Anda di halaman 1dari 18

TEORI SEDIAAN APT ITB JANUARI 2015-2016 ELIKSIR

ELIKSIR
(revisi by: Ivana, rechecked by Marsha, re-rechecked by Rara)

Definisi
Farmakope Indonesia Ed. III 1979, hal 8:
Eliksir adalah sediaan berupa larutan yang mempunyai rasa dan bau sedap, mengandung selain obat,
juga zat tambahan seperti gula dan atau pemanis lainnya, zat warna, zat wewangi dan zat pengawet;
digunakan sebagai obat dalam.
Sebagai pelarut utama digunakan etanol yang dimaksudkan untuk meningkatkan kelarutan obat. Dapat
ditambahkan gliserol, sorbitol dan propilenglikol; sebagai pengganti gula dapat digunakan sirop gula.

Farmakope Indonesia Ed. IV. 1995, hal. 15:


Larutan adalah sedian cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang terlarut, misal : terdispersi
secara molekuler dalam pelarut yang sesuai atau campuran pelarut yang saling bercampur. Karena
molekul-molekul dalam larutan terdispersi secara merata, maka penggunaan larutan sebagai bentuk
sediaan, umumnya memberikan jaminan keseragaman dosis dan memiliki ketelitian yang baik jika
larutan diencerkan atau dicampur.
Bentuk sediaan larutan digolongkan menurut cara pemberiannya, misalnya larutan oral, mengandung
satu atau lebih zat dengan atau tanpa bahan pengaroma, pemanis atau pewarna yang larut dalam air
atau campuran kosolven air.
Pengenceran larutan oral dengan air yang mengandung kosolven seperti etanol, dapat menyebabkan
pengendapan bahan terlarut.
Larutan oral yang mengandung sukrosa atau gula lain kadar tinggi, dinyatakan sebagai sirup. Larutan
sukrosa hampir jenuh dalam air dikenal sebagai sirup atau sirup simpleks. Penggunaan istilah sirup juga
digunakan untuk bentuk sediaan cair lain yang dibuat dengan pengental dan pemanis, termasuk
suspensi oral.
Di samping sukrosa dan gula lain, senyawa poliol tertentu seperti sorbitol dan gliserin dapat digunakan
dalam larutan oral untuk menghambat penghabluran dan untuk mengubah kelarutan, rasa dan sifat
lain zat pembawa. Umumnya juga ditambahkan anti mikroba untuk mencegah pertumbuhan bakteri,
jamur dan ragi. Larutan oral yang mengandung etanol sebagai kosolven dinyatakan sebagai eliksir.

Farmakope Indonesia Ed. V. 2014 hal. 51:


Larutan adalah sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang terlarut, misal : terdispersi
secara molekuler dalam pelarut yang sesuai atau campuran pelarut yang saling bercampur. Karena
molekul-molekul dalam larutan terdispersi secara merata, maka penggunaan larutan sebagai bentuk
sediaan, umumnya memberikan jaminan keseragaman dosis dan memiliki ketelitian yang baik jika
larutan diencerkan atau dicampur. Untuk semua larutan, terutama yang mengandung pelarut mudah
menguap, harus digunakan wadah tertutup rapat dan terhindar dari panas berlebih. Jika senyawa tidak
stabil dan mudah mengalami degradasi secara fotokimia, penggunaan wadah tahan cahaya perlu
dipertimbangkan.
Larutan oral adalah sediaan cair yang dibuat untuk pemberian oral, mengandung satu atau lebih zat
dengan atau tanpa bahan pengaroma, pemanis, atau pewarna yang larut dalam air atau campuran
kosolven-air. Larutan oral dapat diformulasikan untuk diberikan langsung secara oral kepada pasien

1
TEORI SEDIAAN APT ITB JANUARI 2015-2016 ELIKSIR

atau dalam bentuk lebih pekat yang harus diencerkan lebih dulu sebelum diberikan. Penting untuk
diketahui bahwa pengenceran larutan oral dengan air yang mengandung kosolven seperti etanol, dapat
menyebabkan pengendapan bahan terlarut. Jika terdapat kosolven, pengenceran larutan pekat perlu
berhati-hati.
Disamping sukrosa dan gula lain, senyawa poliol tertentu seperti sorbitol atau gliserin dapat digunakan
dalam larutan oral untuk menghambat penghabluran dan untuk mengubah kelarutan, rasa, dan sifat
lain zat pembawa. Umumnya juga ditambahkan antimikroba untuk mencegah pertumbuhan bakteri,
jamur, dan ragi.
Banyak larutan oral yang mengandung etanol sebagai kosolven dinyatakan sebagai eliksir. Banyak
lainnya dinyatakan sebagai larutan oral, juga mengandung etanol dalam jumlah yang berarti. Karena
kadar etanol tinggi dapat menimbulkan efek farmakologi jika diberikan secara oral, dapat digunakan
kosolven lain seperti gliserin dan propilen glikol, untuk mengurangi jumlah etanol yang diperlukan.
Untuk dapat menyatakan sebagai eliksir, larutan harus mengandung etanol.

Fornas Ed. II, hal. 313 :


Eliksir adalah sediaan berupa larutan yang mempunyai rasa dan bau yang sedap, mengandung selain
obat juga zat tambahan seperti gula dan atau zat pemanis lainnya, zat pengawet, zat warna dan zat
pewangi, untuk digunakan sebagai obat dalam. Sebagai pelarut utama digunakan etanol 90% yang
dimaksudkan untuk mempertinggi kelarutan obat. Dapat ditambahkan gliserol, sorbitol dan propilen
glikol sebagai pengganti gula dapat ditambahkan sirup simpleks.
Eliksir merupakan produk yang kurang umum. Eliksir umumnya mengandung obat yang poten seperti
antibiotik, antihistamin dan sedatif, dan diformulasikan dengan rasa yang enak dan biasanya sangat
stabil. Jika perlu rasa pahit dan rasa yang memabukkan (nauseous) ditutupi dengan flavour, dan
pewarna buatan dapat ditambahkan untuk memberikan penampilan yang menarik.

