Anda di halaman 1dari 19

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2. 1 Anatomi Femur7,8.9
Femur merupakan tulang yang terpanjang pada bada dimana fraktur dapat terjadi mulai
dari proksimal sampai distal tulang. Secara morfologi, femur (os longum) terdiri dari
bagian-bagian :

1. Epifisis proximal

Terdapat caput femoris yang bersendi dengan acetabulum. Dimana ke arah distal
merupakan collum femur dan ke medial terdapat trochanter mayor dan minor.

2. Diafisis

Antara facies medialis dan lateralis terdapat satu garis yang disebut linea aspera yang
dibentuk oleh labium lateral dan labium medial. Kedua labium ini menjauhi kearah
distal dan bagian distal terdapat fasssa poplitea (planum popliteum).

3. Epifisis distalis

Pada bagian ini terdapat condylus lateralis dan medialis, dimana disebelah proximal
terdapat tonjolan yang disebut fossa interconylaris3
Gambar 1. Anatomi tulang

Ujung atas femur memiliki caput, collum, trochanter major, dan trochanter minor. Caput
membentuk kira-kira dua pertiga dari bulatan dan bersendi dengan acetabulum os coxae untuk
membentuk articulatio coxae. Pada pusat caput terdapat lekukan kecil yang disebut fovea capitis,
untuk tempat melekatnya ligamentum capitis femoris. Sebagian suplai darah untuk caput femoris
dari a. obturatoria dihantarkan melalui ligamentum ini dan memasuki tulang melalui fovea
capitis.

Collum yang menghubungkan caput dengan corpus, berjalan dengan berjalan ke bawah,
belakang, dan lateral serta membentuk sudut sekitar 125 derajat (pada perempuan kecil) dengan
sumbu panjang corpus femoris. Besarnya sudut ini dapat berubah akibat adanya penyakit.

Trochanter major dan trochanter minor merupakan tonjolan besar pada taut antara collum
dan corpus. Linea intertrochanterica menghubungkan kedua trochanter ini di bagian anterior,
tempat melekatnya ligamentum iliofemorale, dan di bagian posterior oleh crista
intertrochanterica yang menonjol, pada crista in terdapat tuberculum quadratum.

Corpus femoris permukaan anteriornya licin dan bulat, sedangkan permukaan posterior
mempunyai rigi, disebut linea aspera yang merupakan tempat melekatnya otot-otot dan septa
intermuscularis. Pinggir-pinggir linea mlebar ke atas dan bawah. Pinggir medial berlanjut ke
distal sebagai crista supracondylaris medialis yang menuju ke tuberculum adductorum pada
condylus medialis. Pinggir lateral melanjutkan ke diri ke distal sebagai crista supracondylaris
lateralis. Pada permukaan posterior corpus, di bawah trochanter major terdapat tuberositas glutea
untuk tempat melekatnya m.gluteus maximus. Corpus melebar ke arah ujung distalnya dan
membentuk daerah segitiga datar pada permukaan posteriornya, yang disebut facies poplitea.

Vaskularisasi femur yaitu terdiri dari arteri femoralis superficial, arteri obturator, vena
saphena magna, vena obturator, dan vena femoralis. Arteri femoralis merupakan lanjutan dari
arteri iliaka eksterna dan merupakan arteri utama untuk ekstremitas inferior. Arteri femoralis
dimulai dari posterior ligamentum inguinal dititik tengahnya, di medial dari nervus femoralis dan
dilateral dari vena femoralis. Arteri profunda femoralis merupakan arteri besar yang timbul dari
sisi lateral arteri femoralis dari trigonum femorale, keluar dari anterior femur melalui bagian
belakang muskulus adductor, berjalan turun diantara musculus adductor brevis dan kemudian
teletak pada muskulus adduktor magnus. Arteria obturatoria merupakan cabang arteri illiaca
interna, berjalan ke bawah dan ke depan pada dinding lateral pelvis dan mengiringi nervus
obturatoria melalui canalis obturatorius, yaitu bagian atas foramen obturatum, sedangkan arteri
poplitea berjalan melalui canalis adduktorius masuk ke fossa bercabang menjadi arteri tibialis
posterior terletak dalam fossa poplitea dari fossa lateral ke medial adalah nervus tibialis,vena
poplitea, arteri poplitea.
Gambar 4. Vaskularisasi Femur

