Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Skoliosis berasal dari kata Yunani yang berarti lengkungan, mengandung arti kondisi
patologik. Vertebra servikal, torakal dan lumbal membentuk kolumna vertikal dengan
pusat vertebra berada pada garis tengah. Skoliosis adalah deformitas tulang belakang
yang menggambarkan deviasi vertebra kearah lateral dan rotasional. Bentuk skoliosis
yang paling sering dijumpai adalah deformitas tripanal dengan komponen lateral, anterior
posterior dan rotasional. Skoliosis dapat dibagi menjadi dua yaitu skoliosis struktural dan
non struktural (postural). Pada skoliosis postural, deformitas bersifat sekunder atau
sebagai kompensasi terhadap beberapa keadaan diluar tulang belakang, misalnya dengan
kaki yang pendek, atau kemiringan pelvis akibat kontraktur pinggul, bila pasien duduk
atau dalam keadaan fleksi maka kurva tersebut menghilang.
Pada skoliosis struktural terdapat deformitas yang tidak dapat diperbaiki pada segmen
tulang belakang yang terkena. Komponen penting dari deformitas itu adalah rotasi
vertebra; prosessus spinosus memutar kearah konkavitas kurva. Skoliosis struktural dapat
dibagi menjadi tiga kategori utama yaitu kongenital, neuromuskular dan skoliosis
ideopatik. Sekitar 80% skoliosis adalah ideopatik dengan kurva >10 derajat dilaporkan
dengan prevalensi 0,5-3 per 100 anak dan remaja. Prevalensi dilaporkan pada kurva >30
derajat yaitu 1,5-3 per 1000 penduduk. Insiden yang terjadi pada skoliosis ideopatik
infartil bervariasi, namun yang paling banyak dilaporkan banyak menyerang laki-laki
daripada perempuan.

1.2 Tujuan
1.2.1 Menjelaskan konsep penyakit skoliosis
1.2.2 Menjelaskan konsep keperawatan klien dengan penyakit skoliosis
1.2.3 Menjelaskan Asuhan Keperawatan Skoliosis

1.3 Rumusan Masalah


Dalam makalah ini penulis akan membahas khusus mengenai penyakit skoliosis beserta
asuhan keperawatannya.

1
BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1 DEFINISI
Skoliosis merupakan masalah ortopedik yang sering terjadi adalah pelengkungan lateral
dari medulla spinalis yang dapat terjadi di sepanjang spinal tersebut. Pelengkungan pada
area toraks merupakan scoliosis yang paling sering terjadi, meskipun pelengkungan pada
area servikal dan area lumbal adalah scoliosis yang paling parah. Jadi, skoliosis
mengandung arti kondisi patologik yaitu kelengkungan tulang belakang yang abnormal ke
arah samping kiri atau kanan(Mion, Rosmawati, 2007).

2.2 KLASIFIKASI
Skoliosis dibagi dalam dua jenis yaitu struktural dan bukan struktural.
1. Skoliosis struktural
Skoliosis tipe ini bersifat irreversibel ( tidak dapat di perbaiki ) dan dengan rotasi
dari tulang punggung Komponen penting dari deformitas itu adalah rotasi
vertebra, processus spinosus memutar kearah konkavitas kurva.
Tiga bentuk skosiliosis struktural yaitu :
a. Skosiliosis Idiopatik. adalah bentuk yang paling umum terjadi dan
diklasifikasikan menjadi 3 kelompok :
1) Infantile : dari lahir-3 tahun.
2) Anak-anak : 3 tahun 10 tahun.
3) Remaja : Muncul setelah usia 10 tahun ( usia yangpaling umum ).
b. Skoliosis Kongenital adalah skoliosis yang menyebabkan malformasi satu
atau lebih badan vertebra.
c. Skoliosis Neuromuskuler, anak yang menderita penyakit neuromuskuler
(seperti paralisis otak, spina bifida, atau distrofi muskuler) yang secara
langsung menyebabkan deformitas.
2. Skoliosis nonstruktural (postural)
Skoliosis tipe ini bersifat reversibel (dapat dikembalikan ke bentuk semula), dan
tanpa perputaran (rotasi) dari tulang punggung..Pada skoliosis postural, deformitas
bersifat sekunder atau sebagai kompensasi terhadap beberapa keadaan diluar
tulang belakang, misalnya dengan kaki yang pendek, atau kemiringan pelvis
akibat kontraktur pinggul, bila pasien duduk atau dalam keadaan fleksi maka
kurva tersebut menghilang.
Ada tiga tipe-tipe utama lain dari scoliosis :
1) Functional

