Anda di halaman 1dari 31

Kata Pengantar

Pancasila sebagai dasar Negara bangsa Indonesia hingga sekarang telah mengalami
perjalanan waktu yang tidak sebentar, dalam rentang waktu tersebut banyak
hal/peristiwa yang terjadi menemani perjalanan Pancasila.

Mulai peristiwa pertama saat pancasila dicetuskan sudah menuai banyak konflik di
internal para pencetusnya, hingga sekarangpun di era reformasi dan globalisasi
Pancasila masih hangat diperbincangkan oleh banyak kalangan berpendidikan
terutama kalangan Politik dan mahasiswa.

Kebanyakan dari para pihak yang memperbincangkan masalah Pancasila adalah


mengenai awal dicetuskannya Pancasila tentang sila perta aterutama.

Memang dari sejarah awal perkembangan bangsa Indonesia dapat kita lihat bahwa
komponen masyarakatnya terbentuk dari dua kelompok besar yaitu kelompok agamis
dalam hal ini didominasi oleh kelompok agama Islam dan yang kedua adalah kelompok
Nasionalis.

Kedua kelompok tersebut berperan besar dalam pembuatan rancangan dasar Negara
kita tercinta ini.

Makalah ini dibuat sebagai catatan perjalanan Pancasila dari jaman ke jaman, agar kita
senantiasa tidak melupakan sejarah pembentukan Pancasila sebagai dasar Negara,
dan juga dapat digunakan untuk menjadi penengah bagi pihak yang sedang berbeda
pendapat tentang dasar Negara supaya kedepan kita tetap seperti semboyan kita yaitu
Bhineka Tunggal Ika.
Pancasila.

Istilah Pancasila selalu berkumandang pada masa Orde Baru di bawah kepemimpinan
HM Soeharto. Apa saja selalu dikaitkan dengan Pancasila. Begitu pula dengan Undang-
Undang Dasar 1945 selalu dibicarakan. Pancasila dan UUD 1945 menjadi dua istilah
sangat popular, bahkan selalu menjadi slogan Orde Baru.

Kita tentu masih ingat tentang P-4 (Pedoman Penghayatan dan Pengalaman Pancasila)
yang disosialisasikan dalam dunia pendidikan, baik formal, informal maupun non-
formal. Istilah Penataran P-4 tidaklah asing bagi generasi muda kala itu. Selanjutnya
buat mereka yang aktif dalam organisasi social kemasyarakatan dan politik, istilah asas
tunggal Pancasila juga ramai dibincangkan.

Sama halnya dengan Pancasila, istilah UUD 1945 juga selalu ditekankan oleh para elit
Orde Baru. Mereka kala itu selalu menyebut-nyebut UUD 1945, terlebih ketika hendak
menyusun atau membuat berbagai peraturan dan perundang-undangan. Pidato para
pejabat selalu mengaitkannya kepada konstitusi tersebut.

Tak pelak lagi, Pak Harto sebagai Presiden, mandataris MPR (Majelis
Permusyawaratan Rakyat) merupakan tokoh utama dalam mensosialisasikan Pancasila
dan UUD 1945. Boleh disebut, Pak Hartolah yang secara tegas menyatakan bahwa
pedoman, pegangan, landasan, acuan utama kita dalam bermasyarakat, berbangsa
dan bernegara adalah Pancasila dan UUD 1945. Kita harus melaksanakan Pancasila
dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen, ucap Pak Harto dalam tiap kesempatan.

Penekanan kata murni dan konsekuen dipahami sebagai tidak perlunya lagi kita
mengusik, mengotak-atik Pancasila dan UUD 1945 sebagaimana apa adanya seperti
yang ditetapkan pada 18 Agustus 1945, sehari setelah kemerdekaan Indonesia
diproklamirkan oleh Bung Karno dan Bung Hatta. Guna mengamankan konstitusi,
perubahan UUD 1945 hanya dimungkinkan jika melalui persetujuan lewat referendum.

Dalam perjalanannya, mengingat begitu kuatnya penekanan tentang pentingnya


Pancasila dan UUD 1945 masa Orde Baru, banyak orang merasa bosan, jenuh atau
bahkan menjadi antipati. Terlebih lagi memang upaya mensosialisasikan dasar Negara
dan konstitusi tersebut oleh elit Orde Baru kala itu seolah tidak ada jemu-jemunya,
bahkan cenderung seolah seperti tidak ada kata henti. Kesan pemaksaan sering
dijadikan alasan untuk menolak Pancasila. Sementara, banyak pula yang melihat
berbagai prilaku, tindakan atau perbuatan, baik oleh pejabat maupun anggota
masyarakat, dinilai menyimpang jauh dari nilai-nilai Pancasila yang disosialisasikan dan
dilestarikan itu.

Akhirnya ketika gerakan reformasi menerpa kita semua dan Pak Harto lengser pada 21
Mei 1998, Pancasila dan UUD 1945 ikut pula dilengserkan. Sosialisasi Pancasila lewat
P-4 dihentikan. BP-7 (Badan Pelaksanaan Pendidikan dan Pengkajian Pedoman
Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) lembaga penyelenggara P-4 dibubarkan.
Sementara UUD 1945 diamandemen hingga 4 kali sehingga kini konstitusi kita dinilai
betul-betul sudah menjadi baru, tidak lagi sama dengan apa yang dirumuskan para
founding father.

Buruk Rupa Cermin Dibelah, Lantas apakah dengan kita melengserkan Pancasila dan
UUD 1945, kehidupan kita bermasyarakat, berbangsa dan bernegara kini menjadi jauh
lebih baik dibandingkan masa Orde Baru? Apakah berbagai krisis ekonomi,

krisis multi dimensi sebagaimana terjadi pada penghujung masa Orde Baru sudah
teratasi?

Sudah tentu jawabannya tidak dapat dinyatakan secara hitam putih. Hal yang pasti,
permasalahan yang dihadapi masa sekarang tampaknya tidak banyak beranjak jauh,
terutama yang dirasakan oleh rakyat kalangan menengah ke bawah. Sementara untuk
di kalangan sebagian elit secara pribadi-pribadi, kelompok atau golongan tentu saja
menilai banyak jauh meningkat pada kondisi saat ini. Terlebih bila kita memang total
melupakan Pancasila dan UUD 1945.

Nah, dari kondisi saat ini yang dinilai masih gonjang ganjing itulah, sementara pihak
melihat ada sesuatu yang hilang dalam kehidupan kita. Mereka melihat kita selama ini
ternyata ibarat buruk rupa cermin dibelah. Maksudnya, wajah kita yang buruk tapi
malah yang kita rusak adalah cermin, alat bagi kita untuk dapat melihat siapa kita. Lebih
jauh, dapat pula bagaikan: kita tak pandai menari, lantai yang dibilang goyah. Selain
itu dapat pula ibarat: pesawat yang gagal diterbangkan tapi landasan yang
dipersalahkan.

Kenyataan tersebut membuat ada penilaian yang menyebutkan kita kini dalam kondisi
memprihatinkan. Rakyat Indonesia mengalami degradasi wawasan nasional bahkan
juga degradasi kepercayaan atas keunggulan dasar Negara Pancasila, sebagai sistem
ideology nasional karenanya, elit reformasi mulai pusat sampai daerah mempraktekkan
budaya kapitalisme-liberalisme dan neo-liberalisme. Jadi, rakyat dan bangsa Indonesia
mengalami erosi jati diri nasional!

Kalau kita melihat masalah Undang-Undang Dasar 1945 dan Pancasila. Ketiganya
terlihat sepakat bahwa saat ini kita sudah melenceng atua bahkan cenderung sudah
mengabaikan penerapan substansi dari konstitusi dan ideologi Negara sebagaimana
yang diamanatkan oleh para founding father, bapak bangsa. Penyelenggaraan
kehidupan bermasyarkaat, berbangsa dan bernegara saat ini tidak lagi memakai acuan
UUD 1945 dan Pancasila.

Masa Orde Baru sudah memulai menanamkan Pancasila dan UUD 1945 dalam pikiran
kita. Selanjutnya sudah pula terus diucap-ucapkan dan banyak pula dicoba diterapkan
dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dasar Negara dan
konstitusi warisan founding fathers itu tidak disosialisasikan dalam waktu singat tapi
makan waktu cukup lama, lewat proses dialog yang panjang. Lewat musyawarah
mufakat yang tidak langsung begitu saja disetujui.

Bayangkan, penerimaan Pancasila sebagia satu-satunya asas buat organisasi sosial


politik dan kemasyarakatan baru disepakati pada Sidang Umum MPR 1983, sekitar 15
tahun setelah Orde Baru. Itu pun tidak langsung diterapkan karena dibuat dulu undang-
undangnya. Sementara sampai berakhirnya Orde Baru, sebenarnya upaya sosialisasi
dan pelestariannya masih terus dilakukan.
Sungguh saying, euphoria reformasi telah membuat kita lupa, mana yang harus tetap
dipertahankan dan mana yang harus dibuang. Kita terlalu emosional sehingga semua
produk Orde Baru dianggap keliru. Padahal yang keliru adalah dalam tararan
operasional yang memang dimungkinkan dapat saja belum sesuai dengan Pancasila
dan UUD 1945.