Eliksir merupakan produk yang jernih, tidak seperti mixtura yang seringkali keruh akibat dari minyak
atau bahan tumbuhan lain yang tersuspensi. Kejernihan dapat dicapai dengan pemilihan pembawa
yang tepat dan beberapa hal dalam pembuatannya.
Beberapa zat aktif yang dibuat eliksir (contoh: pheneticillin dan phenoxy methipenisilin) ditandai
dengan bentuk bubuk atau granul kerena zat aktif itu tidak stabil dalam larutan. Zat itu ditambahkan
sejumlah volume tertentu dalam botol dan kocok hingga terlarut sempurna. Sediaan ini diberi label,
disimpan ditempat yang dingin dan umur sediaan hanya 7 hari.
Contoh eliksir adalah Chloral eliksir, untuk pengobatan anak (pediatric) harus dibuat segera tetapi
stabil, dikemas dan disimpan yang cocok, shelf life dapat dianggap kira kira 2 tahun. (dapus?)

BP 2009, hal. 6527:


Cairan oral adalah sedian cair yang homogen, biasanya terdiri dari larutan, suspensi atau emulsi dengan
satu atau lebih zat aktif dalam pembawa yang cocok. Dimaksudkan untuk diminum dengan diencerkan
dari larutan pekat atau dilarutkan terlebih dahulu dari granul/serbuk dengan pembawa yang sesuai.
Pembawa untuk cairan oral seharusnya dipilih sesuai dengan sifat zat aktif sehingga memiliki
karakteristik organoleptik yang cocok untuk digunakan dalam sediaan.
Eliksir adalah cairan oral yang jernih dan memiliki rasa yang enak, mengandung satu atau lebih zat aktif
yang dilarutkan dalam pembawa yang biasanya mengandung sukrosa dengan jumlah tinggi atau

2
TEORI SEDIAAN APT ITB JANUARI 2015-2016 ELIKSIR

polihidrik alkohol atau alkohol yang sesuai, dan dapat juga mengandung etanol (96%) atau pelarut
etanol (etanol encer).

Ansels Pharmaceutical Dosage Form and Drug Delivery System, 9th ed., 2011, hal. 165, 331-332, 353-
354):
Larutan adalah sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang dilarutkan dalam pelarut
yang sesuai atau campuran pelarut yang saling bercampur. Larutan obat-obatan dalam air yang
mengandung gula digolongkan sebagai sirup (walau beberapa sirup bisa mengandung alkohol).
Sedangkan larutan jernih dengan pembawa hidroalkohol (kombinasi dari air dan etanol) yang biasanya
diberi pemanis dan perasa untuk meningkatkan kerberterimaan pasien disebut eliksir.
Larutan oral, sirup dan eliksir dibuat dan digunakan karena efek tertentu dari zat obat yang terkandung.
Dalam sediaan ini zat aktif umumnya diharapkan dapat memberikan efek sistemik. Kenyataan bahwa
obat obat itu diberikan dalam bentuk larutan biasanya berarti bahwa zat aktif larut dalam sistem
cairan serta absorbsinya dalam sistem saluran cerna ke dalam sirkulasi sistemik dapat diharapkan
terjadi lebih cepat daripada dalam bentuk sediaan suspensi atau padat dari zat aktif yang sama.
Dibandingkan dengan sirup, eliksir biasanya lebih tidak manis dan encer namun dapat menjaga
komponen larut air dan larut alkohol dalam larutannya dengan baik karena menggunakan hidroalkohol
sebagai pembawa. Proporsi alkohol dalam eliksir bervariasi sesuai dengan komponen yang terkandung.
Selain alkohol dan air, pelarut lain seperti gliserin dan propilen glikol juga sering digunakan sebagai
pelarut tambahan.
Eliksir yang mengandung > 10-12 % alkohol biasanya bersifat sebagai pengawet sendiri (self
preservative) dan tidak membutuhkan penambahan zat antimikroba.
Pemanis yang biasa digunakan adalah sukrosa atau sirup sukrosa, namun ada jg yg menggunakan
sorbitol, gliserin, dan/ atau pemanis buatan. Untuk eliksir dengan kandungan alkohol tinggi biasanya
menggunakan pemanis buatan (ex. sakarin) yg hanya membutuhkan jumlah sedikit dibanding sukrosa.
Eliksir harus disimpan dalam wadah yang tertutup rapat, resisten terhadap cahaya, dan terlindungi dari
paparan panas berlebih (karena mengandung alkohol dan minyak yang mudah menguap).

Remington,The Science and Practice of Phamacy, 21st ed. hal. 746


Konsentrasi alkohol yang terdapat dalam sediaan OTC oral berdasarkan FDA :
Anak < 6 tahun : maksimal 0,5 %
Anak 6-12 tahun : maksimal 5 %
Anak > 12 tahun dan dewasa : maksimal 10 %

Pada RPS 21 ed hal 756-757, disebutkan bahwa eliksir adalah larutan hidroalkohol jernih dengan rasa
yang enak dan diberi pemanis yg ditujukan untuk pemberian oral. Eliksir termasuk ke dalam golongan
larutan non-aqueous dengan kandungan alkohol bervariasi mulai dari 3-5 % (Coumpound Benzaldehyde
Elixir USP) sampai 21-23 % (Aromatic Elixir USP).

British Pharmacopeia Codex 1973 (dapus tidak ditemukan?)


Dalam contoh sediaan elixir yang terdapat dalam pustaka tsb, digunakan etanol 90 dan 95% v/v.
Konsentrasi etanol dalam sediaan bervariasi; ada sediaan yang mengandung etanol 90% v/v sampai
40%.

3
TEORI SEDIAAN APT ITB JANUARI 2015-2016 ELIKSIR

2. Tujuan Pembuatan Sediaan Elixir (Catatan kuliah) INI SUMBERNYA HANYA DARI PENGETAHUAN
CAT KULIAH
1. Mempertinggi kelarutan zat berkhasiat
2. Agar homogenitas lebih terjamin
3. Meningkatkan kelarutan. Zat berkhasiat lebih mudah terabsorbsi dalam keadaan terlarut (disamping
faktor permeabilitas)
4. Dapat digunakan oleh orang yang sukar menelan obat seperti anak-anak dan orang tua.

