Anda di halaman 1dari 15

BAB 16

AKTIVA LANCAR

TINJAUAN UMUM
Pengantar
Pada bab ini akan membahas mengenai kategori-kategori spesifik aktiva, yang
membahas tentang aktiva lancar dan investasi yang tidak memberi investor kendali
atas investee.
Aktiva Lancar Moneter
Aktiva Lancar Moneter adalah klaim atas jumlah dolar tertentu yang akan
direalisasi dalam siklus operasi atau dalam satu tahun, mana yang lebih panjang.
Kategori ini mencakup kas, piutang kas, serta wesel tagih.
Aktiva Lancar Nonmoneter
Aktiva Lncar Nonmoneter adalah klaim yang tidak dapat dikonversi menjadi
jumlah dolar tertentu yang sudah diketahui saat ini. Kategori ini mencakup sekuritas
sekuritas yang dapat dipasarkan, pos-pos yang dibayar dimuka, serta persediaan.

I. AKTIVA LANCAR
Istilah aktiva lancar didefinisikan sebagai kas dan aktiva atau
sumberdaya lain yang biasa diidentifikasi sebagai aktiva yang secara wajar
diharapkan akan direalisasi menjadi kas atau dijual atau dikonsumsi selama
siklus operasi normal perusahaan
Dua perubahan lain yang terjadi dalam pendefinisian aktiva lancar:
1. Penekanan yang lebih besar pada harapan atau niat untuk
mengkonversi dan bukan pada tersedianya aktiva untuk
dikonversi, khususnya dalam hal sekuritas yang dapat dipasarkan
2. Perluasan ruang lingkup aktiva lancar untuk mencakup beban-
beban dibayar dimuka (pos-pos yang akan dikonsumsi)
3.
II. AKTIVA LANCAR MONETER
Aktiva Lncar Moneter adalah klaim atas jumlah dolar tertentu yang akan
direalisasi dalam siklus operasi atau dalam satu tahun, mana yang lebih panjang.
Kategori ini mencakup kas, piutang kas, serta wesel tagih. Masing-masing harus
dicatat sebesar nilai sekarang kas yang akan direalisasi, setelah disesuaikan
untuk memperhitungkan ketidakpastian.
A. UANG
Kas dan berbagai bentuk uang lainnya dinyatakan menurut nilai kini,
yang sifatnya pasti. Oleh karena itu, setiap keuntungan atau kerugian yang
timbul dari pertukaran aktiva lain dengan jumlah kas atau bentuk uang
tertentu, harus diakui: tidak ada keuntungan atau kerugian yang harus diakui
karena memiliki kas dan bentuk-bentuk uang, kecuali mungkin dalam hal
keuntungan dan krugian daya beli dalam periode-periode berubahnya tingkat
harga
B. PIUTANG
Karena kas dari piutang baru tersedia setelah selesainya periode tunggu
(waiting period), nilai piutang tidak sebesar nilai jatuh temponya (jumlah
yang pada akhirnya terutang menurut kontrak). Oleh karena itu,
sesungguhnya, semua piutang dan sekuritas moneter harus dinilai menurut
nilai yang didiskontokan (discounted value) kas yang akan diterima dimasa
depan.
1. Menghasilkan Kas dari Piutang
SFAS 77 menyatakan bahwa penjual dapat dianggap terjadi bila
semua kondisi berikut ini dipenuhi
a. Pihak yang mengalihkan (transferor) melepaskan kendali atas
manfaat ekonomi masa depan yang terkandung dalam piutang
b. Kewajiban transferor dalam ketentuan pembelian kembali dapat
diestimasi secara wajar.
c. Transferee tidak dapat mengharuskan transferor membeli
kembali piutang kecuali ditetapkan oleh ketentuan pembelian
kembali
Jika salah satu dari kondisi-kondisi itu tidak dipenuhi, transaksi itu
secara efektif dipertanggugjawabkan sebagai pinjaman dari jumlah yang
diterima dari pengalihan piutang itu diperlihatkan sebagai kewajiban
2. Penyisihan untuk piutang tak tertagih
Factor yang penting dalam penilaian yang tepat untuk piutang
adalah perlakuan untuk ketidakpastian penagihan. Dalam metode
penyisihan (allowance method), pendapatan disesuaikan dengan
mengakui suatu akun penilaian yang dikenal sebagai penyisihan untuk
piutang yang diragukan (allowance for doubtful accounts). Yang dipakai
yaitu 2metode, suatu estimasi berdasarkan piutang usaha, dan estimasi
berdasarkan penjualan kredit untuk tahun tersebut.
