Anda di halaman 1dari 13

METODOLOGI PENELITIAN

ANALISIS JURNAL SEPSIS NEONATORUM

Disusun Oleh:
Normalita Puspitasari
1710104250

PROGRAM STUDI BIDAN PENDIDIK JENJANG DIPLOMA IV


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS AISYIYAH
YOGYAKARTA
2017
WORKSHEETS (LEMBAR KERJA)

Mata Kuliah : Metodologi Penelitian dan Biostatistik II


Materi : Metodologi Penelitian
Nama : Normalita Puspitasari
NIM/Kelas : 1710104250/7E

No Keterangan Pembahasan
1 Topik : Sepsis Neonatorum
Sepsis neonatorum merupakan salah satu penyumbang
terbesar angka kematian pada neonatus. Risiko dari sepsis
neonatal multifaktorial berhubungan dengan belum
matangnya sistem humoral, fagosit dan imunitas seluler
(biasanya terjadi pada bayi prematur dan berat bayi lahir
Gambaran Umum
3 : rendah), hipoksia, asidosis dan gangguan metabolisme.
Kasus
Terjadinya sepsis neonatal dipengaruhi oleh status ekonomi,
proses persalinan, ras, jenis kelamin (laki-laki 4 kali lebih
mudah terinfeksi dari pada perempuan), dan standar
perawatan bayi.

Angka kejadian sepsis neonatal sangat tinggi dari 1-4/1000


kelahiran pada negara maju dan 10-50/1000 kelahiran di
negara berkembang. Berdasarkan laporan WHO yang
dikutip dari State of worlds mother 2007, ditemukan 36%
4 Identifikasi Data :
kematian neonatus disebabkan oleh penyakit infeksi,
diantaranya sepsis, pneumonia, tetanus, dan diare. Laporan
dari WHO juga menyebutkan bahwa case fatality rate tinggi
(40%) pada kasus sepsis neonatus.
No Keterangan Pembahasan
Angka kejadian sepsis neonatorum di beberapa rumah sakit
rujukan di Indonesia sekitar 8,7 30,29% dengan angka
kematian 11,56 49,9%. Data yang didapat dari RSCM
menunjukkan bahwa pada Januari September 2005 angka
kejadian sepsis sekitar 13,68%.
Pada bulan Agustus 2012 Agustus 2013 data yang
didapatkan adalah 4659 total kelahiran terdapat 215 bayi
lahir yang menderita sepsis neonatorum.
Didapatkan jumlah penderita sepsis neonatorum paling
banyak (65,1%) pada bayi dengan berat badan lahir 2500-
4000 gr dan yang lahir dengan umur kehamilan 37-42
minggu (74%). Sebagian besar bayi dengan sepsis
neonatorum memiliki nilai APGAR yang rendah. Nilai
Apgar menit pertama <7 memerlukan prosedur intervensi
yang lebih yang bisa meningkatkan risiko terjadinya infeksi
nosocomial.

Faktor risiko ibu dengan ketuban pecah dini yang paling


Hasil Diskusi yang
banyak ditemukan adalah KPD >18 jam. Bayi yang lahir dari
5 Disesuaikan dengan :
ibu dengan KPD berisiko mengalami sepsis neonatorum
Teori
7,595 kali. Hal ini dapat terjadi karena infeksi neonatus
setelah pecah ketuban dipengaruhi oleh kolonisasi kuman
streptococcus grup beta.

Faktor risiko ibu dengan demam intrapartum >38oC


didapatkan sebanyak 144 bayi dan 71 bayi penderita sepsis
lahir dari ibu dengan demam intrapartum <38oC. Infeksi
neonatal dapat terjadi intrauterine melalui transplasental,
didapat intrapartum saat melalui jalan lahir selama proses
persalinan atau pascapartum akibat sumber infeksi dari luar
No Keterangan Pembahasan
setelah lahir. Bayi yang lahir dengan ekstraksi vakum
berisiko untuk terjadi sepsis neonatorum. Hasil penelitian ini
sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa bayi yang lahir
dengan tindakan lebih berisiko terjadi sepsis neonatorum.
Hal ini terjadi karena kontaminasi kuman yang terjadi
setelah lahir, seperti alat-alat yang digunakan saat dilakukan
pertolongan persalinan.