3. Keuntungan dan Kekurangan Elixir


Keuntungan:
1. Obat secara homogen terdistribusi dalam seluruh sediaan
2. Bersifat hidroalkohol sehingga eliksir lebih mampu mempertahankan komponen yang larut dalam
air dan larut dalam alkohol dibandingkan sirup. (ANSEL hal 353)
3. Stabilitas yang khusus dan kemudahan dalam pembuatan (lebih disukai daripada sirup) (ANSEL
hal 353)
4. Kemudahan penyesuaian dosis dan pemberian terutama pada anak-anak. (Dispensing of
Pharmaceutical Student, hal 67; Disp of med, hal 502) dapus??
5. Dosis selalu seragam (bentuk larutan) sehingga tidak perlu pengocokan.
6. Dosis dapat diubah sesuai kebutuhan penggunaannya (dari sendok takar yang digunakan).
7. Waktu absorbsi lebih cepat maka kerja obat lebih cepat (tidak butuh disintegrasi dahulu).
8. Sifat mengiritasi dari obat bisa diatasi dengan bentuk sediaan larutan karena adanya faktor
pengenceran. Contoh: KI dan KBr dalam keadaan kering menyebabkan iritasi.
9. Anak-anak dan beberapa orang dewasa yang sukar menelan tablet atau kapsul, akan lebih mudah
menelan sediaan larutan (ANSEL hal 353)
10. Sediaan larutan dapat dengan mudah diberi bahan pewangi, pemanis, atau pewarna untuk
meningkatkan penerimaan

Kekurangan:
1. Voluminus sehingga kurang menyenangkan untuk diangkut atau disimpan.
2. Larutan mudah ditumbuhi mikroorganisme.
3. Ketepatan dosis tergantung pada kemampuan pasien menakar.
4. Rasa obat yang kurang enak akan lebih terasa dalam bentuk larutan dibanding dalam bentuk
tablet. (ANSEL hal 341)
5. Dibandingkan dengan sirup, eliksir biasanya kurang manis dan kurang kental karena mengandung
kadar gula yang lebih rendah sehingga kurang efektif dalam menutupi rasa obat dibanding
dengan sirup. (ANSEL hal 353)
6. Sediaan cair umumnya kurang stabil dibandingkan bentuk sediaan padat (tablet atau kapsul) dan
ada beberapa obat yang tidak stabil dalam air (terhidrolisis).
7. Tidak dapat digunakan untuk anak-anak dan orang dewasa yang harus menghindari alkohol,
perlu diperhatikan jumlah alkohol maksimum sesuai aturan FDA.

4
TEORI SEDIAAN APT ITB JANUARI 2015-2016 ELIKSIR

4 Cara-cara Meningkatkan Kelarutan Suatu Zat :


a. Menggunakan pelarut campur (kosolven)
Penggunaan pelarut campur dapat meningkatkan kelarutan suatu zat dengan melihat kelarutan
maksimum pada masing masing pelarut. Pemilihan pelarut campur untuk sediaan farmasi cukup
sulit, karena sifat toksisitas dan iritasinya, paling penting adalah harus dapat bercampur dengan air.
Penting diperhatikan konsentrasi maksimum komponen pelarut campur yang masih diperbolehkan.
Untuk memperkirakan kelarutan suatu zat dalam pelarut campur harus dilihat harga konstanta
dielektriknya. Suatu pelarut campur yang ideal mempunyai harga konstanta dielektrik antara 25
sampai 80. Kombinasi pelarut campur yang banyak digunakan dalam sediaan farmasi adalah
campuran air-alkohol atau pelarut lain yang sesuai antara lain sorbitol, gliserin, propilen glikol, dan
polietilen glikol 200/400 (The Theory And Practice Of Industrial Pharmacy, 3rd ed. Lachman, hal 460-
461). Kepolaran pelarut campur mendekati kepolaran zat terlarut. Kelarutan zat terlarut akan
meningkat apabila konstanta dielektrik pelarut campur yang digunakan sama atau mendekati KD zat
aktif.
Pelarut campur yang digunakan : etanol, propilen glikol, gliserin, dan sorbitol. Perhatikan
konsentrasi toksik dari pelarut campur yang digunakan tersebut.
Pemilihan pelarut campur didasarkan :
Kelarutan: alkohol 10%, propilen glikol x%, air (90-x)%
Kd (jika diketahui Kd zat aktif)
Kd campuran = (% air x Kd air) + (% alkohol x Kd alkohol) + (% pro.glikol x Kd prop.glikol)

Jika Kd zat aktif tidak diketahui, maka dilakukan penentuan Kd dengan cara sbb:
Data kelarutan ZA yang diketahui (misal zat X terlarut di etanol, maka .... mg zat X dilarutkan
dalam sejumlah ml etanol kemudian dititrasi dengan air sampai keruh), dicatat jumlah air
yang diperlukan.
. .
Kd zat = ( (+) ) + ( (+) )
Pembuatan beberapa seri larutan agar hasil hitungan lebih akurat
Perhitungan Kd
Usahakan pelarut organik serendah mungkin berada dalam batas maks yang ditentukan (jika tetap
tidak bisa, buat suspensi). Contoh : gliserin, propilen glikol konsentrasi tinggi menyebabkan diare

b. Pengontrolan pH
Suatu senyawa yang bersifat asam atau basa lemah akan berubah kelarutannya dalam air dengan
mengubah pH larutan. Perubahan pH dapat merubah bentuk senyawa asam atau basa lemah
menjadi bentuk garamnya yang lebih mudah larut. Kelarutan asam dan basa lemah akan meningkat
seiring derajat ionisasi meningkat. Parameter yang perlu diketahui adalah harga pKa dan pKb
senyawa tersebut serta pH sediaan yang dibuat perlu diperhatikan.
Berapa pH yang harus dimiliki sediaan untuk membuat sejumlah X zat A terlarut dapat dihitung
dengan persamaan Henderson Hasselbach :
()
Untuk asam = +

Untuk basa = + ()

5
TEORI SEDIAAN APT ITB JANUARI 2015-2016 ELIKSIR

Keterangan :
S = kelarutan obat (bentuk terionisasi + tidak terionisasi)
So = kelarutan intrinsik (bentuk tidak terionisasi)
Dari persamaan tersebut dapat dilihat bahwa :
Pada pH sediaan > pKa kelarutan zat asam akan meningkat
Pada pH sediaan < pKa kelarutan zat basa akan meningkat

