Anda di halaman 1dari 48

BEDSIDE

TEACHING
Henda G99161047, Edbert G99162149, Pieter G99161052, Maya G99161027

Pembimbing: dr. Fatichati Budiningsih, Sp.PD, K.Ger


BEDSIDE
TEACHING
HEPATOLOGI
Hepatitis A
Hepatitis C
Hepatitis B
Sirosis Hepatis
Hepatoma
PULMONOLOGI
Pneumonia
Tuberculosis
Penyakit Paru Obstruksi Kronis
Asma
GINJAL - HIPERTENSI
Hipertensi
Hipertensi Urgensi
Hipertensi Emergensi
Chronic Kidney Disease
KARDIOLOGI
Heart Failure
Aritmia (Takiaritmia, Bradiaritmia)
Sindrom Koroner Akut (Unstable Angina, STEMI, NSTEMI)
Iskemia Kronis (Stable Angina, Old Myocard Infarct)
TROPIK INFEKSI
Dengue Haemorragis Fever
Demam Tifoid
Infeksi Saluran Kencing
Malaria
HEMATOLOGI
Anemia
ENDOKRINOLOGI
Diabeter Melitus
Hiperglikemia (KAD, HHS)
Tiroid
HEPATOLOGI

HEPATITIS AKUT HC SIROSIS HEPATIS


C
DEFINISI
Infeksi pada hepar yang bersifat Keganasan hati primer yang Perubahan ars itektur jaringan
akut, biasanya disebabkan oleh berasal dari hepatosit. hati yang ditandai dengan

infeksi virus hepatitis A dan E Terdiri dari karsinoma regeneras i nodular yang bers
hepatoselular, karsinoma ifat difus dan dikelilingi oleh s
fibrolamellar, dan epta-s epta fibros is .
hepatoblastoma

ANAMNESIS
Nyeri ulu hati, dapat disertai mual Asimptomatik (24% pasien) 1. Kompensata : asimptomatis,
muntah, mbeseseg didiagnosis melalui
Nyeri perut, mrongkol
Keluhan kuning pemeriksaan fungsi hati.
BB turun drastic Gejala : mudah lelah dan
Riwayat higenisitas (penyebaran hepatitis Malaise
A dan E via fecal oral) lemas, nafsu makan berkurang,
Nafsu makan menurun
1. Fase pre-ikterik : anoreksia, perut kembung, mual, BB
Ikterik
mual muntah, malaise (flu-like turun
Gejala sirosis:
syndrome) Pada laki impotensi, testis
- Kaki bengkak
2. Fase ikterik : Jaundice, nyeri mengecil, ginekomastia
hipokondriaka dekstra akbiat - Perut membesar dan
2. Dekompensata : ditemukan
hepatomegaly begah
minimal 1 dari manifestasi
Fase konvalesens : Gejala - Gatal di tubuh
ikterus, ascites dan edema
konstitusional menghilang, namun Perdarahan perifer, hematemesis melena,
masih hepatomegali ensefalopati

PEMERIKSAAN FISIK
Nyeri epigastrium, disertai Hepatomegali, berbenjol- - Sklera ikterik
benjol, nyeri tekan (-)
pembesaran hepar (liver span) Ascites - Spider nevi
Auskultasi : bruit abdomen - Ginekomastia
Teraba hepar, dengan tepi licin, Splenomegali karena
tajam, tidak berbenjol-benjol hipertensi porta - Atrofi testis
Muscle wasting karena
pertumbuhan tumor yang - Palmar eritem
Ikterik besar - Splenomegali
Demam
Tanda penyakit hati kronis: - Kolateral dinding perut
- Icterus
- Caput medusae - Ascites
- Palmar eritema - Hemoroid RT
- Ginekomastia
- Atrofi testis - Murchrche
Edema perifer
- Kontraktur dupuytren
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Kenaikan enzim transaminase USG Abdomen: nodul- nodul 1. Laboratorium
(SGPT>SGOT) dan disarsitek - SGOT/SGPT : bisa N, atau >1
Lab AFP meningkat > - Bil direct : /
Bilirubin >2,5mg/dL pada pasien
20ng/ml (N<15)
dengan ikterik - Bil indirect : /
Biopsi guidance
- Albumin sesuai perburukan
CT scan abdomen 3 fase dengan
kontras: nodul hati sirosis
- PT
2. Radiologi : USG/CT
Scan/MRI
3. EGD deteksi varises
DIAGNOSIS esofagus
Etiologis : IgM anti HAV - Biopsi hati dan pemeriksaan
Kriteria Diagnos tik HCC histopatologis
(dapat mulai muncul 1 minggu menurut Barcelona EASL
conference - FIbroscan
setelah infeksi)
- Kriteria Child-Turcotte-Pugh
Kriteria s ito-his tologis
prognosis
Kriteria non-invas if (khusus
pas ien s iros is hati):

Kriteria radiologis :
koins idens i 2 cara imaging
(USG/CT-

s piral/MRI/angiografi)

Lesi fokal >2 cm dengan


hipervaskularisasi arterial

Kriteria kombinas i : s atu cara


imaging dengan kadar AFP
s erum:
- Sudah tegak Klasifikasi
Barcelona Clinic Liver
Lesi fokal
Cancer (BCLC)
> 2 cm dengan
hipervaskularisasi arterial
Kadar AFP serum 400
ng/ml
TATALAKSANA
Tidak memerlukan terapi 1. Terapi kuratif 1. Kompe ns ata
khusus, karena hepatitis A dapat Reseksi - Sesuai etiologi : hep B kronis,
mengalami resolusi spontan Transplantasi hati hep C, NASH, sirosis
alkoholik, autoimun
RFA (radiofrequency
ablation) - Defisiensi besi : zink sulfat

2. Terapi paliatif 2x200 mg po

TACE (transarterial - Antipruritus : kolestiramin,


antihistamin, agen topikal
chemoembolizatiom)
Sorafenib - Vit D pada risiko osteoporosis

