Anda di halaman 1dari 20

DAMPAK KERUSAKAN HULU SUNGAI TERHADAP PERCEPATAN SEDIMENTASI PADA WILAYAH HILIR

DAMPAK KERUSAKAN HULU SUNGAI TERHADAP PERCEPATAN SEDIMENTASI PADA WILAYAH HILIR

1. Pendahuluan

1.1. Latar Belakang

Bagian hulu sungai merupakan daerah tangkapan air paling awal yang berperan menyimpan air untuk
kelangsungan hidup makhluk hidup di dunia. Apabila lahan tempat air tersimpan tersebut sudah
terganggu atau mengalami degradasi, maka simpanan air akan berkurang dan mempengaruhi debit
sungai di sekitar lahan tersebut berada serta pengaruh selanjutnya akan mengganggu keseimbangan
dalam keberlangsungan hidup makhluk hidup yang tinggal di kawasan tersebut. Kerusakan yang timbul
paling nyata adalah akan semakin cepat sedimentasi atau penumpukan material akibat erosi pada
daerah hilir. Dua penyebab utama terjadinya erosi adalah erosi karena sebab alamiah dan erosi karena
aktivitas manusia. Erosi alamiah dapat terjadi karena proses pembentukan tanah dan proses erosi yang
terjadi untuk mempertahankan keseimbangan tanah secara alami. Sedang erosi karena kegiatan manusia
kebanyakan disebabkan oleh terkelupasnya lapisan tanah bagian atas akibat cara bercocok tanam yang
tidak mengindahkan kaidah-kaidah konservasi tanah atau pembangunan yang bersifat merusak kkeadaan
fisik tanah (Asdak,1995). Biasanya akibat yang sering timbul dari proses tersebut adalah terjadinya banjir
di bagian hilir sungai.

Sedimen yang sering kita jumpai di dalam sungai, baik terlarut maupun tidak terlarut, adalah merupakan
produk dari pelapukan batuan induk yang dipengaruhi oleh faktor lingkungan, terutama perubahan
iklim. Hasil pelapukan batuan induk tersebut kita kenal sebagai partikel-partikel tanah (Asdak,1995).
Peningkatan muatan sedimen di permukaan sungai mempengaruhi debit suatu sungai. Penumpukan
sedimen di dasar sungai menyebabkan debit sungai akan menurun. Penumpukan sedimen yang semakin
tinggi berpotensi mengurangi kapasitas tampung sungai terhadap air hujan yang berintensitas besar
terutama saat musim hujan. Hasil sedimen tergantung pada besarnya erosi total di daerah aliran air
(DAS) dan tergantung pada transpor partikel-partikel tanah yang tererosi tersebut keluar dari daerah
tangkapan air DAS, selain itu juga disebabkan oleh variasi karakteristik fisik DAS tersebut (Asdak,1995).
Hal ini yang kemudian dapat memicu terjadinya banjir pada waktu musim hujan di bagian hilir sungai.
Keadaan ini sudah terjadi di beberapa kawasan hilir sungai ketika musim hujan meskipun dengan
intensitas hujan tidak terlalu besar, namun sering menyebabkan banjir di beberapa wilayah kota besar di
dunia. Dari masalah-masalah yang timbul tersebut penulis kemudain menarik sebuah judul pada
makalah ini, yaitu Dampak Kerusakan Hulu Sungai Terhadap Percepatan Sedimentasi Pada Wilayah
Hilir
Makalah ini ditulis bertujuan untuk mengetahui bagaimana percepatan sedimentasi pada daerah hilir
sungai akibat rusaknya hulu sungai. Selain itu juga untuk mengetahui dampak dari sedimentasi diwilayah
hilir tersebut. Dengan demikian kemudian akan bisa ditarik solusi-solusi yang mungkin bisa dilakukan
agar sedimentasi di wilayah hilir tidak semakin parah.

1.2 Rumusan Masalah

Adapun batasan-batasan masalah yang akan menjadikan pembahasan pada makalah ini antara lain
adalah :

1. Bagaimana proses pembentukan sedimentasi, faktor-faktor yang mempengaruhinya dan dampak


yang timbul akibat sedimentasi ? .

2. Apa yang menyebabkan percepatan sedimentasi pada daerah hilir sungai ?.

3. Bagaimana cara mengurangi percepatan sedimentasi sebagai penyebab banjir pada suatu lokasi
sungai ? .

1.3 Tujuan

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini antara lain adalah :

1. Mengetahui proses pembentukan sedimentasi, faktor-faktor yang mempengaruhinya, dan dampak


yang ditimbulkan dari sedimentasi.

2. Mengetahui tingkat percepatan sedimentasi akibat kerusakan pada daerah hulu sungai

3. Mengetahui cara mengurangi masalah sedimentasi pada suatu lokasi sungai.

2. Pembahasan

2.1.Proses Pembentukan Sedimentasi, Faktor yang mempengaruhinya dan dampak yang timbul akibat
sedimentasi

Dalam suatu proses sedimentasi, ini diawali dengan masuknya partikel-partikel dan juga zat-zat yang
masuk ke sungai dri hulu hingga hilir dan berakhir menjadi sedimen. Sedimen yang dihasilkan oleh
proses erosi akan terbawa oleh aliran dan diendapkan pada suatu tempat yang kecepatannya melambat
atau terhenti. Proses ini dikenal dengan sedimentasi atau pengendapan. Asdak (2002) dalam Reinnamah
(2009) menyatakan bahwa sedimen hasil erosi terjadi sebagai akibat proses pengolahan tanah yang tidak
memenuhi kaidah-kaidah konservasi pada daerah tangkapan air di bagian hulu. Kandungan sedimen
pada hampir semua sungai meningkat terus karena erosi dari tanah pertanian, kehutanan, konstruksi
dan pertambangan. Hasil sedimen (sediment yield) adalah besarnya sedimen yang berasal dari erosi
yang terjadi di daerah tangkapan air yang dapat diukur pada periode waktu dan tempat tertentu. Hal ini
biasanya diperoleh dari pengukuran padatan tersuspensi di dalam perairan.
Berdasarkan pada jenis dan ukuran partikel-partikel tanah serta komposisi bahan, sedimen dapat dibagi
atas beberapa klasifikasi yaitu gravels (kerikil), medium sand (pasir), silt (lumpur), clay (liat) dan dissolved
material (bahan terlarut). Ukuran partikel memiliki hubungan dengan kandungan bahan organik
sedimen. Sedimen dengan ukuran partikel halus memiliki kandungan bahan organik yang lebih tinggi
dibandingkan dengan sedimen dengan ukuran partikel yang lebih kasar. Hal ini berhubungan dengan
kondisi lingkungan yang tenang, sehingga memungkinkan pengendapan sedimen lumpur yang diikuti
oleh akumulasi bahan organik ke dasar perairan. Pada sedimen kasar, kandungan bahan organik biasanya
rendah karena partikel yang halus tidak mengendap. Selain itu, tingginya kadar bahan organik pada
sedimen dengan ukuran butir lebih halus disebabkan oleh adanya gaya kohesi (tarik menarik) antara
partikel sedimen dengan partikel mineral, pengikatan oleh partikel organik dan pengikatan oleh sekresi
lendir organisme (Wood, 1997 dalam Reinnamah, 2009).