2
Pada tipe scoliosis ini, spine adalah normal, namun suatu lekukan abnormal
berkembang karena suatu persoalan ditempat lain didalam tubuh. Ini dapat
disebabkan oleh satu kaki adalah lebih pendek daripada yang lainnya atau oleh
kekejangan-kekejangan di punggung.
2) Neuromuscular
Pada tipe scoliosis ini, ada suatu persoalan ketika tulang-tulang dari spine
terbentuk. Baik tulang-tulang dari spine gagal untuk membentuk sepenuhnya,
atau mereka gagal untuk berpisah satu dari lainnya.Tipe scoliosis ini
berkembang pada orang-orang dengan kelainn-kelainan lain termasuk
kerusakan-kerusakan kelahiran, penyakit otot (muscular dystrophy), cerebral
palsy, atau penyakit Marfan. Jika lekukan hadir waktu dilahirkan, ia disebut
congenital. Tipe scoliosis ini seringkali adalah jauh lebih parah dan memerlukan
perawatan yang lebih agresif daripada bentuk-bentuk lain dari scoliosis.
3) Degenerative
Tidak seperti bentuk-bentuk lain dari scoliosis yang ditemukan pada anak-anak
dan remaja-remaja, degenerative scoliosis terjadi pada dewasa-dewasa yang
lebih tua. Ia disebabkan oleh perubahan-perubahan pada spine yang disebabkan
oleh arthritis. Kelemahan dari ligamen-ligamen dan jaringan-jaringan lunak lain
yang normal dari spine digabungkan dengan spur-spur tulang yang abnormal
dapat menjurus pada suatu lekukan dari spine yang abnormal.
4) Lain-lain
Ada penyebab-penyebab potensial lain dari scoliosis, termasuk tumor-tumor
spine seperti osteoid osteoma. Ini adalah tumor jinak yang dapat terjadi pada
spine dan menyebabkan nyeri/sakit.Nyeri menyebabkan orang-orang untuk
bersandar pada sisi yang berlawanan untuk mengurangi jumlah dari tekanan
yang diterapkan pada tumor.Ini dapat menjurus pada suatu kelainan bentuk
spine.

2.3 ETIOLOGI
Penyebab terjadinya skoliosis belum diketahui secara pasti, tapi dapat diduga
dipengaruhi oleh diantaranya kondisi osteopatik, seperti fraktur, penyakit tulang,
penyakit arthritis, dan infeksi.Scoliosis tidak hanya disebabkan oleh sikap duduk yang
salah. Sedangkan menurut penelitian di Amerika Serikat, memanggul beban yang berat
seperti tas punggung, bisa menjadi salah satu pemicu scoliosis.
Terdapat 3 penyebab umum dari skoliosis:
1) Kongenital (bawaan), biasanya berhubungan dengan suatu kelainan dalam
pembentukan tulang belakang atau tulang rusuk yang menyatuh.
3
2) Neuromuskuler, pengendalian otot yang buruk atau kelemahan otot atau
kelumpuhan akibat penyakit berikut :Cerebral palsy, Distrofi otot, Polio,
Osteoporosis juvenile.
3) Idiopatik, penyebabnya tidak diketahui.

2.4 GEJALA KLINIS


1) Tulang belakang melengkung secara abnormal ke arah samping
2) Bahu dan atau pinggul kiri dan kanan tidak sama tingginya
3) Nyeri punggung
4) Kelelahan pada tulang belakang setelah duduk atau berdiri lama
5) Skoliosis yang berat (dengan kelengkungan yang lebih besar dari 60 ) bisa
menyebabkan gangguan pernafasan.
6) Kebanyakan pada punggung bagian atas, tulang belakang membengkok ke kanan
dan pada punggung bagian bawah, tulang belakang membengkok ke kiri; sehingga
bahu kanan lebih tinggi dari bahu kiri.Pinggul kanan juga mungkin lebih tinggi dari
pinggul kiri. Awalnya penderita mungkin tidak menyadari atau merasakan sakit
pada tubuhnya karena memang skoliosis tidak selalu memberikan gejalagejala
yang mudah dikenali.Jika ada pun, gejala tersebut tidak terlalu dianggap serius
karena kebanyakan mereka hanya merasakan pegalpegal di daerah punggung dan
pinggang mereka saja.

