Anda di halaman 1dari 18

A.

Rumusan Masalah
Berdasarkan judul rumusan masalah pada pengamatan ini adalah:
1. Bagaimana pengaruh lama perendaman biji dalam air terhadap
perkecambahan biji jagung ?
B. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan pengamatan adalah:
1. Mengetahui pengaruh lama perendaman biji dalam air terhadap
perkecambahan biji jagung.
C. Hipotesis
Hipotesis dari praktikum ini adalah :
HA = Ada pengaruh perendaman biji dalam air terhadap perkecambahan biji
jagung.
HO = Tidak ada pengaruh perendaman biji dalam air terhadap
perkecambahan biji jagung.
D. Kajian Pustaka
Biji jagung
Secara morfologis biji jagung tersusun atas perikarp atau kulit ari (5%),
endosperm (82%), lembaga (12%) dan tip cap (1%). Perikarp merupakan
lapisan pembungkus biji yang berubah cepat selama proses pembentukan biji
(Suarni dan Widowati, 2011). Kulit ari jagung dicirikan oleh kandungan serat
kasar yang tinggi. Endosperm merupakan bagian biji jagung yang
mengandung pati. Endosperm jagung terdiri atas endosperm keras (horny
endosperm) dan endosperm lunak (floury endoperm). Endosperm keras
terdiri dari sel-sel yang lebih kecil dan rapat, demikian pula dengan susunan
granula pati didalamnya. Endoperm lunak mengandung pati yang lebih
banyak dengan susunan tidak serapat pada bagian endosperm keras (Agustina,
2008). Tip cap adalah bagian yang menghubungkan biji dengan janggel
(Suarni dan Widowati, 2011).

Perkecambahan
Perkecambahan merupakan proses awal pertumbuhan individu baru pada
tanaman yang diawali dengan munculnya radikel pada testa benih.

1
Perkecambahan sangat dipengaruhi oleh ketersediaan air dalam medium
pertumbuhan. Air akan diabsorbsi dan digunakan untuk memacu aktivitas
enzim-enzim metabolisme perkecambahan (Agustrina, 2008).
Perkecambahan merupakan tahapan awal dari proses pertumbuhan dan
perkembangan pada tumbuhan berbiji. Embrio di dalam endosperma biji yang
semula berada pada kondisi dorman mengalami sejumlah perubahan fisiologis
yang menyebabkan berkembang dan menjadi tumbuhan muda. Endosperma
berfungsi sebagai penyedia cadangan energi bagi embrio dalam proses
perkecambahan, mengandung protein albumin (protein yang larut dalam air),
karbohidrat dan lemak (Anonim, 2011). Endosperma dapat berkecambah
apabila didukung oleh faktor-faktor eksternal maupun internal, seperti
keadaan biji, permeabilitas kulit biji dan tersedianya air disekeliling biji.
Faktor eksternal berupa air merupakan penentu kecepatan perkecambahan.
Biji kacang tanah memiliki endosperma yang lebih besar dibandingkan
dengan biji kacang-kacangan lainnya, sehingga di dalamnya terdapat protein,
lemak dan karbohidrat yang banyak.
Pertumbuhan dapat dibagi menjadi 2 tahap yaitu pembelahan sel dan
pembesaran atau pemanjangan sel. Pembelahan sel menghasilkan dua sel
anakan sehingga menambah jumlah sel penyusun tubuh. Pembelahan sel
dianggap selesai bila sel anakan telah sama dengan ukuran sel induknya.
Pembesaran atau pemanjangan sel menyebabkan ukuran sel baru itu lebih
besar dari ukuran sel induk. Pemanjangan sel terjadi apabila sel yang
membentang dindingnya pada sumbu tertentu sedangkan pada pembesaran sel
pembentang sel terjadi ke segala arah, agar dinding sel membentang maka
tekanan osmotic cairan sel harus dinaikkan sehingga terjadi daya hisap air
pada isi sel dan air yang masuk ke dalam sel serta tekanan turgor yang terjadi
menyebabkan dinding sel yang telah plastis (lunak) dapat mengembang
(Soerodikoesoemo, 1993).

