Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Data-data yang dihasilkan dari pengukuran merupakan cerminan kondisi
dan sifat-sifat batuan di dalam bumi. Metoda- metoda ini menggunakan prinsip
fisika yang digunakan sebagai aplikasinya. Metoda tersebut adalah survey
geologi permukaan (pemetaan), eksplorasi seismik, data resistivity, data
porositas dan data densitas.
Sehingga dibutuhkan suatu perangkat aplikasi untuk mengolah data-data
tersebut. Data tersebut digunakan untuk interpretasi dari geofisika, reservoir,
dan lapisan batuan. Menyatukan prinsip ilmu geologi, geofisika dan reservoir
untuk membuat suatu model bawah permukaan yang akurat. Dalam bidang
geofisika dapat digunakan untuk interpretasi seismic dan analisa log.
Evaluasi prospek minyak dan gas bumi merupakan kajian terhadap potensi
suatu area akan keterdapatan dan probabilitas jumlah cadangan yang ada pada
suatu area tersebut. Pada tugas ini evaluasi prospek dilakukan pada daerah
Sumatra selatan pada Sub-Cekungan Jambi. Tahapan yang digunakan adalah
tahap modelling. Proses modelling dilakukan dengan menggunakan software
pendukung. Software yang digunakan dalam praktikum ini adalah software
dari Schlumburger, yakni Petrel 2010 atau 2010.2.

1.2 Maksud dan Tujuan


Maksud dari pembuatan tugas makalah Praktikum Geofisika Eksplorasi,
yaitu Mahasiswa dapat mampu mengerti serta memahami dalam
mengaplikasikan ilmu-ilmu geologi dan geofisika dalam konsep sekuen
stratigrafi, analisa log, analisa data seismic, dan hubungannya dalam ilmu
geologi.
Tujuan dari tugas ini adalah Mahasiswa dapat mampu menjalankan
program software Petrel 2010 dengan baik dan tepat dalam penerapan aplikasi
bidang ilmu geologi pada daerah penelitian sehingga dapat mengetahui gejala

1
geologi yang terjadi pada daerah penelitian, menentukan potensi hidrokarbon
pada daerah penelitian, dan dapat mengetahui bentuk permodelan 3D pada
daerah penelitian.

1.3 Metodologi Penelitian


Terdapat adanya 3 tahapan dalam melakukan penelitian ini, diantaranya:

1.3.1 Tahap Persiapan


Tahap persiapan ini meliputi studi pendahuluan mengenai metoda
yang dilakukan, seperti studi pendahuluan mengenai metode yang
digunakan dan studi literatur. Studi literature yang mencakup studi
geologi regional, pengenalan software dan kompilasi data yang
diperoleh. Pada tahap ini semua data yang dibutuhkan dikumpulkan
menjadi satu, termasuk literatur-literatur dari peneliti terdahulu
mengenai kondisi geologi regional didaerah penelitian tersebut.

1.3.2 Tahap Analisa Data


Tahap ini merupakan kumpulan data-data yang dibutuhkan untuk
pengolahan yang sesuai dengan analisis pengolahan data. Tahap ini
meliputi:
a) Analisa log sumur menggunakan log gamma ray, log newton, log
densitas dan resistivitas yang telah dikorelasikan.
b) Analisa Petrofisik: Mencakup analisa V shale, porosias dan
porositas total, resistivitas air, saturasi air dan resistivitas minyak.
c) Well Seismic Trap: Analisa ini digunakan untuk mengikat horion
seismic dengan data sumur sehingga horizon seismic dapat
diletakan pada kedalaman sebenarnya, agar data seismic mampu
dikorelasikan terhadap data geologi lainnya.
d) Membuat Picking Horizon, Yaitu dengan membuat interpretasi
seismic secara lateral pada daerah yang telah ditentukan.
e) Membuat Time Map dan Depth Map.
1.3.3 Tahap Penyusunan Laporan

2
Tahap Ini merupakan tahap akhir dari seluruh proses penelitian.
Laporan praktikum ini berisikan seluruh proses dan hasil analisa dari
pengolahan data. Sehingga diharapkan dapat berguna untuk penelitian
selanjutnya.