4
2.5 PATOFISIOLOGI
Kelainan bentuk tulang punggung yang disebut skoliosis ini berawal dari adanya syaraf
yang lemah atau bahkan lumpuh yang menarik ruas-ruas tulang belakang. Tarikan ini
berfungsi untuk menjaga ruas tulang belakang berada pada garis yangnormal yang
bentuknya seperti penggaris atau lurus. Tetapi karena suatu hal, diantaranya kebiasaan
duduk yang miring, membuat sebagian syaraf yang bekerja menjadi lemah. Bila ini terus
berulang menjadi kebiasaan, maka syaraf itu bahkan akan mati. Ini berakibat pada
ketidakseimbangan tarikan pada ruas tulang belakang. Oleh karena itu, tulang belakang
penderita bengkok atau seperti huruf S.

5
2.6 PATHWAY
ETIOLOGI

Posisi duduk yang salah Faktor Genetik Faktor Hormonal


Kerja otot pada ruas tulang belakang Kurangnya asam folat pada ibu hamil Defesiensi melatonin

Ketegangan otot Resiko tinggi sambungan spinal bayi Sekresi melatonin saat malam
Perkembangan otot tulang blkg terganggu Tulang belakang tidak normal Kurangnya progresivitas skoliosis

Otot Lemah

Ruas tulang blkg lemah

Tlg blkng melengkung miring ke salah satu sisi

Skoliosis Tlg blkg melengkung dada kanan menonjol dan Gangguan citra tubuh
kepala tampak lebih tiggi
Deviasi lateral corpus spinal Kelelahan tulang dan sendi Klien ingin cepat dioperasi
Menekan area paru

Derajat deviasi semakin besar Kaku otot Ekspansi paru Jenuh dan sedih lama
menunggu
Resiko tinggi gangguan nyeri Resiko tinggi gangguan mobilitas Dispnea
Ansietas
Resti gangguan pola nafas
tidak efektif

6
2.7 KOMPLIKASI
1) Kerusakan paru-paru dan jantung.
Ini boleh berlaku jika tulang belakang membengkok melebihi 60 derajat. Tulang
rusuk akan menekan paru-paru dan jantung, menyebabkan penderita sukar
bernafas dan cepat capai. Justru, jantung juga akan mengalami kesukaran
memompa darah. Dalam keadaan ini, penderita lebih mudah mengalami penyakit
paru-paru dan pneumonia.
2) Sakit tulang belakang.
Semua penderita, baik dewasa atau kanak-kanak, berisiko tinggi mengalami
masalah sakit tulang belakang kronik. Jika tidak dirawat, penderita mungkin akan
menghidap masalah sakit sendi. Tulang belakang juga mengalami lebih banyak
masalah apabila penderita berumur 50 atau 60 tahun.

2.8 PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK


Pemeriksaan dasar yang penting adalah foto polos (roentgen) tulang punggung yang
meliputi :
1) Foto AP dan lateral ada posisi berdiri : foto ini bertujuan untuk menentukan
derajat pembengkokan skoliosis.
2) Foto AP telungkup
3) Foto force bending R and L : bertujuan untuk menentukan derajat pembengkokan
setelah dilakukan bending.
4) Foto pelvik AP
Pada keadaan tertentu seperti adanya defisit neurologis, kekakuan pada leher, atau
sakit kepala.
5) Dapat dilakukan pemeriksaan MRI.

2.9 PENGOBATAN
1) Pengobatan yang dilakukan tergantung kepada penyebab, derajat, dan lokasi
kelengkungan serta stadium pertumbuhan tulang. Jika kelengkungan kurang dari
20 derajat, biasanya tidak perlu pengobatan, tetapi penderita harus menjalani
pemeriksaan secara teratur setiap 6 bulan.
2) Pada anak- anak yang masih tumbuh, kelengkungan biasanya bertambah sampai
25-30, karena itu biasanya dianjurkan untuk menggunakan brace (alat penyangga)
untuk memperlambat progresivitas kelengkungan vertebra. Brace dari Milwaukee
& Boston efektif dalam mengendalikan progresivitas skoliosis, tetapi harus
dipasang selama 23 jam/hari sampai masa pertumbuhan anak berhenti.
3) Brace tidak efektif digunakan pada skoliosis kongenital maupun neuromuskular.
Jika kelengkungan mencapai 40 atau lebih, biasanya dilakukan pembedahan.
4) Pada pembedahan dilakukan perbaikan kelengkungan dan peleburan tulang-
tulang. Tulang dipertahankan pada tempatnya dengan bantuan 1-2 alat logam yang
7
terpasang sampai tulang pulih (kurang dari 20 tahun). Sesudah dilakukan
pembedahan mungkin perlu dipasang Brace untuk menstabilkan tulang belakang.
Kadang diberikan perangsangan elektrospinal, dimana otot vertebra dirangsang
dengan arus listrik rendah untuk meluruskan vertebra.