Pertimbangan lain dalam menentukan pH sediaan yang dipilih:


pH tidak mempengaruhi kebutuhan lain dari produk seperti stabilitas dan kompatibilitas
fisiologis
Jika pH yang diperlukan untuk mempertahankan kelarutan zat cukup kritis (misal:
Rentang pH sempit < 3), maka diperlukan sistem dapar
Pada literatur, nilai pKa atau pKb umumnya ditentukan dari zat yang dilarutkan di air, hal ini
akan berbeda apabila pada eliksir dimana mengandung kosolven, umumnya alkohol atau
gliserin akan meningkatkan kelarutan zat yang tidak terionisasi dan meningkatkan nilai pKa.
(The Theory and Practice of Industrial Pharmacy, Lachman, 3rd ed., hal.458-459)

c. Solubilisasi miselar
Penambahan bahan yang bersifat aktif permukaan dapat meningkatkan kelarutan suatu zat. Salah
satu contoh adalah penambahan surfaktan. Mekanismenya adalah karena terjadi asosiasi senyawa
yang bersifat non polar dengan misel yang terbentuk dalam larutan setelah tercapai konsentrasi
misel kritik (KMK) surfaktan. Konsentrasi surfaktan yang ditambahkan tidak boleh terlalu besar,
karena selain sifatnya yang toksik dan harganya yang mahal juga akan terjadi busa pada saat
pembuatan sediaan yang sukar dihilangkan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pada
konsentrasi surfaktan tertentu dapat mengurangi ketersediaan hayati obat karena terjadinya
adsorpsi yang kuat di dalam misel. Harga HLB surfaktan dapat dipakai untuk memperkirakan
kelarutan dan kemampuan tercampurnya dalam pelarut yang digunakan. Surfaktan dapat
meningkatkan kelarutan jika dosis suatu zat aktif kecil.

Beberapa surfaktan yang umum digunakan dalam sediaan farmasi adalah tween, ester-ester asam
lemak, monoester sukrosa, ester lanolin. (The Theory and Practice of Industrial Pharmacy, 3rd ed.,
hal.462-464)

d. Kompleksasi
Mekanisme meningkatkan kelarutan suatu zat berdasarkan adanya interaksi dari senyawa yang
tidak larut dengan senyawa yang larut baik dapat membentuk kompleks intramolekuler yang larut.
(The Theory and Practice of Industrial Pharmacy, 3rd ed, hal.464-466). Misal suatu Zat diinklusi
dengan kompleks siklodekstrin (karena ukuran rongga cocok, dimana molekul yang masuk ke rongga
siklodekstrin harus < ukuran rongga).

5 Hal-hal yang Perlu Diperhatikan dalam Pembuatan Elixir:


1. Pertumbuhan kristal yang disebabkan oleh perubahan suhu, keseragaman ukuran, dll.

6
TEORI SEDIAAN APT ITB JANUARI 2015-2016 ELIKSIR

2. Ketercampuran zat aktif dengan pelarut campur ataupun zat tambahan untuk menghindari
terjadinya pengendapan. Dasar pemilihan pelarut campur: toksisitas, kelarutan, konstanta dielektrik
pelarut, ketercampuran bahan (kompatibilitas).
3. Untuk penambahan sirupus simpleks lebih dari 30 % harus diperhatikan terjadinya cap locking pada
tutup botol sediaan. Karena itu perlu diberikan anti cap locking. Contoh anti cap locking yaitu
gliserin, sorbitol dan poliol lainnya. Penambahan gliserin sebagai anti cap locking harus diperhatikan
karena gliserin dalam konsentrasi tinggi dapat menyebabkan diare (menarik air/humektan).
4. Untuk meningkatkan penerimaan perlu diberikan peningkat rasa dengan penambahan pemanis
dalam sediaan, disamping itu ditambahkan rasa dan warna yang sesuai. Antara warna dan essens
yang ditambahkan harus ada kesesuaian. (modul praktikum semsol, hal 14-16)
5. Untuk sediaan oral pemilihan zat aktif perlu memperhatikan pemerian (rasa dan bau).
6. Pemanis yang digunakan : gula, sirupus simpleks, sorbitol, gliserin, sakarin Na, aspartam.
7. Karena ada komponen air dalam sediaan maka perlu ditambahkan pengawet. Pengawet yang dapat
digunakan :
- Nipagin-nipasol (metil paraben : propil paraben) = 9 : 1 (0,18% : 0,02%)
- Asam benzoat dengan konsentrasi 0,01-0,1%
(Sumber : Handbook of Pharmaceutical Exicipient 6 th, 2009, hal 61,442)
8. Sediaan eliksir yang baik harus mempunyai viskositas yang cukup (aliran yang baik) untuk
memudahkan penuangan. Tetapi biasanya pelarut campur yang digunakan sudah cukup kental
untuk memudahkan penuangan.

6. Formulasi
Formula Umum
R/ - zat aktif
- pelarut utama (etanol dan air dengan perbandingan tertentu sesuai dengan daya melarut
zat berkhasiat)
- pelarut tambahan (gliserin, sorbitol, propilen glikol)
- bahan pembantu (pemanis; pewangi; pewarna; pengawet; anticaplocking agent; penstabil
kimia seperti pendapar, pengompleks, antioksidan)
(Modul praktikum Semisolid, 2003, hal 13)

Pembawa dan Perhitungan Konstanta Dielektrik


Pembawa elixir berbeda dengan pembawa mixtura karena:
a. Produksi larutan yang jernih
Kekeruhan dari bahan pewangi (flavour) yang terdiri dari minyak essensial dan pengendapan dari
ekstrak tumbuhan tidak boleh ada dalam eliksir. Kira-kira 10-20% alkohol yang digunakan untuk
melarutkan minyak termasuk gliserol yang juga sebagai pelarut pewangi berminyak.

b. Suatu ZA dengan kelarutan yang rendah dalam air


Kadang-kadang jika suatu ZA yang poten memiliki kelarutan yang rendah harus diberikan maka
dibuat sebagai larutan dengan pelarut campur yang akan melarutkan dengan sempurna, contoh :
- Fenobarbital sukar larut dalam air tapi dapat menghasilkan larutan yang jernih jika dibuat
dengan melarutkan alkohol dan kemudian dilarutkan dalam gliserol dan air.

