Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Echinodermata berasal dari bahasa Yunani yaitu Echinos yang berarti duri, derma
yang berarti kulit, berarti hewan yang kulitnya berduri. Kelompok hewan ini meliputi
Bintang Laut, Bintang Ular, Landak Laut, Lilia Laut, dan Mentimun Laut. Menurut Kastawi
dkk. (2003: 267) Echinodermata merupakan hewan laut yang hidup di pantai, tetapi
kebanyakan didasar laut.

Echinodermata adalah hewan laut yang termasuk hewan coelomate dengan simetri
radial, dimana tubuh dapat dibagi menjadi lima bagian tersusun mengelilingi sumbu pusat.
Ada sebuh coelom besar bersifat enterocoelous bersilia membentuk ruangan perivisceral dan
beberapa sistem berbelit-belit (Marshall, 1972: 125).

Echinodermata tidak mempunyai anggota yang bersifat parasitic. Echinodermata


memiliki kemampuan besar untuk regenerasi. Penyebaran Echinodermata sangat luas dan
filum ini terdiri atas 5.300 spesies dan sejumlah besar berupa fosil (Kastawi, dkk. 2005:
267).

Pada makalah ini akan dibahas berbagai hal mengenai filum Echinodermata mulai
dari klasifikasi, ciri morfologi, anatomi dan fisiologi dari masing-masing kelas, habitat serta
peranannya.

1.2 Tujuan

1.2.1 Mengetahui ciri umum anggota filum Echinodermata

1.2.2 Mengetahui ciri fisiologi anggota filum Echinodermata

1.2.3 Mengetahui klasifikasi hewan anggota filum Echinodermata beserta ciri morfologi,
anatomi dan fisiologinya.

1.2.4 Mengetahui peranan hewan anggota filum Echinodermata


BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Ciri Umum

Menurut Kastawi (2005: 267-268) ciri-ciri umum hewan anggota filum Echinodermata
adalah semata-mata hewan laut dan berada diantara hewan laut pada umumnya dan
distribusinya yang luas, dijumpai di semua laut dari zona intertidal sampai laut yang sangat
dalam. Tubuh umumnya radial simetri, hampir selalu pentamerous. Tubuhnya triploblastik,
coelomate dengan permukaan oral dan aboral yang jelas, tanpa kepala dan tidak bersegmen.
Ukuran tubuhnya sedang sampai besar tetapi tidak ada yang mikrokopis. Bentuk tubuhnya
bundar sampai silindris atau bentuk bintang dengan tangan sederhana yang tersebar dari
diskus sentral atau tangan-tangan bercabang-cabang seperti bulu muncul dari tubuh sentral.
Permukaan tubuh agak halus, tertutup oleh 5 ruangan secara simetri memancar berupa alur
berlekuk yang disebut ambulakral diselingi 5 inter-radii atau inter-ambulakral. Dinding
tubuh terdiri atas epidermis disebelah luar, dermis disebelah tengah, dan di sebelah dalam
adalah peritoneum. Endoskeleton tersusun dari lempengan-lempengan yang membentuk
cangkang, biasanya disebut theca atau test atau mungkin disusun dari osikula-osikula kecil
yang terpisah.
2.2 Fisiologi

Pembahasan tentang fisiologi bagi kelompok hewan Echinodermata meliputi berbagai


sistem. Berikut ini dijelaskan berturut-tururt sistem ambulakral, respirasi, pencernaan
makanan, sirkulasi, ekskresi, saraf, dan reproduksi (Kastawi dkk, 2005: 271-276).

