Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Lingkungan hidup merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari


kehidupan manusia, karena seperti yang kita ketahui lingkungan hidup mempunyai
tiga unsur utama, yakni manusia, hewan dan tumbuhan. Manusia merupakan unsur
dari lingkungan hidup yang mempunyai peranan yang sangat penting, karena manusia
memiliki kemampuan yang lebih diandingkan mahluk hidup yang lainya, yakni
mempunyai akal. Peranan manusia ini dapat diwujudkan dengan adanya kemampuan
manusia untuk menciptakan suatu inovasi di bidang lingkungan hidup, seperti
adanya teknologi yang dirancang khusus untuk melindungi manusia dari pengaruh
alam yang buruk.
Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup di Indonesia, secara mendasar
diatur di dalam Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan hidup. Tujuan dan sasaran utama dari ketentuan-ketentuan
yang tertuang dalam Undang-undang dimaksud adalah pengelolaan secara terpadu
dalam pemanfaatan, pemulihan, dan pengembangan lingkungan hidup. Tujuan dan
sasaran utama tersebut, sedikit banyak dilatarbelakangi oleh adanya kenyataan
bahwa, telah terjadi eksplorasi dan eksploitasi tidak mengenal batas oleh manusia
terhadap sumber daya alam yang mengakibatkan rusak dan tercemarnya lingkungan
hidup.
Masalah lingkungan hidup dewasa ini timbul karena kecerobohan manusia
dalam pengelolaan lingkungan hidup. Masalah hukum lingkungan dalam periode
beberapa dekade akhir-akhir ini menduduki tempat perhatian dan sumber pengkajian
yang tidak ada habis-habisnya, baik ditingkat regional, nasional maupun
internasional, dengan kata lain dapat dikatakan bahwa kelestarian lingkungan

1
merupakan sumber daya alam yang wajib kita semua lestarikan dan tetap menjaga
kelanjutannya guna kehidupan umat manusia. Dua hal yang paling essensial dalam
kaitannya dengan masalah pengelolaan lingkungan hidup, adalah timbulnya
pencemaran dan perusakan lingkungan hidup. Saat ini kerusakan lingkungan sudah
menjadi masalah yang sangat meresahkan bagi manusia dan sudah menjadi isu yang
meng global pada era sekarang ini.
Kerugian tersebut terjadi sebagai akibat tidak adanya landasan hukum yang
melandasi agar tidak dilakukannya perbuatan yang semena-mena terhadap hal
kehutanan. Dengan adanya hukum maka dapat diharapkan meminimalisir terjadinya
kerusakan hutan yang berimplikasi luas terhadap lingkungan hidup yang selaras.
Landasan hukum yang akan dibentuk ini tentunya sangat baik dengan
ditunjangnya aspek pidana didalam yang dapat membatasi dan mengatur penerapan
penjatuhan sanksi bagi siapa saja yang melakukan pengerusakan dan pencemaran
lingkungan hidup. Dengan adanya aspek hukum pidana dalam bidang kehutanan ini
setidaknya dapat meminimalisir adanya kerugian tersebut.
Oleh karena itu, makalah ini akan membahas analisis aspek pidana dalam
Undang-undang Nomor 32 tahun 2009.

I.2 Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini yaitu :
a. Mengetahui tindak pidana bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan
hidup dalam Undang-undang Nomor 32 tahun 2009.
b. Mengetahui Stakeholder yang berperan dalam Undang-undang Nomor 32
tahun 2009.
c. Mengetahui Implementasi Undang-undang Nomor 32 tahun 2009

2
BAB II

LANDASAN TEORI

II.1 Latar Belakang Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009

II.1.1 Pengertian Tindak Pidana Lingkungan Hidup

Salah satu hal yang melatarbelakangi dibentuknya undang-undang Nomor 32


tahun 2009 adalah tindak pidana. Adapun pengertian dari tindak pidana bidang
lingkungan hidup adalah suatu perbuatan yang dilakukan oleh seseorang dimana
perbuatan tersebut melanggar ketentuan peraturan perundang-undangan dibidang
lingkungan hidup dan diancam dengan sanksi atau hukuman bagi pelakunya (Handri,
2014).
Ada dua hal yang dapat disimpulkan dari rumusan pengertian perusakan
lingkungan, yaitu (Silalahi, 2001) :
Pertama, bahwa perusakan lingkungan di dalamnya selalu mengandung
pengertian terjadinya perubahan sifat fisik lingkungan dan/atau sifat hayati
lingkungan. Untuk dapat mengetahui telah terjadinya perusakan lingkungan perlu
diketahui keadaan lingkungan sebelum terjadinya kerusakan. Dengan kata lain, perlu
diketahui kondisi awal lingkungan sebelum terjadinya perusakan. Di samping itu
diperlukan suatu kriteria untuk menentukan telah terjadinya perubahan sifat hayati
lingkungan, sehingga perubahan tersebut dapat dikualifikasikan sebagai kerusakan
lingkungan.
Kedua, perlu ditetapkan suatu tolak ukur berupa kriteria untuk menentukan
bahwa lingkungan berada dalam kondisi kurang atau tidak berfungsi lagi dalam
menunjang pembangunan yang berkesinambungan. Dalam bentuk positif dapat
dikatakan perlu ditetapkan sesuatu kriteria untuk menentukan bahwa kondisi lingkungan
masih menunjang pembangunan yang berkesinambungan.