Penelitian ini bersifat analitik retrospektif dengan


memanfaatkan data sekunder berupa catatan medik.
Penelitian ini dilakukan di Bagian Ilmu Kesehatan Anak
RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado pada bulan
November sampai Desember 2013. Pengambilan sampel
pada penelitian ini menggunakan teknik total sampling yaitu
semua data dari catatan medik bayi penderita sepsis
neonatorum periode Agustus 2012- Agustus 2013.
Kriteria inklusi adalah bayi yang dilahirkan dan mengalami
Strategi yang
6 : sepsis neonatorum. Sedangkan kriteria eksklusi adalah bayi
Dilakukan
yang mengalami kelainan bawaan yang berat. Variabel
penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis
persalinan, BBLR, bayi prematur, bayi dengan nilai Apgar
rendah, ibu dengan KPD >18 jam, ibu dengan demam
intrapartum >38 o C.
Data yang didapat pada penelitian dilakukan analisis dengan
uji Chi-square dan diolah dengan menggunakan SPSS.
Dikatakan berhubungan signifikan antara jenis persalinan
dengan kejadian sepsis neonatorum apabila p<0,05.
No Keterangan Pembahasan
Dari penelitian ini didapatkan kesimpulan bahwa ada
hubungan bermakna antara jenis persalinan dengan kejadian
sepsis neonatorum. Angka kejadian sepsis neonatorum
sebanyak 4,6% pada periode Agustus 2012 Agustus 2013.
7 Kesimpulan : Bayi yang lahir dengan tindakan (ekstraksi vakum) berisiko
tinggi untuk terjadi sepsis neonatorum. Oleh karena itu perlu
dipantau tentang sterilisasi penggunaan alat-alat pertolongan
persalinan.
WORKSHEETS (LEMBAR KERJA)

Mata Kuliah : Metodologi Penelitian dan Biostatistik II


Materi : Metodologi Penelitian
Nama : Normalita Puspitasari
NIM/Kelas : 1710104250/7E

No Keterangan Pembahasan
1 Topik : Sepsis Neonatorum
Sepsis neonatorum merupakan sindrom klinik penyakit
sistemik, karena infeksi bakteremia yang bersifat invasif
umumnya terjadi pada bayi satu bulan pertama kehidupan.
Sepsis neonatorum diklasifikasikan berdasarkan waktu
terjadinya yaitu sepsis neonatorum awitan dini dan awitan
lambat. Bayi dengan sepsis neonatorum awitan dini, 85%
terjadi dalam 24 jam, 5% terjadi setelah 24-48 jam dan
sisanya pada 48-72 jam. Sepsis neonatorum awitan dini
Gambaran Umum sering dikaitkan dengan adanya infeksi bakteri yang didapat
3 :
Kasus dari ibu.
Sepsis neonatorum salah satu penyebab tertinggi morbiditas
dan mortalitas bayi dengan berat lahir rendah dan prematur.
Kejadian sepsis pada bayi berat lahir amat rendah (<1000g)
sebanyak 26 per 1000 kelahiran, pada bayi berat lahir 1000-
2000g dengan angka kejadian 8-9 per 1000 kelahiran. Angka
kematian terutama pada bayi prematur dan bayi dengan
penyakit berat dini mencapai 13-50% (5-10 kali kejadian
pada bayi cukup bulan).
No Keterangan Pembahasan
Kejadian sepsis neonatorum di Indonesia, di Divisi
Perinatologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak RS. Cipto
Mangunkusumo, sebanyak 15,5% dari kelahiran hidup,
4 Identifikasi Data : dimana angka kematian mencapai 13,68% pada periode
Januari-September 2005, sedangkan di RSUP. Dr. Kariadi
Semarang pada tahun 2004 sebesar 33,1% dan angka
kematian 20,3%.
Berkaitan dengan cara persalinan bahwa insiden sepsis
