Anda di halaman 1dari 5

Tema : paradigma perencanaan global serta relevasinya terhadap perencanaan tata ruang di Indonesia

JUDUL

Menurut Thomas Kuhn, paradigma adalah landasan berpikir atau pun konsep dasar
yang digunakan / dianut sebagai model atau pun pola yang dimaksud para ilmuan
dalam usahanya, dengan mengandalkan studi-studi keilmuan yang dilakukannya.
Paradigma perencanaan adalah
Jenis-Jenis Paradigma Perencanaan
Berdasarkan tipologi tersebut, maka jenis-jenis perencanaan yang terbentuk dan
berkembang antara lain berdasarkan paradigma perencanaan :
1. Theosentris. Theosentris adalah suatu paham yang melahirkan suatu
pemerintahan teokrasi, yang menggabungkan antara dogma-dogma agama dan
kekuasaan dimana masyarakat diatur dan diperintah oleh raja-raja melalui suatu
sistem yang bersifat militer, yang didampingi oleh ahli agama atau pendeta. Pada
paradigma perencanaan ini, fungsi perencanaan harus menunjang kekuatan
monarki, serta memberikan tekanan pada kepentingan penguasa, birokrat, militer
dan penguasa keagamaan. Contoh hasil perencanaan jenis ini adalah Kota Jogja
secara kosmologi, dan Hasta kosala-kosali secara mitologi.
2. Positivism. Perencanaan jenis ini hanya percaya pada perihal yang nyata, tidak
khayal, menolak metafisika dan teologi. Perencanaan harus bermanfaat dan
diarahkan pada pencapaian kemajuan, pasti, jelas dan tepat, serta menuju kearah
penataan dan penertiban. Pembangunan dan kemajuan ditandai oleh dominasi
kerja ilmu pengetahuan modern atau ilmu-ilmu positif. Fungsi perencanaan ini
adalah memastikan bahwa perencanaan memiliki kapasitas rekayasa sosial,
memiliki citra pasti, memiliki cetak biru (blueprint) dari suatu badan perencanaan,
program-program pasti dilaksanakan di lapangan tanpa perubahan, bersifat lebih
kearah pekerjaan keteknikan (engineering), penerapan standard-standard teknis,
pendekatan master plan, dan land use. Contoh hasil perencanaan jenis ini
adalah landuse planning sebagai bentuk orientasi spasial dan RUTRK-RTRTK
sebagai bentuk standard planning.
3. Utopianism. Utopianism adalah suatu paham yang bertujuan mengembangkan
nilai-nilai esensial kemanusiaan dan lingkungan yang telah terabaikan oleh sistem
industri dan birokrasi, untuk dibawa ke suatu masa depan yang ideal (lingkungan
sosial dan fisik). Fungsi perencanaan jenis ini adalah untuk mempertahankan atau
mengembalikan kesinambungan searah dan lembaga-lembaga kota yang telah
dihancurkan untuk kepentingan ekonomi profit, dikaitkan kembali dengan nilai-nilai
lingkungan perdesaan (udara bersih, open spaces, pohon-pohon). Contoh hasil
perencanaan jenis ini adalah perencanaan kota baru, garden city, dll sebagai
bentuk idealisme serta utopianisme.
4. Rasionalism. Rasionalisme adalah sumber pengetahuan yang dapat dipercaya
adalah akal (rasio) dan pengalaman (empiris) berfungsi meneguhkan pengetahuan
yang diperoleh oleh akal. Fungsi planning disini merupakan suatu aktivitas publik,
masyarakat memutuskan dan mengontrol pembangunannya sendiri dengan cara
rasional. Esensi planning dalam paradigma ini adalah rasionalitas atau penerapan
akal sehat, mengarah pada cara kerja ilmiah, memiliki citra pasti dan menyeluruh,
program-program disusun untuk dievaluasi dan memberikan peluang bagi adanya
tindakan pemecahan masalah (problem solving). Contoh hasil paradigma
perencanaan jenis ini adalah Repelita atau Repelitada, Pembagain wilayah, dan
SWP. Jenis perencanaan ini menganut paham-paham seperti rasional
komprehensif, incrementalism, dan strategic planning.
5. Pragmatisme. Dalam perencanaan jenis ini, perubahan bukan dituntun oleh
pikiran-pikiran yang datang dari luar, melainkan oleh pengalaman empiris langsung
dimana kebenaran adalah sesuatu yang membuktikan dirinya benar melalui
pengalaman praktis dan muara akhir dari pragmatisme adalah manfaat. Sesuatu
yang tidak bermanfaat bagi kehidupan praktis, tidak memiliki kekuatan kebenaran.
Paradigma ini muncul karena adanya kejenuhan - kejenuhan terhadap teori
planning yang telah mapan dan sering disebut sebagai pendekatan anti teori atau
anti planning. Fungsi paradigma perencanaan jenis ini menekankan pada
incrementalism yang didasarkan pada market decision-making, pembangunan
diserahkan sepenuhnya kepada mekanisme pasar tanpa intervensi jauh dari
pemerintah, dan yang penting adalah melakukan aksi atau kegiatan nyata (getting
things done). Contoh perencanaan ini adalah Kawasan Bisnis (swasta) dan
Housing Estate.
6. Fenomenologi. Paradigma perencanaan ini memberi perhatian pada perihal
yang nampak, terlihat pada dirinya sendiri. Pengamatan pada yang nampak
bertujuan me-nemukan hakekat dengan menghubungkan kesadaran subyek
dengan obyek dan menolak bentuk-bentuk konformitas. Realitas itu relatif, hanya
dapat dipahami melalui agregat individu. Fungsi perencanaan ini adalah ketidak
percayaan pada planning yang bersifat menyeluruh dan berlaku umum (menolak
"comprehensive planning" dan "positive planning") dan Planning harus berorientasi
pada kesejahteraan masyarakat dan diarahkan pada tindakan nyata, bukan
sebagai alat penguasa dan pemilik modal. Dalam paradigma ini planning harus
responsif dan mendukung terbentuknya konsensus-konsensus baru atas dasar
pluralisme. Contoh hasil perencanaan jenis ini
adalah advocacy dan empowerment sebagai bentuk pemihakan dan equity
planning.