1. Sistem Ambulakral
Sistem ambulakral terdiri atas canalis circumoralis/ring canal, canalis radialis/radial
canal, canalis madreporicus stone/stone canal, ampulla dan podia/tubefoot. Canalis
circumoralis adalah suatu pipa yang melingkari mulut, disebelah permukaan oral dari
skeleton. Ia mempercabangkan lima canalis radialis, yang masing-masing berjalan di
dalam sulcus ambulacralis. Tiap canalis radialis pada ujung radius bagian oral terakhir
sebagai tentakel. Melalui tiap porus ambulacralis berjalan suatu pipa yang
menghubungkan suatu kantong yang disebut ampulla yang terdapat didalam radius
dengan satu pipa yang berakhir buntu. Bentukan yang terdapat didalam sulcus
ambulacralis disebeut podium. Tiap pipa penghubung ampulla dengan podium
berhubungan dengan satu canalis radialis.
Didalam dinding ampulla terdapat serabut-serabut otot melingkar. Bila serabut otot ini
berkontraksi, ampulla mengecil dan air yang ada di dalamnya dialirkan kedalam podium,
sehingga podium memanjang. Didalam dinding podium terdapat serabut-serabut otot
longitudinal. Jika serabut-serabut otot tersebut berkontraksi, podium memendek dan air
yang ada didalamnya dialirkan kedalam ampulla, sehingga ampulla membesar. Pada
ujung podium terdapat batil penghisap.
2. Sistem Rerspirasi
Organ respirasi pada hewan Echinodermata adalah insang, atau papula dan kaki tabung.
Papula merupakan organ respirasi yang utama. Mereka adalah sederhana, kontraktil,
transparan, hasil pertumbuhan dari dinding tubuh pada permukaan aboral mempunyai
epitelium bersilia pada permukaan sebelah luar dan sebelah dalamnya. Itu merupakan
derivate lanjut dari coelom dan sisa lumennya berhubungan langsung dengan coelom.
Pertukaran O2 dan CO2 terjadi diantara air laut dan cairan tubuh dari insang-insangnya.
Silia pada epitelium mempunyai peranan vital dalam menggerakkan cairan coelom dan
dalam menciptakan air untuk pernafasan keluar masuk didalam air laut. Disamping
dindingnya tipis, kaya akan percabangan dan bagian-bagian tubuh lembab, juga bertindak
sebagai organ- organ respirasi.
3. Sistem Pencernaan Makanan
Saluran pencernaan makanan dimulai dari mulut yang berbentuk pentagonal yang disebut
actinostoma. Saluran pencernaan makanan terdiri atas peristoma, esophagus, ventrikulus,
intestium, berakhir pada anus. Esofagus merupakan pipa pendek, sedangkan ventrikulus
terbagi dalam pars cardiaca dan pars pylorica. Pars cardiac terdiri atas 5 lobi, tiap lobus
menonjol ke dalam radius. Pars pylorica pendek dan berbentuk pentagonal. Pada tiap
sudut ada lanjutan yang kemudian bercabang dua yaitu sepasang ceca pylorica dan satu
caecum pyloricum bercabang-cabang lagi. Intestin juga pendek dan memiliki 5 pasang
caeca intestinalia yang pendek dan terletak interadial. Anus bermuara pada bagian aboral
diskus.
4. Sistem Ekskresi
Hewan Echinodermata tidak memiliki organ-organ ekskretori khusus. Sisa ekskretori
metabolik yang mengandung nitrogen biasanya berisi senyawa ammonium. Sampah-
sampah tersebut akan diambil oleh sel-sel amoeboid dan dibuang (secara difusi) melalui
dermal branchia.
5. Sistem Sirkulasi
Sistem sirkulasi pada hewan Echinodermata terdiri atas dua, yaitu sistem perihemalis dan
sistem hemalis. Sistem perihemalis terdiri atas sinus perihemalis circumoralis, sinus
perihemalis radialis, sinus axialis, dan sinus perihemalis aboralis. Sedangkan sistem
hemalis tersusun atas jaringan pengikat gelatinosa yang berongga-rongga dengan banyak
leucocyt. Biasanya terdiri atas sistem lacunare circumoralis, funiculus radialis, organ
axialis, rachis genitalis serta cabang-cabangnya.
6. Sistem saraf
Sistem saraf masih sederhana dan bertipe primitif. Sistem saraf dibentuk dari serabut-
serabut saraf dan jaring saraf yang berhubungan erat dengan epidermis. Sistem saraf
terdiri dari 4 unit yang terdapat pada level berbeda didalam diskus dan lengan. Sistem
saraf dibedakan menjadi empat, yaitu sistem saraf oral atau ectoneural, sistem saraf
dalam atau hyponeural, sistem saraf aboral atau coelomic, dan sistem saraf visceral.
1. Sistem saraf oral memiliki bagian-bagian berupa cincin saraf, saraf radial, dan saraf
subepidermal. Sistem saraf oral bertindak sebagai sistem saraf sentral. Sistem ini
memiliki neuron-neuron sensor dan motor.
2. Sistem saraf dalam terjadi didalam bentuk lapisan saraf dibagian lateral dari dinding
oral dari sinus hyponeural, berada didalam epitelium coelomic. Lapisan saraf ini
disebut saraf Lange. Lapian tersebut dipidahkan dari bagian lateral dari saraf radial
hanya oelh satu lapis tipis dari jaringan dermal connective. Saraf Lange melanjutkan
ke daerah peristomial, dimana dia membentuk lima interadial yang menebal dibagian
dasar sinus cincin yang terletak diaboral sampai cincin saraf utama.
3. Sistem saraf aboral berada dibagian luar dari peritoneum parietal pada sisi aboral,
terdiri atas sebuah cincin saraf di diskus sentral dan sebuah saraf pada masing-masing
lengan. Sistem ini dihubungkan dengan saraf marginal oelh serabut saraf. Sistem ini
menginnervasi otot tubuh dari sisi aboral dan berfungsi motoric.
4. Sistem saraf visceral terdapat didinding usus, sebelah luar epitelium usus. Sistem ini
menginnervasi otot saluran pencernaan makanan dan dihubungkan dengan reseptor
visceral.

