Anda di halaman 1dari 30

MAKALAH

TEORI AKUNTANSI

ASET

KELOMPOK 6

Atika Restu 1410531062

Edo Suganda 1410531047

Nadia Aisyah 1410531077

Sherly Nadia Putri 1410531071

JURUSAN AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS ANDALAS

ASET
PENGERTIAN

FASB mendefinisi aset dalam rerangka konseptualnya sebagai berikut :

Aset adalah manfaat ekonomik masa datang yang cukup pasti yang diperoleh atau
dikuasai/dikendalikan oleh suatu entitas sebagai akibat transaksi atau kejadian masa
lalu.

IASC mendefinisi aset sebagai berikut :

An asset is a resource controlled by the enterprise as a result of past events and from
which future economic benefitsbare expected to flow to the enterprise.

Australian Accouting Standards Board (AASB) mendefinisi aset sebagai berikut :

Assets are service potential or future economic benefits controlled by the reporting entity
as a result of past transaction or other past events.

Definisi FASB dan AASB cukup luas dibanding definisi yang lain karena aset disifati
sebagai manfaat ekonomik dan bukan sebagai sumber ekonomik karena manfaat ekonomik tidak
membatasi bentuk atau jenis sumber ekonomik yang dapat dimasukkan sebagai aset. Definisi
tersebut tidak membedakan antara aset real dan aset finansial dan antara sumber ekonomik dan
non sumber ekonomik.

APB No. 4 merinci aset yang digolongkan sebagai sumber ekonomik sebagai berikut :

1. Sumber produktif

Sumber produktif kesatuan usaha yang meliputi bahan baku, gedung, pabrik,
perlengakapan, sumber alam, paten, dan semacamnya, jasa, dan sumber lain yang
digunakan dalam produksi barang dan jasa.
Hak kontraktual atas sumber produktif melalui semua hak untuk menggunakan sumber
ekonomik pihak lain dan hak untuk mendapatkan barang atau jasa dari pihak lain.
2. Produk yang merupakan keluaran kesatuan usaha terdiri dari :

Barang jadi yang menunggu penjualan


Barang dalam proses
3. Uang

4. Klaim untuk menerima uang

5. Hak kepemilikan atau investasi pada perusahaan lain.

APB menggolongkan bentuk atau jenis aset selain yang disebut diatas sebagai nonsumber
ekonomik meskipun tetap masuk dalam pengertian aset. Nonsumber ekonomik meliputi beban
atau pengurang pendapatan tangguhan seperti : goodwil, rugi selisih kurs, kos organisasi, dan
beberapa pos yang timbul akibat penyesuaian. IASC memaknai manfaat ekonomik masa datang
bukan sebagai potensi jasa yang sekarang dikuasi badan usaha tetapi sebagai manfaat yang
doharapkan mengalir ke badan usaha. Jadi, manfaat ekonomik yang dimaksud oleh IASC bukan
manfaat yang dikandung oleh sumber ekonomik yang dikuasai tetapi manfaat yang didatangkan
atau yang mengalir ke badan usaha.

KARAKTERISTIK UTAMA ASET

Manfaat Ekonomik
Sebagai aset, suatu objek harus mengandung manfaat ekonomik di masa datang yang
cukup pasti. Ini mengisyaratkan bahwa manfaat tersebut terukur dan dapat dikatikan
dengan kemampuannya untuk mendatangkan pendapatan atau aliran kas di masa datang.
Uang atau kas mempunyai manfaat atau potensi jasa karena apa yang dapat dibeli atau
karena daya tukarnya. Potensi jasa kas dapat ditukarkan dengan potensi jasa apapun yang
diperlukan kesatuan usaha untuk melaksanakan kegiatan ekonomiknya. Kemampuan ini
disebut dengan daya beli uang yang menjadi pengukur manfaat ekonomik masa datang.

Dikuasi oleh Entitas


Sebagai aset, suatu objek atau pos tidak harus dimiliki oleh entitas tetapi cukup dikuasai
oleh entitas. Untuk memiliki suatu objek diperlukan proses yang disebut transfer hak
milik. Bila pemiliknya menjadi kriteria aset, akan banyak pos yang tidak masuk sebagai
aset sehingga tidak dapat dilaporkan dalam neraca. Pemilikan sebagai kriteria akan
mengakibatkan banyak pos dilaporkan diluar neraca.
Konsep penguasaan lebih penting daripada konsep pemilikan. Most mengemukakan
bahwa penguasaan atau kendali terhadap suatu objek dapat diperolah dengan cara :
1. Pembelian
2. Pemberian
3. Penemuan
4. Perjanjian
5. Produksi/transformasi
6. Penjualan
7. Lain-lain seperti pertukaran, peminjaman, penjaminan, pengkonsignaan, dan
berbagai transaksi komersial yang diakui oleh hukum atau kebiasaan bisnis.
Pemilikan sebenarnya hanya merupakan karakteristik pendukung karena hak yuridis yang
melekat menguatkan penguasaan. Pendefinisian aset lebih memfokuskan pada manfaat
ekonomik masa datang yang dikuasi oleh entitas dan baru kemudia pada objek fisis dan
pihak yang menyediakan manfaat. Dua entitas atau lebih dapat menguasai secara
bersama-sama satu objek fisis jasa yang disediakan pihak lain.

Akibat Transaksi atau Kejadian Masa Lalu


Aset harus timbul akibat transaksi atau kejadian masa lalu adalah kriteria utuk memnuhi
definisi tetapi bukan kriteria untuk pengakuan. Jadi manfaat ekonomik dan penguasaan
atau hak atas manfaat saja tidak cukup untuk memasukkan suatu objek kedalam aset
kesatuan usaha untuk dilaporkan via neraca. Penguasaan harus didahului oleh transaksi
atau kejadian ekonomik.
Transaksi atau kejadian masa lalu merupakan syarat perlu tetapi tidak merupakan syarat
cukup untuk pengakuan aset. Syarat perlu harus ditetapkan agar tidak terjadi pengakuan
aset yang bersifat hipotesis. FASB memasukkan transaksi atau kejadian sebagai kriteria
aset karena transaksi atau kejadian tersebut dapat menimbulkan atau meniadakan aset.
Aset atau nilainya dapat dipengaruhi oleh kejadian atau keadaan yang sebagian atau
seluruhnya diluar kemampuan kesatuan usaha atau manajemannya.

KARAKTERISTIK PENDUKUNG ASET


Melibatkan Kos
Meskipun suatu kesatuan usaha umumnya mengeluarkan atau mengorbankan sumber
ekonomik, kos yang terjadi tersebut tidak dengan sendirinya membentuk aset. Esensi aset
lebih terletak pada manfaat ekonomik masa datang daipada terjadinya kos. Walaupun
demikian, terjadinya kos merupakan hal penting untuk mengaplikasi definisi kos karena
dua hal yaitu : (1) sebagai bukti pemrolehan suatu aset dan (2) sebagai pengukur atribut
aset yang cukup objektif.
Berwujud
Keterwujudan bukan kriteria untuk mendefinisi aset. Pada umumnya, pos-pos
takberwujud yang masuk dalam kategori aset lancar tidak disebut sebagai aset tak
berwujud.
Tertukaran
Manfaat ekonomik akan cukup pasti dan terukur kalau suatu sumber ekonomik
mempunyai daya atau nilai tukar. Manfaat ekonomik diturunkan dari daya tukar. Namun
argumen tersebut disanggah karena manfaat ekonomik tidak hanya terletak pada daya
tukar tetapi juga dari daya guna suatu objek untuk di produksi. Hampir sebgaian besar
aset manfaatnya didapat dari pengunaan daripada pertukaran.
Terpisahkan
Syarat diajukan berkaitan dengan ketertukaran .Untuk dapat ditukarkan suatu sumber
ekonomik harus dapat dipisahkan dengan sumber ekonomik yang lain atau berdiri sendiri.
Namun ada pihak yang menentang syarat keterpisahan karena ketertukaran dan
keterpisahannhanyalah merupakan syarat untuk memperoleh manfaat suatu aset.
Berkekuatan Hukum
Memang pada umumnya, kemampuan suatu entitas untuk menguasai manfaat ekonomik
timbul akibat hak-hak hukum. Hak paksa yang melekat pada hak-hak hukum bukan
merupakan syarat mutlak untuk mengakui adanya aset kalau suatu entitas dapat
memperoleh dan menguasai manfaat dengan cara lain.

