Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Hukum acara pidana adalah peraturan yang mengatur tentang bagaimana cara

alat-alat perlengkapan pemerintahan melaksanakan tuntunan, memperoleh keputusan

pengadilan, oleh siapa keputusan pengadilan itu harus dilaksanakan jika ada

seseorang atau kelompok orang yang melakukan perbuatan pidana. Hukum acara

pidana memberikan petunjuk kepada aparat penegak hukum bagaimana prosedur

untuk mempertahankan hukum pidana materiil bila ada seseorang atau sekelompok

orang yang disangka atau dituduh melanggar hukum pidana. Hukum Acara Pidana

disebut hukum Pidana Formil sedangkan Hukum Pidana disebut sebagai Hukum

Pidana Materiil. Hukum acara pidana merupakan keseluruhan ketentuan yang

berkaitan dengan penyelenggaraan peradilan pidana serta prosedur penyelesaian suatu

perkara pidana yang meliputi proses pelaporan dan pengaduan hingga penyelidikan

dan penyidikan serta penuntutan dan pemeriksaan di sidang pengadilan hingga

lahirnya putusan pengadilan dan pelaksanaan suatu putusan pidana terhadap suatu

kasus pidana.1 Di dalam Acara pidana terdapat serangkaian tahapan salah satunya

adalah Penuntutan. Penuntutan adalah serangkaian dari tindakan penuntut umum

guna untuk menuntut tersangka di dalam perkara tindak pidana. Penuntut umum

1
Moh.Hatta, 2008, Menyongsong Penegakan Hukum Responsif Sistem Peradilan Pidana
Terpadu (Dalam Konsepsi dan Implementasi) Kapita Selekta, Galangpress, Yogyakarta, h. 13

1
dalam hal ini ialah kejaksaan atau Kepala Kejaksaan Negeri setelah menerima berkas

atau hasil penyidikan dari penyidik, segera menunjuk salah seorang jaksa (calon

penuntut umum) untuk mempelajari dan menelitinya yang kemudian atas hasil

penelitiannya jaksa tersebut mengajukan saran kepada kepala kejaksaan Negeri.

Dalam kekuasaan penyidikan, terdapat beberapa lembaga yang dapat melakukan

penyidikan, maka dalam menjalankan kekuasaan penuntutan hanya satu lembaga

yang berwenang melaksanakan yaitu Lembaga Kejaksaan Republik Indonesia.

Apabila dalam penyidikan, banyak lembaga lain yang mempunyai kewenangan

melakukan penyidikan terhadap tindak pidana tertentu berdasarkan undang-undang,

maka kewenangan untuk menjalankan penuntutan terhadap semua tindak pidana yang

masuk dalam lingkup Peradilan Umum hanya dapat dilakukan oleh kejaksaan.

1.2. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud jaksa dan penuntut umum ?

2. Apa wewenang jaksa sebagai penuntut umum ?

3. Bagaimana peranan kejaksaan/penuntut umum di dalam pembangunan

hukum dan aspek penerapannya ?

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Jaksa dan Penuntut Umum

Pengertian antara jaksa dan penuntut umum dibedakan, yaitu sebagaimana

menurut pasal 1 ngka 6 KUHAP, sebagai berikut :

a. Jaksa adalah pejabat yang diberi wewenang oleh undang-undang ini untuk

bertindak sebagai penuntut umum serta melaksanakan putusan pengadilan yang telah

memperoleh kekuatan hukum tetap. (pasal 1 angka 1 Undang-Undang No. 16 Tahun

2004 tentang Kejaksaan).

b. Penuntut Umum adalah jaksa yang diberi wewenang oleh undang-undang ini untuk

melakukan penuntutan dan melaksanakan penetapan hakim (Pasal 13 KUHAP jo.

Pasal 1 angka 2 Undang-Undang No. 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan).

Adapun menurut pasal 1 Undang-undang No. 16 Tahun 2004 tentang

Kejaksaan RI, bahwa dalam undang-undang ini yang dimaksud dengan :

1. Jaksa adalah pejabat fungsional yang diberi wewenang oleh undang-undang untuk

bertindak sebagai penuntut umum dan pelaksanaan putusan pengadilan yang telah

memperoleh kekuatan hukum tetap serta wewenang lain berdasarkan undang-undang.