Terapi suportif - Diet seimbang


- Aktivitas fisik untuk
mencegah inaktivitas dan
atrofi otot

- Stop konsumsi alkohol dan


rokok

- Pembatasan obat hepatotoksik


dan nefrotoksik

2. De kompensata
Tx s pes ifik s es uai komplikas i yang
ditemukan

- Hipertensi portal dan varises


Esophagus -->somatostatin,
tx endoskopik, pemasangan
TIPS, prosedur bedah

- Asites restriksi garam,


pemberian spironolakton dan
furosemid, parasentesis

- Sindrom hepatorenal
vasopresor dan albumin, tx
gang elektrolit

- Peritonitis bakterial spontan


kultur, antibiotik
- Ensefalopati hepatikum
minimalisasi faktor pencetus,
laktulosa, metionin, triptofan
- Koagulopati dan gang
hematologi transfusi
HEPATITIS KRONIK

DEFINISI

Suatu sindrom klinis dan patologis yang disebabkan oleh virus hepatitis, ditandai oleh berbagai
tingkat peradangan dan nekrosis pada hati, dimana seromarker virus hepatitis positif pada 2 kali
pemeriksaan berjarak 6 tahun

ANAMNESIS

Fatigue
Malaise
Anoreksia
Ikterus persisten/intermiten
Riwayat transmisi
PEMERIKSAAN FISIK

Hepatomegali
Demam Subfebris
Ikterus
Asites
Ensefalopati
Hipersplenisme
PEMERIKSAAN PENUNJANG

HBsAg
HBeAg
HBV DNA
Alanine Transaminase (ALT)
DIAGNOSIS

Hepatitis B Kronik Hepatiti A Kronik

HBsAg (+) dalam 2 kali pemeriksaan berjarak 6 HCV (+) dan HCV RNA terdeteksi dalam 2
bulan kali pemeriksaan berjarak 6 bulan

TATALAKSANA
Klas ifikas i Child-Turcotte-Pugh
Klas ifikas i Barcelona Clinic Liver Cancer (BCLC) dan Tatalaksannya. PST adalah Tes
Status Performa; PEI/RF: injeksi ethanol perkutan/ablasi termal radiofrekuensi; TACE:
embolisasi melalui arteri.
PULMONOLOGI
PENYAKIT PARU OBSTRUKSI ASMA
KRONIS
Definisi
Penyakit yang ditandai dengan hambatan Gangguan inflamasi kronik saluran napas
aliran udara yang persisten dan kronis yang melibatkan banyak sel dan elemennya,
yang berhubungan dengan respon yang menyebabkan hiperesponsif jalan
inflamasi kronik yang berlebihan pada napas yang menimbulkan eposiodik
saluran napas dan parenkim paru akibat berulang berupa mengi, sesak napas, dan
gas atau partikel berbahaya. dada terasa berat.v
Anamnesis
Pasien biasanya usia > 40 tahun datang Pasien biasa masih anak-anak, datang
dengan sesak napas yang semakin hari dengan keluhan sesak napas yang biasanya
semakin memberat. Sesak napas sudah dipicu oleh allergen seperti cuaca dingin,
dirasakan kurang beberapa tahun atau kadang debu. Gejala biasanya muncul
sebelumnya. Selain itu keluhan sesak di malam hari, dan biasanya pasien memiliki
napas dapat disertai batuk. Dan pasien riwayat atopi.
memiliki riwayat merokok yang lama.
Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan Auskultasi : wheezing, mengi/tanpa mengi
napas mencucu, barrel chest, serta sela (silent chest)
iga melebar. Fremitus raba
melemah,hipersonor, serta dapat
ditemukan wheezing.

Pemeriksaan Penunjang
Pada foto rontgen : dapat ditemukan Terdapat peningkatan eosinophil. Pada foto
emphysematous lung seperti sela iga yang thorax tidak ditemukan kelainan, dan ketika
melebar, hiperaerasi, serta diaphragm dilakukan uji spirometri post BD, VEP1
mendatar. Lalu ketika dilakukan meningkat lebih dari 200 ml dan 12 %
spirometri post BD terdapat peningkat
VEP1 kurang dari 200 ml dan 12%.
Diagnosis
Diagnosis dapat ditegakan melalui uji 1. Intermitten (bulanan)
spirometri dimana post BD terdapat - Gejala < 1x/minggu
peningkatan VEP1 kurang dari 200 ml - Tanpa gejala di luar Serangan
dan 12%. - Serangan singkat
- Gejala malam 2 kali sebulan
- APE 80%
- VEP 1 80% nilai prediksi
- APE 80% nilai terbaik
- Variabiliti APE< 20%
2. Persisten Ringan (mingguan)
- Gejala >1x/minggu, tetapi <
1x/ hari
- Serangan dapat mengganggu
aktivitas dan tidur
- Gejala malam 2 kali sebulan
- APE > 80%
- VEP 1 80% nilai prediksi
- APE 80% nilai terbaik
- Variabiliti APE 20-30%
3. Persisten Sedang (Harian)
- Gejala setiap hari
- Serangan mengganggu aktivitas dan
tidur
- Membutuhkan bronkodilator s
etiap hari
- Gejala malam > 1x / seminggu
- APE 60 80%
- VEP 1 60-80% nilai prediksi
- APE 60-80% nilai terbaik
- Variabiliti APE > 30%
4. Persisten Berat (kontinyu)
- Gejala terus menerus
- Sering kambuh
- Aktivitas fisik terbatas
- Gejala malam Sering
- APE 60%
- VEP 1 60% nilai prediksi
- APE 60% nilai terbaik
- Variabiliti APE > 30%
Tata Laksana
Tatalaksana berupa edukasi untuk Dapat dilihat pada bagan dibawah
berhenti merokok serta dapat diberikan
obat-obatan berupa bronkodilator dan
antikolinergik.

