungannya dengan dunia sekeliling, manusia menggunakan
berbagai cara untuk mengenal dan memahami fakta-fakta dan fenomena di
sekitarnya. Menurut Surajiyo, ada dua sarana yang digunakan manusia untuk
memahami dunia sekeliling, yaitu pengetahuan ilmiah (scientific knowledge)
dan penjelasan gaib (mystical explanation). Di satu pihak, manusia memiliki
sekelompok pengetahuan yang sistematis dengan berbagai hipotesis yang telah
dibuktikan kebenarannya secara sah, tetapi di pihak lain ada pula aneka
keterangan serba gaib yang tidak mungkin diuji sahnya untuk menjelaskan
rangkaian peristiwa yang masih berada di luar jangkauan pemahamannya
(Surajiyo, 2007:55).
Pengetahuan ilmiah sebagai aktivitas manusia, menurut The Liang Gie,
seperti dikutip Surajiyo (2007), harus mempunyai 5 ciri pokok, yaitu empiris,
sistematis, obyektif, analitis dan verifikatif. Empiris, pengetahuan itu diperoleh
berdasarkan pengamatan dan percobaan. Sistematis, berbagai keterangan dan
data yang tersusun sebagai kumpulan pengetahuan itu mempunyai hubungan
ketergantungan dan teratur. Analitis, pengetahuan ilmiah berusaha membeda-
bedakan pokok soalnya ke dalam bagian yang terperinci untuk memahami
berbagai sifat dan peranan dari bagian-bagian itu. Verifikatif, dapat diperiksa
kebenarannya oleh siapapun juga.
Dari uraian di atas dapat dijelaskan bahwa ilmu, baik sebagai proses
maupun sebagai produk mempunyai sistematika yang baku, teratur dan terukur,
meskipun tetap terbuka terhadap pengujian dan pencarian kebenaran
selanjutnya. Poedjawijatna berpandangan bahwa jika pengetahuan hendak
disebut ilmu, maka haruslah berobyektivitas, bermetodos, universal dan
bersistem. (1991 : 26).

1
Menjadi penting untuk dipelajari bahwa ilmu dalam hakekatnya
sebagai aktivitas penelitian, dapat menghasilkan pengetahuan yang sistematis
dengan tujuan memperoleh kebenaran dan pemahaman mengenai asal-muasal
berbagai gejala. Pemahaman - pemahaman yang benar tentang berbagai gejala,
tidak saja membawa kita pada pengenalan yang mendalam tentang hakekat
sesuatu tetapi juga akan bermanfaat bagi kehidupan manusia, terutama dalam
rangka memecahkan berbagai masalah yang dihadapi.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan ilmu?
2. Bagaimana ilmu sebagai rangkaian aktivitas?
3. Apa saja tujuan ilmu menurut para ahli?
4. Bagaimana peran ilmu sebagai aktivitas penelitian?
5. Apa saja tahap-tahap penelitian?

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan ilmu.
2. Untuk mengetahui bagaimana ilmu sebagai rangkaian aktivitas
3. Untuk mengetahui apa saja tujuan ilmu menurut para ahli.
4. Untuk mengetahui bagaimana peran ilmu sebagai aktivitas penelitian.
5. Untuk mengetahui apa saja tahap-tahap penelitian.

