Anda di halaman 1dari 6

HIPERTENSI ESSENTIAL

No. Dokumen :
No. Revisi :0
SPO
Tanggal Terbit : 3 Januari 2017

Halaman : 1/6

PUSKESMAS dr.Hj.Markani Daharu


BARINGENG 19770626 200502 2 003

1.Pengertian Hipertensi esensial merupakan hipertensi yang tidak diketahui penyababnya. Hipertensi menjadi
masalah karena meningkatnya prevalensi, masih banyak pasien yang belum mendapat
pengobatan, maupun yang telah mendapat terapi tetapi target tekanan darah belum tercapai
serta adanya penyakit penyerta dan komplikasi yang dapat meningkatkan morbiditas dan
mortalitas.
2.Tujuan Sebagai pedoman tugas untuk menegakkan diagnosis dan penatalaksanaan
penanganan penyakit hipertensi essential
3. Kebijakan Surat Keputusan Kepala Puskesmas Nomor Tahun 2017 tentang Pemberian
Layanan klinis
4. Referensi 1. Buku Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas 2011
2. Peraturan Menteri Kesehatan No.514 Tahun 2015 Tentang Panduan Praktek klinik
Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer
5. Prosedur 1. Laboratorium untuk melakukan pemeriksaan urinalisis dan glukosa
2. EKG
3. Radiologi (X ray thoraks)

6. Langkah- 1. Petugas melakukan anamnesis (keluhan utama, riwayat penyakit sekarang,


Langkah riwayat penyakit dahulu, dan riwayat penyakit keluarga) berupa keluhan
hipertensi antara lain:
1. Sakit atau nyeri kepala
2. Gelisah
3. Jantung berdebar-debar
4. Pusing
5. Leher kaku
6. Penglihatan kabur
7. Rasa sakit di dada
Keluhan tidak spesifik antara lain tidak nyaman kepala, mudah lelah dan impotensi.
Faktor Risiko
1. Usia lebih dari 40 tahun
2. Riwayat penyakit sistemik, seperti diabetes mellitus
3. Pemakaian tetes mata steroid secara rutin
4. Kebiasaan merokok dan pajanan sinar matahari

2. Petugas melakukan pemeriksaan fisik yang diperlukan :


Pemeriksaan Fisik :
1. Pasien tampak sehat, dapat terlihat sakit ringan-berat bila terjadi komplikasi
hipertensi ke organ lain.
2. Tekanan darah meningkat sesuai kriteria JNC VII.
3. Pada pasien dengan hipertensi, wajib diperiksa status neurologis dan pemeriksaan
fisik jantung (tekanan vena jugular, batas jantung, dan ronki).

3. pemeriksaan penunjang meliputi :


1. Labortorium : Urinalisis (proteinuria), tes gula darah, profil lipid, ureum, kreatinin
2. X ray thoraks
3. EKG
4. Funduskopi

4. Petugas menegakkan diagnosa dan atau differential diagnosa berdasarkan hasil


anamnesa, pemeriksaan vital sign, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang (jika diperlukan). Berupa :
Diagnosis Klinis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik.
Tabel 6.1 Klasifikasi tekanan darah berdasarkan Joint National TD Sistolik TD
Committee VII (JNC VII) Klasifikasi Diastolik
Normal < 120 < 80 mm
mmHg Hg
Pre-Hipertensi 120-139 80-89
mmHg mmHg
Hipertensi stage -1 140-159 80-99
mmHg mmHg
Hipertensi stage -2 160 100
mmHg mmHg
Diagnosis Banding
White collar hypertension, Nyeri akibat tekanan intraserebral, Ensefalitis

5. Jika diperlukan petugas memberikan terapi non medikamentosa :


Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)
Peningkatan tekanan darah dapat dikontrol dengan perubahan gaya hidup dan terapi
farmakologis.
Tabel 6.2 Modifikasi gaya Rekomendasi Rerata
hidup untuk hipertensi penurunan
Modifikasi TDS
Penurunan berat badan Jaga berat badan ideal (BMI: 18,5 - 24,9 5 20 mmHg/
kg/m2) 10 kg
Dietary Approaches to Stop Diet kaya buah, sayuran, produk rendah 8 14 mmHg
Hypertension (DASH) lemak dengan jumlah lemak total dan lemak
jenuh yang rendah
Pembatasan asupan Kurangi hingga <100 mmol per hari (2.0 g 2 8 mmHg
natrium natrium atau 6.5 g natrium klorida atau 1
sendok teh garam perhari)
Aktivitas fisik aerobic Aktivitas fisik aerobik yang teratur (mis: jalan 4 9 mmHg
cepat) 30 menit sehari, hampir setiap hari
dalam seminggu
Stop alkohol 2 4 mmHg
1. Hipertensi tanpa compelling indication
a. Hipertensi stage 1 dapat diberikan diuretik (HCT 12.5-50 mg/hari, atau pemberian
penghambat ACE (captopril 3x12,5-50 mg/hari), atau nifedipin long acting 30-60
mg/hari) atau kombinasi.
b. Hipertensi stage 2
Bila target terapi tidak tercapai setelah observasi selama 2 minggu, dapat diberikan
kombinasi 2 obat, biasanya golongan diuretik, tiazid dan penghambat ACE atau
penyekat reseptor beta atau penghambat kalsium.
c. Pemilihan anti hipertensi didasarkan ada tidaknya kontraindikasi dari masing-masing
antihipertensi di atas. Sebaiknya pilih obat hipertensi yang diminum sekali sehari atau
maksimum 2 kali sehari.

