Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN PENDAHULUAN KB SUNTIK 1

BULAN

LAPORAN PENDAHULUAN
KB SUNTIK 1 BULAN

1. DEFINISI
- Kelurga Berencana (KB) adalah tindakan yang membantu individu atau pasangan suami istri
untuk mendapatkan obyektif-obyektif tertentu, menghindari kehamilan yang tidak diinginkan,
mendapatkan kehamilan yang diinginkan, mengatur interval diantara kehamilan, mengontrol
waktu saat kelahiran dalam hubungannya dengan umur suami istri dan menentukan jumlah anak
dalam keluarga (World Health Organisation.2006)
- Suntikan kombinasi adalah 25 mg medroksiprogesteron asetat dan 5 mg estradiol siplonat yang
diberikan injeksi IM (intramuskuler) sebulan sekali (cyclofem) dan 50 mg noretridon enantat dan
5 mg estradiot valerat yang diberikan injeksi IM (Intramuskular) sebulan sekali (Buku Panduan
Praktis Kontrasepsi.2006 : MK-34)

2. MEKANISME KERJA
- Menekan Ovulasi
- Membuat lendir serviks menjadi kental sehingga penetrasi sperma terganggu
- Perubahan pada endrometrium (atrofi) sehingga implamantasi terganggu
- Menghambat transportasi gamet oleh tuba
(Buku Panduan Praktis Kontrasepsi.2006 : MK-34)

3. EFEKTIFITAS
- Sangat efektif ( 0,1 0,4 kehamilan per 100 perempuan) selama tahun pertama (Saifudin.2003)
- Hanya terjadi 6 kegagalan pada 70.000 wanita / tahun pemakaian
(Obstetri William Edisi 21.2005)

4. INDIKASI
- Usia reproduktif
- Telah memiliki anak ataupun belum memiliki anak
- Ingin mendapatkan kontrasepsi dengan efektifitas yang tinggi
- Menyusui ASI pasca persalinan > 6 bulan
- Pasca persaliann tidak menyusui
- Anemia
- Nyeri haid hebat
- Haid teratur
- Riwayat kehamilan ektropik
- Sering lupa menggunakan pil kontrasepsi
(Saifudin.2003)

5. KONTRAINDIKASI
- Hamil atau diduga hamil
- Menyususi dibawah 6 minggu pascapersalinan
- Perdarahan pervaginam yang belum tau penyebabnya
- Usia lebih dari 35 tahun yang merokok
- Riwayat penyakit jantung, stroke atau dengan tekanan darah tinggi (lebih dari 110/180 mmHg)
- Riwayat tekanan tromboli atau dengan kencing manis
- Keganasan payudara

6. KEUNTUNGAN
a. Keuntungan Kontrasepsi
- Resiko terhadap kesehatan kecil
- Tidak berpengaruh pada hubungan suami istri
- Tidak diperlukan pemeriksaan dalam
- Jangka panjang
- Efek samping sangat kecil
- Klien tidak perlu menyiapkan alat suntik
b. Keuntungan Nonkontrasepsi
- Mengurangi jumlah pendarahan
- Mengurangi nyeri haid
- Mencegah anemia
- Khasiat pencegahan terhadap kanker ovarium dan kanker endometrium
- Mengurangi penyakit payudara dan kista ovarium
- Mencegah ektopik
- Melindungi klien dari jenis-jenis tertentu penyakit radang panggul
- Pada keadaan tertentu dapat diberikan pada perempuan usia premenopouse
(Saifudin.2003)

7. KETERBATASAN
- Terjadi perubahna pada pola haid, seperti haid tidak teratur, pendarahan bercak / spotting atau
perdarahan sela sampai 10 hari
- Mual, sakit kepala, nyeri payudara ringan, dan keluhan seperti ini akan hilang setelah suntikan
kedua atau ketiga
- Ketergantungan klien terhadap pelayanan kesehatn. Klien harus setiap 30 hari datang ke pelayan
kesehatan untuk mendapatkan suntikan
- Efektifitas berkurang bila digunakan bersama dengan obat-obtan epilepsi (Fenitoin dan
barbiturate) atau obat epilepsi (rifampisin)
- Dapat terjadi efek samping yang serius seperti serangan jantung, stroke, bekuan darah pada paru
/ otak kemungkinan timbulnya tumor hati
- Penambahan berat badan
- Tidak menjamin perlindungan terhadap penularan infeksi menular seksual, Hepatitis B virus,
atau infeksi virus HIV
- Kemungkinan terlambat pemulihan kesuburan setelah penghentian pemakaian
(Saifudin.2003)
POHON MASALAH

Alat Kontrasepsi

Menjarangkan kehamilan
Mengatur kehamilan
Mengakiri kehamilan

Hormonal Non Hormonal

Cyclofem DMPA

Yang dapat mengunakan:


- Usia reproduktif
- Telah memiliki anak ataupun belum memiliki anak
- Ingin mendapatkan kontrasepsi dengan efektifitas yang tinggi
- Menyusui ASI pasca persalinan > 6 bulan
- Pasca persaliann tidak menyusui
- Anemia
- Nyeri haid hebat
- Haid teratur
- Riwayat kehamilan ektropik
- Sering lupa menggunakan pll kontrasepsi

ASEPTOR KB SUNTIK 1 BULAN

INTERVENSI
Dx : Aseptor lama dengan KB suntik 1 bulan
Tujuan : mencegah terjadinya kehamilan
KH : Tidak terjadi kehamilan dan tanda adanya kehamilan
Tidak ada komplikasi selama pemakaian KB suntik 1 bulan
Intervensi
1. Ciptakan hubungan terapeutik pada ibu dan keluarga
R : adanya pendekatan dan komunikasi terapeutik akan trcipta kerjasama dan kepercayaan
berindak dan membawa ke putugas kesehatan
2. Lakukan Cuci tangan sebelum dan setelah melakukan tindakan
R : mencegah infeksi silang antara pasien dan petugas kesehatan
3. Tanyakan pada pasien mengenai keadaan / informasi mengenai dirinya
R : mengenali pemahaman pasien mengenai KB dan alat kontrasepsi yang diinginkan
4. Lakukan persiapan alat penyuntikan
R : mempercepat proses penyuntikan dan menghindari alat-alat tertinggal
5. Lakukan pesiapan pasien dengan mengatur posisi pasien
R : posisi pasien juga ikut menentukan pada area yang benar
6. Lakukan penyuntikan sesuai prosedur pada area yang benar
R : melakukan penyuntikan sesuai dengan prosedur secara IM di 1/3 atas antara SIAS dan Os
cocygeus akan membua obat benar-benar terserap dalam otot dan menghindari abses
7. Lakukan pendokumentasian pada kartu kunjungan selanjutnya
R : memudahkan pasien untuk kunjungan selanjutnya