Vena femoralis memasuki femur melalui lubang pada muskulus adduktor magnus sebagai
lanjutan dari vena poplitea. Kemudian berjalan dibelakang ligamentum inguinale menjadi vena
iliaca externa. Vena profunda femoralis menampung cabang yang dapat disamakan dengan
cabang-cabang arterinya dan mengalir ke dalam vena femoralis. Vena obturatoria menampung
cabang-cabang yang dapat disamakan dengan cabang-cabang arterinya, dimana mencurahkan
isinya ke dalam vena illiaca internal, sedangkan vena saphena magna mengangkut aliran darah
dari ujung medial arcus venosum dorsalis pedis dan berjalan naik tepat di dalam malleolus
medialis, venosum dorsalin vena ini berjalan di belakang lutut, melengkung ke depan melalui sisi
medial femur. Berjalan melalui bagian bawah nervus saphensus pada fascia profunda dan
bergabung dengan vena femoralis.
Gambar 2. Anatomi tulang femur

2.2 Definisi dan Klasifikasi Fraktur Terbuka1,2,6

Fraktur adalah hilangnya kontinuitas tulang, tulang rawan sendi, tulang rawan epifisis, baik
yang bersifat total maupun yang parsial. Berdasarkan klasifikasi klinis, fraktur dibagi
menjadi :
Fraktur Tertutup (simple fracture)
Fraktur tertutup adalah suatu fraktur yang tidak mempunyai hubungan dengan
dunia luar.

Fraktur Terbuka (compound fracture)


Fraktur terbuka adalah fraktur yang mempunyai hubungan dengan dunia luar
melalui luka pada kulit dan jaringan lunak. Menurut R. Gustillo, fraktur terbuka
terbagi atas tiga derajat, yaitu:

Derajat I:

Luka <1 cm
Kerusakan jaringan lunak sedikit, tak ada tanda luka remuk
Fraktur sederhana, transversal, oblik, atau kominutif ringan
Kontaminasi minimal
Derajat II:

Laserasi >1 cm
Kerusakan jaringan lunak, tidak luas, flap/avulsi
Fraktur kominutif sedang
Kontaminasi sedang
Derajat III:

Terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas, meliputi struktur kulit, otot, dan
neurovascular serta kontaminasi derajat tinggi. Fraktur derajat III terbagi atas:

A. Jaringan lunak yang menutup fraktur tulang adekuat, meskipun terdapat


laserasi luas/flasp/avulsi; atau fraktur segmental/sangat komunutif yang
disebabkan oleh trauma berkekuatan tinggi tanpa melihat besarnya ukuran
luka.
B. Kehilangan jaringan lunak dengan fraktur tulang yang terpapar atau
kontaminasi massif
C. Luka pada pembuluh arteri/saraf perifer yang harus diperbaiki tanpa melihat
kerusakan jaringan lunak.
Fraktur dengan Komplikasi (complicated fracture)
Fraktur dengan komplikasi adalah fraktur yang disertai dengan komplikasi
misalnya malunion, delayed union, nonunion, infeksi tulang

Tabel 1. Klasifikasi Fraktur Terbuka Menurut R. Gustillo

2.3 Fraktur distal femur1,2,6


Femur merupakan tulang yang terpanjang pada badan dimana fraktur dapat terjadi mulai
dari proksimal sampai distal tulang. Normalnya, sendi lutut memiliki posisi paralel
dengan dasar. Rata-rata, axis anatomis (sudut diantara corpus femur dan sendi lutut)
memiliki angulasi valgus 9 derajat ( range, 7 - 11 derajat). Deformitas menyebabkan
pola-pola displacement pada otot.
Gastronemius : fleksi pada fragmen distal, menyebabkan posterior displacement dan
angulasi
Gambar 3. Tampilan lateral Posterior Displacement dan Angulasi

Quadriseps dan harmstrings :


Kedua muskulus terdesak ke proksimal, menghasilkan pemendekan dari ekstremitas
inferior.