Partikel sedimen mempunyai ukuran yang bervariasi, mulai dari yang kasar sampai halus. Menurut
Buchanan (1984) dalam Reinnamah (2009) berdasarkan skala Sedimen terdiri dari beberapa komponen
bahkan tidak sedikit sediment yang merupakan pencampuran dari komponen-komponen tersebut.
Adapun komponen itu bervariasi, tergantung dari lokasi, kedalaman dan geologi dasar (Forstner dan
Wittman, 1983). Pada saat buangan limbah industri masuk ke dalam suatu perairan maka akan terjadi
proses pengendapan dalam sedimen. Hal ini menyebabkan konsentrasi bahan pencemar dalam sedimen
meningkat.

Menurut Umi M dan Agus S (2002) bagian sungai yang paling efektif untuk proses pengendapan
(sedimentasi) ini adalah bagian hilir atau pada bagian slip of slope pada kelokan sungai, karena biasanya
pada kelokan sungai terjadi pengurangan energi yang cukup besar. Ukuran material yang diendapkan
berbanding lurus dengan besarnya energi pengangkut, sehingga semakin ke hilir, energi semakin kecil,
material yang diendapkan pun semakin halus.

Dari penjabaran diatas menjelaskan bahwa proses sedimentasi berasal dari partikel-partikel mineral yang
terbawa dari hulu sungai kemudian terbawa hingga hilir sungai,dan ketika sampai disana akan
mengalami penumpukan. Ketika semakin banyak partikel yang terbawa arus dari hulu maka
pembentukan sedimentasi pada wilayah hilir akan semakin cepat.

2.1.1. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi proses sedimentasi adalah:

a. Kecepatan Aliran Sungai

Kecepatan aliran maksimal pada tengah alur sungai, bila sungai membelok maka kecepatan maksimal
ada pada daerah cut of slope (terjadi erosi). Pengendapan terjadi bila kecepatan sungai menurun atau
bahkan hilang.

b. Gradien / kemiringan lereng sungai

Bila air mengalir dari sungai yang kemiringan lerengnya curam kedataran yang lebih rendah maka
keceapatan air berkurang dan tiba-tiba hilang sehingga menyebabkan pengendapan pada dasar sungai.

c. Bentuk alur sungai


Aliran air akan mengerus bagian tepi dan dasar sungai. Semakin besar gesekan yang terjadi maka air
akan mengalir lebih lambat. Sungai yang dalam, sempit, dan permukaan dasar tidak kasar, aliran airnya
deras. Sungai yang lebar, dangkal, dan permukaan dasarnya tidak kasar, atau sempit dalam tetapi
permukaan dasarnya kasar, aliran airnya lambat.

Dari beberapa faktor tersebut merupakan penjabaran faktor-faktor terbesar yang menimbulkan
percepatan sedimentasi akibat terbawanya material-material sungai dan juga sekitar sungai akibat
pengikisan dari arus sungai tersebut. Arus sungai merupakan faktor yang utama didalam aktivitas proses
erosi yang menyebabkan sedimentasi, namun arus tersebut tidak lepas juga karena kemiringan lereng
sungai. Semakin terjal suatu sungai maka erosi akan semakin besar pula.

Faktor lain yang mempengaruhi terjadinya sedimentasi di muara sungai antara lain: aktivitas gelombang
dan pola arus. Aliran sepanjang aliran sungai sebagai dampaknya jumlah sungai ini membawa material
sedimen dan limbah yang berasal dari hulu dan sepanjang daerah aliran sungai yang akan diendapkan di
muara sungai. Menurut Djojodihardjo (1982) proses pengendapan di muara sungai dipengaruhi oleh
pasang arus dan gelombang. Energi gelombang selain berfungsi sebagai komponen pembangkit arus
sejajar pantai (longshore current), juga menimbulkan abrasi. Proses sedimentasi dan erosi merupakan
dua proses yang terjadi silih berganti dalam jarak yang relatif dekat untuk mencapai keseimbangan dan
merupakan bagian dari dinamika alur sungai. Selain itu, Topografi daerah aliran sungai, iklim, jenis dan
tekstur tanah, morfometrik sungai, sistem hidrologi serta energi pasang surut di muara sungai juga
sangat mempengaruhi sedimentasi.

2.1.2. Dampak yang ditimbulkan akibat sedimentasi

Kegiatan pembukaan lahan di bagian hulu dan DTA untuk pertanian, pertambangan dan pengembangan
permukiman merupakan sumber sedimen dan pencemaran perairan sungai yang disebabkan oleh
aktivitas manusia.