Hal paling menarik, kita melihat seolah Pancasila dan UUD 1945 adalah produk Orde
Baru. Pelaksanaan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen hanyalah

rekayasa, sebuah kepentingan kekuasaan Orde Baru. Oleh karena itulah agaknya
kenapa kita kini merasa tidak penting lagi melaksanakan Pancasila dan UUD 1945
secara murni dan konsekuen. Bukankah hal ini sangat naf jika kita seharusnya mau
menjunjung tinggi warisan para founding father?

Founding father ibarat orangtua dalam kehidupan keluarga. Dari kacamata agama, kita
sebagai anak harus berbakti kepada orangtua. Artinya, warisan dan nilai-nilai yang
ditinggalkan sebagai amanat orangtua harus kita junjung. Kalau tidak, kita dapat kualat,
menjadi anak durhaka. Berbagai bencana yang terus melanda, krisis dan masalah yang
terus menghinggapi rakyat kita, boleh jadi sebagai pertanda Tuhan menegur kita karena
kita kualat atau durhaka.

Tampaknya, memang mau tidak mau kita harus kembali memakai wacana mari
melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Oke saja, titik
tolaknya tidak dengan melihat apa yang dilakukan pada masa Orde Baru dan juga Orde
Lama. Melainkan mari kital ebih jauh back to basic, melihat langsung sejarak produk
awal lahirnya dasar Negara dan konstitusi yang kemudian ditetapkan pada 18 Agustus
1945. mungkin dari sini kita akhirnya dapat kembali membangun semangat
Kebangkitan Nasional 1908, Sumpah Pemuda 1928 dan akhirnya semangat
Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Pancasila sebagaimana kita yakini merupakan jiwa, kepribadian dan pandangan hidup
bangsa Indonesia. Disamping itu juga telah dibuktikan dengan kenyataan sejarah
bahwa Pancasila merupakan sumber kekuatan bagi perjuangan karena menjadikan
bangsa Indonesia bersatu. Karena Pancasila merupakan ideology dari negeri kita.
Dengan adanya persatuan dan kesatuan tersebut jelas mendorong usaha dalam
menegakkan dan memperjuangkan kemerdekaan. Ini membuktikan dan meyakinkan
tentang Pancasila sebagai suatu yang harus kita yakini karena cocok bagi bangsa
Indonesia.

Pengertian ideologi

Ideologi adalah kumpulan ide atau gagasan. Kita ideologi sendiri diciptakan oleh destutt
de trascky pada akhir abad ke-18 untuk mendefinisikan sains tentang ide. Ideologi
dapat dianggap sebagai visi yang komprehensif, sebagai cara memandang segala
sesuatu, sebagai akal sehat dan beberapa kecenderungan filosofis, atau sebagai
serangkaian ide yang dikemukakan oleh kelas masyarakat yang dominant kepada
seluruh anggota masyarakat (definisi ideology Marxisme).

Untuk bisa melihat Pancasila sebagai lebih jernih kita perlu melihat sejarah awalnya
Pancasila. Pancasila adalah sebuah istilah yang diciptakan Bung Karno dalam
pidatonya di siding BPUPKI tanggal 1 Juni 1945, sehingga dikenal sebagai hari lahirnya
Pancasila. Sedikit dari kita yang masih mengingat bahwa Pancasila versi Bung Karno di
BPUPKI berbeda dengan Pancasila yang kita kenal sekarang.

Secara histories, selama ini kita telah salah memahami Pancasila. Banyak orang
mengira, Pancasila itu adalah sesuatu yang murni diciptakan oleh Soekarno, dan
merupakan sebuah karya yang digali dari perut bumi Nusantara. Itu, jelas, tidak
seluruhnya benar, namun tidak juga semuanya salah.

Yang benar adalah, apa yang dirumuskan oleh Soekarno pada 1 Juni 1945 itu,
merupakan kristalisasi dari pemikirannya sejak 1926. Kita tahu, pada tahun itu,
Soekarno menulis sebuah buku yang dia beri judul Nasionalisme, Islam dan Marxisme.
Nah, dari sinilah kemudian Soekarno mulai mengembangkan pemikirannya hingga
1940-an. Kemudian, ada orang bilang, Pancasila itu digali dari warisan asli Indonesia.
Kata siapa? Kalau benar itu warisan asli bumi Indonesia, mengapa Soekarno dalam
Lahirnya Pancasila menyebut pemikiran Lenin, Sun Yat Send an beberapa ahli lainnya?
Pancasila yang kita kenal sekarang adalah Pancasila versi Piagam Jakarta, dengan
revisi sila pertama. Pancisa versi Bung Karno adalah seperti ini :
1. Kebangsaan
2. Internasionalisme atau kemanusiaan
3. Mufakat dan demokrasi
4. Kesejahteraan sosial
5. Ke-Tuhanan Yang Maha Esa

ideologi berasal dari bahasa Yunani yaitu idea dan logia. Idea berasal dari idein yang
berarti melihat. Idea juga diartikan sesuatu yang ada di dalam pikiran sebagai hasil
perumusan sesuatu pemikiran atau rencana. Kata logia mengandung makna ilmu
pengetahuan atau teori, sedang kata logis berasal dari kata logos dari kata legein yaitu
berbicara. Istilah ideologi sendiri pertama kali dilontarkan oleh Antoine Destutt de Tracy
(1754 1836), ketika bergejolaknya Revolusi Prancis untuk mendefinisikan sains
tentang ide. Jadi dapat disimpulkan secara bahasa, ideologi adalah pengucapan atau
pengutaraan terhadap sesuatu yang terumus di dalam pikiran.Dalam tinjauan
terminologis, ideology is Manner or content of thinking characteristic of an individual or
class (cara hidup/ tingkah laku atau hasil pemikiran yang menunjukan sifat-sifat tertentu
dari seorang individu atau suatu kelas). Ideologi adalah ideas characteristic of a school
of thinkers a class of society, a plotitical party or the like (watak/ ciri-ciri hasil pemikiran
dari pemikiran suatu kelas di dalam masyarakat atau partai politik atau pun lainnya).
Ideologi ternyata memiliki beberapa sifat, yaitu dia harus merupakan pemikiran
mendasar dan rasional. Kedua, dari pemikiran mendasar ini dia harus bisa
memancarkan sistem untuk mengatur kehidupan. Ketiga, selain kedua hal tadi, dia juga
harus memiliki metode praktis bagaimana ideologi tersebut bisa diterapkan, dijaga
eksistesinya dan disebarkan.
Pancasila dijadikan ideologi dikerenakan, Pancasila memiliki nilai-nilai falsafah
mendasar dan rasional. Pancasila telah teruji kokoh dan kuat sebagai dasar dalam
mengatur kehidupan bernegara. Selain itu, Pancasila juga merupakan wujud dari
konsensus nasional karena negara bangsa Indonesia ini adalah sebuah desain negara
moderen yang disepakati oleh para pendiri negara Republik Indonesia kemudian nilai
kandungan Pancasila dilestarikan dari generasi ke generasi. Pancasila pertama kali
dikumandangkan oleh Soekarno pada saat berlangsungnya sidang Badan Penyelidik
Usaha Persiapan Kemerdekaan Republik Indonesia (BPUPKI).

Pada pidato tersebut, Soekarno menekankan pentingnya sebuah dasar negara. Istilah
dasar negara ini kemudian disamakan dengan fundamen, filsafat, pemikiran yang
mendalam, serta jiwa dan hasrat yang mendalam, serta perjuangan suatu bangsa
senantiasa memiliki karakter sendiri yang berasal dari kepribadian bangsa.
Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Pancasila secara formal yudiris terdapat
dalam alinea IV pembukaan UUD 1945. Di samping pengertian formal menurut hukum
atau formal yudiris maka Pancasila juga mempunyai bentuk dan juga mempunyai isi
dan arti (unsur-unsur yang menyusun Pancasila tersebut). Tepat 64 tahun usia
Pancasila, sepatutnya sebagai warga negara Indonesia kembali menyelami kandungan
nilai-nilai luhur tersebut.
Ketuhanan (Religiusitas)
Nilai religius adalah nilai yang berkaitan dengan keterkaitan individu dengan sesuatu
yang dianggapnya memiliki kekuatan sakral, suci, agung dan mulia. Memahami
Ketuhanan sebagai pandangan hidup adalah mewujudkan masyarakat yang
beketuhanan, yakni membangun masyarakat Indonesia yang memiliki jiwa maupun
semangat untuk mencapai ridlo Tuhan dalam setiap perbuatan baik yang dilakukannya.
Dari sudut pandang etis keagamaan, negara berdasar Ketuhanan Yang Maha Esa itu
adalah negara yang menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduknya untuk memeluk
agama dan beribadat menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Dari dasar ini
pula, bahwa suatu keharusan bagi masyarakat warga Indonesia menjadi masyarakat
yang beriman kepada Tuhan, dan masyarakat yang beragama, apapun agama dan
keyakinan mereka.

