Anda di halaman 1dari 5

BAB 1

PENDAHULUAN DAN METODOLOGI AKUNTANSI

TINJAUAN UMUM

A. Pendekatan terhadap teori akuntansi


Banyak pendekatan yang digunakan dalam upaya memecahkan masalah-masalah yang ruwet
dalam akuntansi. Alinea berikut ini akan menguraikan sebagian dari pendekatan-pendekatan yang
lebih umum: pajak, legal, etika, ekonomi, perilaku dan struktural.

1. Pendekatan Pajak
Pendekatan yang disukai oleh banyak pendatang baru dalam bidang akuntasi ini menanyakan
apa yang akan dikatakan oleh Internal Revenue Service (IRS) mengenai suatu masalah.
Dilema yang pertama dan paling jelas dalam pendekatan ini adalah bahwa pendekatan ini
mempersoalkan bagaimana IRS sampai pada kesimpulannya. Bila kita mengkaji asal mula
theoretis akuntansi pajak, kita akan segera menemukan bahwa tujuan-tujuan akuntasi pajak
sangat berbeda dengan tujuan-tujuan pelaporan keuangan.
Ini bukan berarti bahwa berbagai undang-undang pajak penghasilan itu tidak mempunyai
dampak yang besar pada praktik akutansi di banyak bidang. Undang-undang itu penting
dalam mengangkta praktik akutansi yg rata-rata menjadi praktik yang standar yang dipakai
perusahaan-perusahaan yang labih baik pada saat itu. Hal ini menciptakan suatu perbaikan
dalam praktik akuntansi umu dan dalam mempertahankan konsistensi. Ketentuan mengenai
penyusutan yang dicakup dalam excise ACT 1909 dan dalam UU telah menyebabkan
digunaknnya metode penyusutan yang sistematis dan mewajibkan persediaan diperhitungkan
dalam penentuan penghasilan, yang menyebabkan meluasnya diskusi yang berkaitan dengan
metode penilaian yang tepat.
Contoh kecenderungan untuk menerima ketentuan pajak penghasilan sebagai prinsip dan
praktik akutansi yang berlaku umum:
1. Setiap metode penyusutan yang dapat diterima untuk keperluan pajak juga dapat
diterima untuk keperluan akuntansi, tanpa memperhatikan apakah metode itu mengikuti
atau tidak mengikuti teori akuntansi yang baik dalam situasi yang bersangkutan.
2. LIFO harus digunakan untuk keperluan pelaporan keuangan jika metode itu digunakan
dalan laporan pajak.
3. Pos-pos yang seharusnya dikapitalisasi dalam laporan keuangan jadi dibebankan pada
beban sesuai dengan perlakuan dalam laporan pajak karena perusahaan mencoba
mendapatkan pengurangan pajak sedini mungkin.
4. Karena UU pajak tidak mengijinkan, biasanya tidak dibuat penyisihan dalam laporan
keuangan mengakui beban-beban perbaikan dan pemeliharaan kecuali yang dilakukan
secara tidak langsung dan secara tidak beraturan melalui penyusutan yang dipercepat.

2. Pendekatan Legal
Pendekatan kedua terhadap akuntansi yang banyak dipakai, yaitu tentu saja, seperti yang
dikatakan sebagian orang bahwa suatu penjualan harus diakui bila hak milik legal.
Sayangnya, cara ini tidak menyelesaikan masalah tersebut sesuai yang diharapkan orang
karena biasanya hak berpindah bila persidangan yang mengadili suatu kasus memutuskan
bahwa hak memang sudah berpindah. Contohnya adalah perkara ketika Pennzoil mengklaim
bahwa Texaco merampas Getty Oil dari mereka setelah penjualan legal setelah Getty dan
Pennzoil selesai.

3. Pendekatan Etika
Pendekatan etika terhadap teori akuntansi menekankan konsep-konsep keadilanm kebenaran,
dan kewajaran (justice, truth, fairness). Yang menarik, setiap konsep ini menemukan
jalannya sendiri untuk sampai pada Kerangka Dasar Konseptual yang diciptakan oleh FASB.
Pertimbangan seperti tidak adanya kesengajaan untuk memihak (bias) dan kejujuran
penyajian (representational faithfulness) dianggap sebagai karakteristik yang perlu dalam
sistem akuntansi yang andal. Netralitas, yang berarti bahwa informasi tidak boleh dipoles
agar mempengaruhi perilaku ke arah tertentu, adalah sifat yang sangat penting dalam
penetapan standar. Pertimbangan etika, dengan kata lain, mempunyai pengaruh yang meresap
di seluruh aspek akuntansi.