3. Dasar cicilan
Accounting principles nboard, dalam opinion no. 10 menyatakan
bahwa metode cicilan untuk melaporkan pendapatan tidak dapat diterima
kecuali jika penagihan harga jual tidak terjamin secara wajar. Salah
satunya adalah metode cicilan, yang diharuskan jika ..pemulihan biaya
property terjamin secara wajar jika pembeli lalai..
C. INVESTASI MONETER
Sekuritas moneter (seperti piutang obligasi dan wesel tagih), dengan
tanggal dan nilai jatuh tempo yang diketahui, harus diperlakukan dengan
cara yang sama seperti piutang usaha. Berarti sekuritas moneter harus dicatat
sebesar niali sekarang bersih, dengan factor diskonto didasarkan pada
tingkat yang sedang berlaku dipasar.
1. Investasi Tidak Lancar
Bila obligasi perseroan yang dapat dipasarkan dan berjangka
panjang diperoleh dengan premi atau diskonto dan dimiliki sebagai
investasi temporer, nilai jatuh temponya tidak mencerminkan jumlah
yang akan diterima saat obnligasi itu dijual. Oleh karena itu, amortisasi
premi atau diskonto tidak layak dilakukan. Jika obligasi atau wesel
perseroan dimiliki sebagai investasi jangka panjang, prosedur yang
diterima adalah mengamortisasikan diskonto atau premi panjang,
prosedur yang diterima adalah mengamortisasi diskonto atau premi
sepanjang sisa umur obligasi dengan menggunakan apa yang diistilahkan
senbagai metode bunga
III. AKTIVA LANCAR NONMONETER
Aktiva Lncar Nonmoneter adalah klaim yang tidak dapat dikonversi
menjadi jumlah dolar tertentu yang sudah diketahui saat ini. Kategori ini
mencakup sekuritas sekuritas yang dapat dipasarkan, pos-pos yang dibayar
dimuka, serta persediaan. Juga seperti aktiva lancar moneter, aktiva ini terikat
oleh sejumlah aturan yang menentukan transaksi-transaksi mana yang akan
dibebankan pada kategori itu dan mana yang tidak.
A. Sekuritas ekuitas yang dapat dipasarkan
SFAS 12 mengharuskan semua sekuritas ekuitas yang dapat
dipasarkan, apakah lancar atau tidak lancar, dilaporkan dengan dasar nilai
terendah antara biaya dan pasar. Penerapan aturan nilai terendah antara
biaya dan pasar ini pada suatu portofolio, bukan pada setiap sekuritas,
konsisten dengan teori porofolio. Maksudnya, imbalan relevan bagi
perusahaan adalah imbalan atas portofolio, karena seorang investor tidak
mendapat imbalan jika tidak melakukan diversifikasi.
B. Sekuritas yang dapat dipasarkan- tak lancar
SFAS 12 mengharuskan investasi tak lancar dalm sekuritas ekuitas
diklasifikasikan secara terpisah dan dinilai menurut aturan nilai terendah
antara biaya dan pasar, yang diterapkan pada portofolio dengan cara yang
sama seperti penerapannya pada portofolio lancar, dengan pengecualian
bahwa akumulasi perubahan dalam penyisihan penilaian dimasukkan
dalam bagian ekuitas neraca, dan bukan memperlihatkan perubahan
berjalan dalam laporan laba-rugi
C. Beban dibayar dimuka
Beban dibayar dimuka adalah manfaat (benefit) yang akan diterima
perusahaan dimasa depan dalam bentuk jasa (service). Beban ini
mencakup pos-pos seperti perlengkapan kantor dan pabrik, sewa dibayar
dimuka, asuransi yang masih berlaku, bunga dibayar dimuka, dan pajak
dibayar dimuka. Prosedur pengalokasian beban dibayar dimuka pada
periode-periode terutama tergantung pada jenis aktiva yang akan
diamortisasi
D. Persedian
Istilah persediaan mencakup barang yang ditujukan untuk dijual dalam
pelaksanaaan normal usaha, serta bahan baku dan perlengkapan yang
akan digunakan dalam proses produksi untuk penjualan.
1. Nilai Masukan
Nilai masukan dapat didefinisikan sebagai ukuran sumberdaya
yang digunakan untuk mendapatkan persediaan dalam kondisi dan
lokasi seperti sekarang. Bila imbalan yang diserahkan untuk persedian
itu adalah kas atau setaranya, penafsiran nilai masukannya cukup jelas.

