Anda di halaman 1dari 8

PERANG MALUKU

Oleh. Abu Zahra


Konfrontasi umat Islam dengan penjajah Portugis-Kristen tidak hanya terjadi di Jawa dan
Sumatera, tetapi juga terjadi di Maluku.Seperti telah diungkapkan di muka bahwa
kedatangan Portugis ke Maluku bersamaan waktunya dengan kedatangan Spanyol yaitu
pada tahun 1521. Kedatangan Portugis-Kristen ke Maluku, semula disambut baik oleh
kedua kesultanan Islam di Tidore di bawah pimpinan Sultan Mansur dan di Ternate di
bawah pimpinan Sultan Khairun.
Kedatangan Portugis-Kristen bukan saja bermaksud untuk memonopoli perdagangan
rempah-rempah seperti cengkeh dan pala, tetapi juga bertujuan untuk mengkristenkan
umat Islam Maluku. sebab pada tahun 1546 rombongan missi Kristen Katholik di bawah
pimpinan. propagandis terkenal Franciscus Xaverius telah turut terjun mengkristenkan
umat Islam di Maluku. Methoda yang dilakukan, bukan saja dengan da'wah tetapi lebih
banyak dengan jalan paksaan, melalui kekerasan militer dan senjata sebagaimana
dilakukan di Spanyol pada akhir abad-ke-15.
Perjanjian persahabatan dan dagang antara Sultan Khairun dengan gubernur Portugis-
Kristen de Mesquita yang ;di tanda-tangani pada tahun 1564, dianggap seolah-olah Sultan
Khairun itu di bawah jajahan Portugis-Kristen. Pada suatu kali Sultan Khairun ditangkap
oleh Gubernur de Mesquita dan dibawa ke Goa, pusat jajahan Portugis- Kristen di Timur.
Dari Goa sultan di bawa ke portugal di Eropa. Di dalam pertemuan antara Raja Portugis
dengan Sultan Khairun berjalan tidak seimbang, sehingga keputusan yang diambil sangat
menguntungkan Portugis-Kristen. Persetujuan perjanjian yang diperbaharui itu
menyebutkan bahwa hak-hak sultan sebagaimana biasa diakui, tetapi Portugis-Kristen
berhak memonopoli perdagangan rempah-rempah di Ternate dan usaha misi Kristen-
Katholik untuk kristenisasi tidak boleh dihalang-halangi oleh sultan. Dan jika terjadi
perselisihan antara sultan dengan gubernur Portugis-Kristen, maka raja Portugislah yang
berhak menyelesaikannya. Perjanjian yang sangat merugikan ini, mengakibatkan posisi
kesultanan Ternate makin terjepit, apalagi sultan-sultan Tidore, Jailolo (Gilolo) dan
Bacan boleh dikatakan telah kehilangan kekuasaannya. Tidore semenjak meninggalnya
Sultan Mansur praktis telah kehilangan kedaulatan; Sultan Bacan telah dipaksa memeluk
agama Kristen dan Jailolo telah sepenuhnya dikuasai Portugis-Kristen. Melihat kondisi
seperti itu, tinggal Sultan Khairun masih berdiri tegak menghadapi penjajah Portugis-
Kristen.
Baru saja satu tahun perjanjian Sultan Khairun dengan Raja Portugis-Kristen berjalan,
ternyata Gubernur de Mesquita sebagai pelaksana perjanjian itu telah menganggap bahwa
kesultanan Ternate sebagai daerah jajahannya saja. Akhirnya Sultan Khairun kehilangan
kesabarannya dan membatalkan secara sepihak perjanjian tersebut serta sekaligus
menyatakan perang kepada Portugis-Kristen. Keputusan ini dilanjutkan dengan tindakan
militer yaitu pasukan tentera Islam diperintahkan mengusir semua orang Kristen, baik
Portugis maupun penduduk asli, dari kekuasaan Sultan Ternate. Pelaksanaan perintah ini
menimbulkan pertempuran, yang mengakibatkan beratus-ratus missionaris dan umat
Kristen mati terbunuh dan beribu-ribu orang Kristen yang sempat melarikan diri ke
Ambon dan Mindanao.
Peristiwa ini menimbulkan kemarahan Gubernur de Mesquita dan pimpinan missionaris,
sehingga cepat-cepat meminta bantuan dari Malaka dan Goa. Datangnya tentara Portugis-
Kristen dari Malaka dan Goa, tidak menyebabkan pasukan tentera Islam di bawah
pimpinan Sultan Khairun menjadi gentar, bahkan menumbuhkan semangat untuk mati
syahid di medan pertempuran, pertempuran yang gagah-perkasa dari pasukan tentara
Islam Ternate ini, mengakibatkan kerugian yang besar bagi pasukan tentara Portugis-
Kristen. Oleh karena itu Portugis-Kristen yang licik ini, cepat-cepat mengajak damai.
Ajakan damai diterima oleh Sultan Khairun dengan syarat bahwa semua pemeluk Kristen
harus keluar dari Ternate sekaligus dan tidak boleh ada lagi kegiatan Kristenisasi di
Ternate. Perjanjian perdamaian dan persahabatan ditanda-tangani lagi antara Sultan
Khairun dengan Gubernur de Masquita, dengan masing-masing memegang Kitab Suci,