PENGUKURAN
Pengukuran adalah penentuan jumlah rupiah yang harus dilekatkan pada suatu objek aset
pada saat terjadinya yang akan dijadikan data dasar untuk mengikuti aliran fisis objek tersebut.
Dengan konsep kontinuitas usaha, pos atau sumber ekonomik akan mengalami tiga tahap
perlakuan sejalan dengan kegiatan usaha yaitu tahap pemrolehan, pengolahan dan penjualan.
Sebagai aliran informasi, kos juga mengalami tiga tahap perlakuan akuntansi mengikuti aliran
fisis yaitu :
1. Pengukuran, pengakuan, dan klasifikasi pertama kali pada saat terjadinya. Untuk
selanjutnya seluruh kegiatan dalam tahap ini disebut pengukuran saja.
2. Pencatatan berikutnya dalam rangka mengikuti aliran fisis aset berupa alokasi, distribusi,
dan penggabungan untuk kepentingan internal/ manajerial atau untuk kepentingan
pengkosan produk. Untuk selanjutnya seluruh kegiatan dalam tahap ini disebut
penelusuran.
3. Pembebanan ke pendapatan perioda berjalan atau perioda-perioda yang akan datang. Kos
yang belum menjadi beban pendapatan akan tetap melekat pada objek menjadi aset badan
usaha. Untuk selanjutnya seluruh kegiatan dalam tahap ini disebut pembebanan ke
pendapatn.
Gambar tersebut menunjukkan bahwa secara konseptual suatu sumber ekonomik harus
diperlakukan dahulu sebagai aset tersebut dianggap telah keluar dari kesatuan usaha dan
mendatangkan pendapatan. Walapun demikian, secara teknis pembukuan atau karena alasan
kepraktisan, dapat saja suatu sumber ekonomik langsung dicatat sebagai upaya (biaya)
sehingga kosnya langsung didebit ke akun biaya tanpa melalui akun aset. Bila suatu
pengeluaran sumber ekonomik yang mengukur kos suatu objek dicatat sebagai aset, tia
dikategori menjadi pengeluaran untuk kapital sedangkan kalau tia dicatat sebagai biaya, tia
dikategori sebagai pengeluaran untuk pendapatan. Perlu ditegaskan lagi bahwa kos adalah
pengukur sedangkan aset dan biaya adalah elemen yang diukur.

Bila suatu pengeluaran langsung dicatat sebagai biaya, secara konseptual dianggap bahwa kos
objek bersangkutan dicatat sebagai aset kemudian pada saat yang sama kos tersebut langsung
dipindah ke biaya. Secara konseptual kos semua sumber ekonomik yang diperolah dianggap
telah diperlakukan sebagai aset walaupun hanya sesaat. Sementara, kos juga melekat pada biaya
sehingga biaya sering disebut sebagai kos saja. Karena kos merepresentasi manfaat ekonomik,
bila kos diperlakukan sebagai aset, kos itu disebut dengan kos belum dengan kos belum habis
atau takterhabiskan (unexpired cost) artinya kos yang belum habis dimanfaatkan dalam
menghasilkan pendapatan. Bila manfaat ekonomik telah digunakan dalam mendatangkan
pendapatan bagian dari kos aset yang merepresentasi manfaat yang telah dihabiskan disebut
dengan kos terhabiskan (expired cost) dan menjadi pengukur biaya.

Kos Sebagai Pengukur dan Bahan Olah Akuntansi

Dalam arti luas kos mempunyai makna sebagai agregat harga dalam pemerolehan suatu aset.
Penghargaan sepakatan (kos) dalam transaksi antarpihak independen menjadi dasar pengukuran
karena jumlah rupiah tersebut dianggap cukup terandalkan untuk mendekati/mengaproksikan
nilai sebenarnya atau nilai wajar suatu objek pada saat transaksi. Penghargaan sepakatan
merupakan pengukur aset pada saat pemerolehan yang palling objektif. Kos yang didasarkan atas
penghargaan sepakatan lebih terandalkan karena penyebarannya lebih terpusat atau variansi lebih
kecil atau sempit daripada kos yang didasarkan atas penilaian secara subjektif atau selain
penghargaan sepakatan. Dengan kata lain, kos atas dasar penghargaan sepakatan lebih akurat
daripada atas dasar yang lain.

Penghargaan Sepakatan Sebagai Bukti

Transaksi pertukaran (jual-beli) dapat dijadikan landasan untuk menentukan kos yang
terandalkan karena penghargaan sepakatannya didasarkan atas mekanisme pasar yang bebas
sehingga itu menjadi bukti validitas pengukuran kos lebih-lebih dalam mekanisme pasar
sempurna (perfect market). Telah disinggung di atas bahwa mekanisme pasar bebas menjamin
dan menghendaki agar:

(a) Pihak bertransaksi sama-sama berkehendak dan bebas tanpa tekanan atau ancaman.

(bi Pihak bertransaksi samasama berkemampuan memperoleh informasi secara bebas.

(c) Barang yang dipertukarkan cukup standar (umum) dan tersedia cukup banyak di pasar bebas.
Dengan kata lain, cukup banyak penjual dan pembeli sehingga tak seorangpun cukup kuat untuk
mempengaruhi harga.
Jadi, bila kondisikondisi di atas tidak dipenuhi, penghargaan sepakatan yang terjadi tidak dapat
diterima begitu saja sebagai pengukur kos yang objektif Walaupun demikian, berdasarkan
konsep dasar relativitas bukti (verifiable objective evidence) dapat dianggap bahwa penghargaan
yang akhirnya dicapai merupakan bukti yang terbaik diperoleh (best obtainable) sebagai dasar
penentuan kos.

Pengukuran Kos

Dalam praktiknya,pemerolehan aset merupakan proses an yang tidak terjadi begitu saja selesai
dalam satu kegiatan tetapi tertidiri atas serangkaian kegiatan misalnyanya menempatkanan
order,menerima barang, meneliti kecocokan, mengangkut barang, mencoba barang, menyimpan
atau menempatkan barang, dan akhirnya menggunakan barang tersebut. Tiap kegiatan biasanya
melibatkan pengorbanan sumber ekonomik.Oleh karena itu, besar kecilnya kos yang harus
dicatat pertama-kali sebagai pengukur aset pada saat perolehan ditentukan oleh dua hal yaitu:
(1)batas kegiatan yang disebut pemerolehan dan (2) jenis penghargaan.

Batas Kegiatan

Batas kegiatan berkaitan dengan masalah unsur pengorbanan sumber ekonomik


(kegiatan) apa saja yang membentuk kos suatu aset. Secara teoretis dan sebagai ketentuan umum,
batas akhir kegiatan untuk memasukan unsur kos sebagai bagian dari kos aset adalah saat
dimulainya penggunaan aset. Dengan kata lain, secara konseptual pembentuk kos suatu aset
(baik berwujud atau tidak) adalah semua pengeluaran (pengorbanan sumber ekonomik) yang
terjadi atau yang diperlukan akibat kegiatan pemerolehan suatu aset sampai tia ditempatkan
dalam kondisi siap dipakai atau berfungsi sesuai dengan tujuan pemerolehannya.

Misalnya, jumlah rupiah pengeluaran untuk balik nama pembelian sebidang tanah dan
jumlah rupiah pengeluaran untuk mempersiapkan tanah tersebut harus dimasukkan sebagai kos
total tanah tersebut. Bila sebuah gedung dibangun sendiri dengan menggunakan fasilitas yang
dimiliki perusahaan sendiri maka hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa semua jumlah rupiah
yang terjadi yang cukup beralasan untuk dikaitkan dengan pembangunan gedung tersebut, seperti
misalnya jasa arsitek dan pengeluaran tak langsung (overhead) lainnya, harus dimasukkan
sebagai kos bangunan tersebut. Jumlah rupiah pengeluaran untuk menyimpan dan
mengasuransikan barang dagangan selama dalam perioda persiapan untuk dijual adalah bagian
dari kos barang dagangan tersebut. Pajak dan pengeluaran tambahan lainnya yang wajar yang
berkaitan dengan pembangunan sebuah kawasan pemukiman atau estat real (real estate) selama
perioda pengorganisasian (pengembangan) dan pembangunan sampai siap dipakai atau dijual
adalah jumlah rupiah pengeluaran yang sah dan wajar untuk dilekatkan pada kos estat real
tersebut.

