Anda di halaman 1dari 3

CITRA

Karya : Inovira Riesnawati

Citra Ayu, dialah gadis berusia 11 tahun yang berasal dari keluarga sederhana yang

hanya hidup beralaskan kardus dengan tembok tripleks bekas ukuran 4 5 meter. Desa

kecil di tengah hiruk-pikuknya Kota Jakarta menjadi saksi perjalanan hidup Citra. Gadis

mungil berkulit hitam manis dan berambut panjang ini adalah anak tunggal dari pasangan

suami istri, Baharuddin dan Aminah. Citra adalah anak yang sama dengan anak lainnya.

Dilahirkan oleh seorang ibu dengan penuh perjuangan. Sayangnya, perjuangan Aminah,

ibu Citra harus dibayar oleh pengorbanan ayah Citra untuk melepas istrinya ke dalam

pangkuan Tuhan. Kini Citra hanya bisa hidup diselimuti kasih sayang seorang ayah.

Namun, Citra percaya bahwa semua pengorbanan yang dilakukan ibunya adalah sebuah

kasih sayang abadi yang takkan pernah lekang oleh waktu.

Citra bukanlah gadis yang berasal dari keluarga konglomerat. Ayahnya yang hanya

bekerja sebagai tukang becak, tidak menjadi alasan baginya untuk putus sekolah. Citra

menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama dalam meraih kesuksesan. Ini semua terbukti,

walaupun ayahnya hanya seorang tukang becak berpenghasilan tak lebih dari Rp

100.000,00 per hari, namun Citra mampu menembus peringkat pertama hingga tahun kelima

ia bersekolah di sebuah sekolah dasar negeri. Mungkin kini, hanya prestasilah yang bisa

Citra persembahkan untuk membayar setiap tetes keringat ayahnya saat bekerja. Melihat

perjuangan ayahnya dalam mencari nafkah sebagai tukang becak yang kian lama kian

tergusur oleh moderninasi, Citra tak sanggup diam. Saat itu usia Citra menginjak 19 tahun,

dan ia tengah menempuh pendidikan di bangku perkuliahan sebuah universitas ternama di

Jakarta. Ia menganggap bahwa dirinya sudah siap untuk menggantikan peran ayahnya dalam

mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan hidup dan biaya kuliah. Beasiswa yang diberikan

oleh kampus Citra, tetap saja tak cukup untuk menutup segala kekurangan. Hingga

akhirnya Citra memutuskan untuk mencari pekerjaan sampingan sebagai pemulung.

Pagi mulung, sore kuliah. Aktifitas inilah yang kini menjadi rutinitas Citra sehari-hari.

Baginya menjadi seorang pemulung bukanlah pekerjaan hina dan memalukan, melainkan

sebuah pekerjaan halal demi tujuan mulia. Apalagi dua minggu terakhir ini, ayah Citra sering
mengeluh kesakitan. Namun ayah Citra selalu menutupi rasa sakitnya dengan memaksakan

diri untuk menarik becak. Mungkin hal inilah yang menjadi alasan terbesar Citra untuk

mencari uang demi kesembuhan ayahnya. Makin hari, Citra makin semangat untuk bekerja.

Melihat kelakuan anaknya yang berbeda dari biasanya membuat Baharuddin curiga.

Maklum saja, Citra tak pernah bercerita pada ayahnya bahwa kini ia mulai mencari uang

sebagai pemulung. Ayah Citra kini tahu pekerjaan sambilan anaknya sebagai pemulung.

Entah dengan cara apa, ayah Citra mengetahui hal ini. Jadi selama ini kamu pergi pagi hari

yang katanya mau membantu mengajar di TK desa tetangga, ternyata bohong!! Kamu

mulung kan Citra?? tanya ayah Citra dengan nada emosi. Iii...iya Yah. Maafin Citra sudah

bohong sama Ayah jawab Citra dengan nada lirih. Citra tak sanggup mengungkapkan

alasan mengapa ia berbohong. Aku terpaksa jadi pemulung karena aku tak tega melihat

Ayah banting tulang setiap hari mencari penumpang becak Ayah itu!! Toh menjadi

pemulung tak masalah bagiku. Penghasilannya lumayan Yah. Bisa nambah uang saku...

jawab Citra dengan nada yang mulai berubah ke arah tegas. Raut muka Ayah yang semula

mengkerut karena emosi, kini mendadak berubah menjadi sedih. Maafkan Ayah... Ayah

belum bisa menjadi orang tua terbaik untukkmu. Ayah sering merepotkanmu Nak!! Padahal

anak seusia kamu sekarang ini tengah enak-enakan menikmati masa muda dengan santai.

Tapi kamu... kata Ayah dengan dihiasi kucuran air mata yang mungkin tak sanggup

dibendung lagi. Tangan Citra yang semula menggenggam rapat, kini ia buka perlahan-lahan.

Citra mengambil sapu tangan di tas karungnya dan mengusapkannya di pipi orang yang

sangat ia kasihi. Sudahlah Ayah.. Ayah tak perlu sedih. Justru Ayah harus bangga

denganku. Aku kan bisa membiayai keperluan keluarga dengan jerih payahku sendiri lhoo

Yah. Gag semua anak bisa sepertiku..hahhaha. Mendengar cletukan yang dikeluarkan

anak kesayangannya, Ayah Citra langsung ikut tersenyum sambil mengelus rambut Citra

yang tergerai hitam panjang.

Tahun silih berganti. Citra pun akhirnya sampai pada babak akhir semester

kuliahnya yakni wisuda yang menjadi penutup perjuangan Citra dalam menempuh

pendidikan. Dengan bangga, Citra yang hanyalah anak seorang tukang becak dan dirinya

sendiri yang bekerja sebagai pemulung, sama sekali tidak malu menggandeng tangan

ayahnya berjalan menyusuri karpet merah yang membentang dari pintu masuk sebuah
gedung mewah tempat acara wisuda berlangsung. Saat itu Citra mengantarkan ayahnya

duduk di kursi paling depan. Deretan kursi paling depan ini adalah tempat bagi orang tua

dari mahasiswa yang lulus dengan gelar terbaik.

Pembawa acara pun memulai acara wisuda itu. Hingga saat detik-detik nama Citra

dipanggil ke atas panggung besar untuk membacakan sebuah puisi sebagai ungkapan rasa

terima kasih kepada orang tua yang selama ini menjadi suporter nomor satu kesuksesan yang

diraih anaknya. Dan Citra pun mulai membacakan satu demi satu bait dalam puisi yang ia

buat semalam.

Aku berdiri mengenakan toga ini di sebuah jalan setapak yang gelap..

Pandanganku tertuju pada seseorang di kejauhan sana dengan senyuman

yang tak asing di mataku..

Seseorang yang aku hormati, aku cintai, dan aku sayangi

Dialah ayahku..

Kucium tangannya, kupeluk ia sambil berkata, Ayah yang aku berikan hari ini

tidak akan cukup membalas semua yang selama ini kau berikan padaku..

Terima kasih Ayah..

Aku sayang Ayah sampai akhir hayatku..

***

Itulah sepenggal puisi yang dibacakan Citra dengan penuh perasaan. Bola kristal

bening itu akhirnya jatuh dari sepasang mata Citra yang indah. Ayah Citra yang semula

duduk, kini beranjak naik ke atas panggung. Kemudian memeluk dan mencium kening

anaknya itu. Tanpa sadar, ratusan orang yang memadati gedung mewah itu pun tak sanggup

menahan air mata, mereka kemudian berdiri sambil menepukkan tangan tanda bangga atas

cerita hidup Citra.