Anda di halaman 1dari 97

ANALISA STRUKTUR PELAT DUA ARAH TANPA BALOK (FLAT SLAB)

Tugas Akhir

Diajukan untuk melengkapi tugas-tugas dan memenuhi Syarat untuk menempuh ujian sarjana Teknik Sipil

Disusun oleh:

JAKA PRAMANA KABAN

040404034

Teknik Sipil Disusun oleh: JAKA PRAMANA KABAN 040404034 SUB JURUSAN STRUKTUR DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK

SUB JURUSAN STRUKTUR DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2010

Universitas Sumatera Utara

LEMBAR PENGESAHAN

ANALISA STRUKTUR PELAT DUA ARAH TANPA BALOK (FLAT SLAB)

Tugas Akhir

Diajukan untuk melengkapi tugas-tugas dan memenuhi Syarat untuk menempuh ujian sarjana Teknik Sipil

Disusun oleh:

JAKA PRAMANA KABAN 04 0404 034

Teknik Sipil Disusun oleh: JAKA PRAMANA KABAN 04 0404 034 Disetujui oleh : Dosen Pembimbing Prof.Dr.Ing.Johannes

Disetujui oleh :

Dosen Pembimbing

Prof.Dr.Ing.Johannes Tarigan NIP.19561224 198103 1 002

SUB JURUSAN STRUKTUR DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2010

Universitas Sumatera Utara

Abstrak

Penyusunan tugas akhir ini merupakan perhitungan sederhana mengenai

gaya

dalam

yang

terjadi

pada

flat

slab.

Perhitungan

ini

ditujukan

untuk

menemukan besaran gaya dalam yang terjadi pada setiap panel di dalam flat slab.

Sehingga dari sini kita dapat mengetahui besarnya gaya dalam dan juga bentuk

dari gaya dalam itu sendiri yang diaplikasikan ke dalam gambar.

Bentuk pelat yang diambil ada dua macam yaitu bujur sangkar dan persegi

panjang. Alasan digunakannya dua bentuk pelat ini adalah agar di dalam tulisan

kedua bentuk dapat diperbandingkan secara lebih nyata dan lebih kompleks. Dan

akibat dari keterbatasan literatur mengenai pembahasan pelat ini maka penulis

hanya mampu melakukan perhitungan sederhana dengan menggunakan data data

yang ada.

Pembahasan yang dilakukan dalam tugas akhir ini antara lain perhitungan

lendutan

dan

momen

lentur.

Perhitungan

dilakukan

secara

manual

dengan

menggunakan rumus rumus yang terdapat di dalam literatur, untuk perhitungan

data-data agar lebih akurat maka perhitungan dilakukan dengan menggunakan

bantuan program microsoft excel dan penggambaran dilakukan dengan bantuan

program AutoCAD .

Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari penulisan ini adalah semakin

besar dimensi dari flat slab maka lendutan pelat tersebut juga akan semakin besar.

Oleh karena itu, pelat berbentuk bujur sangkar merupakan bentuk yang paling

efisien dan efektif digunakan untuk flat slab.

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang

telah memberikan anugrah, berkat dan karunia-Nya hingga terselesaikannya tugas

akhir ini dengan judul “Analisa Struktur Pelat Dua Arah Tanpa Balok (Flat

Slab)”.

Tugas akhir ini disusun untuk diajukan sebagai syarat dalam ujian sarjana

teknik sipil bidang studi struktur pada fakultas teknik Universitas Sumatera Utara

Medan.

Penulis

menyadari

bahwa

isi

dari

tugas

akhir

ini

masih

banyak

kekurangannya. Hal ini disebabkan keterbatasan pengetahuan dan kurangnya

pemahaman penulis. Untuk penyempurnaannya, saran dan kritik dari bapak dan

ibu dosen serta rekan mahasiswa sangatlah penulis harapkan.

Penulis juga menyadari bahwa tanpa bimbingan, bantuan dan dorongan

dari berbagai pihak, tugas akhir ini tidak mungkin dapat diselesaikan dengan baik.

Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan rasa terima kasih

yang sebesar-besarnya kepada kedua orang tua yang senantiasa penulis cintai

yang

dalam

keadaan

sulit

telah

menyelesaikan perkuliahan ini.

memperjuangkan

hingga

penulis

dapat

Ucapan terima kasih juga penulis ucapkan kepada :

1. Bapak Dr.Ing.Johannes Tarigan. Selaku dosen pembimbing dan juga selaku

Ketua Departemen Teknik Sipil Universitas Sumatera Utara yang telah

banyak meluangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk memberikan bimbingan

dalam menyelesaikan tugas akhir ini

Universitas Sumatera Utara

2.

Bapak Ir.Teruna Jaya, M.Sc. Selaku Sekretaris Departemen Teknik Sipil

Universitas Sumatera Utara

3. Bapak/Ibu staf pengajar jurusan teknik sipil Universitas Sumatera Utara.

4. Seluruh

pegawai

administrasi

yang

telah

memberikan

bantuan

dan

kemudahan dalam penyelesaian administrasi

5. Untuk

sahabat-sahabatku

Leo, Topan,

Suryo, Kingson,

Joseph,

Syawal,

Benny, Meijen, Roy, Meijer, Mario, Pepeng, Fauzy, Suryadi, Budiman,

Samuella, Egi, Ahmad, Emir, Joko, Asrul, Daniel, Widarto, Ilham, dan

teman-teman stambuk 04 lainnya, buat doa, semangat dan dukungan kalian.

6. Seluruh rekan-rekan mahasiswa-mahasiswi jurusan teknik sipil.

Akhir kata penulis mengharapkan tugas akhir ini dapat bermanfaat bagi

kita semua.

Medan,

Agustus 2010

Jaka Pramana Kaban 04 0404 034

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI

Abstrak

 

i

Kata Pengantar

 

ii

Daftar Isi

 

iv

Daftar Notasi

 

vi

Daftar Tabel

viii

Daftar Gambar

xi

BAB

I Pendahuluan

1

 

I.1. Latar Belakang

1

I.2. Permasalahan

3

I.3.

Tujuan Penulisan

5

I.4. Pembatasan Masalah

6

I.5. Metodologi Pembahasan

6

BAB

II

Tinjauan Pustaka

7

 

II.1.

Teori Dasar Elastisitas

7

 

II.1.1. Komponen Tegangan

8

II.1.2. Komponen Regangan

14

II.1.3. Hubungan Tegangan dan Regangan (Hukum Hooke)

16

 

II.2.