Jenis Penghargaan
Masalah ini berkaitan dengan penentuan kos utama yang harus dicatat. Dalam transaksi
pertukaran,penghargaan sepakatan dapat dinyatakan dalam berbagai bentuk sumber ekonomik
atau instrumen yang diserahkan oleh pemeroleh aset,.Instrumen tersebut dapat berupa misalnya
uang tunai atau barang atau lainnya (misalnya saham atau obligasi). Bentuk instrumen
mempengaruhi dasar penentuan kos utama. Pemerolehan aset dapat terjadi dari transaksi atau
kejadian yang melibatkan kas atau nonkas.

Agar penghargaan yang telah disetujui dapat dicatat dalam sistem akuntansi,
penghargaan tersebut harus dinyatakan dalam satuan uang. Persyaratan ini akan mudah
dilakukan kalau penghargaan tersebut berrwujud uang tunai (kas). Seluruh jumlah rupiah yang
disepakati sebagai penghargaan pada saat transaksi akan membentuk kos yang paling objektif
karena tidak lagi melibatkan interpretasi atau pertimbangan penilaian. Bila transaksi terjadi
dalam mekanisme pasar bebas antara pihak independen, kos tunai (cash cost) adalah pengukur
aset yang paling valid dan objektif.

Kalau sumber ekonomik nonkas merupakan penghargaan yang digunakan dalam


transaksi,pengukur yang ideal untuk menentukan kos aset yang diperoleh adalah jumlah rupiah
uang tunai yang akan diperoleh seandainya sumber ekonomi tersebut dijual dulu secara tunai
kepada umum. Kos barang atau jasa yang diperoleh secara tunai adalah jelas merupakan jumlah
rupiah uang yang dibayarkan sedangkan kos barang atau jasa yang diperoleh melalui pertukaran
dengan barang atau jasa lain adalah jumlah rupiah tunai yang secara implisit melekat pada nilai
jual barang atau jasa yang diserahkan dalam pertukaran tersebut. Jumlah rupiah melekat ini
disebut jumlah setara tunai (money or cash equivalent) atau kos tunai terkandung atau implisit
(implied cash cost) dari wujud penghargaan yang diserahkan oleh pemeroleh aset.

Kos Dalam Barter. Barter atau pertukaran aset adalah pemerolehan aset (bi sanya aset
berwujud atau nonmoneter) dengan penghargaan berupa aset berwujud atau nonmoneter lainnya.
Bila hal ini terjadi, pengukuran aset yang diperol bergantung pada apakah aset yang
dipertukarkan sejenis (similar) atau taksejet (dissimilar). Aset sejenis artinya aset yang fungsinya
sama dan tidak harus aset yang identik.Misalnya, truk dan pick-up dianggap sejenis kalau
fungsinya sama-sama untuk pengiriman barang.

Berikut ini disajikan prinsip-prinsip penentuan kos aset yang diterima dalam barter atau
pertukaran.

1. Pertukaran taksejenjis, tanpa pembayaran tombak:

Aset yang diterima dicatat sebesar nilai wajar/pasar aset yang diserahkan atau nilai wajar aset
yang diterima, mana yang lebih mudah atau jelas ditentukan. Untung atau rugi yang timbul
diakui pada saat pertukaran.

2. Pertukaran takseienis, dengan pembayaran tombak:


Aset yang diterima dicatat sebesar nilai pasar aset yang diserahkan ditambah tombok atau nilai
wajar/pasar aset yang diterima. Dalam hal ini, nilai pasar aset yang diserahkan menunjukkan kas
yang akan diterima sean dainya aset tersebut dijual. Untung atau rugi yang timbul diakui pada
saat pertukaran.

3. Pertukaran sejenis, tanpa pembayaran tombak:

Aset yang diterima dicatat sebesar nilai buku atau nilai pasar aset yang diserahkan, mana yang
lebih rendah. Ini berarti bahwa kalau terjadi untung maka untung tidak diakui dan sebaliknya
kalau terjadi rugi, rugi tersebut diakui pada saat transaksi.la

4. Pertukaran sejenis, dengan pembayaran tombak:

Aset yang diterima dicatat sebesar nilai buku aset yang diserahkan ditambah tombok atau nilai
pasar aset yang diserahkan ditambah tombok, mana yang lebih rendah. Ini juga berarti bahwa
kalau terjadi untung maka untung tidak diakui dan sebaliknya kalau terjadi rugi, rugi tersebut
diakui pada saat transaksi.

5. Pertukaran sejenis, dengan penerimaan tombak:

Bila terjadi rugi: Aset yang diterima dicatat sebesar harga pasar aset yang diserahkan dikurangi
kas yang diterima. Ini berarti rugi yang terjadi diakui semua pada saat terjadinya transaksi.

Bila terjadi untung: Aset yang diterima dicatat sebesar nilai buku aset yang diserahkan dikurangi
porsi nilai buku aset yang diserahkan yang dianggap dijual (ditukar dengan kas). Atau, nilai
pasar/wajar aset yang diterima dikurangi untung tangguhan (deferred gain)

Saham Sebagai Penghargaan. Saham sebagai penghargaan merupakan salah satu bentuk
pemerolehan aset dengan barter. Dalam beberapa kasus transaksi yang menggunakan saham
perusahaan sebagai penghargaan untuk barang dan jasa yang diperoleh, nilai nominal ataupun
nilai nyataan (stated value) untuk tiap saham tidak dapat merepresentasi kos yang sebenarnya
(true value) pada saat transaksi.Pengukur yang tepat untuk menentukan kos dalam situasi
semacam itu adalah jumlah rupiah uang tunai yang akan diterima oleh perusahaan seandainya
perusahaan menerbitkan saham-saham yang digunakan untuk penghargaan di atas.

Kos Dalam Reorganisasi. Bila suatu perusahaan sudah berjalan atau beroperasi cukup lama
kemudian mengalami reorganisasi, perusahaan tersebut biasanya tidak mempunyai data kos yang
memadai untuk menentukan kos aset yang dikuasainya. Karena tujuan reorganisasi biasanya
adalah menentukan nilai perusahaan pada saat tersebut, diperlukanlah taksiran nilai yang wajar
seluruh aset perusahaan dengan mempertimbangkan kondisi aset dan keadaan pasar pada waktu
itu. Dalam keadaan semacam itu, pengukuran kos harus didasarkan atas keadaan seakan-akan
perusahaan baru berdiri (fresh start). Jadi, dianggap bahwa aset perusahaan merupakan suatu
kesatuan berbagai aset yang baru saja dibeli.

Hadiah atau Hibah. Masalah khusus timbul bilamana barang atau jasa yang jelas-jelas
mempunyai manfaat ekonomik yang besar diperoleh perusahaan tanpa kos yang berarti atau
dengan kos yang tidak sebanding dengan nilai ekonomik barang yang diperoleh. Gedung dan
tanahnya yang diperoleh perusahaan melalui sumbangan atau hibah adalah contoh pemerolehan
aset tanpa kos. Walaupun demikian, ada alasan yang kuat untuk tetap mencatat kekayaan
tersebut atas dasar kos tunai implisitnya. Alasannya adalah bahwa setiap fasilitas atau faktor
ekonomik yang digunakan dalam operasi perusahaan, tanpa memandang asalnya, harus
diperlakukan dengan saksama sebagai potensi jasa. Oleh karena itu, pengakuan kos yang wajar
diperlukan untuk menentukan secara tepat kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba
(earning power) yang biasanya ditunjukkan oleh tingkat kembalian investasi (rate of return on
investment).

Temuan.Kadangkala terjadi bahwa sualu sumber alam atau sarana ditemukan atau
dikembangkan dan mempunyai nilai ekonomik yang jauh melebihi pengelir mau yang
sebenarnya untuk memperolehnya. Di bidang eksploitasi sumber alam misalnya, tambang
minyak yang sangat berharga ditemukan dengan pekerjaan eksplorasi dengan kos nominal
(cukup rendah dibandingkan dengan hasilnya). Demikian juga, suatu peralatan atau teknik
pemrosesan yang mempunyai harga pasar yang cukup tinggi mungkin dikembangkan dan
didaftarkan hak patennya tanpa suatu pengeluaran yang sebanding dengan nilai pasar temuan
tersebut. Dalam kondisi yang khusus seperti ini, diperlukanlah suatu pengukur baru kos atas
dasar jumlah tunai implisit. Jumlah ini adalah jumlah rupiah uang tunai (kas) yang pasti
diperlukan untuk memperoleh sumber alam atau teknik pemrosesan tersebut seandainya
keduanya sudah dalam keadaan siap pakai atau dalam status siap dipasarkan atau
dikomersialkan. Akan tetapi, perlu ditegaskan bahwa hal yang serupa tidak semestinya dilakukan
begitu saja semata-mata untuk menaikkan nilai aset atas dasar harapan dan peramalan atau untuk
memulai catatan dengan saldo yang baru. Jadi, harus ada alasan yang kuat atau kondisi yang
khusus untuk dapat melakukan pengukuran seperti di atas. Pemerolehan aset melalui sumbangan
ataupun temuan akan menimbulkan tambahan modal pemegang saham.

