Anda di halaman 1dari 22

CASE REPORT

DEMAM TIFOID

Disusun oleh:

Andre Vabiano

1261050053

Pembimbing :

dr. Keswari, Sp.A

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK

PERIODE 24 JULI 30 SEPTEMBER 2017

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA

JAKARTA
PENDAHULUAN

Demam tifoid merupakan demam lebih dari 7 hari akibat infeksi sistemik yang bersifat
akut dan disebabkan oleh Salmonella typhi. Salmonella enterica serovar paratyphi A, B, dan C
juga dapat menyebabkan infeksi yang disebut demam paratifoid.1 Demam tifoid termasuk dalam
demam enterik. Diperkirakan demam tifoid menyebabkan 21,6 juta kasus dengan 216.500
kematian pada tahun 2000.1 Insidens demam tifoid yang tinggi ditemukan di Asia Tenggara,
Asia Tengah dan Selatan serta Afrika Selatan yaitu >100 kasus per 100.000 populasi per tahun.1
Di Indonesia, insidens demam tifoid sering pada usia 3-19 tahun. Faktor lain yang dapat
menyebabkan demam tifoid adalah kurang menjaga kebersihan di lingkungan tempat tinggal,
seperti tidak menggunakan sabun ketika mencuci tangan dan tidak tersedianya sarana untuk
buang air besar di rumah. Manusia adalah pejamu dan reservoir untuk Salmonella typhi.
Salmonella typhi dapat hidup di air tanah, air kolam, atau air laut selama berhari-hari. Salmonella
typhi merupakan bakteri gram negatif yang mempunyai flagel, tidak berkapsul, tidak membentuk
spora, dan fakultatif anaerob.2 Salmonella typhi memiliki antigen O yang terdiri dari
oligosakarida dan antigen H yang terdapat pada flagel.2
BAB I

LAPORAN KASUS

I. Identitas Pasien

MR No. : 00-08-79-28
Nama : An. M .B
Tanggal lahir : 1 Mei 2016
Usia : 1 tahun 2 bulan
Jenis kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Pendidikan :-
Alamat : Jl.Squadran gang Ahmad RT 15/03, Kec. Makasar, Jakarta Timur
Tanggal datang : 28/7/2017

II. Anamnesis

Anamnesis dilakukan secara alloanamnesis dengan ibu kandung pasien, di bangsal A


ruang observasi RSU UKI

-Keluhan utama : Demam sejak 7 hari SMRS

-Keluhan tambahan : Muntah. Nafsu makan menurun. Belum BAB 1 hari. pilek

-Riwayat perjalanan penyakit:

Pasien datang diantar oleh ibunya ke RS UKI dengan keluhan demam sejak kurang lebih
7 hari yang lalu. Demam yang dialami pasien berlangsung naik turun. Biasanya naik pada sore
dan malam hari dan ibu pasien belum mengukur suhu pasien. Demam tidak disertai menggigil
dan kejang. Ibu pasien mengatakan, pasien juga muntah lebih dari 5 kali. Yang dimuntahkan
pasien adalah makanananya tidak ada darah. Ibu pasien juga mengatakan, anaknya belum BAB
1 hari. Nafsu makan pasien juga menurun, biasanya pasien masih mau makan bubur dan minum
susu tetapi sekarang hanya mau minum susu saja. Lemas +. 2 hari sebelum masuk RS, keluhan
pilek muncul. Sebelumnya pasien sempat berobat ke klinik dan diberikan obat puyer untuk
penurun demam, demam sempat turun namun demam muncul lagi. Dan pasien suka mengemut
jari dan mainannya.

-Riwayat penyakit dahulu:

Pasien pernah mengalami kejang demam dan diare pada usia 10 bulan.

-Riwayat penyakit keluarga:

Keluarga pasien tidak pernah mengalami keluhan seperti ini sebelumnya. Keluarga pasien
tinggal di rumah kontrakan dan biasanya untuk keperluan minum dan mandi, membeli air galon
yang biasa lewat di depan rumah.

-Riwayat kelahiran:

Cara lahir : Partus Normal


Tempat lahir : Puskesmas
Ditolong oleh : Bidan
Masa gestasi : Cukup bulan
Berat lahir : 3500 gr
Panjang lahir : 49 cm
Lahir normal, langsung menangis, sianosis (-), kejang (-), Nilai APGAR: ibu pasien tidak
ingat.
Kelainan bawaan: Tidak ada

-Riwayat tumbuh kembang

o Pertumbuhan gigi pertama : 8 bulan


o Gangguan perkembangan mental : Tidak ada
o Psikomotor
o Tengkurap : 4 bulan
o Duduk : 6 bulan
o Berdiri : 9 bulan
o Berjalan : 12 bulan
o Berbicara : 12 bulan
o Membaca/menulis: -
Kesan: Pertumbuhan fisik dan mental anak (gerak kasar, halus, emosi, sosial, perilaku,
bicara) sesuai dengan usia.