neonatal lebih banyak pada kasus bayi yang lahir dengan
sectio caesaria dibanding spontan. Dalam hal tingkat
pendidikan ibu pada kelompok neonatus prematur dengan
sepsis neonatorum awitan dini dan neonatus prematur tidak
sepsis yang terbanyak adalah sekolah menengah atas
(SMA).
Pada penelitian ini didapatkan bahwa sebagian besar
kelompok sepsis neonatorum awitan dini dan neonatus tidak
Hasil Diskusi yang sepsis paling banyak bukan ketuban pecah dini. Faktor
5 Disesuaikan dengan : infeksi saat hamil pada penelitian ini hanya ada satu kasus
Teori sehingga tidak bermakna secara statistik pada neonatus
prematur dengan sepsis neonatorum awitan dini.
Paparan infeksi pranatal terjadi secara hematogen dari ibu
yang menderita penyakit tertentu yang menyebabkan infeksi
pada neonatus. Status sosial ekonomi ibu tidak berpengaruh
terhadap kejadian sepsis neonatorum awitan dini pada bayi
prematur.
Hubungan kejadian sepsis neonatorum dengan status sosial
ekonomi yang rendah juga telah dibuktikan dalam penelitian
lain. Alasan lain dari meningkatnya angka kejadian sepsis
No Keterangan Pembahasan
pada kelompok sosial ekonomi rendah diantaranya karena
rendahnya perawatan yang baik serta ibu yang tidak mampu
memeriksakan kehamilannya pada Antenatal Care Clinic.
Pada penelitian ini gawat janin bukan merupakan faktor
yang berhubungan dengan kejadian sepsis neonatorum
awitan ini pada bayi prematur. Hanya ditemukan dua kasus
gawat Berat bayi lahir rendah (BBLR) lebih banyak
didapatkan pada kelompok neonates prematur dengan sepsis
neonatorum awitan dini. Namun baik berat bayi lahir rendah
maupun berat bayi lahir sangat rendah (BBLSR) bukan
merupakan faktor yang berpengaruh terhadap kejadian
sepsis neonatorum awitan dini pada penelitian ini.
Skor apgar rendah berpengaruh terhadap kejadian sepsis
neonatorum awitan dini pada bayi prematur. Dalam
penelitian ini kasus dengan skor apgar menit ke-1 rendah
lebih banyak pada neonatus prematur dengan sepsis
dibanding pada neonatus prematur tidak sepsis.
Didapatkan faktor yang berpengaruh adalah skor apgar
menit ke-1 (p=0,024) dan skor apgar menit ke-5 (p=0,032).
Neonatus dengan skor apgar menit ke-1 rendah sebanyak 36
(59%). Faktor ketuban pecah dini, infeksi saat hamil, sosial
ekonomi, gawat janin dan berat lahir bayi tidak berpengaruh
terhadap kejadian sepsis neonatorum awitan dini pada bayi
prematur.
Setelah dilakukan analisis multivariat mendapatkan faktor
skor apgar menjadi tidak berhubungan terhadap kejadian
sepsis neonatorum awitan dini pada bayi prematur.
No Keterangan Pembahasan
Penelitian ini menggunakan studi observasional retrospektif
dengan pendekatan kasus kontrol. Pengambilan sampel
sebagai subyek penelitian dilakukan dengan metode
consecutive sampling. Penelitian ini menggunakan 100
subyek yaitu 50 neonatus prematur dengan sepsis
Strategi yang
6 : neonatorum awitan dini sebagai kasus dan 50 neonatus
Dilakukan
prematur tidak sepsis sebagai kontrol yang diambil dari data
rekam medik RSUP Dr. Kariadi Semarang periode Januari
2013 - Desember 2014. Variabel bebas pada penelitian ini
adalah ketuban pecah dini, infeksi saat hamil, status sosial
ekonomi, gawat janin, berat lahir bayi dan skor apgar.