2.3 Klasifikasi Hewan Anggota Filum Echinodermata


Hewan berkulit duri dapat diklasifikasikan dalam kelas (Kastawi dkk, 2005: ), yaitu:
1. Kelas Echinoidea

Ciri-ciri Echinoidea
Tubuh berbentuk bola, seperti mangkuk, oval atau bentuk jantun, tubuh tertutup
oleh cangkang endoskeleton dari lempeng-lempeng kalkareus yang sebelah luar,
dibedakan ke dalam 5 daerah ambulakral berseling dengan 5 daerah inter-
ambulakral.

Podia atau kaki tabung keluar dari lubang-lubang dari lempeng-lempeng


ambulakral dan berfungsi untuk pergerakan.

Mulut terletak pada pusat permukaan oral yang dikelilingi oleh peristomium yang
bersifat membrane.

Anus terletak di kutub aboral dan dikelilingi oleh periproct bersifat membrane.

Lekuk-lekuk ambulakral tidak ada.

Pedicellaria bertangkai dan mempunyai 3 jepit.

Echinoidea biasanya hidup di daerah pantai, atas batu karang, dasar laut, dalam
lumpur, sumur-sumuran daerah pantai, dan muara sungai.

Seks terpisah, kelenjar kelamin pentamerous.

Perkembangbiakan meliputi larva-larva echino-pluteus yang berenang bebas.

Fisiologi Echinoidea

1. Sistem Pencernaan

Mulut terletak pada pusat permukaan oral yang dikelilingi oleh peristomium yang
bersifat membrane. Anus terletak di kutub aboral dan dikelilingi oleh periproct
bersifat membrane.

2. Sistem Sirkulasi

Tidak dijumpai adanya sistem peredaran darah

3. Sistem Ekskresi

Tidak dijumpai adanya sistem ekskresi

4. Sistem Koordinasi

Sistem saraf masih sederhana

5. Sistem Reproduksi
Sistem reproduksi masih sederhana. Gonad melekat disisi atas rongga tubuh.
Sperma dan telur dilepas langsung ke perairan yang selanjutnya terjadi
pembuahan diluar tubuh dengan bertemunya sel telur (ovum) dan sel kelamin
jantan (sperma).

Subkelas pada Echinoidea

1. Subkelas Regularia
Tubuh membulat, kebanyakan sirkuler dan seringkali berbentuk oval. Simetrinya
pentamerous dengan dua baris lempengan inter-ambulakral. Mulut ditengah-
tengah berlokasi di permukaan oral dan dikelilingi oleh periproct. Lentera
Aristotle berkembang baik.