IV. LIFO versus FIFO


Adalah suatu kebenaran nyata yang sudah tua bahwa, pada saat-saat inflasi,
pajak perseroan akan lebih rendah jika perusahaan menggunakan LIFO dan
bukan FIFO. Sebuah survey terhadap 213 perusahaan memberikan pandangan
pada alasan manajemen untuk tidak beralih, 73% responden mengatkan bahwa,
karena keadaan khusus perusahaan mereka, atau industry mereka, LIFO tidsak
menghasilkan manfaat. 12% lainnya mengatakan mereka tidak dapat
menggunakan LIFO karena alasan-alasan peraturan. Sisanya menyatakan
masalah tingginya biaya pengelolaan LIFO, kemungkinan masalah dengan IRS,
dan dampak penghasilan yang lebih rendah itu pada perusahaan.
BAB 14
AKTIVA DAN PENGUKURANNYA

TINJAUAN UMUM

Proses Pengukuran

Pengukuran terdiri atas pemberian suatu kuantitas numerik pada suatu


karakteristik atau atribut suatu objek tertentu, seperti aktiva, atau suatu aktivitas,
seperti produksi.

Ukuran Masukan

Ukuran masukan menunjukkan biaya perolehan aktiva dalam pasar yang


terorganisasi. Ukuran ini dapat diambil dari pasar masa lalu, masa berjalan, atau masa
depan.

Ukuran Keluaran

Ukuran keluaran menunjukkan nilai pelepasan aktiva dalam pasar yang


terorganisasi. Ukuran ini dapat diambil dari pasar masa lalu, masa berjalan, atau masa
depan.

Ukuran Nilai Terendah antara Biaya dan Pasar

Aturan nilai terendah antara biaya dan pasar tidak menciptakan ukuran masukan
ataupun keluaran tetapi mempunyai sejarah yang panjang yang, agaknya,
mengindikasikan nilainya bagi pemakai.

Tujuan Pengukuran

Pilihan ukuran aktiva harus dipandu oleh tujuan-tujuan pelaporan keuangan


yang berasal dari struktur akuntansi, keinginan untuk dapat menafsirkan laporan
keuangan menurut ukuran-ukuran ekonomi, atau dari nilainya bagi pembaca.
A. Proses Pengukuran

Pengukuran dalam akuntansi adalah proses memberikan jumlah moneter


kuantitatif yang berarti pada objek atau peristiwa yang berkaitan dengan suatu
badan usaha, dan diperoleh sedemikian rupa sehingga jumlah itu sesuai untuk
agregasi (seperti total penilaian aktiva) atau disagregasi seperti yang disyaratkan
untuk situasi-situasi tertentu. Contoh-contoh objek meliputi piutang, pabrik dan
peralatan, dan utang jangka panjang.

Karena aktiva mempunyai beberapa atribut, pengukuran dan publikasi lebih


dari satu atribut mungkin relevan bagi investor dan pemakai laporan keuangan.
Oleh karena itu, konsep-konsep penilaian bisa saja saling melengkapi dan juga
saling bersaing satu sama lain. Dalam banyak kasus, satu ukuran digunakan
untuk mewakili yang lain.