3
Kerusakan lingkungan yang dilakukan para pelaku terutama dalam usaha
tambang tak dapat terelakkan lagi, hutan yang selama ini berfungsi sebagai penopang
resapan air tak dapat lagi berfungsi dengan baik, bongkaran tanah yang mencapai
ratusan hektar tak dapat lagi berfungsi sebagaimana mestinya yang ada hanya
kekeringan dan tandus akibat hilangnya kadar kesuburan tanah karena pembongkaran
yang merupakan salah satu proses yang harus dilakukan dalam usaha penambangan
khususnya.

II.1. 2 Jenis Sanksi dan Sistem Penjatuhan Sanksi

Secara dogmatis masalah pokok yang berhubungan dengan hukum pidana


adalah membicarakan 3 (tiga) hal, yaitu (Silalahi, 2001) :
1. Perbuatan yang dilarang;
2. Orang yang melakukan tindak pidana itu;
3. Pidana yang diancam terhadap pelanggar larangan itu
Artinya jika telah memenuhi hal-hal tersebut di atas maka suatu perbuatan dapat
disebut sebagai suatu tindak pidana, karena tindak pidana itu sendiri merupakan perbuatan
melakukan atau tidak melakukan sesuatu yang oleh peraturan perundang-undangan
dinyatakan sebagai perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana (Hamdan, 2000)
Namun jika dihubungkan dengan Undang-undang lingkungan hidup dalam
perumusan Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 mengenai ketentuan pidana sebagai
berikut :

PASAL 41 :

(1) Barang siapa yang melawan hukum dengan sengaja melakukan perbuatan yang
mengakibatkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup, diancam dengan
pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp.
500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

4
(2) Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan orang
mati atau luka berat, pelaku tindak pidana diancam dengan pidana penjara paling
lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp. 750.000.000,00 (tujuh ratus
lima puluh juta).
PASAL 42 :
(1) Barang siapa yang karena kealpaannya melakukan perbuatan yang mengakibatkan
pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup, diancam dengan pidana penjara
paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta
rupiah).

(2) Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan orang
mati atau luka berat, pelaku tindak pidana diancam dengan pidana paling lama 5
(lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta
rupiah).
PASAL 43-48 Undang-undang Nomor 23 tahun 1997 memuat tentang ketentuan
pidana lainya.
II.1.3 Jenis Jenis Tindak Pidana Lingkungan Hidup

Jenis jenis tindak pidana lingkungan hidup sesuai dengan ketentuan undang undang
nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
(pasal 98 s/d 116):

1. Setiap orang yang dengan sengaja melakukan perbuatan yang mengakibatkan


dilampauinya baku mutu udara ambien, baku mutu air, baku mutu air laut,
atau kriteria baku kerusakan lingkungan hidup;
2. Setiap orang yang karena kelalaiannya mengakibatkan dilampauinya baku
mutu udara ambien, baku mutu air, baku mutu air laut, atau kriteria baku
kerusakan lingkungan hidup;

5
3. Setiap orang yang melanggar baku mutu air limbah, baku mutu emisi, atau
baku mutu gangguan;
4. Setiap orang yang melepaskan dan/atau mengedarkan produk rekayasa
genetik ke media lingkungan hidup yang bertentangan dengan peraturan
perundang-undangan atau izin lingkungan;
5. Setiap orang yang melakukan pengelolaan limbah B3 tanpa izin;
6. Setiap orang yang menghasilkan limbah B3 dan tidak melakukan pengelolaan
sesuai dengan ketentuan perundang- undangan;
7. Setiap orang yang melakukan dumping limbah dan/atau bahan ke media
lingkungan hidup tanpa izin;
8. Setiap orang yang memasukkan limbah ke dalam wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia;
9. Setiap orang yang memasukkan limbah B3 ke dalam wilayah Negara
Kesatuan Republik Indonesia;
10. Setiap orang yang memasukkan B3 yang dilarang menurut peraturan
perundangundangan ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia;
11. Setiap orang yang melakukan pembakaran Lahan;
12. Setiap orang yang melakukan usaha dan/atau kegiatan tanpa memiliki izin
lingkungan;
13. Setiap orang yang menyusun amdal tanpa memiliki sertifikat kompetensi
penyusun amdal;
14. Pejabat pemberi izin lingkungan yang menerbitkan izin lingkungan tanpa
dilengkapi dengan amdal dan Pejabat pemberi izin usaha dan/atau kegiatan
yang menerbitkan izin usaha dan/atau kegiatan tanpa dilengkapi dengan izin
lingkungan;
15. Setiap pejabat berwenang yang dengan sengaja tidak melakukan pengawasan
terhadap ketaatan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan terhadap
peraturan perundang-undangan dan izin lingkungan;

