Anda di halaman 1dari 14

1.

alquran sumber inspirasi untuk menemukan ilmu yang amaliah dan amal yang ilmiah

Ilmu merupakan pijakan dalam beramal, sebagai landasan berbuat dan mengarahkan perbuatan ke arah
kebaikan. Dengan ilmu kita mengetahui segalanya. Seorang bijak pernah berkata, "Ilmu tanpa amal;
cacat. Dan, amal tanpa ilmu; buta." Maaf kalau perkataan orang bijak ini salah redaksi. Atau, ada istilah
bangsa Arab yang tak pernah luput dari ingatan kita, "Al-'ilmu bilaa 'amalin, kasy-syajari bilaa tsamar".
Terjemahan bahasa Indonesianya lebih kurang seperti ini: "Ilmu yang tidak diamalkan bagai pohon tak
berbuah. Hati-hati, ini bukan hadits, melainkan pepatah alias 'ibarah. Makanya, jika berdakwah, pakailah
dalil sesuai sumbernya. Jangan pepatah dianggap hadits.

Singkatnya, ilmu harus aplikatif. Pengetahuan yang kita peroleh harus aplikatif. Benar ya, ilmu itu harus
aplikatif. Ilmu harus amaliah. Sebaliknya, beribu-ribu amal yang kita lakukan tidak akan berbuah apa-apa
melainkan kelelahan. Apa maksudnya? 'Amal yang dalam bahasa Indonesia berarti perbuatan, tidak
hanya mengerahkan segenap jiwa raga dan otot, namun akal pun berperan.

Andaikata kita shalat fardlu tanpa wudlu, ya mungkin karena tidak tahu ilmunya, lantas kita shalat ber-
rakaat-rakat hingga badan pegal-pegal. Apakah akan berbuah pahala? Tentunya tidak. Manusia
pembelajar selalu melakukan segala pekerjaannya didasarkan pada ilmu yang ia peroleh. Amal
merupakan konsekuensi dari ilmu. Untuk itu, setiap ilmu harus aplikatif, dan setiap amal harus ilmiah.
Ilmu harus profesional, dan profesionalisme harus ilmiah!

Sufyan Ats-Tsauri berkata : "Ilmu itu dipelajari agar dengannya seseorang bisa bertakwa kepada Allah"
(Al-Hilyah : 6/362).

Maka tujuan dari mempelajari ilmu adalah untuk beramal dengannya dan bersungguh-sunggguh dalam
menerapkannya. Dan ini terdapat pada orang-orang yang berakal, yang dikehendaki Allah Ta'ala bagi
mereka kebaikan hidup di dunia dan akhirat.

Amal adalah pendorong untuk tetap menjaga dan memperkokoh ilmu dalam sanubari para penuntut
ilmu, dan ketiadaan amal merupakan pendorong hilangnya ilmu dan mewariskan kelupaan. Asy Sya'bi
berkata : "Kami dahulu meminta bantuan dalam mencari hadits dengan berpuasa, dan kami dahulu
meminta bantuan untuk menghapal hadits dengan mengamalkannya".

Ibnul Jauzi berkata : "Orang yang benar-benar sangat patut dikasihani adalah orang yang menyia-
nyiakan umurnya dalam suatu ilmu yang tidak ia amalkan, sehingga ia kehilangan kesenangan dunia dan
kebaikan akhirat, kemudian dia ketika hari kiamat dalam datang dalam keadaan bangkrut dengan
kuatnya hujjah atas dirinya". (Shoidul Khatir hal. 144).

"Ilmu amaliah, amal ilmiah", walaupun terdengar rada jadul, bagi saya kalimat tersebut memiliki makna
yang sangat dalam. Ilmu amaliah berarti ilmu apapun yang sudah kita pelajari hendaknya kita amalkan,
jadi tidak hanya 'ndakik-ndakik' dalam berilmu, tapi juga dipraktekan. Apalah arti sebuah ilmu jika tidak
diamalkan. Bukankah salah satu tujuan disekolahkan juga untuk mbangun ndeso? *pinjem dua kata dari
pak Bibit :) Amal ilmiah berarti segala amal yang kita kerjakan harus didasari dengan ilmu.
Menyampaikan hal-hal yang salah bukankah akan membuat keadaan jauh lebih parah? Itulah
pentingnya berilmu. :D

2. kedudukan dan kehormatan ilmuwan dalam islam

Dalam ajaran islam sangat menghargai manusia berilmu sebagaimana Alquran itu telah menjelaskan
Surah Al Mujaadilah Ayat 11 bahwa : Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu:
Berlapang-lapanglah dalam majelis, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan
untukmu. Dan apabila dikatakan: Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan
orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa
derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

sedangkan dalam pembahasan Alquran sering menggunakan perumpamaan ini adalah salah satu tanda
bahwa Allah menginginkan hambanya untuk berfikit sebagaimana dalam Alquran Surah Al Ankabuut
Ayat 43 : Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang
memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.

karena sesungguhnaya sebagai Firman Allah Surah Al Ankabuut Ayat 49 Sebenarnya, Al Quran itu
adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang
mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang lalim.

- Dari penjelasan QS. Al-Mujadalah:11, kedudukan orang berilmu (ulama/cendikiawan) mengungguli


beberapa derajat dari orang yang tidak berilmu, bahkan orang yang beriman dan berilmu jauh lebih
tinggi dari pada hanya sekedar beriman tanpa berilmu, tentunya ilmu tersebut harus diikuti oleh
amal/perbuatan, baik melalui pesan, tulisan atau sikap teladan yang diterapkan dalam kehidupan sehari-
hari. Karena ilmu tanpa diamalkan akan mendatangkan mudharat atau bahaya terhadap pemiliknya
sendiri (QS. As-Shaff: 2-3)
- Sedangkan dalam QS. Fathir:28, ulama/cendikiawan merupakan orang yang paling takut dan kagum
terhadap Allah swt, baik karena keagungan-Nya, kekuasaan-Nya, nama dan sifat sempurna-Nya. Bahkan
dari segi keduniaan pun, hanya ulama/cendikiawan yang mengetahui segala sesuatu yang ada di dunia
ini, rahasia-rahasia di balik adanya hewan, tumbuh-tumbuhan, dan lain-lain, sesuai dengan bidang
keahlian masing-masing.