7
TEORI SEDIAAN APT ITB JANUARI 2015-2016 ELIKSIR

- Suatu bagian parasetamol larut dalam 70 bagian air, 7 bagian alkohol, 9 bagian propilen
glikol, dan 40 bagian gliserol. Dalam eliksir parasetamol digunakan alkohol, propilen glikol,
dan gliserol sbg pelarut campur.

Alkohol bila digunakan pada konsentrasi cukup rendah akan memberikan aktivitas fisiologis dan
apabila digunakan dalam konsentrasi yang tinggi memberikan rasa terbakar. Alkohol juga menekan
rasa asin yang kurang dari bromida, garam iodida dan lainnya. Bila memungkinkan, eliksir yang
ditujukan penggunaannya untuk anak-anak diformulasikan mengandung sedikit alkohol atau tidak
sama sekali, sebab alkohol tidak dianjurkan untuk diberikan pada anak-anak sebagai pelarut.
Propilen glikol digunakan sebagai pelarut minyak essensial dari bahan kimia organik yang tidak larut
air. Propilen glikol memberikan rasa manis seperti gliserol.

c. Produksi sediaan yang berasa enak


Kandungan utama dari eliksir adalah sirup atau sirup yang mengandung flavour. Jenis-jenis bahan
pembawa adalah sbb: sebagai pelarut utama digunakan etanol 90%, dapat ditambah gliserol,
sorbitol, dan prop.glikol. (Fornas ed. II hal 313)

Etanol Kd 25,7
Konsentrasi 10% : mencegah pertumbuhan mikroba
Pelarut oral liquid : bervariasi (< 10%)
Etanol diinaktivasi dengan adanya surfaktan nonionik dan tidak efektif
menghambat spora bakteri. (HOPE ed 6 2009 hal 17)
Gliserin Kd 43
Pemanis pd eliksir alkohol : 20%
Humektan 30%
Anticaplocking agent
Campuran gliserin dengan air, etanol (95%), dan propilen glikol stabil
secara kimia (HOPE 6th ed hal 283)
Sorbitol Humektan : 3-15%
Larutan oral : 20-35%
Anticaplocking agent pada sirup dan elixir :15-30%
Pengganti untuk gliserin dan propilenglikol : 25-90%
Suspensi oral : 70% (HOPE ed 6 2009 hal 679)
Memiliki efek osmotik laksatif
Propilen glikol Kd 33
Solven atau kosolven oral : 10-25%
Pengawet (untuk larutan oral, semi solid) : 15-30 %
(HOPE ed 6 2009 hal 592)

Untuk mengetahui berapa banyak pelarut campur yang digunakan, dapat dihitung dari nilai
konstanta dielektrik total pelarut yang digunakan yang sesuai dengan konstanta dielektrik ZA.

8
TEORI SEDIAAN APT ITB JANUARI 2015-2016 ELIKSIR

Cara menghitung konstanta dielektrik adalah :


Jumlah dari hasil perkalian masing-masing konstanta dielektrik pelarut dengan fraksi (%) dari masing-masing
pelarut. (petunjuk praktikum farfis, 2002, hal 35). Misal :
Pelarut Jumlah Kontanta dielektrik
Etanol A% 25,7
Gliserin B% 43,0
Propilen glikol C% 33,0
Air D% 80,4

Maka konstanta dielektrik campuran pelarut adalah: 25,7A + 43B + 33C + 80,4D
100
Contoh beberapa nilai Konstanta Dielektrik (Sumber: Martin, Physical Pharmacy, hal.87)dapus??
Zat aktif Konstanta dielektrik
As. Asetil Salisilat 2,583
Androsteron 2,214
Barbital 2,256
Kolesterol 2,213
Dehidrokolesterol 2,211
Metiltestoteron 2,213
Fenobarbital 2,247
Sulfanilamide 2,349
Testoteron 2,217
Metil salisilat 9,41
Metanol 32,6
Gliserol 42,5

(Sumber: Martin, Physical Pharmacy ed 6, hal.82)

9
TEORI SEDIAAN APT ITB JANUARI 2015-2016 ELIKSIR

(Sumber: Martin, Physical Pharmacy ed 6, hal 185)

Data Konstanta Dielektrik Bahan Pelarut


Nama Bahan Nama Bahan
N-metilformamid 190 Kloroform 4,8
Air 80,4 Asam hidroklorida 4,6
Gliserin 43 Etil eter 4,34
Metil alcohol 33,7 Minyak zaitun 3,1
Etil alcohol 25,7 Minyak biji kapas 3
n-propil alcohol 21,8 Asam oleat 2,45
Aseton 21,4 Toluen 2,39
Benzaldehid 17,8 Benzen 2,28
Amil alcohol 15,8 Dioksan 2,26
Benzil alcohol 13,1 Minyak lemon 2,25
Fenol 9,7 Karbon tetraklorida 2,24
Metil salisilat 9
Etil asetat 6,4
(Sumber : Petunjuk Praktikum Farmasi Fisika, 2002, hal 35)dapus??

Bahan Pembantu
1. Pengawet
Pertumbuhan jamur dan fermentasinya dalam eliksir dapat dihambat jika pembawa mengandung
lebih dari 20% alkohol, gliserol dan propilen glikol (Coopers & Gunns hlm 76). Sirup yang
mengandung sukrosa 85% dapat menahan pertumbuhan mikroba oleh pengaruh tekanan osmotik
terhadap pertumbuhan mikroba. Sirup dengan kadar sukrosa kurang dari 85% dengan penambahan
poliol (seperti sorbitol, gliserin, propilen glikol atau PEG) juga memiliki efek yang sama. Sebagai
pengawet dapat juga digunakan etanol 5-10% dalam formulasi. Tekanan uap etanol lebih besar dari air
dan akan menguap ke permukaan cairan dan daerah penutup (cap area) sehingga dapat mengurangi
potensial pertumbuhan mikroba sebagai ketika cairan dituang. (The Theory and Practice of Industrial
Pharmacy, Lachman,3rd ed., hal.467-468)

10
TEORI SEDIAAN APT ITB JANUARI 2015-2016 ELIKSIR

Konsentrasi pengawet untuk sediaan oral (HOPE ed 6 2009 hal 442, 596, 61, 672)
- Metil paraben 0,015-0,2%
- Propil paraben 0,01-0,02%
- Asam benzoat 0,01-0,10% untuk oral solution; 0,1 % untuk suspensi oral; 0,15% untuk sirup oral.
- Asam sorbat 0,05-0,2%