6
16. Setiap orang yang memberikan informasi palsu, menyesatkan, menghilangkan
informasi, merusak informasi, atau memberikan keterangan yang tidak benar
yang diperlukan dalam kaitannya dengan pengawasan dan penegakan hukum;
17. Setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang tidak melaksanakan
paksaan pemerintah; dan
18. Setiap orang yang dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi, atau
menggagalkan pelaksanaan tugas pejabat pengawas lingkungan hidup
dan/atau pejabat penyidik pegawai negeri sipil.

II.2 Proses Penyusunan


II.2.1 Pengaturan Kejahatan di Bidang Lingkungan Hidup Berdasarkan
Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 mensyaratkan bahwa yang dimaksud


perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dalam undang-undang meliputi:
a. Aspek Perencanaan yang dilakukan melalui inventarisasi lingkungan hidup,
penetapan wilayah ekoregion dan penyusunan RPPLH.
b. Aspek Pemanfaatan Sumber daya Alama yang dilakukan berdasarkan RPPLH.
Tetapi dalam undang-undang ini telah diatur bahwa jika suatu daerah belum
menyusun RPPLH maka pemanfaatan sumber daya alam dilaksanakan
berdasarkan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup.
c. Aspek pengendalian terhadap pencemaran dan kerusakan fungsi lingkungan
hidup yang meliputi pencegahan, penanggulangan dan pemulihan.
d. Dimasukkan pengaturan beberapa instrumen pengendalian baru, antara lain:
KLHS, tata ruang, kriteria baku kerusakan lingkungan hidup, AMDAL, UKL-
UPL, perizinan, instrumen ekonomi lingkungan hidup, peraturan perundang-
undangan berbasis lingkungan hidup, anggaran berbasis lingkungan hidup,
analisis resiko lingkungan hidup, audit lingkungan hidup, dan instrumen lain
sesuai dengan kebutuhan dan/atau perkembangan ilmu pengetahuan.

7
e. Pemeliharaan lingkungan hidup yang dilakukan melalui upaya konservasi
sumber daya alam, pencadangan sumber daya alam, dan/atau pelestarian fungsi
atmosfer.
f. Aspek pengawasan dan penegakan hukum, meliputi:
1) Pengaturan sanksi yang tegas (pidana dan perdata) bagi pelanggaran terhadap
baku mutu, pelanggar AMDAL (termasuk pejabat yang menebitkan izin tanpa
AMDAL atau UKL-UPL), pelanggaran dan penyebaran produk rekayasa
genetikan tanpa hak, pengelola limbah B3 tanpa izin, melakukan dumping
tanpa izin, memasukkan limbah ke NKRI tanpa izin, melakukan pembakaran
hutan,
2) Pengaturan tentang pajabat pengawas lingkungan hidup (PPLH) dan penyidik
pengawai negeri sipil (PPNS), dan menjadikannya sebagai jabatan fungsional.
3) Ada pasal-pasal yang mengatur sanksi pidana dan perdata AMDAL Dalam UU
NO. 32 TAHUN 2009. Dari 127 pasal yang ada, 23 pasal diantaranya mengatur
tentang AMDAL. Pengertian AMDAL pada UU No. 32 Tahun 2009 berbeda
dengan UU No. 23 Tahun 1997, yaitu hilangnya kalimat dampak besar. Jika
dalam UU No. 23 Tahun 1997 disebutkan bahwa AMDAL adalah kajian
mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang
direncanakan pada lingkungan hidup , sedangkan pada UU No. 32 Tahun 2009
disebutkan bahwa, AMDAL adalah kajian mengenai dampak penting suatu
usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan.
4) Hal baru yang penting terkait dengan AMDAL yang termuat dalam UU No. 32
Tahun 2009, antara lain: Penyusun dokumen AMDAL wajib memiliki sertifikat
kompetensi penyusun dokumen AMDAL; Komisi penilai AMDAL Pusat,
Propinsi, maupun kab/kota wajib memiliki lisensi AMDAL; Amdal dan
UKL/UPL merupakan persyaratan untuk penerbitan izin lingkungan; Izin
lingkungan diterbitkan oleh Menteri, gubernur, bupati.