3
BAB II
GEOLOGI REGIONAL

2.1 Studi Regional


2.1.1 Geologi Regional Cekungan Sumatera Selatan
Cekungan Sumatra Selatan merupakan cekungan busur belakang
(Back Arc Basin) yang terbentuk akibat interaksi antara lempeng
Hindia-Australia dengan lempeng mikro sunda. Cekungan ini dibagi
menjadi 4 sub cekungan yaitu (Pulonggono, 1984):
a) Sub Cekungan Jambi
b) Sub Cekungan Palembang Utara
c) Sub Cekungan Palembang Selatan
d) Sub Cekungan Palembang Tengah
Cekungan ini terdiri dari sedimen Tersier yang terletak tidak selaras
(unconformity) di atas permukaan metamorfik dan batuan beku Pra-
Tersier.

Gambar 2.1 Sumatera Selatan Basin

2.1.2 Proses Tektonik Cekungan Sumatera Selatan


Cekungan Sumatera Selatan merupakan cekungan belakang busur
vulkanik (back-arc basin) yang dibentuk oleh tiga fase tektonik
utama, yaitu:

4
1) Fase ekstensional selama Paleosen Akhir sampai Miosen
Awal, membentuk graben mengarah ke Utara yang diisi
endapan Eosen sampai Miosen Awal
2) Sesar normal dari Miosen Awal sampai Pliosen Awal
3) Fase kompresional yang melibatkan batuan dasar, inversi
cekungan, dan pembalikan sesar normal pada Pliosen yang
membentuk antiklin, yang merupakan perangkap utama di
daerah ini (Bishop et. al., 2001).

Gambar 2.2 Peta Pola Struktur Cekungan Sumatera Selatan


(Bhishop, 2001)
Sub Cekungan Jambi di Cekungan Sumatera Selatan adalah
rangkaian half-graben berumur Paleogen yang berarah umum
timurlaut - baratdaya, diantaranya adalah Tembesi high, Berembang
depression, Sengeti-Setiti high, Tempino-Kenali Asam depression,
Ketaling high, East Ketaling depression, Merang high, dan Merang
depression. Sub Cekungan Jambi memiliki dua pola struktur yang
berbeda yaitu pola struktur berarah TimurlautBaratdaya sebagai
pengontrol pembentukan graben dan pengendapan Formasi Talang
Akar dan pola struktur berarah Baratlaut Tenggara yang berkaitan
dengan tektonik kompresi dan menghasilkan sesar sesar naik dan
antiklin.

5
2.1.3 Sejarah Tektonik Cekungan Sumatera Selatan, Sub-Cekungan Jambi

Gambar 2.3 Tektonik Cekungan Sumatera Selatan, Sub-Cekungan


Jambi
a) Syn-rift Megasequence
Kerak kontinen di daerah Sumatera Selatan
terkena event ekstensi besar pada Eosen-Oligosen Awal akibat
subduksi di sepanjang palung Sumatera. Ekstensi ini menghasilkan
pembukaan beberapa half-graben yang geometri dan orientasinya
dipengaruhi oleh heterogenitas basement. Kemudian, terjadi
ekstensi yang berorientasi Barat-Timur menghasilkan
horst dan graben yang berarah Utara Selatan. Sumatera Selatan
telah berotasi sebesar 150 sejak Miosen menurut Hall (1995) yang
menghasilkan orientasi graben menjadi berarah Utara-Baratlaut
dan Selatan-Tenggara.

b) Post-rift Megasequence
Endapan post-rift di Sub Cekungan Palembang mencapai
ketebalan 13.000 kaki, hal ini disebabkan oleh subsidence yang
tinggi dan muka laut relatif yang juga tinggi menyebabkan
transgresi berkepanjangan.

6
c) Syn-orogenic/Inversion Megasequence
Event orogen yang menyebar luas, orogenesa Barisan,
muncul di sepanjang Sumatera Selatan. Lipatan transpressional
yang berorientasi memanjang pada arah Baratlaut-Tenggara
terbentuk sepanjang cekungan dan memotong tubuh syn-rift di
bawahnya. Kebanyakan perx`angkap struktural di bagian tengah
cekungan ini dimulai pada megasekuen ini.