1. Orang yang berkedudukan tinggi di sisi Aloh.


Hal ini sebagaimana penegasan sekaligus janjiAllah Subhanahu wa Taala kepada Ulama dalam
firmannya yaitu Surat Al Mujaddalah Ayat 11:
Artinya:

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu
pengetahuan beberapa derajat. (Al-Mujadilah: 11)
2. Orang Yang paling khasyyah/Taqwa kepada Allah.
Sebagaimana dalam Q.S Fathir: 28 Allah memuji Ulama dengan firmannya yang berbunyi:
Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. (Fathir: 28)
3. Orang yang paling peduli terhadap umat.
Artinya: Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang
maruf dan mencegah dari yang munkar, serta beriman kepada Allah. (Ali Imran: 110)
Dalam Ayat ini sangat jelas kedudukan Ulama, sebagai Orang yang Sangat peduli Pada Umat,
Karena Di dunia ini tiada Orang yang sangat getol mengumandangkan Amar Marur dan Nahi Mungkar
selain para Ulama.
4. Ulama adalah rujukan umat dan pembimbing mereka ke jalan yang benar.
Allah SWT berfirman:
Artinya: Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.
(Al-Anbiya: 7)

Ilmuwan/Ulama adalah Orang yang berkedudukan tinggi di sisi Aloh, Orang Yang paling
khasyyah/Taqwa kepada Allah, dan Ulama adalah rujukan umat serta pembimbing mereka ke jalan yang
benar. Selain Kedudukan Ulama sebagaimana Penjelasan di atas, kedudukan mereka dalam agama
berikut di hadapan umat, merupakan permasalahan yang menjadi bagian dari agama. Mereka adalah
orang-orang yang menjadi penyambung umat dengan Rabbnya, agama dan Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wa sallam.

3. usaha usaha yang telah dan akan saudara lakukan agar ilmu pengetahuan dan teknologi yang
saudara miliki dapat memperkuat dan meningkatkan keimanan saudara kepada Allah khaliqul
alam

Akhlak yang baik muncul dari keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT Sumber segala
Kebaikan, Keindahan dan Kemuliaan. Keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT hanya akan muncul
bila diawali dengan pemahaman ilmu pengetahuan dan pengenalan terhadap Tuhan Allah SWT dan
terhadap alam semesta sebagai tajaliyat (manifestasi) sifat-sifat KeMahaMuliaan, Kekuasaan dan
Keagungan-Nya.
Islam, sebagai agama penyempurna dan paripurna bagi kemanusiaan, sangat mendorong dan
mementingkan umatnya untuk mempelajari, mengamati, memahami dan merenungkan segala kejadian
di alam semesta. Dengan kata lain Islam sangat mementingkan pengembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi.
Berbeda dengan pandangan dunia Barat yang melandasi pengembangan Ipteknya hanya untuk
kepentingan duniawi yang matre dan sekular, maka Islam mementingkan pengembangan dan
penguasaan Iptek untuk menjadi sarana ibadah-pengabdian Muslim kepada Allah SWT dan
mengembang amanat Khalifatullah (wakil/mandataris Allah) di muka bumi untuk berkhidmat kepada
kemanusiaan dan menyebarkan rahmat bagi seluruh alam (Rahmatan lil Alamin).
Dari uraian di atas hakekat penyikapan IPTEK dalam kehidupan sehari-hari yang islami adalah
memanfaatkan perkembangan IPTEK untuk meningkatkan martabat manusia dan meningkatkan kualitas
ibadah kepada Allah swt. Kebenaran IPTEK menurut Islam adalah sebanding dengan kemanfaatannya
IPTEK itu sendiri. IPTEK akan bermanfaat apabila (1) mendekatkan pada kebenaran Allah dan bukan
menjauhkannya, (2) dapat membantu umat merealisasikan tujuan-tujuannya (yang baik), (3) dapat
memberikan pedoman bagi sesama, (4) dapat menyelesaikan persoalan umat. Dalam konsep Islam
sesuatu hal dapat dikatakan mengandung kebenaran apabila ia mengandung manfaat dalam arti luas.

Pertama, kita harus menetapkan strategi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, agar sesuai
dengan nilai-nilai budaya yang dijunjung oleh nenek moyang kita selama ini.[23] Sebagai bahan acuan,
buku Erich Schumacher yang berjudul Small is Beautiful merupakan salah satu usaha mencari alternatif
penerapan teknologi yang lebih bersifat manusiawi.[24]

Kedua, dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, perlu diikutsertakan peran agama yang
menyokong nilai-nilai moralitas. Karena pengembangan iptek tanpa didasari nilai-nilai moralitas hanya
akan menciptakan bumerang yang akan mencekik penciptanya dan menimbulkan malapetaka
kemanusiaan.[25]

Ketiga, konsep Tauhid perlu diikutsertakan dalam mengawal pengembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi. Dalam arti apapun yang dilakukan kita dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan
teknologi, harus selalu ditundukkan kepada Dzat Yang Menguasai alam semesta, yaitu Allah. Sehingga,
dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, tujuan kita bukan mengeksploitasi kekayaan
bumi atau memuaskan nafsu, tetapi dalam rangka beribadah kepada-Nya (li yabuduun).[26]

Keempat, kembali kepada kategorisasi Mahmud Muhammad Thaha di atas, mulai saat ini, ilmu
pengetahuan dan teknologi jangan lagi dijadikan sebagai tujuan hidup kita. Karena semua itu hanyalah
kebudayaan atau sarana kita untuk mencapai tujuan hidup yang sejati, yaitu peradaban yang diliputi
kebahagiaan dan ketentraman hidup.
4. usaha usaha yang akan dilakukan agar kemajuan IPTEK tidak berdampak negative terhadap diri
masing masing

Perubahan lingkungan yang serba cepat dewasa ini sebagai dampak globalisasi dan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi (iptek), harus diakui telah memberikan kemudahan terhadap berbagai
aktifitas dan kebutuhan hidup manusia.