8
Selanjutnya di dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dijabarkan pula bahwa penggunaan
sumber daya alam harus selaras, serasi, dan seimbang dengan fungsi lingkungan
hidup. Sebagai konsekuensinya, kebijakan, rencana, dan / atau program pembangunan
harus dijiwai oleh kewajiban melakukan pelestarian lingkungan hidup dan
mewujudkan tujuan pembangunan berkelanjutan.
Dengan diberlakukannya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup diharapkan bahwa penggunaan
sumber daya alam harus selaras, serasi, dan seimbang dengan fungsi lingkungan
hidup. Sebagai konsekuensinya, kebijakan, rencana, dan / atau program pembangunan
harus dijiwai oleh kewajiban melakukan pelestarian lingkungan hidup dan
mewujudkan tujuan pembangunan berkelanjutan.
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 memperkenalkan ancaman hukuman
minimum di samping maksimum, perluasan alat bukti, pemidanaan bagi pelanggaran
baku mutu, keterpaduan penegakan hukum pidana, dan pengaturan memperhatikan
azas ultimum remedium yang mewajibkan penerapan penegakan hukum pidana
sebagai upaya terakhir setelah penerapan penegakan hukum administrasi dianggap
tidak berhasil. Penerapan asas ultimum remedium ini hanya berlaku bagi tindak
pidana formil tertentu, yaitu penindakan terhadap pelanggaran baku mutu air limbah,
emisi, dan gangguan.
II.2.2 Kelemahan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009
Untuk pelestarian terhadap masalah lingkungan hidup sangat kompleks dan
pemecahan masalahnya memerlukan perhatian yang bersifat komperehensif dan
menjadi tanggung jawab pemerintah didukung pertisipasi masyarakat. Di Indonesia,
pengelolaan lingkungan hidup harus berdasarkan pada dasar hukum yang jelas dan
menyeluruh sehingga diperoleh suatu kepastian hukum (Siswanto Sunarso, 2005:31).
Keluarnya Undang-Undang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
(UUPPLH) No. 32 Tahun 2009 menggantikan Undang Undang Pengelolaan
Lingkungan Hidup (UUPLH) tahun 1997 yang dianggap belum bisa menyelesaikan

9
persoalan-persoalan lingkungan banyak mendapat apresiasi dan sebagai upaya yang
serius dari pemerintah dalam menangani masalah-masalah pengelolaan lingkungan.
UU No 32 Tahun 2009, juga memasuhkan landasan filosofi tentang konsep
pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan dalam rangka pembangunan
ekonomi. Ini penting dalam pembangunan ekonomi nasional karena persoalan
lingkungan kedepan semakin komplek dan syarat dengan kepentingan investasi.
Karenannya persoalan lingkungan adalah persoalan kita semua, baik pemerintah,
dunia investasi maupun masyarakat pada umumnya (Siti Khotijah, 2009).
Tetapi bila dicermati lebih jauh, masih banyak hal-hal yang perlu dibenahi
dalam UUPPLH tersebut, seperti dalam pasal 26 ayat (2) bahwa pelibatan
masyarakat harus dilakukan berdasarkan prinsip pemberian informasi yang transparan
dan lengkap serta diberitahukan sebelum kegiatan dilaksanakan. Dalam pasal ini,
tidak diikuti penjelasan seperti apa dan bagaimana bentuk informasi secara lengkap
tersebut dan upaya hukum apa yang dapat dilakukan bila hal tersebut tidak dilakukan,
begitupula dalam ayat (4) masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat
mengajukan keberatan terhadap dokumen amdal juga tidak di ikuti penjelasan
sehingga dapat menimbulkan kerancuan dalam hal yang seperti apa masyarakat
menolak dokumen tersebut, sehingga justru mereduksi hak-hak masyarakat dalam
proses awal pembangunan.
Padahal tingkat pengetahuan masyarakat dalam memahami undang-undang
sangat kurang, seperti yang dikatakan Tasdyanto Rohadi (Ketua Umum Ikatan Ahli
Lingkungan Hidup Indonesia), survei terhadap tingkat pemahaman UU 23 Tahun
1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup yang sudah berlaku lebih dari 10 tahun
menunjukkan 15 % masyarakat sebuah kota memahami UU tersebut dengan baik.
Sebagian besar lagi, yaitu 25 % mengetahui judul tanpa mengetahui substansi
pengaturan dengan baik. Yang menyedihkan adalah, sisanya, 60 % masyarakat kota
tersebut tidak mengetahui judul dan substansi pengaturan dengan baik, dan hal ini
menunjukkan bahwa cara menyelenggarakan kebijakan kepada masing-masing
segmen tersebut membutuhkan cara dan strategi yang berbeda. UUPPLH yang sangat