A1 Qur'an bagi Sultan Khairun dan Injil bagi Gubernur de Masquita. Kemudian atas
inisiatif Gubernur de Masquita akan diselenggarakan resepsi peresmian perjanjian
perdamaian itu di kediaman gubernur sendiri.
Di saat resepsi berlangsung, di mana Sultan Khairun dengan rombongannya duduk
berhadap-hadapan dengan gubernur de Masquita, tiba-tiba seorang pengawal dari tentara
Portugis-Kristen telah menikam Sultan dari belakang, akibatnya terjadi perkelahian
berdarah, sehingga sultan dan sebagian dari rombongannya meninggal dunia, hanya
sebagian kecil yang dapat menyelamatkan diri dan pulang ke Ternate. Pengkhianatan ini
terjadi pada 28 Februari 1570.
Peristiwa ini sepenuhnya dilaporkan kepada Pangeran Babullah, putera Sultan Khairun,
di Ternate. Pengkhianatan keji Portugis-Kristen ini menimbulkan amarah umat Islam di
Ternate, dan secepat mungkin mengangkat Pangeran Babullah menjadi Sultan Ternate
menggantikan ayahnya. Dalam pelantikan Sultan Babullah menyentakkan pedang pusaka
ayahnya dan meminta sumpah-setia dari rakyatnya untuk berperang dengan Portugis-
Kristen, sampai Portugis-Kristen terusir dari Ternate dan tuntutan bela atas kematian
ayahnya terlaksana, semua rakyat yang hadir dalam upacara pelantikan sultan ini,
menyatakan kesetiaannya dengan Penuh ruhul jihad dan mati syahid. Pasukan tentara
Islam dibawah pimpinan Sultan Babullah sendiri bergerak menuju kedua jurusan: satu
pasukan tentara Islam dikirim untuk menghancurkan benteng pertahanan Portugis-Kristen
di Ternete dan satu pasukan tentara Islam lainnya ditugaskan untuk menghancurkan
benteng Portugis-Kristen di Ambon. Raja Bacan yang telah menjadi pemeluk Kristen
sepenuhnya memberi bantuan kepada Portugis-Kristen, sedangkan Sultan Tidore
menyokong tentara Islam Ternate.
Pertempuran dahsyat tak terhindar, sehingga korban di kedua belah-pihak banyak yang
berguguran. Berkat semangat mati syahid yang dimiliki oleh pasukan Sultan Ternate,
maka akhirnya benteng pertahanan Portugis Kristen di Ambon berhasil dibakar, sehingga
hanya sebagian kecil pasukan Portugis-Kristen dapat menyelamatkan diri dan terus ke
Malaka. Tinggallah para pemeluk Kristen di Ambon menjadi panik dan cemas, khawatir
disembelih oleh tentara Islam Ternate. Tetapi begitu pasukan tentara Islam tiba, dengan
tegas mereka menyatakan bahwa umat Kristen Ambon akan diampuni dan tidak akan
dipaksa masuk agama Islam, asal mengakui tunduk kepada kekuasaan Sultan Babullah.
Yang dikejar dan harus dibunuh adalah penjajah Portugis-Kristen sebagai pengkhianat
yang keji.
Walau benteng pertahanan Portugis-Kristen Ambon telah ditaklukkan, tetapi benteng
pertahanan Portugis-Kristen di Ternate sendiri masih mampu bertahan selama lima tahun
lamanya. Benteng pertahanan Portugis-Kristen di Ternate yang terkurung selama lima
tahun lamanya dan bantuan dari tentara Portugis-Kristen yang didatangkan dari Malaka
dan Goa tidak mampu menembus blokade pasukan Sultan Ternate, akibatnya timbul
kelaparan dan penyakit yang melanda pasukan Portugis-Kristen yang terkurung itu. Dan
alternatif satu-satunya tidak lain adalah menyerah kalah kepada tentara Islam Ternate.
Mendengar penderitaan dan kesengsaraan yang diderita oleh tentara Portugis-Kristen di
dalam benteng yang terkurung itu maka Sultan Babullah mengirim utusannya kepada
mereka yang terkurung di dalam benteng untuk menerima usul Sultan. Isi usul atau
tawaran Sultan itu antara lain berbunyi: "Apabila orang-orang Portugis mau mengakui
kekalahannya dalam 24 jam ini, Sultan bersedia memberi izin tentara Portugis-Kristen
meninggalkan benteng itu dengan senjatanya sekaligus dan terus berangkat ke Malaka
atau tempat lain. Bahkan jika bangsa Portugis-Kristen bersedia menyerahkan hidup-
hidup Gubernur de Masquita ke tangan Sultan, untuk menjalankan hukum "qishas", maka
sultan bersedia untuk melakukan perjanjian persahabatan kembali dengan Portugis-
Kristen, dengan tidak mengurangi kedaulatan Sultan Ternate atas negeri dan rakyatnya.
Akhirnya pada akhir tahun 1575 tentara Portugis-Kristen menyerah kepada Sultan
Babullah, dan berkibarlah bendera pemerintahan Islam di benteng tersebut untuk selama-
lamanya, menggantikan bendera Portugis-Kristen
http://www.facebook.com/topic.php?uid=157242034028&topic=11516