Masalah
A. Mual
Tujuan : mengurangi mual yang timbul akibat efek samping KB suntik
KH : Nafsu makan ibu bertambah
Ibu tidak cemas terhadap mual yang dihadapinya
Intervensi
1. Beritahu ibu penyebab mual
R : memberitahu pada ibu apa penyebab mual, supaya ibu tidak cemas lagi
2. Anjurkan ibu untuk makan sedikit tapi sering
R : makan sedikit tapi sering, diharapkan asupan gizi tetap terpenuhi meskipun dalam keadaan
mual

B. BB bertambah
Tujuan : mengurangi kecemasan terhadap kenaikan BB yang dialami
KH : penembahan berat badan yang dialamai ibu bisa ditekan
Ibu tidak cemas terhadap penambahan BB
Intervensi
1. Beritahu ibu penyebab perubahan BB
R : dengan memberi tahu ibu apa penyebab penambahan berat membuat ibu tidak cemas lagi
2. Anjurkan ibu untuk mengatur pola makan
R : Diet dengan gizi seimbang akan mengurangi penambahan BB yang berlebihan
3. Anjurkan ibu untuk tidak mengemil di malam hari
R : kebutuhan kalori di malam hari tidak sebanyak disiang hari
4. Anjurkan ibu untuk berolahraga secara teratur
R : olahraga dapat memanatu pembakaran lemak dlam tubuh

C. Haid tidak teratur


Tujuan : Haid ibu lancar dan teratur
KH : KU ibu baik
Ibu tidak cemas lagi
Intervensi
1. Jelaskan proses terjadinya gangguan pola haid
R : insiden amenorhea berhubungan dengan atropi endometrium dan perubahan kadar hormon
pada tubuh
2. Motivasi ibu untuk tetap mamakai alat kontrasepsi yang dipilihnya
R: gangguan pola haid normal tejadi pada awal-awal penyuntikan
3. Anjurkan ibu untuk makan makanan yang bergizi
R : mencegah kompliasi lain selain anemia

Kebutuhan
A. KIE tentang KB suntik 1 bulan
Tujuan : agar ibu paham tentang keuntungan, efek samping, dan cara kerja KB suntik
KH : ibu tidak cemas lagi
Intervensi
1. Jelaskan pada ibu tentang KIE KB 1 bulan
R : agar ibu paham tentang KB suntik 1 bulan
2. Jelaskan pada ibu tentang keuntungan, efek samping dan cara kerja KB suntik
R : agar ibu tidak cemas tentang keadaannya

B. KIE tentang cara mengatasi efek samping alat kontrasepsi


Tujuan : ibu bisa paham, mengerti cara menaggulangi efeksamping suntik 1 bulan
KH : ibu bisa mengatasi efek samping alat kontrasepsi yang digunakan
Intervensi
1. Jalskan pada ibu cara cara menaggulangi efek samping alkon
R : agar ibu bisa menangguangi efek smaping yang terjadi dan tidak khwatir
2. Anjurkan ibu untuk segera menghubungi bidan jika dalam waktu lama efek samping belum
sempurna / sembuh
R : agar bidan bisa memberi solusi dari maslah tersebut

IMPLEMENTASI
Tindakan dari intervensi sesuai kebutuhan klien

EVALUASI
Dilakukan untuk mengetahui sejauhmana keefektifitasan asuahan kebidanan yang dilakukan
dengan mengacu pada kriteria hasil

DAFTAR PUSTAKA

Cunningham,F,Gary.2005.Obstetri William edisi 21.Jakarta :EGC

Manuaba, Ida Ayu Chanranita,dkk.2010.Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan KB untuk


Pendidikan Bidan.Jakarta :EGC

Prawirohardjo, Sarwono.2008.Ilmu Kandungan. Jakarta : Yasasan Bina Pustaka

Prawirohardjo, Sarwono.2008.Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta : Yasasan


Bina Pustaka

Prawirohardjo, Sarwono.2008.Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yasasan Bina Pustaka

Saifudin, Adbul Bari. 2003.Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi.Jakarta : Yayasan


Bina Pustak
Laporan Pendahulan Suntik KB 1 bulan
LAPORAN PENDAHULUAN
KONTRASEPSI SUNTIK 1 BULAN

I. DEFINISI
Keluarga berencana adalah tindakan yang membantu individu atau pasangan suami istri untuk :
Menghindari kelahiran yang tidak diinginkan
Mendapatkan kelahiran yang memang diinginkan
Mengatur interval diantara kelahiran
Menentukan jumlah anak didalam keluarga
Mengontrol waktu saat kelahiran dalam hubungan dengan suami istri (
http:www.askeb IUD.com/kontrasepsi )
Kontrasepsi adalah usaha- usaha untuk mencegah terjadinya kehamilan, dapat bersifat
sementara, dapat juga bersifat permanent. (Ilmu Kandungan.2006: hal 534 dan Ilmu kebidanan.
2006 hal:905 )

Kontrasepsi adalah menghindari / mencegah kehamilan sebagai akibat pertemuan sel telur yang
matang dengan sel sperma tersebut. (http:www.askeb IUD.com/kontrasepsi )
Suntikan kombinasi adalah 25 mg medroksiprogesteron asetat dan 5 mg estradiol siplonat yang
diberikan injeksi IM ( intramuskuler ) sebulan sekali ( cyclofem ), dan 50 mg noretridon enantat
dan 5 mg estradiol valerat yang diberikan injeksi IM ( intramuskuler ) sebulan sekali (Buku
Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi, 2006 : MK- 34 )
Obat kontrasepsi yang disuntikkan setiap bulan dan mengandung 25 mg medrodsiprogesteron
asetat plus 5 mg estradiol sipinoat ( Obstetri Williams edisi 21.2005 : 1716 )

II. MEKANISME KERJA


Menekan ovulasi
Membuat lendir serviks menjadi kental sehingga penetrasi sperma terganggu
Perubahan pada endometrium ( atrofi ) sehingga implamantasi terganggu
Menghambat transportasi gamet oleh tuba
( Buku Panduan Praktis Kontrasepsi, 2006 : MK-34 )

III. EFEKTIVITAS
o Sangat efektif ( 0,1- 0,4 kehamilan per 100 perempuan ) selama tahun pertama. ( Saifudin, 2003 )
o Hanya terjadi 6 kegagalan metode pada 70.000 wanita / th pemakaian. Efektifitas ( Obstetri
William edisi 21,2005 )