Ada dua tipe perkecambahan biji, yaitu perkecambahan epigeal dan hipogeal.
1. Perkecambahan epigeal

2
Tipe perkecambahan epigeal ditandai dengan hipokotil yang tumbuh
memanjang sehingga plumula dan kotiledon terangkat ke atas (permukaan
tanah). Kotiledon dapat melakukan fotosintesis selama daun belum terbentuk.
Contoh tumbuhan ini adalah kacang hijau, kedelai, bunga matahari dan
kacang tanah. Organ pertama yang muncul ketika biji berkecambah adalah
radikula. Radikula ini kemudian akan tumbuh menembus permukaan tanah.
Untuk tanaman dikotil yang dirangsang dengan cahaya, ruas batang hipokotil
akan tumbuh lurus ke permukaan tanah mengangkat kotiledon dan epikotil.
Epikotil akan memunculkan daun pertama kemudian kotiledon akan rontok
ketika cadangan makanan di dalamnya telah habis digunakan oleh embrio
(Campbell et al., 2000: 365).

Gambar 1. Perkecambahan biji epigeal


2. Perkecambahan hipogeal
Perkecambahan hipogeal ditandai dengan epikotil tumbuh memanjang
kemudian plumula tumbuh ke permukaan tanah menembus kulit biji.
Kotiledon tetap berada di dalam tanah. Contoh tumbuhan yang mengalami
perkecambahan ini adalah kacang ercis, kacang kapri, jagung, dan
rumput-rumputan (Campbell et al., 2000: 366).

3
Gambar 2. Perkecambahan Hipogeal
Proses perkecambahan
Proses perkecambahan benih merupakan suatu rangkaian kompleks dari
perubahan-perubahan morfologi, fisiologi dan biokimia. Tahapan dalam
perkecambahannya terdiri dari:
Proses penyerapan air (imbibisi)
Proses penyerapan air atau imbibisi berguna untuk melunakkan
kulit biji dan menyebabkan pengembangan embrio dan
endosperma. Hal ini menyebabkan pecah atau robeknya kulit biji.
Selain itu, air memberikan fasilitas untuk masuknya oksigen ke
dalam biji. Dinding sel yang kering hampir tidak permeabel untuk
gas, tetapi apabila dinding sel di-imbibisi oleh air, maka gas akan
masuk ke dalam sel secara difusi.
Apabila dinding sel kulit biji dan embrio menyerap air, maka
suplai oksigen meningkat kepada sel-sel hidup sehingga
memungkinkan lebih aktifnya pernapasan. Sebaliknya CO2 yang
dihasilkan oleh pernapasan tersebut lebih mudah mendifusi keluar.
Beberapa faktor yang mempengaruhi kecepatan penyerapan air
oleh biji yaitu:
Permeabilitas kulit biji
Konsentrasi air
Suhu
Tekanan hidrostatik
Luas permukaan biji yang kontak dengan air

4
Daya intermolekuler
Komposisi kimia
Aktivasi enzim
Aktivasi enzim terjadi setelah benih berimbibisi dengan cukup.
Enzim-enzim yang teraktivasi pada proses perkecambahan ini
adalah enzim hidrolitik seperti :
-amilase, yang merombak amylase menjadi glukosa
ribonuklease, yang merombak ribonukleotida
endo--glukanase, yang merombak senyawa glukan
fosfatase, yang merombak senyawa yang mengandung P
lipase, yang merombak senyawa lipid
peptidase, yang merombak senyawa protein.

Perombakan cadangan makanan


Pada proses ini, ada dua proses yang akan terjadi yakni :
Katabolisme karbohidrat
Melalui proses ini, ATP akan dihasilkan untuk keperluan
perkecambahan dan pertumbuhan kecambah selanjutnya.

Skema proses katabolisme karbohidrat

Metabolisme lemak
Lemak akan dirombak oleh enzim lipase dan enzim
lainnya.

5
Skema proses metabolisme lemak.

Inisiasi pertumbuhan embrio


Proses ini terjadi setelah semua proses imbibisi, aktivasi enzim,
dan katabolisme cadangan makanan berjalan. Proses ini ditandai
oleh :
Meningkatnya bobot kering embryonic axis
Menurunnya bobot kering endosperma

Munculnya radikel
Munculnya radikel adalah tanda bahwa proses perkecambahan
telah sempurna. Proses ini akan diikuti oleh pemanjangan dan
pembelahan sel-sel. Proses pemanjangan sel ada dua fase yakni :
Fase 1 (fase lambat) dimana pemanjangan sel tidak diikuti
dengan penambahan bobot kering
Fase 2 (fase cepat), yang diikuti oleh penambahan bobot
segar dan bobot kering.