2.1.3 Tektonostratigrafi Cekungan Sumatera Selatan

Gambar 2.4 Tektonostratigrafi Cekungan Sumatera Selatan, Sub-


Cekungan Jambi

Stratigrafi regional Sub Cekungan Jambi yang merupakan bagian


dari Cekungan Sumatera Selatan tersusun oleh:
Batuan Dasar Pre-Tersier
Tidak ada informasi tentang Batuan dasar Pre-tersier yang menjadi
alas seluruh endapan tersier di Lapangan Kenali Asam. Kajian pada
lapangan lain di sekitar lapangan ini menunjukkan kehadiran batuan
dasar sebagai batuan metamorf derajat rendah seperti sabak, filit, dan

7
kuarsit dengan pirit dan kuarsa di dalam rekahan. Batuan dasar ini
diperkirakan berumur Kapur.
Endapan Rift berumur Oligosen
1) Formasi Lahat
Formasi Lahat terdiri dari endapan vulkanik, kipas aluvial,
dataran banjir, dan lakustrin. Penyebarannya dikontrol oleh
graben, yang dibagian atasnya ditutupi secara tidak selaras oleh
endapan berumur Oligosen Akhir sampai Miosen Tengah.
Memiliki ketebalan > 2000 m terutama dibagian tengah graben,
dan pada bagian tinggian endapan ini tidak dijumpai. Formasi
Lahat ekivalen dengan Formasi Lemat di area Pendopo.
Pembagian secara lebih terperinci dapat dijelaskan sebagai
berikut:
a) Di bagian bawah berupa endapan vulkanik Kikin yang
terdiri dari aliran lava andesit dan piroklastik
(dapat mencapai ketebalan 800 m).
b) Di bagian tengah diendapkan anggota klastik kasar Lemat
yang terdiri dari endapan kipas aluvial
dan dataran aluvial (ketebalan beberapa ratus meter).
c) Di bagian atas diendapkan anggota Serpih Benakat yang
berselingan dengan lapisan batubara
(ketebalan 400 600 m).
Endapan berumur Oligosen Akhir sampai Miosen Tengah
1) Formasi Talang Akar
Formasi Talang Akar (TAF) diendapkan secara tidak selaras
di atas Formasi Lahat (LAF) dengan ketebalan > 1000 m pada
bagian terdalam dan seringkali tidak muncul pada daerah
tinggian. Di bagian bawah berupa endapan progradasi yaitu
endapan aluvial dan dataran delta dan di bagian atas berupa
endapan transgresif yaitu endapan tebal batupasir dengan sedikit

8
sisipan serpih dan lapisan batubara. Formasi ini mulai
diendapkan pada akhir Oligosen (N2/N3)
Anggota Transisi (Transitional Member)
Anggota Transisi berubah secara berangsur ke arah atas
menjadi Formasi Baturaja yang didominasi oleh endapan
batugamping. Pada umumnya memperlihatkan kontak selaras,
namun pada bagian pinggir cekungan memperlihatkan kontak
tidak selaras dengan batuan dasar tanpa adanya endapan
Formasi Talang Akar. Hal ini menunjukkan bahwa proses
transgresif berlangsung secara menerus setelah diendapkannya
Formasi Talang Akar.
1) Formasi Baturaja
Batugamping ini berkembang dari Sub Cekungan
Palembang Selatan ke arah utara ke Sub Cekungan Jambi. Pada
bagian terdalam dari Sub Cekungan Jambi dan Palembang
Tengah, batugamping Formasi Baturaja digantikan oleh
endapan marine berupa serpih gampingan yang seringkali tidak
bisa dipisahkan dengan Formasi Gumai berupa endapan serpih.
Ke arah timur batugamping memperlihatkan perselingan
dengan batulumpur karbonatan dan batupasir. Batugamping ini
berupa karbonat platform dan secara lokal di bagian atasnya
berupareef build-up, memiliki ketebalan 60100 m namun
kadang-kadang dapat mencapai 200 m apabila berupa reef
build-up. Formasi Baturaja diendapkan pada N5 sampai dengan
pertengahan N6.
2) Formasi Gumai
Formasi ini menyebar dari arah timurlaut dan timur sampai
ke Paparan Sunda, dan hadir sebagai endapan marine dari suatu
laut terbuka. Formasi Gumai didominasi oleh endapan serpih
terutama di Cekungan Sumatera Selatan dan beberapa lapisan
tipis batugamping (stringer) di daerah Jambi, lapisan vulkanik,
serta setempat sisipan batulanau dan batupasir halus, memiliki
ketebalan berkisar dari 450750 m, pada bagian tengah Sub