IV. KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN


Keuntungan Kontrasepsi
Resiko terhadap kesehatan kecil
Tidak berpengaruh pada hubungan suami istri
Tidak diperlukan pemeriksaan dalam
Jangka panjang
Efek samping sangat kecil
Klien tidak perlu menyimpan alat suntik
Keuntungan Non Kontrasepsi
Mengurangi jumlah perdarahan
Mengurangi nyeri saat haid
Mencegah anemia
Khasiat pencegahan terhadap kanker ovarium dan kanker endometrium
Mengurangi penyakit payudara dan kista ovarium
Mencegah ektopik
Melindungi klien dari jenis- jenis tertentu penyakit radang panggul
Pada keadaan tertentu dapat diberikan pada perempuan usia premenopouse
Kerugian
Terrjadi perubahan pada pola haid, seperti tidak teratur, perdarahan bercak/ spotting, atau
perdarahan sela sampai 10 hari.
Mual, sakit kepala, nyeri payudara ringan, dan keluhan seperti ini akan hilang setelah suntikan
kedua atau ketiga
Ketergantungan klien terhadap pelayanan kesehatan. Klien harus kembali setiap 30 hari untuk
mendapatkan suntikan.
Efektifitasnya berkurang bila digunakan bersamaan dengan obat- obatan epilepsy ( fenitoin dan
barbiturate ) atau obat epilepsi (rifampisin).
Dapat terjadi efek samping yang serius seperti serangan jantung, stroke, bekuan darah pada
paru/ otak dan kemungkinan timbulnya tumor hati.
Penambahan berat badan.
Tidak menjamin perlindungan terhadap penularan infeksi menular seksual, Hepatitis B virus,
atau infeksi virus HIV
Kemungkinan terlambatnya pemulihan kesuburan setelah penghentian pemakaian.
( Saifudin, 2003 )

V.INDIKASI DAN KONTRA INDIKASI


Indikasi :
Usia reproduksi
Telah memiliki anak ataupun yang belum memiliki anak
Ingin mendapatkan kontrasepsi dengan efektivitas yang tinggi
Menyusui ASI pasca persalinan > 6 bulan
Pasca persalinan tidak menyusui
Anemia
Nyeri haid hebat
Haid teratur
Riwayat kehamilan ektopik
Sering lupa menggunakan pil kontrasepsi

Kontraindikasi
Hamil atau diduga hamil
Menyusui dibawah 6 minggu pascapersalinan
Perdarahan pervaginam yang belum tau penyebabnya
Penyakit hati akut ( virus Hepatitis )
Usia lebih dari 35 tahun yang merokok
Riwayat penyakit jantung. Stroke, atau dengan tekanan darah tinggi ( > 180/ 110 mmHg )
Riwayat tekanan tromboli atau dengan kencing manis > 20 tahun
Keganasan payudara
( Saifudin, 2003 )

DAFTAR PUSTAKA

Cunningham,F, Gary.2005. Obstetri William edisi 21. Jakarta : EGC


Prawiroharjo, Sarwono. 2006. Ilmu Kandungan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawiroharjo
Prawiroharjo, Sarwono. 2006. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawiroharjo
Saifudin, A.B.2003.Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta : Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawiroharjo
http : // www.askeb IUD.com/ kontrasepsi
POHON MASALAH

Alat Kontrasepsi

Menjarangkan kehamilan,
Mengatur kehamilan
Mengakhiri kehamilan

Metode Sederhana Metode Modern

Hormonal Non
Hormonal
Cyclofem DMPA

Yang dapat menggunakan


1. Usia reproduksi
2. Telah memiliki anak atau belum
3. Pasca persalinan dan tidak menyusui
4. Anemia
5. Nyeri haid hebat
6. Riwayat kehamilan ektopik

Akseptor KB suntik 1 bulan


ASUHAN KEBIDANAN AKSEPTOR KB
SUNTIK 1 BULAN PADA Ny. F DI BPS
SURYANTI AM.KEB TANGGAL 14 FEBRUAI
2014
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tingginya angka kelahiran di Indonesia menggelisahkan banyak pihak. Sejak 2004,
program Keluarga Berencana (KB) dinilai berjalan lamban, hingga angka kelahiran mencapai 4,5
juta per tahun. Ledakan penduduk disadari akan berpengaruh pada ketersediaan pangan dan
kualitas sumber daya manusia. Untuk menghindari dampak tersebut, pemerintah berusaha keras
menekan angka kelahiran hingga dibawah 4,5 juta jiwa per tahun. Badan Koordinasi Keluarga
Berencana Nasional (BKKBN) yang bertanggung jawab dibidang ini berusaha meningkatkan
kinerja dengan meluncurkan program pemberian insentif bagi tenaga medis (BKKBN, 2011).
Di Indonesia terdapat berbagai macam metode keluarga berencana seperti alat
kontrasepsi dalam rahim (AKDR), susuk/implant, kontrasepsi suntikan, kontrasepsi pil, kondom,
dan kontrasepsi mantap, metode operasi wanita (MOW) dan metode operasi pria (MOP). Hal ini
disesuaikan dengan pilihan akseptor (Sarwono, 2008).
Di Indonesia pada bulan Agustus 2013 sebanyak 688.951 peserta yang menggunakan alat
kontrasepsi. Apabila dilihat per mix kontrasepsi maka persentasenya adalah sebagai berikut :
46.988 peserta IUD (6,82%), 7.982 peserta MOW (1,16%), 44.453 peserta implant (6,45% ),
351.016 peserta suntikan (50,95%), 193.405 peserta pil (28,07%), 1.125 peserta MOP (0,16%)
dan 43.982 peserta kondom (6,38%).
Di provinsi Banten, pada bulan Agustus 2013 sebanyak 29.848 peserta yang
menggunakan alat kontrasepsi. Apabila dilihat per mix kontrasepsi maka persentasenya adalah
sebagai berikut : 2079 peserta IUD (6,97%), 175 peserta MOW (0,59%), 1540 peserta implant
(5,16% ), 15.163 peserta suntikan (50,80%), 8496 peserta pil (28,46%), 7 peserta MOP (0,02%)
dan 2388 peserta kondom (8,00%).
Di Kabupaten tangerang, pada tahun 2013 sebanyak 359.930 peserta yang menggunakan
alat kontrasepsi. Apabila dilihat per mix kontrasepsi maka persentasenya adalah sebagai berikut
25.978 peserta IUD (7,2%), 9232 peserta MOW/MOP (2,6%), 21.050 peserta implant (5,8% ),
202.234 peserta suntikan (56%), 96.406 peserta pil (27%), dan 5.030 peserta kondom (1,4%).
Di BPS Suryanti Am.Keb pada bulan Januari 2014 sebanyak 752 peserta yang
menggunakan alat kontrasepsi. Apabila dilihat per mix kontrasepsi maka persentasenya adalah
sebagai berikut : 2 peserta IUD (0.2 %), 1 peserta implant ( 0.13%) tidak ada peserta MOW dan
MOP (0 %) 677 peserta kb suntik (90.02 %), 73 peserta pil (9.7 %), dan tidak ada peserta
kondom (0%).
Dilihat dari data pengguna alat kontrasepsi diatas, dapat disimpulkan dari beberapa alat
kontrasepsi, kontrasepsi suntik paling diminati peserta keluarga berencana karena merupakan
salah satu alat kontrasepsi yang berdaya kerja panjang (lama), yang tidak membutuhkan
pemakaian setiap hari. Kontrasepsi suntik hormonal dinilai paling efektif dan memiliki resiko
yang tidak terlalu besar. Maka dari itu, kami memilih kasus kontrasepsi suntik untuk dijadikan
makalah PKK1.