-Riwayat imunisasi : Imunisasi dilaksanakan di puskesmas

Vaksin Dasar (Umur) Ulangan (Umur)

BCG 1 bulan

DPT / DT 2 bulan 3 bulan 4 bulan

POLIO 0 bulan 2 bulan 3,4 bulan

Campak 9 bulan

Hepatitis B 0 bulan 2 bulan 3,4 bulan

MMR -

TIPA -

Kesan : Imunisasi dasar sesuai dengan jadwal program imunisasi nasional 2016

-Riwayat makanan

0-6 bulan : pasien mendapatkan ASI eksklusif yang diberikan sesuai keinginan pasien
6-9 bulan : pasien masih mendapatkan ASI eksklusif dan bubur saring (wortel +ayam) 2x
sehari 1 mangkok kecil 10-15 suap sendok
12 bulan- sekarang : pasien masih mengosumsi susu formula 3x sehari 1 gelas kecil dan
nasi tim ( sayur+ ayam ) 2 kali sehari 2 mangkuk kecil dan kadang makan buah-buahan.
Kesan: pola makan sesuai dengan pertambahan usia kualitas dan kuantitas makanan
cukup.
III. Pemeriksaan Fisik

Keadaan Umum : Tampak sakit sedang


Kesadaran : Composmentis
Tekanan darah :-
Frekuensi nadi : 112 x/menit, teratur, kuat angkat, isi cukup.
Respiratory Rate : 22 x/menit
Suhu : 37,8 C

Data Antropometri

Berat Badan : 8,9 kg


Panjang Badan : 72 cm
Lingkar lengan atas : 14 cm

Menurut data WHO 2017

BB/U : hasil -1 SD
Kesan : normal
TB/U : hasil +2 SD
Kesan : perawakan tinggi
BMI : 8,9/(7,2)2 = 17,5 (hasil diantara -1 SD dan -2 SD)
Kesan : status gizi baik

Kepala

Kepala : Normocephali, lingkar kepala: 46cm.


Mata : Kelopak mata tampak cekung -/-, Sklera ikterik -/-,
konjungtiva anemis -/-
Telinga : Normotia, lapang+/+, Serumen -/-, sekret -/-
Hidung : Pernafasan cuping hidung (-), cavum nasi lapang+/+,epistaksis -,
sekret -/-
Mulut : Sianosis orofasial (-)

Bibir : Mukosa kering (-), sianosis (-)


Gigi Geligi : Belum ada
Lidah : Letak di tengah, lidah kotor (-)
Tonsil : T1-T1, tenang
Faring : Faring hiperemis (-)

Leher : Tidak ada pembesaran KGB

Thoraks

Inspeksi : Pergerakan dinding dada simetris, retraksi sela iga (-)


Palpasi : Vokal fremitus simetris
Perkusi : Sonor/sonor
Auskultasi : Bunyi nafas dasar vesikuler, Rhonki -/-, Wheezing -/-, Bunyi
jantung I dan II normal, gallop-, murmur-
Abdomen
Inspeksi : Perut tampak datar
Auskultasi : BU + 5x/menit
Perkusi : Timpani, nyeri ketok (-)
Palpasi : Nyeri tekan (-), supel, hepar dan lien tidak teraba

Ekstremitas Kiri Kanan


Atas : akral hangat akral hangat
crt < 2 crt < 2
Bawah : akral hangat akral hangat
crt < 2 crt < 2

IV. Pemeriksaan Penunjang

Hematologi Nilai Normal

Hb : 12,3 g/dl Hb : 10,5 12 g/dl


Leukosit : 8,4 ribu/uL Leukosit : 6-17 ribu/uL
Ht : 36,9 % Ht : 33 36 %
Trombosit : 357 ribu/uL Trombosit : 150 300 ribu/uL
Imunologi
Widal
S.Typhose H : +1/160
S.Paratyphi A H : negatif
S.Paratyphi B H : negatif
S.Paratyphi C H : +1/160
S.Typhosa O : +1/320
S.Paratyphi A O : +1/160
S.Paratyphi B O : negatif
S.Paratyphi C O : +1/80

V. Diagnosis Kerja

Diagnosis kerja : Demam tifoid.