Kemanusiaan (Moralitas)
Kemanusiaan yang adil dan beradab, adalah pembentukan suatu kesadaran tentang
keteraturan, sebagai asas kehidupan, sebab setiap manusia mempunyai potensi untuk
menjadi manusia sempurna, yaitu manusia yang beradab. Manusia yang maju
peradabannya tentu lebih mudah menerima kebenaran dengan tulus, lebih mungkin
untuk mengikuti tata cara dan pola kehidupan masyarakat yang teratur, dan mengenal
hukum universal. Kesadaran inilah yang menjadi semangat membangun kehidupan
masyarakat dan alam semesta untuk mencapai kebahagiaan dengan usaha gigih, serta
dapat diimplementasikan dalam bentuk sikap hidup yang harmoni penuh toleransi dan
damai.

Persatuan (Kebangsaan) Indonesia


Persatuan adalah gabungan yang terdiri atas beberapa bagian, kehadiran Indonesia
dan bangsanya di muka bumi ini bukan untuk bersengketa. Bangsa Indonesia hadir
untuk mewujudkan kasih sayang kepada segenap suku bangsa dari Sabang sampai
Marauke. Persatuan Indonesia, bukan sebuah sikap maupun pandangan dogmatik dan
sempit, namun harus menjadi upaya untuk melihat diri sendiri secara lebih objektif dari
dunia luar. Negara Kesatuan Republik Indonesia terbentuk dalam proses sejarah
perjuangan panjang dan terdiri dari bermacam-macam kelompok suku bangsa, namun
perbedaan tersebut tidak untuk dipertentangkan tetapi justru dijadikan persatuan
Indonesia.

Permusyawaratan dan Perwakilan


Sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan hidup berdampingan dengan orang
lain, dalam interaksi itu biasanya terjadi kesepakatan, dan saling menghargai satu sama
lain atas dasar tujuan dan kepentingan bersama. Prinsip-prinsip kerakyatan yang
menjadi cita-cita utama untuk membangkitkan bangsa Indonesia, mengerahkan potensi
mereka dalam dunia modern, yakni kerakyatan yang mampu mengendalikan diri, tabah
menguasai diri, walau berada dalam kancah pergolakan hebat untuk menciptakan
perubahan dan pembaharuan. Hikmah kebijaksanaan adalah kondisi sosial yang
menampilkan rakyat berpikir dalam tahap yang lebih tinggi sebagai bangsa, dan
membebaskan diri dari belenggu pemikiran berazaskan kelompok dan aliran tertentu
yang sempit.
Keadilan Sosial
Nilai keadilan adalah nilai yang menjunjung norma berdasarkan ketidak berpihakkan,
keseimbangan, serta pemerataan terhadap suatu hal. Mewujudkan keadilan sosial bagi
seluruh rakyat Indonesia merupakan cita-cita bernegara dan berbangsa. Itu semua
bermakna mewujudkan keadaan masyarakat yang bersatu secara organik, dimana
setiap anggotanya mempunyai kesempatan yang sama untuk tumbuh dan berkembang
serta belajar hidup pada kemampuan aslinya. Segala usaha diarahkan kepada potensi
rakyat, memupuk perwatakan dan peningkatan kualitas rakyat, sehingga kesejahteraan
tercapai secara merata.

Yang terjadi sekarang adalah :

Sila 1 Banyak yang lebih takut sama Bos daripada sama Tuhan

Sila 2 Banyak yang pada nggak peduli sama keadaan saudara kita yang kena
musibah dan di kampong-kampung yang buat makan aja susah.

Sila 3 Banyak persepsi, banyak argument, banyak kepentingan yang justru jauh
dari persatuan.

Sila 4 Sudah nggak ada lagi musyawarah mufakat, karena beda pendapat
mendingan jadi oposisi ketimbang jalan bareng.

Sila 5 yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin

Dari pembahasan kelima sila di atas, bisalah kita menyimpulkan kalau Pancasila yang
terdiri dari lima sila dengan masing-masing simbol yaitu bintang, pohon beringin, kepala
banteng, rantai dan padi dan kapas ternyata tidak diamalkan dengan baik. Begitu
banyak contoh-contoh nyata tentang pelanggaran akan nilai-nilai dasar Pancasila.
Bukankah pelanggar dasar negara patut dan pantas untuk dihukum? Lalu kenapa
mereka tidak dihukum? Apakah hukum hanya milik para pejabat dan konglomerat?
Dari pembahasan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa bila kita ingin bangkit dari
segala keterpurukan bangsa dan krisis multidimensi, marilah kita kembali ke Pancasila
sebagai dasar negara sekaligus pedoman kita.

Ke depan, apakah sebagai pengikat, Pancasila masih bisa diandalkan?

Tergantung bagaimana orang Indonesia menanggapinya sekarang. Kalau saya, jujur


saja, sangat khawatir. Orang sekarang malas berbicara soal Pancasila. Saya bertanya,
siapa yang mau berdiskusi soal Pancasila sekarang? Orang kampus saja, sudah ogah.
Sebagai warga negara, justru hal seperti itu sangat saya khawatirkan. Tidak ada
sebuah negara yang tidak tegak di atas sebuah ideologi. Selonggar apa pun pengertian
ideologi itu. Amerika punya ideologi, ideologi demokrasi. Kita punya apa? Angkatan
pergerakan nasional sudah memberikannya kepada kita, yakni Pancasila. Sayangnya,
dalam upaya penerapannya, Pancasila selalu ditawarkan dalam bahasa cuci otak.
Dipaksakan dengan cara indoktrinasi.

Sejarah Pancasila.

Orang tidak melihat tiga waktu itu sebagai rentetan proses yang saling terkait. Tanggal
1 Juni 1945, Pancasila sebagai calon dasar Negara, baru dirumuskan dan diajukan
soekarno kepada siding BPUPKI (Badan Pembantu Usaha Persiapan Kemerdekaan
Indonesia). Tanggal 22 Juni 1945 BPUPKI membuat sebuah panitia kecil berisi 9
anggota dengan pimpinan Soekarno untuk mebahas tawaran soekarno itu. Baru pada
18 Agustus 1945 Pancasila disahkan sebagai dasar Negara.

Menjelang kekalahan Jepang pada Perang Dunia II, Jepang berusaha menarik
perhatian para pemimpin kita dengan mendirikan panitia persiapan kemerdekaan dan
BPUPKI.

Pertanyaan yan timbul pada sidang yang berlangsung yang berlangsung tiga hari itu
adalah ? jika Indonesia merdeka apa yang menjadi dasar Negara?
Begitu banyak pendapat teori dan perdebatan. Tetapi pada tanggal 1 Juni 1945
Soekarno berpidato dan memukau semua orang yang hadir pada sidang tersebut.
Ideologi Pancasila di tengah Perubahan Dunia

Dunia berkembang dan berubah dengan sangat cepat, dan perubahan yang terjadi itu
ikut mewarnai kehidupan bangsa kita secara fundamental. Ada beberapa penulis buku
yang melalui konsep-konsepnya telah berhasil memotret realitas zaman yang sedang
kita jalani ini. Di antaranya adalah Rowan Gibson (1997) yang menyatakan bahwa

The road stop here. Masa di depan kita nanti akan sangat lain dari masa lalu, dan
karenanya diperlukan pemahaman yang tepat tentang masa depan itu.
New time call for new organizations, dengan tantangan yang berbeda diperlukan
bentuk organisasi yang berbeda, dengan ciri efisiensi yang tinggi. Where do we go
next; dengan berbagai perubahan yang terjadi, setiap organisasi-termasuk organisasi
negara-perlu merumuskan dengan tepat arah yang ingin dituju. Peter Senge (1994)
mengemukakan bahwa ke depan terjadi perubahan dari detail complexity menjadi
dynamic complexity yang membuat interpolasi menjadi sulit. Perubahan-perubahan
terjadi sangat mendadak dan tidak menentu. Rossabeth Moss Kanter (1994) juga
menyatakan bahwa masa depan akan didominasi oleh nilai-nilai dan pemikiran
cosmopolitan, dan karenanya setiap pelakunya, termasuk pelaku bisnis dan politik
dituntut memiliki 4 C, yaitu concept, competence, connection, danconfidence

Apa kelemahan ideologi pancasila?