Derajat Keparahan Penyakit Paru Obstruksi Kronis


Klasifikasi Grup Pasien Penyakit Paru Obstruksi Kronis

Tatalaksana Nonfarmakologi pada Penyakit Paru Obstruksi Kronis


Tatalaksana farmakologi pada Penyakit Paru Obstruksi Kronis
PNEUMONIA
DEFINISI
Peradangan paru disebabkan oleh mikroorganisme (bakteri, virus, jamur, parasit). Tidak
termasuk Pneumonia yang disebabkan Mycobacterium tuberculosis.
ANAMNESIS
Demam, menggigil, suhu tubuh meningkat (> 40oC)
Batuk dengan sputum mukoid atau purulen kadang-kadang berdarah.
Sesak nafas
Nyeri dada
PEMERIKSAAN FISIK
Inspeksi : bagian yang sakit tertinggal waktu bernapas
Palpasi: Fremitus meningkat pada bagian yang sakit
Perkusi: redup pada bagian yang sakit
Auskultasi: Suara dasar bronkial/bronkovaskular, mungkin disertai RBH. Berubah menjadi
RBK pada stadium resolusi
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Radiologi: infiltrate, gambararan air bronchogram
Lab darah
- Leukositosis 10.000/ul-30.000/ul
- Peningkatan LED
- Peningkatan kadar ureum darah, kreatinin masih dalam batas normal.
Pewarnaan gram
Kultur darah dapat positif pada 20-25% penderita yang tidak diobati.
Kultur sputum
AGD
- Hipoksemia dan hipokarbia, pada stadium lanjut dapat terjadi asidosis respiratorik.
DIAGNOSIS
Pneumonia komuniti ditegakkan jika pada foto toraks terdapat infiltrate baru/ infiltrate progresif
ditambah minimal 2 gejala dibawah ini:
- Batuk-batuk bertambah
- Perubahan karakteristik dahak/ purulent
- Suhu tubuh > 38OC (aksila)/ riwayat demam
- Pemeriksaan fisis: tanda-tanda konsolidasi, suara nafas bronkial dan ronki
- Leukosit >10.000/ul atau <4500/ul
TATALAKSANA
1. Pengobatan suportif/simtomatik
- Istirahat di tempat tidur
- Minum secukupnya untuk mengatasi dehidrasi
- Panas tinggi diberikan obat penurun panas
- Mukolitik atau ekspektoran kalua perlu
2. Terapi definitif
- Antibiotik diberikan dalam waktu < 8 jam

Pasien rawat jalan


1. Pasien yang sebelumnya sehat dan tidak ada risiko kebal obat
- Makrolid: azitromicin, klaritromicin, atau eritromicin (rekomendasi kuat)
- Doksisiklin (rekomendasi lemah)
2. Terdapat komorbid (peny jantung kronik, paru, hati, ginjal, DM, allkoholisme, keganasan,
imunosupresif, penggunaan obat imunosupresif, antibiotic > 3 bulanatau factor risiko lain
infeksi pneumonia):
- Florokuinolon respirasi: moksifloksasin, gemfloksasin, atau levofloksasinn (750 mg)
(rekomendasi kuat)
- Beta lactam + makrolid: amoksisilin dosis tinggi (1 gr/ 8 jam), atau amoksisilin-
klavulanat (2 gr/12 jam) (rekomendasi kuat)
- Obat lainnya: ceftriaxone, cefpodoxime, dan cefuroxime (500 mg/12 jam), doksisiklin

Pasien perawatan, tanpa rawat HCU


1. Florokuinolon respirasi (rekomendasi kuat): sebaiknnya digunakan pada pasien alergi
penisilin
2. Beta lactam + makrolid (rekomendasi kuat): Agen beta lactam termasuk sefotaksim,
seftriakson, dan ampisilin; ertapenem untuk pasien tertentu; doksisiklin sebagai alternative
makrolid.
TB
Jenis - Kasus baru
- Relaps
- Defaulted/drop out
- Gagal
- Kronik/persisten
- Bekas TB
Klinis 1. Gejala respiratorik
Batuk lebih dari 2 minggu, batuk
darah, sesak napas dan nyeri dada.
2. Gejala sistemik
Demam, malaise, keringat malam,
anoreksia dan berat badan menurun.
Pemeriksaan Fisik Kelainan paru pada umumnya terletak di
daerah lobus superior terutama daerah
apeks dan segmen posterior (S1 dan S2),
serta daerah apeks lobus inferior (S6).
Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan
antara lain suara napas bronkial, amforik
suara napas melemah, ronki basah, tanda-
tanda penarikan paru, diafragma, dan
mediastinum
Pemeriksaan Penunjang Radiologi :
Lesi TB aktif:
- Bayangan berawan/nodular di
segmen apikal dan posterior lobus
atas paru dan segmen superior
lobus bawah
- Kavitas, terutama lebih dari satu,
dikelilingi oleh bayangan opak
berawan atau nodular
- Bayangan bercak milier
- Efusi pleura unilateral
(umumnya) atau bilateral
(jarang)
Lesi TB inaktif
- Fibrotik
- Kalsifikasi
- Schwarte atau penebalan paru

Cairan Pleura :
- Kesan cairan eksudat, serta pada
analisis cairan pleura terdapat sel
limfosit dominan dan glukos a
rendah.

- Laju endap darah (LED) jam


pertama dan kedua dapat digunakan
sebagai indikator penyembuhan pasien.
LED sering meningkat pada proses
aktif , tetapi laju endap darah yang
normal tidak menyingkirkan TB. Limfosit
juga kurang spesifik

Genexpert : MTB detected


Diagnosis Dapat dilihat pada bagan dibawah

Tata Laksana Dapat dilihat pada bagan dibawah


Kategori 1

Kategori 2
Penilaian derajat keparahan penyakit skor PORT (Patient Outcome Research Team)

Kriteria yang dipakai untuk indikasi rawat inap pneumonia komuniti adalah:
1. Skor PORT > 70
2. Bila skor PORT <70 maka rawat inap tetap diperlukan apabila dijumpai salah satu dari kriteria di bawah
ini:
- frekuensi napas >30x/menit
- PaO2/FiO2 <250 mmHg
- Foto toraks menunjukkan kelainan bilateral
- Foto toraks melibatkan >2 lobus
- Tekanan sistolik <90 mmHg, diastolik <60 mmHg
3. Pneumonia pada pengguna NAPZA
GINJAL HIPERTENSI