Kriteria pengawet yang ideal (The Theory and Practice of Industrial Pharmacy, Lachman,3rd ed.,
hal.467):
- Efektif terhadap mikroba dan berspektrum luas (Gram +, Gram -, dan fungi)
- Stabil secara fisika, kimia, dan mikrobiologi selama shelf life produk
- Tidak toksik, tidak mengiritasi, cukup melarut, kompatibel dengan komponen formula lainnya,
rasa dan bau dapat diterima pada konsentrasi yang digunakan

Konsentrasi pengawet yang dapat digunakan (Remington 21 st ed, hal 748)

Sebagai pengawet dapat digunakan turunan hidroksi-benzoat, misalnya metil p- hidroksibenzoat dan
propil p- hidroksibenzoat. Pemakaian pengawet ini didasarkan atas rentang kerja pengawet tsb pada
pH 4-8. Paraben lebih aktif menghambat kapang dan jamur dibanding bakteri, > aktif terhadap bakteri
Gram + dibanding Gram -. Metilparaben (0,18%) yang dikombinasikan dengan propilparaben 0,02%)
banyak digunakan dalam formulasi parenteral. Aktivitas antimikroba meningkat dengan penambahan
propilen glikol (2-5%), asam edetat, dan feniletil alkohol.

2. Penstabil kimia (pengkelat, pendapar, antioksidan)


Penggunaan pelarut khusus dalam kebanyakan eliksir sering diperhitungkan terhadap pertimbangan
stablitas, tetapi diperlukan penambahan penstabilisasi, sebagai contoh Neomiksin Eliksir BPC yang
diatur pH 4-5 dengan asam sitrat untuk mengurangi timbulnya warna hitam saat penyimpanan,
ditambahkan juga Na EDTA sebagai pemisah terhadap logam yang mengkatalisa penguraian
antibiotik.
Dapar digunakan untuk meningkatkan kelarutan zat aktif atau meningkatkan stabilitas zat aktif.
Sebagai pengatur pH untuk sediaan oral biasa digunakan NaOH, asam sitrat dan Na sitrat (1-5%), Na

11
TEORI SEDIAAN APT ITB JANUARI 2015-2016 ELIKSIR

fosfat & dinatrium fosfat (0,8-2%), dan asam asetat & Na asetat (1-2%) (david Jones, fasttrack
Pharmaceutics, Dosage form and design, 2008, hal. 9)
Untuk contoh perhitungan dapar dapat dilihat pada KIT PENDUKUNG PERHITUNGAN DAPAR.

Sebagai antioksidan biasa ditambahkan asam askorbat 0,01-0,1% (HOPE 6th ed hal 43) dan sodium
metabisulfit 0,01-1% (HOPE 6th ed hal 654)

(Remington 21 st ed, hal 747)

3. Bahan Pewarna
Bahan pewarna yang biasa digunakan dalam eliksir:
Larutan Hasil warna Eliksir
Amaranth Magenta red Parasetamol paed.
Streptomisin paed.
Seny tartrazin Safiron Ephedrin, Isoniazid, Neomisin, Fenobarbital
Piperazin sitrat
Green S Hijau
Konsentrasi yang biasa digunakan 0,01-0,1%
(Cooper & Gunns, Dispensing for Pharmaceutical students hlm 76) dapus??

4. Pemanis
Penambahan bahan pemanis digunakan untuk sirup yang mengandung pewangi, gliserol, sorbitol, sirup
onvert dan Na sakarin. Sakarin dapat membantu menutupi rasa pahit dari sediaan antibiotika seperti
neomisin (Cooper & Gunns, Dispensing for Pharmaceutical students hlm 76) dapus??
Pemanis yang biasa digunakan pada eliksir adalah gula atau pemanis lain sebagai pengganti gula dapat
digunakan sirupus simpleks (FI III).
Catatan : Larutan gula encer merupakan medium yang baik untuk pertumbuhan cendawan, ragi dan
jasad renik lain, karena itu semua alat yang dipakai dalam pembuatan sirup harus benar-benar bersih.
Pertumbuhan jasad renik umumnya diperlambat jika kadar sakarosa lebih besar dari 65%, tetapi

12
TEORI SEDIAAN APT ITB JANUARI 2015-2016 ELIKSIR

kepekatan ini memungkinkan terjadinya penghabluran sukrosa. Selain itu dapat menyebabkan
caplocking pada tutup botol. Oleh karena itu kadar yang dipakai sekitar 20-35% saja. Dapus??

Pemanis yang biasa digunakan untuk larutan oral (The Theory and Practice of Industrial Pharmacy,
Lachman,3rd ed., hal.468-469):
Sukrosa /larutan sukrosa dlm air (dapat dibuat hingga 85%) stabil scr fisik & kimia pd pH 4-8, sering
digunakan bersamaan dgn sorbitol, gliserin, dan poliol lain untuk menurunkan caplocking.
Sakarin (250-500 x > manis dari gula tp aftertaste.
Aspartam (200x > manis dari sukrosa) tidak ada aftertaste.

5. Pewangi/Flavour
Untuk sediaan eliksir, bahan pemanis dan pewangi rasa buah lebih banyak digunakan daripada
pembawa aromatik dan ekstrak cairan liquorice. Pewangi rasa buah yang sering digunakan adalah:
- Black currant syrups dalam Eliksir Chloral paed.
- Juice Raspberry pekat dengan sirup invert dalam Parasetamol Eliksir.
- Lemon spirit dengan sirup dan sirup invert dalam Ephedrin Eliksir.
- Compound Orange Spirit dengan gliserol dalam Phenobarbital Eliksir.
Raspberry dan Black currant sangat dikenal oleh anak-anak, dan sangat baik untuk menutupi rasa pahit
obat. Flavour orange efektif untuk menutupi rasa agak pahit barbiturat, sedangkan asam Sitrat dan Na
sitrat membantu menutupi rasa sedikit pahit dari streptomisin . (Cooper & Gunns, Dispensing for
Pharmaceutical students hal 76)

Contoh Flavour (The Theory and Practice of Industrial Pharmacy, Lachman, hal.470)

Rasa Flavour
Asin Vanila, maple, peach, apricot, wintergreen mint
Pahit Cherry, walnut, coklat, mint, anise
Manis Buah-buahan, vanila, berry
Asam Jeruk, rootbeer, raspberry, licorice
Catatan : Konsentrasi q.s atau dibuat larutan stok dengan memperhatikan stabilitas dan konsentrasi
dalam pembawa.