Makna dari ideologi terbuka adalah sebagai suatu sistem pemikiran terbuka. Pengaruh
positif Pancasila sebagai ideologi terbuka anatara lain adalah Pancasila merupakan
cita-cita yang sudah hidup dalam masyarakat, berupa nilai-nilai dan cita-cita yang
berasal dari dalam masyarakat sendiri; Pancasila merupakan hasil musyawarah dan
konsensus masyarakat; dan Pancasila bersifat dinamis dan reformis. Sedangkan
kelemahan Pancasila sebagai ideologi terbuka adalah Pancasila adalah tidak memiliki
sabuk pengaman sehingga memberikan ruang untuk multi interpretasi. Dengan kata
lain bahwa kelemahan-kelemahan penerapan Pancasila selama ini sebagai suatu
ideologi terletak pada bagaimana ia dirumuskan kembali sebagai suatu kebijakan. Inilah
inti permasalahan, yang kemudian bisa menyentuh hal-hal lain, dimulai dengan
bagaimana kita mengkonseptualisasi fungsi negara. Bagaimana hubungan antara
negara dengan warganegara, lalu bagaimana kebijakan ekonomi dan seberapa besar
dari perekonomian itu ditujukan untuk memelihara negara dan memelihara kolektivitas.
Dengan cara begitu, mungkin akan lebih mudah untuk menjabarkan semua sila-sila
yang terkandung di dalam Pancasila, sehingga kita tidak terbentur dengan rumusan-
rumusan yang sifatnya normatif semata-mata.

pancasila jika diamalkan secara konsekwen seperti cita cita bapak bangsa ir. soekarno
bisa membawa indonesia kearah yang lebih adil & makmur. pertanyaannya adalah
apakah kita mampu mengamalkan pancasila seperti yang dicita citakan oleh para
penggagasnya? apakah kita mampu menjaga pancasila tanpa menyelewengkan seperti
yang terjadi selama ini? Karena pancasila adalah tameng saja kali garuda lambangnya
padhal garuda makannya burung kecil2 lha itu banyak pemimpin yang makan rakyat
kecil, tameng itu hanya untuk menutupi saja, jadi yaaah inilah yang terjadi.dan bhineka
tunggal ika.

1) Pancasila tidak memiliki sabuk pengaman atas kemungkinan terjadinya


penyalahgunaan atas dirinya-sendiri. Baik dalam overdosisi dalam penerpannya, seperti
terjadinya perubahan Pancasila sebagai ideology Negara menjadi pseudo agama
diperlakukan sebagai idoleogi tertutup (doktriner) seperti yanhg terjadi sepanjang Orba
maupun defisit ideology seperti yang terjadi sekarang.
2) Premis Sentral bahwa Pancasila memberikan rumusan Indonesia bukan Negara sekuler
dan bukan Negara agama, lebih banyak menyulitkan daripada menjadi problem solving
dalam sengketa hak-hak kepercayaan. Posisi Negara sebagai apparatus-keyakinan
telah melampaui batas-batas yang dibutuhkan.
3) Kelemahan dan seklaigus kekuatan Pancasila adalah kekaburannya. Akibatnya
Pancasila mudah terjebak pada monopoli interpretasi, multi- interpretasi dan
intrumentalisasi kepentingan kekuasaan.
4) Ancaman :
5) Jika pancasila hanya menjadi daftar keinginan bersama (das-sollen) tetapi ksoong
dalam implementasinya (das-seinnya). Jika pancasila kehilangan pendukung sebagai
konsekuensi atas rendahnya komitmen. Seperti disinyalir oleh Kompas, sudah menjadi
keprihatinan umum, ideology pancasila tidak lagi mengambil porsi sentral dalam wacana
public, lebih-lebih dalam beberapa tahun belakangan ini. Bahkan mulai muncul
kekhawatiran tentang kemungkinan Pancasila digeser oleh ideology lain. Jika terjadi
gerak polirik keaagamaan yang mengarah pada politik teokrasi- otoriter yang
memaksakan doktrin androsentris dan mengancam pandangan antroposentris.
6) Jika terjadi hegemoni budaya (Barat) yang mendalangi seluruh perjalanan bangsa,
7) yang membuat kita tidak memiliki kemandirian dan harga diri

Dua realitas penyelewenang terhadap nilai-nilai Pancasila :


Pertama : adalah bentuk dari praktik kemalasan bangsa untuk senantiasa

mengaktualisasi dan merevitalisasi nilai-nilai luhur jati diri bangsa, sebagai elaborasi
Pancasila terhadap konteks aspirasi jaman dan generasi. Sehingga menjadikan kita
tidak percaya diri dan gamang. Mengadopsi sebuah nilai dengan menirunya mentah-
mentah. Bila tanah (baca: ruang) yang mau dipijak saja tidak tahu, lagit (baca: jaman)
mana yang akan dijunjung.

Kedua : terutama pada praktik penyederhanaan, yang melahirkan penyeragaman dan

orientasi kepada materi yang bersifat fisik belaka. Proses sebagai nilai penentuan hasil
cenderung diabaikan, tak pelak lebih mudah menerima hal yang instant dan cepat saji.

Rakyat dan realitasnya diabaikan perannya sebagai unsur emansipatoris bersama


pemerintah dan negara, untuk menggunakan Pancasila dalam menilai pembangunan
bangsa dan Negara. Pada prinsipnya kedua praktik penyimpangan, adalah praktik
korupsi, terutama terhadap nilai, yang kini telah melahirkan ketidakadilan, diskriminasi,
dan cenderung menggunakan kekerasan daripada berdialog dan bertoleransi karena
pluralitas masyarakat dan budayanya.

Indonesia, kini memasuki babak lanjut dari perjalanan sejarahnya, masuk pada tata
masyarakat global yang makin integrative. Berjuta peluang dan tantangan ada didepan
kita. Perkembangan teknologi dan informasi memungkinkan kita untuk
mengembangkan diri dan memajukan peradaban kita. Namun demikian, ketidak siapan
kita dapat juga menimbulkan permasalahan dalam pergaulan global. Dalam konteks ini
kita merasakan bahwa dampak globalisasi yakni liberalisasi ekonomi dengan praktik
korporasi yang tamak yang pernah dialami oleh bangsa kita hampir genap empat abad
lamanya. Mulai era imperialisme kolonial Belanda dengan Perseroan Terbatas yang
bernama VOC menancapkan kuku kekuasaannya dikerajaan- kerajaan Nusantara.
Kemudian hingga berlangsung pada derajat yang lebih intens ketika pada pemerintahan
yang merilis kebijakan politik dan ekonomi pintu terbuka terhadap kepentingan modal
asing.

Dikeluarkannya UU Penanaman Modal Asing Tahun 1967, membawa Indonesia dalam


tata ekonomi yang dikonstruksi oleh paham kapitalisme-liberalisme secara lebih dalam.
Pancasila dilupakan sebagai dasar filosofi kehidupan berbangsa dan bernegara, yang
dapat menjadi dasar penataan, politik, ekonomi dan Negara. Liberalisasi tahap lanjut
saat ini, berjalan parallel dengan arus gerakan demokratisasi. Kedua, di bidang
ekonomi yang seharusnya untuk mencapai keadilan sosial bagi

seluruh rakyat Indonesia, pengelolaan sector yang menjadi sumber daya ekonomi
bangsa diprioritaskan bertumpu pada potensi bangsa sendiri dan untuk kepentingan
rakyat banyak. Proses menghadirkan kemampuan berdiri, tidak disederhanakan
dengan tindakan nasionalisasi aset. Karena hidup dalam perkembangan dunia yang
kian mengglobal, menjadi lebih mudah bila pilihannya pada semakin meningkatkan
kemampuan dan keunggulan daya saing bangsa. Kemampuan dan keunggulan daya
saing pada sumber daya manusia, baik pada produksi, konsumsi dan komunikasi.

Ketiga, kekayaan akan ragam budaya dan nilai-nilai luhurnya adalah modal bagi

kepribadian bangsa Indonesia. Modal dasar ini harus semakin dikembangkan untuk
pemenuhan dan peningkatan peran kontributifnya padap engembangan peradaban
dunia secara universal. Hal inilah kenapa Bung Karno, salah satu pendiri negara dan
bangsa Indonesia, menuliskannya kepada kita dengan : .nasionalisme kita, adalah
nasionalisme yang hidup pad ataman sari internasionalisme. Pancasila harus
diintegrasikan dalam perilaku sosial maupun politik dan sebagai alat pemersatu bangsa
di semua dimensi kehidupan.

Perubahan akan dapat terjadi jika para pemimpin politik kita dapat memberikan
tauladan kepada seluruh masyarakat akan pelaksanaan Pancasila secara murni dan
konsekuen. Bentuk nyata dari keteladanan dan konsistensi pelaksanaan Pancasila ini
dpaat dimulai dengan diakhirinya kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak kepada
kepentingan rakyat, praktik kejahatan korupsi, ego kepentingan yang bersifat sektoral,
pengutamaan permusyawaratan sebagai mekanisme politik dalam menyelesaikan
seluruh persoalan bangsa dan menolak seluruh kepentingan asing yang bertentangan
dengan kepentingan nasional.