10
bernuansa ilmiah dan akademis hanya akan mampu dipahami oleh komunitas
rasional. Hanya sayangnya komunitas rasional di perkotaan tidak lebih dari 30 %,
bahkan di desa-desa, komunitas rasional tidak melebihi dari 5 %.
(AgusAdianto,2009).
Selain itu, dari ketigabelas instrumen pencegahan pencemaran dan/atau
kerusakan lingkungan hidup yang termuat dalam pasal 14 UU no. 32 Tahun 2009
tersebut, diperkenalkan instrumen baru yang tidak terdapat dalam UUPLH
sebelumnya, yaitu Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) yang wajib dilakukan
oleh pemerintah dan pemerintah daerah untuk memastikan terintegrasinya prinsip
pembangunan berkelanjutan dalam pembangunan suatu wilayah dan/atau kebijakan,
rencana dan/atau program (pasal 15 ayat 1 UU no. 32 tahun 2009). Namun demikian,
tidak seperti halnya analisa dampak lingkungan (AMDAL) yang disertai sanksi berat
pelanggarannya, UUPPLH ini tidak mencantumkan sanksi apapun bagi pemerintah
atau pemerintah daerah yang tidak melakukannya (AgusAdianto,2009).
Hal yang perlu di perhatikan bahwa komitmen pemerintah daerah dalam
masalah lingkungan hidup masih kurang, seperti dalam hasil survey yang dilakukan
oleh Sugeng Suryadi Syndicat tahun 2006 yang mengatakan bahwa kepala daerah
kurang peduli terhadap lingkungan hidup. Menurutnya sekitar 47% kepala daerah
kurang peduli dengan lingkungan hidup, 9% tidak peduli, cukup peduli 37% dan
sangat peduli hanya berkisar 6,4% (Darmansyah, 2008).
Dalam pelaksanaannya biokrasi memerlukan komitmen yang tinggi dalam
semua tatanan, mulai dari perumusan kebijakan sampai pada pelaksanaan operasional
dilapangan. Perlu dikembangkan suatu mekanisme pelaksanaan biokrasi pada semua
level. Sehingga apa yang yang sudah dirumuskan pada tingkat kebijakan dapat
dilaksanakan ditingkat operasional. Para politisi, aparat birokrat dan masyarakat
bersama-sama perlu memahami biokrasi dan tahu bagaimana melaksanakannya.
Dalam pasal 46, berbunyi Selain ketentuan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 45, dalam rangka pemulihan kondisi lingkungan hidup yang kualitasnya telah
mengalami pencemaran dan/atau kerusakan pada saat undang-undang ini ditetapkan,

11
Pemerintah dan pemerintah daerah wajib mengalokasikan anggaran untuk pemulihan
lingkungan hidup. Ketentuan ini akan sangat merugikan karena pencemarnya tidak
diungkit sama sekali, dan anehnya di penjelasannya juga tertulis cukup jelas,
padahal ketentuan dalam pasal ini bisa melepaskan pencemarnya begitu saja dan
pemulihan justru dibebankan kepada pemerintah.
Pasal 66 dari UUPPLH yang perlu untuk dicermati dan kritis adalah pasal 66.
Selengkapnya pasal ini berbunyi:Setiap orang yang memperjuangkan hak atas
linkungan hidup yang baik dan sehat tidak dapat dituntut secara pidana maupun
digugat secara perdata. Tentunya bila ditelaah dengan baik, tidak ada yang salah dari
pasal ini. Namun dalam penjelasan pasal ini berbunyi bahwa ketentuan ini
dimaksudkan untuk melindungi korban dan / atau pelapor yang menempuh cara
hukum akibat pencemaran dan / atau perusakan lingkungan hidup dan perlindungan
dimaksudkan untuk mencegah tindakan pembalasan dari terlapor melalui pemidanaan
dan/gugatan perdata dengan tetap memperhatikan kemandirian peradilan (Edy
Rachmad, 2010).
Kalimat terakhir yang sekaligus penutup dari penjelasan tersebut dengan
tetap memperhatikan kemandirian peradilan merupakan kalimat kunci yang
dimaksudkan untuk mematahkan/mementahkan janji dari pasal 66. Artinya
diberlakukannya hak perlindungan sebagaimana yang diatur dalam pasal 66 masih
harus ditentukan dan diuji lagi oleh peradilan. Bahwa disidang peradilan segala
sesuatu (apapun) masih mungkin terjadi termasuk mengabaikan pemberlakuan pasal
66 karena hakim bebas dan memiliki hak mutlak untuk menentukan/menjatuhkan
putusannya (Edy Rachmad, 2010).
Dalam UU No.32 tahun 2009 yang dimaksud dengan baku mutu lingkungan
hidup adalah ukuran batas atau kadar makhluk hidup, zat, energi, atau komponen
yang ada atau harus ada dan/atau unsur pencemar yang ditenggang keberadaannya
dalam suatu sumber daya tertentu sebagai unsur lingkungan hidup. Selanjutnya pada
pasal 20 dinyatakan baku mutu lingkungan meliputi, baku mutu air, baku mutu air
limbah, baku mutu air laut, baku mutu udara ambient, baku mutu emisi, baku mutu