VI. Penatalaksanaan:
Diet : Lunak
IVFD : KAEN 3A 10 TPM/24 jam (makro)
Mm/

Ceftriaxone 500mg 1x1 (IV)

Ranitidine 10mg 2x1 (IV)

Paracetamol syr 4x1 cth (PO)

VII. Prognosis

Ad Vitam : Bonam
Ad Fungsionam : Bonam
Ad Sanationam : Dubia ad bonam
FOLLOW UP

29 Juli 2017

PH= 1 PP= 2

BB= 8,9 kg

Subjek :

Semalam demam dengan suhu 38oC, setelah diberikan paracetamol demam pasien turun, belum
mau makan bubur hanya mau minum ASI.

Keadaan Umum : Tampak sakit sedang


Kesadaran : Composmentis
Tekanan darah :-
Frekuensi nadi : 98 x/menit, kuat angkat, isi cukup, teratur
Frekuensi nafas : 28 x/menit
Kepala : Normocephali (lingkar kepala : 46 cm)
Mata : Kelopak mata tampak cekung -/-, Sklera ikterik -/-,
konjungtiva anemis -/-.
Telinga : Normotia, lapang+/+, Serumen -/-, sekret -/-
Hidung : Pernafasan cuping hidung (-), cavum nasi lapang +/+, epistaksis
(-), sekret -/-
Mulut : Sianosis orofasial (-)

Bibir : Mukosa kering (-), sianosis (-)


Gigi Geligi : Belum ada
Lidah : Letak di tengah, lidah kotor (+)
Tonsil : T1-T1, tidak hiperemis
Faring : Faring hiperemis (-)
Leher : Tidak ada pembesaran KGB

Thoraks

Inspeksi : Pergerakan dinding dada simetris, retraksi sela iga (-)


Palpasi : Vokal fremitus simetris
Perkusi : Sonor/sonor
Auskultasi : Bunyi nafas dasar vesikuler, Rhonki -/-, Wheezing -/-, Bunyi
jantung I dan II normal, gallop-, murmur-
Abdomen
Inspeksi : Perut tampak datar
Auskultasi : BU + 5x/menit
Perkusi : Timpani, nyeri ketok (-)
Palpasi : Nyeri tekan (-), supel, hepar dan lien tidak teraba

Ekstremitas Kiri Kanan


Atas : akral hangat akral hangat
CRT < 2 detik CRT < 2 detik
Bawah : akral hangat akral hangat
CRT < 2 detik CRT < 2
Pemeriksaan Laboratorium
Na : 140
K : 3,7
Cl : 110
Hemoglobin : 12,3 L
Leukosit : 15,5 H
Hematokrit : 39,4
Trombosit : 349

Imunologi
Widal
S.Typhose H : +1/160
S.Paratyphi A H : negatif
S.Paratyphi B H : negatif
S.Paratyphi C H : +1/160
S.Typhosa O : +1/320
S.Paratyphi A O : +1/160
S.Paratyphi B O : negatif
S.Paratyphi C O : +1/80

Diagnosis kerja : Demam Tifoid

Penatalaksanaan
o Rawat inap
o Diet : Bubur saring/susu
o IVFD : KAEN 3A 10 TPM/24 jam (makro)
o Mm/
Inj ceftriaxone 1x500mg (IV)
Ranitidine 2x10mg
PCT syr 3x1 cth (PO)
Ambroxol 0,5mg/KgBB/kali 3x1
30 Juli 2017

PH= 2 PP= 3

BB= 8,9 kg

Subjek :

Aktif Pasif

Makan dan minum sedikit Demam

Muntah

Lemas

Keadaan Umum : Tampak sakit sedang


Kesadaran : Composmentis
Tekanan darah :-
Frekuensi nadi : 98 x/menit, kuat angkat, isi cukup, teratur
Frekuensi nafas : 28 x/menit
Suhu : 36,4 C

Kepala : Normocephali, rambut tumbuh merata,


tidak mudah dicabut, ubun-ubun tidak cekung

Mata : Kelopak mata tampak cekung -/-, Sklera ikterik -/-,


konjungtiva anemis -/-, air mata (+/+)
Telinga : Normotia, lapang+/+, Serumen -/-, sekret -/-
Hidung : Pernafasan cuping hidung (-), cavum nasi lapang+/+ epistaksis
(-), sekret -/-
Mulut : Sianosis orofasial (-)

Bibir : Mukosa kering (-), sianosis (-)


Gigi Geligi : Belum ada
Lidah : Letak di tengah, lidah kotor (+)
Tonsil : T1-T1, tenang
Faring : Faring hiperemis (-)