Mahasiswa Tak Minati Pancasila


Melemahnya kekuatan Pancasila sebagai ideologi dan pandangan hidup bangsa

juga terjadi kepada kelompokmahasiswa. Kaum muda yang diharapkan menjadi


penerus kepemimpinan bangsa ternyata abai denganPanc asila. Mengutip survei yang
dilakukan aktivis gerakan nasionalis pada 2006, sebanyak 80 persenmahasiswa
memilih syariah sebagai pandangan hidup berbangsa dan bernegara. Sebanyak 15,5

persen responden memilih aliran sosialisme dengan berbagai varian sebagai acuan
hidup. Hanya 4,5 persen responden yang masih memandangPanc asila tetap layak
sebagai pandangan hidup berbangsa dan bernegara.

Penelitian itu dilakukan di Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung,


Universitas Gadjah Mada, Universitas Airlangga, dan Universitas Brawijaya. Perguruan-
perguruan tinggi tersebut selama ini dikenal sebagai basis gerakan politik di
Indonesia.Danial menilai survei tersebut menunjukkan kondisi riil di perguruan tinggi
negeri di seluruh Indonesia. Kondisi ini menunjukkan semakin rendahnya semangat
nasionalisme di kalangan generasi penerus bangsa. "Banyak generasi muda yang lupa
isi harfiahP ancasil a. Apalagi mengertiPanc asila secara maknawi?
Pascabergulirnya gerakan reformasi, Pancasila dilalaikan oleh banyak pihak. Pancasila
tidak lagi menjadi acuan dalam kehidupan politik dan tak lagi digunakan sebagai
kerangka penyelesaian masalah nasional. Bahkan, banyak orang bersikap sinis dan
takut ditertawakan jika berbicara tentang Pancasila. Pancasila tak lagi menjadi acuan,
baik dalam pengambilan keputusan maupun penyusunan perundang- undangan.
Jarang pula masalah nasional yang menentukan jalannya sejarah bangsa direfleksikan
atau dipertanyakan kembali dalam kerangka dasar negara, Pancasila.

Masalah itu, antara lain terlihat dalam meningkatnya jumlah penduduk miskin dan
penganggur, kesehatan dan pendidikan bagi rakyat miskin, konflik etnis dan antarumat
beragama, serta meluasnya sikap ekstrem dan fundamentalis. Itu semua jauh dari
Pancasila.Kebebasan yang diperoleh melalui reformasi, lanjutnya, dipahami dalam
kerangka logika konsumerisme dan tumbuhnya sikap tak peduli akan nilai empati,
compassion, cinta kasih, solidaritas, dan nilai kemanusiaan yang menjembatani privat
dengan publik.

Terkait dengan hal itu, kata Sastrapratedja, Pendidikan Pancasila perlu diperhatikan
kembali. Pascareformasi, Pendidikan Pancasila menjadi kurang penting dalam lembaga
pendidikan. Hal itu bisa jadi merupakan akibat atau ekses Pedoman Penghayatan dan
Pengamalan Pancasila yang selama Orde Baru sangat ditekankan. Pendidikan
Pancasila harus ditumbuhkan lagi menjadi bagian dari Pendidikan Kewarganegaraan
dengan cara yang menarik.Maftuh Basyuni juga mengajak semua pihak untuk
menegaskan komitmen pada Pancasila. Beberapa langkah yang bisa dikategorikan
sebagai pengamalan Pancasila adalah memperbaiki kualitas keberagaman masyarakat
secara berimbang, memperbaiki kualitas ketahanan keluarga, dan memperbaiki
persaudaraan antarsesama kelompok.

Dalam penerapan, Pancasila gagal?


Pancasila tidak pernah sukses saat diterapkan. Itu fakta. Dari zaman Bung Karno
sampai Pak Harto, dan sampai sekarang implementasi Pancasila itu gagal. Di mana-
mana rakyat jauh dari sejahtera, dan menderita. Jangan jauh-jauh, contoh paling

dekat kasus Lapindo.


Penetapan P4 dan azas tunggal merupakan bentuk formalisasi Pancasila yang
dilakukan oleh Pemerintah Orde Baru sebagai perwujudan kediktatoran pada masa itu.
Akan tetapi, formalisasi Pancasila tersebut tidak mampu melembagakan Pancasila ke
dalam jiwa setiap manusia Indonesia. Akibatnya, walaupun penataran P4 dilaksanakan
terus - menerus, Pancasila tetap tidak tertanam dalam jiwa Bangsa Indonesia.
Pancasila tidak mampu menjadi pandangan hidup bangsa.

Banyaknya korupsi, manipulasi anggaran dan penyimpangan-penyimpangan lain yang


dilakukan oleh pejabat dan aparat merupakan bukti bahwa mereka yang seharusnya
menjadi teladan dalam berpancasila pun gagal menjadikan Pancasila sebagai
pandangan hidup mereka. Menekan masyarakat dalam berpolitik, mencurangi pemilu
secara sistematik dalam pemilu selama Orde Baru juga merupakan perwujudan dari
pengkhianatan kepada Pancasila. Orde Baru telah melakukan formalisasi Pancasila
dan menggunakan Pancasila sebagai senjata untuk menakut- nakuti masyarakat. Alih-
alih melembagakan Pancasila ke dalam jiwa setiap warga negara, pemerintah Orde
Baru justru membuat Pancasila menjadi hantu bagi masyarakat. Akibatnya, masyarakat
tidak mampu menjiwai Pancasila.

Kini, marilah kita kembalikan esensi Pancasila sebagai Dasar Negara dan Pandangan
Hidup Bangsa. Formalitas Pancasila tidak kita perlukan lagi. Justru
pengejawantahannya dalam kehidupan kita sehari-harilah yang perlu kita wujudkan.

Tantangan Pancasila :

Ditingkat empiris Pancasila telah gagal menjadi guidance atas prinsip-prinsip yang
dirumuskan sendiri dalam tingkat implementasi, Pancasila telah kehilangan daya
tahannya untuk menjaga kehendak bersama.

Kegagalan Pancasila, bukan karena Pancasila tidak memiliki elemen-elemen yang


mempertemukan kebutuhan bersama, tetapi lebih kepada tidak adanya inkonsistensi
dalam penerapannya.
Dalam kenyataanya, elemen-elemen yang mendasari pembukaan UUD 1945, nyaris
menjadi fosil tata nilai. Dalam bidang ekonomi pasal 33 nyaris tidak pernah secara
sungguh-sungguh menjadi dasar kebijakan ekonomi makro. Seluruh kebiajkan yang
ada seluruhnya didikte oleh neo l.liberalisme lewat consensus Washington dengan
sepuluh prinsipnya. Dalam dunia pendidikan rencana mem-BHP-kan 81 perguruan
tinggi negeri (PTN) se-Indonesia, menjadi kontradiktif dengan jiwa Pasal 31 UUD 1945
(kemal, Kompas, 4 Maret 2008) Sikap kompetitip Pancasila dengan agama, sebagai
system nilai yang memiliki watak dan karakteristik yang berbeda, telah melahirkan
kompetisi baik dalam bidang Ideologi (Politik) maupun sebagai pendefmisi relitas.
Meskipun tidak ada perbedaan yang signifikan antara partai berlandaskan ideology
agama dengan partai berlandaskan ideology sekuler, kecuali system simboliknya,
secara ideologis keduanya tidak mudah dipertemukan dan berpotensi melahirkan
konflik.

Dimasa depan ketegangan baru yang mungkin terjadi, adalah polarisasi pemahaman
keagamaan yang telah menjamur pasca-orde baru. Derasnya pemahaman
konservatisme keagamaan model ichwanul-Muslimin atau wahabiya, khusunya
dikalangan mahasiswa dikampus-kampus umum, diduga akan mempengaruhi
pergumulan baru dalam demokrasi di Indonesia. Kecendurngan seperti ini penting
untuk dipastikan sketsanya, pertama-tama bukan untuk menghentikan kekhawatiran
yang mungkin terjadi, tetapi lebih pada pencegahan kemungkinan terjadinya clash
culture dan mentradisikan dialog-dialog agar klaim tafsir agama tidak terjebak
pemutlakan tafsir yang mematikan.

Pancasila dinilai gagal meniupkan roh kebangsaan dan spiritualitas rakyat Indonesia?
Karena dianggap terlalu normative dibandingkan dengan ideology lainnya, semisal
Marxisme, Sosialisme dan Liberalisme, terutama dalma hal metodologinya, maka ada
yang mengatakan hal itu benar. Bagaimana bisa mengangkat bangsa ini, jika Pancasila
telah terpinggirkan dari zona kehidupan bangsa Indonesia. Pancasila hanyalah sebuah
artefak sejarah yang nasibnya tak jauh beda dengan sampah, dimasukkan di tempat
pembuangan dan dilupakan begitu saja. Apalagi menurut Koento Wibisono
Siswomihardjo, penghapusan Ketetapan MPR Nomor II/MPR/1978 tentang Pedoman
Penghayatan dan Pengamalan Pancasila menimbulkan sikap alergi dan sinis
masyarakat terhadap Pancasila.