Kos Dalam Pembelian Kredit.Dengan sistem kredit, nilai waktu uang menjadi faktor yang
sangat penting dalam mengukur kos yang sebenarnya (true cost). Kos yang sebenarnya dalam
transaksi kredit bukanlah berapa nilai kontrak yang harus dilunasi dalam beberapa kali angsuran
tetapi berapa kos yang sebenarnya pada saat transaksi. Kekeliruan sering terjadi karena anggapan
bahwa nilai nominal atau nilai jatuh tempo utang menunjukkan kos barang atau jasa yang dibeli
dan memang dalam beberapa kasus hal ini cukup beralasan karena kepraktisan dan materialitas.
Meskipun demikian, kalau barang atau jasa dibeli secara kredit, maka kos yang sebenarnya
adalah harga tunai implisit. Harga tunai implisit tersebut ditentukan atas dasar jumlah rupiah
yang diperlukan seandainya utang tersebut dilunasi pada saat transaksi. Dalam hal pembayaran
dilakukan dengan surat wesel, surat obligasi, atau surat tanda utang lainnya maka jumlah rupiah
tunai implisit diukur dengan jumlah rupiah uang tunai yang akan diterima seandainya surat
berharga tersebut diterbitkan atau dijual secara umum pada saat memperoleh aset.

Pada umumnya, perusahaan tidak berusaha untuk menentukan harga tunai efektif baik
dengan cara menanyakan langsung ke toko penjual barang ataupun dengan cara mendiskun nilai
kontrak dengan tarip bunga yang berlaku. Kalau ini terjadi maka akibatnya adalah bahwa kos
tercatat terlalu tinggi. Walaupun demikian, kalau jangka waktu kontrak adalah pendek (short-
terms) maka jumlah kelebihan kos adalah kecil dan tidak cukup berarti sehingga nilai kontrak
dapat dianggap sebagai jumlah rupiah tunai sebagai dasar untuk mencatat kos.

Potongan Tunai dan Keringanan.Kos akan tercatat terlalu tinggi kalau potongan tunai (cash
discount) dan keringanan-keringanan (allowances) lain tidak dikurangkan terhadap harga
kesepakatan. Secara teknis pembukuan, memang dimungkinkan untuk sementara mendebit harga
faktur bruto ke dalam akun aset yang bersangkutan dan nantinya harus dilakukan penyesuaian
untuk mengurangi jumlah yang tercatat tersebut menjadi jumlah setara tunainya. Potongan yang
dimanfaatkan oleh pembeli sering dianggap sebagai laba. Hal ini tidak sejalan dengan konsep
yang mendasarinya yaitu bahwa laba tidak diperoleh melalui proses pembelian atau pemerolehan
potensi jasa. Pembelian semata-mata merupakan langkah pertama dalam upaya (effort) untuk
menghasilkan pendapatan (laba).

Dengan begitu, harga yang sesungguhnya mestinya adalah harga tunai neto (net cash
price). Pencatatan kos atas dasar harga tunai neto sering tidak dilakukan karena kebiasaan
mencatat transaksi dalam jumlah rupiah yang tercantum dalam faktur.

Rugi Dalam Pemerolehan Aset

Sebelum pendapatan terjadi yang ditimbulkan oleh upaya yang direpresentasi oleh biaya, kos
semata-mata mengalami penghimpunan, penggabungan dan reklasifikasi. Kos yang terhimpun
tersebut tetap merepresentasi aset kalau aset tersebut belum dikeluarkan sebagai biaya. Akan
tetapi, dapat terjadi bahwa karena sesuatu hal (atau keadaan yang tidak normal) potensi jasa
tertentu menjadi tidak mempunyai lagi kemampuan atau daya dalam menghasilkan pendapatan
pada waktu mendatang. Dalam keadaan semacam itu,dapat dikatakan bahwa manfaat ekonomik
telah hangus atau menguap merupakan rugi. Sebelum kos potensi jasa dinyatakan hangags maka
sebenarnya dapat dikatakan bahwa kos tersebut statusnya adalah menunggu perlakuan berikutnya
(in suspense) .Rugi dapat saja terjadi sebelum penjualan dilakukan atau sebelum perusahaan
mulai berproduksi

Jadi dapat disimpulkan bahwa, kecuali karena hal-hal yang tidak normal yang
mengharuskan kos yang terjadi segera diakui sebagai rugi yang dapat terjadi pada tahapan
kegiatan usaha manapun, semua kos yang terjadi merupakan aset atau merupakan bagian dari
jumlah rupiah total aset perusahaan paling tidak dalam beberapa saat. Berbagai kos tersebut
dapat merepresentasi objek fisis maupun nonfisis. Tiap aset yang direpresentasi dengan kos
tersebut berbeda dalam hal kecepatannya untuk diserap habis sebagai pengurang atau beban
pendapatan.

Penilaian

Pengukuran (measurement) adalah penentuan angka satuan pengukur terhadap suatu objek untuk
menunjukkan makna tertentu objek tersebut. Objek dapat berupa barang, jasa, binatang, tubuh
manusia, dan banda atau konstruk lainnya. Makna (attribute) dapat berupa nilai, luas, berat,
voluma, tinggi, umur, indeks prestasi, dan sebagainya. Kalau unit moneter dijadikan satuan
pengukur untuk menunjukkan makna ekonomik suatu objek maka pengukuran disebut dengan
penilaian.Jadi, penilaian adalah proses penentuan jumlah rupiah suatu objek untuk menentukan
makna ekonomiknya dimasa lalu, sekarang ,atau mendatang

Di dalam akuntansi, istilah pengukuran dan penilaian sering tidak dibedakan karena
adanya asumsi bahwa akuntansi menggunakan unit moneter untuk mengukur makna ekonomik
suatu objek, pos, atau elemen. Pengukuran biasanya digunakan dalam akuntansi untuk menunjuk
proses penentuan jumlah rupiah yang harus dicatat untuk objek pada saat pemerolehan. Penilaian
biasanya digunakan untuk menunjuk proses penentuan jumlah rupiah yang harus dilekatkan pada
tiap elemen atau pos statemen keuangan pada saat penyajian.

Dalam penilaian suatu pos untuk tujuan penyajian, akuntansi dapat menggunakan
berbagai dasar penilaian (bases for valuation) bergantung pada makna yang ingin direpresentasi
melalui pos statemen keuangan. Penilaian pos aset di maksudkan untuk menentukan berapa
jumlah rupiah yang harus dilekatkan pada tiap pos aset dan apa dasar penilaiannya. Ada berbagai
dasar penilaian yang dapat digunakan untuk tujuan pelaporan aset dalam rangka menyediakan
informasi yang dapat membantu para pemakai untuk mengevaluasi posisi keuangan dan unt tuk
memprediksi aliran kas di masa mendatang.