1.2 Tujuan Penulisan


1.2.1 Tujuan Umum
Dapat mengaplikasikan asuhan kebidanan pada klien akseptor KB suntik kombinasi dengan
menggunakan manajemen kebidanan menurut Varney.
1.2.2 Tujuan Khusus
a. Dapat melakukan pengkajian pada akseptor KB suntik kombinasi.
b. Dapat menetapkan diagnosa dan masalah dari hasil pengkajian.
c. Dapat menetapkan diagnosa potensial.
d. Dapat menetapkan tindakan segera.
e. Dapat merencanakan asuhan kebidanan pada akseptor suntik kombinasi.
f. Dapat melaksanakan asuhan kebidanan yang telah disusun.
g. Dapat mengevaluasi asuhan kebidanan yang telah dilakukan.

1.3 Manfaat
Laporan ini dibuat agar dapat memberi manfaat bagi:
1.3.1 Bagi BPS
Dapat meningkatkan pelayanan bagi tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan pada klien
akseptor KB suntik 1 bulan.
1.3.2 Bagi Pendidikan
Evaluasi keberhasilan belajar Praktek Klinik Kebidanan I
1.3.3 Bagi Klien / Masyarakat
Agar masyarakat dan klien mendapat pelayanan kesehatan yang efisien tentang KB
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Keluarga Berencana


2.1.1 Definisi
Keluarga Berencana adalah suatu usaha guna merencanakan dan mengatur jarak
kehamilan sehingga kehamilan dapat dikehendaki pada waktu yang diinginkan (Saifuddin,
2003:32).
Keluarga Berencana adalah tindakan yang membantu individu atau pemasangan suami
istri untuk mendapatkan obyek tertentu, menghindari kelahiran yang tidak diinginkan, mengatur
interval diantara kehamilan, mengontrol waktu saat kelahiran dalam hubungan dengan suami istri
dan menentukan jumlah anak dalam keluarga ( WHO, 2002)
Keluarga Berencana merupakan suatu tindakan untuk menghindari atau mendapatkan
kelahiran, mengatur interval kehamilan, dan menentukan jumlah anak dalam keluarga. KB
merupakan suatu cara yang efektif untuk mencegah angka kematian ibu dan anak karena dapat
menolong pasangan suami istri menghindari kehamilan resiko tinggi, dapat menyelamatkan jiwa
dan mengurangi angka kesakitan. Program KB nasional mempunyai arti penting dalam
pelaksanaan pembangunan dibidang kependudukan dan keluarga kecil berkualitas yang
dilaksanakan secara berkesinambungan (BKKBN, 2005).

2.1.2 Tujuan
1. Tujuan Umum
Tujuan umum KB adalah membentuk keluarga kecil sesuai dengan kekuatan sosial ekonomi
suatu wilayah keluarga dengan cara mengatur jarak kelahiran anak, agar diperoleh suatu keluarga
bahagia dan sejahtera yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.
2. Tujuan Khusus
Penurunan angka kelahiran yang bermakna, guna mencapai tujuan tersebut maka ditempuh
kebijaksanaan :
1) Fase menunda perkawinan
2) Fase menjarangkan kehamilan
3) Fase menghentikan/mengakhiri kehamilan/kesuburan

2.1.3 Manfaat KB Untuk Kesehatan


1. Untuk Ibu
a. Mencegah kehamilan yang berulang kali dalam waktu pendek
b. Mencegah keguguran yang menyebabkan kurang darah.
c. Mencegah terserangnya penyakit infeksi dan kelelahan.
2. Untuk Anak anak yang dilahirkan
Anak yang dilahirkan akan mendapatkan sambutan dari ibu dalam keadaan sehat sehingga :
a. Tumbuh secara wajar sebelum lahir.
b. Sesudah lahir, mendapat pemeliharaan dan makanan yang sesuai dari ibunya.
3. Untuk Suami
Memberi kesempatan kepadanya agar dapat :
a. Memperbaiki keadaan fisiknya
b. Memperbaiki kesehatan mental dan sosial karena kecemasan berkurang serta lebih banyak waktu
luang untuk keluarga.
4. Untuk anak-anak lainnya
Memberi kesempatan untuk :
a. Perkembangan fisik, karena setiap anak memperoleh jarak dan jatah makanan yang cukup.
b. Perkembangan mental dan emosi yang cukup banyak
c. Memberi kesempatan pendidikan yang lebih baik karena pendapatan tidak habis buat hidup
saja
5. Untuk Seluruh Keluarga
a. Meningkatkan kesehatan fisik, mental dan emosi dari setiap anggota keluarga
b. Suatu keluarga yang direncanakan dengan baik memberi yang nyata bagi generasi yang
akan datang
c. Setiap anggota keluarga mempunyai kesempatan yang lebih banyak untuk mendapatkan
pendidikan
d. Suatu keluarga yang direncanakan dengan baik dapat memberi sumbangan yang lebih banyak
untuk kesejahteraan lingkungan.

2.1.4 Kontrasepsi
Kontrasepsi diklasifikasikan kedalam beberapa jenis, yaitu:
1. Metode Sederhana
Metode sederhana dibagi menjadi metode sedehana dengan alat dan metode sederhana tanpa alat,
yaitu :
a. Tanpa alat :
1). KB alamiah : kalender, suhu basal, lendir serviks
2). Coitus intruptus (senggama terputus)
b. Dengan alat : kondom, diafragma, kap serviks, kondom wanita, spermisida.
2. Modern
Metode kontrasepsi modern dibagi menjadi:
a. Hormonal
Metode modern hormonal terdiri atas: kontrasepsi pil, implan, dan suntikan
b. Nonhormonal
Metode modern non hormonal adalah kontrasepsi IUD
3. Kontrasepsi Mantap
Kontrasepsi mantap terdiri atas Tubektomi dan Vasektomi

2.2 Kontrasepsi Suntik Kombinasi


2.2.1 Definisi
Jenis suntikan kombinasi adalah 25 mg Depo Medroksiprogesteron Asetat dan 5 mg
Estradiol Sipionat yang diberikan injeksi I.M sebulan sekali ( Cyclofem), dan 50 mg Noretindron
Enantat dan 5 mg Estradiol Valerat yang diberikan injeksi I.M sebulan sekali (Saifuddin, 2003).
Kontrasepsi suntik kombinasi adalah jenis kontrasepsi yang terdiri dari dua hormone yaitu
progestin dan estrogen seperti hormone alami pada tubuh seorang perempuan. Progestin yang
digunakan adalah Medroxy Progesterone Acetate (MPA) dan estrogen nya adalah Estradiol
Cypionate (JNPK-KR, 2012)