2.10 ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN SKOLIOSIS

A. PENGKAJIAN
1. Pengumpulan Data
a. Biodata
b. Riwayat Kesehatan
1) Keluhan utama :
2) Riwayat kesehatan sekarang : tulang kanan melengkung, dada kanan
posteroir menonjol diserati scapula kanan tampak lebih tinggi dan
menonjol.
3) Riwayat kesehatan terdahulu : -
2. Pemeriksaan Fisik
a. Mengkaji Skelet tubuh
Adanya deformitas dan kesejajaran. Pertumbuhan tulang yang abnormal akibat
tumor tulang. Pemendekan ekstremitas, amputasi dan bagian tubuh yang tidak
dalam kesejajaran anatomis. Angulasi abnormal pada tulang panjang atau
gerakan pada titik selain sendi biasanya menandakan adanya patah tulang.
- Berdiri tegak, untuk melihat adanya :
o Asimetris bahu, leher, tulang iga, pinggul, scapula
o Plim line (kesegarisan atara leher dan pinggul)
o Body arm distance (jarak antar lengan dengan badan).
- Membungkuk, untuk melihat adanya :
o Rotasi (perputaran dari tulang punggung)
o Derajat pembungkukan (kifosis)
o Mengukur perbedaan panjang tungkai bawah

- Mencari
o Kelenturan sendi
o Sinus-sinus pada kulit
o Hairy pathches
o Palpable midline detects

b. Mengkaji tulang belakang


Skoliosis (devisiasi kurvatura tulang belakang)
Kifosis (kenaikan kurvatura tulang belakang bagian dada)
Lordosis (membebek, kurvatura tulang belakang bagian pinggang berlebihan)
8
c. Mengkaji sistem persendian
Luas gerakan dievaluasi baik aktif maupun pasif, deformitas, stabilitas dan
adanya bnejolan, adanya kekakuan sendi.
d. Mengkaji sistem otot
Kemempuan mengubah posisi, kekuatan otot dan koordinasi dan ukuran
masing-masing otot. Lingkar ekstrimitas untuk memantau adanya edema atau
atrofi, nyeri otot.
e. Mengkaji cara berjalan
Adanya gerakan yang tidak teratur dianggap tidak normal. Bila salah satu
ekstrimitas lebih pendek dari yang lain. Berbagai kondisi neurologis yang
berhubungan dengan cara berjalan abnormal (mis. Cara berjalan spastic
hemiparesis-stroke, cara berjalan selangkah-selangkah- penyakit lower motor
neuron, cara berjalan bergetar-penyakit parkinson).
f. Mengkaji kulit dan sistem perifer
Palpasi kulit dapat menunjukan adanya suhu yang lebih panas atau lebih
dingin dari lainnya dan adanya edema. Sirkulasi perifer dapat dievaluasi
dengan mengkaji denyut perifer, warna, suhu dan waktu pengisian.

B. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Rontgen tulang belakang
X-Ray proyeksi foto polos : harus diambil dengan posterior dan lateral penuh
terhadap tulang belakang dan krista iliaka dengan posisi tegak, untuk menilai
derajat kurva dengan metode Cobb dan menilai maturitas skeletal dengan metode
Risser. Kurva structural akan memperlihatkan rotasi vertebra ; pada proyeksi
posterior-anterior, vertebra yang mengarah ke puncak prosessus spinosus
menyimpang kegaris tengah; ujung atas dan bawah kurva diidentifikasi sewaktu
tingkat simetri vertebra diperoleh kembali.

2. Skoliometer (untuk mengukur kelengkungan tulang belakang).


Skoliometer adalah sebuah alat untuk mengukur sudut kurvaturai. Cara
pengukurannya dilakukan pada pasien dengan posisi membungkuk, kemudian atur
posisi pasien karena posisi akan berubah-ubah tergantung pada lokasi kurvatura,
sebagai contoh kurva dibawah vertebra lumbal akan membutuhkan posisi
membungkuk lebih jauh dibanding kurva pada thorakal. Kemudian letakkan
skloliometer pada apeks kurva, biarkan skoliometer tanpa ditekan, kemudian baca
angka derajat kurva. Pada screening, pengukuran ini signifikan apabila hasil yang
diperoleh lebih besar dari 5 derajat, hal ini menunjukan derajat kurvatura >200
9
pada pengukuran Cobbs angle pada radiologi sehingga memerlukan evaluasi
yang lebih lanjut.