2. Penuntut Umum adalah Jaksa yang diberi wewenang oleh Undang-undang ini

untuk melakukan penuntutan dan melaksanakan penetapan hakim.2

2
Andi Sofyan dan Abd Asis, 2014, Hukum Acara Pidana Suatu Pengantar, Prenadamedia
Group, Jakarta, h. 94.

3
Jadi dapat dikatakan bahwa penuntut umum adalah jaksa, tetapi sebaliknya

jaksa belum tentu berarti penuntut umum. Atau dengan kata lain tidak semua jaksa

adalah penuntut umum, tetapi semua penuntut umum adalah jaksa.karena menurut

ketentuan tersebut hanya jaksalah yang dapat bertindak sebagai penuntut umum.

Seorang jaksa baru memperoleh kapasistasnya sebagai penuntut umum apabila ia

menangani tugas penuntutan. Dalam penanganan tugasnya , hanya dalam tahap

penuntutan sajalah seorang jaksa disebut sebagai jaksa penuntut umum, yang dalam

praktek disebut sebagai jaksa penuntut umum, sedang dalam hal jaksa manangani

tugas-tugas prapenuntutan sebenarnya jaksa tersebut belum bertindak sebagai

penuntut umum.3 Secara teknis administratif, seorang jaksa baru dapat bertindak

sebagai penuntut umum sejak terhadapnya diterbitkan surat perintah penunjukkan

jaksa penuntut umum untuk menyelesaikan perkara (PK-5A). Secara teknis yustisial

ia baru bertindak sebagai penuntut umum sejak ia melimpahkan perkara tersebut ke

pengadilan. Dalam pelaksanaan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan

hukum tetap, ia tidak lagi bertindak sebagai penuntut umum, tetapi ia bertindak dalam

kapasitasnya sebagai jaksa. Karena tugas penuntut berakhir apabila dalam suatu

perkara telah dijatuhkan putusan dan putusan tersebut telah memperoleh kekuatan

hukum tetap.

3
Marwan Effendy, 2005, KEJAKSAAN RI Posisi dan Fungsinya dari Perspektif Hukum, P.T.
Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, h. 203.

4
2.2 Wewenang Jaksa Sebagai Penuntut Umum

Adapun wewenang penuntut umum sebagaimana diatur menurut pasal 14

KUHAP, sebagai berikut :

a. Menerima dan memeriksa berkas perkara penyidikan dari penyidik atau

penyidik pembantu.

b. Mengadakan pra-penuntutan apabila ada kekurangan pada penyidikan

dengan memperhatikan ketentuan pasal 110 ayat (3) dan ayat (4), dengan

memberi petunjuk dalam rangka penyempurnaan penyidikan dari penyidik.

c. Memberikan perpanjangan penahanan, melakukan penahanan atau

penahanan lanjutan dan/atau mengubah status tahanan setelah perkaranya

dilimpahkan oleh penyidik.

d. Membuat surat dakwaan.

e. Melimpahkan perkara ke pengadilan

f. Menyampaikan pemberitahuan kepada terdakwa tentang ketentuan hari dan

waktu perkara disidangkan yang disertai surat panggilan baik kepada

terdakwa maupun kepada saksi, untuk datang pada sidang yang telah

ditentukan.

g. Melakukan Penuntutan.

h. Menutup perkara demi kepentingan hukum.

i. Mengadakan tindakan lain dalam lingkup tugas dan tanggung jawab sebagai

penuntut umum menurut ketentuan undang-undang ini.

5
j. Melaksanakan penetapan hakim.4

Secara teknis, kewenangan tersebut dilaksanakan sejak awal pemberkasan dari

Penyidik. Persiapan berkas perkara itu merupakan tanggung jawab penuh penyidik,

supaya berkepastian dapat diserahkan kepada Jaksa Penuntut Umum dan selanjutnya

disidangkan di pengadilan. Proses demikian disebut sebagai tahap prapenuntutan

(Pratut), yakni persiapan sampai penyerahan semua berkas perkara, alat-alat bukti,

dan tersangka dari pihak penyidik kepada Jaksa Penuntut Umum, sehingga sejak saat

itu beralih tanggung jawab hukum dari pihak penyidik kepada Jaksa Penuntut Umum.