Analisa Pelat Lentur

20

 

II.2.1. Hubungan Regangan - Kelengkungan

21

II.2.2. Tegangan dan Resultan Tegangan

23

II.2.3. Variasi Tegangan di Dalam Pelat

28

Universitas Sumatera Utara

II.2.4. Persamaan Lendutan Pelat

30

 

II.2.5.

Beberapa Syarat Batas

31

BAB III Metodologi Penelitian

34

 

III.1.

Analisa Flat Slab

34

 

III.1.1. Lendutan

34

III.1.2. Momen Lentur

40

III.1.3. Tegangan

43

 

III.2.

Analisa Flat Beam

44

 

III.2.1. Lendutan

44

III.2.2. Momen Lentur

47

BAB IV

Aplikasi Flat Slab

 

49

IV.1. Gaya Dalam di Pusat Pelat

50

IV.2.

Gaya Dalam Panel Pelat

54

BAB

V Kesimpulan

 

81

Daftar Pustaka

Lampiran

Universitas Sumatera Utara

A

a

b

D

E

f’c

G

h

M

M

M

x

y

xy

q

Q

Q

x

y

v

x,y,z

σ

x

σ

y

τ

τ

τ

xy

yz

xz

R

DAFTAR NOTASI

=

luas tampang

=

sisi terpendek pelat

=

sisi terpanjang pelat

=

kekakuan lentur pelat

=

modulus elastisitas

=

kekuatan tekan hancur beton

=

modulus geser

=

tebal pelat

=

momen Lentur tegak lurus sumbu x

=

momen lentur tegak lurus sumbu y

= momen torsi/puntir tegak lurus sumbu x

=

beban terbagi rata per satuan panjang

=

gaya geser tegak lurus sumbu x

=

gaya geser tegak lurus sumbu y

=

rasio poisson

=

koordinat pelat

= tegangan normal arah x

= tegangan normal arah y

=

tegangan geser arah xy

=

tegangan geser arah yz

=

tegangan geser arah xz

=

reaksi perletakan

Universitas Sumatera Utara

V x

=

gaya geser arah x

ε

x

=

regangan normal arah x

ε

y

=

regangan normal arah y

ε

z

=

regangan normal arah z

γ

yz

=

regangan geser arah yz

γ

xz

=

regangan geser arah xz

dx, dy, dz

=

panjang sisi elemen sumbu x,y,z

u, v, w

= komponen perpindahan elemen arah x,y,z

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL

Tabel.III.1

:

Faktor-Faktor Bilangan Untuk Momen Lentur Pelat Persegi

 

Panjang yang Mengalami Tekanan Merata q

48

Tabel.IV.1

:

Faktor Bilangan Gaya Dalam Pelat

50

Tabel.IV.2

:

Faktor Bilangan Gaya Dalam Pelat (Revisi)

51

Tabel.IV.3

:

Tabel dan Grafik Lendutan Pelat

52

Tabel.IV.4

:

Tabel dan Grafik Momen Lentur (Mx) Pelat

52

Tabel.IV.5

:

Tabel dan Grafik Momen Lentur (My) Pelat

53

Tabel.IV.6

:

Tabel dan Grafik Lendutan Flat Slab Bujur Sangkar di

 

Tengah Pelat

56

Tabel.IV.7

:

Tabel dan Grafik Lendutan Flat Slab Bujur Sangkar di Tepi

 

Pelat

56

Tabel.IV.8

:

Tabel dan Grafik Momen Lentur (Mx) Flat Slab Bujur

 

Sangkar di Tengah Pelat

58

Tabel.IV.9

:

Tabel dan Grafik Momen Lentur (Mx) Flat Slab Bujur

 

Sangkar di Tepi Pelat

58

Tabel.IV.10

:

Tabel dan Grafik Momen Lentur (My) Flat Slab Bujur

 

Sangkar di Tengah Pelat

60

Tabel.IV.11

:

Tabel dan Grafik Momen Lentur (My) Flat Slab Bujur

 

Sangkar di Tepi Pelat

60

Tabel.IV.12

:

Tabel dan Grafik Lendutan Flat Beam Bujur Sangkar di

 

Tengah Pelat

62

Universitas Sumatera Utara

Tabel.IV.13

:

Tabel dan Grafik Lendutan Flat Beam Bujur Sangkar di

 

Tepi Pelat

62

Tabel.IV.14

:

Tabel dan Grafik Momen Lentur (Mx) Flat Beam Bujur

 

Sangkar di Tengah Pelat

64

Tabel.IV.15

:

Tabel dan Grafik Momen Lentur (Mx) Flat Beam Bujur

 

Sangkar di Tepi Pelat

64

Tabel.IV.16

:

Tabel dan Grafik Momen Lentur (My) Flat Beam Bujur

 

Sangkar di Tengah Pelat

66

Tabel.IV.17

:

Tabel dan Grafik Momen Lentur (My) Flat Beam Bujur

 

Sangkar di Tepi Pelat

66

Tabel.IV.18

:

Tabel dan Grafik Lendutan Flat Slab Persegi Panjang di

 

Tengah Pelat

69

Tabel.IV.19

:

Tabel dan Grafik Lendutan Flat Slab Persegi Panjang di

 

Tepi Pelat

69

Tabel.IV.20

:

Tabel dan Grafik Momen Lentur (Mx) Flat Slab Persegi

 

Panjang di Tengah Pelat

71

Tabel.IV.21

:

Tabel dan Grafik Momen Lentur (Mx) Flat Slab Persegi

 

Panjang di Tepi Pelat

71

Tabel.IV.22

:

Tabel dan Grafik Momen Lentur (My) Flat Slab Persegi

 

Panjang di Tengah Pelat

73

Tabel.IV.23

:

Tabel dan Grafik Momen Lentur (My) Flat Slab Persegi

 

Panjang di Tepi Pelat

73

Universitas Sumatera Utara

Tabel.IV.24

:

Tabel dan Grafik Lendutan Flat Beam Persegi Panjang di

 

Tengah Pelat

75

Tabel.IV.25

:

Tabel dan Grafik Lendutan Flat Beam Persegi Panjang di

 

Tepi Pelat

75

Tabel.IV.26

:

Tabel dan Grafik Momen Lentur (Mx) Flat Beam Persegi

 

Panjang di Tengah Pelat

77

Tabel.IV.27

:

Tabel dan Grafik Momen Lentur (Mx) Flat Beam Persegi

 

Panjang di Tepi Pelat

77

Tabel.IV.28

:

Tabel dan Grafik Momen Lentur (My) Flat Beam Persegi

 

Panjang di Tengah Pelat

79

Tabel.IV.29

:

Tabel dan Grafik Momen Lentur (My) Flat Beam Persegi

 

Panjang di Tepi Pelat

79

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GAMBAR

Gambar.1.1

:

Flat Slab

2

Gambar.1.2

:

Flat Beam

3

Gambar.1.3

:

Lendutan pada Flat Slab

4

Gambar.1.4

:

Lendutan Pada Flat Beam

 

5

Gambar.2.1

:

Benda Tampang Sembarang yang Dibebani Gaya Gaya

 

Luar

8

Gambar.2.2

:

Komponen-Komponen

Tegangan

yang

Bekerja

Pada

 

Potongan Kubus Kecil

10

Gambar.2.3

:

Potongan Melintang Kubus yang Melalui Titik P

 

11

Gambar.2.4

:

Komponen-Komponen

Tegangan

yang

Bekerja

Pada

 

Potongan Kubus Kecil dimana Gaya per Satuan Volume

 

X,Y,Z Bekerja

13

Gambar.2.5

:

Elemen Kecil Berdimensi dx, dy, dz

 

14

Gambar.2.6

:

Perpindahan Titik P, A, dan B

15

Gambar.2.7

:

Perubahan Bentuk Segi Empat Parallelogram

 

18

Gambar.3.1

:

Lendutan Pelat Rata

34

Gambar.3.2

:

Pelat di Atas Kolom Ruang

 

42

Gambar.4.1

:

Lendutan Flat Slab Bujur Sangkar

57

Gambar.4.2

:

Momen Lentur (Mx) Flat Slab Bujur Sangkar

 

59

Gambar.4.3

:

Momen Lentur (My) Flat Slab Bujur Sangkar

61

Gambar.4.4

:

Lendutan Flat Beam Bujur Sangkar

 

63

Gambar.4.5

:

Momen Lentur (Mx) Flat Beam Bujur Sangkar

 

65

Universitas Sumatera Utara

Gambar.4.6

:

Momen Lentur (My) Flat Beam Bujur Sangkar

67

Gambar.4.7

:

Lendutan Flat Slab Persegi Panjang

70

Gambar.4.8

:

Momen Lentur (Mx) Flat Slab Persegi Panjang

72

Gambar.4.9

:

Momen Lentur (My) Flat Slab Persegi Panjang

74

Gambar.4.10

:

Lendutan Flat Beam Persegi Panjang

76

Gambar.4.11

:

Momen Lentur (Mx) Flat Beam Persegi Panjang

78

Gambar.4.12

:

Momen Lentur (My) Flat Beam Persegi Panjang

80

Universitas Sumatera Utara

Abstrak

Penyusunan tugas akhir ini merupakan perhitungan sederhana mengenai

gaya

dalam

yang

terjadi

pada

flat

slab.

Perhitungan

ini

ditujukan

untuk

menemukan besaran gaya dalam yang terjadi pada setiap panel di dalam flat slab.

Sehingga dari sini kita dapat mengetahui besarnya gaya dalam dan juga bentuk

dari gaya dalam itu sendiri yang diaplikasikan ke dalam gambar.

Bentuk pelat yang diambil ada dua macam yaitu bujur sangkar dan persegi

panjang. Alasan digunakannya dua bentuk pelat ini adalah agar di dalam tulisan

kedua bentuk dapat diperbandingkan secara lebih nyata dan lebih kompleks. Dan

akibat dari keterbatasan literatur mengenai pembahasan pelat ini maka penulis

hanya mampu melakukan perhitungan sederhana dengan menggunakan data data

yang ada.

Pembahasan yang dilakukan dalam tugas akhir ini antara lain perhitungan

lendutan

dan

momen

lentur.

Perhitungan

dilakukan

secara

manual

dengan

menggunakan rumus rumus yang terdapat di dalam literatur, untuk perhitungan

data-data agar lebih akurat maka perhitungan dilakukan dengan menggunakan

bantuan program microsoft excel dan penggambaran dilakukan dengan bantuan

program AutoCAD .

Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari penulisan ini adalah semakin

besar dimensi dari flat slab maka lendutan pelat tersebut juga akan semakin besar.

Oleh karena itu, pelat berbentuk bujur sangkar merupakan bentuk yang paling

efisien dan efektif digunakan untuk flat slab.

Universitas Sumatera Utara

BAB I

PENDAHULUAN

I.1. LATAR BELAKANG

Pada saat

ini,

pesatnya

perkembangan teknologi telah

memunculkan

berbagai jenis struktur pelat yang cukup rumit misalnya pada struktur jembatan,

pesawat terbang, bangunan, dan produk industri lainnya. Pada analisa struktur

yang demikian kompleks, metode eksak akan sulit digunakan. Kompleksitas

struktur tersebut menyangkut beberapa hal, antara lain: kerumitan bentuk struktur

yang kerap kali tidak simetris, karakteristik material yang non-linier dan kondisi

pembebanan yang rumit. Perhitungan menggunakan metode eksak tidak mungkin

digunakan pada struktur dengan kompleksitas yang sedemikian rumit, karena

penyelesaian eksak hanya dapat diperoleh untuk kasus yang paling sederhana.

Dalam model teori yang telah dikembangkan, analisa dan dan modelisasi

struktur

pelat dapat disederhanakan menjadi sebuah bidang datar yang disebut

permukaan referensi, yaitu bidang tengah pelat atau bidang xy (z = 0). Dengan

pemodelan ini semua relasi (persamaan keseimbangan, tegangan, deformasi,

hukum hooke dan ekspresi energi) struktur solid 3 dimensi akan digeneralisasikan

menjadi model solid 2 dimensi dengan mengikuti hipotesa-hipotesa yang diambil

sesuai dengan model teori yang dipergunakan.

Secara umum, pelat merupakan suatu struktur solid tiga dimensi dengan

bidang permukaan yang lurus, datar (tidak melengkung) dan tebalnya jauh lebih

Universitas Sumatera Utara

kecil dibandingkan dengan dimensi yang lain. Ditinjau dari segi statika, kondisi

tepi pelat bisa bebas, jepit-jepit elastis, bertumpuan sederhana, bertumpuan elastis

atau dalam beberapa hal dapat berupa tumpuan titik terpusat. Beban statis dan

dinamis yang dipikul oleh pelat umumnya tegak lurus terhadap permukaan pelat

sehingga peralihan yang terjadi pada pelat merupakan akibat dari aksi lentur pelat.

Sementara perkembangan mekanika struktur secara keseluruhan dimulai dengan

penelitian masalah keseimbangan, analisa dan percobaan yang pertama kali

terhadap pelat terutama dilakukan terhadap getaran bebas.