Pendangkalan akibat sedimentasi alamiah Membawa beberapa dampak negatif. Dasar di hilir sungai
akan meninggi akibat sedimentasi ini. Akibatnya, air tidak mengalir dengan baik sehingga meningkatkan
kemungkinan banjir. Ekosistem pesisir juga terancam oleh pendangkalan. Biota-biota perairan dangkal
kehilangan habibat. Padahal, biota laut dangkal sumber makanan utama ikan-ikan. Jika kehilangan
makanan, populasi ikan menyusut sehingga jumlah tangkapan nelayan berkurang. Bagi pelayaran,
dampak pendangkalan berupa menyempitnya alur. Akibatnya, perahu dan kapal semakin terbatas ruang
geraknya. Walaupun tidak semua dampak yang ditimbulkan adalah dampak negatif, seperti dalam jangka
panjang sedimentasi dalam jutaan tahun kembali akan mengahasilkan mineral yang berguna untuk
energy seperti minyak dan gas alam atau seperti pengendapan yang terjadi di sungai, banyak yang
menggali dan menambang pasir di darerah sungai karena sedimentsi menyebabkan kualitas pasir
menjadi bagus untuk bahan bangunan dan untuk membuiat jalan. Tetapi yang kita lihat selama ini adalah
terjadinya abrasi pantai, terlalu banyak organisme yang mati akibat tercemar logam berat, habitat dan
ekosistem banyak yang rusak disebabkan pengikisan pantai yang diakibatkan oleh proses sedimentasi
( Ghiffary,2011).
Selain dari dampak yang telas dijelaskan di atas, sedimentasi yang terjadi di suatu perairan dapat
berpengaruh antara lain pada pendangkalan dan perubahan bentang alam dasar laut, kesuburan
perairan, dan keanekaragaman hayati di salah satu teluk di Indonesia. Sebagai contohnya laporan
pengukuran Batimetri di Teluk Buyat tahun 1997 tercatat kedalaman sungai 80 meter dan pada
pengukuran Batimetri tahun 1999 telah terjadi perubahan kedalaman menjadi 70 meter. Hal ini
menunjukan telah terjadi pendangkalan setebal 10 meter. Hasil pengukuran ini telah mengakibatkan
perubahan kontur laut (batimetri) dari tahun 1997 ke tahun 1999. Kondisi ini dipertegas lagi dengan hasil
pengukuran pada tahun 2000. Dengan demikian telah terjadi sedimentasi pada area yang cukup luas di
perairan atau sungai (Suryatmadjo, 2007)

Soekarno dan Rohmat (2006) menyatakan bahwa dampak dari adanya sedimentasi di Teluk Buyat di
mana terjadinya penyebaran lumpur pekat dengan ketebalan antara 5 dan 10 meter menyebabkan
kerusakan karang. Luasnya bidang yang tertutup sedimen akibat tailing telah menutupi area produktif
perairan Teluk Buyat, dimana area ini adalah area pemijahan bagi biota laut, area estuaria yang memiliki
keanekaragaman hayati (biodiversity) yang kaya. Dampak penimbunan oleh sedimen (sedimentasi) yang
terjadi di perairan baik secara langsung maupun tidak berhubungan dengan keberadaaan
keanekaragaman hayati. Penimbunan dasar perairan oleh sedimen tailing dapat merusak dan
memusnahkan komunitas bentik sehingga dapat menurunkan tingkat keanekaragaman hayati.

Dari dampak-dampak yang telah dijabarkan diatas kemudian dapat diidentifikasi, bahwa sebenarnya
dampak yang paling besar merupakan dampak-dampak secar negatif, utamanya pada wilayah hilir. Akibat
sedimentasi yang mengalami percepatan akan mengganggu ekosistem wilayah pesisir, dan juga bagi
masyarakat meberikan kerugian karena semakin seringnya terjadi banjir.

2.2. Penyebab percepatan sedimentasi pada wilayah hilir sungai

Proses sedimentasi meliputi erosi, transportasi, pengendapan dan pemadatan dari sedimentasi itu
sendiri. Proses tersebut berjalan sangat kompleks,dimulai dari jatuhnya air hujan yang menghasilkan
energi kinetik yang merupakan permulaan dari proses erosi. Begitu tanah menjadi partikel halus, lalu
menggelinding bersama aliran, sebagian akan tertinggal di atas tanah sedangkan bagian lainnya masuk
ke sungai terbawa aliran menjadi angkutan sedimen. Faktor-faktor terpenting yang mempengaruhi erosi
tanah adalah curah hujan, tumbuh-tumbuhan yang menutupi permukaan tanah, jenis tanah dan
kemiringan tanah. Karena peranan penting dari dampak tetesan air hujan, maka tumbuhan memberikan
perlindungan yang penting terhadap erosi, yaitu dengan menyerap energi jatuhnya air hujan dan
biasanya mengurangi ukuran-ukuran dari butir-butir air hujan yang mencapai tanah. Tumbuh-tumbuhan
dapat juga memberikan perlindungan mekanis pada tanah terhadap erosi. Karena sedimen merupakan
kelanjutan dari proses erosi maka faktor-faktor yang mempengaruhi erosi sedimen juga merupakan
faktor yang mempengaruhi sedimen di lahan, tetapi sedimen di sungai masih dipengaruhi pula oleh
karakteristik hidrolik sungai, penampang sedimen dan kegiatan gunung berapi. Jumlah sedimen yang
terangkut aliran sungai ditentukan oleh rantai erosi pengangkutan sedimen, muka pengangkutan
sedimen dan produksi sedimen dipengaruhi oleh keadaan topografi, sifat tanah penutup tanah, laju dan
jumlah limpasan permukaan, juga sumber sedimen, sistem pengangkutan, tekstur tanah dan sifat daerah
aliran sungai, luas topografi, bentuk dan kemiringan tanah. (Suroso,Ruslin dan Rahmanto.)

Dari penjelasan diatas disebutkan beberapa penyebab percepatan pembentukan sedimentasi.


Namun penyebab yang paling berpengaruh adalah besarnya erosi yang terjadi pada daerah hulu.
Besarnya erosi ini tidak lepas dari besar kecilnya tutupan lahan di wilayah tersebut. Ketika tutupan lahan
dalam hal ini vegetasi yang semakin rapat, maka potensi untuk terjadi erosi semakin kecil. Hal ini
dikarenakan vegetasi memiliki peranan yang sangat besar di dalam mempertahankan tanah agar todak
mengalami erosi secara besar-besaran, namun akan dilakukan secara perlahan.

2.3. Cara Mengurangi Percepatan Sedimentasi pada Sungai sebagai penyebab banjir.

Pada umumnya, persoalan sumberdaya air berkaitan dengan waktu dan penyebaran aliran air. Sehingga,
pengelolaan vegetasi di daerah hulu adalah hal yang paling efektif untuk menurunkan aliran sedimen
yang masuk ke dalam perairan. Dengan demikian, harus ada kegiatan yang mendukung kelangsungan
pemanfaatan perairan yang berkelanjutan. Pengelolaan vegetasi, telah lama dipercaya dapat
mempengaruhi waktu dan penyebaran aliran air. Beberapa pengelola DAS bahkan beranggapan bahwa
hutan dapat dipandang sebagai pengatur aliran air (streamflow regulator), artinya bahwa hutan dapat
menyimpan air selama musim hujan dan melepaskannya pada musim kemarau. (Asdak,1995) dalam
(Suryati,2010) menyebutkan bahwa setiap perlakuan yang diberikan pada sebidang tanah akan
mempengaruhi tata air, dan usaha untuk mengkonservasi tanah juga merupakan konservasi air dengan
tujuannya adalah meminimumkan erosi pada suatu lahan yang dapat menyebabkan sedimentasi.
Anggapan-anggapan seperti ini oleh banyak pakar hidrologi hutan dianggap lebih didasarkan pada mitos
dari pada kenyataan, bahkan di negara yang sudah maju sekalipun. Namun demikian, harus diakui bahwa
adanya anggapan tersebut telah mngilhami meluasnya gerakan konservasi air dan tanah di beberapa
negara maju seperti Amerika dan Eropa.