Di sisi lain, memunculkan kekhawatiran terhadap perkembangan perilaku khususnya para


pelajar dan generasi muda kita, dengan tumbuhnya budaya kehidupan baru yang cenderung menjauh
dari nilai-nilai spiritualitas. Semuanya ini menuntut perhatian ekstra orang tua serta pendidik khususnya
guru, yang kerap bersentuhan langsung dengan siswa.
Dari sisi positif, perkembangan iptek telah memunculkan kesadaran yang kuat pada sebagian
pelajar kita akan pentingnya memiliki keahlian dan keterampilan. Utamanya untuk menyongsong
kehidupan masa depan yang lebih baik, dalam rangka mengisi era milenium ketiga yang disebut sebagai
era informasi dan era bio-teknologi. Ini sekurang-kurangnya telah memunculkan sikap optimis, generasi
pelajar kita umumya telah memiliki kesiapan dalam menghadapi perubahan itu.
Salah satu upaya menanggulangi pengaruh keadaan zaman yang seperti sekarang ini adalah
dimulai dari keluarga, bagaimana pendekatan orang tua dengan anak dan kedekatan anak dengan orang
tua, banyak anak yang tidak suka kegiatannya diperhatikan oleh orang tuanya, disini peran aktif orang
tua untuk mencari cara mendekati anaknya sehingga bisa mengontrol anak-anak nya.

Setiap manusia diberikan hidayah dari Allah swt berupa alat untuk mencapai dan membuka
kebenaran. Hidayah tersebut adalah (1) indera, untuk menangkap kebenaran fisik, (2) naluri, untuk
mempertahankan hidup dan kelangsungan hidup manusia secara probadi maupun sosial, (3) pikiran dan
atau kemampuan rasional yang mampu mengembangkan kemampuan tiga jenis pengetahuan akali
(pengetahuan biasa, ilmiah dan filsafi). Akal juga merupakan penghantar untuk menuju kebenaran
tertinggi, (4) imajinasi, daya khayal yang mampu menghasilkan kreativitas dan menyempurnakan
pengetahuannya, (5) hati nurani, suatu kemampuan manusia untuk dapat menangkap kebenaran
tingkah laku manusia sebagai makhluk yang harus bermoral.
Dalam menghadapi perkembangan budaya manusia dengan perkembangan IPTEK yang sangat
pesat, dirasakan perlunya mencari keterkaitan antara sistem nilai dan norma-norma Islam dengan
perkembangan tersebut. Menurut Mehdi Ghulsyani (1995), dalam menghadapi perkembangan IPTEK
ilmuwan muslim dapat dikelompokkan dalam tiga kelompok; (1) Kelompok yang menganggap IPTEK
moderen bersifat netral dan berusaha melegitimasi hasil-hasil IPTEK moderen dengan mencari ayat-ayat
Al-Quran yang sesuai; (2) Kelompok yang bekerja dengan IPTEK moderen, tetapi berusaha juga
mempelajari sejarah dan filsafat ilmu agar dapat menyaring elemen-elemen yang tidak islami, (3)
Kelompok yang percaya adanya IPTEK Islam dan berusaha membangunnya. Untuk kelompok ketiga ini
memunculkan nama Al-Faruqi yang mengintrodusir istilah islamisasi ilmu pengetahuan. Dalam konsep
Islam pada dasarnya tidak ada pemisahan yang tegas antara ilmu agama dan ilmu non-agama. Sehingga
IPTEK menurut Islam haruslah bermakna ibadah. Yang dikembangkan dalam budaya Islam adalah
bentuk-bentuk IPTEK yang mampu mengantarkan manusia meningkatkan derajat spiritialitas, martabat
manusia secara alamiah. Bukan IPTEK yang merusak alam semesta, bahkan membawa manusia
ketingkat yang lebih rendah martabatnya.
Dari uraian di atas hakekat penyikapan IPTEK dalam kehidupan sehari-hari yang islami adalah
memanfaatkan perkembangan IPTEK untuk meningkatkan martabat manusia dan meningkatkan kualitas
ibadah kepada Allah swt. Kebenaran IPTEK menurut Islam adalah sebanding dengan kemanfaatannya
IPTEK itu sendiri. IPTEK akan bermanfaat apabila (1) mendekatkan pada kebenaran Allah dan bukan
menjauhkannya, (2) dapat membantu umat merealisasikan tujuan-tujuannya (yang baik), (3) dapat
memberikan pedoman bagi sesama, (4) dapat menyelesaikan persoalan umat. Dalam konsep Islam
sesuatu hal dapat dikatakan mengandung kebenaran apabila ia mengandung manfaat dalam arti luas.

5. kenapa pendidikan seks sangat penting diberikan orangtua sejak dini? Penyebab dan akibat yang
dapat yang dapat ditimbulkan oleh prilaku penyimpangan seksual terhadap individu, keluarga,
dan masyarakat

pendidikan seks sangat penting diberikan orangtua sejak dini

Edukasi ini dilakukan agar anak memiliki pengetahuan tentang diri dan organ seksnya serta cara
melindungi diri sehingga bisa terjaga dari orang-orang yang berniat jahat pada dirinya.

Pendidikan seks yang ditanamkan sejak dini akan mempermudah anak dalam mengembangkan potensi
dirinya, meningkatkan harga dan kepercayaan diri, memiliki kepribadian yang sehat, dan penerimaan
diri yang positif serta pertahanan diri dari marabahaya. Di sinilah peran orang tua benar-benar penting
dan menentukan, karena merekalah yang paling mengenal diri dan kebutuhan anaknya. Ayah bunda
yang lebih mengetahui perubahan dan perkembangan anak setiap saat. Di samping juga orang tua yang
paling dekat dan memahami karakter anaknya. Dengan demikian orang tua bisa memberi pendidikan
seks secara alamiah sesuai tahapan-tahapan perkembangan anak yang menjadi tanggungannya.