3. MRI
Jika ditemukan kelainan saraf atau kelainan pada rontgen.

4. Cobb Angle
Diukur dengan menggambar garis tegak lurus dari batas superior dari vertebra
paling atas pada lengkungan dan garis tegak lurus dari akhir inferior vertebra
paling bawah. Perpotongan kedua garis ini membentuk suatu sudut yang diukur.

5. Maturitas Kerangka
Dinilai dengan beberapa cara. Hal ini penting karena kurva sering bertambah
selama periode pertumbuhandan pematangan kerangka yang cepat. Apotisis iliaka
mulai mengalami penulangan segera setelah pubertas: ossifikasis meluas kemedial
dan jika penulangan krista iliaka selesai, pertambahan skoliosis hanya minimal.
Menentukan maturitas skeletal melalui tanda Risser, dimana ossifikasi pada
apotisis iliaka dimulai dari spina iliaka anterior superior (SIAS) ke posterior
medial. Tepi iliaka dibagi kedalam 4 kuadran dan ditentukan kedalam grade 0-5.
Derajat Risser adalah sebagai berikut :
- Grade 0 : tidak adanya pssifikasi
- Grade 1 : penulangan mencapai 25%
- Grade 2 : penulangan mencapai 26-50%
- Grade 3 : penulangan mencapai 51-75%
- Grade 4 : penulangan mencapai 76%
- Grade 5 : menunjukan fusi tulang yang komplit.

C. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan penekanan paru
2. Nyeri punggung berhubungan dengan posisi tubuh ke lateral
3. Gangguan mobilitas fisik berhubgan dengan postur tubuh yang tidak seimbang.
4. Gangguan konsep diri berhungan dengan postur tubuh mirik ke lateral

D. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN


1. DX 1 : Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan penekanan paru
Tujuan : pola nafas kembali efektif
Intervensi :
1) Kaji status pernapasansetiap 4 jam
2) Bantu dan ajarkan pasien melakukan napas dalam setiap 1 jam
3) Atur posisi tidur semi fowler untuk meningkatkan ekspansi pru
4) Auskultasi dada untuk mendengarkan bunyi napas setiap 2 jam
5) Pantau tanda-tanda vital setiap 4 jam

2. Dx 2 : Nyeri punggung berhubungan dengan posisi tubuh ke lateral


Tujuan : Nyeri berkurang sampai dengan hilang
Intervensi :
10
1) Kaji tipe, intensitas dan lokasi nyeri
2) Atur posisi yang dapat meningkatkan rasa nyaman
3) Pertahankan lingkungan yang tenang untuk meningkatkan kenyamnanan
4) Ajarkan teknik distraksi relaksasi untuk mengalihkan perhatian sehingga dapat
mengurangi rasa nyeri.
5) Anjurkan latihan postural secara rutin untuk memperbaiki posisi tubuh
6) Ajarkan dan anjurkan pemakaian brace untuk mengurangi nyeri saat
beraktivitas.
7) Kolaborasi dalam pemberian analgetik untuk meredakan nyeri.

3. Dx 3 : Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan postur tubuh yang tidak


seimbang
Tujuan : meningkatkan mobilitas fisik
Intervensi :
1) Kaji tingkat mobilitas fisik
2) Tingkatkan aktivitas jika nyeri berkurang
3) Bantu dan ajarkan latihan rentang gerak sendi aktif
4) Libatkan keluarga dalam melakukan perawatan diri
5) Tingkatkan kembali aktivitas normal

4. Dx 4 :Gangguan konsep diri berhungan dengan postur tubuh mirik ke lateral


Tujuan : meningkatkan citra tubuh klien
Intervensi :
1) Anjurkan klien untuk mengungkapkan perasaan dan masalahnya
2) Beri lingkungan yang mendukung
3) Bentu klien untuk mengidentifikasi gaya koping yang positif
4) Beri harapan yang realistik dan buat sasaran jangka pendek untuk
memudahkan pencapaian
5) Beri penghargaan atas tugas yang telah dilakukan
6) Beri dorongan untu melakukan komunikasi dengan orang terdekat dan
memerlukan sosialisasi dengan keluarga serta teman
7) Beri dorongan untuk merawat diri sesuai toleransi

E. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Implementasi sesuai rencana tindakan keperawatan

F. EVALUASI KEPERAWATAN
Setelah intervensi keperawatan, diharapkan :
1. DX 1 : Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan penekanan paru
Evaluasi :
1) Menunjukan bunyi nafas yang normal
2) Frekuensi dan irama napas teratur
2. Dx 2 : Nyeri punggung berhubungan dengan posisi tubuh ke lateral
Evaluasi :

11
1) Melaporkan tingkat nyeri yang dapat diterima
2) Memperlihatkan sikap tenang dan rileks
3) Keseimbangan pola istirahat tidur