AKI CKD
Onset <3 bulan >3 bulan

Etiologi Hemodynamic 30% DM


Parenchymal 65% Hipertensi
Glomerulonefritis
Acute tubular necrosis 55%
Penyakit ginjal
Acute glomerulonephritis 5% polikistik Nefritis
interstisialis
Gejala klinis Vasculopathy 3% Sindrom uremia :
Lain-lain
Lemah, lethargi, lethargi,
Acute interstitial nephritis 2%
anoreksia, mual - muntah,
Obstruction 5% nokturia,
Gejala anemia, hipertensi, payah
kelebihan cairan,
Komplikasi antung, asidosiskoma.
kejang, hingga
metabolik, osteodistrofi
Gambaran Hb Normal Penurunan fungsi ginjal (ureum,
renal, gangguan
Lab elektrolit.
kreatinin)
Hb, asam urat,
Hiper/hipokalemia
Hiponatremia,
Hiper/hipokloremi
a,
Hiperfosfatemia,
Ukuran renal Normal Hiperkalsemia,
Biasanya mengecil
Asidosismetabolik
.
Peripheral Tidak ada Ada
Kelainan urinalisis (proteinuria,
neurophati
hematuria, leukosuria, cast,
isostenuria)
HIPERTENSI
Definisi Suatu keadaan dimana tekanan darah sistol
melebihi 140 mmHg dan diastol lebih dari 90
mmHg atau sedang mengonsumsi obat anti
hipertensi

Klasifikasi menurut JNC Normal < 120 mmHg dan < 80 mmHg

Pre 120-139 mmHg dan 80-89 mmHg

Grade I > 140 mmHg dan 90-99 mmHg

Grade II > 160 mmHg dan > 100 mmHg

Tatalaksana Non farmakologi : olahraga dan diet rendah


garam

Farmakologi :

1. ARB dan ACE


2. Beta Blocker
3. Calcium Channel Blocker
4. Diuretik
KRISIS HIPERTENSI
HIPERTENSI URGENSI HIPERTENSI EMERGENSI
DEFINISI
Kegawatdaruratan yang memerlukan penurunan Kegawatdaruratan yang memerlukan penurunan
tekanan darah segera. Tekanan darah sistolik >180 tekanan darah segera. Tekanan darah sistolik >180
mmHg ATAU diastolic >120 mmHg tanpa disertai mmHg ATAU diastolic >120 mmHg disertai
jejas organ target jejas organ target. Organ taget yang diwaspadai:
- Neurologi: ensefalopati hipertensi, stroke
iskemik/hemoragik, papil edema, perdarahan
intracranial
- Jrntung: sindrom coroner akut, edema paru,
diseksi aorta, gagal jantung akut
- Ginjal: proteinuria, hematuria, gagal ginjal
akut
- Preeklamsia/ eklamsia: anemia hemolitik, dll
ANAMNESIS
Riwayat hipertensi, pengobatan hipertensi Riwayat hipertensi, pengobatan hipertensi
sebelumnya sebelumnya
Riwayat konsumsi agen vasopressor Riwayat konsumsi agen vasopressor
(simpatomimetik) (simpatomimetik)
Gejala organ target Gejala organ target
PEMERIKSAAN FISIK
Tekanan darah: tekanan darah sistolik >180 Tekanan darah: tekanan darah sistolik >180
mmHg ATAU diastolic >120 mmHg mmHg ATAU diastolic >120 mmHg
Funduskopi: Funduskopi:
- Spasme arteri segmental/difus - Spasme arteri segmental/difus
- Edema retina - Edema retina
- Perdarahan retina - Perdarahan retina
- Eksudat retina - Eksudat retina
- Papil edema - Papil edema
Neurologis: Neurologis:
- Sakit kepala, bingung - Sakit kepala, bingung
- Kehilangan penglihatan - Kehilangan penglihatan
- Deficit fokal neurologis - Deficit fokal neurologis
- Kejang - Kejang
- Koma - Koma
Kardiopulmoner Kardiopulmoner
Cairan tubuh: oligouria pada GGA Cairan tubuh: oligouria pada GGA
Denyut nadi perifer Denyut nadi perifer
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Hematocrit dan apusan darah Hematocrit dan apusan darah
Urinalisis: proteinuria, eritrosit urin Urinalisis: proteinuria, eritrosit urin
Kimia darah: kreatinin , ureum >200 mg/dl, Kimia darah: kreatinin , ureum >200 mg/dl,
glukosa, elektrolit glukosa, elektrolit
EKG: iskemia, hipertrofi ventrikel kiri EKG: iskemia, hipertrofi ventrikel kiri
Foto toraks Foto toraks
TATALAKSANA
Penurunan tekanan darah dilakukan dalam Rawat ICU
beberapa jam dengan target tekanan darah normal 1 jam pertama
dalam 1-2 hari dengan menggunakan anti Penurunan mean arterial pressure (MAP)

hipertensi oral. <25% semula dengan agen parenteral.


2 6 jam setelah stabil
Penurunan tekanan diastolic hingga mencapai
160/100-110 mmHg
24 48 jam berikutnya
Penurunan tekanan darah sesuai target.
Diseksi aorta tanpa syok: target TDS 120
mmHg tercapai dalam 20menit.