9
Cekungan Jambi ketebalannya dapat mencapai 1.735 m,
sedangkan di Sub Cekungan Palembang Selatan ketebalannya
dapat mencapai 2.100 m.
3) Formasi Air Benakat
Formasi ini menyebar dari arah timurlaut dan timur sampai
ke Paparan Sunda, dan hadir sebagai endapan marine dari suatu
laut terbuka. Formasi Gumai didominasi oleh endapan serpih
terutama di Cekungan Sumatera Selatan dan beberapa lapisan
tipis batugamping (stringer) di daerah Jambi, lapisan vulkanik,
serta setempat sisipan batulanau dan batupasir halus, memiliki
ketebalan berkisar dari 450750 m, pada bagian tengah Sub
Cekungan Jambi ketebalannya dapat mencapai 1.735 m,
sedangkan di Sub Cekungan Palembang Selatan ketebalannya
dapat mencapai 2.100 m.
Siklus Pengendapan akhir Miosen Tengah sampai Miosen Akhir
1) Formasi Muara Enim
Siklus pengendapan transgresif regresif diawali dari
Formasi Air Benakat yang berubah secara perlahan menjadi
Formasi Muara Enim yang terdiri dari perselingan serpih
karbonatan, batulanau, batupasir, dicirikan oleh melimpahnya
lignit (satu lapisan lignit dapat mencapai ketebalan 30 m), dan
sisipan tufan seringkali dijumpai secara lokal.
Endapan Termuda (Pliosen-Pleistosen)
1) Formasi Kasai
Formasi Kasai diendapkan secara tidak selaras di atas
Formasi Muara Enim, terutama di bagian tengah cekungan,
hadir sebagai perselingan endapan vulkanik klastik dengan
serpih bentonit serta sisipan lignit.
Aluvial dan Vulkanik Kuarter
Pada bagian atas Formasi Kasai diendapkan endapan aluvial
dan vulkanik Kuarter dengan kontak tidak selaras.

10
BAB III

SOFTWARE PETREL

3.1 Teori Dasar


Petrel adalah aplikasi berbasis Windows untuk 3D visualzation, 3D
mapping dan 3D reservoir modeling dan simulation. Aplikasi Petrel ini sendiri
dibuat dengan memanfaatkan .NET Framework. Untuk aplikasi Petrel 2010.1,
aplikasi ini dibuat dengan menggunakan .NET Framework 2.0. software ini
lebih dimanfaatkan untuk pemodelan subsurface penambangan minyak.

Gambar 3.1 Aplikasi Software Petrel

3.2 Petrel Dalam Pemodelan Geologi


3.2.1 Menyatukan Geologi, Geofisika, dan Teknik Reservoir
Mengidentifikasi dan hidrokarbon pemulihan memerlukan model
akurat, resolusi tinggi dari struktur geologi dan stratigrafi reservoir.
Kemampuan geologi Petrel, semua bersatu dengan alat-alat teknik
geofisika dan reservoir, memungkinkan studi yang terintegrasi dengan

11
menyediakan deskripsi reservoir yang akurat yang berkembang dengan
reservoir.

3.2.2 Petrel Geoscience Core


Sebuah suite lengkap modul karakterisasi reservoir mencakup
kemampuan untuk menghasilkan panel korelasi yang baik, dan
melakukan pemetaan, teknik merencanakan dan 3D modeling reservoir,
yang terintegrasi dengan metode simulasi. Alat Workflow Editor
memungkinkan untuk otomatisasi alur kerja dan pembaruan model
dengan cepat, mengurangi waktu siklus dan memaksimalkan efisiensi
perolehan project.

3.2.3 Kerangka Struktural Petrel


Konstruksi dan otomatisasi kerangka fault kompleks
memungkinkan transisi dari kerangka kompleks untuk grid titik sudut
tradisional, termasuk IJK IJK hibrida baru dan total (tangga-langkah)
model, dan memberikan representasi yang lebih akurat dari data yang
ditafsirkan untuk mengevaluasi ketidakpastian di volumetrics, porositas,
permeabilitas, struktur atau properti lain yang relevan untuk definisi
prospek yang lebih baik dan ditingkatkan dengan baik penempatannya.