Dalam menyampaikan pendidikan seks pada anak tidak bisa secara instan namun memerlukan waktu
yang lama dan berkesinambungan. Orang tua harus sabar dalam memerankan tugas ini sehingga anak
dapat mengerti dan memahami apa yang disampaikan padanya. Dengan bahasa yang mudah dipahami
dan dengan pendekatan pribadi, orang tua dapat menyampaikan hal-hal prinsip berkaitan dengan seks
yang harus diketahui anak. Di sinilah kepiawaian orang tua dalam melaksanakan pendidikan seks pada
anaknya dalam keluarga. Sebagai unit terkecil dan pertama maka keluarga harus dapat memenuhi
kebutuhan anaknya termasuk dalam hal pendidikan seks. Makanya paradigma yang menyatakan bahwa
pendidikan seks pada anak usia dini merupakan suatu hal yang tabu hendaknya segera dihapus dalam
kamus pikiran orang tua. Dengan demikian orang tua akan dapat melaksanakan tugas ini dengan baik
dan benar tanpa terbebani.

Ada beberapa prinsip dasar yang harus diberikan orang tua pada anaknya berkaitan dengan pendidikan
seks pada usia dini. Pertama, orang tua harus memperkenalkan bagian tubuh penting yang dimiliki anak
(maksudnya alat vital) beserta fungsinya. Orang tua harus mampu mengemukakan pada anak agar dapat
menjaga dan memelihara alat vital tersebut dari gangguan dari siapa saja. Sejak dini orang tua sudah
menggambarkan pada anak bahwa alat vital dan bagian tubuh lainnya yang sensitif merupakan aurat
yang harus dijaga dan ditutup rapat. Tidak boleh satu orang pun yang boleh melihat apalagi meraba alat
tersebut karena akan menimbulkan bahaya besar bagi dirinya. Anak diajarkan agar jangan membiarkan
bagian tubuhnya seperti bibir, dada, paha, dan kemaluannya dipegang dan diraba orang lain. Apabila hal
ini terjadi maka si anak diminta menghindar atau melawan untuk keselamatan dirinya.

Kedua, orang tua harus menanamkan rasa malu pada anak sejak usia dini. Sifat ini akan membantu anak
dalam menjaga dan memelihara aurat atau kehormatannya. Anak yang sudah mulai memahami hal ini
sesuai dengan usianya akan mampu menjaga dirinya, seperti tidak akan buang air kecil dan besar di
tempat terbuka, menukar pakaian di hadapan orang lain dan tidak menampakkan auratnya. Sering
terjadi kejahatan seksual pada seorang anak disebabkan oleh tidak rapinya pakaian anak sehingga
bagian tubuhnya kelihatan. Sekalipun berada dalam rumah, anak perempuan tetap hendaknya memakai
pakaian yang sopan dan yang tidak merangsang. Ini sebagai antisipasi terjadinya kejahatan seksual dari
kalangan keluarga terdekat.

Ketiga, mengajarkan pada anak tata krama dalam pergaulan atau pertemanan sejak usia dini. Anak laki-
laki sebaiknya bermain dengan anak laki-laki. Demikian juga dengan anak perempuan hendaknya
bermain sesama perempuan juga. Apabila hal ini sudah ditanamkan sejak usia dini maka tentu anak
perempuan akan risih dan tidak nyaman sekiranya ada laki-laki dewasa asing yang mendekati dirinya
apalagi sampai melakukan sesuatu yang tidak diingini seperti memegang bagian tubuh, mengelus dan
merabanya bahkan lebih dari pada itu. Sering kejahatan seksual menimpa anak ketika dirinya
membiarkan orang lain meraba tubuhnya .

Keempat, orang tua harus memisahkan tempat tidur atau kamar anak laki-laki dengan anak perempuan.
Hal ini mengajarkan bahwa memang anak laki-laki dengan anak perempuan itu berbeda kodrat dan
organ tubuhnya. Masing-masing anak memiliki spesifik tersendiri dan hal yang berbeda baik dari segi
fisik maupun dari sisi psikisnya. Dengan pemahaman ini, anak akan berusaha tampil sesuai dengan
identitasnya. Makanya, orang tua harus memberikan mainan atau pakaian sesuai dengan jenis kelamin
anaknya seperti mobilan untuk laki-laki dan boneka untuk perempuan atau laki-laki dengan celana
panjangnya dan anak perempuan dengan rok dan jilbab manisnya.

Kelima, orang tua harus menjaga tontonan anak. Orang tua harus mampu mengedukasi anaknya tentang
film atau drama yang layak ditontonnya. Orang tua tidak bisa memberikan kebebasan pada anak dalam
hal menonton dan menyaksikan siaran televisi. Pasalnya, tak jarang kejahatan atau pelecehan seksual
justru dilakukan seorang anak di bawah umur berawal dari tontonan yang tidak benar. Kita tentunya
pernah mendengar anak laki-laki yang masih duduk di bangku SD memperkosa adiknya atau teman
perempuannya. Oleh karena itu, dengan mendampingi anak dalam menonton dan memilih tontonan
yang sehat maka anak akan terhindar dari melakukan kejahatan seksual.
Dengan belajar tentang sex education, diharapkan remaja dapat menjaga organ-organ reproduksi pada
tubuh mereka dan orang lain tidak boleh menyentuh organ reproduksinya khususnya bagi remaja putri.