Flavour dalam Farmasi


USP XVIII NF XIII
Aromatic elixir Acacia syrup
Cherry syrup Aromatic Eriodictyon syrup
Citric acid syrup High alkoholic elixir
Cocoa syrup Iso-alkoholic elixir
Glycyrrhizae syrup Low alkoholic elixir
Orange syrup Tolu balsam syrup
Raspberry syrup Tolu balsam tincture
Wild cherry syrup

13
TEORI SEDIAAN APT ITB JANUARI 2015-2016 ELIKSIR

Flavours & Perfumes (USP 27/NF 22 hlm 2810) dapus??


Anethole
Benzaldehide
Ethyl vanillin
Mentol
Metil salisilat
Monosodium Glutamat
Peppermint oil
Peppermint spirit
Rose oil
Rose water, stronger
Thymol
Vanillin
Monte-Bove peppermint air (mengandung minyak pedas) pekat mempunyai formula sebagai
berikut :
Peppermint oil USP 7,5
Tween 20 42,5
Aquadest ad 100
Ambil 1 mL minyak pekat, encerkan hingga 100 mL, maka larutan peppermint air setara dengan
aromatic air yang dibuat berdasarkan USP.

Bahan terapeutik yang khas dan penggolongan bahan pewangi mempunyai nama khas dengan
formulasi tertentu. Flavour orange mint secara khusus berpengaruh dalam menutupi rasa
difenhidramin pada formulasi ekspektoran. Penggunaan spice vanila flavour untuk sediaan
fenilefrin dan klorfeniramin maleat (CTM) telah diajukan sebagai pertimbangan. Rasa strawberry
sangat sesuai untuk formulasi transquilizer. Kombinasi rasa apel dengan butterscotch sangat
sesuai untuk mengurangi rasa adsorben dari kaolin dan pektin, juga dianjurkan untuk aminofilin
dan teofilin. Dapus?

6. Anti-caplocking Agent
Biasanya digunakan gliserin dan sorbitol yang berfungsi juga sebagai pemanis, karena sirupus simpleks
yang digunakan hanya sekitas 20-35%.

5. Pembuatan Sediaan Eliksir

Contoh formula :
R/ Zat aktif 100 mg
Sorbitol solution 30 %
Alkohol 10%
Propilenglikol 5%
(% b/v dari volume 5mL)
Metil paraben 0,2%
Propil paraben 0,03%
Pewangi q.s

14
TEORI SEDIAAN APT ITB JANUARI 2015-2016 ELIKSIR

Pewarna q.s
Aquades ad. 5 ml
Misalkan : akan dibuat sediaan eliksir, dengan kekuatan sediaan 100 mg/5mL sebanyak 10 botol.
Jumlah yang akan diserahkan sebanyak 10 botol ditambah untuk uji mutu sediaan akhir dibutuhkan :

Organoleptik
1 Botol
Bobot jenis
Penetapan volume terpindahkan (non destruktif) 10 botol (jika TMS, + 20 botol)
Penetapan pH 1 botol (bisa dari bekas volter)
Penetapan viskositas dan rheologi (Hoppler) ~ 120 ml Bisa dari bekas volter
Identifikasi 3 botol*
Penetapan kadar 3 botol
Penetapan potensi antibiotika (jika ZA antibiotika) 2 Botol
Uji batas mikroba 2 Botol
Uji efektivitas pengawet 5 Botol
JUMLAH 30 botol
*Bila cara uji identifikasi dan penetapan kadar sama, maka dapat dilakukan secara simultan.
Karena dari seluruh uji diatas ada uji yang tidak destruktif sehingga dapat digunakan untuk uji
evaluasi yang lain. Jadi jumlah eliksir yang akan dibuat adalah 10 + 30 = 40 botol.

Perhitungan
Jumlah yang akan diserahkan sebanyak 10 botol, ditambah untuk uji mutu sediaan akhir
dibutuhkan 30 botol. Maka akan dibuat total : 40 botol.
Volume tiap botol dilebihkan 3% untuk menjamin ketepatan volume sediaan setelah dituang
dari botol. Persentase penambahan volume mengacu pada FI V : Volume Injeksi dalam Wadah
<1131>, hal 1570.
Volume sediaan tiap botol = 100 ml + (3 % x 100 ml) = 103 ml
Total volume sediaan yang akan dibuat : 40 botol x 103 ml = 4120 ml
Untuk mencegah kehilangan selama pembuatan maka total sediaan dilebihkan 10% sehingga
volume total yang dibuat = 4120 ml + (10% x 4120) ml = 4532 ml.
Catatan editor: melebihkan bahan 10% masih menjadi perdebatan. Menurut Ibu Sasanti hal ini tidak
perlu dilakukan (kecuali untuk semisolid)- perlu didiskusikan!

Penimbangan
Bahan yang
Untuk volume 5 ml Untuk volume 4532 ml
ditimbang
Zat aktif 100 mg 100 mg/ 5ml x 4532 ml = 90640 mg
Sorbitol solution 30% b/v x 5 ml = 1,5 g 1,5 g/ 5ml x 4532 ml = 1359,6 g
Alkohol 10% b/v x 5 ml = 0,5 g 10% b/v x 4532 ml = 453,2 g
Propilen glikol 5%b/v x 5 ml = 0,25 g 5% b/v x 4532 ml = 226,6 g
Metil paraben 0,2% b/v x 5 ml = 0,01 g 0,2% b/v x 4532 ml = 9,064 g
Propil paraben 0,03% b/v x 5 ml = 0,0015 0,03% b/v x 4532 ml = 1,3596 g

15
TEORI SEDIAAN APT ITB JANUARI 2015-2016 ELIKSIR

Pewangi qs (dalam bentuk persen)