D. Manfaat Penulisan
1. Dapat mengetahui apa yang dimaksud dengan ilmu.
2. Dapat mengetahui bagaimana ilmu sebagai rangkaian aktivitas
3. Dapat mengetahui apa saja tujuan ilmu menurut para ahli.
4. Dapat mengetahui bagaimana peran ilmu sebagai aktivitas penelitian.
5. Dapat mengetahui apa saja tahap-tahap penelitian.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Ilmu
Dari pertumbuhan ilmu sejak zaman Yunani Kuno sampai abad modern
ini tampak nyata bahwa ilmu merupakan aktivitas manusia, suatu kegiatan
melakukan sesuatu yang dilaksanakan orang atau lebih tepat suatu rangkaian
aktivitas yang membentuk suatu proses.
Kata ilmu dalam bahasa Arab yaitu "ilm" yang berarti memahami,
mengerti, atau mengetahui. Secara sederhana ilmu adalah seluruh usaha sadar
untuk menyelidiki, menemukan dan meningkatkan pemahaman manusia dari
berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Segi-segi ini dibatasi agar
memperoleh rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan
membatasi lingkup pandangannya. Maksud dari kalimat diatas yaitu setiap
ilmu membatasi diri pada salah satu bidang kajian tertentu. Ilmu lebih
mengkhususkan diri pada kejelasan konsep yang dikajinya secara khusus, lebih
sempit dan mendalam. Hal ini untuk memudahkan para pencari ilmu dalam
memfokuskan diri dalam bidang yang dikaji.
Ilmu merupakan rangkaian aktivitas manusia yang rasional dan kognitif
dengan berbagai metode berupa aneka prosedur dan tata langkah sehingga
menghasilkan kumpulan pengetahuan yang sistematis mengenai gejala-gejala
kealaman, kemasyarakatan, atau keorangan untuk tujuan mencapai kebenaran,
memperoleh pemahaman, memberikan penjelasan, ataupun melakukan
penerapan.
Ada persyaratan ilmiah sesuatu dapat disebut suatu ilmu. Persyaratan
tersebut diantaranya:[1]
1. Objektif
Sesuatu dapat disebut ilmu jika sesuatu tersebut dicari dan diteliti secara
mendalam sehingga menghasilkan suatu keputusan yang kebenarannya
bersifat objektif dan dapat diterima oleh semua orang serta objek yang
ditelitinya nyata. Selain itu kebenarannya dapat diuji secara ilmiah. Jadi

3
bukan hanya kesimpulan yang diambil secara subjektif oleh peneliti atau
subjek penunjang penelitian saja.
2. Metodis
Metodis berasal dari bahasa Yunani yaitu metodos yang berarti cara
atau jalan. Dalam menentukan suatu ilmu, harus memiliki cara yang valid
dalam kemungkinan-kemungkinan adanya penyimpangan dalam ilmu yang
telah teruji kebenarannya tersebut. Secara umum metodis adalah metode
ilmiah untuk menguji kebenaran suatu ilmu.
3. Sistematis
Suatu ilmu harus bersifat sistematis. Hal ini dimaksudkan agar objek
dari suatu ilmu tersebut dapat terurai secara teratur dan logis sehingga
membentuk suatu sistem yang berarti secara utuh, menyeluruh, terpadu,
serta mampu menjelaskan rangkaian sebab akibat yang menyangkut objek
ilmu itu sendiri.
4. Universal
Jelas dalam menemukan suatu ilmu tertentu harus memiliki sifat
universal. Hal ini untuk menentukan ilmu tersebut dapat dipergunakan
secara luas atau tidak. Seperti ilmu matematika dan ilmu fisika yang
memiliki rumus-rumus yang valid sehingga dibelahan dunia manapun, ilmu
tersebut dapat digunakan dan dapat diterima secara luas.

B. Ilmu Sebagai Rangkaian Aktivitas


Ilmu secara nyata dan khas adalah suatu aktivitas manusiawi, yakni
perbuatan melakukan sesuatu yang dilakukan oleh manusia. Ilmu tidak hanya
satu aktivitas tunggal saja, melainkan suatu rangkaian aktivitas sehingga
merupakan sebuah proses. Rangkaian aktivitas itu bersifat rasional, kognitif,
dan teleologis.
Aktivitas rasional berarti kegiatan yang mempergunakan kemampuan
pikiran untuk menalar yang berbeda dengan aktivitas berdasarkan perasaan
atau naluri. Ilmu menampakkan diri sebagai kegiatan penalaran logis dari
pengamatan empiris.[2]