a. Ordo Lepidocentroida
Kerangka fleksibel dengan lempeng-lempeng terpisah atau tumpang tindih.
Lempeng ambulakral berkelanjutan sampai ke bibir mulut. Contoh:
Phormosoma dan Sperosoma.
b. Ordo Cidaroidea
Kerangka kaku dan membulat. Ada dua baris lempengan-lempengan panjan
dan dua baris lempeng inter-ambulakral. Lempeng ambulakral dan inter-
ambulakral melanjutkan ke bibir mulut. Tidak ada insang. Terdapat lima organ
Stewart seperti semak-semak. Contoh: Cidaris dan Notocidaris
c. Ordo Aulodanta
Kerangka berbentuk simetri dan membulat, tersusun atas 2 baris masing-
masing di dalam sartu lempeng ambulakral dan inter-ambulakral. Lempeng-
lempeng ambulakral dan inter-ambulakral mencapai tepi peristoma.
Mempunyai insang. Gigi dari lentera Aristotle tanpa lunas (keel). Contoh:
Diodema dan Astropyga.
d. Ordo Camarodonta
Kerangka kaku dan agak oval. Epiphyses dari lentera meluas dan bertemu di
atas pyramids. Gigi berlunas. Semua 4 tipe pedicellaria dimilikinya. Contoh:
Echinus dan Strongylocentrotus.
2. Subkelas Irregularia
Kerangka (test) kebanyakan datar, oval, sampai sirkuler. Simetrinya bilateral
pada saat larva. Mulut terdapat di tengah-tengah permukaan oral. Anus terletak
lebih posterior umumnya marginal pada permukaan oral atau aboral dan
terletak di sisi luar system apical dari lempeng-lempeng. Podia atau kaki
tabung tidak untuk pergerakan.
a. Ordo Clypeastroida
Test adalah berbentuk datar, oval atau membulat ditutup duri-duri kecil. Mulut
dan system apical biasanya dalam posisi memusat dan oral. Daerah-daerah
ambulakral aboral adalah petaloid. Ada lentera Aristotle. Tidak ada insang.
Contoh: Clypeaster dan Laganum.
b. Ordo Spatangoida
Test adalah berbentuk oval atau jantung. Daerah empat ambulakral aboral
berbentuk petaloid, yang kelima tidak petaloid. Tidak memiliki lentera
Aristotle dan insang. Contoh: Sparangus, Lovenia, dan Echinocardium.

2. Kelas Holothuroidea

Ciri-ciri Holothuroidea
Tubuhnya simetri bilateral
Biasanya memanjang atau dengan mulut terletak pada satu ujung dan anus
terletak pada ujung yang lain.
Permukaan tubuh kesat, tidak ada spina atau duri.
Endoskeleton tereduksi berupa spikula berukuran mikroskopis atau lempeng-
lempeng tertanam di dalam dinding tubuh.
Mulut dikelilingi oleh sekumpulan tentakel.
Podia atau kaki tabung biasanya ada dan berfungsi untuk pergerakan.

Fisiologi Holothuroidea

1. Sistem Pencernaan
Saluran pencernaan makanan berbentuk panjang dan berliku-liku dan kloaka
biasanya dengan pohon respirasi. Saluran pencernaannya bulat panjang dengan
posisi merentang di atas rongga tubuh dalam selom. Kerongkongan pendek
merupakan sambungan dari mulut ke lambung. Dari lambung saluran pencernaan
berikutnya adalah usus yang panjang dan berhubungan dengan kloaka. Saluran
pencernaan berakhir dengan sebuah anus di daerah posterior.
2. Sistem Sirkulasi
3. Sistem Ekskresi
Sistem respirasinya disebut pohon respirasi karena terdiri dari dua saluran utama
yang bercabang dua.
4. Sistem Koordinasi
5. Sistem Reproduksi
Jenis kelamin biasanya terpisah dan kelenjar kelamin berupa berkas tubulus
tunggal atau berpasangan. Holothuroidea bersifat dioseus bersaluran reproduksi
sederhana. Fertilisasi berlangsung secara eksternal. Zigot berkembang menjadi
larva yang simetris bilateral bersilia. Hewan ini juga dapat beregenerasi.

Ordo pada Holothuroidea

Ordo Aspidochirota

Memiliki podia atau kaki tabung.


Mulut dikelilingi oleh 10-30 tentakel, kebanyakan 20 tentakel mulut yang
bercabang-cabang.
Otot-otot retraktor dari pharynx tidak ada.
Terdapat sepasang pohon resporasi yang berkembang dengan baik.
Contoh : Stichopus, Mesothuria, Holothuria.

Ordo Elasipoda

Memiliki banyak podia atau kaki tabung.


Mulut berada di ventral dan dikelilingi oleh 10-20 tentakel yang bercabang-
cabang.
Contoh: Deima, Benthodytes.

Ordo Dendrochirota

Memiliki kaki tabung atau podia yang banyak.


Tentakel pada oral dendritic atau bercabang-cabang seperti cabang-cabang
pohon.
Terdapat retractor oral.
Memiliki pohon respirasi.
Contoh: Thyone, Phyllophorus, Cucumaria.

Ordo Molpadonia

Tidak memiliki podia atau kaki tabung, kecuali sebagai papilla anal.
Tentakel oral berbentuk jari.
Tidak memiliki retraktor oral.
Memiliki pohon respirasi.
Daerah posterior biasanya berbentuk lonjong sampai ke bagian caudal.
Contoh: Molpadia, Paracaudina.

Orrdo Apoda

Tubuh berbetuk cacing dan mempunyai permukaan halus atau berkutil.