Jelajah Benteng Maluku


Utara
Terdampar dari utara hingga selatan, berada tepat di bibir pantai. Menempati titik-titik
strategis, deretan benteng menjadi tanda keberadaan Ternate di masa silam.
Walau tak lagi menampilkan bentuk utuhnya, namun kumpulan benteng ini punya makna
lebih dari sekadar peninggalan penjajah. Yaitu simbol perjuangan rakyat Ternate,
sekaligus menyiratkan kejayaan bangsa Ternate lewat rempah-rempahnya yang menjadi
magnet bagi bangsa Eropa untuk berdatangan.
Kehadiran Portugis ditandai antara lain lewat Benteng Gamlamo atau Benteng Santo
Paolo Nostra Senora de Rosario yang terletak di selatan Ternate.
Berdiri tahun 1522, benteng yang kini lebih dikenal dengan nama Benteng Kastela itu
menjadi monumen penting dalam sejarah pergolakan rakyat Ternate melawan penjajahan.
Pasalnya, di sinilah Sultan Khairun dijebak dan dibunuh Portugis pada tahun 1570.
Sultan Khairun digantikan oleh Sultan Babullah, putranya, yang kemudian berhasil
mengusir Portugis tahun 1575, yang menjadi kemenangan pertama pribumi di Nusantara
melawan kekuatan Barat.
Ada pula reruntuhan Benteng Kota Janji yang letaknya berdekatan dengan Benteng
Kalamata yang dibangun tahun 1609 untuk menghadapi serangan Spanyol yang bercokol
di Tidore.
Yang tak kalah terkenal adalah Benteng Tolukko, dibangun Portugis tahun 1540, namun
direstorasi oleh Belanda pada 1610. Terletak di bagian utara, kondisinya hingga kini lebih
terawat dibandingkan yang lain. Arsitekturnya menyerupai bentuk lingga dan dulunya
memiliki terowongan bawah tanah yang berhubungan langsung dengan laut.
Benteng terbesar di Ternate adalah Benteng Oranye yang merupakan benteng pertama
Belanda (1607). Di sinilah pusat pemerintahan VOC, yang menyisakan beberapa meriam
serta rumah yang dulu ditinggali Jan Pieter Zoon Coen dan kini dijadikan kantor Dinas
Kebudayaan dan Pariwisata Kota Ternate.
Perlu disampaikan, sekitar 100 meter dari benteng ini terdapat rumah Alfred Russel
Wallace yang tak lain murid Charles Darwin, sang pencetus teori evolusi. la melakukan
penelitian flora dan fauna selama 3 tahun di Ternate.
Dengan segala peninggalan tersebut, maka wajar jika Ternate diganjar predikat "Kota
Benteng". Dan jika Anda berkesempatan datang ke sana, cobalah menelusuri berbagai
peninggalan tersebut.(alm/nm)
http://indonesiafile.com/content/view/2270/43/