Cara yang masih efektif sebenarnya adalah dengan mempertahankan dan melakukan konservasi pada
vegetasi di daerah rawan erosi. Karena kerapatan formasi vegetasi yang kuarng rapat dapat mendorong
terbentuknya arus berputar yang bersifat meningkatkan erosi. Untuk menurunkan erosi, maka vegetasi
haruslah diusahakan serapat mungkin. Selain itu dengan adanya sistem perakaran dari vegetasi tersebut
akan mencegah terjadinya tanah longsor, terutama di daerah dengan kemiringan lereng terjal dan di
pinggir-pinggir sungai.

Secara garis besar pencegahan untuk mengurangi besarnya erosi yang menyebabkan sedimentasi
adalah sebagai berikut (Asdak,1995).

- Menghindari praktek bercocok-tanam yang bersifat menurunkan permeabilitas tanah.

- Mengusahakan agar permukaan tanah sedapat mungkin dilindungi oloeh vegetasi berumput atau
semak selama dan serapat mungkin.

- Menghindari pembalakan hutan.


- Merncanakan dengan baik pembuatan jalan di daerah rawan erosi/tanah longsor sehingga aliran
air permukaan tidak mengalir ke selokan-selokan di tempat yang rawan tersebut.

- Menerapkan teknik-teknik pengendali erosi di lahan pertanian, dan mengusahakan peningkatan


laju infiltrasi.

(Suryati,2010) menberikan pendapat bahwa beberapa program seperti rehabilitasi yang ditempuh
pemerintah untuk mengatasi degradasi lingkungan daerah aliran sungai (DAS) seperti pendangkalan
karena peningkatan sedimentasi pada sungai-sungai yang bermuara ke danau atau laut (perairan
menggenang) masih kurang berjalan sesuai dengan yang di harapkan karena masih kurangnya
pengawasan, pengendalian dan penegakan hukum yang dinilai masih rendah. Oleh karena itu, sebagai
salah satu upaya yang dapat mengurangi sedimentasi sungai yaitu dengan adanya program rehabilitasi
dan pembersihan kawasan sungai dari sampah haruslah dikembangkan dan dijalankan sesuai aturan
yang berlaku.

Dari berbagai hal yang telah dijabarkan diatas merupakan upaya-upaya untuk mengurangi
percepatan sedimentasi. Pokok utama adalah berada pada pengelolaan yang dilakukan pada wilayah
hulu. Apabila pada wilayah tersebut pengelolaan dilakukan secara baik dan benar utamanya wilayah
hutan, maka erosi tanah yang dihasilkan akan juga sedikit. Yang nantinya juga akan berpenagaruh
terhadap besarnya sedimentasi pada wilayah hilir.

3.Penutup

3.1. Simpulan

Berdasarkan pembahasan yang telah dijelaskan dan dengan menjawab tujuan yang ada, maka dapat
disimpulkan sebagai berikut:

1. Proses sedimentasi di muara sungai disebabkan oleh pertemuan air laut dan air sungai, sehingga
kecepatan air di muara mendekati nol. Proses sedimentasi terjadi diakibatkan karena adanya
pengrusakan ekosistem di bagian hulu dari DAS yang berdampak terhadap pengikisan lapisan permukaan
tanah (erosi), dan adanya pengikisan tepian sungai karena kecepatan arus dan gelombang sungai yang
ada.

2. Proses terjadinya sedimentasi dimuara sungai sangat dipengaruhi oleh adanya perbedaan
kecepatan vertikal dan kecepatan horizontal, sehingga partikel tersuspensi lebih cepat mengendap
secara gravitasi. Proses sedimentasi di muara sungai sangat tergantung dari bahan tersuspensi yang
dibawa air sungai, materi tersuspensi air laut, aktivitas gelombang, pola arus, adanya gaya berat
(gravitasi) dan juga percepatan arus pertemuan air tawar dan air laut.

3. Cara mengurangi sedimentasi sungai adalah dengan cara melakukan rehabilitasi lahan yang ada di
sekitar hulu sungai dan pembersihan sampah yang ada di sepanjang sungai tersebut agar sedimentasi
pada sungai tersebut berkurang secara cepat atau perlahan-lahan.
3.2.Saran

Kepada pihak pemerintah disarankan untuk melakukan pengerukan pada sungai-sungai di wilayah hilir
yang telah megalami pendangkalan sehingga dampak dari sedimentasi tidak semakin parah. Apabila hal
itu tidak segera dilakukan, dikhawatirkan akan semakin besar bencana yang ditrimbulkan dari hal
tersebut, seperti banjir dan lain sebagianya.

DAFTAR RUJUKAN

Asdak, Chay. 2002. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press.

Djojodihardjo, Harijono. 1982. Diktat Bahan Kuliah Mekanika Fluida. Bandung: Institut Teknologi
Bandung.

Ghiffary, Wildan.2011.dampak sedimentasi di daerah pesisir. (online)


http://blogs.unpad.ac.id/myawaludin/2011/06/15/dampak-sedimentasi-di-daerah-pesisir/. (Diakses
pada tanggal 5 april 2013)

Rahayu dkk. 2009. Monitoring Air di Daerah Aliran Sungai. Bogor: World Agroforestry Centre - Southeast
Asia Regional Office. 104 P, Bogor.

Reinnamah, Yohanes. 2009. Pengaruh sedimentasi terhadap tingkat kelulushidupan vegetasi yang
terdapat di sekitar daerah aliran sungai(DAS) Oesapa Kecil. Kupang: Fakultas Perikanan UKAW.

Soekarno dan Rohmat. 2006. Kajian Koefisien Limpasan Hujan Cekungan Kecil Berdasarkan Model
Infiltrasi Empirik DAS. (Online) http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1302/1/sg.pdf. (Diakses
pada tanggal 5 april 2013 )

Suryati, Vivin. 2010. Laporan Hidrologi Teknik. Makassar: Faperta UNHAS.