Dalam hal yang lebih khusus, Pelat Flat-Slab memiliki keistimewaan

dibandingkan dengan pelat lain yaitu pada pelat ini tidak menggunakan balok

sebagai penahan bebannya melainkan pelat itu sendiri yang menahan beban

diatasnya. Hal ini pasti menimbulkan pemikiran, tanpa adanya balok sebagai

penahan pada pelat flat-slab ini pasti akan mengalami momen dan lendutan yang

besar terutama pada bagian tengah pelat. Hal inilah yang mendasari penulisan

tugas akhir ini, yaitu untuk menganalisa seberapa besar momen dan lendutan yang

terjadi pada pelat flat-slab ini dan membandingkannya dengan pelat lain sehingga

kita dapat mengetahui perbedaan yang konkrit antara pelat flat-slab ini dengan

pelat biasa sehingga hal ini dapat dijadikan pedoman untuk mendesain pelat.

biasa sehingga hal ini dapat dijadikan pedoman untuk mendesain pelat. Gambar.1.1. Flat Slab Universitas Sumatera Utara

Gambar.1.1. Flat Slab

Universitas Sumatera Utara

Gambar.1.2. Flat Beam Setelah membaca dan mempelajari literatur mengenai pelat flat-slab ada beberapa hal yang

Gambar.1.2. Flat Beam

Setelah membaca dan mempelajari literatur mengenai pelat flat-slab ada

beberapa hal yang dapat saya hipotesa, antara lain: Lendutan yang terjadi pada

pelat flat-slab lebih besar dibandingkan dengan lendutan yang terjadi pada pelat

balok. Dan besarnya nilai lendutan tergantung pada dimensi dari pelat tersebut.

sementara itu, momen yang terjadi pada kedua jenis pelat tersebut sama besarnya

apabila beban yang diberikan pada kedua jenis pelat tersebut sama besar.

I.2. PERMASALAHAN

Permasalahan yang terjadi pada pelat sangat luas dan rumit. Kasus-kasus

seperti lendutan, momen lentur, momen puntir, gaya geser, analisa tegangan dan

regangan, torsi, dan lain sebagainya. Hal ini belum termasuk permasalahan yang

terjadi akibat bentuk pelat yang beragam dan kondisi perletakan yang berbeda

pada pelat. Oleh karena itu, dibutuhkan waktu yang lama untuk dapat mempelajari

dan mengatasi semua masalah yang terjadi pada kasus pelat.

Dalam tugas akhir ini, permasalahan yang utama yang dihadapi adalah

mengenai gaya dalam yang terjadi pada pelat tanpa balok (Flat-Slab). Dalam

Universitas Sumatera Utara

kasus pelat flat-slab ini karena tepi pelat tidak ditumpu oleh balok sehingga

menyebabkan terjadi lendutan pada tepi pelat. Sementara pada kasus pelat balok

karena tepi dari pelat tersebut menggunakan balok sehingga lendutan hanya

terjadi di tengah pelat sementara lendutan yang terjadi pada tepi pelat ini hampir

tidak ada. Inilah perbedaan yang khas dari kedua jenis pelat ini dan inilah yang

mendasari penulisan tugas akhir ini yaitu untuk mengetahui seberapa besar

perbedaan gaya dalam dari kedua pelat ini dari segi perhitungan mekanika teknik.

dari kedua pelat ini dari segi perhitungan mekanika teknik. (sumber : Theory of plates and shells,

(sumber : Theory of plates and shells, S. Timoshenko)

Gambar.1.3. Lendutan pada flat-slab

Universitas Sumatera Utara

(sumber : Theory of plates and shells, S. Timoshenko) Gambar.1.4. Lendutan pada Flat Beam Reaksi

(sumber : Theory of plates and shells, S. Timoshenko)

Gambar.1.4. Lendutan pada Flat Beam

Reaksi (R) yang terjadi pada gambar lendutan pelat diatas dapat dicari

dengan menggunakan rumus

R

=

2

(

M

xy

)

=

2

D

(

1

d

2 w

dxdy

 

v

)

 

(sumber : Theory of plates and shells, S. Timoshenko)

I.3. TUJUAN PENULISAN

Adapun manfaat dari penulisan tugas akhir ini adalah untuk mengetahui

sejauh mana perbedaaan Gaya Dalam seperti Lendutan (w) dan Momen Lentur

(M x dan M y ) antara flat-slab dan flat beam, sehingga kita dapat mengetahui

karakteristik dari masing-masing pelat.

Universitas Sumatera Utara

I.4. PEMBATASAN MASALAH

Karena luasnya permasalahan yang terjadi dalam pembahasan mengenai

pelat dan akibat dari keterbatasan literatur serta waktu yang kurang mencukupi,

sehingga dalam penulisan tugas akhir

ini hanya akan membahas mengenai

perhitungan mekanika teknik dari pelat yang dibandingkan saja. Dengan kata lain,

hal-hal diluar perhitungan mekanika teknik, seperti perhitungan bahan, jenis

bahan dan lain sebagainya tidak akan dibahas dalam tugas akhir ini.

I.5. METODOLOGI PENULISAN

Metode yang digunakan dalam penulisan tugas akhir ini adalah studi

literatur yaitu dengan mengumpulkan data-data dan keterangan dari buku-buku

yang relevan dan berhubungan dengan pembahasan pada tugas akhir ini serta

masukan-masukan dari dosen pembimbing. Tulisan ini bersifat komparatif yaitu

untuk mengetahui perbandingan antara satu variabel dengan variabel lain. Dalam

tugas akhir ini variabel yang dibandingkan adalah Flat-Slab dengan Flat Beam.

Untuk perhitungan tabel-tabel dilakukan dengan bantuan program Microsoft

Excel dan untuk penggambaran dilakukan dengan bantuan AutoCAD.

Universitas Sumatera Utara

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1. Teori Dasar Elastisitas

Teori

Elastisitas

merupakan

cabang

yang

sangat

penting

dari

fisis

matematis, yang mengkaji hubungan antara gaya, perpindahan, tegangan dan

regangan dalam sebuah benda elastis. Bila suatu benda dibebani oleh gaya luar,

benda

tersebut

akan

mengalami

deformasi

sehingga

timbul

tegangan

dan

regangan. Perubahan bentuk ini tergantung pada konfigurasi geometris dari benda

tersebut dan pada sifat mekanis bahannya. Dalam teori elastisitas kita batasi

pembahasan hanya pada bahan yang elastis linier, yaitu keadaan dimana hubungan

antara regangan dan tegangan bersifat linier dan perubahan bentuk serta tegangan

akan

hilang

menganggap

bila

gaya

luar

bahan

bersifat

dihilangkan.Selain

hal

tersebut,

homogen

dan

isotropik,

dengan

mekanis bahan sama dalam segala arah.

teori elastisitas

demikian

sifat

Dalam statika benda tegar (rigid body), kita hanya mengkaji gaya luar

(External Force) yang bekerja pada suatu benda dan tidak meninjau perubahana

bentuk yang timbul. Sebaliknya, dalam teori elastisitas kita meninjau perubahan

bentuk akibat gaya luar. Melalui perubahan bentuk pada benda tersebut, gaya-

gaya luar dikonversikan menjadi gaya dalam (Internal Force).