Pentingnya Pendidikan Seks (Sex Education) Bagi Remaja

Ada beberapa hal mengenai Pentingnya Pendidikan Seks bagi Remaja, diantaranya yaitu:

Untuk mengetahui informasi seksual bagi remaja

Memiliki kesadaran akan pentingnya memahami masalah seksualitas

Memiliki kesadaran akan fungsi-fungsi seksualnya

Memahami masalah-masalah seksualitas remaja

Memahami faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya masalah-masalah seksualitas

Selain itu ada dua faktor mengapa pendidikan seks (sex education) sangat penting bagi remaja. Faktor
pertama adalah di mana anak-anak tumbuh menjadi remaja, mereka belum paham dengan sex
education, sebab orang tua masih menganggap bahwa membicarakan mengenai seks adahal hal yang
tabu. Sehingga dari ketidak fahaman tersebut para remaja merasa tidak bertanggung jawab dengan seks
atau kesehatan anatomi reproduksinya.

Faktor kedua, dari ketidakfahaman remaja tentang seks dan kesehatan anatomi reproduksi mereka, di
lingkungan sosial masyarakat, hal ini ditawarkan hanya sebatas komoditi, seperti media-media yang
menyajikan hal-hal yang bersifat pornografi, antara lain, VCD, majalah, internet, bahkan tayangan
televisi pun saat ini sudah mengarah kepada hal yang seperti itu. Dampak dari ketidakfahaman remaja
tentang sex education ini, banyak hal-hal negatif terjadi, seperti tingginya hubungan seks di luar nikah,
kehamilan yang tidak diinginkan, penularan virus HIV dan sebagainya.

Ada beberapa pendapat yang bilang, sex education memang pantas dimasukkan dalam kurikulum di
sekolah menengah, apalagi siswa pada ini adalah masa pubertas. Pendidikan Seks Sex education
sangat perlu sekali untuk mengantisipasi, mengetahui atau mencegah kegiatan seks bebas dan mampu
menghindari dampak-dampak negatif lainnya.

Mungkin kita baru menyadari betapa pentingnya pendidikan seks karena banyak kasus pergaulan
bebas muncul di kalangan remaja dewasa ini. Kalau kita berbicara tentang pergaulan bebas, hal ini
sebenarnya sudah muncul dari dulu, hanya saja sekarang ini terlihat semakin parah. Pergaulan bebas
remaja ini bisa juga karena dipicu dengan semakin canggihnya kemajuan teknologi, juga sekaligus dari
faktor perekonomian global. Namun hanya menyalahkan itu semua juga bukanlah hal yang tepat. Yang
terpenting adalah bagaimana kita mampu memberikan pendidikan seks (sex education) kepada
generasi muda.

Penyebab dan akibat yang dapat yang dapat ditimbulkan oleh prilaku penyimpangan seksual terhadap
individu, keluarga, dan masyarakat

Penyebab Penyimpangan Perilaku Seksual


Susan Noelen Hoeksema dalam bukunya Abnormal Psychology, mengatakan bahwa perilaku
penyimpangan seksual 90% lebih diderita oleh pria. Namun, saat para peneliti mencoba menemukan
ketidaknormalan pada hormon testoteron ataupun hormon-hormon lainnya yang diduga menjadi
penyebab perilaku seks menyimpang, hasilnya tidak konsisten. Artinya, kecil kemungkinan perilaku seks
menyimpang disebabkan oleh ketidaknormalan hormon seks pria atau hormon lainnya. Penyebabnya,
tampaknya lebih berkaitan dengan pelampiasan dorongan agresif atau permusuhan, yang lebih mungkin
terjadi pada pria daripada pada wanita.

Penyebab lainnya yang diduga dapat menyebabkan perilaku seks menyimpang ialah penyalahgunaan
obat dan alkohol. Obat-obatan tertentu memungkinkan seseorang yang memiliki potensi perilaku seks
menyimpang melepaskan fantasi tanpa hambatan kesadaran. Kemudian, faktor lingkungan, keluarga,
dan budaya di mana seorang anak dibesarkan ikut memengaruhi perilaku seksnya. Anak yang
orangtuanya sering mendapat hukuman fisik dan mendapat kontak seksual yang agresif, lebih mungkin
menjadi agresif dan impulsif secara seksual terhadap orang lain di saar dewasa dewasa. Sebuah juga
penelitian menunjukkan bahwa empat dari lima penderita pedofilia telah mengalami pelecehan seksual
di masa kanak-kanak.

Faktor-faktor Penyebab:

a.. Masalah seksualitas remaja timbul karena faktor-faktor berikut:

1). Meningkatnya libido seksualitas


Perubahan-perubahan hormonal yang meningkatkan hasrat seksual (libido seksualitas) remaja.
Peningkatan hasyrat seksual ini membutuhkan penyaluran dalam bentuk tingkah laku seksual tertentu.
2). Penundaan usia perkawinan
Penyaluran itu tidak dapat segera dilakukan karena adanya penundaan usia perkawinan, baik
secara hukum oleh karena adanya undang-undang tentang perkawinan yang menetapkan batas usia
menikah (sedikitnya 16 tahun untuk wanita dan 19 tahun untuk pria), maupun karena norma sosial yang
makin lama makin menuntut persyaratan yang makin tinggi untuk perkawinan (pendidikan, pekerjaan,
persiapan mental, dan lain-lain).
Sementara usia kawin ditunda, norma-norma agama tetap berlaku dimana seseorang dilarang
untuk melakukan hubungan seks sebelum menikah. Bahkan larangannya berkembang lebih jauh kepada
tingkah-tingkah laku yang lain seperti ciuman dan masturbasi. Untuk remaja yang tidak dapat menahan
diri akan terdapat kecenderungan untuk melanggar saja larangan-larangan tersebut.
3). Tabu-larangan
Ditinjau dari pandangan psikoanalisis, tabunya pembicaraan mengenai seks tentunya
disebabkan karena seks dianggap sebagai bersumber pada dorongan-dorongan naluri di dalam id.
Dorongan-dorongan naluri seksual ini bertentangan dengan dorongan moral yang ada dalam
super ego, sehingga harus ditekan, tidak boleh dimunculkan pada orang lain dalam bentuk tingkah
laku terbuka.
Karena remaja (dan juga banyak orang dewasa) pada umumnya tidak mau mengakui aktivitas
seksualnya dan sulit diajak berdiskusi tentang seks, terutama sebelum ia bersenggama untuk yang
pertama kalinya.
Tabu-tabu ini jadinya mempersulit komunikasi. Sulitnya komunikasi, khususnya dengan orang
tua, pada akhirnya akan menyebabkan perilaku seksual yang tidak diharapkan.
4). Kurangnya informasi tentang seks
Pada umumnya mereka ini memasuki usia remaja tanpa pengetahuan yang memadai tentang
seks dan selama hubungan pacaran berlangsung pengetahuan itu bukan saja tidak bertambah, akan
tetapi malah bertambah dengan informasi-informasi yang salah. Hal yang terakhir ini disebabkan orang
tua tabu membicarakan seks dengan anaknya dan hubungan orang tua-anak sudah terlanjur jauh
sehingga anak berpaling ke sumber-sumber lain yang tidak akurat, khususnya teman.