Suryatmadjo, Hatma. 2007. Metode Pengukuran Debit Aliran. (Online)


http://mayong.staff.ugm.ac.id/site/?page_id=110. (Diakses pada tanggal 5 april 2013 )

Suroso, M. Ruslin Anwar dan Mohammad Candra Rahmanto. Tanpa tahun.studi pengaruh sedimentasi
kali brantas terhadap kapasitas dan usia rencana waduk sutami malang.(Online)

Umi M dan Agus S. 2002. Pengantar Kimia dan Sedimen Dasar Laut. Jakarta: Badan Riset Kelautan Dan
Perikanan.

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Selama ini, permasalahan tentang sungai belum dianggap hal yang penting. Keberadaan sungai masih
dianggap sebagai sebuah kontor alam. Sungai hanya dianggap sebagai tempat air untuk mengalir menuju
tempat yang rendah. Padahal sungai memiliki peran yang sangat vital dalam menjaga keseimbangan
lingkungan khususnya terhadap pengolahan air.

Sungai berperan mengaliri air dari satu tempat ketempat lain dan juga menjag pola air agar selalu tetap
pada jalurnya. Dengan demikian, air tidak mengalir kesembarang tempat yang pada akhirnya bisa
menyebabkan permasalahan bagi manusia dan mahkluk hidup lainnya.

Pada beberapa kasus, sebuah sungai secara sederhana mengalir meresap ke dalam tanah sebelum
menemukan badan air lainnya. Dengan melalui sungai merupakan cara yang biasa bagi air hujan yang
turun di daratan untuk mengalir ke laut atau tampungan air yang besar seperti danau. Sungai terdiri dari
beberapa bagian, bermula dari mata air yang mengalir ke anak sungai. Beberapa anak sungai akan
bergabung untuk membentuk sungai utama. Aliran air biasanya berbatasan dengan kepada saluran
dengan dasar dan tebing di sebelah kiri dan kanan. Penghujung sungai di mana sungai bertemu laut
dikenali sebagai muara sungai.

Kemanfaatan terbesar sebuah sungai adalah untuk irigasi pertanian, bahan baku air minum walaupun
sebenarnya seiring perkembangan jaman peran sungai mulai sedikit bergeser. Manusia mulai mampu
menemukan teknologi yang mampu memberikan kemudahan bagi mereka untuk medapatkan air, sungai
sebagai saluran pembuangan air hujan dan air limbah, bahkan sebenarnya potensial untuk dijadikan
objek wisata sungai.

Dibeberapa daerah atau negara sungai menjadi salah satu bagian dari sarana transportasi yang
membantu kegiatan manusia. Selain dari itu sungai juga banyak dimanfaatkan sebagia tenaga
pembangkit listrik. Tentunya hanya beberpa sungai yang bisa dimanfaatkan untuk ini, inipun ditinjau dari
letak yang strategis dan memenuhi syarat untuk transportasi air atau pembangkit listrik, beberapa
tinjauan tersebut antara lain morfologi sungai, hidrolika sungai, hidrologi sungai maupun karakteristik
sungai.

Sungai juga merupakan salah satu bagian dari siklus hidrologi. Air dalam sungai umumnya terkumpul dari
presipitasi, seperti hujan, embun, mata air, limpasan bawah tanah, dan di beberapa negara tertentu air
sungai juga berasal dari lelehan es/salju. Selain air, sungai juga mengalirkan sedimen dan polutan.

selain keuntungan dan manfaat sungai yang tersebut di atas sungai juga mempunyai masalah dan justru
bisa menimbulkan banyak masalah. Masalah sungai Antara lain pencemaran sungai, Erosi sungai, dan
sedimentasi sungai. Masalah yang bisa ditimbulkan sungai antara lain Terganggunya kehidupan
organisme air karena berkurangnya kandungan oksige, Terjadinya ledakan populasi ganggang dan
tumbuhan air (eutrofikasi). Pendangkalan dasar perairan, Punahnya biota air, misal ikan, yuyu, udang,
dan serangga air, Munculnya banjir akibat salura air tersumbat sampah, Menjalarnya wabah muntaber
dan masih banyak lagi.

Dikawasan perkotaan, kebutuhan tempat tinggal menjadi sebuah hal yang sulit didapatkan, selain karena
harga tanah yang mahal, ketersediaan lahan juga menjadi hal tersendiri disisi lain manusia dituntut
untuk memiliki tempat tinggal.

Plihan yang banyak dilakukan adalah mendirikan bangunan dikawasan bantaran sungai. Hal ini dilakukan
juga karena kawasan tersebut bebas dari kewajiban untuk membeli serta dianggap mudah dalam proses
pendirian bangunan.

Padahal, mendirikan bangunan di bantaran sungai memiliki resiko yang sangat besar. Selain
menyebabkan aliran sungai menjadi sempit, juga akan menimbulkan ancaman ketika air sungai meluap.
Dari sisi estetika, keberadaan hunian dibantaran sungai cendrung menyebabkan pandanga kurang enak,
karena hunian di bantaran sungai identik dengan kekumuhan dan nuansa kurang sehat.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka untuk membatasi permasalahan yang akan dibahas, disusun
rumusan masalah sebagai berikut:

1. Apa itu karakteristik sungai, morfologi sungai, hidrolika sungai dan hidrologi sungai?

2. Apa saja yang bisa menimbulkan masalah sungai?

3. Bagaimana proses permasalahan sungai?

4. Dampak dari masalah sungai?

5. Bagaimana mengatasi masalah sungai?

C. Maksud dan Tujuan

Maksud dari penulisan makalah ini adalah salah satu persyaratan untuk memenuhi mata kuliah Rekayasa
Sungai dan melakuk studi mengenai Sungai dan Masalah sungai yang antara lain pembahasan dalam
makalh ini :

1. Untuk mengetahui dan mengenal lebih dekat tentang sungai mulai dari karakteristik sungai,
morfologi sungai, hidrolika sungai hingga hidrologi sungai.

2. Mengenal berbagi macam yg menimbulkan masalah sungai serta bagaimana mengatsi dan dampak
dari masalah sungai.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Sungai
1. Karakteristik Sungai

sungai didefenisikan antara lain :

Sungai adalah sistem pengairan air dari mulai mata air sampai ke muara dengan dibatasi kanan
kirinya serta sepanjang pengalirannya oleh sempadan sungai (Sudaryoko,1986).Sungai adalah fitur alami
dan integritas ekologis, yang berguna bagi ketahanan hidup (Brierly, 2005).