4
Berpangkal pada hasrat kognitif dan kebutuhan intelektualnya, manusia
melakukan rangkaian pemikiran dan kegiatan rasional yang selanjutnya
melahirkan ilmu. pemikiran rasional atau rasionalitas manusia merupakan
sumber utama dari ilmu. Yang dimaksud dengan pemikiran rasional (rational
thought) ialah pemikiran yang mematuhi kaidah-kaidah logika, baik logika
tradisional maupun logika modern. Misalnya kaidah pemikiran bahwa sesuatu
hal tidak dapat pada waktu yang bersamaan sekaligus adalah A dan non-A.
Sebagai contoh dalam ilmu tidak boleh dinyatakan bahwa matahari
bersinar dan sekaligus juga tak bersinar atau bahwa sebuah tabung hampa dan
pada saat yang bersamaan nonhampa (atau berisi).
Ilmu selain merupakan sebuah proses yang bersifat rasional dan
kognitif, juga bercorak teologis, yakni mengarah pada tujuan tertentu karena
para ilmuwan dalam melakukan aktivitas ilmiah mempunyai tujuan-tujuan
yang ingin dicapai. Ilmu melayani sesuatu tujuan tertentu yang diinginkan oleh
setiap ilmuwan. Dengan demikian, ilmu adalah aktivitas manusiawi yang
bertujuan. Tujuan ilmu itu dapat bermacam-macam sesuai dengan apa yang
diharapkan oleh masing-masing ilmuwan.

C. Tujuan Ilmu Menurut Para Ahli


Dalam arti umum, teleologi merupakan sebuah studi filosofis mengenai
bukti perencanaan, fungsi, atau tujuan di alam maupun dalam sejarah.Maka,
berdasarkan konsep di atas, jelaslah bahwa dengan kata teologi pada
serangkaian aktivitas tersebut menggagaskan bahwa ilmu merupakan
serangkaian aktivitas manusiawi yang memiliki tujuan tertentu. Tujuan apakah
itu, akan tergantung dari setiap aplikan ilmu. [3]
Corak teleologis dalam ilmu, mengarah pada tujuan tertentu karena
para ilmuan dalam melakukan aktivitas ilmiah mempunyai tujuan-tujuan yang
ingin dicapai. Ilmu melayani suatu tujuan tertentu yang diinginkan oleh setiap
ilmuwan. Dengan demikian, ilmu adalah aktivitas manusiawi yang bertujuan,
dan tujuan tersebut sesuai dengan masing-masing praktisi disiplin ilmu. Tujuan

5
ilmu itu dapat bermacam-macam sesuai dengan apa yang diharapkan oleh
masing-masing ilmuan.
Dalam hal ini terjadilah kejamakan dan keanekaragaman tujuan karena
masing-masing ilmuwan merumuskan suatu tujuan yang berbeda satu sama
lain. Pendapat-pendapat yang berlainan dari berbagai ilmuwan atau filsuf
tetnang ilmu tersebut dapat dikutipkan di bawah ini:
1. Pernyataan Robert Ackermann
Kadang-kadang dikatakan bahwa tujuan ilmu ialah mengendalikan alam,
dan kadang-kadang ialah untuk memahami alam.
2. Pernyataan Francois Bacon
Tujuan sah dan senyatanya dari ilmu-ilmu adalah sumbangan terhadap
hidup manusia dengan ciptaan-ciptaan baru dan kekayaan.
3. Pernyataan Jacob Bronowski
Tujuan ilmun ialah menemukan apa yang benar mengenai dunia
ini.Aktivitas ilmu diarahkan untuk mencari kebenaran, dan ini dinilai
dengan ukuran apakah benar terhadap fakta-fakta.
4. Pernyataan Mario Bunge
Pertama-tama, meningkatkan pengetahuan kita (tujuan intrinsik dan
kognitif); kelanjutannya, meningkatkan kesejahteraan dan kekuasaan kita
(tujuan ekstrinsik atau kemanfaatan).
5. Pernyataan Enrico Cantore
Tujuannya ialah menemukan struktur yang terpahami dari realitas yang
dapat diamati atau alam.

D. Peran Ilmu Sebagai Aktivitas Penelitian


Ilmu mempunyai peran yang cukup besar dalam sebuah penelitian yang
dilakukan oleh seseorang dalam eksperimennya. Melalui ilmu seseorang dapat
menyalurkan beberapa gagasan yang dapat digabungkan dengan kehidupan di
sekitarnya. Ilmu bersifat luas. Ilmu memiliki cakupan bidang yang sangat
sistematis. Banyak yang dapat kita pelajari melalui ilmu, seperti ilmu alam,