Jenis dan profil Antihipertensi parenteral pada hipertensi emergensi


KARDIOLOGI

Angina Pektoris Stabil NSTEMI STEMI

Pe ngertian

Nyeri dada/ chest discomfort yang Angina pektoris setara Elevasi segmen ST >1mm
terjadi karena stress fisik dan dengan dengan ischaemic pada 2 lead berturut-turut
emosi, dengan kualitas nyeri discomfort dengan 1 diantara
seperti rasa tertindih/berat di 3 kriteria:
dada, rasa desakan yang kuat dari
1. Muncul saat istirahat (>10
dalam atau dari bawah diafragma
mnt)
seperti diremas-remas.
2. Gejala berat dan baru
Karakteristik nyeri dada khas angina pertama kali timbul
yang mengarah ke infark miokard:
3. Muncul dengan pola
1. Lokasi di dada/substernal/sedikit
crescendo (lebih berat,
di kiri, dgn penjalaran ke leher,
panjang, dan sering
bahu kiri, smp lengan, jari bag daripada sebelumnya)
ulnar, punggung/pundak kiri
Diagnosis NSTEMI ditegakkan jk
2. Kualitas nyeri: nyeri tumpul spt pasien dgn UA memiliki nekrosis
tertindih, terdesal, diremas, miokardpe ningkatan cardiac
dada mau pecah. Sering disertai marke r
keringat dingin, sesak napas.
3. Nyeri pertama timbul agak nyata,
bbrp menit smp <20 menit.

Menentukan jenis angina:

1. Nyeri dada substernal

2. Dicetuskan aktifitas/emosi

3. Membaik dengan
istirahat/NTG
Jika 1: non anginal chest pain

2 : angina atipik

3 : angina tipikal

Anamne s is
Biasa muncul pada pria >50 th, Nyeri dada, sesak napas, Nyeri visera seperti terbakar
wanita >60 th dengan: keluhan epigastric discomfort ataau tertusuk, letak di dada
chest discomfort (berat, tertekan, tengah/epigastrium,
terdesak), lokasi di dada crescendo- menjalar, disertai lemah,
decresendo, berlangsung 2-5 menit, nausea, keringat, muntah,
menjalar ke punggung, leher, bahu, ansietas
interscapular, gigi, rahang,
epigastrium, muncul Karena emosi
atau latihan, membaik dgn istirahat,
serta jika diberikan nitrogliserin
sublingual nyeri dapat
menghilang.
Pe me riksaan fis ik

Jika dada terasa nyeri , maka dapat Jika iskemi luas bisa ditemukan Pucat, ekstremitas dingin,
ditemukan aritmia, gallop bahkan diaphoresis, pucat, kulit dingin, takikardi dan atau hipertensi
murmur, split S2 paradoksal serta sinus takikardi, bunyi jantung (anterior infark), bradikardi
ronki basah dibagian basal paru ketiga keempat, ronki basal dan atau hipotensi (posterior
ketika auskultasi.
paru, kadang hipotensi infark), bunyi jantung III dan
IV, penurunan intensitas

bunyi jantung, paradoxical


splitting pada BJ II, transient
midsystolic / late systolic
apical systolic murmur
Karena disfungsi katup
Pe me riksaan pe nunjang
mitral, pericardial friction rub

EKG hipertrofi ventrikel EKGdepresi segemn ST, (transmural


EKGelevasiSTEMI)
segmen ST
peningkatan transien segemen
Rontgen Dadapembesaran dengan gelombang Q
ST atau inversi gelombang
dada, aneurisma ventricular (tidak
T30-50%
khas)
Serum cardiac biomarker
Cardiac biomarkerCK-MB dan
Darah faktor pemberat GDS, troponin meningkat >20 kali
profil lipid,HbA1C Troponin meningkat dan bertahan 7-10 hari
setelah STEMI
Stress Testing

Ekokardiografiinfark
CT Angiography ventrikel kanan, aneurisma
ventrikel, efusi pericardial,
thrombus ventrikel kiri
Nonfarmako: -Nitrat sublingual/ buccal spray Ruang emergensi:
(0,3-0,6 mg). jika sudah
1. Diet yang bertujuan untuk -As pirin 160-325 mg tab
diberikan 3 X dengan jeda 5
menurunkan risiko infark buccal, lanjutkan 75-162
menit tp nyeri masih ada, beri
miokardium mg/hari
Nitroglycerin iv (5-10 g/menit)
2. Aktivitas olahraga -Jika hipoksemi O2 2-4 lpm
-B e ta Adre nergik bloker:
3. Penurunan berat badan metoprolol 4x25-50 mg po. Jika selama 6-12 jam
diperlukan dan tidak ada gagal
jantung bisa dinaikkan -Nitroglis erin s ublingual 3x
bertahap 5 mg tiap 1-2 menit 0,4 mg dgn jeda 5
Farmakologi :
-Atorvas tatin 20-80 mg menittidak hilang NTG iv
1.Nitrat kerja cepat (0,3-0,6 mg)
-CCB : verapamil atau diltiazem -Morfin 2-4 mg iv, bisa
2.Aspirin (75-150 mg/hari)
-ACE-inh diulang 3 kali dgn jeda 5
3. Jika kontraindikasi Aspirin menit
diberikan CPG 75 mg/hari. -Morfin (k/p): 2-5 mg iv dapat
diulang tiap 5-30 menit -B e tabloker iv: metoprolol 5
mg 2-5 menit sebanyak 3 kali.
-Antitrombotik
15 mnt kemudian 4x50 mg po
-Antikoagulan slm 2 hari, lalu 2x100 mg
Terapi revaskularisasi:

Jika tidak tersedia PCI atau


tidak mungkin mnegrjakan
PCI primer <2 jam

-Fibrinolis is

Indikasi:serangan <12 jam,


elevasi segemn ST 0,1 mV
(1 mm) dalam 2 lead
berturut-turut atau adanya
LBBB

Tis s ue Plas minogen


Activator (tPA) 15 mg bolus
iv, lanjutkan 50 mg selama 30
menit, lalau 35 mg selama 60
menit