Tujuan Penilaian Aset

Karena aset merupakan elemen pembentuk posisi keuangan sebagai informasi semantik bagi
investor dan kreditor, tujuan penilaian aset harus berpaut dengan tujuan pelaporan
keuangan.Tujuan pelaporan keuangan adalah menyediakan informasi yang dapat membantu
investor dan kreditor dalam menilai jumlah, saat, dan ketldakpastian aliran kas bersih ke badan
usaha.Oleh karena itu, dasar pehilaian asset akan relevan kalau penilaian tersebut dikaitkan
dengan aliran kas ke badan usaha. Aliran kas bersih ke badan usaha dapat diprediksi melalui
informasi semantik berupa:posisi keuangan, profitabilitas, likuiditas, dan solvensi yang
penentuannya melibatkan penilaian asset.Jadi, tujuan penilaian aset adalah mere presentasi
atribut pos-pos aset yang berpaut dengan tujuan pelaporan keuangan dengan menggunakan basis
penilaian yang sesuai.
Konsep dan Basis Penilaian

Hendriksen dan Van Breda (1992) membahas konsep dan dasar penilaian aset untuk tujuan
pelaporan keuangan dari dua dimensi yaitu arah aliran aset dan waktu.Karena aset merupakan
komponen penentu posisi keungan pada saat tertentu, basis pengukuran untuk menilai aset pada
saat tersebut yang paling valid adalah harga atau nilai pertukaran (exchange prices atau values).
Hal ini sejalan dengan konsep dasar penghargaan sepakatan yang sebenarnya sama dengan
harga/nilai pertukaran.Nilai pertukaran dijadikan basis karena dianggap objektif sehingga
memenuhi kualitas keterandalan (reliability) informasi. Pertukaran melibatkan sumber ekonomik
masuk dan sumber ekonomik keluar kesatuan usaha. Oleh karena itu bila suatu aset telah ada
dalam atau dikuasai oleh kesatuan usaha, pada saat menyajikan masalah penilaiannya adalah
dengan dasar apa aset tersebut harus dilekati nilai pertukaran untuk merepiesentasi makna atau
atribut secara tepat.Nilai pertukaraii itu sendiri dapat dipandang dari dua sisi yaitu pertukaran
dalam pemeroleh dan pertukaran dalam pemanfaatan asset(dikonsumsi atau dijual).Nilai yang
diperoleh atas dasar pertukaran dalam pemerolehan disebut dengan nilai masukan(input/entry
values atau exchange input values) sedangkan yang diperoleh dan pertukaruemanfaatan disebut
nilai keluaran (output/exit ualue atau exchange output value)

Walaupun penyajian aset adalah untuk saat tertentu yang dalam dimensi waktu dapat
diletakkan sebagai titik sekarang (current), nilai pertukaran yang dapat dijadikan basis penilaian
dapat nilai pertukaran masa lalu (past) atau masa mendatang (future). Dimensi waktu dan arah
(pemerolehan atau pemakaian) menghasilkan enam basis pengukuran sebagaimana dikemukakan
Hendriksen dan Van Breda (1992, hlm. 489) yaitu: kos historis (historical costs), kos pengganti
(replacement costs), kos harapan (expected costs), harga jual masa lalu (past selling prices),
harga jual sekarang (current selling prices), dan nilai terealisasi harapan (expected realizable
values). Gambar 6.4 berikut menyarikan hubungan antara berbagai dasar pengukuran tersebut.

Gambar 6.4

Basis Pengukuran Dalam Dimensi Waktu dan Aliran Aset

Nilai Masukan Nilai Keluaran


Masa lalu kos historis harga jual masa lalu
Sekarang kos pengganti harga jual sekarang
Masa datang kos harapan nilai terealisasi
harapan

Dasar di atas lebih diarahkan untuk mencapai keterandalan penilaian atas dasar nilai
pertukaran. Pos-pos tertentu lebih objektif atau terandalkan penilaiannya kalau didasarkan atas
nilai masukan sedangkan pos-pos lainnya lebih terandalkan kalau didasarkan atas nilai keluaran.

Karena pemakai dianggap berkepentingan dengan aliran kas bersih, penilaian aset harus
berpaut atau relevan dengan kepentingan tersebut. Bila aliran kas menjadi basis pengukuran.
aliran kas tersebut harus cukup pasti atau jelas melekat pada pos aset yang diukur. Pada
umumnya, pos-pos aset moneter dapat ditukarkan dengan atau berubah menjadi kas dengan
cukup pasti sehingga . penilaiannya dapat didasarkan pada nilai keluaran (nilai aliran kas bila pos
tersebut keluar atau dijual). Sementara itu, pos-pos aset yang lain dapat ditentukan dengan cukup
pasti aliran kas keluarnya sehingga dapat diukur atas dasar nilai masukan (nilai aliran kas bila
aset masuk atau diperoleh). Oleh karena itu, gambar di atas dapat dilukiskan kembali secara
diagramatis dalam konteks objektivitas penilaian dan relevansi_aliran kas dalam Gambar 6.5 di
bawah ini. Pemilihan nilai masukan atau keluaran 'untuk penilaian pos saat harus
dipertimbangkan bersamaan dengan kualitas ketepatan penyimbolan (representational
faithfulness) atribut pos bersangkutan.

Gambar 6.5

Nilai Perlukaran Sebagai Basis Penilaian

Jadi, konsep nilai masukan dan keluaran sebenarnya berkaitan dengan konsep kesatuan
usaha yang dianggap menguasai sumber ekonomik (aset) dan harus mempertanggungelaskan aset
tersebut. Oleh karena itu, yang dimaksud masukan tidak lain adalah transaksi pertukaran
(exchange) dalam rangka memperoleh suatu aset sedangkan keluaran adalah transaksi pertukaran
dalam rangka menjual suatu pos aset atau objek jasa tertentu. Dasar penilaian yang akan
dipilih sebenarnya menggambarkan nilai pertukaran tersebut.

Nilai Masukan

Nilai Masukan didasarkan atas jumlah rupiah yang harus dikeluarkan atau dikorbankan
untuk memperoleh aset atau objek jasa tertentu yang masuk dalam unit usaha.

Beberapa dasar penilaian yan masuk dalam kategori nilai masukan dibahas sebagai
berikut :

a.Kos Historis (Historical Cost)

Kos Historis sebagai nilai masukan merupakan pengukur potensi jasa yang paling
objektif untuk pos aset yang baru diperoleh dan kos yang menunjukkan harga pertukaran pada
saat terjadinya.

Keunggulan dari kos Historis adalah :

-Verifiable(dapat diuji),yaitu kos historis dari sudut konsep penilaian adalah dapat
diujinya hasil penilaian tersebut.

-Reliable(dapat diandalkan),yaitu Kos Historis dapat diandalkan sebagai informasi.

Kelemahan dari kos historis adalah :

Dari segi relevansi informasi,kos historis menjadi kurang kebermanfaatannya karena nilai
aset berubah dengan berjalannya waktu baik akibat perubahan daya beli atau perubahan harga.

Beberapa konsep kos masukan historis :

Kos Bijaksana

Kos bijaksana adalah kos selayaknya yang manajemen bijaksana,atau hati-hati bersedia
membayarnya untuk suatu objek.

Kos Standar

Adalah kos yang seharusnya terjadi dalam kondisi proses produksi tertentu yang
diasumsi.

Kos Asli

Kos asli merupakan kos suatu aset bagi perusahaan yang pertama kali menempatkannya
untuk digunakan dalam layanan publik.Seperti kos bijaksana,kos asli dikenal dalam konteks
layanan publik khususnya bila perusahaan membeli aset bekas dari perusahaan layanan publik
lain.

Kelemahannya : kos asli tidak relevan untuk tujuan penilaian aset karena tidak merefleksi
penghargaan sepakatan.

b.Kos Pengganti (Current Replacement Cost)

-Kos pengganti menunjukkan jumlah rupiah harga pertukaran atau kesepakatan yang
diperlukan sekarang oleh unit usaha untuk memperoleh aset yang sama jenis dan

kondisinya atau penggantinya yang setara(ekuivalennya).

-Harga pertukaran harus ditentukan dari pasar barang yang sekarang digunakan,sehingga
harga pertukaran akan menggambarkan dengan tepat nilai aset bersangkutan.

-Kos pengganti hampir sama konsepnya dengan kos standar sekarang.


Kos standar sekarang adalah berapa kos yang seharusnya untuk menghasilkan suatu produk
dengann kondisi harga,teknologi, dan efisiensi sekarang.
Kos pengganti hanya didasarkan pada harga sekarang tetapi masih tetap didasarkan pada
teknologi dan efisiensi masa lalu.

Beberapa alternatif penilaian lain yang masuk dalam kategori nilai pengganti :

Nilai Penaksiran

Nilai taksiran kos sekarang atau nilai sekarang yang ditentukan dengan prosedur dan
analisis sistematik oleh pihak independen yang kompeten.

Nilai Wajar

Nilai wajar secara umum berarti jumlah rupiah yang dapat diterima untuk suatu objek
dalam suatu transaksi antara pihak-pihak yang berkehendak bebas tanpa tekanan atau
keterpaksaan.

Nilai terealisasi bersih dikurangi laba normal

Adalah nilai yang diharapkan merepresentasi kos pengganti bila data untuk menentukan
kos pengganti tidak tersedia.

c.Kos Harapan

adalah nilai pengorbanan ekonomik di masa datang seandainya potensi jasa aset tersebut
diperoleh secara bagian demi bagian dan bukan sekaligus,atau nilai sekarang untuk pembayaran
kas dimasa mendatang.
Nilai Keluaran

Yaitu nilai yang didasarkan pada jumlah rupiah kas atau penghargaan lainnya (non kas)
yang diterima suatu unit usaha apabila suatu aset atau potensi jasa akhirnya keluar dari unit
usaha melalui proses pertukaran atau konversi.