Menurut Dinas PU, sungai sebagai salah satu sumber air mempunyai fungsi yang sangat penting
bagi kehidupan dan penghidupan masyarakat. sedangkan PP No. 35 Tahun 1991 tentang sungai, Sungai
merupakan tempat-tempat dan wadah-wadah serta jaringan pengaliran air mulai dari mata air sampai
muara dengan dibatasi kanan dan kirinya serta sepanjang pengalirannya oleh garis sempadan.

Sungai adalah bagian permukaan bumi yang letaknya lebih rendah dari tanah disekitarnya dan
menjadi tempat mengalirnya air tawar menuju ke laut, danau, rawa, atau ke sungai yang lain(Hamzah,
2009).

Sungai dibedakana menurut jumlah airnya yaitu sebagai berikut :

Sungai permanen - yaitu sungai yang debit airnya sepanjang tahun relatif tetap. Contoh sungai jenis ini
adalah sungai Kapuas, Kahayan, Barito dan Mahakam di Kalimantan. Sungai Musi dan Indragiri di
Sumatera.

Sungai periodik - yaitu sungai yang pada waktu musim hujan airnya banyak, sedangkan pada musim
kemarau airnya sedikit. Contoh sungai jenis ini banyak terdapat di pulau Jawa misalnya sungai Bengawan
Solo, dan sungai Opak di Jawa Tengah. Sungai Progo dan sungai Code di Daerah Istimewa Yogyakarta
serta sungai Brantas di Jawa Timur.

Sungai intermittent atau sungai episodik - yaitu sungai yang mengalirkan airnya pada musim penghujan,
sedangkan pada musim kemarau airnya kering. Contoh sungai jenis ini adalah sungai Kalada di pulau
Sumba dan sungai Batanghari di Sumatera

Sungai ephemeral - yaitu sungai yang ada airnya hanya pada saat musim hujan. Pada hakekatnya sungai
jenis ini hampir sama dengan jenis episodik, hanya saja pada musim hujan sungai jenis ini airnya belum
tentu banyak.

Sungai menurut genetiknya dibedakan :

Sungai konsekwen yaitu sungai yang arah alirannya searah dengan kemiringan lereng.

Sungai subsekwen yaitu sungai yang aliran airnya tegak lurus dengan sungai konsekwen

Sungai obsekwen yaitu anak sungai subsekwen yang alirannya berlawanan arah dengan sungai
konsekwen

Sungai insekwen yaitu sungai yang alirannya tidak teratur atau terikat oleh lereng daratan
Sungai resekwen yaitu anak sungai subsekwen yang alirannya searah dengan sungai konsekwen

Sungai andesen yaitu sungai yang kekuatan erosi ke dalamnya mampu mengimbangi pengangkatan

Sungai berdasarkan sumber airnya :

Sungai hujan yaitu sungai yang berasal dari air hujan, sungai ini banyak dijumpai di Pulau jawa dan
kawasan Nusa Tenggara

Sungai gletser yaitu sungai yang berasal dari melelehnya es, sungai ini banyak dijumpai di negara yang
beriklim dingin seperti sungai gangga di India dan sungai phein di jerman

Sungai campuran yaitu sungai yang berasal dari air hujan dan lelehan es, dapat dijumpai di Papua
contohnya Sungai Digul dan sungai Memberano.

2. Hidrolika Sungai

Jenis jenis aliran di Sungai :

Sungai adalah salah satu jenis saluran terbuka yang terbentuk secara alamiah oleh proses jutaan tahun.

Aliran-aliran yang terjadi di sungai, adalah aliran-aliran yang mengikuti kondisi atau kaidah-kaidah aliran
saluran terbuka (open channel flow).

Aliran di sungai merupakan aliran saluran terbuka alami yang merupakan gambaran aliran riil di
lapangan.

Beragam variabel yang akan mempengaruhi dalam kita menganalisis aliran di sungai, seperti geometri
sungai, morfologi sungai, kekasaran saluran, dll.

Aliran adalah kondisi dimana berpindah tempatnya suatu fluida (zat cair dan gas) dari satu tempat
ketempat lain akibat pengaruh gravitasi maupun pengaruh beda tekanan. Dalam aliran ini dimungkinkan
terjadinya perubahan bentuk, volume maupun massa zat tersebut.Intinya, pada aliran terjadi pergerakan
partikel-partikel fluida.

Aliran fluida dapat terbagi atas:

Aliran akibat sifat-sifatnya, yaitu aliran akibat kekentalan (viskositas) dan angka Froude

Aliran akibat parameter waktu dan tempat, yaitu aliran seragam (uniform) dan aliran mantap (steady).

Aliran berdasarkan wadah mengalirnya, yaitu aliran pipa dan aliran saluran terbuka.

Aliran berdasarkan penyebab gerak, yaitu aliran bertekanan dan aliran gravitasi.

Aliran akibat kekentalan atau viskositas :


Aliran akibat kekentalan atau viskositas adalah aliran yang terjadi dengan melihat kekntalan aliran
tersebut yang gambarkan melalui angka Reynols-nya.

Aliran Laminer, adalah aliran dengan angka Reynolds (Re) di bawah 500-2000. Biasanya dicirikan dengan
lintasan partikel fluida yang mengalir lurus.

Aliran Turbulen, adalah alirandengan angka Reynolds (Re) berada di antara dengan angka Reynolds (Re)
di atas 4000. Biasanya dicirikan dengan lintasan partikel fluida yang mulai terganggu.

Aliran Transisi, adalah aliran 2000-4000. Dicirikan dengan lintasan partikel fluida yang sangat
terganggu/acak.

3. Morfologi Sungai

Morfologi sungai adalah ilmu yang mempelajari tentang:

Geometri (bentuk) sungai, dan

Perilaku sungai dengan segala aspek pembahasannya dalam dimensi ruang dan waktu

Morfologi sungai sangat menyangkut sifat dinamik sungai dan lingkungannya yang saling berkaitan. Sifat-
sifat sungai ini sangat dipengaruhi oleh luas dan bentuk DAS serta kemiringan sungai. Secara umum
dapat dikatan bahwa studi mengenai morfologi sungai adalah untuk mencoba menguraikan mengenai
tipe-tipe raut muka (typical features) dari sungai-sungai tersebut.