Mekanisme trauma :
Kebanyakan fraktur distal femur menghasilkan axial load yang parah dengan gaya
varus, valgus, ataupu rotasi.
Pada dewasa muda, gaya ini merupakan tipe yang menghasilkan trauma tekanan
tinggi seperti tabrakan kendaraan atau jatuh dari ketinggian.
Pada orang yang lebih tua, gaya ini merupakan hasil dari kepleset atau jatuh dengan
posisi lutut fleksi.

Manifestasi klinis :
Pasien dengan tipe ini memiliki ketidakmampuan menahan nyeri, pembengkakan dan
deformitas pada paha bagian bawah dan lutut.
Assesment untuk status neurovaskular penting. Struktur proksimal neurovaskular
pada daerah fraktur penting untuk dipertimbangkan. Hal yang tidak biasanya dan
tekanan pembengkakan pada daerah poplitea dan biasanya ditandai dengan pallor dan
kelemahan pulsasi menggambarkan adanya ruptur pembuluh darah utama.
Sindrom kompartemen pada paha jarang ditemui dan berkaitan dengan perdarahan
utama pada paha.
Pemeriksaan ipsilateral hip, lutut, tungkai bawah dan ankle penting, khususnya pada
pasien dengan multiple trauma.

2. 2 Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium
Pada fraktur test laboratorium yang perlu diketahui : Hemoglobin, hematokrit sering
rendah akibat perdarahan, Laju endap darah (LED) meningkat bila kerusakan jaringan
lunak sangat luas.1

Radiologis
Pada rontgen dapat dilihat gambaran fraktur (tempat fraktur, garis fraktur
(transversa, spiral, atau komunitif) dan pergeseran lainnya dapat terbaca). Pemeriksaan
radiologis untuk lokasi fraktur harus menurut rule of two, maka harus dibuat 2 foto
tulang yang bersangkutan (AP/LAT), dimana perlu diingat bahwa bila hanya 1
proyeksi yang dibuat, ada kemungkinan fraktur tidak dapat dilihat.1

Posisi foto anteroposterior, lateral dan obliq dari distal femur seharusnya
didapatkan. Evaluasi radiologis seharusnya termasuk keseluruhan femur. Dengan
tampilan traksi dapat membantu mendapatkan pola fraktur dan ekstensi intra-articural.
Tampilan kontralateral membantu menjadi perbandingan dan membantu untuk rencana
preoperatif.

Fraktur intra-articural kompleks dan lesi osteochondrosis memerlukan tambahan


foto dengan CT Scan untuk menegakkan diagnosa dan rencana preoperatif.
Pemeriksaan MRI dapat mengevaluasi kaitan trauma pada ligametum dan bagian
meniskus (bantalan sendi lutut). Arteriografi diindikasikan untuk dislokasi lutut seperti
40% dislokasi yang berkaitan dengan gangguan vaskular.

Klasifikasi Radiologis 1

Klasifikasi ini berdasarkan atas:

1. Lokalisasi
Diafisial
Metafisial
Intra-artikuler
Fraktur dengan dislokasi
2. Konfigurasi
Fraktur transeversal
Fraktur oblik
Fraktur spiral
Fraktur Z
Fraktur segmental
Fraktur komunitif. Fraktur lebih dari dua fragmen
Fraktur baji biasanya pada vertebra karena trauma kompresi
Fraktur avulsi, fragmen kecil tertarik oleh otot atau tendon misalnya fraktur
trokanter mayor, fraktur patella
Fraktur depresi, karena trauma langsung
Fraktur impaksi
Fraktur pecah (burst) dimana terjadi fragmen kecil yang berpisah misalnya
fraktur vertebra, patella, talus, kalkaneus
Fraktur epifisis

Gambar 5. Klasifikasi Fraktur


3. Menurut ekstensi 1
Fraktur total
Fraktur tidak total (fracture crack)
Fraktur buckle atau torus
Fraktur garis rambut
Fraktur green stick
4. Menurut hubungan antara fragmen dengan fragmen lainnya 1
Tidak bergeser (displaced)
Bergeser dapat terjadi dalam 6 cara:
o Bersampingan
o Angulasi yaitu membentuk sudut tertentu.
o Rotasi yaitu memutar.
o Distraksi yaitu saling menjauh karena ada interposisi.
o Over-riding yaitu garis fraktur tumpang tindih.
o Impaksi yaitu satu fragmen masuk ke fragmen yang lain.
2. 3 Diagnosis1,2,10
Anamnesis