Pemantapan kecambah
Kecambah mulai mantap setelah ia dapat menyerap air dan
berfotosintesis (autotrof). Semula, ada masa transisi antara masih
disuplai oleh cadangan makanan sampai mampu autotrof. Saat
autotrof dicapai proses perkecambahan telah sempurna (makna
agronomis).
Hormon-hormon Perkecambahan
Pada dasarnya perkecambahan biji diatur oleh sejumlah hormon yang
kerjanya bertahap. Adapun hormon yang memulai dan memperantai proses

6
perkecambahan, yaitu fitohormon. Selain itu ada beberapa aktivitas hormon
pertumbuhan lain yang penting, yakni giberelin yang berfungsi untuk
menggiatkan enzim hodrolitik serta sitokinin yang berfungsi untuk
merangsang pembelahan sel, munculnya radikula dan plumula serta auksin
yang berfungsi untuk meningkatkan pertumbuhan.
Adapun mekanisme kerja hormon-hormon ini dalam perkecambahan, yaitu
pertama kali absorbsi air dari tanah menyebabkan embrio memproduksi
sejumlah kecil giberelin yang kemudian berdifusi kedalam selapis sel aleuron
yang mengelilingi sel cadangan makanan endospora, yang menyebabkan sel
endospora itu mengalami pemecahan dan mencair. Dan akibat hal ini,
sitokinin dan auksin terbentuk. Sehingga aktivitas dua hormon ini
mengaktifkan pertumbuhan embrio dengan membuat sel-sel membelah dan
membesar sehingga terjadi perkecambahan.

E. Variabel Penelitian
1. Variabel kontrol : Jenis biji (jagung), jumlah biji
2. Variabel manipulasi : Lama perendaman (0, 1 jam, 2 jam 3 jam, 4 jam)
3. Variabel respon : Kecepatan perkecambahan

F. Definisi Operasional Variabel


1. Variabel kontrol adalah variabel yang dikendalikan konstan sehingga
hubungan variabel bebas terhadap variabel terikat tidak terpengaruh oleh
faktor luar yang tidak teliti. Variabel kontrol sering digunakan sebagai
pembanding melalui penelitian eksperimental. Dalam praktikum ini
variabel kontrol adalah jenis biji jagung dengan jumlahnya 50 biji.
Jumlah biji jagung disamakan agar mempermudah dalam perhitungan
darikelima perlakuan dan apabila jumlah awal dari dapat di bandingkan.
2. Variabel nmanipulasi merupakan variabel yang dapat mempengaruhi
variabel lainnya. Praktikum ini variabel manipulasinya adalah perlakuan
biji jagung dengan di rendam dengan waktu 0 (tanpa di rendam), 1 jam,
2 jam, 3 jam, 4 jam yang nantinya bertujuan untuk mengetahui biji mana
yang akan cepat tumbuh dari perbedaan perendaman tersebut.

7
3. Variabel responadalah variabel yang dipengaruhi akibat dari adanya
variabel manipulasi. Dalam praktikum ini variabel responnya adalah
kecepatan perkecambahan biji jagung yang telah diberikan perlakuan
berbeda sehingga akan muncul variabel respon. Sehingga kecepatan
pertumbuhan biji dapat dibandingkan dari beberapa perendaman. Di
amati selama10 hari kecepatan biji yang berkecambah.

G. Alat dan Bahan


Alat :
1. Nampan plastik
2. Label
3. Kapas

Bahan :
1. Air suling
2. 250 Biji jagung
H. Rancangan Percobaan
Berikut rancangan percobaan pada praktikum ini:
Langkah pertama yang harus dilakukan yaitu menyiapkan alat dan bahan.
Kemudian merendam biji jagung selama 4 jam, 3 jam, 2 jam, 1 jam, dan
tanpa direndam. Menanam dalam waktu yang bersamaan pada nampan
plastik yang sudah dialasi kapas. Menutup nampan plastik kemudian
simpan di tempat gelap dan amati setiap hari berapa jumlah biji yang
berkecambah selama 10 hari. Pisahkan biji yang sudah berkecambah dan
sudah dilakukan perhitungan. Hari pertama pengamatan dihitung saat
penanaman biji pada nampan plastik. Kemudian catat pada hasil kecambah
yang tumbuh setiap harinya.