12
gangguan, dan baku mutu lain sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi. Untuk menerapkan baku mutu lingkungan terkait temperatur air seperti
yang dipersyaratkan tersebut, diperlukan proses yang tidak sederhana dan
membutuhkan investasi yang besar sehingga tidak dapat diterapkan dalam waktu
cepat (AgusAdianto,2009).
Unsur-unsur perbuatan melawan hukum dalam hukum pidana, biasanya di
jabarkan secara rinci tetapi dalam pasal 98 dan 99 UUPPLH terdapat kesalahan fatal
karena diabaikannya (dihilangkan) unsur perbuatan melawan hukum yg seharusnya
ada selain itu, sanksi hukum dalam Pasal 101 UUPPLH berbunyi setia orang yang
melepaskan dan/atau mengedarkan produk rekayasa genetik ke media lingkungan
hidup yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan atau izin lingkungan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 69 ayat (1) huruf g, dipidana dengan pidana
penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling
sedikit Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) dan paling banyak
Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah) serta dalam pasal 102 UUPPLH berbunyi
setiap orang yang melakukan pengelolaan limbah B3 tanpa izin sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 59 ayat (4), dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1
(satu) tahun dan paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling sedikit
Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) dan paling banyak Rp3.000.000.000,00 (tiga
miliar rupiah). Hal ini justru menunjukkan ketidakpedulian Negara terhadap nilai
keadilan akibat kejahatan yg berkaitan limbah B3, apalagi jika dibandingkan dengan
sanksi hukum dalam Pasal 108 UUPPLH.
Di Pasal 108 UUPLH sangat penting untuk dilakukan sosialisasi, karena hal
ini bisa menimbulkan kesalah pahaman dan kesewenang-wenagan dalam
penerapannya. Dalam masyarakat pedesaan, masih banyak lahan milik masyarakat
(perorangan) yang luasnya diatas 2 (dua) hektar. Sebagimana bunyi pasal 108 bahwa
Setiap orang yang melakukan pembakaran lahan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 69 ayat (1) huruf h, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga)
tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling sedikit

13
Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah) dan paling banyak Rp10.000.000.000,00
(sepuluh miliar rupiah). Dan dalam penjelasan pasal 69 ayat (1) huruf h sebagaimana
yang dimaksud kearifan lokal dalam pasal 69 ayat (2) yaitu, kearifan lokal yang
dimaksud dalam ketentuan ini adalah melakukan pembakaran lahan dengan luas
lahan maksimal 2 hektare per kepala keluarga untuk ditanami tanaman jenis varietas
lokal dan dikelilingi oleh sekat bakar sebagai pencegah penjalaran api ke wilayah
sekelilingnya. Jika hal ini tidak tersosialisasikan ke masyarakat, terutama masyarakat
pedesaan bisa saja akan menimbulkan permasalahan dan konflik baru.
Selain beberapa permasalahan dalam UUPPLH diatas, masih banyak hal-hal
yang berpengaruh dalam penegakan hukum lingkungan, ketentuan hukum (Undang-
Undang) memang sangat penting dan berperang dalam hal ini, tetapi faktor-faktor
lain seperti kesadaran masyarakat tidak bisa dinafikan.
Posisi dan peranan aturan tersebut hanyalah sebagai sarana penunjang belaka,
sebagai sarana penunjang maka keampuhan dan kedayagunaannya akan selalu
tergantung kepada siapa dan dengan cara bagaimana digunakannya. Betapa pun
ampuh dan sempurnanya sarana, namun jika yang menggunakannya tidak memiliki
keterampilan dan kemahiran sudah pasti keampuhan dan kesempurnaan daripada
sarana tersebut tidak akan terwujud.