Sedangkan berdasarkan substansi atau sektoral atau obyek dari perencanaan, maka
jenis perencanaan dibedakan menjadi:
1. Sosial. Dalam jenis perencanaan ini dimungkinkan penggunaan dua pendekatan
atau lebih misalnya social reform, atau social learning. Contoh : Keluarga
Berencana, Perencanaan Kesehatan, Pengentasan Kemiskinan, dll.
2. Ekonomi. Jenis perencanaan ini pada umumnya menggunakan
pendekatan social reform rational planning. Contohnya Repelita, Repelitada
dan Business Plan.
3. Spasial. Sama seperti perencanaan ekonomi, jenis perencanaan ini pada
umumnya menggunakan pendekatan social dan rational planning. Contohnya
RUTRK, RDTRK, RTRK, Perencanaan Kawasan Wisata, dll.

Di dalam perkembangannya, perencanaan menghadapi tantangan akibat kemajuan


peradaban manusia serta teknologi yang begitu pesat. Tantangan perencanaan yang
seperti masih saja menjadi pekerjaan rumah bagi para perencana dewasa ini antara lain:
Kemiskinan dan ketidakadilan sosial;
Globalisasi dan pasar bebas atau kapitalisme atau komisialisasi atau privatisasi
Demokratisasi dan Desentralisasi;
Pluralisme
Kerusakan lingkungan;
Konsepsi dan peran negara
PARADIGMA PERENCANAAN KOTA DI INDONESIA KEDEPAN. Penerapan paradigma baru
perencanaan pembangunan kota pada kota-kota di Indonesia ke depan memerlukan pendalaman
dari berbagai aspek. Kondisi kota-kota di Indonesia saat ini sangat mempengaruhi penerapan
paradigma kedepan. Fenomena yang terdapat pada kota-kota besar dan menengah di Indonesia
saat ini adalah kontradiksi sosial yang dapat dilihat dalam bentuk eksklusivisme di kalangan
masyarakat atas berhadapan dengan kebersamaan yang kental di kalangan masyarakat bahwa.
Selanjutnya juga ada fragmentasi yang kontras antara sikap egosentrik dari masyarakat klas atas
dibandingkan dengan komunalisme dari rakyat biasa dan yang juga penting dicatat adalah makin
besarnya kemampuan individual yang tidak egaliter. Pada dasarnya ini adalah kontras antara kelas
menengah yang dinamis dan independen berlawanan dengan rakyat kelas bawah yang cenderung
tetap (immobile) namun kohesif yang dalam batas tertentu terkait pada pendekatan primordial. Dari
gambaran di atas, maka perlu dirumuskan visi kota-kota Indonesia ke depan.. Visi ke depan dari
kota-kota di Indonesia adalah keterpaduan sistem global, yang mempunyai arti persaingan yang
diwujudkan ke dalam pencapaian standar yang berlaku umum dalam berbagai aspek kekotaan
dengan kemampuan memberi warna dengan kekhasan yang tetap lokal. Ke depan kota-kota harus
mampu menyajikan mutu kehidupan (quality of life) yang terus membaik. Pelaksanaan dari
pencapaian mutu lingkungan hidup harus dilakukan dalam kerangka konsep pembangunan yang
berkelanjutan berangkat dari kondisi yang ada yang harus membaik. Pelaksanaan politik kekotaan
harus mampu mendorong dan merangsang pertumbuhan kegiatan sosial, ekonomi dan budaya
yang bermutu dalam mekanisme pasar yang merakyat (equitable and just) sesuai dengan dinamika
permintaan dan penawaran masyarakat luas dan didasarkan pada kebutuhan bukan mencapai
laba semata. Karena dunia dan kota menghadapi tingkat kompetisi yang makin gencar dan ketat,
maka setiap kota harus mampu mengembangkan kekhasan lokal dalam arti luas agar daya tawar
masyarakat makin tangguh dan tidak mudah dipermainkan oleh pengaruh luar yang masuk
bersama dengan arus globalisasi. Kota juga harus secara matang siap menerima perubahan
bentuk masyarakat yang makin pluralistik dalam arti manusia dan kemanusiaan. Sifat pluralistik ini