Berdasarkan tugas dan wewenang yang demikian, dapat dikatakan Kejaksaan berada

pada posisi sentral dengan peran strategis dalam proses peradilan pidana. Kedudukan

Kejaksaan dalam peradilan pidana bersifat menentukan karena merupakan jembatan

yang menghubungkan tahap penyidikan dengan tahap pemeriksaan di sidang

pengadilan.5 Berdasarkan doktrin hukum yang berlaku suatu asas bahwa Penuntut

Umum mempunyai monopoli penuntutan, artinya setiap orang baru bisa diadili jika

ada tuntutan pidana dari Penuntut Umum, yaitu lembaga kejaksaan karena hanya

Penuntut Umum yang berwenang mengajukan seseorang tersangka pelaku tindak

pidana ke muka sidang Pengadilan.

4
. Andi Sofyan dan Abd Asis, op. cit, h. 98
5
Tolib Effendi, 2014, Dasar-Dasar Hukum Acara Pidana Perkembangan dan
Pembaharuannya di Indonesia, Setara Press, Malang, h. 49

6
2.3 Peranan Kejaksaan/Penuntut Umum di Dalam Pembangunan Hukum dan

Aspek Penerapannya

Seperti diketahui, bahwa arah dan sentral pembangunan hukum di indonesia

adalah telah jelas disebutkan di dalam GBHN yang menyangkut bidang hukum dan

diantaranya berbunyi :

Penertiban badan-badan penegak hukum sesuai fungsi dan wewenangnya

masing-masing,

meningkatkan kemampuan dan kewibawaan aparat penegak hukum,

meningkatkan pembinaan sikap para pelaksana penegak hukum ke arah

tegaknya hukum, keadilan dan perlindungan terhadap harkat dan martabat

manusia, ketertiban serta kepastian hukum sesuai UUD 1945.

Di dalam masalah penertiban badan-badan penegak hukum, maka jika

dihubungkan ketentuan tersebut dengan kejaksaan sebagai salah satu badan penegak

hukum, maka yang pertama-tama harus dijawab apa yang men jadi tugas pokok

kejaksaan dan ternyata bahwa keseluruhan tugas kejaksaan yang aneka ragam itu

bermuara pada tugas utama yaitu penuntutan (pasal 1 Undang-undang Nomor 15

tahun 1961). Tugas Magistratur ini hanya dipunyai oleh kejaksaan dan tidak dipunyai

oleh alat negara penegak hukum lainnya. Oleh karenannya kejaksaan harus

bersungguh-sungguh memantapkan dan setia kepada tugas pokok tersebut.

Pelaksanaan tugas pokok inilah yang seharusnya dibina sebaik-baiknya, baik yang

7
menyangkut segi tekniks profesinya, maupun etiket pelaksanaan dan pelaksanaannya,

oleh karena citra kejaksaan justru sebagian besar tersangkut padanya.

Dari keseluruhan kegiatan dan perhatian yang paling menonjol dewasa ini di

lingkungan kejaksaan adalah sesuatu yang bertautan dengan Kitab Undang-undang

Hukum Acara Pidana (KUHAP). Bahwa KUHAP ini yang lahir dalam suatu kancah

waktu yang relatif lama, karena formal legalistis kehendak ini sudah tertera di dalam

peraturan peralihan UUD 1945 yang diundangkan pada tanggal 18 Agustus 1945 dan

upaya ini tercermin pula dalam Undang-undang Darurat Nomor 1 tahun 1951, yang

dengan tegas menyatakan HIR sebagai pedoman dalam kaitannya dengan upaya

Unifikasi Hukum Acara Pidana untuk seluruh wilayah hukum Republik Indonesia.

Sebagai sesuatu yang baru tentu masih ada yang perlu di sempurnakan agar konsepsi

dasar KUHAP yang berlandaskan Pancasila terwujud dengan baik. Jadi KUHAP ini

tidak saja dilihat sebagai tulisan htam diatas putih saja, tetapi justru latar-belakang

flasafah yang mendukung dan yang mendasarinya yang tidak diabaikan. Salah-satu

inti asas KUHAP yang paling hakiki adalah memberi kehormatan terhadap harkat dan

martabat manusia dalam dan dengan kehidupan kenegaraan yang pancasila. Hal ini

mudah dipahami apabila kita mampu dan jujur pada diri sendiri untuk mengatakan

bahwa selama ini kiranya harkat dan martabat manusia masih kurang dihormati

sebagaimana semestinya sebagai mahluk Tuhan yang paling mulia.6

6
Nanda Agung Dewantara, 1987, Masalah Penangkapan Penggeledahan Penyitaan dan
Penggeledahan Penyitaan dan Pemeriksaan Surat di dalam Proses Acara Pidana, Aksara Persada
Indonesia, h.144