Yang lebih menyedihkan lagi adalah hampir 70% perguruan tinggi telah menanggalkan
mata kuliah Pancasila sebagai bahan ajarnya. Ini adalah preseden buruk bagi Panasila
sendiri. Semakin Pancasila terpinggirkan, bangsa Indonesia terancam krisis ideology
dan mudah tersusupi ideologi lain yang kental sectarian. Ini adalah titik nadir bagi
keberlanjutan NKRI (Gatut Saksono:2007).

Ada beberapa ideology yang masih eksis. Ideology kapitalisme menawarkan nikmat
duniawi seperti kekayaan, penguasaan modal sebagai tujuan pokok. Sedangkan
komunisme menawarkan persamaan kepemilikan antar individu dalam suatu komunitas
sebagai representasi keadilan distributive yang menjadi unsur pokoknya.

Di Indonesia, ideologi Pancasila menawarkan keluhuran budi dalam etika sebagai daya
pikat untuk mengundang masyarakat sepaham dengan muatan ideologi yang
dibawanya. Jadi semua ideologi pada umumnya menawarkan satu garis perjuangan
pokok sebagai konsentrasi utamanya. Kemudian dengan isu pokok tersebut
diasumsikan dapat menjawab segala persoalan kehidupan.

Indikasi tersebut banyak bermunculan mengingat perilaku para ideolog cenderung


menjadi fanatik, dan bangga, terhadap ideologi yang dianutnya. Kaum kapitalis begitu
bernafsunya mengejar uang sebagai pangkal pokok kehidupan. Sehingga apapun yang
tidak berbau uang bukanlah kehidupan yang pantas untuk dijalani. Demikian juga
komunisme, para pengajur ideologi ini begitu lantang meneriakan keadilan distributif
bagi kaumnya, tanpa pernah mengimbangi dirinya dengan sisi spiritualisme. Akibatnya
ideologi yang ada sekarang terlihat kurang utuh dalam menyikapi problem kehidupan.
Ideologi terlalu didewakan menjadi sebuah sistem yang mampu menuntaskan segala
hal. Padahal ideologi di mata orang awam yang dihinggapi perut lapar, takkan ada
manfaatnya apa-apa jika tidak mendatangkan keadilan dan kemakmuran.

Maka dari itu persoalan umat manusia hubungannya dengan kehidupan bangsa,
terutama ekonomi menjadi begitu dominant. Prof. Gunar Mirdal peraih hadiah nobel
bidang ekonomi melalui penelitiannya mengenai keterpurukan negara-negara
terbelakang dalam bidang ekonomi menyebutkan bahwa faktor akhlaklah yang menjadi
penyebab utama keterbelakangan tersebut. Hal ini menandaskan bahwa dalam
kehidupan apapun segala persoalan harus menempatkan pembenahan perilaku harus
menjadi perhatian utama. Artinya bahwa apapun ideologi yang dianut, tetap aspek
perilaku memegang kunci dalam membangun peradaban.

Pancasila yang notabene dilahirkan atas pondasi nilai-nilai luhur yang tumbuh di dalam
diri bangsa Indonesia, menurut saya amatlah pantas dijadikan ideologi trans nasional.
Hal ini didasarkan pada subtansi nilai-nilai Pancasila yang cenderung melengkapi
berbagai unsur-unsur kehidupan termasuk didalamnya ideologi dan bukannya
membenturkannya. Sehingga Pancasila, saya nilai sebagai ideologi yang mempunyai
karakteristik konvergensi daripada dikotomis. Oleh karenanya untuk mendapatkan hasil
yang dicita-citakan Pancasila dibutuhkan pemahaman bersama (mutual understanding)
dan tingkat pendidikan yang lebih baik (well educated) agar kesan yang muncul dari
pancasila sebagai ideologi tidak terlalu apologetic.

Menurut Maruf Amin, Pancasila memang bukan agama, karena ia merupakan


kumpulanvalue (nilai) danvision (visi) yang hendak diraih dan diwujudkan bangsa
Indonesia saat berikhtiar mendirikan sebuah negara. Menurutnya Pancasila adlaah
sebagai Vision of state. Inilah yang sering kali tidak dipahami para penentang Panasila
sebagai ideologi transnasional bangsa Indonesia. Mereka kecewa kepada Pancasila
karena tidak membawa perubahan yang berarti bagi hidup mereka. Padahal jika kita
lihat pandangan Feith, Persepsi yang salah dari beberapa kelompok terhadap
Pancasila sebenarnya bukan terletak pada nilai-nilai luhurnya, tetapi lebih ditujukan
kepada cara menafsirkan dan memperlakukan nilai-nilai tersebut (Feith, 1991).
Ke depan agaknya senada dengan pendapat Dr. Kaelani, agar Pancasila tidak menjadi
ideologi Transnasional yang tumpul maka perlunya adanya pembenahan dari
epistemology pemahaman kita terhadap Pancasila. Beliau mengusulkan agar ada
usaha untuk merevitalisasi nilai-nilai Pancasila adalah dengan :

Mengembangkan nilai-nilai Pancasila melalui pengembangan Pancasila


sebagai kerangka dasar pengembangan dasar epistemis ilmu.
Pancasila sebagai landasan etis bagi pengembangan ilmu.
Pancasila sebagai landasan filosofis pengembangan pendidikan yang
berkepribadian Indonesia
Dan nilai-nilai Pancasila sebagai sumber nilai dalam realisasi normatif dan praktis
kehidupan bernegara dan berbangsa. Dengan demikian Pancasila sebagai sebuah
sistem nilai semakin dapat dielaborasi lebih jauh.

Kita memang tidak bisa memutar kembali jarum sejarah. Masa demokrasi terpimpin
apalagi masa Orde Baru dengan sukses membuat tidak saja bangsa ini a-historis tapi
juga a-ideologis. Lihat saja partai-partai yang berlaga di era reformasi ini, tidak ada
yang mengusung ideologi partai yang jelas, apalagi kalau melihat sepak terjang mereka
di parlemen. Persekutuan mereka bukanlah persekutuan kebangsaan dan persekutuan
ideologis melainkan persekutuan kepentingan, itu pun kepentingan jangka pendek.
Hanya segelintir partai saja yang menunjukkan garis politik yang jelas, entah itu agamis,
kanan atua kiri. Sisanya Cuma melihat angin politik, mana yang bertiup lebih kencang.

Bangsa ini dengan ideologi yang tidak jelas juga terlihat banci. Ideologi kita tidak jelas,
kiri atau kanan. Di dalam text book Pancasila, atau PMP atau PPKn, disebutkan bahwa
ideologi kita tidak komunis dan juga tidak liberal. Hal ini sulit diterima oleh akal
khususnya bagi mereka yang terdidik, karena tidak kiri atau tidak kanan sama saja
dengan tidak berideologi, alias berfondasi di atas pasir longgar. Dan ini di era Orde
Baru malah membuat bangsa ini mengambil semua keburukan liberal barat
(swastanisasi dan liberalisasi perdagangan) dan semua keburukan komunisme (represi
dan sensor informasi). Kebancian ideologi seperti inilah yang membuat bangsa ini bisa
terombang-ambing, tergantung pihak mana yang memainkannya.
Mempersoalkan kembali Pancasila memang ibarat membuka kotak Pandora. Kita tidak
akan pernah tahu apa yang akan terjadi. Di lain pihak sulit untuk melibat bangsa ini
maju ke depan tanpa menyelesaikan masalah ideologi bangsa. Nampaknya bangsa ini
memang terjepit seperti memakan buah simalakama. Hal seperti ini memang sering
terjadi di dalam sejarah. Bangsa Amerika saja harus mengalami perang sipil yang
memakan korban sangat banyak untuk menyelesaikan masalah ideologinya. Mudah-
mudahan bangsa ini bisa belajar dari sejarah bangsa lain sehingga kita bisa
menyelesaikan masalah ideologi bangsa ini dengan gontok-gontokan di alam pemikiran
saja, tidak di level fisik. Meskipun kalau melihat perkembangan belakangan ini sulit
diharapkan bangsa ini bisa menyelesaikan masalah sepeka ini tanpa gontok-gontokan
fisik. Mungkin memang tepat para bapak bangsa kita dulu sebelum merdeka yang lebih
menitikberatkan pada bidang pendidikan, untuk membuat anak-anak bangsa ini melek.
Tanpa itu kita hanya menjadi bulan-bulanan sejarah.