Pewarna qs (dalam bentuk persen)
Aquadest Ad 5 ml Ad 4532 ml

Prosedur Pembuatan
1. Air sebagai pembawa harus dididihkan kemudian didinginkan dalam keadaan tertutup (air bebas
CO2)
2. Bahan aktif dan bahan pembantu (jumlah yang diminta + evaluasi) ditimbang.
3. Pembuatan larutan sakarosa (FI. III. Hal 567). Larutkan 65 bagian sakarosa dalam larutan metil
paraben 0,25 % b/v secukupnya hingga diperoleh 100 bagian sirupus simpleks yang berfungsi
sebagai pengental dan pemanis (jika digunakan pemanis gula)
4. Bahan aktif dihaluskan dalam mortar kemudian dilarutkan dalam salah satu pelarut yang paling
melarutkan zat tersebut., kemudian tambahkan pelarut lain sekaligus, atau
Apabila kelarutan bahan berkhasiat di dalam masing-masing pelarut yang akan dikombinasikan
tidak tinggi, maka zat aktif dilarutkan sedikit demi sedikit ke dalam pelarut campur tersebut, atau
Apabila digunakan surfaktan sebagai peningkat kelarutan, dibuat larutan surfaktan dengan
konsentrasi tertentu, kemudian bahan berkhasiat dilarutkan ke dalam larutan surfaktan tersebut.
5. Bahan pembantu dihaluskan dalam mortar kemudian dilarutkan dalam pelarut yang paling
melarutkan zat-zat tersebut.
6. Tambahkan berturut-turut larutan pengawet, larutan pewangi, larutan pewarna kedalam larutan zat
aktif. (Sedapat mungkin penambahan zat-zat pembantu dalam keadaan terlarut)
7. Tambahkan sisa pelarut campur
8. Masukkan pemanis.
9. Genapkan dengan air sampai volume yang diinginkan.
10. Masukkan kedalam wadah, tutup dan beri etiket.
(Modul Praktikum Semisolida, 2008, hal 15,19).

6. Evaluasi & Penyimpanan

Evaluasi
a. Evaluasi Fisika

1. Evaluasi organoleptik : bau, rasa, warna, kejernihan, selain itu juga diperiksa kelengkapan etiket,
brosur dan penandaan pada kemasan.
2. Evaluasi kejernihan dan warna larutan FI V hal 1521 <881> : 5 ml
3. Bobot jenis FI V hal 1554 <981> : 10 ml
4. Volume terpindahkan FI V hal 1614 <1261> : 10 wadah (tetapi dapat dipakai untuk uji-uji lainnya)
5. Viskositas (petunjuk prak farmasi fisika, 2008, hal 8 atau Physical Pharmacy, Martin, 6th ed hal.
479). Viskosimeter Hoppler membutuhkan kurang lebih 120 ml
Alat : Viskometer Hoppler
Prosedur :
- Isi tabung dengan cairan yang akan diukur viskositasnya sampai hampir penuh
- Masukkan bola yang sesuai

16
TEORI SEDIAAN APT ITB JANUARI 2015-2016 ELIKSIR

- Tambahkan cairan sampai tabung penuh dan tabung ditutup (jangan sampai ada gelembung
udara)
- Pengukuran dilakukan dengan menghitung waktu yang
dibutuhkan oleh bola untuk menempuh jarak tertentu
melalui cairan tabung
- Hitung bobot jenis cairan dengan menggunakan piknometer
- Viskositas cairan dihitung dengan rumus :

= (1 2 )
Keterangan :
= viskosita cairan = konstanta bola
1 = bobot jenis bola 2 = bobot jenis cairan
t = waktu yang dibutuhkan bola untuk menempuh jarak tertentu (detik)

b. Evaluasi kimia
1. Identifikasi
2. Penetapan kadar zat aktif
3. pH FI V hal 1563 <1071> : 1 botol

c. Evaluasi Biologi
1. Penetapan potensi antibiotik untuk eliksir dengan zat aktif antibiotika Lihat FI V <131> hal.1392
2. Uji Batas mikroba (FI V <51> hal.1343)
3. Uji Efektivitas Pengawet (FI V <61> hal.1354)

Prosedur evaluasi sama dengan larutan!!

Penyimpanan
Karena eliksir mengandung alkohol dan biasanya juga mengandung beberapa minyak mudah
menguap yang rusak oleh adanya udara dan sinar, maka paling baik disimpan pada wadah tertutup rapat
dan tahan cahaya (light resistant), dan terlindung dari panas berlebih. (Ansel 9th ed, hal 354)

7. Contoh Sediaan Di Pasaran


1. Eliksir parasetamol
Contoh : dapyrin, decadol elixir
2. Eliksir teofilin
contoh : bronchophylin, bufabron, brodilex, tusapres
3. Eliksir piperazin sitrat
contoh : ascari, combantrin neo ultraxon
4. Eliksir ambroxol HCl
contoh : mucopect

BP 2013.
1. Ephedrine Elixir

17
TEORI SEDIAAN APT ITB JANUARI 2015-2016 ELIKSIR

2. Phenobarbital Elixir
3. Piperazin Citrate Elixir
Eliksir Fenobarbital
R/ Fenobarbital 4g
Orange Oil 0,25 mL
Propilen glikol 100 mL
Alkohol 200 mL
Sorbitol solution 600 mL
Pewarna q.s
Aquadest ad to 1000 mL
Eliksir Teofilin
R/
Teofilin 5,3 g
Asam sitrat 10 g
Liquid glukosa 44 g
Syrup 132 mL
Glycerin 50 mL
Sorbitol Solution 324 mL
Alkohol 200 mL
Sodium saccharin 5g
Lemon oil 0,5 g
FDC yellow No. 5 0,1 g
Aquadest ad 1000 mL
(Ansel, Pharmaceutical dosage and Drug delivery system, 9th ed, hal 354)

Eliksir Asetaminofen (Fornas hal 3)


Komposisi:
Tiap 5 mL mengandung
Asetaminofen 120mg
Gliserol 2,5mL
Prop. Glikol 500L
Sorbitol Solution 70% 1,25mL
Etanol 500 L
Zat tambahan yang cocok q.s
Aquadest ad 5mL
Catatan : air dapat diganti dengan sirupus simplex

BACA !! Keterangan : Highlight biru : penting diingat


Tulisan biru : penting
Highlight kuning : masih bingung, perlu ditanyakan saat tutorial
Tulisan merah : dapus tidak jelas/tidak ditemukan

18