Pembentukan raur muka (typical features) sungai ini, dibentuk oleh tiga dimensi yaitu:

Pengaruh waktu

Pergerakan air / aliran air yang membawa endapan (sediment) maupun puing-puing (debris atau
ruins)

Pengaruh fenomena alam (banjir, longsoran, letusan gunung api, gempa dll)

Bentuk sungai, akibat aliran yang terjadi, terbagi atas alur:

Sungai lurus

Sungai berkelok (meander)

Sungai terburai (braided)

Sungai berpotongan (anastomosing)

Bentuk dasar sungai, akibat topografi DAS-nya, terbagi atas:

Sungai curam (steep)


Sungai landai (mild)

Sungai datar (flat)

4. Hidrologi Sungai

Beberapa pengertian pengertia tentang Hidrologi :

Hidrologi adalah ilmu yang mempelajari masalah air

Hidrologi adalah ilmu yang mempelajari tentang tentang seluk beluk proses kejadian, distribusi dan
besaran air, serta interaksi dan pengaruhnya terhadap kehidupan dan lingkungan (Chow.V.T, 1964).

Hidrologi Teknik, adalah mencakup pada bagian ilmu hidrologi itu sendiri dalam penerapannya
untuk perencanaan, perancangan, dan pelaksanaan proyek-proyek teknik bagi pengaturan dan
pemanfaatan air bagi kebutuhan manusia

Siklus Hidrologi adalah suatu proses yang berlangsung secara terus menerus mengenai
keberadaan air yang ada di muka bumi, namun mekanisme yang terjadi didalamnya tidak berlangsung
secara terus menerus, karena proses didalamnya tergantung pada kondisi suatu geografi suatu wilayah
dan waktu.

Proses-proses siklus hidrologi (siklus kecil) adalah:

Evaporasi, yaitu penguapan air permukaan (di laut, danau atau sungai) dan Transpirasi, yaitu penguapan
dari tumbuhan.

Kondensasi (perubahan / penumpukan awan)

Presipitasi (hujan)

Proses-proses siklus hidrologi (siklus besar) adalah:

Evaporasi, yaitu penguapan air permukaan (di laut, danau atau sungai) dan Transpirasi, yaitu penguapan
dari tumbuhan.

Kondensasi (perubahan / penumpukan awan)

Presipitasi (hujan)

Limpasan permukaan (surface run off)

Infiltrasi

Perkolasi

Aliran air tanah (ground water flow)


B. MASALAH SUNGAI

1. Pencemaran Sungai

Pencemaran sungai adalah tercemarnya air sungai yang disebabkan oleh limbah industri, limbah
penduduk, limbah peternakan, bahan kimia dan unsur hara yang terdapat dalam air serta gangguan
kimia dan fisika yang dapat mengganggu kesehatan manusia.

Dampak pencemaran sungai

Pencemaran air dapat berdampak sangat luas, misalnya dapat meracuni air minum, meracuni makanan
hewan, menjadi penyebab ketidak seimbangan ekosistem sungai dan danau, pengrusakan hutan akibat
hujan asam dsb.

2. Erosi

Erosi adalah suatu perubahan bentuk batuan, tanah atau lumpur yang disebabkan oleh kekuatan air,
angin, es, pengaruh gaya berat dan organisme hidup. Angin yang berhembus kencang terus-menerus
dapat mengikis batuan di dinding-dinding lembah. Erosi merupakan proses alam yang terjadi di banyak
lokasi yang biasanya semakin diperparah oleh ulah manusia. Proses alam yang menyebabkan terjadinya
erosi merupakan karena faktor curah hujan, tekstur tanah, tingkat kemiringan dan tutupan tanah.
Intensitas curah hujan yang tinggi di suatu lokasi yang tekstur tanahnya merupakan sedimen, misalnya
pasir serta letak tanahnya juga agak curam menimbulkan tingkat erosi yang tinggi. Selain faktor curah
hujan, tekstur tanah dan kemiringannya, tutupan tanah juga mempengaruhi tingkat erosi. Tanah yang
gundul tanpa ada tanaman pohon atau rumput akan rawan terhadap erosi. Erosi juga dapat disebabkan
oleh angin, air laut dan es.

3. pendangkalan atau sedimentasi

Secara umum, pendangkalan sungai dapat terjadi karena adanya pengendapan partikel padatan yang
terbawa oleh arus sungai, seperti di kelokan sungai (meander), waduk atau dam, ataupun muara sungai.
Partikel ini bisa berupa padatan besar, seperti sampah, ranting, dan lainnya. Namun, sumber utama
partikel ini biasanya berupa partikel tanah sebagai akibat dari erosi yang berlebihan di daerah hulu
sungai. Air hujan akan membawa dan menggerus tanah subur di permukaan dan melarutkannya yang
kemudian akan terbawa ke sungai. Proses transportasi partikel semacam ini disebut sebagai suspensi.
Hasil partikel yang terbawa ini biasanya akan berupa lumpur tanah dan kemudian tersedimentasi di
dasar sungai.
TRIMAKASIH TELAH MENGUNJUNGI INI...

Daftara pustaka

frengkiasharia.files.wordpress.com

kutukikuk.blogspot.com...permasalahan-sungai.html

Bimbie.com.htm/ilmu pengetahuan/geografi/sungai

Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.html

Tanjung Panduwijayan Definisi, Permasalahan dan Karakteristik Sungai di Indonesia.htm

http://riosuryajaya.blogspot.co.id/2013/12/makalah-sungai-dan-masalah-sungai.html?m=1

Menu

Cari

Alamendah's Blog

Flora, Fauna, dan Alam Indonesia

Kerusakan Sungai dan Daerah Aliran Sungai di Indonesia

Daerah Aliran Sungai di Indonesia semakin mengalami kerusakan lingkungan dari tahun ke tahun.
Kerusakan lingkungan pada Daerah Aliran Sungai (DAS) meliputi kerusakan pada aspek biofisik ataupun
kualitas air.
Indonesia memiliki sedikitnya 5.590 sungai utama dan 65.017 anak sungai. Dari 5,5 ribu sungai utama
panjang totalnya mencapai 94.573 km dengan luas Daerah Aliran Sungai (DAS) mencapai 1.512.466 km2.
Selain mempunyai fungsi hidrologis, sungai juga mempunyai peran dalam menjaga keanekaragaman
hayati, nilai ekonomi, budaya, transportasi, pariwisata dan lainnya.

Saat ini sebagian Daerah Aliran Sungai di Indonesia mengalami kerusakan sebagai akibat dari perubahan
tata guna lahan, pertambahan jumlah penduduk serta kurangnya kesadaran masyarakat terhadap
pelestarian lingkungan DAS. Gejala Kerusakan lingkungan Daerah Aliran Sungai (DAS) dapat dilihat dari
penyusutan luas hutan dan kerusakan lahan terutama kawasan lindung di sekitar Daerah Aliran Sungai.