2.2.2 Cara Kerja


Cara kerja kontrasepsi suntik kombinasi menurut Hanafi, 1996 antara lain:
a. Menekan ovulasi
b. Membuat lendir serviks menjadi kental sehingga penetrasi sperma tidak terganggu
c. Perubahan pada endomroetrium (atrofi) sehingga impalntasi terganggu
d. Menghambat transportasi gamet oleh tuba
2.2.3 Efektivitas
Menurut Ari Sulistyawati, 2011 . Keefektifan kontrasepsi suntik kombinasi sangat efektif (0,1
0,4 kehamilan per 100 perempuan) selama tahun pertama penggunaan,
2.2.4 Keuntungan
Keuntungan kontrasepsi suntik kombinasi menurut Saifuddin, 2006 antara lain:
a. Resiko terhadap kesehatan kecil
b. Tidak berpengaruh pada hubungan suami istri
c. Tidak dilakukan pemeriksaan dalam
d. Jangka panjang
e. Efek samping sangat kecil
f. Klien tidak perlu menyimpan obat suntik
2.2.5 Keuntungan Nonkontrasepsi
Keuntungan Nonkontrasepsi menurut Hanafi Hartanto 1996 di buku KB dan Kontrasepsi, yaitu :
a. Mengurangi jumlah perdarahan
b. Mengurangi nyeri saat haid
c. Mencegah anemia
d. Khasiat pencegahan terhadap kanker ovarium dan kanker endometrium
e. Mengurangi penyakit payudara jinak dan kista ovarium
f. Mencegah kehamilan ektopik
g. Melindungi klien dari jenis-jenis penyakit radang panggul
h. Pada keadaan tertentu dapat diberikan paada perempuan usia perimenopause

2.2.6. Kerugian
Menurut JNPK-KR (2012) kerugian kontrasepsi suntik kombinasi adalah:
a. Terjadi perubahan pada pola haid, seperti tidak teratur, perdarahan bercak/spoting, atau
perdarahan sampai 10 hari
b. Mual, sakit kepala, nyeri payudara ringan, dan keluhan seperti ini akan hilang setelah suntikan
kedua atau ketiga
c. Ketergantungan klien terhadap pelayanan kesehatan. Klien harus kembali setiap 30 hari untuk
mendapatkan suntikan
d. Efektivitasnya berkurang bila digunakan bersamaan dengan obat-obat epilepsy (Fenitoin dan
Barbiturat) atau obat tuberculosis (Rifampisin)
e. Dapat terjadi efek samping yang serius, seperti serangan jantung, stroke, bekuan darah pada paru
atau otak, dan kemungkinan timbulnya tumor hati
f. Penambahan berat badan
g. Tidak menjamin perlindungan terhadap penularan infeksi menular seksual, hepatitis B, atau
infeksi virus HIV
h. Kemungkinan terlambatnya pemulihan kesuburan setelah penghentian pemakaian.

2.2.7. Yang Boleh Menggunakan Suntikan Kombinasi (menurut saefuddin 2006)


a. Usia reproduksi
b. Telah memiliki anak, ataupun yang belum memiliki anak
c. Ingin mendapatkan kontrasepsi dengan efektivitas yang tinggi
d. Menyusui ASI pascapersalinan > 6 bulan
e. Pascapersalinan dan tidak menyusui
f. Anemia
g. Nyeri haid hebat
h. Riwayat kehamilan ektopik
i. Sering lupa menggunakan pil kontrasepsi

2.2.8.Yang Tidak Boleh Menggunakan Suntikan Kombinasi


Yang tidak boleh menggunakan suntikan kombinasi menurut Hanafi Hartanto yaitu :
a. Hamil atau diduga hamil
b. Menyusui dibawah 6 minggu pascapersalinan
c. Perdarahan pervaginam yang belum jelas penyebabnya
d. Penyakit hati akut (virus hepatitis)
e. Usia > 35 tahun yang merokok
f. Riwayat penyakit jantung, stroke, atau dengan tekanan darah tinggi (>180/110 mmHg)
g. Riwayat kelainan tromboemboli atau dengan kencing manis >20 tahun
h. Kelainan pembuluh darah yang menyebabkan sakit kepala atau migraine
i. Keganasan pada payudara

2.2.9. Waktu Mulai Menggunakan Suntikan Kombinasi


Menurut Ari Sulistyawati waktu yg tepat untuk memulai menggunakan suntikan kombinasi
adalah :
a. Suntikan pertama dapat diberikan dalam waktu 7 hari siklus haid. Tidak diperlukan kontrasepsi
tambahan
b. Bila suntikan pertama diberikan setelah hari ke 7 siklus haid, klien tidak boleh melakukan
hubungan seksual selama 7 hari atau menggunakan kontrasepsi lain untuk 7 hari
c. Bila klien tidak haid, suntikan pertama diberikan setiap saat, asal saja dapat dipastikan ibu
tersebut tidak hamil. Klien tidak boleh melakukan hubungan seksual untuk 7 hari lamanya atau
menggunakan metode kontrasepsi yang lain selama masa waktu 7 hari
d. Bila klien pascapersalinan > 6 bulan, menyusui, serta belum haid, maka suntikan pertama dapat
diberikan, asal saja dapat dpastikan tidak hamil
e. Bila pascapersalinan > 6 bulan, menyusui, serta telah mendapat haid, maka suntikan pertama
diberikan pada siklus haid hari 1 dan 7
f. Bila pascapersalinan < 6 bulan dan menyusui, jangan diberi suntikan kombinasi
g. Bila pascapersalinan 3 minggu, dan tidak menyusui, suntikan kombinasi dapat diberikan
h. Pascakeguguran, suntikan kombinasi dapat diberikan atau dalam waktu 7 hari
i. Ibu yang sedang menggunakan metode kontrasepsi hormonal yang lain dan ingin menggantinya
dengan kontrasepsi hormonal kombinasi. Selama ibu tersebut menggunakan kontrasepsi
sebelumnya secara benar, suntikan kombinasi dapat segera diberikan tanpa perlu menunggu haid.
Bila ragu-ragu, perlu dilakukan uji kehamilan terlebih dahulu
j. Bila kontrasepsi sebelumnya juga kontrasepsi hormonal, dan ibu tersebut ingin menggantinya
dengan suntikan kombinasi, maka suntikan kombinasi tersebut dapat diberikan sesuai jadwal
kontrasepsi sebelumnya. Tidak diperlukan metode kontrasepsi lain
k. Ibu yang mengatakan metode kontrasepsi nonhormonal dan ingin menggantinya dengan
suntikan kombinasi, maka suntikan pertama dapat segera diberikan asal saja diyakini ibu tersebut
tidak hamil, dan pemberiannya tanpa perlu menunggu datangnya haid. Bila diberikan pada hari
ke 1-7 siklus haid, metode kontrasepsi lain tidak diperlukan. Bila sebelumnya menggunakan
AKDR, dan ingin menggantinya dengan suntikan kombinasi, maka suntikan pertama diberikan
hari 1-7 siklus haid. Cabut segera AKDR.
2.2.10. Cara Penggunaan
Suntikan kombinasi diberikan setiap bulan dengan suntikan intramuscular dalam. Klien
diminta datang setiap 4 minggu.suntikan ulang dapat diberikan 7 hari lebih awal, dengan
kemungkinan terjadi gangguan perdarahan. Dapat juga diberikan setelah 7 hari dari jadwal yang
telah ditentukan, asal saja diyakini ibu tersebut tidak hamil. Tidak dibenarkan melakukan
hubungan seksual selama 7 hari atau menggunakan metode kontrasepsi yang lain untuk 7 hari
saja.