Podia atau kaki tabung tidak ada.
Tentakel oral 10-20 buah, sederhana, bertipe digtate atau pinnate
Mempunyai retraktor pharyngeal
Tidak memiliki pohon-pohon respirase
Pada sistem pembuluh airnya tereduksi.
Contoh: Synapta, Chiridota.

3. Kelas Asteria

Bintang Laut (Asteropecten irregularis) tergolong dalam Echinodermata. Bintang


laut biasanya hidup di pantai dan di dalam laut sampai kedalaman sekitar 366 m.
Sebagian hidup bebas, hanya gerakannya lamban cenderung berifat Bentos kecuali
Crinoidea Golongan Asteroidea (Bintang Laut) ini tidak ada yang parasit.Ada sekitar
5.300 jenis Echinodermata yang sudah dikenal manusia. Jumlahnya amat banyak, karena
musuh hewan ini hanya sedikit. Bintang laut sebagai kelompok Echinodermata juga bisa
merugikan, karena hewan laut ini sebagai pemakan tiram/kerang mutiara juga ada
diantara jenis bintang laut yang memakan binatang karang sehingga banyak yang mati.

Ciri-ciri Asteria

Tubuh berbentuk bintang, terdiri atas satu diskus sentralis dan lima radii.
Memiliki dataran oral dan dataran aboral
Skeleton terdiri atas lamina (ossikula) yang tersusun rapat.
Lamina terletak di antara 2 lapisan jaringan pengikat di dalam dinding tubuh.
Di antara ossikula terdapat srabut serabut otot, dan pori-pori yang disebut pori
dermal.
Pada bagian aboral, pada ossikula berpangkal spina, di antara spina ada yang
dapat digerakkan.

Fisiologi Asteria

1. Sistem Pencernaan
Sistem pencernaan makanan mulut - kerongkongan lambung - ke cabang lengan -
kantung pilorus anus

2. Sistem Sirkulasi
Sistem Respirasi : menggunakan Branchia dermalis / papilla berupa kantong tipis ada
di setiap kulit lengan berupa tonjolan
3. Sistem Ekskresi
Sistem ekskresi juga dikeluarkan lewat Branchia dermalis / Papulla
4. Sistem Koordinasi
Sistem saraf terdiri atas cincin saraf di mulut bercabang ke masing masing lengan
5. Sistem Reproduksi
Sistem Reproduksi Kawin, Dioceus Fertilisasi eksternal ovum keluar sejumlah 2,5
juta setiap 2 jam ketemu sperma di air.

Struktur Tubuh Bintang Laut


Madreporit : merupakan lubang tempat masuknya air dari luar tubuh letaknya di sisi
aboral , ini berbeda dengan Ophiuroidea yang berada di sisi oral
Saluran batu : saluran penghubung antara madreporit dengan salurang cincin.
Saluran cincin : saluran yang melingkar yang bisa mengakses ke semua lengan
Saluran radial : saluran yang berasal dari saluran cincin meluas ke seluruh lengan ,
saluran ini dari saluran cincin berpencar ke tentakel masing masing
Saluran lateral : saluran yang berasal dari saluran radial yang mengalirkan air ke
ampula
Ampula : suatu wadah menyerupai balon yang elastis , ketika terisi air akan
membentuk tonjolan seperti kaki yang menyerupai tabung disebut kaki tabung
Kaki tabung : kaki yang terbentuk karena tekanan air di ampula sehingga kak bisa
dipijakkan ke obyek sehingga bisa menggerakkan tubuhnya
Sistem ambulakral ini berfungsi untuk bergerak, bernafas atau membuka mangsa.
Cara gerak Bintang Laut
Pada hewan ini air laut masuk melalui lempeng dorsal yang berlubang-lubang
kecil (madreporit) menuju ke pembuluh batu. Kemudian dilanjutkan ke saluran cincin
yang mempunyai cabang ke lima tangannya atau disebut saluran radial selanjutnya ke
saluran lateral.Pada setiap cabang terdapat deretan kaki tabung dan berpasangan dengan
semacam gelembung berotot atau disebut juga ampula.Dari saluran lateral, air masuk ke
ampula.
Saluran ini berkahir di ampula. Jika ampula berkontraksi, maka air tertekan dan
masuk ke dalam kaki tabung.Akibatnya kaki tabung berubah menjulur panjang.Apabila
hewan ini akan bergerak ke sebelah kanan, maka kaki tabung sebelah kanan akan
memegang benda di bawahnya dan kaki lainnya akan bebas.Selanjutnya ampula
mengembang kembali dan air akan bergerak berlawanan dengan arah masuk.Kaki tabung
sebelah kanan yang memegang objek tadi akan menyeret tubuh hewan ini ke arahnya.
Begitulah cara hewan ini bergerak. Di samping itu hewan ini juga bergerak dalam air
dengan menggunakan gerakan lengan-lengannya.
4. Kelas Crinoidea