Waktu ini tampak meningkat keinginan masyarakat untuk menegakkan kembali


Pancasila sebagai Pandangan Hidup Bangsa dan Dasar Negara RI. Hal itu sangat
menggembirakan mengingat kuatnya usaha pihak-pihak tertentu di dalam maupun luar
negeri, yang ingin menghilangkan Pancasila dari kehidupan bangsa Indonesia. Namun
demikian, masih menjadi pertanyaan apakah semua orang yang ingin Pancasila tegak
kembali, mengetahui inti pikiran Pancasila dan perbedaannya dengan cara berpikir
Barat.

Pikiran Pancasila.

Ketika Bung Karno pada 1 Juni 1945 menguraikan pandangannya yang beliau
namakan Pancasila depan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, beliau
menyatakan bahwa Pancasila beliau gali dari kehidupan bangsa Indonesia yang sudah
berabad lamanya. Beliau mengatakan bahwa Pancasila adalah Isi Jiwa bangsa
Indonesia.

Dalam Pancasila kehidupan digambarkan sebagai Perbedana dalam Kesatuan,


Kesatuan dalam Perbedaan. Tidak ada Manusia atau Individu yang hidup sendiri
melainkan senantiasa dalam hubungan dengan individu lain dalam satu ikatan
bersama. Individu berada dalam Keluarga. Meskipun berada dalam satu keluarga tidak
ada dua individu yang benar-benar sama, jadi selalu berbeda. Karena perbedaan itu
individu hidup mengejar yang terbaik. Akan tetapi perbedaan individu itu selalu berada
dalam hubungan Keluarga, sehingga kehidupan individu selalu disesuaikan dengan
kepentingan Keluarga (Ora sanak ora kadang, yen mati melu kelangan).

Sebaliknya karena individu adalah bagian permanent dari Keluarga, maka Keluarga
mengusahakan yang terbaik bagi semua individu yang ada di dalamnya. Maka dasar
pikiran Pancasila adalah Perbedaan dalam Kesatuan, Kesatuan dalam Perbedaan yang
berarti Kekeluargaan dan Kebersamaan. Hubungan antara individu dengan individu lain
dan dengan Keluarga adalah selalu mengusahakan Harmoni atau Keselarasan. Bentuk
dinamiknya adalah Gotong Royong.

Maka dalam memandang kehidupan pikiran Pancasila jelas sekali berbeda dengan
pikiran Barat, yaitu Harmoni berbeda dengan Konflik, Individu dalam Kebersamaan
berbeda dengan Individu bebas, sama dan dengan kekuasaan penuh.

Pengaruh terhadap pandangan tentang Negara.

Berdasarkan pikiran Barat itu maka Barat melihat Negara sebagai sumber Kekuasaan.
Hal mana antara lain ditegaskan Nicolo Machiavelli (1469-1527) dan masih berlaku
hingga sekarang. Ia melihat Negara sebagai satu-satunya jalan untuk menciptakan orde
(ketertiban) dalam kehidupan yang diisi individu-individu yang bebas dan penuh
kekuasaan. Sebab dalam negara itu terdapat supreme power atausovereignty yang
dapat menciptakan orde dalam kehidupan. Yang dimaksudkan dengansovereignty
adalah the absolute and perpetual power of commanding in a state (Jean Bodin, 1530-
1596)

Thomas Hobbes dan John Locke (1632-1704) melihat bahwa sumber kekuasaan dari
supreme power itu adalah kekuasaan yang ada pada individu. Sebab individu melalui
rationya menyadari bahwa harus ada ketertiban dan untuk itu diperlukan kekuasaan.
Joh Locke kemudian mencari jalan bagi penggunaan kekuasaan itu. Ia tidak
memberikannya kepada seorang, seperti digambarkan Machiavelli, melainkan melalui
pembagian kekuasaan di tiga tangan yang mengadakan keseimbangan melalui checks
and balance. Inilah yang dinamakan Trias Politica yang sejak tahun 1688 digunakan
dalam mengatur kekuasaan negara di Barat.

Pancasila berpangkal pada penglihatan umat manusia sebagai Kesatuan dengan


manusia dilahirkan hidup bersama. Sebab itu buat Pancasila negara bukan organisasi
kekuasaan, melainkan organisasi untuk mewujudkan Kebahagiaan Manusia (Sila ke 5:
Kesejahteraan Sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia).

Tujuan itu dicapai dengan cara Musyawarah Mufakat (Sila ke 4) dengan selalu
memperhatikan Kemanusiaan Beradab (Sila ke 2) dan menjamin Persatuan Indonesia
(Sila ke 3) dengan dilandasi kesadaran akan kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa (Sila ke
1). Karena 200 juga bangsa Indonesia tidak dapat melakukan musyawarah, maka
dibentuk Majelis Permusyawaratan Rakyat sebagai Penjelmaan Rakyat. Jadi MPR
bukan padanannya Parlemen dari sistem Barat.

Karena MPR terdiri dari sekian banyak orang, maka ia tidak dapat menjalankan
kewajiban mewujudkan kebahagiaan dan kesejahteraan umum. Sebab itu MPR
mengangkat Presiden Republik Indonesia sebagai Mandataris MPR. Untuk
menjalankan kewajibannya MPR menetapkan Garis-Garis Besar Haluan Negara
(GBHN0 yang harus dijalankan Presiden RI. Untuk menjalankan pekerjaannya Presiden
RI didampingi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk bersama-sama menetapkan
undang-undang, Dewan Pertimbangan Agung (DPA) yang memberikan nasehat dan
pertimbangan kepada Presiden RI, Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) untuk
mengawasi kebendaan dan keuangan negara, Mahkamah Agung (MA) untuk
menyelenggarakan pengadilan. Selain itu Presiden RI dibantu Pemerintah RI terdiri
para Menteri untuk melaksanakan pekerjaan yang menjadi kewajibannya.

Jadi Negara RI berdasarkan Pancasila tidak sama dan bukan satu Negara Berdasarkan
pikiran Barat. Negara RI tidak menjalankan Trias Politica, melainkan menjalankan
segala ketentuan yang termuat dalam Undang-Undang Dasar 1945 yang asli sebelum
di-amandemen. Segalaissue yang dikemukakan pihak Barat seperti Hak Azasi Manusia
(HAM), Demokrasi, dll harus pula dilihat dari kacamata dan pikiran Pancasila.

Beberapa Kekuatan Pancasila antara lain :

1. Sebagai basis dasar berbangsa dan bernegara, Pancasila memiliki kekuatan kekuatan
integrative . Pancasila menyediakan ruang untuk menampung keberagaman perbedaan
primordial yang dapat dipertemukan dalam kehendak bersama.

2. Sebagai ideology terbuka. Pancasila memiliki kemampuan adaptif dengan


perubahan zaman tanpa beban prinsip kesakralan sebagaimana agama.

3. Prinsip Bhineka Tunggal Ika yang ada, memungkinkan perbedaan, politik, keyakinan,
agama, kebudayaan, dipersatukan dalam puncak-puncak budayatanpa
penyeragamanmu.

4. Secara substantial Pancasila merupakan perpaduan : Agama (kepercayaan kepada


Tuhan YME), Kebudayaan (Bhineka Tunggal Ika) dan Barat (Demokrasi, HAM,
Kemanusiaan, pluralisme dsb).

5. Nilai-nilai universal agama seperti: kemanusiaan, keadilan, demokrasi dapat


dipertemukan disini, tanpa harus mempersoalkan perbedaan ritual agama sebagai alas
an untuk membuat ideology alternative.

6. Pancasila juga memberikan ruang pada sekularisi parsial, terhadap system politik,
orientasi budaya, termasuk penerapan system demokrasi yang secara tradisional tidak
seluruhnya disediakan agama.

7. Pancasila juga menyediakan ruang dialogis yang secara teoritik melindungi kelompok
minorita, menghargai perbedaan cultural (multikulturalisme), dan memandang pluralitas
sebagai condition sine guanon. Prinsip ini dapat mengeliminasi konflik-budaya yang
muncul akibat semangat neo-primordialisme termasuk egois kolektif yang numpang
dalam semangat keagamaan.
Munculnya Ideologi Baru Akibat Lemahnya Penegakan Pancasila

Munculnya sejumlah ideologi baru di Indonesia seperti adanya keinginan


sebagian masyarakat yang melakukan pendirian Negara Islam Indonesia (NII), akibat
lemahnya penegakan ideologi Pancasila oleh para pemimpin.

Hal tersebut dikatakan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim,
Kota Malang, Jawa Timur, Prof Imam Suprayogo, Rabu [25/05] , menanggapi
munculnya sejumlah ideologi baru di Indonesia.

Menurut Imam, seharusnya ideologi bangsa harus tetap dipelihara oleh semua pihak,
khususnya para pemimpinnya. Tanpa harus mengkultuskan siapa pencetus ideologi itu.
Supaya ada kekuatan dan terhindar dari munculnya sejumlah ideologi baru.
Kelemahan ideologi Pancasila yang ada dalam masyarakat saat ini selain tidak
menimbulkan rasa bangga, juga berpeluang tumbuhnya ideologi-ideologi baru, seperti
yang belakangan ini maraknya NII, katanya.