1. Harga Pertukaran
Karena barang dan jasa umumnya dipertukarkan dengan ukuran uang,
logislah jika harga pertukaran (harga pasar) seharusnya relevan dengan
pelaporan eksternal. Selain itu, karena keputusan ekonomi hanya dapat
mempengaruhi hasil berjalan dan hasil masa depan, harga pertukaran masa
berjalan (current exchange price) dan harga pertukaran masa depan (future
exchange price) secara potensial sama relevannya dengan harga pertukaran
masa lalu. Oleh karena itu, ketiga jenis harga pertukaran ini harus ditelaah.
Harga pertukaran diambil dari pasar. Tetapi ada dua pasar tempat
perusahaan beroperasi dan, karenanya, ada dua jenis harga atau nilai
pertukaran, yaitu nilai keluaran dan nilai masukan.
B. Ukuran Masukan
Ukuran-ukuran masukan menunjukkan jumlah kas, atau nilai imbalan lainnya,
yang dibayarkan ketika suatu aktiva atau manfaatnya memasuki perusahaan
dalam suatu pertukaran atau konversi. Nilai masukan dapat didasarkan pada
pertukaran masa lalu, pertukaran masa berjalan, atau pertukaran masa depan yang
diharapkan.
1. Biaya Masukan Historis (Historical Input Cost)
Biaya historis didefinisikan sebagai harga agregat yang dibayarkan
oleh perusahaan untuk memperoleh kepemilikan dan penggunaan suatu
aktiva, termasuk semua pembayaran yang diperlukan untuk mendapatkan
aktiva itu di lokasi dan dengan kondisi yang disyaratkan agar aktiva itu dapat
memberikan manfaat dalam produksi atau operasi perusahaan lainnya.
Biaya sebagai konsep penilaian untuk aktiva nonmoneter mempunyai
keunggulan utama berupa fakta bahwa biaya itu dapat diuji: biaya itu
merupakan harga dalam transaksi yang sudah direalisasi.
a. Biaya Bijaksana
Konsep biaya bijaksana menyatakan bahwa hanya biaya-biaya
yang secara normal dibayar untuk property oleh manajemen yang
bijaksana yang harus dimasukkan dalam pengukuran aktiva atau
aktivitas. Konsep ini sudah digunakan oleh para pengatur fasilitas
pelayanan masyarakat sebagai metode untuk menempatkan
kepentingan masyarakat di atas kepentingan promotor, manajemen,
dan pemegang saham.
Konsep biaya bijaksana juga dapat diterapkan pada penilaian
aktiva secara umum. Misalnya, konsep biaya bijaksana menyatakan
bahwa biaya produksi seharusnya hanya mencakup biaya langsung
yang normal untuk bahan dan tenaga kerja, dan biaya tak langsung
yang normal yang dapat dialokasikan pada produk berdasarkan asosiasi
yang logis.

b. Biaya Standar
Istilah biaya standar diterapkan pada penilaian dengan dasar
berapa biaya yang seharusnya, menurut asumsi-asumsi tertentu yang
menyangkut tingkat efisiensi produktif dan pemanfaatan kapasitas
yang diinginkan. Penilaian berdasarkan biaya standar merupakan
konsep penilaian masukan yang didasarkan pada harga pertukaran
yang tepat untuk kuantitas barang dan jasa yang tepat, yang diperlukan
untuk produksi produk tersebut.
Keunggulan utama konsep biaya standar adalah bahwa, seperti
biaya bijaksana, biaya ketidakefisienan dihilangkan. Suatu produk
tidak jadi lebih bernilai karena adanya kapasitas yang tidak terpakai.
Biaya ketidakefisienan serta kapasitas yang tidak terpakai ini
merupakan kerugian yang ditanggung oleh perusahaan dalam periode
berjalan atau periode yang lalu.

c. Biaya Asal
Seperti yang digunakan dalam peraturan fasilitas pelayanan
masyarakat, istilah biaya asal (original cost) mengacu pada biaya
property bagi perusahaan yang pertama-tama menyerahkannya untuk
pelayanan masyarakat.