Penilaian ini lebih berpaut dengan aset yang tujuannya adalah untuk dijual atau
dikonversi menjadi kas dan bukan digunakan untuk kegiatan produksi.

Ada beberapa dasar penilaian yang masuk ke dalam kategori nilai keluaran ,yaitu:

a.Harga Jual Masa Lalu

Harga jual masa lalu sebenarnya menunjukkan kas yang cukup pasti akan diterima dari
pertukaran/konversi suatu pos aset yang timbul karena adanya suatu transaksi di masa lalu.Harga
jual masa lalu merupakan salah satu bentuk khusus penilaian yang disebut nilai terealisasi
neto.Nilai terrealisasi neto adalah seluruh kas yang akhirnya berhasil diperoleh atas konversi
piutang atau penjualan barang dagangan sampai tuntas transaksinya.Harga jual masa lalu
contohnya yaitu piutang usaha.

b.Harga Jual Sekarang

Harga jual sekarang didasarkan pada anggapan bahwa perusahaan akan berlangsung terus
dan transaksi dilaksanakan dalam pasar yang normal.Bila tidak ada pasar regular,penilaian dapat
ditentukan atas dasar nilai likuidasi.Nilai likuidasi hanya dapat digunakan apabila kondisi berikut
dipenuhi :

1.Bila produk atau potensi jasa lainnya telah berkurang manfaat normalnya lantaran
menjadi usang atau tidak laku lagi dipasarkan.

2.Bila unit usaha merencanakan untuk menutup usaha dalam waktu dekat sehingga tidak
dapat menjual seluruh potensi jasa unit usaha dalam pasar yang normal sehingga perusahaan ada
didalam posisi tawar menawar yang lemah.

Nilai jual sekarang sebenarnya didasari oleh konsep setara tunai sekarang.Nilai ini
menunjukkan jumlah rupiah kas atau daya beli yang dapat direalisasi dengan cara menjual setiap
jenis aset dipasar bebas dalam kondisi perusahaan melikuidasi (menjual) asetnya secara
normal.Kelemahannya adalah : tidak semua aset mempunyai pasar (untuk barang tangan kedua)
dan harga pasar kutipan sehingga hasil pengukuran kurang terandalkan.

c.Nilai Terrealisasi Harapan

Secara semantik,nilai terealisasi harapan suatu aset adalah penerimaan kas atau potensi
jasa masa datang yang jumlah dan waktunya cukup pasti.Untuk penilaian sekarang suatu
aset,nilai terealisasi harapan harus didiskun menjadi nilai terrealisasi harapan sekarang atau
penerimaan kas/potensi jasa masa datang diskunan.

Contohnya :investasi dalam obligasi,piutang wesel jangka panjang,dan deposito


berjangka.

Untuk penilaian aset secara individual,dasar penilaian ini mengandung beberapa


kelemahan yaitu:

1.Kalau tidak ada pasar untuk aset bersangkutan,penentuan aliran kas masa datang
bersifat subjektif sehingga sulit diverifikasi.

2.Pemilihan tarif yang cukup representatif untuk merefleksi risiko tiap aset sangat
problematik.

3.Aliran kas perusahaan dihasilkan oleh seluruh aset sebagai satu kesatuan dalam
menghasilkan produk yang akhirnya dijual untuk mendatangkan kas.

4.Memperkuat alasan 3 diatas,beberapa aset memang tidak terpisahkan sehingga nilai


sekarang seluruh aset tidak akan sama dengan penjumlahan semua kas masa datang diskunan
tiap pos aset.

Kos atau Pasar yang Lebih Rendah

Penilaian atas dasar kos atau pasar yang lebih rendah (KAPYLR) atau cost or market
whichever is lower(COMWIL) atau lower of cost or market(LO-COM) ini merupakan kombinasi
nilai masukan dan keluaran karena pengertian pasar dalam hal ini dapat berarti pasar barang
masukan atau keluaran.

Untuk sediaan barang,pasar mengacu ke nilai masukan karena barang biasanya dijual
pada pasar yang berbeda dengan harga lebih tinggi.

Sementar itu,untuk surat-surat berharga pasar mengacu ke nilai keluaran karena surat
berharga dijual-belikan pada pasar yang sama sehingga kos dan harga jual keduanya dipandang
sebagai nilai atau harga keluaran.

Secara teoritis,penilaian atas dasar kos atau pasar yang lebih rendah mempunyai banyak
kelemahan sehingga mengundang banyak kritik.Penilaian ini dianggap lemah secara teoritis
karena alasan berikut:

1.konservatisma cenderung merendahkan aset total.

2.lebih rendahnya sediaan akhir pada suatu perioda akan berakibat lebih rendahnya
biaya(dalam bentuk kos barang terjual) pada perioda berikutnya sehingga laba menjadi lebih
tinggi.
3.terjadi inkonsistensi penilaian baik dalam suatu tahun atau antarperioda.

4.salah satu argumen digunakannya metoda KAPYLR adalah bila terjadi penurunan
manfaat akibat kerusakan,keusangan,perubahan harga,atau kemampuan mendatangkan laba
maka selayaknyalah bahwa kos juga harus diturunkan.

Penilaian Menurut FASB

Bila dikaitkan dengan aset,dasar penilaian menurut FASB (SFAC No.5,prg.67) dapat
diartikan sebagai berikut:

a.Historical Cost.

Tanah,gedung,perlengkapan,perlengkapan pabrik,dan kebanyakan sediaan dilaporkan


atas dasar kos historisnya yaitu jumlah rupiah kas atau setaranya yang dikorbankan untuk
memperolehnya.Kos historis ini tentunya disesuaikan dengan jumlah bagian yang telah
didepresiasi atau diamortisasi.

b.Current (replacement) cost.

Beberapa sediaan disajikan sebesar nilai sekarang atau penggantinya yaitu jumlah rupiah
kas atau setaranya yang harus dikorbankan kalau aset tertentu yang sejenis diperoleh sekarang.

c.Current Market Value

Beberapa jenis investasi dalam surat berharga disajikan atas dasar nilai pasar sekarang
yaitu jumlah rupiah kas atau setaranya yang dapat diperoleh kesatuan usaha dengan menjual aset
tersebut dalam kondisi perusahaan yang normal (tidak akan dilikuidasi).

d.Net Realizable Value.

Beberapa jenis piutang jangka pendek dan sediaan barang disajikan sebesar nilai
terealisasi bersih yaitu jumlah rupiah atau kas atau setaranya yang akan diterima (tanpa didiskun)
dari aset tersebut dikurangi dengan pengorbanan (kos) yang diperlukan untuk mengkonversi aset
tersebut menjadi kas atau setaranya.

e.Present (or discounted) value of future cash flows.

Piutang dan investasi jangka panjang disajikan sebesar nilai sekarang penerimaan kas
dimasa mendatang sampai piutang terlunasi (dengan tarif diskun implisit) dikuramgi dengan
tambahan kos yang mungkin diperlukan untuk mendapatkan penerimaan tersebut.

Pengakuan

Suatu jumlah rupiah atau kos diakui sebagai aset apabila jumlah rupiah tersebut timbul
akibat transaksi,kejadian,atau keadaan yang mempengaruhi aset.
Dengan mengutip Sterling,Belkaoui (1993,hl .194-195) menunjukkan kondisi perlu
(necessary) dan kondisi cukup (Sufficient) yang merupakan penguji (tests) yang cukup rinci
untuk mengakui aset yaitu :

1.Deteksi adanya aset.

2.Sumber ekonomik dan kewajiban

3.Berkaitan dengan entitas

4.Mengandung nilai

5.Berkaitan dengan waktu Pelaporan

6.Verifikasi

Beban Tangguhan

Beban tangguhan memiliki makna sebagai kos yang ditunda pembebanannya atau pendebitannya
ke pendapatan pada periode berjalan dan baru akan dibebankan ke pendapatan pada periode
berikutnya. Oleh karena itu, istilah yang tepat sebenarnya adalah beban pendapatan tangguhan
bukannya beban tangguhan saja.