Leher : Tidak ada pembesaran KGB

Thoraks

Inspeksi : Pergerakan dinding dada simetris, retraksi sela iga (-)


Palpasi : Vokal fremitus simetris
Perkusi : Sonor/sonor
Auskultasi : Bunyi nafas dasar vesikuler, Rhonki -/-, Wheezing -/-, Bunyi
jantung I dan II normal, gallop-, murmur-
Abdomen
Inspeksi : Perut tampak datar
Auskultasi : BU + 8x/menit
Perkusi : Hipertimpani, nyeri ketok (-)
Palpasi : Nyeri tekan (-), supel, hepar dan lien tidak teraba

Ekstremitas Kiri Kanan


Atas : akral hangat akral hangat
crt < 2 detik crt < 2 detik
Bawah : akral hangat akral hangat
crt < 2 detik crt < 2 detik
Diagnosis kerja : Febris Thypoid
Penatalaksanaan
Rawat inap
Diet : Bubur saring/susu
IVFD : KAEN 3A 10 TPM/24 jam (makro)
Mm/
Inj ceftriaxone 1x500mg (IV)
Ranitidine 2x10mg
PCT syr 3x1 cth (PO)
Ambroxol 0,5mg/KgBB/kali 3x1
BAB II

ANALISA KASUS

Dari anamnesis :

Pasien datang dengan keluhan demam sejak 7 hari yang lalu, demam naik turun, biasanya
naik pada malam hari. Demam tidak disertai menggigil dan kejang. Selain demam pasien juga
muntah, lebih sering BAB daripada biasanya, dan lemas. Pasien muntah lebih dari 5 kali, yang
dimuntahkan adalah makanan yang di makan. Pasien belum bab selama 1 hari. Nafsu makan
pasien juga menurun. Pasien juga mengeluh pilek dan pasien biasa suka mengemut jari dan
mainannya. Dari pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang didapatkan:

Pemeriksaan fisik

Keadaan Umum : Tampak sakit sedang (tampak lemas)

Kesadaran : Composmentis (kontak mata+)

Tekanan darah :-

Frekuensi nadi : 112 x/menit, teratur,kuat angkat, isi cukup.

Frekuensi nafas : 22 x/menit

Suhu : 37,8 C

Kepala : Dalam batas normal

Mata : Dalam batas normal

Hidung : Sekret +

Mulut : Coated tounge +

Thorax : Dalam batas normal

Abdomen : Bising usus (5x/menit), timpani, turgor kulit baik

Ekstremitas : Dalam batas normal


Pemeriksaan Penunjang

Hematologi Nilai Normal

Hb : 12,3 g/dl Hb : 10,5 12 g/dl


Leukosit : 8,4 ribu/uL Leukosit : 6-17 ribu/uL
Ht : 36,9 % Ht : 33 36 %
Trombosit : 357 ribu/uL Trombosit : 150 300 ribu/uL
Imunologi
Widal
S.Typhose H : +1/160
S.Paratyphi A H : negatif
S.Paratyphi B H : negatif
S.Paratyphi C H : +1/160
S.Typhosa O : +1/320
S.Paratyphi A O : +1/160
S.Paratyphi B O : negatif
S.Paratyphi C O : +1/80

Dari anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang didapatkan diagnosis


kerja demam tifoid. Disebut demam tifoid karena terdapat demam yang naik secara bertahap dan
anak tampak lemas. Dan di dapatkan lidah typoid. Disebut demam tifoid karena terdapat demam
yang naik secara bertahap dan anak tampak lemas. Dari pemeriksaan penunjang berupa
pemeriksaan serologi didapatkan S .typhosa titer H + (1/60), S. paratyphi C H + (1/60), dan S.
paratyphi C O + (1/320).
Tabel 1. Sensitivitas pemeriksaan typoid4
Tabel 2. Gejala Klinis Demam Tifoid.