Ketuban pecah dini, infeksi saat hamil, status sosial


ekonomi, gawat janin,berat lahir bayi dan skor apgar bukan
7 Kesimpulan :
merupakan faktor yang berpengaruh terhadap kejadian
sepsis neonatorum awitan dini pada bayi prematur.
WORKSHEETS (LEMBAR KERJA)

Mata Kuliah : Metodologi Penelitian dan Biostatistik II


Materi : Metodologi Penelitian
Nama : Normalita Puspitasari
NIM/Kelas : 1710104250/7E

No Keterangan Pembahasan
1 Topik : Sepsis Neonatorum
Respons septik adalah rangkaian peristiwa yang sangat
kompleks yang melibatkan proses inflamasi dan anti-
inflamasi, reaksi humoral dan seluler dan kelainan peredaran
darah. Diagnosis sepsis dan penilaian keparahannya
dipersulit oleh sifat tanda dan gejala sepsis yang sangat
Gambaran Umum
3 : bervariasi dan tidak spesifik. Namun, diagnosis dan
Kasus
stratifikasi keparahan sepsis penting dilakukan,
meningkatkan kemungkinan memulai pengobatan spesifik
(Swarnkar & Vagha, 2013). Early Onset Neonatal Sepsis
terjadi pada bayi baru lahir dalam 72 jam pertama kehidupan
(Secretaria de Salud de Honduras, 2010).
Studi kasus-kontrol dilakukan pada tahun 2016; Kasusnya
adalah 20 bayi dengan sepsis neonatal awal, dan kontrolnya
4 Identifikasi Data :
adalah 40 bayi yang mengaku berpotensi septik, namun hasil
kultur darahnya negatif.
Dalam penelitian ini, jumlah leukosit lebih tinggi dari
Hasil Diskusi yang
20.000 / mm, menghasilkan PPV 45%, NPV 69%,
5 Disesuaikan dengan :
sensitivitas 25% dan spesifisitas 85% dan jumlah Trombosit
Teori
kurang dari 100.000 / mm3 menunjukkan 9 % PPV, 81,6%
No Keterangan Pembahasan
NPV, sensitivitas 5% dan spesifisitas 100%, yang
kesemuanya menunjukkan bahwa 3 hemogram
memungkinkan kita untuk dengan mudah mendeteksi bayi
sehat. Namun, untuk mendeteksi bayi EONS, mereka tidak
terlalu berguna. Yang kita butuhkan untuk mengandalkan tes
diagnostik lainnya. Protein C-reaktif adalah salah satu tes
yang paling banyak dipelajari sebagai metode diagnostik
untuk sepsis neonatal. Meskipun menyajikan sensitivitas
rendah pada awal proses infeksi, nilai diagnostiknya
meningkat saat pengukuran serial dilakukan dan
dikombinasikan dengan metode diagnostik lainnya seperti
interleukin dan procalcitonin. (Hofer et al., 2012) di Rumah
Sakit Terpadu Santa Barbara, CPR yang dilakukan dalam 24
jam pertama kehidupan memiliki PPV, NPV, sensitivitas
dan spesifisitas yang sangat rendah, namun PPV meningkat
dari 5 menjadi 85% pada kontrol CPR yang dilakukan. pada
48 jam, dan sensitivitas meningkat dari 5,5 menjadi 94%.
Hal ini menunjukkan bahwa CPR pada 48 jam memiliki
kemungkinan tinggi untuk mendeteksi NB dengan EONS.
Penelitian awal dilakukan pada 24 pertama bayi baru lahir
dengan kecurigaan sepsis, dan pada kontrol 48 jam.
Informasi tersebut diperoleh langsung dari catatan klinis
melalui instrumen yang berisi 16 pertanyaan; Data
Strategi yang
6 : sosiodemografi, hasil laboratorium, diagnosis akhir dan
Dilakukan
kondisi jalan keluar. Database dilakukan dalam program
SPSS versi 19. Untuk analisis data, kami menghitung nilai
prediksi positif, nilai prediksi negatif, sensitivitas dan
spesifisitas.
No Keterangan Pembahasan
Tes laboratorium dilakukan pada bayi dengan dugaan sepsis
neonatal dini di Rumah Sakit Terpadu Santa Barbara,
Honduras. Di rumah sakit tersebut ditemukan bahwa 17
(28,3%) NB adalah perempuan dan 43 (71,7%) adalah laki-
laki. VPP PCR awal adalah 5%, meningkat menjadi 85%
pada penelitian kontrol. Mikroorganisme yang diisolasi
adalah enterobacter pada 6 (30%) RNs. Dari 23 (38,3%)
neonatus yang mengalami komplikasi; 11 (48%) memiliki
kultur darah positif dan 12 (52%) memiliki kultur darah
negatif. Kondisi debit adalah debit medis sebesar 55 (92%)
7 Kesimpulan :
dan merujuk ke rumah sakit yang lebih kompleks 5 (8%) dari
neonatus. VPP protein C-reaktif meningkat pesat saat
melakukan kontrol laboratorium, antara 24-48 jam.
Alternatif laboratorium untuk diagnosis EONS di Rumah
Sakit Terpadu Santa Barbara hanya sedikit; Pilar dasar untuk
diagnosisnya adalah mencari faktor risiko dan status klinis
pasien. Protein C-reaktif awal tidak banyak berguna, namun
hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai prediksi positif
dan sensitivitas meningkat secara signifikan pada 48 jam,
yang membuktikan bahwa itu adalah penanda akhir infeksi.
DAFTAR PUSTAKA

Lihawa Ym, Mantik M, Wilar R. 2014. Hubungan Jenis Persalinan Dengan Kejadian
Sepsisneonatorum Di Rsup Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Manado: Bagian Ilmu
Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Terdapat
dalam https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/eclinic/article/view/3663 (diakses pada
tanggal 15 Oktober 2017)

Ningrum Nd, Suswihardhyono Anr. Faktor Ibu Dan Bayi Yang Berpengaruh Terhadap
Kejadian Sepsis Neonatorum Awitan Dini Pada Bayi Prematur. Semarang: Media
Medika Muda Volume 4, Nomor 4, Oktober 2015. Terdapat dalam
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=365102&val=4695&title=FAK
TOR%20IBU%20DAN%20BAYI%20YANG%20BERPENGARUH%20TERHAD
AP%20KEJADIAN%20SEPSIS%20NEONATORUM%20AWITAN%20DINI%20
PADA%20BAYI%20PREMATUR (diakses pada tanggal 10 oktober 2017)

Licona, R. T. S.; Fajardo, D. G. E.; Ferrera, G. R. A. & Mazariegos, A. 2017. Early Onset
Neonatal Sepsis; Diagnostic Value Of Some Laboratory Test Early Onset Neonatal
Sepsis; Diagnostic Value Of Some Laboratory Tests. Int. J. Med. Surg. Sci.,
4(1):1109-1114, 2017. Terdapat dalam http://www.ijmss.org/wp-
content/uploads/2017/04/art-41_3_2017.pdf (diakses pada tanggal 6 Oktober 2017)