6
ilmu teknologi, ilmu sosial, ilmu budaya dan lain-lain. Masing-masing cakupan
ilmu memiliki karakter dan metode yang berbeda dalam penerapanya.
Ilmu harus diusahakan dengan aktivitas manusia, aktivitas itu harus
dilaksanakan dengan metode tertentu, dan akhirnya aktivitas metode itu
mendatangkan pengetahuan yang sistematis. Ilmu secara nyata dan khas adalah
suatu aktivitas manusiawi, yakni perbuatan melakukan sesuatu yang dilakukan
oleh manusia. Ilmu tidak hanya satu aktivitas tunggal saja, melainkan suatu
rangkaian aktivitas sehingga merupakan sebuah proses. Rangkaian aktivitas itu
bersifat rasional, kognitif, dan teologis. Aktivitas rasional berarti kegiatan yang
mempergunakan kemampuan pikiran untuk menalar yang berbeda dengan
aktivitas berdasarkan perasaan atau naluri. Ilmu menampakkan diri sebagai
kegiatan penalaran logis dari pengamatan empiris.[4]
Berpangkal pada hasrat kognitif dan kebutuhan intelektualnya, manusia
melakukan rangkaian pemikiran dan kegiatan rasional yang selanjutnya
melahirkan ilmu. Menurut Bernard Barber pemikiran rasional atau rasionalitas
manusia merupakan sumber utama dari ilmu. Dikatakannya bahwa benih
ilmu dalam masyarakat manusia terletak di dalam usaha manusia yang tak
henti-hentinya dan asli pembawaannya untuk memahami dan menguasai dunia
tempat ia hidup dengan menggunakan pemikiran dan aktivitas rasional. Ciri
penentu yang kedua dari kegiatan yang merupakan ilmu ialah sifat kognitif,
bertalian dengan hal mengetahui dan pengetahuan. Dijelaskannya lebih lanjut
demikian: Tujuan-tujuan terpenting ilmu bertalian dengan apa yang telah
dicirikan sebagai fungsi pengetahuan atau kognitif dari ilmu, dengan fungsi itu
ilmu memusatkan perhatian terkuat pada pemahaman kaidah-kaidah yang tak
diketahui sebelumnya dan baru atau pada penyempurnaan keadaan
pengetahuan dewasa ini mengenai kaidah-kaidah demikian itu. Jadi pada
dasarnya ilmu adalah proses yang bersifat kognitif, bertalian dengan proses
mengetahui dan pengetahuan. Proses kognitif adalah suatu rangkaian aktivitas
seperti pengenalan, pencerapan, pengkonsepsian, dan penalaran yang
dengannya manusia dapat mengetahui dan memperoleh pengetahuan akan
suatu hal.

7
Ilmu selain merupakan sebuah proses yang bersifat rasional dan
kognitif, juga bercorak teologis, yakni mengarah pada tujuan tertentu karena
para ilmuwan dalam melakukan aktivitas ilmiah mempunyai tujuan-tujuan
yang ingin dicapai. Ilmu melayani sesuatu tujuan tertentu yang diinginkan oleh
setiap ilmuwan. Dengan demikian, ilmu adalah aktivitas manusiawi yang
bertujuan.
Tujuan ilmu itu dapat bermacam-macam sesuai dengan apa yang
diharapkan oleh masing-masing ilmuwan. Rangkaian aktivitas pemikiran yang
rasional dan kognitif untuk menghasilkan pengetahuan, mencapai kebenaran,
memperoleh pemahaman, memberikan penjelasan, dan melakukan peramalan,
pengendalian, atau penerapan itu dilaksanakan oleh seseorang yang
digolongkan sebagai ilmuwan. Setiap ilmuwan sejati bertugas melakukan
penelitian dan mengembangkan ilmu.[5] Hal ini ditegaskan dalam The
International Encyclopedia of Higher Education yang mendefinisikan
ilmuwan sebagai seseorang yang melakukan penelitian ilmiah dan penelitian
ilmiah diartikan sebagai penelitian yang dilaksanakan untuk memajukan
pengetahuan. Ilmu sebagai aktivitas penelitian merupakan bagian dari kesatuan
proses ilmiah yang dialami manusia. rangkaian aktivitas tersebut bersifat
rasional, kognitif, dan teologi.
Aktivitas rasional berarti aktivitas yang mengaktifkan daya pikir /
penalaran logis dari kemampuan berpikir manusia. Sedangkan aktivitas
kognitif ini berpusat pada konsep-konsep pengetahuan yang belum pernah
dialami oleh manusia. Proses kognitif adalah suatu rangkaian aktivitas seperti
pengenalan, penerapan, pengkonsepsian, dan penalaran yang dengannya
manusia dapat mengetahui dan memperoleh pengetahuan akan suatu hal dan
ilmu sebagai aktivitas teologis berarti ilmu ada sebagai perwujudan dari tujuan-
tujuan tertentu. Yang mana para tokoh mencari ilmu untuk meraih tujuan-
tujuan mereka.