Crinoidea berasal dari kata Crinon yang artinya lili dan eidas yang artinya
bentuk. Hewan ini mirip tumbuhan, karena bentuknya menyerupai bunga lili, tempat
hidupnya mulai dari daerah di bawah pasang surut sampai ke laut dalam di atas 12.000
kaki.Hewan yang paling umum dipelajari adalah Antedon tenella.Kulitnya tersusun dari
zat kitin. Biasanya melekat pada dasar perairan. Jika lingkungan tidak memungkinkan,
misalnya makanan habis atau keselamatannya terancam, ia akan pindah ke tempat lain
yang sesuai dan aman. Kelompok hewan ini juga sering disebut bintang bulu. Juga
dikenal sebagai lili laut atau lilia laut yaitu hewan yang mempunyai lengan bercabang
serta anus dan mulut berada di permukaan oral, kaki tabungnya tidak mempunyai saluran
penghisap dan alur ambulakranya terbuka,tidak memiliki madreporit, duri ataupun
pedicillariae
Tumbuh pada pangkalnya dengan bantuan permukaan aboral, tubuhnya kecil
seperti mangkuk disebut dengan calyx yang melekat pada dasar laut dengan bantuan akar
(cirri). Dari calyx itu akan tersembul 5 lengan yang lentur, yang mempunyai bagian
tentakel yang pendek, masing-masing mempunyai pinnulae yang banyak sekali sehingga
seperti bulu burung yang terurai. Beberapa jenis lili laut memiliki stalk atau tangkai yang
berasal dari daerah aboral dari calyx. Alat ini (tangkai) sebagai alat melekat pada dasar
laut, seolah-olah sebagai batang dengan akar. Sebagian besar dari mereka hidup di laut
yang sedang jeluknya, beberapa jenis berupa hewan laut jeluk dan beberapa jenis lagi
mendiami laut dangkal, antaranya di terumbu karang.

Ciri-ciri Crinoidea

Bentuk tubuh seperti tumbuhan tapi ada yang bertangkai dan ada yang tidak
bertangkai.

Crinoidea yang bertangkai adalah individu yang tidak dapat bergerak dan
mulutnya terarah keatas.

Crinoidea yang tak bertangkai merupakan individu yang dapat bergerak bebas
didalam laut.

Tubuhnya menyerupai bunga lili atau bunga bakung dan bentuk seperti bulu
burung.

Tidak mempunyai duri

Kaki tabungnya kurang mempunyai suber (alat hisap)

Sistem syaraf berbentuk cincin yang selanjutnya bercabang-cabang pada tiap


lengan

Kulitnya tersusun dari zat kitin. Contoh spesies dari Crinoidea adalah Antedon sp,
Anemon sp, Holopus, dan Metacrinus (lilia laut).
Ukurannya tidak lebih dari 40 cm panjangnya dan berwarna mencolok.
Tubuhnya terdiri dari cakram sentral dengan lima lengan bermula dari cakram ini
setiap lengan bercabang dua atau lebih.
Setiap cabang mempunyai ranting-ranting melintang yang disebut pinul
(pinnulae). Cabang-cabang ini membuat hewan berbulu-bulu.
Cakram sentral bentuknya seperti mangkuk dengan mulut terletak di dasar (di
bawah).
Fisiologi Crinoidea

