Anda di halaman 1dari 5

SASARAN HUKUM ISLAM

Hukum islam memiliki 3 (tiga) sasaran yaitu :

1. Penyucian jiwa, dimaksudkan agar manusia mampu berperan sebagai sumber


kebaikan, bukan sumber keburukan bagi masyarakan dan lingkungannya. Hal ini
dapat tercapai apabila manusia dapat beribadah dengan benar yaitu hanya mengabdi
kepada sang Pencipta, Pemilik, Pemeliharaan, dan penguasa Alam Semesta.
2. Menegakkan Keadilan Dalam Masyarakat, keadilan disini meliputi segala bidang
kehidupan manusia termasuk keadilan dari sisi hukum,sisi ekonomi, dan sisi
persaksian. Semua manusia akan dinilai dan diperlakukan Allah secara sama, tanpa
malihat kepada latar belakang strata sosial, agama, kekayaan, keturunan, dan warna
kulit.
3. Mewujudkan Kemaslahatan Manusia, semua ketentuan Al-Quran dan As-Sunnah
mempunyai mamfaat yang hakiki yaitu mewujudkan kemaslahatan manusia, dan
karena Al-Quran berasal dari Allah yang sangat mengetahui tabiat dan keinginan
manusia, dan As-Sunnah dari Rasul yang mendapat bimbingan rasul dari Allah SWT.

SUMBER HUKUM ISLAM

Sumber Hukum Islam merupakan dasar atau referensi untuk menilai apakah perbuatan
manusia sesuai dengan syariah (ketentuan yang telah digariskan oleh Allah SWT) atau tidak.

Sumber hukum islam yang pokok adalah Alquran dan Sunnah Nabi Muhammad
SAW, otoritas keduanya tidak berubah dalam setiap waktu dan keadaan. Jika dirinci lebih
khusus yakni dalam arti syariah dan fiqih sebagai dua konsep yang berbeda. Syariah secara
khusus bersumber kepada Alquran dan sunnah semata, sedangkan fiqih bersumber kepada
pemahaman (ijtihad) manusia (mujtahid) dengan tetap mendasarkan pada dalil-dalil
terperinci dari Alquran dan Sunnah.

Sumber hukum islam yang telah disepakati oleh jumhur (kebanyakan) ulama ada
4,yaitu Al-Quran, As-Sunnah, Ijmak, dan Qiyas, sebagai mana tertuang dalam (Qs 4:59).
Prioritas dalam pengambilan sumber hukum antara 4 (dalil) tersebut ialah apabila terdapat
suatu kejadian memerlukan ketetapan hukum, pertama-tama hendaklah dicari terlebih dahulu
didalam Alquran.
Apabila rujukan rujukan untuk ketetapan hukum itu tidak ditemukan dalam Alquran,
barulah beralih meneliti As-Sunnah. Bila rujukan ditemukan didalam As-Sunnah maka
hukum ditetapkan sesuia dengan ketentuan dalam As-Sunnah. Namun, apabila rujukan tidak
ditemukan dalam Al-Quran dan As-Sunnah, baru dibolehkan merujuk kepada putusan dari
para mujtahid yang menjadi ijmak (kesepakatan bersama) dari masa kemasa tentang masalah
yang sedang dicari hukumnya itu. Sekiranya tidak ditemukan rujukan ijmak dalam masalah
tersebut, maka ditempuh Qiyas, yaitu usaha sungguh-sungguh dengan jalan membuat analogi
kepada peristiwa sejenis yang telah ada ketentuan hukum sesuai dengan hadis Rasullah SAW.

AL-QURAN

Secara harfiah kata Alquran berasal dari bahasa Arab al-quran yang berarti
pembacaan atau bacaan. Sedang menurut istilah, Alquran adalah kalam Allah yang
diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. Melalui Malaikat Jibril dengan menggunakan
bahasa Arab sebagai hujjah (bukti) atas kerasulan Nabi Muhammad dan sebagai pedoman
hidup bagi manusia serta sebagai media dalam mendekatkan diri kepada Allah dengan
membacanya.

Menurut Ahmad Asan, Alquran bukanlah suatu undang-undang hukum dalam


pengertian modern ataupun sebuah kumpulan etika. Tujuan utama Alquran adalah
meletakkan suatu way of life yang mengatur hubungan manusia dengan manusia dan
hubungan manusia dengan Allah. Alquran memberikan arahan bagi kehidupan sosial manusia
maupun tuntutan berkomunikasi dengan penciptanya. Jadi Al-Quran adalah sebagai tuntutan
(hidayat), dan bukan kitab hukum, alquran menunjukkan dan menggariskan batas-batas dari
berbagai aspek kehidupan.

Sebenarnya perjalanan hukum islam menempuh proses yang panjang. Perlu diketahui
bahwa teori hukum tidaklah berarti bahwa Alquran menangani setiap persoalan secara jelimet
(pelik) dan terperinci.