12
BAB IV
METODE DAN INTERPRETASI PETREL

4.1 Metode Pengolahan Data dan Interpretasi Aplikasi Petrel


Penggunaan aplikasi program software Petrel 2010, didalam praktikum
Geofisika Eksplorasi memiliki beberapa macam tahapan-tahapan penggunaan
metode pengolahan data, yang diantaranya mulai dari metode Well Tie, metode
Seismic Horizon, kemudian metode Interpretasi Fault dan metode Depth
Structure.
Pada Praktikum Geofisika Eksplorasi, dilaksanakan tata cara penggunaan
aplikasi program software Petrel 2010 dalam penerapan bidang ilmu Geologi.
Data-data Geologi yang digunakan merupakan berasal dari bagian Cekungan
Sumatera Selatan, yaitu Sub-Cekungan Jambi. Adapun tahapan langkah-
langkah atau cara kerja yang di mulai dari loading data atau menginput data,
melakukan Well Tie, melakukan Seismic Horizon, kemudian melakukan
Interpretasi Fault dan Depth Structure yang dapat dilihat sebagai berikut:

1. Buka Petrel 2010.2.2.exe


2. Klik Project, Project Setting

13
3. Pilih tab Coordinates and Units, centang custimez, Z unit diganti ft,
pilih OK

4. Klik insert, new well folder

5. Layer input Wells di klik kanan, pilih new well. Isi Namanya
EXPLORATION dan isi well head X, well head Y, & KB value
dilihat dari file Well Top Exploration Well.xlsx. Lalu centang specify
vertical trace di subtab Trace dan isi Top MD (start ft) dan Bottom MD

14
(stop ft) dilihat dari file notepad yang berjudul Exploration Well. Dan
klik OK.

6. Lalu pilih Select Coordinates System dan akan muncul tab


Coordinates reference system selection. Search 48S dan pilih
WGS_1984_UTM_Zone_48S, klik OK.

7.

15
8. Expand input Wells, klik kanan EXPLORATION, pilih Import
(on selection), files of type diganti Well logs (ASCII), pilih file
notepad Exploration Well, pilih Open dan OK for all.

9. Klik kanan EXPLORATION, pilih Import (on selection), files of


type diganti Checkshots format (ASCII), pilih file notepad CS
Exploration Well, pilih Open dan OK for all.

16
10. Centang EXPLORATION, lalu klik Insert, pilih New seismic
main folder.

11. Klik kanan Seismic, pilih Insert seismic survey, akan muncul
beberapa macam input lainnya

12. Klik kanan EXPLORATION, pilih Insert log set.

17
13.
14. Klik kanan Survey 1, pilih Import (on selection), files of type
diganti SEG-Y seismic data, pilih file Seismic Line 1.segy sampai
Seismic Line 11.segy, klik Open, lalu pilih OK for all, setelah
processing data, klik Close .

15.

18
16. Klik Insert, pilih New well tops. Expand Well tops, klik kanan
Well tops, pilih spreadsheet, pilih Apend item in the table, surface
diganti horizon 4, MD diisi MD di horizon 4, kolom X,Y dan Z akan
otomatis terisi, lalu pilih Ok.

17. Pada tools Processes (kiri bawah), expand Geophysics, double


click Seismic well tie dan akan muncul toolbar seismic well tie.
Expand JAMBI EXPLORATION, double click Log set 1, pilih tab
Components, add DT dan RHOB, lalu OK.

Pada tools Processes, klik kanan Seismic well tie, pilih new New
sonic calibration window, akan muncul Sonic calibration window.

19
18. Drag Log set 1 ke Sonic calibration window, pilih tab Datuming,
Marine diubah menjadi Land. Pilih tab Output, pada bagian
Time/depth, klik Output, lalu Close.

19. Double click JAMBI EXPLORATION, pilih tab Time, centang


Override global settings, centang Manual adjustment, klik sekali
Well tops, lalu klik kiri tanda panah ke kanan (warna biru) pada
Manual adjustment, akan muncul Well tops 1 pada kolom
tersebut, klik Run dan klik OK. Akan muncul horizon 4 pada Sonic
Calibration Window.

20
20. Double click Seismic well tie, pilih tab Wavelet extraction, klik
New wavelet extraction window.

21. Drag Log set 1 ke Wavelet extraction window, drag Seismic line
3 atau Seismic Line 6 (karena berpotongan dengan sumur bor) ke
kolom Seismic, lalu klik Extract.

21
22. Klik kanan pada synthetic data, pilih Split synthetic display
attributes, centang Variable density, lalu klik Close.

23. Klik kanan pada synthetic data, pilih Variables and settings, pilih tab
Time Shift, lalu mulai seismic well tie.

22
24. Jika sudah melakukan seismic well tie, centang Use variable time
shift untuk melihat hasilnya, jika diperkirakan sudah tie, klik
Extract, klik Close semua display yang muncul.