2.2.11. Instruksi Untuk Klien (menurut Hanafi Hartanti 1996)


a. Klien harus kembali ke dokter/klinik untuk mendapatkan suntikan kembali setiap 4 minggu
b. Bila tidak haid lebih dari 2 bulan, klien harus kembali ke dokter/klinik untuk memastikan hamil
atau tidak
c. Jelaskan efek samping tersering yang didapat pada penyuntikandan apa yang harus dilakukan
bila hal tersebut terjadi. Bila klien mengeluh mual, sakit kepala, atau nyeri payudara, serta
perdarahan, informasikan kalau keluhan tersebut sering ditemukan, dan biasanya akan hilang
pada suntikan ke-2 atau ke-3
d. Apabila klien sedang menggunakan obat-obat tuberculosis atau obat epilepsy, obat-obat tersebut
dapat mengganggu efektivitas kontrasepsi yang sedang digunakan.

2.2.12. Tanda-tanda Yang Harus Diwaspasdai Pada Penggunaan Suntikan


Kombinasi
a. Nyeri dada hebat atau napas pendek. Kemungkinan adanya bekuan darah di paru atau serangan
jantung
b. Sakit kepala hebat, atau gangguan penglihatan. Kemungkinan terjadi stroke, hipertensi, atau
migrain
c. Nyeri tungkai hebat. Kemungkinan telah terjadi sumbatan pembuluh darah pada tungkai
d. Tidak terjadi perdarahan atau spotting selama 7 hari sebelum suntikan berikutnya, kemungkinan
terjadi kehamilan.
2.3. Manajemen Varney
I. Pengumpulan Data atau Pengkajian
Pada langkah pertama ini dilakukan pengkajian dengan mengumpulkan semua data yang
diperlukan untuk mengevaluasi keadaan pasien secara lengkap yaitu :
a. Riwayat kesehatan
b. Pemeriksaan fisik
c. Meninjau catatan terbaru atau catatan sebelumnya
d. Meninjau data laboratorium dan membandingkannya dengan hasil studi
II. Interpretasi Data Dasar
Pada langkah ini dilakukan identifikasi yang benar terhadap masalah atau diagnosa dan
kebutuhan klien berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang telah dikumpulkan.
Data dasar yang sudah dikumpulkan di Interpretasikan sehingga ditemukan masalah atau
diagnosa yang spesifik.
III. Mengidentifikasi Diagnosa atau masalah potensial
Pada langkah ini kita mengidentifikasi masalah atau diagnose potensial lain berdasarkan
rangkaian masalah dan diagnosa yang sudah diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan
antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan, sambil mengamati klien bidan
diharapkan dapat bersiap-siap bila diagnose/masalah potensial ini benar-benar terjadi.
IV. Identifikasi Kebutuhan yang memerlukan penanganan segera
Mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter dan/atau untuk
dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan yang lain sesuai dengan
kondisi klien.
V. Merencanakan Asuhan yang menyeluruh
Pada langkah ini direncanakan asuhan yang menyeluruh, ditentukan oleh langkah-
langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan kelanjutan manajemen terhadap masalah atau
diagnosa yang telah diidentifikasi atau diantisipasi, pada langkah ini informasi/data dasar yang
tidak lengkap dapat dilengkapi.
VI. Melaksanakan Perencanaan
Pada langkah ke enam ini rencana asuhan menyeluruh seperti yang telah diuraikan pada
langkah ke 5 dilaksanakan secara efisien dan aman. Perencanaan ini bisa dilakukan seluruhnya
oleh bidan atau sebagian dilakukan oleh bidan dan sebagian lagi oleh klien, atau anggota tim
kesehatan lainnya. Jika bidan tidak melakukannya sendiri, ia tetap memikul tanggung jawab
untuk mengarahkan pelaksanaannya (misalnya: memastikan agar langkah-langkah tersebut
benar-benar terlaksana). Dalam situasi dimana bidan berkolaborasi dengan dokter, untuk
menangani klien yang mengalami komplikasi.
VII. Evaluasi
Pada langkah ke VII ini dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan
meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah benar-benar telah terpenuhi sesuai
dengan kebutuhan sebagaimana telah diidentifikasi di dalam masalah dan diagnosa.
BAB III
TINJAUAN KASUS
ASUHAN KEBIDANAN PADA AKSEPTOR KB SUNTIK 1 BULAN
Ny. F Umur 25 Tahun P1A0 Di Bidan Suryanti, Am.Keb

No. Register : 029


Ruang : R. Periksa
Tgl. Masuk : 14 Februari 2014
Nama Pengkaji : Mustika dan Sofa Musta Jaba

I. PENGUMPULAN DATA
A. IDENTITAS / BIODATA
Tanggal : 14 Februari 2014 pukul : 19.00 WIB
Nama Ibu : Ny. F Nama Suami : Tn. A
Umur : 25 Tahun Umur : 26 Tahun
Suku : Jawa Suku : Jawa
Agama : Islam Agama : Islam
Pendidikan : SLTA Pendidikan : SLTA
Pekerjaan : Karyawan Pekerjaan : Karyawan
Alamat : Jln. Gede Alamat : Jln. Gede
Telp :- Telp :-

B. ANAMNESA
1. Alasan Kunjungan ini : Ibu mengatakan ini adalah kunjungan ulang/rutin untuk KB suntik 1
bulan (kombinasi).
2. Keluhan Utama : Tidak ada
3. Riwayat menstruasi
Haid Pertama : 13 Tahun
HPHT : 11 Februari 2014
Siklus : 28 hari
Banyaknya : 3 kali/hari ganti pembalut
Dismenore : Tidak ada
Teratur/tidak teratur : Teratur
Lamanya : 5 hari
Sifat darah : kental kehitaman, baunya khas
4. Pola Kebiasaan Sehari-hari
Pola Makan : 3 kali sehari, porsi sedang, berisi nasi, lauk
pauk, sayur, dan buah-buahan
Pola Minum : 7-8 gelas / hari, berisi air putih
Pola Aktivitas : Pagi sampai siang bekerja, malam
mengurus anak dan suami
Pola Hubungan : 2 kali seminggu
Seksual
Kebiasaan Lain : Ibu tidak merokok dan tidak minum
minuman beralkohol

5. Riwayat kesehatan sehari-hari


Jantung : tidak ada penyakit jantung
Asma/TBC Paru : tidak ada penyakit Asma/TBC Paru
DM : tidak ada penyakit DM
Hepatitis : tidak ada penyakit Hepatitis
Hipertensi : tidak ada penyakit hipertensi
Epilepsi : tidak ada penyakit epilepsi
IMS : tidak ada penyakit IMS
HIV/AIDS : tidak ada penyakit HIV/AIDS
Lain-lain : tidak ada penyakit lainnya