Kaidah untuk menetapkan apakah suatu kos memenuhi syarat untuk ditangguhkan
pembebannannya ke pendapatan disajikan dalam gambar berikut:
Kaidah ini

merupakan penyederhanaan dari enam kaidah yang telah dijelaskan pada materi pengakuan
sebelumnya.
Kos yang mempunyai karakteristik unik sehingga menimbulkan masalah penangguhan
pembebanan misalnya adalah kos yang terlibat dalam transaksi, kejadian, atau keadaan berikut:

a. Sewaguna

b. Bunga selama masa konstruksi aset tetap

c. Riset dan pengembangan

d. Eksplorasi minyak dan gas bumi

e. Rugi selisih kurs valuta asing atau penjabaran valuta asing

f. Sumber daya manusia

g. Kos organisasi

Sewaguna

Pada mulanya, di Amerika sewaguna digunakan sebagai sarana pemerolehan aset tetap atau
fasilitas fisis tanpa harus menunjukkan utang yang timbul dari pemerolehan tersebut. Praktik
semacam ini, disebut dengan pendanaan lepas-neraca (off-balance-sheet financing), dipandang
tidak sehat dari segi pelaporan keuangan karena terdapat utang yang cukup besar yang tidak
dilaporkan dalam neraca.

FASB mewajibkan untuk mengakui dan melaporkan kewajiban yang timbul dari sewaguna dan
mengakui (mengkapitalisasi) fasilitas yang disewaguna sebagai aset perusahaan kalau secara
substantif perjanjian sewaguna tersebut sebenarnya merupakan pembelian angsuran.

Kriteria yang harus dipenuhi agar suatu sewaguna dapat dinyatakan sebagai pembelian angsuran
( SFAS No. 13, prg. 7):

a. Kontrak sewaguna menyebutkan adanya transfer hak milik barang atau properitas (property)
kepada tersewaguna (lessee) pada akhir jangka sewaguna.

b. Kontrak sewaguna memuat pasal bahwa tersewaguna boleh pilih untuk membeli pada tanggal
yang ditetapkan dalam jangka sewaguna dengan harga yang ditetapkan dan harga tersebut cukup
murah sehingga dapat dipastikan di muka bahwa tersewaguna akan memilih membeli properitas
bersangkutan. Pasal semacam ini disebut bargain purchase option.
c. Jangka sewaguna adalah 75% atau lebih dari sisa umur ekonomik taksiran properitas
sewaguna sejak penandatangana kontrak. Bila sisa umur ekonomik mulai dari penandatanganan
kontrak kurang dari 25% umur ekonomik total, kriteria ini tidak berlaku.

d. Pada saat penandatanganan kontrak sewaguna, nilai sekarang semua pembayaran sewaguna
minimum selama jangka sewaguna adalah sama atau lebih besar dari 90% nilai wajar bersih bagi
pesewaguna (lessor). Nilai wajar bersih bagi pesewaguna adalah nilai wajar dipandang dari sudut
pesewaguna setelah dikurangi dengan kredit pajak investasi, kalau ada, yang menjadi hak
pesewaguna.

Kalau suatu kontrak sewaguna memuat pasal-pasal atau ketentuan-ketentuan yang memenuhi
salah satu atau lebih kriteria di atas maka sewaguna tersebut harus diperlakukan sebagai kontrak
pembelian angsuran dan properitas yang terlibat harus dikapitalisasi. Karena kalau salah satu
pasal di atas dipenuhi, secara substantif kontrak tersebut jelas merupakan pembelian angsuran
walaupun bentuk yuridisnya tampak sebagai sewa-menyewa biasa atau sewaguna operasi.
Bahwa hanya salah satu kriteria yang harus dipenuhi menunjukkan bahwa FASB sangat
menekankan kapitalisasi.

IAI juga mengeluarkan standar untuk mengkapitalisasi sewaguna. Kriteria yang diajukan adalah
(PSAK No. 30, Bab II, prg. 3):

a. Penyewa guna usaha memiliki hak opsi untuk membeli aset yang disewagunausahakanpada
akhir masa sewa guna usaha dengan harga yang disetujui bersama pada saat dimulainya
perjanjian sewa guna usaha.

b. Seluruh pembayaran berkala yang dilakukan oleh penyewa guna usaha ditambah dengan nilai
sisa mencakup pengembalian harga perolehan barang modal yang disewagunausahakan serta
bunganya, sebagai keuntungan perusahaan sewa guna usaha.

c. Masa sewa guna usaha minimum 2 (dua) tahun.

Untuk mengkapitalisasi sewaguna, IAI menetapkan bahwa ketiga kriteria di atas harus dipenuhi.
Kalau salah satu saja kriteria di atas tidak terpenuhi maka sewaguna diperlakukan sebagai
sewaguna operasi.

Jadi, kriteria kapitalisasi menurut PSAK No. 30 adalah lemah bahkan kosong dengan makna
kesubstantifan transaksi sebagai pembelian sehingga kalau suatu sewaguna memenuhi ketiga
kriteria kapitalisasi tersebut maka klasifikasi tersebut akan bersifat arbitrer. Sewaguna yang
memenuhi kriteria tersebut sebagai sewaguna kapital mungkin secara substantif adalah sewaguna
biasa atau sebaliknya yang diklasifikasi sewaguna biasa sebenarnya sewaguna kapital.

Kos Bunga
Kos suatu aset adalah semua pengeluaran (menjadi unsur kos) yang diperlukan untuk
menyiapkan aset tersebut sampai siap dipakai atau dikonsumsi sebagaimana direncanakan.
Masalah yang berkaitan dengan hal ini adalah perlakuan kos bunga sebagai unsur kos fasilitas
fisis (gedung atau pabrik) yang dibangun sendiri. Bila kesatuan usaha membangun sendiri
fasilitas fisis dengan dana pinjaman dan pembangunannya memakan waktu yang cukup lama,
masalahnya adalah apakah kos bunga selama masa pembangunan/konstruksi dapat dikapitalisasi.

FASB menyebutkan bahwa tujuan mengkapitalisasi kos bunga adalah untuk mendapatkan angka
kos pemerolehan yang paling nerefleksi investasi total kesatuan usaha dalam aset dan untuk
membebankan suatu kos yang berkaitan dengan pemerolehan suatu sumber ekonomik yang akan
memberi manfaat di masa datang untuk ditandingkan dengan pendapatan yang dihasilkan oleh
manfaat tersebut agar terjadi penandingan yang tepat terutama bila waktu pembangunan atau
periode pemerolehan cukup lama. Kapitalisasi kos bunga hanya dilakukan apabila manfaat
informasi melebihi kos penyediaan informasi (kos administrasi dalam mengkapitalisasi bunga).

Argumen Pendukung

Beberapa argumen diajukan untuk mendukung kapitalisasi kos bunga:

1. Dengan kesiapan pemakaian atau penggunaan sebagai batas kegiatan pengukuran kos aset, kos
bunga jelas merupakan unsur kos aset. Hal ini sejalan dengan argumen yang ditunjukkan FASB
(SFAS No. 34, prg. 40).

2. Bila kesatuan usaha tidak membangun sendiri fasilitas fisis bersangkutan, penghargaan
sepakatan sebagai kos pemerolehan pada umumnya termasuk pula bunga yang harus dibayar
oleh kontraktor selama pembangunannya.

3. Pembebanan kos bunga langsung pendapatan selama masa konstruksi (periode pemerolehan)
akan mendistorsi laba terutama kalau konstruksi didanai dari pinjaman khusus untuk keperluan
tersebut. Dengan kata lain, pembebanan langsung menyimpang dari konsep penandingan yang
tepat.

4. Kos bunga selama masa pembangunan bukan merupakan kos pendanaan karena kalau
pembangunan didanai dari penerbitan ekuitas baru, kos pendanaan secara konseptual tetap terjadi
dan di geser ke pemegan sahan dalam bentuk dividen yang pembayarannya mungkin ditunda
sampai pembangunan selesai.

Argumen Penolak

Beberapa argumen menolak dikapitalisasinya bunga:


1. Bunga lebih merupakan kos pendanaan daripada unsur kos aset karena perusahaan sebenarnya
dapat menghindari bunga tersebut dengan memilih alternatif pendanaan dengan ekuitas. Hal ini
dibantah dengan argumen pendukung 4 di atas.

2. Dengan konsep nilai setara tunai (cash equivalent) atau nilai sekarang aliran kas diskonan
(discounted future cash outflows) dalam mengukur kos suatu aset, kos pemerolehan suatu
fasilitas fisis seharusnya tidak dipengaruhi oleh kebijakan pemilihan cara pendanaan
pembangunannya. Jadi, secara teoritis, kos suatu fasilitas fisis yang dibangun sendiri oleh suatu
kesatuan usaha yang mendanainya dengan ekuitas seharusnya tidak akan berbeda dengan
fasilitas yang sama yang dibangun perusahaan lain yang mendanainya dengan utang.