1. Sistem Pencernaan
Makanan berupa plankton kecil atau detritus mikroskopis, yang dibawa oleh lengan
atau ditangkap oleh tentakel, dilewatkan sepanjang alur ambulakral dengan bulu-getar
yang bergerak-gerak, yang selanjutnya digiring oleh silia ke dalam mulut. Memiliki
Sebuah tangkai yang tumbuh dari cakram sering digunakan untuk melekatkan hewan
pada substrat dasar, akibatnya mulut tetap di atas dan lengan-lengan seperti bulu
menciptakan alat seperti jaring untuk menangkap dan mengangkut makanan ke mulut.
2. Sistem Sirkulasi
Sistem peredaran darah umumnya tereduksi dan sukar diamati. Terdiri dari pembuluh
darah yang mengelilingi mulut dan dihubungkan dengan lima buah pembuluh radial
ke setiap bagian lengan.
3. Sistem Ekskresi
Bernafas dengan menggunakan paru-paru kulit, kaki tabung. Sisa metabolisme akan
diangkut oleh sel-sel amoeboid ke dermal branchiae untuk selanjutnya dilepaskan ke
luar tubuh
4. Sistem Koordinasi
Sistem saraf terdiri atas cincin saraf dan saraf radikal (menuju ke bagian-bagian
lengan).
5. Sistem Reproduksi
Jenis kelamin terpisah. Gonad biasannya terdapat dalam pinnula. Beberapa kelas
Crinoidea, melepaskan telur dalam air, tapi beberapa menahan tetap pada pinnula
sampai menetas. Larvanya disebut doliolaria. Larva yang masih muda sekali masih
mendapat makanan dari kuning telur, tapi belum mempunyai mulut. Setelah beberapa
hari dapat hidup bebas dan menempel dengan akhir bagian anterior dan kemudian
berbentuk cangkir, lalu tumbuhlah lengannya. Beberapa Crinoidea menyimpan
telurnya dalam tubuh.

Ordo pada Crinoidea

Ordo Phanerozonia
Lengan-lengan dilengkapi dengan dua baris lempeng-lempeng marginal yang
mencolok.
Lempeng oral adalah inframarginal dan lempeng aboral adalah supramarginal
Pedikelaria bertipe gelembung atau sessile.
Podia atau kaki tabung tersusun dalam dua baris
Kerangka mulut berkembang baik dan bertipe ad-ambulakral
Contoh : Luidia, Astropecten, Archaster, dan Pentaceros.
Ordo Spinulosa
Lengan-lengan umumnya tanpa lempeng
Skeleton aboral adalah imbricated/reticulated dengan duri tunggal/kelompok duri.
Pedikelaria jarang ada
Podia terdapat dalam dua baris dilengkapi dengan pengisap
Kerangka mulut bertipe ad-ambulakral
Ampula tunggal/bercabang dua
Contoh : Aesterina, Echinaster, Hymenaster, Solaster
Ordo Forcipulata
Lempeng marginal tidak mencolok
Skeleton aboral kebanyakan reticulated dengan duri-duri mencolok
Pedikelaria bertipe pedunkulata dengan sebuah keeping basal
Podia tersusun dalam empat baris dan dilengkapi dengan penghisap
Contoh : Brisingaster, Heliaster, Zoraster, dan Asterias

5. Kelas Ophiuroidea
Ciri-ciri Ophiuroidea
Tubuh pipih dengan diskus sentral bersegi lima atau bulat.
Permukaan oral dan aboral adalah jelas.
Lengan-lengan biasanya lima, ramping, halus atau berduri.
Tidak memiliki lekuk ambulakral.
Tidak memiliki anus dan intestine.
Madreporit terdapat pada permukaan oral.
Habitat Ophiuroidea adalah diantara batu-batu karang di dalam air laut.
Sistem pernapasan menggunakan lima pasang kantong udara yang kecil dan
terletak disekitar celah mulut.
Sistem pencernaan terdapat pada bola cakram. sistem reproduksi terjadi di luar
tubuh dengan melepaskan sel jantan dan sel betina di air, kemudian sel-sel ini
bersatu dan akan membentuk pluteus (larva yang bersilia yang akan mengalami
metamorphosis dari bentuk bintang laut menjadi bentuk bintang ular).