2. Biaya Masukan Masa Berjalan (Current Input Cost)

Biaya masa berjalan merupakan harga pertukaran yang diperlukan saat


ini untuk memperoleh aktiva yang sama atau setaranya. Jika ada pasar tempat
aktiva-aktiva yang serupa dibeli dan dijual, harga pertukaran dapat diperoleh
dan dihubungkan dengan aktiva yang dimiliki; harga ini menunjukkan nilai
maksimum bagi perusahaan (kecuali jika nilai realisasi bersih jumlahnya
lebih besar), kecuali untuk periode yang sangat singkat sampai bisa didapat
penggantian.
Para kritikus yang mendukung penggunaan biaya historis sampai
paling tidak titik penjualan menunjukkan beberapa kelemahan dalam
penggunaan biaya masa berjalan:

a) Biaya masa berjalan atau kutipan tidak tersedia untuk barang


musiman dan barang yang mengikuti mode serta untuk barang-
barang yang diproduksi dengan metode-metode yang using.
Estimasi nilai masukan masa berjalan untuk barang-barang ini,
oleh karenanya, mungkin bersifat subjektif.
b) Perubahan dalam biaya masa berjalan tidak selalu mencerminkan
perubahan dalam harga penjualan masa berjalan. Nilai-nilai tidak
mesti berubah karena ada perubahan dalam biaya.
c) Kenaikan dalam biaya akan menghasilkan keuntungan yang dicatat
dalam periode berjalan walaupun belum direalisasi melalui
penjualan. Misalnya, kenaikan dalam biaya tenaga kerja akan
tampak menguntungkan dalam periode berjalan walaupun harga
penjualan tetap stabil.
d) Keuntungan dan kerugian yang disebabkan oleh perubahan dalam
harga masukan spesifik akan termasuk dalam laba bersih operasi
kecuali jika harga pokok penjualan, dan juga persediaan akhir,
dinilai sebesar biaya yang berlaku pada saat penjualan.
1) Nilai Taksiran
Istilah nilai taksiran mengacu pada suatu estimasi nilai biaya
masa berjalan atau nilai masa berjalan dengan menggunakan prosedur
yang sistematik. Jika suatu taksiran didapat untuk aktiva tetap suatu
perusahaan yang going concern, taksiran itu menunjukkan estimasi
biaya penggantian atau biaya reproduksi masa berjalan dikurangi
penyusutan sampai ke tanggal taksiran.
2) Nilai Wajar
Istilah nilai wajar selama ini digunakan terutama dalam bidang
pelayanan masyarakat untuk mengacu pada jumlah total yang akan
mendatangkan imbalan yang wajar bagi investor.
3) Nilai Realisasi Bersih (Net Realizable Value) Dikurangi Markup
Normal
Bila biaya penggantian tidak tersedia, biaya itu kadang-kadang
dapat diestimasi dengan mengurangkan marjin laba kotor yang normal
dari nilai realisasi bersih (estimasi harga jual dikurangi biaya tambahan
yang diharapkan).

3. Biaya Masukan Masa Depan yang Didiskontokan (Discounted Future Input


Cost)

Konsep biaya masa depan yang didiskontokan ini juga


direkomendasikan untuk kasus-kasus dimana perusahaan mempunyai pilihan
untuk membeli jasa jika dibutuhkan saja, dan bukan dalam satu satuan
sekaligus. Kita bisa menyewa sebuah bangunan dan bukan membelinya; kita
bisa mempekerjakan tenaga kerja temporer dan bukan mengontrak tenaga
kerja purna waktu. Tetapi, jika perusahaan sudah mengadakan komitmen
sebelumnya, perusahaan tidak lagi mempunyai pilihan untuk membeli jasa
secara terpisah, sehingga perbandingannya lebih bersifat hipotesis daripada
nyata. Selain itu, sekalipun biaya masa depan yang didiskontokan itu sama
besar dengan nilai aktiva pada saat perolehan, identitas biaya masa depan
yang diharapkan yang didiskontokan untuk jasa yang setara dan nilai masa
berjalan aktiva itu bagi perusahaan kemungkinan tidak akan bertahan dalam
periode-periode selanjutnya.

C. Ukuran-ukuran Keluaran
Harga keluaran menunjukkan jumlah kas, atau nilai imbalan lainnya, yang
diterima ketika aktiva atau manfaatnya meninggalkan perusahaan dalam suatu
pertukaran atau konversi. Dengan demikian nilai penerimaan kas yang
diharapkan yang didiskontokan untuk aktiva merupakan ukuran yang paling
diperhatikan bila menggunakan ukuran-ukuran keluaran. Bila produk badan
usaha biasanya dijual dalam pasar yang terorganisasi, harga pasar masa berjalan
mungkin merupakan estimasi yang wajar untuk harga jual actual dalam waktu
dekat.