Perlawanan Rakyat Maluku terhadap Portugis


Bangsa Portugis kali pertama mendarat di Maluku pada tahun 1511. Kedatangan Portugis
berikutnya pada tahun 1513. Akan tetapi, Tertnate merasa dirugikan oleh Portugis karena
keserakahannya dalam memperoleh keuntungan melalui usaha monopoli perdagangan
rempah-rempah.
Pada tahun 1533, Sultan Ternate menyerukan kepada seluruh rakyat Maluku untuk
mengusir Portugis di Maluku. Pada tahun 1570, rakyat Ternate yang dipimpin oleh Sultan
Hairun dapat kembali melakukan perlawanan terhadap bangsa Portugis, namun dapat
diperdaya oleh Portugis hingga akhirnya tewas terbunuh di dalam Benteng Duurstede.
Selanjutnya dipimpin oleh Sultan Baabullah pada tahun 1574. Portugis diusir yang
kemudian bermukim di Pulau Timor
http://ashfahrahman.wordpress.com/2010/02/02/spanyol/

Perlawanan rakyat Maluku terhadap Belanda


Terjadi di Tidore
1) Perlawanan di Ternate
Pertama pada tahun 1635 yang dipimpin oleh Kakiali. 1646 kembali terjadi perlawanan
rakyat Ternate terhadap VOC, yang dipimpin oleh Telukabesi. Pada tahun 1650, rakyat
Ternate yang dipimpin oleh Saidi mengalami kegagalan.
2) Perlawanan di Tidore
Tidore dipimpin oleh Kaicil Nuku atau Sultan Nuku. Perlawanan fisik dan perundingan
berhasil mengusir Belanda, mengusir Kolonial Inggris dari Tidore.
3) Perlawanan oleh Patimura
Bulan Mei 1817, meletus perlawanan rakyat Maluku di Saparua yang dipimpin oleh
Thomas Mattulessy atau Kapitan Pattimura. Benteng kompeni Duurstede di Saparua
diserbu dan direbut rakyat Maluku. Meluas hingga ke Ambon dan ke pulaupulau
sekitarnya, dikuasai oleh Kapitan Pattimura, Anthony Rybok, Paulus-paulus Tiahahu,
Martha Christina Tiahahu, Latumahina, Said Perintah dan Thomas Pattiwael, kewalahan
perlawanan rakyat Pattimura pada tahun 1817 mendantangkan pasukan Kompeni dari
Ambon yang dipimpin oleh kapten Lisnet. Oktober 1817, menyerang rakyat Maluku
secara besar-besaran, menangkap Kapitan Pattimura (tahun 1817) dihukum mati pada
tanggal 16 Desember 1817.