5). Pergaulan yang makin bebas


Kebebasan pergaulan antar jenis kelamin pada remaja, kiranya dengan mudah bisa disaksikan
dalam kehidupan sehari-hari, khususnya di kota-kota besar. Di pihak lain, tidak dapat diingkari adanya
kecenderungan pergaulan yang makin bebas antara pria dan wanita dalam masyarakat sebagai akhibat
berkembangnya peran dan pendidikan wanita sehingga kedudukan wanita makin sejajar dengan pria
(Sarwono, 2002).

Dampak Tuk Pelaku (diri sendiri)


Terganggunya perkembangan jiwa
Pengaruh psikologis atau penderitaan kejiwaan serta tekanan mental terhadap pelaku karena
tetao dikucilkan dari kehidupan penduduk atau dijauhi dari pergaulan.

Dapat menghancurkan masa hadapan pelaku penyimpangan.


Dapat menjauhkan pelaku dari Tuhan lalu dekat dengan perbuatan dosa.
Perbuatan yang dilakukan meraih mencelakakan dirinya sendiri.
Terkucilkan
Umumnya dialami oleh pemain penyimpangan individual, antara yang lain pelaku penyalahgunaan
narkoba, penyimpangan seksual, tindak kejahatan/kriminal. Pengucilan kepada pelaku
penyimpangan diterapkan oleh masyarakat dengan manfaat supaya pelaku penyimpangan
menyadari kesalahannya dan tindak penyimpangannya tidak menulari ang gota penduduk yang
lain.

Rasa Bersalah
Sebagai manusia yang adalah mahluk yang berakal budi, mustahil seorang pelaku tindak
penyimpangan tidak pernah merasakan malu, merasa bersalah justru merasa menyesal telah
melanggar nilai-nilai dan norma masyarakatnya. Sekecil apapun rasa bersalah itu pasti akan
nampak karena tindak penyimpangan ini telah merugikan orang yang lain, hilangnya harta benda
justru nyawa.

Dampak Bagi Kehidupan Masyarakat


Perilaku penyimpangan juga membawa dampak tuk orang lain atau kehidupan masyarakat pada
umumnya. Dalam beberapa di antaranya adalah meliputi hal-hal berikut ini.

Mengganggu keamanan, ketertiban lalu ketidakharmonisan dalam masyarakat.


Merusak tatanan nilai, norma, kemudian berbagai pranata sosial yang berlaku di
masyarakat.
Mengundang beban sosial, psikologis, serta ekonomi bagi keluarga pemain.
Merusak unsur-unsur budaya serta unsur-unsur lain yang mengelola perilaku individu
dalam kehidupan masyarakat.
Dampak yang ditimbulkan sebagai akibat perilaku penyimpangan sosial, baik terhadap pemain
maupun terhadap orang yang lain pada umumnya adalah bersifat negatif.

Akibat dari penyimpangan perilaku seksual (free sex)

1. Penyakit Menular Seksual (PMS)


Remaja yang sudah sering ngelakuin hubungan seks akan selalu terdorong untuk melakukan kembali dan
karena belum ada pasangan tetap maka akan cenderung jajan cari selera yang baru dengan berganti-
ganti pasangan. Keadaan ini akan memperparah terjadinya penyakit menular seksual kayak gonorhoe,
cacar lunak, siphilis maupun AIDS. PMS sering berakhir dengan adanya komplikasi tetap berupa
infertilitas dan kemandulan
2.Kanker leher rahim
Hubungan seks pra nikah pada umumnya terjadi di kalangan remaja yang usianya belum cukup dewasa.
Pada usia remaja, maturitas sel-sel epitel mulut rahim belum cukup matang. Adanya rangsangan seksual
(gesekan benda tumpul/penis) akan memacu terjadinya proses keganasan pada leher rahim (kanker)
3. Kehamilan yang nggak dikehendaki dan abortus provokatus kriminalis
Dampak langsung yang sering terjadi adanya hubungan seks pra nikah adalah terjadinya kehamilan yang
nggak dikehendaki dan upaya melakukan aborsi ilegal.
Disamping itu, sedikitnya ada 6 dosa akibat adanya perbuatan pergaulan bebas (free sex). Keenam-
enamnya akan ditanggung oleh si wanita sedangkan si pria cuman naggung satu.

Dosa - Dosa Yang di timbulkan :


1. Dosa biologis
Dosa ini cuman dialami oleh si wanita. Wanita harus kehilangan keperawanan, selaput dara sobek dan
rasa sakit yang sangat. Wanita pulalah yang akan hamil, melahirkan, menyusui, merawat dan
membesarkan bayi akibat kecelakaan yang nikmat tersebut. Sedangkan si pria cenderung nggak mau
tahu, bahkan pergi nggak terdeteksi
2. Dosa psikologis
Dosa ini juga cenderung cuman dialami si wanita. Karena secara psikis ia yang menanggung malu, putus
asa, stress dan menyesal
3. Dosa sosiologis
Dosa inipun banyak dialami oleh wanita, karena status sosialnya udah berubah menjadi nggak perawan
lagi. Kadang ia dikucilkan, dicaci-maki atau diusir dari komunitas masyarakat. Sedang si pria belum diusir
udah kabur duluan
4. Dosa akademis
Kalo udah terjadi kayak gituan, wanitalah yang akan terhambat menikmati pendidikan secara formal.
Boleh jadi ia nggak sanggup nyelesaikan sekolah karena beban mental atau di DO
5. Dosa historis
Secara historis, wanita lebih sensitif terhadap peristiwa pahit yang telah terjadi. Ia cenderung trauma
dan sukar melupakan peristiwa masa lampau. Ini akan menjadi beban tersendiri baginya.
6. Dosa teologis
Dosa ini akan dialami oleh wanita maupun pria yang nge-seks tersebut. Dan inilah dosa sesungguhnya
yang akan mendapat laknat dari Alloh swt serta diancam neraka, jika sampai akhir hayatnya nggak mau
tobat.