6. Riwayat Kesehatan dahulu


Jantung : tidak ada penyakit jantung
Asma/TBC Paru : tidak ada penyakit Asma/TBC Paru
DM : tidak ada penyakit DM
Hepatitis : tidak ada penyakit Hepatitis
Hipertensi : tidak ada penyakit hipertensi
Epilepsi : tidak ada penyakit epilepsy
IMS : tidak ada penyakit IMS
HIV/AIDS : tidak ada penyakit HIV/AIDS
Lain-lain : tidak ada penyakit lainnya

7. Riwayat kesehatan keluarga


Jantung : tidak ada penyakit jantung
Asma/TBC Paru : tidak ada penyakit Asma/TBC Paru
DM : tidak ada penyakit DM
Hepatitis : tidak ada penyakit Hepatitis
Hipertensi : tidak ada penyakit hipertensi
Epilepsi : tidak ada penyakit epilepsy
IMS : tidak ada penyakit IMS
HIV/AIDS : tidak ada penyakit HIV/AIDS
Lain-lain : tidak ada penyakit lainnya
8. Riwayat KB
Pasang/Mulai Lepas/Stop
No. Alat/cara
Tgl/Bln/Thn Oleh Tgl/Bln/Thn Oleh Masalah
Tidak Haid
Selama
KB Suntik Desember
1 Oktober 2013 Bidan Bidan Pemakaian
3 Bulan 2013
KB Suntik 3
Bulan
Tidak ada
KB suntik 1 Desember
2 Bidn - -
bulan 2013

9. Data Psikososial
Pengetahuan ibu tentang KB : Ibu hanya mengetahui KB
suntik saja
Dukungan Keluarga : Suami mendukung ibu ber
KB

C. PEMERIKSAAN FISIK (DATA OBYEKTIF)


PEMERIKSAAN UMUM
Keadaan Umum : Baik
Keadaan Emosional : Stabil
Kesadaran : Composmentis
Tanda-tanda vital
Tekanan Darah : 110/70 mmHg
Denyut Nadi : 78 x/menit
Pernapasan : 20 x/menit
Suhu Tubuh : 36,9o C
Tinggi Badan : 153 cm
LILA : 25
BB sekarang : 45 kg

PEMERIKSAAN KHUSUS
Kepala
Muka/wajah : tidak pucat, tidak ada oedema dan tidak ada
flek hitam
Lain-lain : tidak ada kelainan
Mata
Kelopak mata : simetris, tidak ada kelainan
Konjungtiva : tidak pucat
Sklera : tidak kuning
Lain-lain : tidak ada kelainan
Hidung
Secret/serumen : tidak ada
Polip : tidak ada
Lain-lain : tidak ada kelainan
Telinga
Secret/serumen : tidak ada
Polip : tidak ada
Lain-lain : tidak ada kelainan
Mulut
Bibir : lembab, tidak pecah-pecah dan tidak stomatitis
Gigi : tidak karies dan tidak berlubang
Lain-lain : tidak ada kelainan
Leher
Kelenjar Thyroid : tidak ada pembesaran kelenjar
thyroid
Kelenjar Getah Bening : tidak ada pembesaran kelenjar
getah bening
Lain-lain : tidak ada kelainan
Dada : Simetris
Payudara
Pembesaran : tidak ada pembesaran
Putting susu : menonjol
Simetris : simetris
Benjolan : tidak ada benjolan
Pengeluaran : tidak ada pengeluaran ASI
Aerola : merah kecoklatan
Rasa nyeri : tidak ada rasa nyeri
Lain-lain : tidak ada kelainan
Abdomen
Pembesaran : tidak ada pembesaran
Benjolan abnormal: tidak ada
Bekas luka operasi: tidak ada
Kandung kemih : kosong
Nyeri tekan perut : tidak ada
Lain-lain : tidak ada kelainan
Ano-Genital
Vulva-Vagina : tidak dilakukan
Perineum : tidak dilakukan
Pengeluaran : tidak dilakukan
Anus: hemoroid : tidak dilakukan
Varises & oedem : tidak dilakukan
Lain-lain : tidak dilakukan
Posisi tulang belakang : tegak
Ekstremitas atas
Oedem : tidak ada
Kebersihan : bersih
Warna jari& kuku : bersih, tidak pucat
Turgor : baik
Kekakuan otot : tidak ada
Kemerahan : tidak ada
Varises : tidak ada
Lain-lain : tidak ada kelainan
Ekstremitas Bawah
Oedem : tampak tidak ada oedem
Kebersihan : tampak bersih
Warna jari& kuku : tampak bersih, tidak pucat
Turgor : tampak baik
Kekauan otot : tidak ada
Kemerahan : tidak ada
Varises : tidak ada
Reflex Patella : kanan positif kiri positif
Lain-lain : tidak ada kelainan

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tidak Dilakukan

II. INTERPRETASI DATA


Diagnosa : Ny. F Usia 26 tahun P1A0 dengan akseptor KB
suntik 1 bulan
DO : keadaan umum baik, kesadaran compos mentis,
keadaan emosional stabil. TTV : TD: 110/70 mmHg ; N: 76x/menit ; S: 36,9o C ; R: 20x/menit
DS : ibu mengatakan ingin mengunakan KB suntik 1
bulan (kunjungan ulang/rutin)
Masalah : tidak ada
Kebutuhan : tidak ada
III. IDENTIFIKASI DIAGNOSA DAN MASALAH POTENSIAL
Tidak Ada
IV. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN AKAN TINDAKAN SEGERA
(MANDIRI, KOLABORASI DAN RUJUKAN)
Tidak Ada

V. PERENCANAAN
1. Beritahu ibu hasil pemeriksaan
2. Berikan KIE ulang efek samping dan komplikasi KB suntik 1 bulan
3. Siapkan alat dan obat untuk KB suntik 1 bulan (cyclofem)
4. Berikan injeksi KB 1 bulan (cyclofem)
5. Anjurkan ibu untuk datang kembali pada bulan berikutnya atau bila ada keluhan sewaktu-waktu
6. Lakukan dokumentasi tindakan

VI. PEL AKSANAAN


1. Memberitahukan ibu hasil pemeriksaan keadaan umum baik, kesadaran composmentis, keadaan
emosional stabil. TTV : TD: 110/70 mmHg ; N: 76x/menit ; S: 36,9o C ; R: 20x/menit
2. Memberikan KIE ulang tentang KB suntik 1 bulan dan efek samping KB suntik 1 bulan seperti
perubahan pola haid yang tidak teratur, sakit kepala, dan penambahan berat badan.
3. Menyiapkan alat dan obat
a. Kapas alcohol/kapas DTT
b. Spuit
c. Obat KB cyclofem
d. Menyiapkan obat dalam spuit
e. Menjaga keadaan jarum tetap steril
4. Memberi suntikan KB 1 bulan pada 1/3 bagian dari spina illiaca anterior superior secara IM.
5. Menganjurkan ibu untuk melakukan suntik ulang pada bulan berikutnyapada
tanggal 12 Maret 2014 atau jika ada keluhan untuk konsultasi
6. Melakukan dokumentasi tindakan berupa identitas pasien, hasil pemeriksaan, dan terapi yang
diberikan