Perjuangan Panjang Maluku Terhadap Kolonialisasi Eropa

Maluku merupakan salah satu propinsi tertua dalam sejarah Indonesia merdeka, dikenal
dengan kawasan Seribu Pulau serta memiliki keanekaragaman sosial budaya dan
kekayaan alam yang berlimpah. Secara historis kepulauan Maluku terdiri dari kerajaan-
kerajaan Islam yang menguasai pulau-pulau tersebut. Oleh karena itu, diberi nama
Maluku yang berasal dari kata Al Mulk yang berarti Tanah Raja-Raja.

Daerah ini dinyatakan sebagai propinsi bersama tujuh daerah lainnya, Kalimantan, Sunda
Kecil, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Sumatera. Hanya dua hari setelah
bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945.
Namun secara resmi pembentukan Maluku sebagai propinsi daerah tingkat I RI baru
terjadi 12 tahun kemudian, berdasarkan Undang Undang Darurat Nomor 22 tahun 1957
yang kemudian diganti dengan Undang-Undang Nomor 20 tahun 1958.

Seperti daerah-daerah lainnya di Indonesia, Kepulauan Maluku memiliki perjalanan


sejarah yang panjang dan tidak dapat dilepaskan dari sejarah Indonesia secara
keseluruhan. Kawasan kepulauan yang kaya dengan rempah-rempah ini sudah dikenal di
dunia internasional sejak dahulu kala. Pada awal abad ke-7 pelaut-pelaut dari daratan
Cina, khususnya pada zaman Dinasti Tang, kerap mengunjungi Maluku untuk mencari
rempah-rempah. Namun mereka sengaja merahasiakannya untuk mencegah datangnya
bangsa-bangsa lain kedaerah ini.

Pada abad ke-9 pedagang Arab berhasil menemukan Maluku setelah mengarungi
Samudra Hindia. Para pedagang ini kemudian menguasai pasar Eropa melalui kota-kota
pelabuhan seperti Konstatinopel. Abad ke-14 adalah merupakan masa perdagangan
rempah-rempah Timur Tengah yang membawa agama Islam masuk ke Kepulauan
Maluku melalui pelabuhan-pelabuhan Aceh, Malaka, dan Gresik, antara 1300 sampai
1400.

Pada abad ke-12 wilayah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya meliputi Kepulauan Maluku.
Pada awal abad ke-14 Kerajaan Majapahit menguasai seluruh wilayah laut Asia
Tenggara. Pada waktu itu para pedagang dari Jawa memonopoli perdagangan rempah-
rempah di Maluku.

Dimasa Dinas Ming (1368 ? 1643) rempah-rempah dari Maluku diperkenalkan dalam
berbagai karya seni dan sejarah. Dalam sebuah lukisan karya W.P. Groeneveldt yang
berjudul Gunung Dupa, Maluku digambarkan sebagai wilayah bergunung-gunung yang
hijau dan dipenuhi pohon cengkih ? sebuah oase ditengah laut sebelah tenggara. Marco
Polo juga menggambarkan perdagangan cengkih di Maluku dalam kunjungannya di
Sumatra.

Era Portugis

Bangsa Eropa pertama yang menemukan Maluku adalah Portugis, pada tahun 1512. Pada
waktu itu 2 armada Portugis, masing-masing dibawah pimpinan Anthony d'Abreu dan
Fransisco Serau, mendarat di Kepulauan Banda dan Kepulauan Penyu. Setelah mereka
menjalin persahabatan dengan penduduk dan raja-raja setempat - seperti dengan Kerajaan
Ternate di pulau Ternate, Portugis diberi izin untuk mendirikan benteng di Pikaoli,
begitupula Negeri Hitu lama, dan Mamala di Pulau Ambon.Namun hubungan dagang
rempah-rempah ini tidak berlangsung lama, karena Portugis menerapkan sistem monopoli
sekaligus melakukan penyebaran agama Kristen.

Salah seorang misionaris terkenal adalah Francis Xavier. Tiba di Ambon 14 Pebruari
1546, kemudian melanjutkan perjalanan ke Ternate, tiba pada tahun 1547, dan tanpa
kenal lelah melakukan kunjungan ke pulau-pulau di Kepulauan Maluku untuk melakukan
penyebaran agama.