4. Pendekatan Ekonomi
Bagian-bagian berikut ini membeberkan tiga jalur yang berlainan dalam mengambil
pendekatan ekonomi terhadap akuntansi: makro-ekonomi, mikroekonomi, dan sosial
korporasi.
a. Makroekonomi
Pendekatan makro ekonomi mencoba menjelaskan pengaruh prosedur pelaporan
alternatif pada pengukuran ekonomi dan aktivitas ekonomi pada tingkatan yang lebih luas
daripada perusahaan, seperti industri atau perekonomian nasional. Sebagian orang
menginginkan lebih jauh lagi daripada sekedar penjelasan dan mereka berpendapat
bahwa salah satu tujuan akuntansi haruslah mengarahkan perilaku perusahaan dan
individu ke arah pelaksanaan kebijakan ekonomi nasional tertentu.
b. Mikroekonomi
Pendekatan mikroekonomi terhadap teori akuntansi mencoba menjelaskan pengaruh
prosedur pelaporan alternatif pada pengukuran ekonomi dan aktivitas ekonomi pada
tingkatan perusahaan. Teori akuntansi modern, yang didasarkan pada mikroekonomi,
oleh karenanya berfokus pada perusahaan sebagai satuan usaha ekonomi yang kegiatan
utamanya mempengaruhi perekonomian melalui operasi di pasar. Pandangan inlah yang
dianut oleh FASB dalam kerangka Dasar Konseptualnya.
c. Akuntansi Sosial Korporasi
Pandangan mikroekonomi terhadap akuntansi tidak mesti mencakup semua pengaruh
perusahaan pada masyarakat. Biaya polusi lingkunagn, pengangguran, kondisi kerja yang
tidak sehat, dan masalah-masalah sosial lainnya biasanya tidak dilaporkan oleh
perusahaan, kecuali sejauh biaya-biaya itu ditanggung langsung oleh perusahaan melalui
pemajakan dan regulasi.

5. Pendekatan Perilaku
Sebuah alternatif selain pendekatan ekonomi adalah dengan mengandalkan diri pada
pandangan-pandangan psikologi dan sosiologi dalam perkembangan teori akuntansi. Fokus
dalam pendekatan ini adalah pada relevansi informasi yang dikomunikasikan kepada para
pengambil keputusan dan perilaku berbagai individu atau kelompok sebagai dari
disajikannya informasi akuntansi.

6. Pendekatan Struktural
Pendekatan ini mencoba untuk memperlakukan hal-hal yang serupa dengan cara yang serupa.
Pertimbangan mengenai titik mana yang paling tepat untuk mengakui peristiwa tertentu
biasanya didasrkan pada pada saat yang dipilih untuk mencatat peristiwa-peristiwa lain.
Dengan kata lain, para akuntan mencoba untuk mengklasifikasikan transaksi-transaksi yang
serupa dengan cara yang serupa atau, lebih formalnya, mengupayakan adanya konsistensi
dalam mencatat dan melaporkan transaksi. Hanya bila mereka menghadapi transaksi yang
tidak sesuai dengan cetakan yang sudah ada saja mereka dipaksa untuk kembali ke prinsip-
prisnsip yang lebih mendasar.

B. Mengklasifikasi teori-teori akuntansi


Dalam bagian-bagian berikut ini akan dibahas tiga cara mengklasifikasikan cara orang-orang
berpikir. Bagian-bagian tersebut diikuti oleh pembahasan tentang bagaimana kita menentukan
kebenaran pola pemikiran tertentu. Dengan cara yang lebih formal, kami membahas bagaimana teori-
teori dapt diklasifikasikan dan kemudian di verifikasi.
1. Teori sebagai bahasa
Klasifikasi yang pertama bersandar pada ide bahwa akuntansi adalah bahasa. Banyak yang
menyebut akuntansi sebagai bahasa bisnis.
Pragmatik adalah ilmu tentang pengaruh bahasa; segmantik adalah ilmu tentang makna
bahasa; dan sintaksis adalah ilmu tentang logika atau tata bahasa.