Stre ptokinase 1,5 juta unit iv


selama 1 jam

-Tienopiridin

Clopidogre l 300-600 mg

-GP IIb/IIIa inhibitor


-Lipid lowering agent:
Atorvas tatin 10-80 mg/hari
GAGAL JANTUNG
GAGAL JANTUNG AKUT GAGAL JANTUNG KRONIS
DEFINISI
Suatu sindrom klinis akibat kelainan struktur atau fungsi jantung yang ditandai dengan gejala gagal jantung,
tanda-tanda retensi cairan, dan bukti obyektif kelaianan structural atau fungsi jantung saat istirahat.
Sesak nafas timbul <24 jam akibat kelainan fungsi Sindrom klinis yang kompleks akibat kelainan
jantung, gangguan fungsi sistolik atau diastolic atau structural atau fungsional yang mengganggu
irama jantung, atau kelebihan preload, afterload, atau kemampuan pompa jantung atau mengganggu
kontraktilitas. pengisian jantung
ANAMNESIS
Fatigue, dyspnea, shortness of breath, anorekisa, nausea
PEMERIKSAAN FISIK
Ronki basah pada kedua basal paru, JVP meningkat, hepatomegaly, asites, iketrus, edema ekstremitas
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium rutin: DPL, elektrolit, urea, kreatinin, gula darah, albumin, enzim hati
EKG: ritme? hipertrofi ventrikel kiri? infark?
Foto toraks: ukuran dan bentuk jantung? Vaskularisasi paru? Kelainan non jantung
Ekokardografi: ukuran? Fraksi ejeksi? Katup? Gerakan dinding jantung?
Biomarka: brain natriuretic peptide (BNP) 100 pg/ml atau NT-proBNP 300 pg/ml
DIAGNOSIS
Kriteria Framingham (minimal 1 kriteria mayor dan 2 kriteria minor.
Kriteria Mayor Kriteria Minor
Paroxysmal nocturnal dyspnea; Edema ekstremitas;
Distensi vena-vena leher; Batu malam;
Peningkatan vena jugularis; Sesak pada aktivitas;
Ronki; Hepatomegaly;
Kardiomegali; Efusi pleura;
Edema paru akut; Kapasitas vitas berkurang 1/3 dari normal
Gallop bunyi jantung III;
Refluks hepatojugular (+).
Mayor atau Minor
Penurunan berat badan 4,5 kg dalam 5 hari terapi
TATALAKSANA
Didasarkan pada 2 hal: volume overload (wet atau Non farmakologi
dry) yang menunjukkan peningkatan ventrikel kiri, Diet: Rendah Garam 2 gr pada gagal
serta tanda-tanda penurunan curah jantung (cold atau jantung ringan, 1 gr pada gagal jantung
warm) berat; cairan 1,5 L/hari pada gagal jantung
ringan, 1 L/hari pada gagal jantung berat.
Berhenti merokok dan alcohol
Aktivitas fisik rutin
Istirahat baring

Farmakologi
ACE-inhibitor
Angiotensin II reseptor blocker
Beta blocker
Antagonis aldosterone (spironolakton)
Diuretik (tiazid)
Antikoagulan (digitaslis)
Simvastatin, aspirin

Profil A: normal
Profil B: Diuretik dan/atau vasodilator
Profil C: Diuretik dan/atau vasodilator, inotropic
Profil D: Ekspansi cairan
TROPIK INFEKSI

DEMAM BERDARAH DENGUE DEMAM TIFOID


Definisi
Infeksi yang disebabkan oleh virus, Infeksi yang disebabkan oleh
yaitu flavirirus golongan flaviviridae salmonella typhii dan salmonella
yang diperantarai melalui nyamu paratyphi
aedes aegypti, yang ditandai dengan
manifestasi perdarahan dan
kebocoran plasma

Anamnesis

Pasien datang dengan keluhan Nyeri ulu hati, dapat disertai mual
demam kurang lebih 2-7 hari. muntah
Dimana demam menyerupai saddle
Nafsu makan berkurang
back. Serta pasien mengeluhkan
adanya tanda-tanda perdarahan Demam
seperti petekie, purpura, perdarahan Diare
gusi dll

Pada pemeriksaan fisik dapat 1. Demam > 7 hari terutama pada


ditemukan petechie, purpura, malam hari, suhu meningkat
ekimosis, dan epitaksis. Serta dapat secara bertahap naik turun
ditemukan takikardi dengan denyut remiten
yang cepat dan lemah. Serta dapat 2. Demam disertai bradikardi
ditemukan hepatosplenomegali. relative (kenaikan suhu 1 celcius
tidak diikuti dengan kenaikan
laju nadi 8 kali per menit)
3. Gangguan GIT : Diare,
konstipasi, mual, muntah, nyeri
epigastrium
4. Hepatosplenomegali
5. Lidah kotor dengan tepi
hiperemis, tremor lidah
Pemeriksaan Penunjang
Ditemukan peningkatan hematokrit > Darah rutin : Leukopenia/ leukositosis/
20%, serta trombositopenia < normal, trombositopenia, dengan
100.000. Serta dapat dilakukan peningkatan AST/ALT
pemeriksaan IgM di hari ke 3-5, serta
Etiologis : Uji widal (tidak spesifik dan
IgG di hari ke 14. Serta dapat
sensitif)
dilakukan pemeriksaan NS-1 sejak
hari pertama. Uji IgM anti salmonella

Diagnosis

Dapat dilihat pada bagan dibawah Goldstandar : kultur


Tata Laksana
Dapat dilihat pada bagan dibawah Bedrest total, diet lunak
Etiologis : antibiotik antara lain
kloramfenikol 4x500 mg/hari per oral /
IV
Diagnosis DHF dengan menggunakan kriteria klinis dan laboratoris

Kriteria Klinis :

Demam tinggi mendadak terus menerus selama 2-7 hari yang tidak jelas sebabnya
Manisfestasi perdarahan seperti : uji tourniquet positif, dan atau perdarahan spontan,
petekiae, ekimosis, serta perdarahan gusi, hematemesis dan melena.
Hepatosplenomegali
Terdapat tanda-tanda syok
Kriteria laboratoris

Trombosit < 100.000 gr/dl


Ht meningkat > 20%
Penegakan diagnosis DHF jika ditemukan dua kriteria klinis ditambah dua kriteria
laboratoris