Universitas Sumatera Utara

II.1.1. Komponen Tegangan

Tegangan didefinisikan sebagai intensitas gaya yang bekerja pada tiap

satuan luas bahan. Untuk menjelaskan ini, maka akan ditinjau sebuah benda yang

dalam keadaan setimbang seperti terlihat pada Gambar.2.1. Akibat kerja gaya luar

P 1 , P 2 , P 3 , P 4 , P 5 , P 6 , dan P 7 , maka akan terjadi gaya dalam di antara benda.

Untuk mempelajari besar gaya ini pada titik sembarang O, maka benda diandaikan

dibagi menjadi dua bagian A dan B oleh penampang mm yang melalui titik O.

P1 x P2 m B P7 O y A z P4 m P6 P5
P1
x
P2
m
B
P7
O
y
A
z
P4
m
P6
P5

P3

Gambar.2.1.Benda Tampang Sembarang yang Dibebani oleh Gaya-Gaya Luar

(sumber : Theory of elasticity, S. Timoshenko)

Kemudian tinjaulah salah satu bagian ini, misalnya A. Bagian ini dapat

dinyatakan dalam keadaan setimbang akibat gaya luar P 1 , P 2 , P 3 , P 4 , P 5 , P 6 , P 7

dan gaya dalam terbagi di sepanjang penampang mm yang merupakan kerja

bahan. Oleh karena intensitas distribusi ini, tegangan dapat diperoleh dengan

membagi gaya tarik total P dengan luas potongan penampang A.

Universitas Sumatera Utara

Untuk memperoleh besar gaya yang bekerja pada luasan kecil δA,

misalnya dari potongan penampang mm pada titik O, dapat diamati bahwa gaya

yang bekerja pada elemen luas ini diakibatkan oleh kerja bahan bagian B terhadap

bahan bagian A yang dapat diubah menjadi sebuah resultante δP. Apabila tekanan

terus diberikan pada luas elemen δA, harga batas δP/δA akan menghasilkan besar

tegangan yang bekerja pada potongan penampang mm pada titik O. arah batas

resultante δP adalah arah tegangan.

Umumnya, arah tegangan ini miring terhadap luas δA tempat gaya

bekerja sehingga dapat diuraikan menjadi dua komponen tegangan yaitu tegangan

normal yang tegak lurus terhadap luas dan tegangan geser yang bekerja pada

bidang luas δA.

Tegangan normal dinotasikan dengan huruf σ dan tegangan geser dengan

huruf τ. Untuk menunjukkan arah bidang dimana tegangan tersebut bekerja,

digunakan subskrip terhadap huruf-huruf ini. Tegangan normal menggunakan

sebuah subskrip yang menunjukkan arah tegangan yang sejajar terbadap sumbu

koordinat tersebut, sedangkan tegangan geser menggunakan dua buah subskrip

dimana huruf pertama menunjukkan arah normal terhadap bidang yang ditinjau

dan

huruf

kedua

menunjukkan

arah

komponen

tegangan.

Gambar.2.2

menunjukkan

arah

komponen-komponen

tegangan

yang

bekerja

pada

suatu

elemen kubus kecil pada titik O.

Universitas Sumatera Utara

z

x

σ x y τ xy τ xz σ z τ yx τ zy τ yz
σ x
y
τ xy
τ
xz
σ z
τ yx
τ zy
τ yz
σ y
τ zx
σ y
τ zx
τ yz
P τ zy
τ yx
σz
τ xz
τ xy

σx

Gambar.2.2.Komponen-Komponen Tegangan yang Bekerja Pada Potongan Kubus Kecil

(sumber : Theory of elasticity, S. Timoshenko)

Untuk menjelaskan tegangan yang bekerja pada keenam sisi elemen ini

diperlukan tiga simbol σ x , σ y , σ z untuk tegangan normal dan enam simbol τ xy , τ yx ,

τ xz , τ zx , τ yz , τ zy untuk tegangan geser. Dengan meninjau kesetimbangan elemen

secara sederhana, maka jumlah simbol tegangan geser dapat dikurangi menjadi

tiga.

Universitas Sumatera Utara

z

τZX

z τ ZX C τXZ P τ ZX τ XZ x Gambar.2.3.Potongan Melintang Kubus yang Melalui
C τXZ P
C
τXZ
P

τZX

τXZ

x

Gambar.2.3.Potongan Melintang Kubus yang Melalui Titik P

(sumber : Theory of elasticity, S. Timoshenko)

Apabila momen gaya yang bekerja pada elemen terhadap garis yang

melalui titik tengah C dan sejajar sumbu x, maka hanya tegangan permukaan yang

diperlihatkan pada Gambar.2.3 yang perlu ditinjau. Gaya benda, seperti berat

elemen, dapat diabaikan karena semakin kecil ukuran elemen, maka gaya benda

yang bekerja padanya berkurang sebesar ukuran linier pangkat tiga. Sedangkan

gaya permukaan berkurang sebesar ukuran linier kuadrat. Oleh karena itu, untuk

elemen yang sangat kecil, besar gaya benda sangat kecil jika dibandingkan dengan

gaya permukaan sehingga dapat dihilangkan ketika menghitung momen.

Dengan cara yang sama, orde momen akibat ketidak-merataan distribusi

gaya normal lebih tinggi dibandingkan dengan orde momen akibat gaya geser dan

menjadi nol dalam limit. Juga gaya pada masing-masing sisi dapat ditinjau

sebagai

luas

sisi

kali tegangan

di tengah.

Jika

ukuran

elemen

kecil

pada

Gambar.2.3 adalah dx, dy, dz, maka momen gaya terhadap P, maka persamaan

kesetimbangan elemen ini adalah :

τ xz dx dy dz = τ zx dx dy dz

(2.1)

Universitas Sumatera Utara

Dua persamaan lain dapat diperoleh dengan cara yang sama sehingga

didapatkan :

τ xy =

τ yx

τ zx =

τ xz

Dengan demikian enam besaran σ x , σ y , σ z , τ xy =

τ zy =

τ yx , τ zx

=

τ yz

τ xz , τ zy

=

(2.2)

τ yz

cukup untuk menjelaskan tegangan yang bekerja pada koordinat bidang melalui

sebuah titik. Besaran-besaran ini disebut komponen tegangan pada suatu titik.