Biasanya penderita datang dengan suatu trauma (traumatic fraktur), baik yang hebat
maupun trauma ringan dan diikuti dengan ketidakmampuan untuk menggunakan anggota
gerak. Anamnesis harus dilakukan dengan cermat, karena fraktur tidak selamanya terjadi di
daerah trauma dan mungkin fraktur terjadi pada daerah lain. Penderita biasanya datang
karena adanya nyeri, pembengkakan, gangguan fungsi anggota gerak, deformitas, kelainan
gerak, krepitasi atau datang dengan gejala-gejala lain.1

Pemeriksaan Fisik

Pada pemeriksaan awal penderita, perlu diperhatikan adanya: 1


1. Syok, anemia, atau perdarahan
2. Kerusakan pada organ-organ lain
3. Faktor predisposisi
Pemeriksaan Lokalis

1. Inspeksi (Look) 1
Bandingkan dengan bagian yang sehat
Perhatikan posisi anggota gerak keadaan umum penderita secara keseluruhan
Ekspresi wajah karena nyeri
Lidah kering atau basah
Adanya tanda-tanda anemia karena perdarahan
Apakah terdapat luka pada kulit dan jaringan lunak untuk membedakan fraktur
tertutup atau terbuka
Ekstravasasi darah subkutan dalam beberapa jam sampai beberapa hari
Perhatikan adanya deformitas berupa angulasi, rotasi dan kependekan
Lakukan survey paada seluruh tubuh apakah ada trauma pada organ-organ lain
Perhatikan kondisi mental penderita
Keadaan vaskularisasi
2. Palpasi (Feel) 1
Palpasi dilakukan secara hati-hati oleh karena penderita biasanya mengeluh sangat
nyeri. Hal-hal yang perlu diperhatikan:

Temperature setempat yang meningkat


Nyeri tekan; nyeri tekan yang bersifat superfisial biasanya disebabkan oleh
kerusakan jaringan lunak yang dalam akibat fraktur pada tulang
Krepitasi; dapat diketahui dengan perabaan dan harus dilakukan secaara hati-hati
Pemeriksaan vaskuler pada daerah distal trauma berupa palpasi arteri radialis, arteri
dorsalis pedis, arteri tibialis posterior sesuai dengan anggota gerak yang terkena.
Refilling (pengisian) arteri pada kuku, warna kulit pada bagian distal daerah trauma,
temperature kulit.
Pengukuran tungkai terutama pada tungkai bawah untuk mengetahui adanya
perbedaan panjang tungkai.
3. Pergerakan (Move)1
Pergerakan dengan mengajak penderita untuk menggerakkan secara aktif dan pasif
sendi proksimal dan distal dari daerah yang mengalami trauma. Pada penderita dengan
fraktur, setiap gerakan akan menyebabkan nyeri hebat sehingga uji pergerakan tidak
boleh dilakukan secara kasar, di samping itu juga dapat menyebabkan kerusakan pada
jaringan lunak seperti pembuluh darah dan saraf.

4. Pemeriksaan neurologis
Pemeriksaan neurologis berupa pemeriksaan saraf secara sensoris dan motoris serta
gradasi kelainan neurologis yaitu neuropraksia, aksonometris atau neurotmesis.

5. Pemeriksaan Radiologis
Foto Polos 1

Dengan pemeriksaan klinik, sudah dapat mencurigai adanya fraktur. Walaupun


demikian pemeriksaan radiologis diperlukan untuk menentukan keadaan, lokasi serta
ekstensi fraktur. Untuk menghindari nyeri serta kerusakan jaringan lunak selanjutnya,
maka sebaiknya kita mempergunakan bidai yang bersifat radiolusen untuk imobilisasi
sementara sebelum dilakukan pemeriksaan radiologis.