Gejala Klinis

Anamnesis Pemeriksaan fisik

Demam naik secara bertahap tiap hari, suhu Kesadaran menurun (bila demam tifoid berat)
tertinggi pada akhir minggu pertama

Mengigau Lidah Tifoid, di bagian tengah kotor dan di


bagian pinggir hiperemis

Malaise, Letargi, Anoreksia Hepatomegali

Nyeri Kepala Kadang terdengar bunyi ronkhi

Nyeri Perut, konstipasi, muntah, perut


kembung

Pada saat di Instalasi Gwat Darurat, pasien dianjurkan untuk dirawat inap dan diberikan
tatalaksana yaitu berupa diet lunak, terapi cairan KAEN 3A 10 tetes per menit dalam 24 jam,
diberikan terapi berupa injeksi Ceftriaxone 1x500mg (injeksi), Ranitidine 2x10mg (injeksi),
Paracetamol syrup 4x1 sendok teh (oral), dan Ambroxol syrup 3x1 sendok teh (oral). Pada hari
berikutnya (hari perawatan kedua), pasien masih diberikan diet lunak berupa bubur saring atau
susu, diberikan cairan KAEN 3A 10 tetes per menit selama 24 jam, diberikan terapi berupa
ceftriaxone 1x00mg (injeksi), ranitidine 2x10mg (injeksi), PCT syrup 3x1 sendok teh (oral), dan
Ambroxol 0,5mg/kgBB/kali sebanyak 3 kali 1 perhari.

Tatalaksana untuk pasien dengan demam tifoid adalah dengan tirah baring di rumah
disertai dengan pemenuhan kebutuhan cairan dan nutrisi pasien serta pemberian antibiotik.
Namun, pada kasus berat, pasien harus dirawat di rumah sakit dengan tujuan untuk observasi
pasien lebih lanjut. Terapi antibiotik merupakan terapi utama karena penyebab dari demam tifoid
merupakan bakteri yaitu Salmonella typhi. Pemberian kloramfenikol dengan dosis
100mg/kgBB/hari yang dibagi dalam 4 kali pemberian selama 10-14 hari atau 5-7 hari setelah
demam turun. Antibiotik berikutnya yang dapat menjadi pilihan adalah ampisilin, namun respon
yang diberikan ampisilin tidak sebaik kloramfenikol. Ampisilin diberikan dengan dosis anjuran
200mg/kgBB/hari dan diberikan sebanyak 4 kali dalam sehari. Pilihan antibiotik berikutnya
adalah amoksisilin 100mg/kgBB/hari dibagi dalam 4x pemberian oral. Kombinasi Trimethoprim
sulfametoksazol (TMP SMZ) : TMP 10mg/kgBB/ hari atau SMZ 50mg/kgBB dibagi dalam 2
dosis. Antibiotik golongan sefalosporin yaitu Seftriakson juga dapat diberikan sebanyak
100mg/kgBB/hari dibagi menjadi 1-2 dosis dengan maksimal pemberian 4gram per hari. Pilihan
terakhir dapat berupa Cefixime oral 10 15mg/kgBB/hari selama 10 hari. Pada kasus demam
tifoid yang berat pasien dapat mengalami keadaan delirium. Oleh karena itu, diberikan
deksametason secara intravena dengan dosis 3mg/kgBB diberikan dalam 30 menit pada dosis
awal dan dilanjutkan dengan 1mg/kgBB tiap 6 jam sampai 48 jam. Untuk pasien dengan penyulit
seperti perdarahan usus dapat diberikan transfusi darah. Sebagai pencegahan terhadap demam
tifoid maka diberikan edukasi kepada keluarga pasien untuk memperhatikan kualitas makanan
dan minuman yang dikonsumsi serta lebih menjaga kebersihan diri dan lingkungan pasien.

Prognosis pada pasien dengan demam tifoid tergantung pada ketepatan terapi, keadaan
kesehatan pasien, serta ada atau tidaknya komplikasi pada pasien.
Tabel 3. Pengobatan antibiotic typoid.4
Tabel 4. Pengobatan antibiotic typoid.4
DAFTAR PUSTAKA

1. Nelwan,RHH. Tata Laksana Terkini Demam Tifoid. CDK -192 Vol.39(4).


2012.(Diunduh dari
http://www.kalbemed.com/Portals/6/05_192CME_1%20Tata%20Laksana%20Terkini%2
0Demam%20Tifoid.pdf pada tanggal 31 Juli 2017)
2. Soedatmo, Sumarmo S, Gama,Herry,Hadinegoro,Sri,Satari,Hindra. Buku Ajar Infeksi
dan Pediatri Tropis. Edisi Kedua. UKK Infeksi&Penyakit Tropis IDAI. 2015. Hal.338-
345
3. Pudjiadi, Antonius H., Hegar,Badriul, Handyastuti,Setyo. Pedoman Pelayanan Medis
Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta:2009 (diunduh dari:
http://www.idai.or.id/downloads/PPM/Buku-PPM.pdf pada tanggal 31 Juli 2017) hal. 47-
50.
4. FKUI. Update Management of Infectios Deseases and Gastrointestinal Disoder. Buku
ajar fkui ikatan anak indonesia.2012.hal 5