3. Dx 3 : Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan postur tubuh yang tidak


seimbang
Evaluasi :
1) Melakukan latihan rentang gerak secara adekuat
2) Melakukan mobilitas pada tingkat optimal
3) Secara aktif ikut serta dalam rencana keperawatan
4) Meminta bantuan jika membutuhkan

4. Dx 4 : Gangguan konsep diri berhungan dengan postur tubuh mirik ke lateral


Evaluasi :
1) Mencari orang lain untuk membantu mempertahankan harga diri
2) Secara aktif ikut serta dalam perawatan dirinya
3) Menggunakan ketrampilan koping dalam mengatasi citra tubuh.

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian
A. DATA UMUM
No. RM : 027
Tanggal : 08 Januari 2012
Tempat : Ruangan Mawar
Nama : Tn. K
TTL : Bau Bau, 27 Mei 1966
Umur : 45 tahun
Jenis kelamin : Laki Laki
Agama : Islam
Status perkawin : Kawin
Pendidikan terakhir : SMA
Pekerjaan : Wiraswasta
Lama bekerja : 15 Tahun
Suku bangsa : Bunton
Alamat : Jalan A.H Nasution
Tgl. MRS : 06 Januari 2012
Sumber info : Istri
Dx. Medis : Skoliosis

B. RIWAYAT KESEHATAN SAAT INI


1. Keluhan Utama : Klien mengatakan nyeri pada punggungnya

12
2. Alasan masuk RS : Klien masuk rumah sakit karena nyeri di pungggungnya
semakin parah sehingga membuat klien susah untuk beraktivitas (aktivitas klien
terganggu)
3. Riwayat Penyakit
a. Provocative/Palliative : nyeri bertambah saat mengangkat barang yang berat
bekerja
b. Quality : nyeri seperti tertimpa beban berat
c. Region : di bagian punggungnya
d. Scale : skala 6
e. Timing : tidak menentu

C. RIWAYAT KESEHATAN MASA LALU


1. Penyakit yang pernah dialami : tidak ada kecuali hanya penyakit biasa seperti
demam, batuk dan pilek
2. Riwayat alergi : tidak ada
3. Riwayat immunisasi : imunisasi aktif
4. Lain Lain : Klien mengatakan pernah mengalami arthritis 1
tahun yang lalu.

D. RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA


E. Genogram:

F. RIWAYAT PSIKO-SOSIAL-SPIRITUAL

1. Pola koping : Koping individu klien tidak efektif

2. Harapan klien terhadap keadaan penyakitnya : Klien berharap nyerinya hilang


agar cepat sembuh sehingga dapat beraktivitas kembali seperti semula.

3. Faktor stressor : klien stres berat memikirkan penyakit yang dideritanya.

13
4. Konsep diri : klien merasa sangat terganggu karena penyakit yang dideritanya.

5. Pengetahuan klien tentang penyakitnya : klien tidak mengetahui tentang


penyakitnya.

6. Adaptasi : Klien kurang beradaptasi di RS.

7. Hubungan dengan anggota keluarga : Baik

8. Hubungan dengan masyarakat: klien kurang berinteraksi dengan masyarakat .

9. Perhatian thp orang lain & lawan bicara : Cukup baik

10. Aktifitas sosial :

11. Bahasa yang sering digunakan : Bahasa Indonesia

12. Keadaan lingkungan : Bersih

13. Kegiatan keagamaan / pola ibadah : Klien melaksanakan shalat 5


waktuKeyakinan tentang kesehatan : Klien menyerahkan kesembuhan
penyakitnya kepada Allah SWT

G. KEBUTUHAN DASAR / POLA KEBIASAAN SEHARI-HARI


1. Makan
Sebelum MRS : Klien makan 3x sehari,nafsu makan klien meningkat. BB 55kg
Setelah MRS : Nafsu makan klien makan menurun 2x sehari porsi kecil.
Diberikan makanan cair. BB 50kg
2. Minum
Sebelum MRS : Klien minum 6-8 gelas sehari
Setelah MRS :Klien minum 3-5 gelas sehari pada keadaan ini klien tidak
mengalami gangguan pola makan
3. Tidur
Sebelum MRS : Klien tidak pernah tidur siang, tidur 4-5 jam sehari.
Setelah MRS : Klien tidur 3-4 jam sehari pada keadaan ini klien mengalami
gangguan pola tidur.