3. Dengan konsep kesatuan usaha, bunga lebih bermakna sebagai pembagian laba (setara dengan
dividen) daripada sebagai upaya (effort) untuk memperoleh pendapatan. Mengakui bunga
sebagai kos fasilitas fisis sama saja dengan penyangkalan konsep kesatuan usaha itu dan sama
saja dengan pengakuan kos hipotesis karena mengkapitalisasi bunga (setara dividen) seperti itu
sama saja dengan mengkapitalisasi dividen yang telah dibayarkan sebagai aset.

4. Karena merupakan kos pendanaan yang terpisah dengan kos pemerolehan aset, alokasi kos
bunga ke semua aset nonmoneter hanya akan kecil pengaruhnya terhadap laba periodikkarena
jumlah yang dikapitalisasi dalam suatu periode akan dikompensasi dengan amortisasi bunga
yang dikapitalisasi paxa periode-periode sebelumnya. Dengan demikian, manfaat informasional
tambahan tidak sepadan dengan kos akuntansi dan administratif tambahan sehingga tidak
memenuhi kriteria manfaat > kos dalam karakteristik kualitatif informasi.

Alternatif Pengakuan

Berbagai argumen yang mendukung dan menolak di atas akhirnya menghasilkan berbagai
kemungkinan perlakuan kos bunga selama masa pembangunan.

Beberapa alternatif perlakuan adalah:

1. Bunga tidak dikapitalisasi dan diperlakukan sebagai biaya periode.

2. Bunga dikapitalisasi dan dimasukkan sebagai bagian dari kos fasilitas fisis yang dibangun
sendiri. Jumlah yang dikapitalisasi dapat sebesar:

a. Jumlah rupiah seluruh bunga yang sesungguhnya dibayar atau terjadi untuk dana yang khusus
dipinjam untuk pembangunan.

b. Jumlah rupiah semua bunga yang sesungguhnya dibayar atau terjadi untuk semua dana
pinjaman yang ada. Ini dilakukan apabila tidak ada dana khusus yang disediakan untuk
pembangunan aset bersangkutan.

c. Bunga dikapitalisasi sebesar jumlah rupiah bunga implisit dana yang tertanam dalam
perusahaan tanpa memperhatikan sumbernya.
3. Bunga dikapitalisasi tetapi tidak dimasukkan sebagai elemen kos fasilitas fisis yang dibangun
sendiri. Besarnya bunga yang dikapitalisasi dapat didasarkan pada perhitungan seperti alternatif
2 di atas.

Jumlah Rupiah Kapitalisasian

Tiap alternatif jumlah rupiah bunga yang harus dikapitalisasi didasarkan atas alternatif (2a)
didasarkan pada argumen bahwa bunga merupakan elemen kos konstruksi tetapi hanya bunga
yang memang benar-benar dibayar untuk dana khusus tersebut yang menunjukkan unsur kos
pemerolehan aset.

Alternatif (2b) berusaha untuk mengatasi kesulitan dalam usulan pertama. Dasar pemikirannya
adalah bahwa semua utang dianggap digunakan untuk investasi dalam pembangunan sarana fisis.

Alternatif (2c) mendasarkan diri pada asumsi bahwa bunga seluruh dana yang tertanam dalam
perusahaan merupakan kos ekonomik.

Standar yang Mengatur

Adanya berbagai alternatif perlakuan kos bunga menuntut adanya standar akuntansi yang
menjadi acuan praktik agar pembandingan statemen keuangan menjadi mudah dilakukan dan
berSyarat

Aset Memenuhi Syarat

FASB (SFAS No. 34, prg. 9) menetapkan bahwa kapitalisasi bunga hendaknya dilakukan hanya
untuk aset yang memenuhi syarat:

a. Aset yang dibangun atau diproduksi untuk digunakan sendiri oleh perusahaan (termasuk aset
yang dibangun atau diproduksi oleh pihak lain atas pesanan perusahaan untuk digunakan sendiri
oleh perusahaan dan untuk pesanan/kontrak tersebut perusahaan melakukan pembayaran uang
muka atau pembayaran bertahap atas dasar kemajuan pekerjaan pembangunan aset
bersangkutan).

b. Aset dibangun atau diproduksi dengan tujuan untuk dijual sebagai suatu unit atau projek yang
berdiri sendiri terpisah darj orijek atau kegiatan operasi lainnya (misalnya kapal, kawasan
industri, estat real, jembatan, atau semacamnya).

c. Investasi jangka panjang (ekuitas, pinjaman, dan penanaman kas) yang diperlakukan dengan
metoda ekuitas sementara terinvestasi (investee) sedang melaksanakan kegiatan pembangunan
fasilitas fisis asalkan kegiatan tersebut menggunakan dana investasi itu untuk memperoleh
fasilitas fisis tersebut.

Karakteristik lain suatu aset yang tidak dapat menjadi objek kapitalisasi adalah:
a. Aset yang sudah digunakan atau yang sudah siap digunakan sesuai dengan tujuan penggunaan
dalam operasi menghasilkan pendapatan.

b. Aset yang belum digunakan dalam kegiatan menghasilkan pendapatan perusahaan dan juga
tidak mengalami penyelesaian/perbaikan atau kegiatan lain yang diperlukan untuk menjadikan
aset tersebut siap digunakan dalam operasi. Jadi, kalau kegiatan konstruksi berhenti, bunga
selama berhentinya kegiatan tidak dapat dikapitalisasi.

c. Aset yang tidak dimasukkan dalam neraca konsolidasian perusahaan induk dan perusahaan-
perusahaan anaknya.

d. Investasi yang diperlakukan dengan metoda ekuitas setelah kegiatan operasi utama yang
direncanakan oleh terinvestasi dimulai.

e. Investasi dalam perusahaan regulasian yang mengkapitalisasi baik kos utang maupun ekuitas.

f. Aset yang diperoleh dengan dana hadiah atau hibah yang dibatasi penggunaannya oleh
penghadiah atau penghibah semata-mata untuk pemerolehan aset tersebut.

Besarnya Kapitalisasi Bunga

Bunga yang dikapitalisasi adalah tambahan bunga yang diperkirakan terjadi selama suatu periode
akibat adanya kontsruksi. Secara teknis, jumlah rupiah bunga yang dikapitalisasi dalam suatu
perioda akuntansi selama perida pemerolehan adalah tingkat bunga atau taruf kapitalisasi
dikalikan dengan rata-rata pengeluaran dana untuk konstruksi selama periode akuntansi tersebut.

Periode Kapitalisasi

Periode kapitalisasi dimulai ketika tiga kondisi berikut dipenuhi:

1. Pengeluaran untuk pembangunan aset telah dilakukan atau terjadi.

2. Kegiatan-kegiatan yang diperlukan untuk menyelesaikan pembangunan sampai siap dipakai


masih berlangsung.

3. Kos bunga telah terhimpun (accrued) atau terjadi bersamaan dengan berjalannya
pembangunan aset.

Kapitalisasi bunga dapat terus dilakukan untuk tiap periode akuntansi selama ketiga kondisi di
atas dipenuhi. Periode kapitalisasi akan berakhir apabila konstruksi bersangkutan secara
substansial telah selesai dan siap dioperasikan.

Pengungkapan

Agar statemen keuangan tetap informatif, hal-hal berikut ini harus diungkapkan sebagai
penjelasan statemen keuangan:
a. Bila tidak ada kos bunga yang dikapitalisasi, total bunga yang terjadi selama periode dan
dibebankan sebagai biaya periode tersebut.

b. Bila sebagian kos bunga dikapitalisasi, bunga total yang terjadi dan bagian yang dikapitalisasi.

Penyajian

Secara umum, prinsip akuntansi berterima umum memberi pedoman penyajian dan
pengungkapan aset sebagai berikut:

a. Aset disajikan di sisi debit atau kiri dalam neraca berformat akun atau dibagian atas dalam
neraca berformat laporan.

b. Aset diklasifikasi menjadi aset lancar dan tetap.

c. Aset diurutkan penyajiannya atas dasar likuiditas atau kelancarannya yang paling lancar
dicantumkan pada urutan pertama.

d. Kebijakan akuntansi yang berkaitan dengan pos-pos tertentu harus diungkapkan (misalnya
metoda depresiasi aset tetap dan dasar penilaian sediaan barang).