1. Nilai Realisasi Bersih


Penilaian ini memastikan bahwa biaya tambahan dalam penyelesaian
atau penjualan dan penagihan dicatat dalam periode dilaporkannya
pendapatan. Nilai realisasi bersih, oleh karena itu, didefinisikan sebagai harga
keluaran masa berjalan dikurangi nilai masa berjalan semua perkiraan biaya
dan beban tambahan (tidak termasuk pengaruh pajak) yang berhubungan
dengan penyelesaian, penjualan, dan penyerahan barang. Beban penagihan
tambahan juga harus dikurangkan, jika material.
2. Setara Kas Masa Berjalan (Current Cash Equivalent)
Istilah setara kas masa berjalan diusulkan oleh professor
berkebangsaan Australia, Raymond Chambers, sebagai konsep pengukuran
tunggal untuk semua aktiva, yang menunjukkan harga yang dapat direalisasi
sekarang. Setara kas masa berjalan ini menunjukkan jumlah kas atau daya
beli umum yang dapat diperoleh dengan menjual setiap aktiva menurut
syarat-syarat likuidasi yang tertib, yang mungkin diukur dengan harga pasar
kutipan untuk barang dengan jenis dan kondisi yang sama.
3. Nilai Likuidasi
Nilai likuidasi serupa dengan harga keluaran masa berjalan dan dengan
setara kas masa berjalan, kecuali bahwa nilai likuidasi diperoleh dari kondisi
pasar yang berbeda. Penerapan nilai likuidasi biasanya menyebabkan
diturunkannya (writing down) penilaian aktiva serta diakuinya kerugian.
Karena tidak realistis dalam keadaan yang normal, nilai likuidasi harus
digunakan hanya dalam keadaan utama:
a) Bila barang dagangan atau aktiva lain kehilangan kegunaan normalnya,
menjadi usang, atau kehilangan pasar yang normal.
b) Bila perusahaan berharap tidak akan melanjutkan bisnis mereka dalam
waktu dekat, sehingga tidak mampu menjual dalam pasar yang normal.
4. Penerimaan Kas atau Potensi Jasa Masa Depan yang Didiskontokan
(Discounted Future Cash Receipt or Service Potential)
Bila penerimaan kas yang diharapkan mengharuskan adanya periode
tunggu (waiting period), nilai sekarang penerimaan ini lebih kecil daripada
nilai actual yang diharapkan akan diterima. Walaupun konsep arus kas yang
didiskontokan mempunyai keabsahan dalam penilaian oleh seorang investor
yang memiliki perusahaan secara keseluruhan, atau dalam penilaian oleh
pemilik satu usaha, konsep ini keabsahannya diragukan bila diterapkan pada
aktiva-aktiva yang terpisah dalam satu perusahaan.

D. Ukuran Nilai Terendah antara Biaya dan Pasar (Lower-of-Cost-or-Market


Measures)
Prosedur penilaian yang terendah antara biaya dan pasar bukanlah konsep
penilaian keluaran dan juga bukan konsep penilaian masukan, tetapi merupakan
campuran kedua konsep itu.

E. Tujuan Pengukuran
Pemilihan suatu dasar pengukuran tertentu dipengaruhi oleh tujuan-tujuan
pengukuran aktiva. Karena dalam proses akuntansi diperlukan bentuk penilaian
tertentu, tujuan penilaian, sebagian besar, sama dengan tujuan akuntansi.
1. Tujuan Sintaktis
a. Pengukuran dan Penandingan.
Pendekatan konvensional terhadap akuntansi tetaplah
pendekatan pendapatan-beban. Dalam pendekatan ini, tujuan
pengukuran aktiva adalah mendapatkan suatu dasar bagi perhitungan
marjin operasi kotor serta penghasilan dari semua transaksi.
b. Pengukuran dan Akresi.
Menurut konsep akresi (accretion=pertumbuhan nilai),
perusahaan memperoleh penghasilan jika nilai aktiva bertambah (atau
nilai kewajiban menurun) tanpa adanya transaksi modal.