Jika kubus pada Gambar 2.3 diberikan suatu komponen gaya per satuan

volume sebesar X, Y, Z pada masing-masing sumbu x, y, dan z maka gambar

komponen tegangan dalam Gambar.2.3 akan menjadi seperti pada Gambar.2.4 di

bawah

ini

dan

persamaan

kesetimbangan

akan

dapat

diperoleh

dengan

menjumlahkan semua gaya pada elemen dalam arah x yaitu :

[(σ x + jσ x ) – σ x ] j y j z + [(τ yx + jτ yx ) – τ yx ] j x j z + [(τ zx + jτ zx ) – τ zx ] j x j y + X j x j y j z = 0

[(σ y + jσ y ) – σ y ] j x j z + [(τ xy + jτ xy ) – τ xy ] j y j z + [(τ zy + jτ zy ) – τ zy ] j x j y + Y j x j y j z = 0

[(σ z + jσ z ) – σ z ] j x j y + [(τ xz + jτ xz ) – τ xz ] j y j z + [(τ yz + jτ yz ) – τ yz ] j x j z + Z j x j y j z = 0

Universitas Sumatera Utara

z

x

σx + σx y τ xy + τ xy σ z τxz + τxz τyx
σx + σx
y
τ xy +
τ xy
σ z
τxz +
τxz
τyx +
τyx
τ zy
τ yz
τ zx +
τ zx
σ y
σ y + σ y
τzx
+
+
τ yz
τ yz
τ zy
τ zy
τ yx
P
σ z + σ z
τxz
τxy

σx

Gambar.2.4.Komponen-Komponen Tegangan yang Bekerja Pada Potongan Kubus Kecil Dimana Gaya Luar Per Satuan Volume X, Y, Z Bekerja

(sumber : Theory of elasticity, S. Timoshenko)

Sesudah

dibagi

dengan

jx,

jy,

jz, dan seterusnya

penyusutan elemen hingga titik x, y, z maka akan didapatkan :

σ

x

τ

yx

τ

zx

+ X

+

+ = 0

x

y

z

σ

 

τ

τ

y

y

+ Y

+

xy

+ = 0

zy

x

z

σ

z

τ

xz

τ

yz

+ Z

+

+ = 0

z

x

y

hingga

batas

(2.3)

Persamaan (2.3) ini harus dipenuhi di semua titik di seluruh volume benda.

Tegangan berubah di seluruh volume benda, dan apabila sampai pada permukaan,

tegangan-tegangan ini harus sedemikian rupa sehingga setimbang dengan gaya

luar yang bekerja pada permukaan benda.

Universitas Sumatera Utara

II.1.2. Komponen Regangan

Regangan didefinisikan sebagai suatu perbandingan antara perubahan

dimensi suatu bahan dengan dimensi awalnya. Karena merupakan rasio antara dua

panjang, maka regangan ini merupakan besaran tak berdimensi, artinya regangan

tidak mempunyai satuan. Dengan demikian, regangan dinyatakan hanya dengan

suatu bilangan, tidak bergantung pada sistem satuan apapun. Harga numerik dari

regangan biasanya sangat kecil karena batang yang terbuat dari bahan struktural

hanya mengalami perubahan panjang yang kecil apabila dibebani.

Dalam

membahas

perubahan

bentuk

benda

elastis,

selalu

dianggap

bahwa benda terkekang sepenuhnya sehingga tidak bisa bergerak sebagai benda

kaku sehingga tidak mungkin ada perpindahan partikel benda tanpa perubahan

bentuk benda tersebut.

Pada pembahasan ini yang ditinjau hanya perubahan bentuk yang kecil

yang biasa terjadi pada struktur teknik. Perpindahan kecil pertikel yang berubah

bentuk ini diuraikan ke dalam komponen u, v, w berturut-turut sejajar dengan

sumbu koordinat. Besar komponen ini dianggap sangat kecil dan bervariasi di

seluruh volume benda.

x

dy dz O P B dx z A C Gambar.2.5.Elemen Kecil Berdimensi dx dy dz
dy
dz
O
P B
dx
z
A
C
Gambar.2.5.Elemen Kecil Berdimensi dx dy dz

y

Universitas Sumatera Utara

Tinjau elemen kecil dx dy dz dari sebuah benda elastis seperti terlihat

pada Gambar.2.5. Apabila benda mengalami perubahan bentuk dan u, v, w

merupakan komponen perpindahan titik P, perpindahan titik di dekatnya , A,

dalam arah x pada sumbu x adalah orde pertama dalam dx, yaitu u + (ju/jx) dx

akibat pertambahan fungsi u sebesar (ju/jx) dx sesuai dengan pertambahan

panjang elemen PA akibat perubahan bentuk adalah (ju/jx) dx. Sedangkan satuan

perpanjangan (unit elongation) pada titik P dalam arah x adalah (ju/jx). Dengan

cara yang sama, maka diperoleh satuan perpanjangan dalam arah y dan z adalah

(jv/jy) dan (jw/jz).

O

P

dx

A

x

   

v

 
u P'
u
P'

v +

dy

A'

B

 

B'

 
 

u

dy

u +

y

 
v
v

x dx

y

Gambar.2.6.Perpindahan Titik-Titik P, A, dan B

(sumber : Theory of elasticity, S. Timoshenko)

Sekarang tinjaulah pelentingan sudut antara elemen PA dan PB dalam

Gambar.2.6. Apabila u dan v adalah perpindahan titik P dalam arah x dan y,

perpindahan titik A dalam arah y dan titik B dalam arah x berturut-turut adalah

v + (jv/jx) dx dan u + (ju/jy) dy. Akibat perpindahan ini, maka PAmerupakan

arah baru elemen PA yang letaknya miring terhadap arah awal dengan sudut kecil

yang ditunjukkan pada gambar, yaitu sama dengan (jv/jx). Dengan cara yang

Universitas Sumatera Utara

sama arah PBmiring terhadap PB dengan sudut kecil (ju/jy). Dari sini dapat

dilihat bahwa sudut awal APB yaitu sudut antara kedua elemen PA dan PB

berkurang sebesar (jv/jx) + (ju/jy). Sudut ini adalah regangan geser (shearing

strain) antara bidang xz dan yz. Regangan geser antara bidang xy dan xz dan

bidang yx dan yz dapat diperoleh dengan cara yang sama.