14
BAB III

PEMBAHASAN

III.1. Tindak Pidana Lingkungan Hidup Dalam Undang-undang Nomor 32

Tahun 2009

Salah satu hal yang melatarbelakangi dibentuknya undang-undang Nomor 32

tahun 2009 adalah tindak pidana. Adapun pengertian dari tindak pidana bidang

lingkungan hidup adalah suatu perbuatan yang dilakukan oleh seseorang dimana

perbuatan tersebut melanggar ketentuan peraturan perundang-undangan dibidang

lingkungan hidup dan diancam dengan sanksi atau hukuman bagi pelakunya (Handri,

2014).

Jenis jenis tindak pidana lingkungan hidup sesuai dengan ketentuan undang

undang nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan

Hidup (pasal 98 s/d 116):

1. Setiap orang yang dengan sengaja melakukan perbuatan yang mengakibatkan


dilampauinya baku mutu udara ambien, baku mutu air, baku mutu air laut,
atau kriteria baku kerusakan lingkungan hidup;
2. Setiap orang yang karena kelalaiannya mengakibatkan dilampauinya baku
mutu udara ambien, baku mutu air, baku mutu air laut, atau kriteria baku
kerusakan lingkungan hidup;
3. Setiap orang yang melanggar baku mutu air limbah, baku mutu emisi, atau
baku mutu gangguan;

15
4. Setiap orang yang melepaskan dan/atau mengedarkan produk rekayasa
genetik ke media lingkungan hidup yang bertentangan dengan peraturan
perundang-undangan atau izin lingkungan;
5. Setiap orang yang melakukan pengelolaan limbah B3 tanpa izin;
6. Setiap orang yang menghasilkan limbah B3 dan tidak melakukan pengelolaan
sesuai dengan ketentuan perundang- undangan;
7. Setiap orang yang melakukan dumping limbah dan/atau bahan ke media
lingkungan hidup tanpa izin;
8. Setiap orang yang memasukkan limbah ke dalam wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia;
9. Setiap orang yang memasukkan limbah B3 ke dalam wilayah Negara
Kesatuan Republik Indonesia;
10. Setiap orang yang memasukkan B3 yang dilarang menurut peraturan
perundangundangan ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia;
11. Setiap orang yang melakukan pembakaran Lahan;
12. Setiap orang yang melakukan usaha dan/atau kegiatan tanpa memiliki izin
lingkungan;
13. Setiap orang yang menyusun amdal tanpa memiliki sertifikat kompetensi
penyusun amdal;
14. Pejabat pemberi izin lingkungan yang menerbitkan izin lingkungan tanpa
dilengkapi dengan amdal dan Pejabat pemberi izin usaha dan/atau kegiatan
yang menerbitkan izin usaha dan/atau kegiatan tanpa dilengkapi dengan izin
lingkungan;
15. Setiap pejabat berwenang yang dengan sengaja tidak melakukan pengawasan
terhadap ketaatan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan terhadap
peraturan perundang-undangan dan izin lingkungan;
16. Setiap orang yang memberikan informasi palsu, menyesatkan, menghilangkan
informasi, merusak informasi, atau memberikan keterangan yang tidak benar
yang diperlukan dalam kaitannya dengan pengawasan dan penegakan hukum;

16
17. Setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang tidak melaksanakan
paksaan pemerintah; dan
18. Setiap orang yang dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi, atau
menggagalkan pelaksanaan tugas pejabat pengawas lingkungan hidup
dan/atau pejabat penyidik pegawai negeri sipil.

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 memperkenalkan ancaman hukuman


minimum di samping maksimum, perluasan alat bukti, pemidanaan bagi pelanggaran
baku mutu, keterpaduan penegakan hukum pidana, dan pengaturan memperhatikan
azas ultimum remedium yang mewajibkan penerapan penegakan hukum pidana
sebagai upaya terakhir setelah penerapan penegakan hukum administrasi dianggap
tidak berhasil. Penerapan asas ultimum remedium ini hanya berlaku bagi tindak
pidana formil tertentu, yaitu penindakan terhadap pelanggaran baku mutu air limbah,
emisi, dan gangguan.

III.2 Stakeholder yang berperan dalam Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009


Tentang Lingkungan Hidup

Stakeholder yang terkait langsung dan mempunyai peran dalam undang-


undang nomor 32 tahun 2009 tentang lingkungan hidup antara lain : Pemerintah,
Pemerintah Daerah, Menteri, gubernur atau bupati/walikota.