Fisiologi Ophiuroidea
1. Sistem Pencernaan
Pemakan bangkai, sisa-sisa hewan, dan kotoran hewan laut. Makanan masuk lewat
mulut, tidak memiliki anus. sehingga sisa makanan dimuntahkan lewat mulut.
2. Sistem Sirkulasi
Terdiri dari pembuluh darah yang mengelilingi mulut dan dihubungkan dengan lima
buah pembuluh radial ke setiap bagian lengan
3. Sistem Ekskresi
Ekskresi terjadi pada kantung yang disebut bursae.
4. Sistem Koordinasi
Terdiri atas cincin saraf utama yang bekerja di sekitar cakram utama. Tidak memiliki
mata dan sejenisnya. Memiliki kemampuan untuk merasakan cahaya memalui
reseptor pada epidermis.
5. Sistem Reproduksi
Sistem reproduksi terjadi di luar tubuh dengan melepaskan sel jantan dan sel betina
di air, kemudian sel-sel ini bersatu dan akan membentuk pluteus (larva yang bersilia
yang akan mengalami metamorphosis dari bentuk bintang laut menjadi bentuk
bintang ular).
Ordo pada Ophiuroidea
Ordo Ophiurae
Lengan-lengan sederhana, kebanyakan berjumlah lima.
Ossikula lengan bersendi dengan lubang dan tonjolan.
Diskus dan lengan biasanya ditutup oleh sisik-sisik atau perisai-perisai yang
nyata.
Duri-duri pada lengan menuju lateral dan dilanjutkan keluar atau ke atas dari
ujung-ujung lengan, tidak ke bawah.
Madreporit tunggal.
Contoh: Ophioderma, Ophioscolex, Ophiolepie, dan Ophiothrix.
Ordo Euryalae
Lengan-lengan sederhana atau bercabang, panjan dan fleksibel, mampu membelit
sekeliling benda dan menggulungnya.
Diskus dan lengan tanpa perisai atau kurang berkembang.
Duri diteruskan ke bawah, selalu membentuk kait atau kumpulan berduri.
Satu madreporit dalam inter-radius.
Contoh: Asteronyx, Astrophyton, dan Astroporpa.
2.4 Peranan Hewan Berkulit Duri (Echinodermata)
2.4.1 Peran Positif
1. Pada anggota kelas Asteroidea dapat digunakan sebagai detrivor yang memakan
materi organik, kotoran dan bangkai laut sehingga laut menjadi bersih dan
keseimbangan ekosistem terjaga
2. Pada anggota kelas Echinoidea misalnya bulu babi dapat digunakan sebagai
sumber pangan dan pembersih laut karena memakan bangkai atau sisa-sisa hewan
yang terdapat di pantai
3. Pada anggota kelas Holothuroidea misalnya teripang dapat digunakan untuk
mencegah dan membantu mempercepat penyembuhan berbagai penyakit
2.4.2 Peran Negatif
1. Pada anggota kelas Echinoidea juga ada yang dapat merusak binatang karang
2. Bulu babi dan landak laut dapat merugikan bagi wisatawan yang ingin menikmati
olahraga air, karena duri bulu babi dan landak laut yang beracun bisa menyebabkan
kematian jika tidak segera ditangani.

BAB III

KESIMPULAN

1.1 Filum Echinodermata hewan berkulit duri yang berciri umum tubuhnya bersimetri radial
pentamerous, tidak memiliki kepala, memiliki endoskeleton, organ respirasinya berupa
insang kecil yang menyembul dari coelom, dan memiliki kemampuan besar untuk
regenerasi. Hewan anggota filum Echinodermata sebagian hidup di pantai, tetapi
kebanyakan di dasar laut.
1.2 Filum Echinodermata dapat diklasifikasikan menjadi lima kelas yaitu Crinoidea,
Holothuroidea, Echinoidea, Asteroidea, dan Ophiuroidea.
1.3 Hewan-hewan anggota filum Echinodermata memiliki peran positif dan ada juga yang
memiliki peran negatif. Misalnya peran positif adalah dapat digunakan sebagai detrivor
yang memakan materi organik, kotoran dan bangkai laut sehingga laut menjadi bersih dan
keseimbangan ekosistem terjaga, sedangkan peran negatif misalnya bulu babi dan landak
laut dapat merugikan bagi wisatawan yang ingin menikmati olahraga air, karena duri bulu
babi dan landak laut yang beracun bisa menyebabkan kematian jika tidak segera
ditangani.

DAFTAR PUSTAKA

Hoise, A. M. 2007 Biodiversity and Conservation. The Marine Life Information Network.
(Online), (http://www.marlin.ac.uk/taxonomydescriptions.php), diakses tanggal 10
September 2015.

Kastawi, Y., dkk. 2005. Zoologi Avertebrata. Malang: UM Press.

Kastawi, Y., Indriwati, S.E., Ibrohim, Masjhudi & Rahayu, S.E. 2003. Zoologi Avertebrata.
Malang: JICA.

Marshall, A.J. 1972. Textbooks of Zoology Invertebrata. London: The Macmillan Press LTD.
Myers, P., Espinosa, R., Parr, C.S., Jones, T., Hammond, G.S. & Dewey, T.A. 2015. Phylum
Mollusca. The Animal Diversity Web. (Online), (http://animaldiversity.org) diakses 9
September 2015

Sugiri, N.1989. Zoologi Avertebrata II. Bogor: IPB Press.