Persahabatan Portugis dan Ternate berakhir pada tahun 1570. Peperangan dengan Sultan
Babullah selama 5 tahun (1570-1575), membuat Portugis harus angkat kaki dari Ternate
dan terusir ke Tidore dan Ambon.

Era Belanda

Perlawanan rakyat Maluku terhadap Portugis, dimanfaatkan Belanda untuk menjejakkan


kakinya di Maluku. Pada tahun 1605, Belanda berhasil memaksa Portugis untuk
menyerahkan pertahanannya di Ambon kepada Steven van der Hagen dan di Tidore
kepada Cornelisz Sebastiansz. Demikian pula benteng Inggris di Kambelo, Pulau Seram,
dihancurkan oleh Belanda. Sejak saat itu Belanda berhasil menguasai sebagian besar
wilayah Maluku.

Kedudukan Belanda di Maluku semakin kuat dengan berdirinya VOC pada tahun 1602,
dan sejak saat itu Belanda menjadi penguasa tunggal di Maluku. Di bawah
kepemimpinan Jan Pieterszoon Coen, Kepala Operasional VOC, perdagangan cengkih di
Maluku sepunuh di bawah kendali VOC selama hampir 350 tahun. Untuk keperluan ini
VOC tidak segan-segan mengusir pesaingnya; Portugis, Spanyol, dan Inggris. Bahkan
puluhan ribu orang Maluku menjadi korban kebrutalan VOC.

Pada permulaan tahun 1800 Inggris mulai menyerang dan menguasai wilayah-wilayah
kekuasaan Belanda seperti di Ternate dan Banda. Dan, pada tahun 1810 Inggris
menguasai Maluku dengan menempatkan seorang resimen jendral bernama Bryant
Martin. Namun sesuai konvensi London tahun 1814 yang memutuskan Inggris harus
menyerahkan kembali seluruh jajahan Belanda kepada pemerintah Belanda, maka mulai
tahun 1817 Belanda mengatur kembali kekuasaannya di Maluku.

Pahlawan

Kedatangan kembali kolonial Belanda pada tahun 1817 mendapat tantangan keras dari
rakyat. Hal ini disebabkan karena kondisi politik, ekonomi, dan hubungan
kemasyarakatan yang buruk selama dua abad. Rakyat Maluku akhirnya bangkit
mengangkat senjata di bawah pimpinan Kapitan Pattimura, seorang bekas sersan mayor
tentara Inggris.

Pada tanggal 15 Mei 1817 serangan dilancarkan terhadap benteng Belanda ''Duurstede'' di
pulau Saparua. Residen van den Berg terbunuh. Pattimura dalam perlawanan ini dibantu
oleh teman-temannya ; Philip Latumahina, Anthony Ribok, dan Said Perintah.
Berita kemenangan pertama ini membangkitkan semangat perlawanan rakyat di seluruh
Maluku. Paulus Tiahahu dan putrinya Christina Martha Tiahahu berjuang di Pulau
Nusalaut, dan Kapitan Ulupaha di Ambon.

Tetapi Perlawanan rakyat ini akhirnya dengan penuh tipu muslihat dan kelicikan dapat
ditumpas kekuasaan Belanda. Pattimura dan teman-temannya pada tanggal 16 Desember
1817 dijatuhi hukuman mati di tiang gantungan, di Fort Niew Victoria, Ambon.
Sedangkan Christina Martha Tiahahu meninggal di atas kapal dalam pelayaran
pembuangannya ke pulau Jawa dan jasadnya dilepaskan ke laut Banda.

Era Perang Dunia Ke Dua

Pecahnya Perang Pasifik tanggal 7 Desember 1941 sebagai bagian dari Perang Dunia II
mencatat era baru dalam sejarah penjajahan di Indonesia. Gubernur Jendral Belanda
A.W.L. Tjarda van Starkenborgh , melalui radio, menyatakan bahwa pemerintah Hindia
Belanda dalam keadaan perang dengan Jepang.