2. Tujuan-tujuan Semantis
Datangnya APB dan diterbitkannya dokumen-dokumen seperti ARS 3
dan ASOBAT memperkuat dukungan pada laporan keuangan yang
menyajikan dengan jelas pengukuran interpretif sumberdaya dan kewajiban
perusahaan pada waktu tertentu dan juga memungkinkan pengukuran
interpretif perubahan-perubahan dalam posisi keuangan dari waktu ke waktu.
Khususnya, ada suatu perasaan yang kuat bahwa penilaian biaya historis
tidak memiliki penafsiran (kecuali jika biaya tertentu dikaitkan dengan
tanggal tertentu). Biaya penggantian masa berjalan lebih disukai karena
memungkinkan penafsiran yang lebih luas, jika nilai diambil dari harga-harga
yang berlaku di pasar.

3. Tujuan Pragmatis
Tujuan pragmatis berfokus pada kegunaan, atau relevansi, akuntansi.
Relevansi didefinisikan dalam Kerangka Dasar Konseptual sebagai
kapasitas informasi untuk menimbulkan perbedaan dalam suatu keputusan,
dengan membantu pemakai membentuk prediksi tentang hasil akhir dari
peristiwa masa lalu, masa sekarang, dan masa depan atau menegaskan atau
mengoreksi harapan sebelumnya.
Agar laporan posisi keuangan dapat memberikan informasi yang
relevan dengan prediksi arus masuk kas masa depan, laporan itu harus
mencakup pengukuran kuantitatif sumberdaya dan komitmen, untuk
dibandingkan dengan periode-periode lain atau perusahaan-perusahaan lain.
Ada pendapat bahwa biaya masa depan adalah yang paling relevan.
Mereka menyatakan bahwa kebanyakan aktiva nonmoneter merupakan
barang atau jasa yang diperoleh di muka. Barang atau jasa ini biasanya
diperoleh di muka karena:
a) Lebih murah jika barang atau jasa itu dibeli dalam kuantitas
besar.
b) Beberapa aktiva (misalnya, bangunan atau peralatan) karena
sifatnya, merupakan suatu aliran manfaat masa depan yang
tidak dapat diperoleh secara terpisah.
c) Seringkali diinginkan untuk membeli manfaat masa depan
(misalnya, hak sewa guna usaha) untuk memastikan bahwa
manfaat itu ada bila diperlukan.
d) Seringkali diinginkan untuk mendapatkan hak atas properti
untuk melindungi investasi lain, seperti perbaikan dalam sewa
guna usaha (leasehold improvement).
a. Relevansi bagi Kreditor.
Kreditor juga berkepentingan dalam arus kas masa depan,
khususnya yang tersedia bila perusahaan mendekati kebangkrutan.
Salah satu tujuan utama neraca adalah menyajikan informasi keuangan
kepada kreditor. Karena tidak adanya informasi yang andal, kreditor
harus banyak mengandalkan diri pada setiap indikasi mengenai
keamanan pinjaman.
b. Relevansi bagi Pemegang Ekuitas.
Menurut konsep-konsep akuntansi tradisional, modal yang
diinvestasikan dalam suatu perusahaan sama besar dengan penilaian
aktiva bersih badan usaha itu. Angka ini tidak dapat menunjukkan nilai
perusahaan sebagai satu kesatuan bagi para pemegang ekuitas, tetapi
mungkin saja laporan akuntansi bisa memberi pemegang ekuitas itu
informasi tertentu tentang hak dan risiko relatif mereka.
c. Relevansi bagi Manajer.
Untuk tujuan manajerial, proses penilaian haruslah
menghasilkan informasi yang relevan dengan pengambilan keputusan
operasi. Tetapi informasi yang diperlukan oleh manajemen tidak mesti
sama dengan yang diperlukan oleh investor dan kreditor.
d. Keandalan.
Keandalan seringkali diajukan sebagai justifikasi utama bagi
biaya historis dan argumentasi utama terhadap semua pesaingnya.
Nilai masukan lebih disukai daripada nilai keluaran karena alasan yang
sama nilai masukan diyakini lebih dapat diuji, mungkin karena nilai ini
tidak memungkinkan dilaporkannya pendapatan sebelum direalisasi.