III.3 Implementasi Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009

Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan


Lingkungan Hidup, penegakan hukum dibidang lingkungan hidup dapat
diklasifikasikan kedalam 3 (tiga) kategori yaitu :
1. Penegakan hukum Lingkungan dalam kaitannya dengan Hukum Administrasi /
Tata Usaha Negara.
2. Penegakan Hukum Lingkungan dalam kaitannya dengan Hukum Perdata.

17
3. Penegakan Hukum Lingkungan dalam kaitannya dengan Hukum Pidana.
Sanksi adminstrasi terutama mempunyai fungsi instrumental, yaitu
pengendalian perbuatan terlarang. Disamping itu, sanksi administrasi terutama
ditunjukan kepada perlindungan kepentingan yang dijaga oleh kententuan yang
dilanggar tersebut.
Beberapa jenis sarana penegakan hukum administrasi adalah : a.Paksaan
pemerintah atau tindakan paksa (Bestuursdwang); b.Uang paksa (Publiekrechtelijke
dwangsom); c.Penutupan tempat usaha (Sluiting van een inrichting); d.Penghentian
kegiatan mesin perusahaan (Buitengebruikstelling van een toestel); e.Pencabutan izin
melalui proses teguran, paksaan pemetintah, penutupan dan uang paksa.
Hal ini diatur dalam Undang- Undang Nomor 32 Tahun 2009 pada BAB XII
mengenai Pengawasan dan Sanksi Administrasi. Instrument kedua yang diberlakukan
setelah sanksi administrasi tidak diindahakan oleh pelaku pelanggara atau kejahatan
lingkungan hidup adalah pengguna instrument perdata. Penyelesaian sengketa
lingkungan hidup dapat ditempuh melalui dua jalur, yaitu :Pertama : melalui
pengadilan dan Kedua : melalui luar pengadilan Pengaturan penegakan hukum
perdata lingkungan pada Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 diatur dalam BAB
XIII mengenai Penyelesaian Sengketa Lingkungan.

18
BAB IV
PENUTUP
IV.1 Kesimpulan
1. Salah satu hal yang melatarbelakangi dibentuknya undang-undang Nomor 32
tahun 2009 adalah tindak pidana. Adapun pengertian dari tindak pidana
bidang lingkungan hidup adalah suatu perbuatan yang dilakukan oleh
seseorang dimana perbuatan tersebut melanggar ketentuan peraturan
perundang-undangan dibidang lingkungan hidup dan diancam dengan sanksi
atau hukuman bagi pelakunya.
Ada dua hal yang dapat disimpulkan dari rumusan pengertian perusakan
lingkungan, yaitu (Silalahi, 2001) :
Pertama, bahwa perusakan lingkungan di dalamnya selalu mengandung
pengertian terjadinya perubahan sifat fisik lingkungan dan/atau sifat hayati
lingkungan.
Kedua, perlu ditetapkan suatu tolak ukur berupa kriteria untuk menentukan
bahwa lingkungan berada dalam kondisi kurang atau tidak berfungsi lagi
dalam menunjang pembangunan yang berkesinambungan.
2. Stakeholder yang terkait langsung dan mempunyai peran dalam undang-
undang nomor 32 tahun 2009 tentang lingkungan hidup antara lain :
Pemerintah, Pemerintah Daerah, Menteri, gubernur atau bupati/walikota.
IV.2 Saran
Masyarakat harus menjaga kelestarian lingkungan hidup. Dalam pemanfaatan
sumber daya harus memperhatikan dampak yang timbul dari penggunaan sumber
daya tersebut terhadap lingkungan sekitar agar tidak terjadi pencemaran atau
kerusakan lingkungan hidup.

19
DAFTAR PUSTAKA

Adianto, Agus. 2009. Online,http://www.mediaindonesia.com/webtorial/klh/index.


php?ac-id=NjkzMw==.

Darmansyah, 2008. Online, http://id.shvoong.com/books/1824482-benang-kusut-


pengelolaan-lingkungan-hidup/.

Khotijah,Siti. 2009. Online, http://gagasanhukum.wordpress.com/2009/11/lg/analisis-


filosofi-uu-nomor-32-tahun-2009/

M. Hamdan. 2000. Tindak Pidana Pencemaran Lingkungan Hidup. Mandar Maju :


Bandung

Undang-undang Nomor 23 tahun 1997 Tentang Lingkungan Hidup

Silalahi, M. Daud. 2001. Dalam Sistem Penegakan Hukum Lingkungan Indonesia.


Alumni : Bandung

Sunarso, Siswanto. 2005. Hukum Pidana Lingkungan Hidup dan Strategi


Penyelesaian Sengketa. Rineka Cipta. Jakarta.

Rachmad,Edy.2010.Online.http://waspadamedan.com/index.php?option=com_conten
t&view=article&id=hati-

20
21