diantisipasi dengan pola otonomi daerah atas dasar demokrasi dan kedaulatan rakyat. Sifat
pluralistik ini harus dimanfaatkan dan dijadikan sebagai kekuatan karena ada lebih banyak pilihan
yang terbaik. Ini penting untuk mendukung ketangguhan bersaing yang lebih baik. Pembangunan
kota ke depan harus membuat masyarakat makin mampu membaca peluang dari keadaan
(kesempatan dan dan tantangan yang berlaku. Peluang ini kemudian harus mampu
diitransformasikan menjadi rencana tindak yang nyata (action plan). Pelaksanaan rencana tindak
ini perlu melibatkan makin luas petaruh (stakeholder) kota yang handal dan profesional serta
dengan wawasan nasionalisme yang kental, bahwa kampung harus ikut maju dan imbang sesuai
dengan kemajuan kotanya. Yang dikaji dan dicari adalah model untuk memajukan kampung agar
tidak tertinggal maupun kehilangan kekhasan dan potensi dasarnya. Sebagai acuan dalam kajian
ini adalah kemajuan dari "kampung" lama di Kyoto yang tanggap dan mampu mengambil manfaat
dari kemajuan kotanya tanpa kehilangan kekhasan fisik dan non fisik yaitu sebagai warisan lama.
Faham globalisasi yang diajukan oleh pakar beragam, mulai dari konsep berbagai keseimbangan
secara global (sumberdaya manusia, modal, keuangan, gagasan, teknologi, dan sebagainya)
sampai keterikatan antar kota secara dunia. Salah satu konsep globalisasi yang kurang mendapat
perhatian khususnya bagi kota adalah keharusan untuk mampu memenuhi standar yang berlaku
internasional (keselamatan, keamanan, dan sebagainya) sehingga pergerakan manusia secara
global yang berlangsung baik. Tetapi karena globalisasi mengandung sifat persaingan yang berat,
maka kota juga harus punya kekhasan agar dapat bersaing secara tangguh. Ke depan fungsi kota
harus dilihat dari dampak pembangunan terhadap masyarakat harus mampu mengandung sifat
yang berorientasi pada rakyat dan meningkatkan mutunya; selalu peka terhadap kemunduran mutu
lingkungan; memahami dan menghargai warisan budaya lokal; memanfaatkan IPTEK secara
kontekstual, profesional dan kompetitif. Secara konseptual, pemukiman tidak dapat difahami hanya
sebagai tempat bermukim, tetapi menyangkut beragam aspek hidup perkotaan (urbanisasi)
meliputi kegiatan ekonomi (mencari nafkah), sosial (internaksi bermasyarakat kota), lingkungan
(pelestarian/pengkayaan), budaya (meningkatkan peradaban) yang tidak lepas dari warisan
sebelumnya. Pemukiman mengandung konotasi kemandirian yang riil. Era reformasi melahirkan
banyak undang-undang yang pada prinsipnya mengurangi peran pemerintah (pusat) dan
menghilangkan sistem sentralistik. Ini menimbulkan pengaruh secara signifikan terhadap
pembangunan kota dan kemampuan (atau tidak mampu). Potensi mengambil keputusan akan
berdampak tidak terbatas pada rakyat atau fihak tertentu saja, namun meluas melewati batas
waktu dan tempat. Oleh karena itu harus diupayakan agar rakyat mampu ikut memutuskan dan
bertanggung jawab atas hasil dan akibat yang timbul oleh pembangunan. Agar hal ini terlaksana
dengan baik diperlukan platform yang dapat menjadi wadah dialog dan diskusi antar warga
masyarakat (horisontal) dan dengan fihak pemerintahan (vertikal) dalam merumuskan pola
pembangunan yang diperlukan. Wadah ini menjalankan proses pemberdayaan oleh, dari dan bagi
rakyat sebagai prerequisite dari pelaksanaan pembangunan yang bertumpu pada masyarakat.
Cheap Offers: http://bit.ly/gadgets_cheap

Cheap Offers: http://bit.ly/gadgets_cheap