E. Tahap-tahap Penelitian

8
Penelitian yang menggunakan metode penelitian kualitatif dengan
pendekatan deskriptif dilaksanakan dengan tahapan-tahapan berikut :
1. Tahap orientasi
Dalam tahap ini, peneliti akan mengumpulkan data secara umum.
Orientasi bertujuan untuk mengetahui pemetaan masalah yang akan diteliti
sehingga jelas dan terarah. Hal ini dilakukan dengan wawancara dan
observasi secara umum dan terbuka untuk memperoleh informasi yang luas
tentang objek penelitian.
2. Tahap eksplorasi
Tahap ini dilakukan untuk mengumpulkan data yang lebih spesifik.
Observasi dilakukan pada hal-hal yang berhubungan dengan fokus
penelitian. Wawancara dilakukan lebih terstruktur dengan mendalam
sehingga informasi mendalam dan bermakna bisa diperoleh. Oleh karena
itu, diperlukan informasi yang berkepentingan dan mempunyai pengetahuan
yang cukup banyak tentang masalah penelitian itu sendiri.[6]
3. Tahap membercheck.
Dalam kegiatan wawancara dan pengamatan, data yang terkumpul
dicatat dan dibuat dalam bentuk laporan. Hasilnya dikemukakan untuk
dicek kebenarannya. Maksudnya setelah seluruh data yang diinginkan
berhasil dikumpulkan, kemudian dilakukan pengecekan dengan benar untuk
mencapai keabsahan serta relevansi data dengan permasalahan yang
diajukan sebelumnya. Agar hasil penelitiannya sahih (benar), membercheck
dilakukan setelah wawancara.

9
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Ilmu merupakan rangkaian aktivitas manusia yang rasional dan kognitif
dengan berbagai metode berupa aneka prosedur dan tata langkah sehingga
menghasilkan kumpulan pengetahuan yang sistematis. Ilmu secara nyata dan
khas adalah suatu aktivitas manusiawi, yakni perbuatan melakukan sesuatu
yang dilakukan oleh manusia.
Corak teleologis dalam ilmu, mengarah pada tujuan tertentu karena para
ilmuan dalam melakukan aktivitas ilmiah mempunyai tujuan-tujuan yang ingin
dicapai. Ilmu melayani suatu tujuan tertentu yang diinginkan oleh setiap
ilmuwan. Dengan demikian, ilmu adalah aktivitas manusiawi yang bertujuan,
dan tujuan tersebut sesuai dengan masing-masing praktisi disiplin ilmu.
Ilmu harus diusahakan dengan aktivitas manusia, aktivitas itu harus
dilaksanakan dengan metode tertentu, dan akhirnya aktivitas metode itu
mendatangkan pengetahuan yang sistematis. Penelitian yang menggunakan
metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif dilaksanakan dengan
tahap orientasi, eksplorasi, dan tahap membercheck.

B. Saran-saran
Ilmu itu penting, di segala aspek kehidupan kita membutuhkan ilmu.
Berpikirlah terbuka terhadap ilmu karena ilmu jalan hidup kita.

10
DAFTAR PUSTAKA

[1] The Liang Gie, Pengantar Filsafat Ilmu, (Jogjakarta: Liberti, 2000), hal.
84
[2] Yuyun Suriasumantri, Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar
Populer, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2007), hal. 143
[3] Soedarmo, Kamus Istilah Teologi, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2010),
hal. 17
[4] Ahmad Tafsir, Filsafat Ilmu: Mengurai Ontologi, Epistemologi dan
Aksiologi Pengetahuan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010), hal. 112
[5] Mohammad Adib, Filsafat Ilmu: Ontologi, Epistemologi, Aksiologi, dan
Logika Ilmu Pengetahuan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011), hal. 132
[6] Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 1, (Yogyakarta:
Kanisius, 1998), hal. 82.