4. Eliminasi
Sebelum MRS : BAB klien 1x sehari
Setelah MRS :Klien kadang tidak BAB dalam sehari
5. Eliminasi urine/BAK
Sebelum MRS : Klien BAK 5-6x dalam sehari.
Setelah MRS : Klien BAK 1-2x sehari dengan volume sedikir
6. Akltifitas dan latihan
Sebelum MRS : Setiap Hari minggu klien rekreasi bersam keluarga
Setelah MRS : Klien tidak pernah melakukan aktifitas
14
7. Personal hygiene
Sebelum MRS : Klien mandi 2x sehari, mencuci rambut 1x sehari, 1 minggu
sekali klien memotong kuku.
Setelah MRS : Klien mandi 2x sehari.

G. PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan umum
Kehilangan BB : 5 Kg
Kelemahan : Sangat lemah
Vital sign : TD : 120/80 mmHg
N : 97 x /menit
RR : 25 x / menit
S : 36,5 C

2. Head to toe
a. Kulit/integuman :
Inspeksi : warna kulit kecoklatan
Palpasi : Tidak ada udema
b. Kepala :
Inspeksi : Rambut lurus hitam dan pendek, Distribusi rambut merata, Tidak ada
ketombe
Palpasi : Tidak ada udema, Tidak ada nyeri tekan
c. Kuku :
Inspeksi : agak kotor
d. Mata/penglihatan :
Inspeksi : simetris kiri dan kanan, konjungtiva Nampak pucat, kelopak mata tidak
udema
Palpasi : tidak ada nyeri pada mata
e. Hidung :
Inspeksi : skimetris kiri dan kanan, tidak ada pengeluaran secret,
fungsi penciuman baik
Palpasi : tidak ada nyeri tekan
f. Telinga/pendengaran :
Inspeksi : simeris kiri dan kanan, tidak ada pengeluaran secret, fungsi
pendengaran baik
Palpasi : tidak ada nyeri tekan
g. Mulut dan gigi :
Inspeksi : mukosa bibir kering, keadaan gigi baik dan lengkap, ada gangguan
menelan
h. Leher :
Inspeksi : nampak miring kesamping
Palpasi : ada nyeri tekan pada leher
i. Dada :
Inspeksi : normal chest, pegerakan dan pengembangan dada sama ketika ekspirsi
dan inspirasi
Palpasi : tidak ada nyeri tekan, tidak ada massa
Auskultasi : inspirasi sama dengan ekspirasi
15
j. Abdomen :
Inspeksi : tidak Nampak pembesaran pada abdomen
Palpasi : tidak teraba pembesaran hati, distensi abdomen tidak ditemukan
Perkusi : tidak ada penimbunan cairan dan masa
Auskultasi : peristaltik usus
k. Extremitas atas:
Inspeksi : pergerakan klien terbatas, tidak ada hematom dan udem pada tangan
Palpasi : tidak ada nyeri tekan
Extremitas bawah:
Inspeksi : pergerakan klien tebatas
Palpasi : tidak nyeri tekan dan tidak ada udema
3. Pengakajian Data Fokus (Pengakajian sistem)
a. Sistem respiratory :
Inspeksi : pernafasan cepat,
Auskultasi : sonor
b. Sistem kardiovaskuler:
Inspeksi : kesadaran baik, bentuk dada normal chest, wajah Nampak pucat, tidak
ada udema pada tangan, kaki dan sendi
Palpasi : tidak ada pembesaran vena jugularis, tidak ada nyeri tekan
Perkusi : -
Auskultasi : irama jantung tidak teratur
c. Sistem gastrointestinal :
d. Sistem urinaria :
e. Sistem reproduksi :
f. Sistem muskuloskeletal:
Inspeksi : kekuatan otot berkurang, pola aktivitas terganggu
Palpasi : adanya lekukan atau adanya tulang yang menonjol.
g. Sistem neurologi :
Inspeksi : masih sadarkan diri
h. Sistem penglihatan :
Inspeksi : simetris kiri dan kanan, konjungtiva Nampak pucat, kelopak mata tidak
udema
Palpasi : tidak ada nyeri pada mata

i. Sistem pendengaran :
Inspeksi : simetris kiri dan kanan, tidak ada pengeluaran secret, fungsi
pendengaran baik
Palpasi : tidak ada nyeri tekan
4. Pemeriksaan diagnostik
7 Januari 2012
Diagnosa medis : Skoliosis
5. Penatalaksanaan Medis
a. Rontgen tulang belakang.
Kurva structural akan memperlihatkan rotasi vertebra ; pada proyeksi posterior-
anterior, vertebra yang mengarah ke puncak prosessus spinosus menyimpang kegaris
tengah; ujung atas dan bawah kurva diidentifikasi sewaktu tingkat simetri vertebra
diperoleh kembali.
16
H. ANALISA DATA
NO DATA FOKUS MASALAH ETIOLOGI
1. DS : Ketidakefektifan Tulang belakang membengkok
- Klien mengeluh sesak bila pola nafas melebihi 60 derajat
beraktivitas (bekerja)
Tulang rusuk akan menekan
DO :
paru2 dan jantung
- Tanda tanda vital : RR
25 x/menit Ekspansi dada
- Terdapat retraksi dinding
dada Ketidakefektifan pola napas
2. DS : Nyeri Posisi tubuh miring ke lateral