Bila target tidak tercapai maka dilakukan optimalisasi dosis atau ditambahkan obat lain
sampai target tekanan darah tercapai

Tabel 6.3 Obat yang Obat yang direkomendasikan


direkomendasikan untuk hipertensi
Indikasi khusus
Diuretik Penye Peng Antagonis Penghambat Antagonis aldo
kat hambat reseptor kanal steron
beta ACE AII (ARB) kalsium
(BB) (ACEi) (CCB)
Gagal jantung
Paska infark miokard
akut
Risiko tinggi penyakit
coroner
DM
Penyakit ginjal kronik
Pencegahan
stroke berulang
2. Kondisi khusus lain
a. Lanjut Usia
i. Diuretik (tiazid) mulai dosis rendah 12,5 mg/hari.
ii. Obat hipertensi lain mempertimbangkan penyakit penyerta.
b. Kehamilan
i. Golongan metildopa, penyekat reseptor , antagonis kalsium, vasodilator.
ii. Penghambat ACE dan antagonis reseptor AII tidak boleh digunakan selama
kehamilan.

Komplikasi
1. Hipertrofi ventrikel kiri
2. Proteinurea dan gangguan fungsi ginjal
3. Aterosklerosis pembuluh darah
4. Retinopati
5. Stroke atau TIA
6. Gangguan jantung, misalnya infark miokard, angina pektoris, serta gagal jantung

6. Petugas memberikan Konseling dan Edukasi :


1. Edukasi tentang cara minum obat di rumah, perbedaan antara obat-obatan yang
harus diminum untuk jangka panjang (misalnya untuk mengontrol tekanan darah) dan
pemakaian jangka pendek untuk menghilangkan gejala (misalnya untuk mengatasi
mengi), cara kerja tiap-tiap obat, dosis yang digunakan untuk tiap obat dan berapa kali
minum sehari.
2. Pemberian obat anti hipertensi merupakan pengobatan jangka panjang. Kontrol
pengobatan dilakukan setiap 2 minggu atau 1 bulan untuk mengoptimalkan hasil
pengobatan.
3. Penjelasan penting lainnya adalah tentang pentingnya menjaga kecukupan pasokan
obat-obatan dan minum obat teratur seperti yang disarankan meskipun tak ada gejala.
4. Individu dan keluarga perlu diinformasikan juga agar melakukan pengukuran kadar
gula darah, tekanan darah dan periksa urin secara teratur. Pemeriksaan komplikasi
hipertensi dilakukan setiap 6 bulan atau minimal 1 tahun sekali.
7. Jika ada indikasi petugas melakukan rujukan ke pelayanan kesehatan yang lebih
tinggi (rumah sakit) :
1. Hipertensi dengan komplikasi
2. Resistensi hipertensi
3. Hipertensi emergensi (hipertensi dengan tekanan darah sistole >180)

8.Petugas memberikan resep kepada pasien untuk diserahkan ke sub unit farmasi.
9.Petugas mendokumentasikan semua hasil anamnesis, pemeriksaan diagnosa,
terapi, rujukan yang telah dilakukan dalam rekam medis pasien.

7. Diagram
Anamnesa Pemeriksaan
Alir
Tanda Vital

Penegakan Pemeriksaan
Diagnosis/Differensial Pemeriksaan
Fisik
Diagnosis Penunjang

Pemberian Terapi Edukasi Pendokumentasian


di rekam medik

8. Hal-Hal 1. Gejala-gejala komplikasi pemberian obat,bisa perdarahan saluran cerna


yang harus
diperhatikan
9. Unit Sub unit BP umum
Terkait Sub unit Farmasi
Sub unit Laboratorium
10.Dokumen Rekam Medis
Terkait Formulir Rujakan Eksternal
Formulir Blangko Resep
Formulir Pemeriksaan Penunjang.
11.Rekaman NO Yang Berubah Isi Perubahan Tanggal Mulai
Historis diberlakukan
Perubahan