Selain itu, kelemahan ideologi Pancasila yang ada dalam masyarakat juga akibat para
pemimpin yang tidak membangun dan menegakkan ideologi Pancasila, UUD 1945 dan
NKRI.

Sehingga, masyarakat terlalu mudah untuk dimasuki ideologi-ideologi baru. Padahal,


bangsa Indonesia sudah mempunyai ideologi Pancasila. Sementara Imam
menjelaskan, upaya yang dilakukan UIN Malang dalam menguatkan ideologi bangsa
adalah dengan memberikan nama bangunan di kampus sesuai dengan nama Presiden
Indonesia, mulai dari Ir Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdulrachman Wachid serta
Megawati Soekarnoputri.

Kami lakukan ini supaya bisa menumbuhkan rasa nasionalisme dan kebanggaan
terhadap bangsa di kalangan mahasiswa, dan seluruh warga di UIN Malang, tutur
Imam. Dikatakannya, dari sederet nama presiden, baru tiga nama yang sudah memberi
restu untuk namanya dipakai sebagai nama gedung kampus UIN Malang, dan dua di
antaranya sudah direalisasikan, yakni BJ Habibie dan Abdulrachman Wachid.
Nama BJ Habibie untuk Laboratorium Fakultas Sains dan Teknologi, dan nama
Abdulrachman Wachid untuk Gedung Perpustakaan yang merupakan satu-satunya
perpustakaan perguruan tinggi Islam dibawah naungan Departemen Agama (Depag)
yang kali pertama mengimplementasikan Sistem Manajemen Mutu, paparnya.

Rencananya, gedung rektorat yang menjadi pusat kegiatan pegawai rektorat akan
diberi nama Ir Soekarno. Ini jadi kebanggaan karena Soekarno sebagai pendiri dan
bapak bangsa, sudah selayaknya kalau nama itu diabadikan untuk gedung pusat, dan
rencananya pula, nama Megawati Soekarnoputri akan diabadikan untuk gedung ilmu
UIN Malang, kata Imam.

Angkat kembali nilai Pancasila

Nilai-nilai Pancasila sebagai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara telah


memudar. Bukan hanya pada generasi muda, tapi juga pada diri para tokoh yang ada
sekarang ini, yang menjadi penentu masa depan bangsa Indonesia. Kita lihat dari
gejala-gejala dan bukti-bukti, sekarang ini nilai-nilai itu sudah memudar. Bukan hanya
pada generasi muda. Semangat dan nilai-nilai Pancasila, seperti saat dilahirkan melalui
pidato mantan Presiden Soekarno, mesti diangkat kembali. Peristiwa penting dan heroik
yang mengandung nilai historis, filosofis kenegaraan, sudah banyak dilupakan.

Saat ini terjadi dekadensi moral di semua lapisan generasi, pentingnya nilai-nilai
Pancasila dipertahankan. Kita melihat akhir-akhir ini rasa persaudaraan sesama anak-
anak bangsa semakin menipis, persoalan dalam hal toleransi antarumat beragama di
sejumlah daerah. Pancasila adalah kesepakatan para pendiri bangsa, nilai-nilai luhur

yang harus selalu menjadi pedoman bangsa. Kalau tidak, bubarlah negeri ini.

Sebagai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara, Pancasila perlu direaktualisasi


dengan mempertimbangkan konteks dinamika lokal, nasional dan global yang terus
berubah. Pancasila tidak boleh hanya sebatas pajangan yang dikerangkeng dalam
mukadimah konstitusi. Proses kehidupan di berbagai bidang terus bergerak menjauh
dari nilai kolektif Pancasila. Reaktualisasi Pancasila harus jadi agenda besar bangsa.
Perlu dirumuskan parameter transformatif setiap sila dari Pancasila. "Agar lebih mampu
menjadi referensi konsepsional dan operasional. Lalu semua kebijakan pembangunan
nasional mesti merujuk pada parameter transformatif itu. Hal senada dikatakan Fatwa.
Pancasila merupakan nilai-nilai yang memberikan inspirasi, rujukan, menjadi landasan
ke mana kita akan membawa bangsa ini pada kemajuan. Tapi kita tidak boleh kaku.
Pancasila itu dinamis.

Mengembalikan Pancasila Sebagai Pandangan Hidup Bangsa

Pada 1 Juni 1945, Soekarno mengajukan rumusan dasar negara yang kemudian
dikenal sebagai Pancasila, dasar negara dan pandangan hidup Bangsa Indonesia. 1
Juni kemudian diperingati sebagai Hari Lahir Pancasila. Pancasila telah mengalami
perjalanan satu generasi. 64 tahun. Dalam kurun waktu tersebut banyak peristiwa
sejarah yang dihadapi oleh Pancasila. Salah satu peristiwa sejarah yang paling terkenal
adalah tantangan terhadap Pancasila berupa G30S/PKI. Peristiwa yang lain yang
mewarnai perjalanan Pancasila adalah penetapan P4 oleh MPR tahun 1978, kemudian
penetapan Pancasila sebagai azas tunggal dan pencabutan Tap MPR tentang P4 dan
penghapusan azas tunggal.

Penetapan P4 dan azas tunggal merupakan bentuk formalisasi Pancasila yang


dilakukan oleh Pemerintah Orde Baru sebagai perwujudan kediktatoran pada masa itu.
Akan tetapi, formalisasi Pancasila tersebut tidak mampu melembagakan Pancasila ke
dalam jiwa setiap manusia Indonesia. Akibatnya, walaupun penataran P4 dilaksanakan
terus - menerus, Pancasila tetap tidak tertanam dalam jiwa Bangsa Indonesia.
Pancasila tidak mampu menjadi pandangan hidup bangsa.

Banyaknya korupsi, manipulasi anggaran dan penyimpangan-penyimpangan lain yang


dilakukan oleh pejabat dan aparat merupakan bukti bahwa mereka yang seharusnya
menjadi teladan dalam berpancasila pun gagal menjadikan Pancasila sebagai
pandangan hidup mereka. Menekan masyarakat dalam berpolitik, mencurangi pemilu
secara sistematik dalam pemilu selama Orde Baru juga merupakan perwujudan dari
pengkhianatan kepada Pancasila. Orde Baru telah melakukan formalisasi Pancasila
dan menggunakan Pancasila sebagai senjata untuk menakut- nakuti masyarakat. Alih-
alih melembagakan Pancasila ke dalam jiwa setiap warga negara, pemerintah Orde
Baru justru membuat Pancasila menjadi hantu bagi masyarakat. Akibatnya, masyarakat
tidak mampu menjiwai Pancasila.

Kesimpulan

Sejumlah hal ingin saya kemukakan untuk menutup diskusi ini. Pertama, cara saya
mendamaikan dua pendapat yang bertentangan tentang status Pancasila mungkin
akan mendapat tanggapan dari mereka yang mengenal prinsip logika; setidaknya,
menurut logika, jika ada dua hal yang bertentangan, maka hanya satu yang mungkin
benar; ada kemungkinan keduanya salah tetapi tidak mungkin kedua-duanya benar.

Namun, dalam kasus pertentangan pendapat tentang status ideologi Pancasila itu,
pendekatan yang saya kembangkan tidak menentang hukum logika ini, sebab yang
saya lakukan adalah menarik inferensi dari kekuranglengkapan logika yang melandasi
masing-masing posisi ini. Posisi mereka yang mempertahankan pendapat bahwa
Pancasila bukan ideologi mengandung kebenaran tetapi kurang lengkap karena
mengabaikan pertimbangan makna positif atau netral dari ideologi, sebaliknya, posisi
mereka yang mempertahankan pendapat bahwa Pancasila merupakan ideologi
mengabaikan pertimbangan makna negatif atau kritis dari ideologi.

Kedua, pertentangan pendapat tentang status Pancasila itu justru penting dan
menarik dipahami karena memberikan petunjuk tentang cara pandang baru
terhadap Pancasila; seperti yang sudah saya jelaskan, Pancasila sebagai
doktrin yang komprehensif yang pernah berkembang selama ini rupa-
rupanya telah semakin disadari berbahaya karena dapat memperkuat
otoriarianisme negara. Menurut saya, pandangan ini benar, dan pilihan yang
tersedia adalah menjadikan Pancasila sebagai konsepsi politis. Saya sendiri
merasa bahwa Pancasila sebagai sebuah konsepsi politis sudah dengan
sendirinya sangat bermakna, yaitu untuk keluar dari kebuntuan selama ini
tentang apa yang harus dilakukan berkenaan dengan Pancasila yang oleh
banyak kalangan dianggap mengalami kemerosotan makna.