Derajat DHF

I : Demam mendadak 2-7 hari disertai gejala khas dan satu-satunya manifestasi
perdarahan adalah uji tourniquet positif
II : Derajat I dengan perdarahan spontan di kulit/ perdarahan lain
III : Derajat II ditambah kegagalan sirkulasi ringan yaitu nadi cepat dan lemah, tekanan
darah menurun disertai kulit dingin, lembab, dan penderita gelisah
IV : Derajat III ditambah renjatan berat dengan nadi tidak teraba dan tekanan darah
tidak terukur, penurunan kesadaran.
INFEKSI SALURAN KEMIH
DEFINISI
Invasi mikroorganisme (biasanya bakteri) pada saluran kemih, mulai dari uretra hingga ginjal.
ANAMNESIS
Gejala bergantung pada oran apa dari saluran kemih yang terkena
Pielonefritis akut
- Demam, mual, muntah, nyeri perut, dan diare
Prostatitis
- Akut: nyeri perineum, demam
- Kronis: gejala sistitis, pancaran urin lemah, sulit memulai BAK
Sisititis
- Gejala saluran kemih bawah iritatif (Frekuensi, disuria terminal, polakisuria, nyeri suprapubic)
- Trias: dysuria, frekuensi, urgensi
- Nyeri daerah kandung kemih, nyeri pinggang bawah,
Urethritis
- Gejala saluran kemih bawah iritatif (Frekuensi, disuria terminal, polakisuria, nyeri suprapubic)
- Dysuria, frekuensi, piuria
PEMERIKSAAN FISIK
Pielonefritis akut
- Nyeri tekan dan kemerahan pada sudut costovertebrae
- Nyeri tekan saat palpasi abdomen dalam
Prostatitis
- Akut: prostat membengkak
Sisititis
- Urin keruh dan berbau tidak sedap
- Urin berdarah (30%)
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Urinalisis: pyuria, bacteriuria, hematuria, nitrit (+), leukosit >5/LPB
Kultur urin (midstream/diambil dari kateter)
- Sampel apapun Koloni 105 /ml
- Simptomatik Koloni 102 - 104 /ml
- Pungsi suprapubic berapapun jumlah koloni
- Kateter Koloni 102 - 104 /ml
Kultur darah
Imaging (USG ginjal, CT Scan abdomen, sistografi)
TATALAKSANA
Terapi nonfarmakologis
Asupan cairan
Penggantian kateter teratur
Menjaga hygiene daerah uretra dan sekitarnya
Terapi farmakologis
Sistitis akut nonkomplikata
- Kotrimoksazol 2 x 900 mg, 3 hari
- Ciprofloxacin 2 x 250 mg, 3 hari
- Nitrofurantoin 2 x 100 mg, 7 hari
- Co-amoxiclav 2 x 625 mg, 7 hari
Sistitis akut rekuren pada perempuan
- Antibiotik profilaksis:
- Kotrimoksazol 240 mg/hari atau 3x/ minggu
- Nitrofurantoin 50mg/hari
Pielonefritis akut nonkomplikata
- Gejla ringan: Ciprofloxacin 2 x 250 mg, 7 hari
- Gejala berat: Ciprofloxacin 2 x 250 mg, 14 hari
ISK pada laki-laki
- Kotrimoksazol 2 x 900 mg, 7 hari
- Ciprofloxacin 2 x 250 mg, 7 hari
Bakteriuria asimtomatik
- Tatalaksana pada wanita hamil, sebelum tindakan bedah urologi, setelah transplantasi ginjal
ISK pada perempuan hamil
- Co-amoxiclav dosis tunggal
- Pielonefritis: AB iv sampai afebris 24 jam, lanjut oral 10 14 hari
HEMATOLOGI
ANEMIA

DEFINISI

Menurunnya kadar hemoglobin (Hb) di bawah normal yang disebabkan banyak faktor seperti
defisiensi besi, asam folat, B12, hemolitik, aplastik, atau penyakit sistemik kronik.

Aplastik Defisiensi Besi Hemolitik Penyakit Kronik

Suatu kelainan Salah satu Anemia yang terjadi karena Anemia yang terjadi
hematologi dengan golongan anemia destruksi atau pembuangan pada yang ditemukan
manifestasi klinis hipoproliferatif sel darah merah dari pada kondisi penakit
pansitopenia dan yang disebabkan sirkulasi sebelum kronik seperti infeksi
hiposelularitas pada karena kelainan waktunya, yaitu 120 hari korink, inflamasi
sumsum tulang, dapat metabolism besi yang merupakan masa kronik, atau beberapa
bersifat didapat atau hidup sel darah merah keganasan
diturunkan normal.

ANAMNESIS

Lemah
Dyspneu
Pusing
Light-headedness
Perdarahan Rambut rontok Riwayat keluhan serupa Terdapat keluhan
(petekie, epistaksis, Restless leg pada keluarga penyakit yang
atau lokasi lain) Glositis Ikterik mendasari
Demam/ menggigil Disfagia Terdapat keluhan
akibat infeksi PICA penyakit yang
Riwayat paparan Koilonychia mendasari
terhadap zat toksik Dapat akut maupun
Riwayat mendapat kronik
transfusi darah
PEMERIKSAAN FISIK

Konjungtiva pucat
Resting tachycardia
Lemah
Pucat
Limfadenopati Glositis (lidah Hepatosplenomegaly Terdapat penyakit
Splenomegaly berwarna merah Ikterik kronik yang
Perdarahan dengan Demam mendasari
(ekimosis, petekie, permukaannya
perdarahan gusi, licin)
purpura) Stomatitis
Angular chelitis
Koilonychia
Perdarahan
maupun adanya
eksudat pada retina
PEMERIKSAAN PENUNJANG

Anemia (Hemoglobin )
Normositik Mikrositik Normositik Normositik
Normokromik Hipokromik Normokromik Normokromik
Retikulosit rendah Serum iron Retikulosit Serum iron
(<1%) Ferritin Bilirubin plasma Ferritin
Pansitopenia Saturasi Transferin Urinalisis: Saturasi Transferin
Urobilinogen (+),
TIBC Hemoglobinuria TIBC normal
DIAGNOSIS