8
I. Langkah Kerja
Adapun alur praktikum pengaruh perendaman biji dalam air terhadap
perkecambahan sebagai berikut :

250 biji jagung

50 biji 50 biji 50 biji 50 biji 50 biji


tanpa direndam 1 direndam 2 direndam 3 direnda
direndam jam jam jam m 4 jam

Masing-masing biji yang


sudah diberi perlakuan,
langsung ditanam

Amati setiap hari jumlah biji


yang berkecambah selama 10
hari

9
J. Rancangan Tabel Pengamatan
Pada praktikum ini, pengaruh perendaman biji dalam air terhadap
perkecambahan. Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan,
didapatkan data yang disajikan dalam tabel berikut ini :
Tabel 1. Pengaruh perendaman biji pada perkecambahan jagung
Perlakuan IKP
(jam ) IKP Perkecam
X1 X2 X3 X4 X5 X6 X7 X8 X9 X10
bahan
0 - - 1 10 5 4 2 8 - - 5,786 60%
1 - - 5 15 6 8 1 4 1 - 8,7038 70%
2 - - 4 10 8 6 2 10 2 - 8,19 84%
3 - - 10 5 10 5 3 8 2 - 9,066 86%
4 - 3 12 8 10 7 2 5 2 - 11,799 96%

Berdasarkan tabel diatas, berikut ini adalah grafik perendaman biji jagung :

Gambar 3. Grafik pengaruh lama perendaman biji jagung terhadap jumlah IKP

K. Rencana Analisis Data


Berdasarkan data yang diperoleh, dapat dianalisis bahwa pada kecambah
jagung yang tidak direndam memiliki presentase perkecambahan sebesar 42
% dan indeks perkecambahan sebesar 5,786, dan pada perendaman selama 1
jam memiliki hasil 70% dan indeks perkecambahan sebesar 8,7038. Begitu
juga dengan biji kedelai yang direndam selama 2 jam , 3 jam dan 4 jam ,

10
memiliki nilai persentasi perkecambahan sebesar 84 %, 86 %, 96 %. Nilai
indeks kecepatan perkecambahan yang direndam 2 jam, 3 jam, 4 jam sebesar
8,19, 9,066, 11,799, dari perkecambahan tersebut perlakuan yang paling cepat
tumbuh yaitu perendaman selama 4 jam. Pada grafik diatas diperoleh bahwa
prosentase jumlah biji yang berkecambah mulai dari tidak direndam, 1 jam, 2
jam, 3 jam, dan 4 jam. Semakin lama perendaman semakin besar presentase
perkecambahannya.

L. Hasil Analisi Data


Berdasarkan analisis data dan histogram hasil penelitian di atas, dapat
memperlihatkan bahwa lama perendaman biji kacang tanah dalam air
berpengaruh terhadap kecepatan perkecambahan yaitu makin lama
perendaman maka makin tinggi nilai IKP (indeks kecepatan perkecambahan).
Hal ini dibuktikan pada data perendaman biji selama 0 jam memiliki nilai
IKP terrendah yaitu sebesar 5,786 dengan jumlah biji yang berkecambah
sebesar 60%, sedangkan biji yang direndam selam 4 jam nilai IKP yang
dimiliki paling tinggi yaitu sebesar 11,799 dengan jumlah persentase biji
yang berkecambah sebesar 96%.
Hal ini dikarenakan pada awal perkecambahan biji harus dipacu oleh
faktor-faktor tertentu salah satunya air. Perubahan yang teramati adalah
membesarnya ukuran biji yang disebut tahap imbibisi. Biji menyerap air dari
lingkungan sekelilingnya, baik dari tanah maupun udara dalam bentuk
embun atau uap air karena air dibutuhkan sebelum perkecambahan dimulai,
terkait dengan kondisi normal biji mengandung air sekitar 5 20% dari berat
totalnya, sehingga harus menyerap sejumlah air sebelum perkecambahan
dimulai. Efek yang terjadi adalah membesarnya ukuran biji karena sel embrio
membesar dan biji melunak. (Suyatmi, 2012)
IKP pada biji jagung yang direndam selama 4 jam merupakan yang
tertinggi karena biji telah menyerap air secara optimal, sehingga sel-sel
dalam biji yang semula dormansi mengalami imbibisi dan membengkak
sehingga biji bertambah besar. Di dalam air mengandung oksigen yang larut
dalam air yang akan masuk ke dalam sel biji secara difusi, dimana oksigen