Memang, seks merupakan hajat dasar manusia. Ia nggak boleh dibunuh, tapi jangan pula diumbar.
Sayang banyak manusia yang terpedaya oleh buaian nafsu ini. Yang perlu kita lakuin saat ini cuman
ngupayain agar kita nggak terjerumus dalam free sex tersebut. Juga nasehatin saudara-saudara kita yang
lain agar lebih hati-hati. Mari jaga pandangan, jangan biarin pandangan kita liar kemana-mana kalo ada
pengundang syahwat lewat. Hindari sedini mungkin pergaulan dengan lawan jenis secara berlebih.
Jangan suka ikhtilat kecuali dalam tiga hal, pertama: dalam tujuan dakwah, kedua: dalam tujuan
pendidikan dan ketiga dalam tujuan kesehatan (Jumhur ulama). Dan bagi yang udah siap nikah nggak
usah nunggu-nunggu atau dipersulit apalagi bagi akhwat. Intinya segeralah menikah sebelum bahaya
terbesar itu menimpa diri kamu..

6. kenapa islam sangat mementingkan pernikahan dan jelaskan hikmahnya bagi kehidupan pribadi
dan masyarakat

A. Islam Menganjurkan Nikah, Islam telah menjadikan ikatan perkawinan yang sah berdasarkan Al-
Quran dan As-Sunnah sebagai satu-satunya sarana untuk memenuhi tuntutan naluri manusia yang
sangat asasi, dan sarana untuk membina keluarga yang Islami. Penghargaan Islam terhadap ikatan
perkawinan besar sekali, sampai-sampai ikatan itu ditetapkan sebanding dengan separuh agama. Anas
bin Malik radliyallahu anhu berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam :

Artinya : Barangsiapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan hendaklah ia
bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi. (Hadist Riwayat Thabrani dan Hakim).
B. Islam Tidak Menyukai Membujang, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan untuk
menikah dan melarang keras kepada orang yang tidak mau menikah. Anas bin Malik radliyallahu anhu
berkata : Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk nikah dan melarang kami
membujang dengan larangan yang keras. Dan beliau bersabda :
Artinya : Nikahilah perempuan yang banyak anak dan penyayang. Karena aku akan berbangga dengan
banyaknya umatku dihadapan para Nabi kelak di hari kiamat. (Hadits Riwayat Ahmad dan di shahihkan
oleh Ibnu Hibban).
Pernah suatu ketika tiga orang shahabat datang bertanya kepada istri-istri Nabi shallallahu alaihi wa
sallam tentang peribadatan beliau, kemudian setelah diterangkan, masing-masing ingin meningkatkan
peribadatan mereka. Salah seorang berkata: Adapun saya, akan puasa sepanjang masa tanpa putus. Dan
yang lain berkata: Adapun saya akan menjauhi wanita, saya tidak akan kawin selamanya . Ketika hal itu
didengar oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam, beliau keluar seraya bersabda :
Artinya : Benarkah kalian telah berkata begini dan begitu, sungguh demi Allah, sesungguhnya akulah
yang paling takut dan taqwa di antara kalian. Akan tetapi aku berpuasa dan aku berbuka, aku shalat dan
aku juga tidur dan aku juga mengawini perempuan. Maka barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku,
maka ia tidak termasuk golonganku. (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim).
Orang yang mempunyai akal dan bashirah tidak akan mau menjerumuskan dirinya ke jalan kesesatan
dengan hidup membujang. Kata Syaikh Hussain Muhammad Yusuf : Hidup membujang adalah suatu
kehidupan yang kering dan gersang, hidup yang tidak mempunyai makna dan tujuan. Suatu kehidupan
yang hampa dari berbagai keutamaan insani yang pada umumnya ditegakkan atas dasar egoisme dan
mementingkan diri sendiri serta ingin terlepas dari semua tanggung jawab.Orang yang membujang
pada umumnya hanya hidup untuk dirinya sendiri. Mereka membujang bersama hawa nafsu yang selalu
bergelora, hingga kemurnian semangat dan rohaninya menjadi keruh. Mereka selalu ada dalam
pergolakan melawan fitrahnya, kendatipun ketaqwaan mereka dapat diandalkan, namun pergolakan
yang terjadi secara terus menerus lama kelamaan akan melemahkan iman dan ketahanan jiwa serta
mengganggu kesehatan dan akan membawanya ke lembah kenistaan.
Jadi orang yang enggan menikah baik itu laki-laki atau perempuan, maka mereka itu sebenarnya
tergolong orang yang paling sengsara dalam hidup ini. Mereka itu adalah orang yang paling tidak
menikmati kebahagiaan hidup, baik kesenangan bersifat sensual maupun spiritual. Mungkin mereka
kaya, namun mereka miskin dari karunia Allah.
Islam menolak sistem ke-rahib-an karena sistem tersebut bertentangan dengan fitrah kemanusiaan, dan
bahkan sikap itu berarti melawan sunnah dan kodrat Allah Taala yang telah ditetapkan bagi
makhluknya. Sikap enggan membina rumah tangga karena takut miskin adalah sikap orang jahil (bodoh),
karena semua rezeki sudah diatur oleh Allah sejak manusia berada di alam rahim, dan manusia tidak
bisa menteorikan rezeki yang dikaruniakan Allah, misalnya ia berkata : Bila saya hidup sendiri gaji saya
cukup, tapi bila punya istri tidak cukup ?!.
Perkataan ini adalah perkataan yang batil, karena bertentangan dengan ayat-ayat Allah dan hadits-
hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Allah memerintahkan untuk kawin, dan seandainya
mereka fakir pasti Allah akan membantu dengan memberi rezeki kepadanya. Allah menjanjikan suatu
pertolongan kepada orang yang nikah, dalam firman-Nya:
Artinya : Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu dan orang-orang yang layak
(berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin Allah akan
memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha
Mengetahui. (An-Nur : 32).
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menguatkan janji Allah itu dengan sabdanya :
Artinya : Ada tiga golongan manusia yang berhak Allah tolong mereka, yaitu seorang mujahid fi
sabilillah, seorang hamba yang menebus dirinya supaya merdeka, dan seorang yang menikah karena
ingin memelihara kehormatannya. (Hadits Riwayat Ahmad 2 : 251, Nasai, Tirmidzi, Ibnu Majah hadits
No. 2518, dan Hakim 2 : 160 dari shahabat Abu Hurairah radliyallahu anhu).
Para Salafus-Shalih sangat menganjurkan untuk nikah dan mereka anti membujang, serta tidak suka
berlama-lama hidup sendiri.Ibnu Masud radliyallahu anhu pernah berkata : Jika umurku tinggal
sepuluh hari lagi, sungguh aku lebih suka menikah daripada aku harus menemui Allah sebagai seorang
bujangan. (Ihya Ulumuddin dan Tuhfatul Arus hal. 20).
TUJUAN PERKAWINAN DALAM ISLAM
1. Untuk Memenuhi Tuntutan Naluri Manusia Yang Asasi
Di tulisan terdahulu [bagian kedua] kami sebutkan bahwa perkawinan adalah fitrah manusia, maka jalan
yang sah untuk memenuhi kebutuhan ini yaitu dengan aqad nikah (melalui jenjang perkawinan), bukan
dengan cara yang amat kotor menjijikan seperti cara-cara orang sekarang ini dengan berpacaran,
kumpul kebo, melacur, berzina, lesbi, homo, dan lain sebagainya yang telah menyimpang dan
diharamkan oleh Islam.
2. Untuk Membentengi Ahlak Yang Luhur
Sasaran utama dari disyariatkannya perkawinan dalam Islam di antaranya ialah untuk membentengi
martabat manusia dari perbuatan kotor dan keji, yang telah menurunkan dan meninabobokan martabat
manusia yang luhur. Islam memandang perkawinan dan pembentukan keluarga sebagai sarana efefktif
untuk memelihara pemuda dan pemudi dari kerusakan, dan melindungi masyarakat dari kekacauan.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :
Artinya : Wahai para pemuda ! Barangsiapa diantara kalian berkemampuan untuk nikah, maka
nikahlah, karena nikah itu lebih menundukan pandangan, dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan
barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia puasa (shaum), karena shaum itu dapat
membentengi dirinya. (Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasai, Darimi, Ibnu
Jarud dan Baihaqi).
3. Untuk Menegakkan Rumah Tangga Yang IslamiDalam Al-Quran disebutkan bahwa Islam
membenarkan adanya Thalaq (perceraian), jika suami istri sudah tidak sanggup lagi menegakkan batas-
batas Allah, sebagaimana firman Allah dalam ayat berikut :
Artinya : Thalaq (yang dapat dirujuki) dua kali, setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara maruf atau
menceraikan dengan cara yang baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali dari sesuatu yang telah
kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-
hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh istri untuk
menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang
melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang dhalim. (Al-Baqarah : 229).
Yakni keduanya sudah tidak sanggup melaksanakan syariat Allah. Dan dibenarkan rujuk (kembali nikah
lagi) bila keduanya sanggup menegakkan batas-batas Allah.

Pernikahan mengandung hikmah yang sangat besar untuk keberlangsungan hidup manusia, diantaranya
sebagai berikut : Hikmah Pernikahan Dalam Islam.
a. Terciptanya hubungan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram, dalam ikatan suci yang
halal dan di ridhai Allah swt.
b. Mendapatkan keturunan yang sah dari hasil pernikahan.

c. Terpeliharanya kehormatan suami istri dari perbuatan zina.

d. Terjalinnya kerjasama antara suami dan istri dalam mendidik anak dan menjaga kehidupannya.
e. Menjalin silaturahim antar keluarga besar pihak suami dan pihak istri.

7. jelaskan kepribadian rasulullah SAW! Jelaskan usaha saudara dalam rangka meneladani akhlak
beliau, contoh
8. jelaskan peranan dan tanggung jawab saudara sebagai ilmuwan muslim (ulul albab) serta
tindakan nyata yang akan saudara lakukan dalam menciptakan lingkungan dan masyarakat yang
sehat jasmani, rohani, mental, social, dan spiritual! Beri contoh masing masing
9. pada hakikatnya manusia memiliki kedudukan paling mulia dan paling tinggi di antara makhluk
Allaah
a. jelaskan pendapat tentang itu
b. jelaskan pola langkah2 yang harus dilakukan untuk mempertahankan kedudukan tersebut
c. jelaskan sejauh mana langkah-langkah itu saudara jalankan
10. tujuan penciptaan sekaligus tujuan hidup manusia adalah beribadah kepada Allah SWT
a. jelaskan pengertian ibadah dan syarat syarat suatu perbuatan yang tergolong ibadah kepada
Allah
b. kenapa nilai-nilai (hikmah) ibadah seperti shalat, puasa, zakat, haji dan ibadah lainnya dapat
dikerjakan umat islam tidak mewarnai kepribadian dan prilaku sebagian mereka
c. bagaimana menurut pendapat anda tentang manusia yang selalu sibuk dan bergelimang
dengan aktivitas duniawi saja.