Selanjutnya kita menggunakan huruf Є untuk satuan perpanjangan dan

huruf γ untuk regangan geser. Untuk menunjukkan arah regangan digunakan

subskrip yang sama terhadap huruf ini sama seperti untuk komponen tegangan.

Kemudian diperoleh dari pembahasan di atas beberapa besaran berikut :

∈ =

x

u

x

∈ =

y

v

y

∈ =

z

w

z

γ

xy

=γ

yx

=

u

y

+

v

x

γ

xz

=γ

zx

=

u

z

+

w

x

γ

yz

= γ

zy

=

v

z

+

w

y

(2.4)

Keenam besaran ini disebut sebagai komponen regangan geser.

II.1.3. Hubungan Tegangan dan Regangan (Hukum Hooke)

Hubungan linier antara komponen tegangan dan komponen regangan

umumnya dikenal sebagai hukum Hooke. Satuan perpanjangan elemen hingga

batas proporsional diberikan oleh

∈ =

x

σ

x

E

E

(2.5)

dimana E adalah modulus elastisitas dalam tarik (modulus of elasticity in tension).

Bahan yang digunakan di dalam struktur biasanya memiliki modulus yang sangat

besar dibandingkan dengan tegangan izin, dan besarnya perpanjangan sangat

Universitas Sumatera Utara

kecil. Perpanjangan elemen dalam arah x ini akan diikuti dengan pengecilan pada

komponen melintang yaitu

dimana

dengan pengecilan pada komponen melintang yaitu dimana ∈ =− ϑ y σ x E σ x

∈ =−ϑ

y

σ

x

E

σ

x

E

E

∈ = −ϑ

z

(2.6)

adalah suatu konstanta yang disebut dengan ratio Poisson (Poisson’s

Ratio). Untuk sebagian besar bahan, ratio poisson dapat diambil sama dengan

0,25. Untuk baja struktur biasanya diambil sama dengan 0,3.

Apabila elemen di atas mengalami kerja tegangan normal σ x , σ y , σ z secara

serempak, terbagi rata di sepanjang sisinya, komponen resultante regangan dapat

diperoleh dari persamaan (2.5) dan (2.6) yaitu :

x

=

1

E

[

σ

x

(

ϑ σ

y

+σ

z

y

=

∈ =

z

1

E

1

E

[

σ

y

(

ϑ σ +σ

x

z

[

σ ϑ σ

z

(

x

+σ

y

)]

)]

)]

(2.7)

Pada persamaan (2.7), hubungan antara perpanjangan dan tegangan

sepenuhnya didefinisikan oleh konstanta fisik yaitu E dan

sepenuhnya didefinisikan oleh konstanta fisik yaitu E dan . Konstanta yang sama dapat juga digunakan untuk

. Konstanta yang sama

dapat juga digunakan untuk mendefinisikan hubungan antara regangan geser dan

tegangan geser.

Universitas Sumatera Utara

z

b τ τ o c a 45° τ τ d
b
τ
τ
o
c
a
45°
τ
τ
d

y

b

σ τ o
σ
τ
o

σ

c

Gambar.2.9.Perubahan Bentuk Segi Empat Paralellogram

(sumber : Theory of elasticity, S. Timoshenko)

Tinjaulah kasus khusus yaitu perubahan bentuk segi empat paralelogram

di mana σ z = σ, σ y = –σ , dan σ x = 0. Potonglah sebuah elemen abcd dengan

bidang yang sejajar dengan sumbu x dan terletak 45˚ terhadap sumbu y dan z

(Gambar.2.9). Dengan menjumlah gaya sepanjang dan tegak lurus bc, bahwa

tegangan normal pada sisi elemen ini nol dan tegangan geser pada sisi adalah :

τ

= ½ (σ z σ y )

=

σ

(2.8)

Kondisi tegangan seperti itu disebut geser murni (pure shear). Pertambahan

panjang elemen tegak Ob sama dengan berkurangnya panjang elemen mendatar

Oa dan Oc, dan dengan mengabaikan besaran kecil dari orde kedua, kita bisa

menyimpulkan bahwa panjang elemen ab dan bc tidak berubah selama terjadinya

perubahan bentuk. Sudut antara sisi ab dan bc berubah dan besar regangan geser

yang bersangkutan γ bisa diperoleh dari segi tiga Obc. Sedudah perbuahan bentuk

akan didapatkan :

Universitas Sumatera Utara

Oc

Ob

=

tan

π

4

y  =

2

1

+∈

y

1

+∈

z

Untuk γ yang kecil, tan ( γ / 2 ) γ / 2 , maka :

Oc

Ob

=

tan

π

4

y  =

2

Maka diperoleh :

y

= −

y

2

dan

tan

π

4

tan

y

2

=

1

y

2

=

1 +∈

y

1

+

tan

π

tan

y

1

+

y

1 +∈

z

 

4

2

2

∈ =

z

y

2

Sedangkan jika nilai-nilai σ z = σ, σ y = –σ , dan σ x = 0 disubstitusikan ke dalam

persamaan (2.7) maka akan diperoleh :

y

=

1

E

∈ =

z

1

E

[

(

σ

σ

ϑσ

(

ϑ

)

= −

(

1 +

)

ϑ σ

E

= −

y

2

σ

)]

= −

(

1 +

)

ϑ σ

y

=

E

2

Maka diperoleh hubungan antara regangan dengan regangan geser :

=

y

2

(2.9)

Hubungan antara regangan dan tegangan geser didefinisikan oleh konstanta E dan

v yaitu :

Jika digunakan notasi :

γ

= 2 1

+

(

)

ϑ σ

E

=

2 1 + E

(

)

ϑ τ

G

E

= 2 1

( +ϑ)

Maka persamaan (2.10) akan menjadi :

(2.10)

(2.11)

Universitas Sumatera Utara

γ =

τ

G

(2.12)

dimana konstanta G didenisikan oleh (2.11), dan disebut modulus elastisitas

dalam geser (modulus of elasticity in shear) atau modulus kekakuan (modulus of

rigidity).

Apabila tegangan geser bekerja ke semua sisi elemen, seperti terlihat

pada Gambar.2.5, pelentingan sudut antara dua sisi yang berpotongan hanya

tergantung kepada komponen tegangan geser yang bersangkutan dan diperoleh :

γ

xy

=

τ

xy

G

II.2. Analisa Pelat Lentur

γ

yz

=

τ

yz

G

γ

xz

=

τ

xz

G

Pelat dan shell pada mulanya adalah suatu elemen struktur bidang rata

maupun lengkung dimana ketebalannya lebih kecil dibandingkan dimensi lainnya,

Ketebalan suatu pelat biasanya diukur pada arah normal sumbu (garis berat) pelat.