25. Setelah seismic sudah di rapihkan, barulah dilakukan interpretasi terhadap


seismic tersebut sesuai line yang dimiliki

26. Interpretasikan horizonnya sesuai line yang memiliki horizon tersebut

23
27. Interpretasikan masing-masing tiap patahan atau fault

28. Setelah fault dan patahan di interpretasikan, kemudian buat polygon


untuk memfokuskan daerah yang akan di olah menjadi peta 3D yang
menunjukan ketinggian

24
29. Untuk membuat pemodelan terhadap patahan yang mengenai horizon
maka dilakukanlah pemodelan patahan secara 3D. sehingga patahan
yang mengenai horizon tersebut dapat terlihat dan nampak di
permodelan

30. Setelah melakukan permodelan patahan, maka perlu adanya konversi


dari data yang bersifat PWT ke depth

25
31. Memastikan apakah permodelan yang dibuat sudah terkoreksi dengan
baik

32. Setelah semuanya terkoreksi dan sudah diolah, perlu adanya


penampilan model patahan dengan data yang sudah terkoreksi. Dan
kemudian ditampilkan dalam bentuk 3D agar lebih mudah dipahami

33. Hasil Permodelan

26
BAB V
HASIL ANALISIS

5.1 Analisis Kenampakan Peta 3D secara Geologi

Pada awalnya antara kedalaman (depth) dengan waktu (time) tidak memiliki
sinkronisasi atau hubungan, namun dilakukan Analisa dan interpretasi beberapa
tahap yang menghasilkan kenampakan peta 3D, sehingga dari hasil kenampakan
peta 3D mengakibatka adanya hubungan antara waktu dengan hasil kedalaman
yang di peroleh.
Selain itu, terdapat bentukan kontur yang tidak terlalu rapat dan tidak terlalu
melebar, dapat diasumsikan bahwa disitulah tempat dimana well sumur pengeboran
diletakkan. Sehingga kemungkinan bahwa posisi letak well sumur ini berada di
lingkungan tempat yang mungkin sedikit atau bahkan tidak memiliki lembah,
namun berupa bentukan permukaan yang sedikit flat atau sedikit datar.

27
BAB VI
KESIMPULAN

Berdasarkan dari hasil praktikum geofisika eksplorasi yaitu dengan cara


melakukan input data seismic yang didapat dari setiap line pada Sub-Cekungan
Jambi, praktikan dapat menarik kesimpulan bahwa pada Cekungan Sumatera
Selatan tepatnya di Sub Cekungan Jambi terdapat pola kenampakan patahan yang
berarah BaratLaut-Tenggara pada kedalaman yang rendah, kenampakan ini yang
memiliki kemungkinan bahwa patahan-patahan tersebut berasal dari akibat adanya
gaya tektonik kompresi yang menyebabkan lipatan transpresional.
Gaya kompresi ini kemudian menghasilkan pembentukan atau terangkatnya
Bukit Barisan pada Zaman Tersier tepatnya pada Kala Miosen Tengah, patahan
naik atau sesar naik dengan arah berorientasi memanjang BaratLaut-tenggara
sampai sekarang. Hal ini kemudian termasuk kedalam tiga event besar tektonik
yang berada di daerah Sub-cekungan Jambi, yaiu event Syn-orogenic atau Inversion
Megasequence yang masih berlangsung hingga saat ini. Patahan ini dimungkinkan
akan berpotensi untuk menjadi jalur migrasi bagi hidrokarbon sehingga
hidrokarbon yang sudah matang dapat berpindah lokasi untuk mencapai titik
kesetimbangan.
Pada permodelan yang dibuat juga terdapat beberapa kesalahan yang
dilakukan oleh interpreter sehingga mengakibatkan kurang maksimalnya kualitas
permodelan yang dihasilkan. Hal ini menyebabkan permodelan yang dibuat tidak
menunjukan bahwa patahan yang terjadi di Sub Cekungan Jambi ini terlihat dengan
baik pada kenampakan peta 3D.

28
DAFTAR PUSTAKA

Refrensi Buku:

Tanpa nama. 2016. Tahap-tahan Program Petrel 2010. Jakarta : Universitas


Trisakti

Refrensi Internet:

https://www.software.slb.com/products/petrel/petrel-core-
systems/geoscience-core
https://www.software.slb.com/products/petrel/petrel-geology-and-
modeling/exploration-geology
https://www.software.slb.com/products/disciplines/geology
http://tekniktambang.blogspot.co.id/search/label/PETREL%20SCHLUMBER
GER

29