VII. EVALUASI
1. Ibu sudah mengetahui hasil pemeriksaan keadaan umum baik, kesadaran composmentis,
keadaan emosional stabil. TTV : TD: 110/70 mmHg ; N: 76x/menit ; S: 36,9o C ; R: 20x/menit
2. Ibu sudah mengerti KIE tentang KB suntik 1 bulan dan efek sampingnya
3. Peralatan dan obat KB sudah disiapkan
4. Pasien sudah disuntikkan KB suntik 1 bulan (cyclofem)
5. Ibu mengerti dan bersedia untuk datang kembali untuk suntik ulang pada tanggal 12 Maret 2014
atau jika ada keluhan
6. Identitas pasien, hasil pemeriksaan, dan terapi yang diberikan sudah didokumentasikan dan kartu
kunjungan ulang sudah diisi

BAB IV
PEMBAHASAN
Asuhan kebidanan pada Ny. F Usia 25 tahun P 1 A0 dengan Akseptor KB Suntik
kombinasi telah dilakukan pengkajian (data subyektif dan data obyektif) sesuai dengan
manajemen kebidanan 7 langkah varney melalui anamnesa langsung pada pasien dan beberapa
pemeriksaan. Dalam pengkajian data tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan di lapangan.
a. Ibu mengatakan Hari Pertama Haid Terakhir pada tanggal 11 Februari 2014 dan pasien
melakukan kunjungan ulang untuk ber kb pada tanggal 14 Februari 2014 . Hal ini sesuai dengan
teori Sayfuddin (2010) yang mengatakan bahwa suntik kb kombinasi dapat diberikan dalam
waktu 7 hari siklus haid dan tidak diperlukan kontrasepsi tambahan Maka ibu diperbolehkan
menggunakan kb ini dan tidak memerlukan kontrasepsi tambahan apapun.
b. ibu mengatakan tidak mempunyai riwayat penyakit keluarga dan terdahulu seperti: Hipertensi,
Gagal Jantung, IMS, Diabetes Mellitus, Epilepsi, Hepatitis, Tuberculosis, dan HIV/AIDS. Hal ini
menyatakan bahwa tidak ada kesenjangan antara teori Hanafi Hartanto (2002) dan kasus. Maka
dari itu ibu dapat diberikan KB suntik kombinasi karena ibu tidak mempunyai riwayat penyakit
yang tidak boleh dimiliki bagi pengguna KB suntik kombinasi.
c. ibu mengatakan tidak pernah merokok, maka dari itu ibu dapat diberikan suntik kombinasi
karena merokok dapat mengurangi keefektifan kb suntik kombinasi.
d. pada pemeriksaan tanda-tanda vital, ibu mempunyai tekanan darah sebesar 110/70 mmHg. Pada
teori Hanafi Hartanto (2002) mengatakan bahwa pasien dengan tekanan darah > 180/100
mmHg tidak diperbolehkan menggunakan kb suntik kombinasi. Hal ini yang memperbolehkan
pasien dapat menggunakan kb suntik kombinasi
Pada pengidentifikasian diagnosa dan identifikasi masalah tidak terjadi kesenjangan pula,
karena diagnosa di ambil dari prosedur anamnesa, pada kasus ini tidak ada masalah yang
muncul. Karena ibu sudah memakai alat kontrasepsi suntik KB kombinasi selama 2 bulan.
Pada langkah antisipasi masalah potensial, dalam kasus ini tidak ditemukan adanya
masalah potensial karena dari hasil pemeriksaan dan dignosa ibu dalam keadaan baik
Dalam identifikasi kebutuhan segera dalam kasus ini tidak memerlukan tindakan yang
khusus, cepat dan segera untuk menangani ibu agar tidak terjadi kematian. Dan pada kasus tidak
ada tanda tanda yang mengancam jiwa ibu
Pada pengembangan rencana, implementasi dan evaluasi tidak ada kesenjangan antara
teori dengan praktek. Dimana dalam praktek langkah langkah tersebut disesuaikan dengan
kedaaan pasien. Sehingga tujuan dilakukan asuhan kebidanan Ny.F Usia 26
tahun P 1 A0 dengan akseptor KB suntik kombinasi dapat tercapai.

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Setelah dilakukan asuhan kebidanan pada Ny F umur 26 tahun P1A0akseptor KB suntik
kombinasi, dari uraian tentang masalah penerapan manajemen kebidanan dalam memnberikan
asuhan kebidanan, diperoleh kesimpulan sebagai berikut :
a. Dalam melakukan pengkajian diperlukan komunikasi yang baik dan dapat membangun
hubungan saling percaya antara pasien dengan bidan.
b. Dalam menganalisa data dengan cermat maka dapat dibuat diagnosa, masalah dan kebutuhan
pasien yang sesuai.
c. Dalam menyusun rencana tindakan asuhan tidak mengalami kesulitan jika ada kerjasama yang
baik dengan pasien.
d. Pelaksanaan tindakan disesuaikan dengan prioritas masalah dan disandarkan pada perencanaan
tindakan yang disusun.
e. Hasil evaluasi dan kegiatan yang telah dilaksanakan merupakan penilaian tentang keberhasilan
asuhan kebidanan dan pelaksanaan diagnosa
5.2. Saran
a. Bagi Mahasiswa
Dapat mengaplikasikan antara ilmu pengetahuan, logika dan ilmiah dalam melaksanakan dan
menerapkan asuhan kebidanan.
b. Bagi Petugas dan klinik
Diharapkan agar mutu pelayanan lebih ditingkatkan dan lebih maju serta perlu kiranya
memfungsikan sarana dan prasarana yang telah tersedia ditempat pelayanan praktek semaksimal
mungkin
c. Bagi Institusi Pendidikan
Memperbanyak buku-buku/literature yang berkaitan dengan kebutuhan kebidanan yang ada
sebagai pedoman dalam pembuatan makalah kami berikutnya agar lebih baik

DAFTAR PUSTAKA
Hartanto, Hanafi.1994. Keluarga Berencana dan Kontrasepsi. Jakarta : Pustaka Sinar
Harapan

Manuaba, Ida Bagus Gede.2010. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga
Berencana Untuk Pendidikan Bidan. Jakarta : ECG

Prawirohardjo, Sarwono.2002. Ilmu Kebidanan. Jakarta : YBP BP

Saifuddin, 2003. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta: YBP

2002. Buku Acuan Jaringan Nasional Pelatihan Klinik-Kesehatan Reproduksi.Jakarta

http://litbang.tangerangkota.go.id

http://bkkbn.go.id