R : Provocative/Palliative : Tulang menekan jaringan


nyeri bertambah saat disekitar
mengangkat barang yang berat
bekerja Impuls saraf nyeri

Q : nyeri seperti tertimpa Nyeri


beban berat

R : di bagian punggungnya

S : skala 6

T : tidak menentu

DO :

- Klien terlihat meringis


kesakitan
- Klien terlihat memegang
punggungnya
- Nadi : 97x/menit

3. DS : Gangguan Posisi tubuh miring ke lateral


mobilitas fisik
17
- Klien mengatakan lemah
dan susah bergerak

DO : posisi tubuh tidak seimbang

- Klien nampak susah


gangguan mobilitas fisik
bergerak
- Klien bedrest
-

I. Diagnosa keperawatan
1. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan penekanan paru.
2. Nyeri berhubungan dengan posisi tubuh miring ke lateral
3. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan postur tubuh yang tidak seimbang.

J. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN Tn. K

NO DX TUJUAN KRITERIA HASIL INTERVENSI


1. Tupen : 1. Menunjukkan 1. Kaji status
Klien dapat menunjukkan jalan napas yang
pernapasan setiap
rektraksi dinding dada normal paten
setelah dilakukan tindakan 2. Retraksi dinding 4 jam
keperawatan selama 1x24 jam. dada normal 2. Bantu dan
Tupan : 3. Respirasi dalam
ajarkan pasien
Klien dapat mempertahankan pola batas normal
nafas adekuat setelah dilakukan RR : 16- melakukan nafas
tindakan keperawatan 3x24 jam 24x/menit
dalam setiap 1
jam.
3. Atur posisi semi
fowler.
4. Auskutasi dada
untuk
mendengarkan
bunyi napas
setiap dua jam.
5. Pantau tanda-
tanda vital setiap
4 jam.

18
2. Tupen : 1. Klien mampu
Klien dapat mendemonstrasikan mengontrol nyeri
teknik nafas dalam untuk 2. Klien 1. Kaji
mengurangi nyeri setelah melaporkan
dilakukan tindakan keperawatan bahwa nyeri tipe, intensitas,
1x24 jam berkurang dan lokasi nyeri.
Tupan : 3. Klien 2. Atur
Klien dapat melaporkan nyeri menyatakan rasa
berkurang sampai dengan hilang nyaman posisi yang
setelah dilakukan tindakan 4. Nadi dalam meningkatkan
keperawatan 3x24 jam rentang normal
Nadi : 60- rasa nyaman.
100x/menit 3. Pertah
ankan
lingkungan yang
tenang.
4. Ajark
an relaksasi dan
teknik distraksi.
5. Anjur
kan latihan
postural secara
rutin.
6. Kalob
orasi pemberian
analgetik.

19
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Skoliosis merupakan masalah ortopedik yang sering terjadi adalah pelengkungan
lateral dari medulla spinalis yang dapat terjadi di sepanjang spinal tersebut.
Skoliosis dibagi dalam dua jenis yaitu struktural dan bukan struktural. Penyebab
terjadinya skoliosis belum diketahui secara pasti, tapi dapat diduga dipengaruhi
oleh diantaranya kondisi osteopatik, seperti fraktur, penyakit tulang, penyakit
arthritis, dan infeksi.Scoliosis tidak hanya disebabkan oleh sikap duduk yang
salah. Komplikasi pada skoliosis meliputi Kerusakan paru-paru, jantung dan sakit
tulang belakang.

4.2 Saran
Kami menyadari dalam pembuatan laporan ini masih banyak kekurangan dan jauh
dari kesempurnaan. Penulis juga meminta kritik dan saran yang membangun dan
mengembangkan laporan ini. Perawat harus banyak membaca dan memperbanyak
referensi sehingga meningkatkan pengalaman tentang skoliosis, oerawat harus
teliti dan selalu memantau perkembangan pasien dan pasien membekali pasien
dengan pengetahuan tentang skoliosis.

20