11
tersebut digunkana untuk proses respirasi sel dan pengaktifan enzim-enzim di
dalam tubuh. Dari proses respirasi tersebut dihasilkan energi yang digunakan
untuk pertumbuhan tanaman. Apabila enzim-enzim dalam biji telah aktif
maka transport molekul di dalam tubuh akan berlangsung dan
molekul-molekul tersebut digunakan dalam proses pencernaan pada
tumbuhan. Hasil pencernaan tersebut akan diedarkan ke seluruh tubuh. Dari
hasil tersebut serta hasil respirasi, digunakan oleh biji untuk tumbuh yakni
melakukan perkecambahan. Air juga berpengaruh terhadap pertumbuhan,
karena fungsinya dalam metabolisme sangat besar. Selain menentukan turgor
sel sebelum membelah atau membesar, air juga menentukan kecepatan reaksi
biokimia dalam sel. Sehingga berubahnya kadar air dalam sel, akan
mempengaruhi hormon pertumbuhan dalam tubuh tumbuhan, sehingga
perkecambahan lebih cepat. (Suyatmi, 2012)
Pada biji dengan waktu perendaman yang sebentar yakni 0, 1, 2 dan 3
jam diperoleh kecepatan perkecambahan yang lebih rendah dibandingkan biji
yang direndam selama 4 jam. Hal ini dikarenakan biji hanya memperoleh
sedikit oksigen yang terlarut dalam air sehingga proses respirasi terganggu
atau tidak berjalan cepat, sehingga proses perkecambahan lambat karena
energi yang dihasilkan dari respirasi, untuk perkecambahan hanya sedikit
selain itu dengan kurangnya air maka proses aktivasi enzim-enzim hidrolitik
juga akan berlangsung kurang maksimal, selain kurangnya enzim-enzim
tersebut juga bisa menimbulkan kurangnya hormon giberelin yang berfungsi
untuk pertumbuhan sehingga pertumbuhan biji akan lebih lambat.

M. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat ditarik dari praktikum ini adalah :
1. Terdapat pengaruh waktu perendaman biji terhadap kecepatan
perkecambahan biji jagung. Pengaruhnya yaitu, semakin lama proses
perendaman biji, maka semakin cepat proses perkecambahan biji.
Sehingga nilai persentase perkecambahan dan indeks kecepatan
perkecambahan semakin besar

12
N. Daftar Pustaka
Agustrina, R. 2008. Perkecambahan dan Pertumbuhan Kecambah Leguminoceae
di Bawah Pengaruh Medan Magnet. Jurusan Biologi FMIPA
Universitas Lampung. Lampung: hal 342-347.
Campbell et al., 2000. Biologi. Ed 5. Indonesia : Erlangga
Suarni, dan S. Widowati. 2011. Struktur, komposisi, dan nutrisi jagung.
Prosiding Seminar dan Lokakarya Nasional Jagung. Makassar :
410-426.
Soerodikoesoemo, Wibisono, dkk, 1993, Anatomi dan Fisiologi Tumbuhan.
Penerbit Universitas Terbuka, Depdikbud Jakarta.
Suyatmi.2012. Publikasi Web.
http://eprints.undip.ac.id/34536/1/4._Artikel_Suyatmi.pdf/ Diakses
tanggal 17 Mei 2017.

13
LAMPIRAN

Media tanam Perendaman jagung

Hari ke-3

Hari ke-0

Hari ke-6 perendaman 1 jam Hari ke-6 perendaman 4 jam

14
Hari ke -6 perendaman 3 jam Hari ke-6 perendaman 2 jam

15
LAMPIRAN PERHITUNGAN

x x x x
IKP = .......
1 2 3 n
1. Biji tanpa perendaman (0 jam)

0 0 1 10 5 4 2 8 0 0
IKP
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
33,3 250 100 66,7 28,6 100

100
578,6

100
85,786

2. IKP Perendaman biji 1 jam


0 0 5 15 6 8 1 4 1 0
IKP
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
166,7 375 120 133,3 14,28 50 11,1

100
870,38

100
8,7038
3. IKP Pendaman biji 2 jam
0 0 4 10 8 6 2 10 2 0
IKP
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
133,3 250 160 100 28,5 125 22,2

100
819

100
8,19

4. IKP Perendaman biji 3 jam


0 0 10 5 10 5 3 8 2 0
IKP
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

16
333,3 125 200 83,3 42,8 100 22,22

100
90,66

100
9,066
5. IKP Perendaman biji 4 jam
0 3 12 8 10 7 2 5 2 0
IKP
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
150 400 200 200 116,7 28,5 65,5 22,2

100
1179,9

100
11,79

Presentasi perkecambahan
1. Biji tanpa perendaman 0 jam 5. Perendaman biji 4 jam
30 48
% 100% 60% % 100% 96%
50 50
2. Perendaman biji 1 jam
35
% 100% 70%
50
3. Perendaman biji 2 jam
42
% 100% 84%
50
4. Perendaman biji 3 jam
43
% 100% 60%
50

17
LAPORAN HASIL PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN

PENGARUH PERENDAMAN BIJI TERHADAP

PERKECAMBAHAN BIJI JAGUNG (Zea Mays)

Disusun oleh :
Novita Lailatul Zuhriyah
14030204037
Pendidikan Biologi A 2015

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
2017

18