Al Quran tidak diturunkan secara sekaligus melainkan secara berangsur-angsur. Ada


dua alasan mengapa Alquran diturunkan secara berangsur-angsur adalah sbb :

1. Untuk menguatkan hati, berupa kesenangan rohani agar Nabi selalu tetap
merasa senang dapat berkomunikasi dengan Allah, dan menghujamkan
Alquran serta hukum-hukumnya didalam jiwa Nabi dan manusia umumnya,
sekaligus menjelaskan jalan untuk memahaminya.
2. Untu menartilkan, (membaca dengan benar dan pelan) Al-Quran, kondisi umat
pada saat ditirunkan Al-Quran adalah ummiy, yaitu tidak dapat membaca dan
menulis, sementara Allah SWT menghendaki Al-Quran dapat dihafal dan
diserapi agar secara berkesinambunagan (mutawattir) tetap terpelihara
keasliannya sampai hari kiamat. Turunnya Al-Quran sacara berangsur- angsur
merupakan salah satu cara untuk memudahkan Nabi dan para sahabatnya
untuk menghafalnya.

Al-Quran merupakan mukjijat yang hebat, tetap dan kekal sepanjang masa,aadapun
mukjijat Al-Quran adalah sbb :

1. Keindahan seni bahasa Al-Quran (balaghad) tidak hanya diakui oleh kalangan
sastrawan Arab saja, tetapi diakui diakui pula oleh para ahli yang pernah
mendalami dan mengkaji ilmu dalam bahasa Arab.
2. Kebenaran pemberitaan Al-Quran tentang keadaan yang tarjadi pada abad-
abad yang silam.
3. Pemberitaan Al-Quran tentang hal-hal yang akan terjadi pada masa yang akan
datang, juga merupakan kebenaran yang tidak terbantahkan.
4. Kandungan Al-Quran banyak memuat imformasi tentang ilmu pengetahuan
yang tidak mungkin diketahui oleh seorang ummiy yang tidak pandai
membaca dan menulis.

Adapun fungsi Al-Quran adalah sebagai berikut :

1. Al-Quran sebagai pedoman hidup


2. Al-Quran sebagai rahmad bagi alam semesta
3. Al-Quran sebagai cahaya petunjuk
4. Al-Quran sebagai peringatan
5. Al-Quran sebagai penerang dan pembeda
6. Al-Quran sebagai pelajaran
7. Al-Quran sebagai sumber ilmu
8. Al-Quran sebagai hukum
9. Al-Quran sebagai obat penyakit jiwa
10. Al-Quran sebagai pemberi kabar gembira
11. Al-Quran sebagai pedoman melakukan pencatatan
Dalam Al-Quran, menyuruh untuk menghadirkan saksi yang jujur pada akad transaksi
dan jika akad tersebud ditangguhkan pembayarannya, maka hendaklah ditulis, untuk
menghindarkan perselisihan dikemudian hari. Al-Quran juga mengatur mengenai hukum
keluaraga antara lain berupa penjelasan tentang pernikahan, mahram, perceraian(thalaq),
macam-macam idah dan tempatnya, pembagian harta waris, dan sebagainya.

Dalam Al-Quran juga mengatur mengenai hukum pidana dan senantiasa


memperhatikan empat hal yaitu :

1. Melindungi jiwa, akal, harta benda, dan keturunan.


2. Meredam kemarahan orang yang terluka, lantaran dilukai.
3. Memberikan ganti rugi kepada orang yang terluka atau keluarganya.
4. Menyesuaikan hukuman dengan pelaku kejahatan, yakni bila pelaku kejahatan
tersebut orang yang terhormat, maka hukumannya menjadi berat, dan jika
pelaku kejahatannya orang rendahan, maka hukumannya menjadi ringan.

Bahkan pengaturan dalam melakukan muamalah dengan non muslim juga diatur
dalam Al-Quran. Al-Quran membagi orang kafir menjadi 3 bagian yaitu :

1. Kafir dzimmy dan muhad, yaitu kafir yang telah mengikat perjanjian,
sehingga Allah Swt memerintahkan untuk bergaul dengan mereka seperti
sesama muslim.
2. Kafir mustaman, yaitu kafir yang dianggap aman/tidak membahayakan,
sehingga darah dan harta benda mereka haram (tidak boleh diganggu)
sepanjang mereka masih tetap memegang perjanjian.
3. Kafir harby (musuh), dimana Allah SWT tetap memberikan hak-hak yang
harus dihormati atas harkat dan martabat kemanusiaan, hak persaudaraan
kemanusiaan, hak keadilan, hak perlakuan sepadan dengan memperhatikan
keutamaan/kemaslahatan.

Dari tuntunan tersebut diketahui bahwa islam memperlakukan nonmuslim sangatlah


adil, sekaligus juga membuktikan bahwa Al-Quran memang suatu bentuk pedoman yang
sangat lengkap dan bersifat universal.