Tentara Jepang tidak banyak kesulitan merebut kepulauan di Indonesia. Di Kepulauan


Maluku, pasukan Jepang masuk dari utara melalui pulau Morotai dan dari timur melalui
pulau Misool. Dalam waktu singkat seluruh Kepulauan Maluku dapat dikuasai Jepang.
Perlu dicatat bahwa dalam Perang Dunia II, tentara Australia sempat bertempur melawan
tentara Jepang di desa Tawiri. Dan, untuk memperingatinya dibangun monumen Australia
di desa Tawiri (tidak jauh dari Bandara Pattimura).

Dua hari setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, Maluku dinyatakan


sebagai salah satu propinsi Republik Indonesia. Namun pembentukan dan kedudukan
Propinsi Maluku saat itu terpaksa dilakukan di Jakarta, sebab segera setelah Jepang
menyerah, Belanda (NICA) langsung memasuki Maluku dan menghidupkan kembali
sistem pemerintahan colonial di Maluku. Belanda terus berusaha menguasai daerah yang
kaya dengan rempah-rempahnya ini ? bahkan hingga setelah keluarnya pengakuan
kedaulatan pada tahun 1949 dengan mensponsori terbentuknya Republik Maluku Selatan
(RMS).

Sumber : www.malukuprov.go.id/index.php/sejarah-maluku

http://indonesianvoices.com/index.php?
option=com_content&view=article&id=251:perjalanan-panjang-perjuangan-maluku-
terhadap-penjajah-belanda&catid=1:latest-news&Itemid=50

Bangsa Portugis kali pertama mendarat di Maluku pada tahun 1511. Kedatangan Portugis
berikutnya pada tahun 1513. Akan tetapi, Tertnate merasa dirugikan oleh Portugis karena
keserakahannya dalam memperoleh keuntungan melalui usaha monopoli perdagangan
rempah-rempah.
Pada tahun 1533, Sultan Ternate menyerukan kepada seluruh rakyat Maluku untuk
mengusir Portugis di Maluku. Pada tahun 1570, rakyat Ternate yang dipimpin oleh Sultan
Hairun dapat kembali melakukan perlawanan terhadap bangsa Portugis, namun dapat
diperdaya oleh Portugis hingga akhirnya tewas terbunuh di dalam Benteng Duurstede.
Selanjutnya dipimpin oleh Sultan Baabullah pada tahun 1574. Portugis diusir yang
kemudian bermukim di Pulau Timor.

http://wapedia.mobi/id/Sejarah_Indonesia?t=5.

Pada tahun 1521, armada Spanyol tiba di maluku seperjalanan pulang dari Filipina. Agar
Maluku tidak lepas dari kekuasaanya, pada tahun 1524 Portugis segera mengadakan
perjanjian dengan Ternate.

Ketika Portugis dan Spanyol tiba di Maluku, saat itu Ternate dan Tidore sedang
berselisih. Keadaan ini dimanfaatkan oleh Portugis dan Spanyol sebanyak - banyak nya.
Bangsa Portugis membantu Ternate, bangsa Sapanyol membantu Tidore.

Akhirnya, Tidore dan Spanyol mengalami kekalahan setelah Ternate dan Portugis
melakukan penyerangan pada tahun 1529. Poertugis bersikap sewenang wenang
kepada rakyat maluku, sehingga mendapatkan perlawanan dari rakyat Maluku di bawah
pimpinan sultan Ternate, yaitu Sultan Hairun. dan akhirnya, Portugis menang dan
menguasai Maluku.

Pada tahun 1570, Sultan Hairun dibunuh oleh bangsa Portugis. Hal itu mengundang
kemarahan rakyat Maluku. Putra Sultan Hairun, Sultan Baabullah memimpin perlawanan
terhadap Portugis. Pada tahun 1574, bangsa Portugis berhasil diusir dari Maluku

http://arena-media.blogspot.com/2009/11/reaksi-indonesia-terhadap-upaya.html