8
Selanjutnya, seperti juga dikatakan oleh Jaksa Agung Muda Bidang Operasi,

bahwa apa-apa yang kita temui dalam pelaksanaan KUHAP ini concrete baik hal-hal

yang perlu dilengkapi, maka hal-hal tersebut akan dapat diatasi selama kita tetap dan

harus bertumpu pada falsafah dan konsepsi dasar KUHAP itu sendiri dan

berkemampuan melakukan pengendalian diri. Oleh karena setiap pemecahan masalah

praktek di sekitar KUHAP yang menyimpang, bergeser dari KUHAP berarti

mengundang kepada suatu sikap yang paradoksal yang tidak mendukung upaya

pertumbuhan aspirasi masyarakat pancasila dalam rangka pembangunan hukum

nasional.

Untuk mission itulah Kejaksaan perlu terus menerus memotifikasikan sasaran

daripada kegiatan operasi justiti dan harus membina terus menerus kematangan

emosional dan kematangan intelektua para jaksa. Jaksa perlu di dorong, disamping

penguasaan hukum materiil dan formil secara baik juga melengkapi dirinya dengan

pengetahuan sosial, budaya dan filsafat bagi kelengkapan ketajaman pandangannya

terhadap hukum dan masalah kemasyarakatan. Peningkatan kemauan dan sikap

mental tugas yang berlandaskan pada prinsip jaksa sebagai pegawai negeri adalah

sebagai abdi negara, abdi masyarakat dan abdi hukum.

9
BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Jadi dapat dikatakan bahwa penuntut umum adalah jaksa, tetapi sebaliknya

jaksa belum tentu berarti penuntut umum. Atau dengan kata lain tidak semua jaksa

adalah penuntut umum, tetapi semua penuntut umum adalah jaksa.karena menurut

ketentuan tersebut hanya jaksalah yang dapat bertindak sebagai penuntut umum.

Seorang jaksa baru memperoleh kapasistasnya sebagai penuntut umum apabila ia

menangani tugas penuntutan. hanya dalam tahap penuntutan sajalah seorang jaksa

disebut sebagai jaksa penuntut umum, yang dalam praktek disebut sebagai jaksa

penuntut umum, sedang dalam hal jaksa manangani tugas-tugas prapenuntutan

sebenarnya jaksa tersebut belum bertindak sebagai penuntut umum. Secara teknis

administratif, seorang jaksa baru dapat bertindak sebagai penuntut umum sejak

terhadapnya diterbitkan surat perintah penunjukkan jaksa penuntut umum untuk

menyelesaikan perkara (PK-5A). Secara teknis, kewenangan Jaksa tersebut

dilaksanakan sejak awal pemberkasan dari Penyidik. Persiapan berkas perkara itu

merupakan tanggung jawab penuh penyidik, supaya berkepastian dapat diserahkan

kepada Jaksa Penuntut Umum dan selanjutnya disidangkan di pengadilan. disamping

penguasaan hukum materiil dan formil secara baik jaksa juga harus melengkapi

dirinya dengan pengetahuan sosial, budaya dan filsafat bagi kelengkapan ketajaman

pandangannya terhadap hukum dan masalah kemasyarakatan. Peningkatan kemauan

10
dan sikap mental tugas yang berlandaskan pada prinsip jaksa sebagai pegawai negeri

adalah sebagai abdi negara, abdi masyarakat dan abdi hukum.

11
DAFTAR PUSTAKA

Moh.Hatta, 2008, Menyongsong Penegakan Hukum Responsif Sistem Peradilan

Pidana Terpadu (Dalam Konsepsi dan Implementasi) Kapita Selekta,

Galangpress, Yogyakarta.

Andi Sofyan dan Abd Asis, 2014, Hukum Acara Pidana Suatu Pengantar,

Prenadamedia Group, Jakarta.

Marwan Effendy, 2005, KEJAKSAAN RI Posisi dan Fungsinya dari Perspektif

Hukum, P.T. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Tolib Effendi, 2014, Dasar-Dasar Hukum Acara Pidana Perkembangan dan

Pembaharuannya di Indonesia, Setara Press, Malang.

Nanda Agung Dewantara, 1987, Masalah Penangkapan Penggeledahan Penyitaan

dan Penggeledahan Penyitaan dan Pemeriksaan Surat di dalam Proses

Acara Pidana, Aksara Persada Indonesia.

12