TATALAKSANA

Hentikan obat-obat Preparat besi oral Rituximab: 375 mg Terapi besi


2
yang diduga Transfusi sel darah /m /minggu selama Agen
pencetus merah: diberikan 4 minggu dapat Erythropoietic:
Transfusi jika ada gejala meningkatkan Transfusi darah
komponen darah anemia, instabilitas hemoglobin anemia sedang berat
sesuai indikasi kardiovaskular, Plasma exchange (Hb <6.5 gram/dl)
Kortikosteroid perdarahan masih Klorambusil,
Imunosupresif berlangsung siklofosfamid
Androgen Interferon:
menurunkan titer
Dosis besi (mg) = (15
agglutinin
Terapi Kombinasi: Hb yang diperiksa) x
BB (Kg) x 2.3 + 500
ATG 40 mg/Kg/hari
mg (atau 1000 mg
Siklosporin 10-12 untuk cadangan)
mg/Kg/hari

Metilprednisolone 1
mg/Kg/hari
ENDOKRINOLOGI

DIABETES MELITUS
Definisi Suatu kelompok penyakit metabolik dengan
karakteristik hiperglikemia yang terjadi
karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin,
atau kedua-duanya. Diabetes melitus dibagi
menjadi dua tipe yaitu tipe 1 dan 2. Dimana,
tipe 1 terdapat kelainan atau kerusakan pada
sel pancreas sehingga sekresi insulin
terganggu. Sedangkan tipe 2 terjadi gangguan
pada reseptor insulin.

Anamnesis Biasanya pasien datang dengan keluhan-


keluhan yang bermacam-macam seperti,
lemas, kesemutan, luka yang tak kunjung
sembuh. Maka dari itu kita harus bisa
menanyakan gejala-gejala khas pada DM
seperti polidipsi, poliuri, dan polifagi.

Pemeriksaan Fisik Dari pemeriksaan fisik, mungkin bisa


ditemukan faktor-faktor risiko terjadinya DM
seperti overweight (IMT>25 kg/m2), serta
dapat ditemukan hipertensi.

Pemeriksaan Penunjang GDS > 200, GDP >126, dan TTGO > 200

Diagnosis Dapat dilihat pada bagan dibawah

Tatalaksana Dengan menggunakan 4 pilar dari perkeni


yaitu :

1. Edukasi
2. Perencanaan makan
3. Latihan jasmani
4. Obat,bisa dengan insulin atau OAD
Karakteristik DM tipe 1 dan 2
DM tipe 1 DM tipe 2

Mudah terjadi ketoasidosis Tidak mudah terjadi ketoasidosis


Pengobatan harus dengan insulin Tidak harus dengan insulin
Onset akut Onset lambat
Biasanya pasien kurus Pada pasien Gemuk/tidak gemuk
Biasanya terjadi pada usia muda Biasanya >45 tahun
Berhubungan dengan gen HLA-DR3 Tidak berhubungan dengan HLA
dan DR4 Tidak ada ICA
ICA (Islet Cell Antibody) Riwayat keluarga pada 30%
Riwayat keluarga dengan DM sekitar 100% kembar identic terkena
10%
30-50% kembar identic yang terkena
Indikasi penggunaan insulin :

a. DM tipe 1

b. DM tipe 2 dan keadaan tertentu seperti

1. Penurunan BB yang cepat


2. Hiperglikemia berat yang disertai ketosis
3. KAD
4. HONK
5. Hiperglikemia dengan asidosis laktat
6. Gagal dengan kombinasi OHO dengan dosis hampir maksimal
7. Stress berat (infeksi sistemik, fraktur, operasi besar, IMA, dan stroke)
8. Kehamilan
9. Gangguan fungsi hati dan ginjal yang berat
10. Kontraindikasi dan alergi OHO
HIPERGLIKEMIA
KAD HHS
DEFINISI
Kompensasi metabolic akibat defisiensi insulin TRIAS: hiperglikemia, hyperosmolar, dehidrasi
absolut atau relartif yang merupakan komplikasi akut
diabetes.
TRIAS: hiperglikemia, asidosis, ketosis
ANAMNESIS
Mual/muntah Poliuria
Haus/polliuria BB turun
Nyeri perut Asupan oral berkurang dalam beberapa minggu
Sesak nafas sebelum
Riwayat pemberian insulin inadekuat Infeksi
Infeksi Infark
Infark Asupan air berkurang
Obat Demensia
Kehamilan
PEMERIKSAAN FISIK
Takikardia Takikardia
Dehidrasi Dehidras
Hipotensi Hipotensi
Takipnea Perubahan status mental
Nafas Kusmaull
Nafas bau keton
Nyeri tekan perut
Letargi/koma
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Hiperglikemia >250 mg/dL Hiperglikemia >600 mg/dL
Ketonemia, ketonuria Ketonemia, ketonuria (-)
Asidosis metabolic (HCO3 <18) Asidosis metabolic (-)
Anion gap meningkat (>10) Hiperosmolaritas >350 mOsm/L
pH >7.3
Bikarbonat >18 mEq/L
TATALAKSANA
1. Pemberian cairan 1. Pemberian cairan
2. Terapi insulin 2. Terapi insulin
3. Koreksi kalium 3. Koreksi kalium
4. Bikarbonat 4. Pemantauan
5. Pemantauan

Osmloaritas serum efektif = (2 x Na+ (mEq/L) + glukosa (mg/dL)) / 18


Anion gap = Na+ - (Cl- + HCO3- (mEd/L))
HIPERTIROID

Definisi

Peningkatan hormone tiroid

Anamnesis

Penurunan BB Peningkatan nafs u makan Iritabilitas

Tremor

Intolerans i panas

Pemeriksaan Fisik

1. Tremor
2. Hiperkinesis
3. Takikardi/ atrial fibrilas i
4. Vas odilatas i perifer (hangat) Exophthalmus
5. Goitre, bruit
Thyroid dermopati (pretibial myxedema, indurated plak, orange-skin
appearance)

Thyroid acropachy (clubbing finger)

Graves ophtalmopathy (exophthalmus)

Pemeriksaan penunjang

Pengecekan TSH dan FT4

Diagnosis

Tatalaksana

PTU dosis awal 300-600mg/hari maksimal 2g per hari atau

Metamizol dosis awal 20-40mg/hari