2. Teori sebagai pemikiran


Cara kedua untuk mengklasifikasikan bentuk perdebatan teoretis adalah dengan menanyakan
apakah argumentasi- argumentasi mengalir dari hal- hal yang merupakan generalisasi
(pemikiran induktif) menuju hal- hal yang spesifik (pemikiran deduktif), ataukah mengalir
dari hal- hal yang spesifik menjadi hal- hal yang merupakan generalisasi.
a. Pemikiran Deduktif
Tujuan merupakan bagian yang penting dalam proses deduktif, karena tujuan yang
berbeda mungkin memerlukan struktur yang sama sekali berbeda dan
menghasilkan prinsip yang berbeda.salah satu kelemahan utama metode deduktif
adalah bahwa, jika salah satu postulat atau premis trenyata salah, maka
kesimpulannya juga bisa salah. Selain itu pendapatan ini dianggap terlalu jauh dari
realitas untuk dapat menurunkan prinsip-prinsip yang realistis dan dapat
dilaksanakan, atau menghasilkan dasar- dasar bagi aturan praktis.

b. Pemikiran Induktif
Proses induksi terjadi atas penarikan kesimpulan umum dari hal-= hal yang
spesifik. Argumentasi induktif bisanya dimulai dengan seperangkat contoh
khusus,menyatakan contoh- contoh ini mewakili suatu kesatuan yang lebih besar,
dan menyimpulkan suatu generalisasi tentang kesatuan itu. Biasanya, tetapi tidak
selalu, hal- hal yang spesifik ini didasarkan pada pengalaman- pengalaman praktis
seperti hasil- hasil eksperimen. Ilmu pengetahuan yang mengandalkan pengalaman
diberi istilah empiris.

3. Teori sebagai Panduan (Script)


Baik teori Induktif maupun teori Deduktif dapat bersifat Deskriptif (positif) atau Preskriptif
(normatif). Teori- teori yang deskriptif mencoba mengemukakan dan menjelaskan informasi
keuangan apa yang disajikan dan dikomunikasikan kepada para pemakai dan akuntansi serta
bagaimana penyajian dan pengkomunikasiannya. Teori- teori yang normatif mencoba
menentukan data apa yang harus dikomunikasikan dan bagaimana data itu harus disajikan.
Teori- teori induktif menurut sifatnya biasanya bersifat psitif, tetapi ini tidak berarti teori
deduktif bersifat normatif,. Kita dapat memulai generalisasinya tentang bagaimana dunia ini
menurut pandangan kita dan dari situ kita menarik deduksi- deduksi spesifik yang
dimaksudkan untuk benar- benar bersifat deskriptif.
4. Verifikasi Teori
Verifikasi dapat didefinisikan sebagai penetapan akseptabilitas, atau kebenaran suatu teori.
Semua teori haruslah baik secara logika, tetapi diluar itu sifat verifikasi akan tergantung pada
sifat teori yang diverifiksi. Teori-teori normatif dinilai dengan cara yang satu; teori- teori
positif dengan cara yang lain.
Teori- teori normatif, termasuk teori verifikasi itu sendiri, dinilai dari kewajaran- kewajaran
asumsinya. Teori- teori deskriptif dievaluasi dengan dua cara yang berbeda, tergantung pada
apakah teori itu memiliki kandungan empiris atau tidak. Teori teori sintaktis merupakan
teori- teori deskriptif tanpa kandungan empiris. Teori- teori itu dikonfirmasikan hanya
dengan logika. Selain teori sintaksis adapula teori semantik dan pragmatik.
Teori- teori semantuik merupakan Teori- teori deskriptif yang mempunyai kandungan
empiris, karena Teori- teori itu dimaksudkan untuk menyatakan sesuatu tentang dunia nyata,
sama halnya dengan Teori- teori semantik, Teori- teori pragmatik merupakan Teori- teori
desktiptif dengan kandungan empiris.tetapi menekankan akuntansi bagi para investor dan
pihak- pihak lainnya. Verifikasi Teori- teori tidak bergantung pada kebenarannya melainkan
pada nilai Teori- teori sebagai pemakai.
Oleh karena itu, konfirmasi- konfirmasi Teori- teori akuntansi terjadi pada beberapa
tingkatan, yaitu :
1. Asumsi- asumsi yang menyangkut dunia nyata harus diuji untuk menilai
kesesuaian antara pernyataan itu dengan fenomena yang dapat diamati.
2. Saqling berhubungan pernyataan- pernyataan dalam teori harus diuji untuk menilai
konsistensi logisnya.
3. Jika ada premis yang didasarkan pada pertimbangan nilai, premis itu harus
diterima atau ditolak berdasarkan kesesuaiannya dengan pertimbangan nilai orang
itu sendiri.
4. Jika ada verifikasi empiris yang tidak konklisif , kesimpulan teori atau
hipotesanya, harus menjalani verifikasi yang empiris dan independen.