Dilihat dari segi ketebalannya, pelat dapat dikategorikan menjadi 3 jenis, yaitu:

1. Pelat tipis dengan lendutan kecil (thin plate with small deflection)

2. Pelat tipis dengan lendutan besar (thin plate with large deflection)

3. Pelat tebal (thick plate)

Melihat

kategori

tersebut

sering

digunakan

dan

diaplikasikan

untuk

mendefenisikan pelat tipis sebagai perbandingan tebal dengan bentang terpendek

pelat

lebih

kecil

dari

1/20

(untuk

material

beton).

Dengan

hanya

mempertimbangkan

lendutan

kecil

dengan

pelat

tipis,

terdapat

suatu

Universitas Sumatera Utara

penyederhanaan

yang

konsisten

dengan

besarnya

ditemukan pada struktur pelat.

lendutan

yang

biasanya

Asumsi yang mendasar di dalam teori lendutan kecil pada pelat terlentur

atau disebut teori klasik untuk material isotropik, homogen dan elastis didasarkan

pada geometri lendutan (deformasi), antara lain:

1. Lendutan di tengah bentang pelat lebih kecil disbanding ketebalan pelat itu

sendiri dan kemiringan lengkungan pelat sangat kecil sehingga dapat

diabaikan.

2. Penampang pada bidang system pelat tidak berubah pada saat lenturan.

3. Bdang tegak lurus pada bidang system pelat akan tetap tegak lurus setelah

pelenturan sehingga regangan geser vertical γ xz dan γ yz dapat diabaikan.

4. Tegangan normal pada bentang σ z sangat kecil dibandingkan komponen

lainnya sehingga dapat diabaikan. Pada pelat tebal, regangan geser sangat

penting seperti blok pada umumnya.

II.2.1 Hubungan Regangan – Kelengkungan

Beranjak dari anggapan tersebut di atas, hubungan regangan – perpindahan

dapat digambarkan sebagai berikut :

ε

x

ε y

γ xy

=

=

u

x

u

y

=

u

y

+

v

x

ε

γ

γ

z

xz

xz

=

w

z

= 0

w

u

= = 0

+

x

z

w

v

= = 0

+

y

z

(2.13)

Universitas Sumatera Utara

Melalui Persamaan :

γ xz

=

u

= −

w

x

+

u

z

z

w

x

+ u

0

= 0

(

x

,

y

)

w

x

dan

= −

u

z

v

=−

z

w

w

y

= −

u

z

x

+ v(x, y)

akan didapat fungsi w dalam parameter x,y atau w = (x,y), dengan kata lain

perpindahan lateral tidak dipengaruhi fungsi komponen z (tebal pelat). Dengan

asumsi kedua di atas didapatkan harga u 0 (x,y) = 0 dan v 0 (x,y) = 0

sehingga didapat:

u = −

z x

w

dan

v = −

w

z y

subtitusi persamaan (2.14) ke persamaan (2.13) menghasilkan:

ε

x

=

x

( z

w

x

) =− z

2

w

x

2

ε

y

=

z

2

w

y

2

γ

= −

xy

2

z

 

(2.14)

2

w

x

∂ ∂

y

(2.15)

Persamaan ini memberikan nilai regangan di setiap titik. Kelengkungan dari pelat

lentur didefenisikan sebagai laju perubahan kemiringan sudut sepanjang pelat.

Dengan asumsi pertama dan persamaan mewakili kelengkungan pelat.

Sehingga kelengkungan k (kappa) pada tengah bentang yang paralel dengan

bidang xz, yz, dan xy dapat digambarkan sebagai berikut :

1

r

x

1

r

y

=

=

x

x

(

w

x

(

w

x

) = k

) = k

x

x

(2.16)

Universitas Sumatera Utara

1

r

xy

=

x

(

w

y

) = k

xy

Sehingga hubungan regangan dan kelengkungan adalah superposisi persamaan

dan sebagai :

ε

x

= −zk

x

ε

y

= −zk

y

ε

xy

= −2zk

xy

II.2.2 Tegangan dan Resultan Tegangan

(2.17)

Pada kasus tegangan dan regangan tiga dimensi yang mengikuti hukum

hook

untuk

benda

isotropis,

homogen dan

elastis,

regangan adalah sebagai berikut :

ε

ε

ε

x

y

z

=

=

=

1

E

[ σ

x

1

[

E y

σ

1 [

E

σ

z

dimana :

v

v

(

σ

y

(

σ

x

v (

σ

x

+σ

+σ

z

z

+σ

y

)]

)]

)]

r xy

r

xz

r

yz

=

=

=

τ xy

G

τ xz

G

τ yz

G

E

= Modulus Elastisitas Bahan

 

v

= Poisson Ratio

G

= Modulus Geser

[ G =

2(1

E

+ v

)

]

hubungan tegangan

dan

(2.18)

Notasi untuk tegangan normal digunakan lambang σ (sigma) dan tegangan

geser digunakan lambang τ (tau). Subscript pertama menunjukkan arah normal

terhadap bidang yang ditinjau dan huruf kedua menunjukkan tegangan itu sendiri.

Universitas Sumatera Utara

Tegangan normal bernilai positif bila tegangan tersebut menghasilkan

tegangan tarik dan sebaliknya. Arah positif tegangan geser pada sisi seberang dari

elemen kubus diambil sebagai arah positif sumbu koordinat, apabila tegangan

tarik pada sisi yang sama mempunyai arah positif dari sumbu yang bersangkutan.

Apabila arah tegangan tarik berlawanan dengan arah positif maka arah positif

komponen tegangan geser dibalik.

Dengan memasukkan :

diperoleh :

σ

x

σ

y

τ

xy

=

=

E

1 v

2

E

1 v

2

= Gγ

xy

(

ε

x

(

ε

y

+

+

v

ε

y

v

ε

x

)

)

ε x = γ yz = γ xz = 0

Untuk pelat lengkung persamaan menjadi :

σ

σ

x

y

τ xy

=−

= −

=−

E

.

z

1 v

E

.

z

2

1 v

2

E z

.

1 v

(

(

(

k

k

x

+

k

y

+

xy

) =

vk

y

vk

x

)

)

=−

= −

E z 1 v

.

(

2

w

2

x

2

+ v

2

w

y

2

E z

.

(

2

w

1 v

2

y

2

+ v

2

w

x

2