Dampak Kerusakan DAS. Kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) yang terjadi mengakibatkan kondisi
kuantitas (debit) air sungai menjadi fluktuatif antara musim penghujan dan kemarau. Selain itu juga
penurunan cadangan air serta tingginya laju sendimentasi dan erosi. Dampak yang dirasakan kemudian
adalah terjadinya banjir di musim penghujan dan kekeringan di musim kemarau.

Sungai dengan Daerah Aliran Sungai di sekitarnya

Kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) pun mengakibatkan menurunnya kualitas air sungai yang
mengalami pencemaran yang diakibatkan oleh erosi dari lahan kritis, limbah rumah tangga, limbah
industri, limbah pertanian (perkebunan) dan limbah pertambangan. Pencemaran air sungai di Indonesia
juga telah menjadi masalah tersendiri yang sangat serius.

Saat ini beberapa Daerah Aliran Sungai di Indonesia mendapatkan perhatian serius oleh pemerintah
dalam upaya pemulihan kualitas air. Sungai-sungai itu terdiri atas 10 sungai besar lintas provinsi, yakni:

Sungai Ciliwung; Provinsi Jawa Barat dan DKI Jakarta dengan DAS seluas 97.151 ha.

Sungai Cisadane; Provinsi Jawa Barat dan Banten dengan DAS seluas 151.283 ha

Sungai Citanduy; Provinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah dengan DAS seluas 69.554 ha

Sungai Bengawan Solo; Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan DAS seluas 1.779.070 ha.

Sungai Progo; Provinsi Jawa Tengah dan DI Yogyakarta dengan DAS seluas 18.097 ha
Sungai Kampar; Provinsi Sumatera Barat dan Riau dengan DAS seluas 2.516.882 ha

Sungai Batanghari; Provinsi Sumatera Barat dan Jambi dengan DAS seluas 4.426.004 ha

Sungai Musi; Provinsi Bengkulu dan Sumatera Selatan dengan DAS seluas 5.812.303 ha

Sungai Barito; Provinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan dengan DAS seluas 6.396.011 ha.

Sungai Mamasa (Saddang); Provinsi Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan dengan DAS seluas 846.898 ha.

Selain pada 10 sungai lintas provinsi juga pada 3 sungai strategis nasional, yaitu:

Sungai Citarum; Provinsi Jawa Barat dengan DAS seluas 562.958 ha.

Sungai Siak; Provinsi Riau dengan DAS seluas 1.061.577 ha.

Sungai Brantas; Provinsi Jawa Timur dengan Daerah Aliran Sungai seluas 1.553.235 ha.

Semoga kedepannya, Daerah Aliran Sungai yang kita punyai semakin berkurang kerusakannya dan
membaik kondisinya sehingga 5.590 sungai utama dan 65.017 anak sungai di Indonesia tidak lagi
mendatangkan bencana buat kita semua. Justru sebaliknya, sungai-sungai tersebut membawa manfaat
dan kesejahteraan buat seluruh rakyat Indonesia.

Referensi: Buku Status Lingkungan Hidup Indonesia 2009; http://www.mediaindonesia.com (gambar)

Usaha Penanggulangan Sedimen

Untuk menanggulangi masalah sedimen, maka terlebih dahulu harus mengetahui penyebab terjadinya
sedimen tersebut. Sasaran penanggulangan sedimen ini dapat digolongkan ke dalam bagian, yaitu:

A. Menanggulangi terjadinya erosi permukaan.

Usaha untuk menanggulangi terjadinya erosi permukaan dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu :

1) Cara vegetasi atau bioteknik

Cara vegetasi adalah mencegah kerusakan dan memperbaiki vegetasi penutup permukaan lahan,
sehingga dapat mengurangi terjedinya erosi.
Usaha yang dilakukan dalam penanggulangan erosi dengan cara vegetasi adalah sebagai berikut :

Usaha penghijauan lahan (reboisasi).

Pembuatan penghalang sedimen dari vegetasi, pembuatan pagar hidup dan gebalan rumput.

Mencegah terjadinya kebakaran hutan, yang dapat merusak kesuburan tanah dan hilangnya humus-
humus di permukaan tanah.

Mencegah adanya peladangan yang berpindah-pindah, yang dapat merusak hutan.

Mencegah adanya penebangan pohon secara liar dan tidak boleh terjadinya tebang habis pada DAS,
yang dapat menyebabkan rusakan hutan, hilangnya humus dan akan menyebabkan terjadinya kepadatan
permukaan tanah.

2) Cara teknik sipil (konstruksi)

Penanggulangan erosi dengan teknik sipil dilakukan menurut kaidah-kaidah :

Memperlambat aliran permukaan dengan memperkecil kemiringan / lereng melalui pembuatan


terasering.

Pembuatan saluran dan pematang sejajar garis kontur.

B. Pengendalian angkutan sedimen.

Angkutan sedimen sangat berpengaruh terhadap perubahan morfologi sungai, pada prinsipnya
pengendalian angkutan sedimen adalah mengusahakan agar sedimen dapat terbawa aliran sampai
ketempat tertentu yang tidak merugikan. Dalam rangka pengendalian angkutan sedimen dialur-alur
sungai mungkin dengan cara membuat bangunan-bangunan seperti :

Bottom control structure untuk mengatur kemiringan dasar sungai sedemikian rupa sehingga aliran
masih mampu membawa sedimen tanpa mengikis alur sungai.

Pembuatan dam penahan sedimen.

Pembuatan ground sill.

Pembuatan sabo dam.

Pembuatan kantong-kantong lumpur dan sebagainya.


C. Pengendalian sedimentasi.

Pengendalian sedimentasi pada alur sungai dimaksudkan untuk mengusahakan terjadinya pengendapan
pada tempat-tempat yang dikehendaki. Usaha yang dilakukan di alur sungai lalah dengan membuat
fasilitas bangunan seperti :

Dam pengendali sedimen di alur anak sungai di daerah hulu.

Kantong lumpur di waduk (reservoir).

Penyediaan tempat-tempat khusus di tepi sungai untuk pengendapan sedimen pada saat tertentu aliran
sungai membawa muatan sedimen banyak.

Penambangan bahan galian golongan C.

Pengerukan pada muara sungai

http://psda-online.blogspot.co.id/2013/01/usaha-penanggulangan-sedimen.html?m=1