Tujuan pemeriksaan radiologis: 1

Untuk mempelajari gambaran normal tulang dan sendi


Untuk melihat sejauh mana pergerakan dan konfigurasi fragmen serta
pergerakannya
Untuk menentukan teknik pengobatan
Untuk menentukan apakah fraktur itu baru atau tidak
Untuk menentukan apakah fraktur intra-artikuler atau ekstra-artikuler
Untuk melihat adanya keadaan patologis lain pada tulang
Untuk melihat adanya benda asing

2. 4 Penatalaksanaan1,2,10
Sebelum dilakukan pengobatan definitif pada satu fraktur, maka diperlukan:
Pertolongan pertama
Pada penderita dengan fraktur yang penting dilakukan adalah membersihkan jalan
napas, menutup luka dengan verban yang bersih dan imobilisasi fraktur pada anggota
gerak yang terkena agar penderita merasa nyaman dan mengurangi nyeri sebelum
diangkut dengan ambulans.
Penilaian klinis
Sebelum menilai fraktur itu sendiri, perlu dilakukan penilaian klinis, apakah luka itu
luka tembus tulang, adakah trauma pembuluh darah/saraf ataukan ada trauma alat-alat
dalam yang lain.
Resusitasi
Kebanyakan penderita dengan fraktur multipel tiba di rumah sakit dengan syok,
sehingga diperlukan resusitasi sebelum diberikan terapi pada frakturnya sendiri
berupa pemberian transfusi darah dan cairan lainnya serta obat-obat anti nyeri.

Semua fraktur terbuka, tak perduli seberapa ringannya, harus dianggap


terkontaminasi. Untuk tujuan ini, empat hal yang penting adalah:

1. Pembalutan luka dengan segera,


2. Profilaksis antibiotik,
Antibiotika diberikan secepat mungkin, tak peduli berapa kecil laserasi itu, dan
dilanjutkan hingga bahaya infeksi terlewati. Pemberian antibiotik bertujuan untuk
mencegah infeksi. Antibiotik dibeikan dalam dosisi yang adekuat sebelum, pada saat
dan sesudah tindakan operasi. Pemberian profilaksis tetanus juga penting. Semua
penderita dengan fraktur terbuka perlu diberikan pencegahan tetanus. 6
Anti tetanus serum merupakan imunisasi pasif dengan dosis dewasa 1500 IU per
IM, pemberian imunisasi pasif tergantung dengan sifat luka, kondisi penderita dan
status imunisasi. Selain itu setiap penderita luka harus mendapatkan tetanus toksoid IM
pada saat cedera, baik sebagai imunisasi dasar maupun sebagai booster, kecuali bila
penderita telah mendapatkan booster atau menyelesaikan imunisasi dasar dalam 5 tahun
terakhir. Artinya, antitoksin untuk profilaksis diberikan secara simultan dengan vaksin
tetanus di tempat yang berbeda.
3. Debridement luka secara dini,
Operasi ini bertujuan untuk membersihkan luka dari benda asing dan dari jaringan
mati, memberikan persediaan darah yang baik di seluruh bagian yang mengalami
trauma. Hanya sesedikit mungkin kulit dieksisi dari tepi luka, pertahankan sebanyak
mungkin kulit. Luka sering perlu diperluas dengan insisi yang terencana untuk
memperoleh daerah terbuka yang memadai; setelah diperbesar, pembalut dan bahan
asing lain dapat dilepas. Fasia dibelah secara meluas sehingga sirkulasi tidak terhalang,
otot yang mati berbahaya karena merupakan makanan bagi bakteri. Otot yang mati ini
biasanya dapat dikenali melalui perubahan warna yang keungu-unguan, konsistensi
yang buruk, tidak dapat berkontraksi bila dirangsang dan tak berdarah bila dipotong.
Semua otot mati dan yang kemampuan hidupnya meragukan perlu dieksisi.
4. Stabilisasi fraktur.

Sebelum mengambil keputusan untuk melakukan pengobatan definitif, prinsip pengobatan


ada empat (4R), yaitu:
1. Recognition (diagnosis dan penilaian fraktur)
Prinsip pertama adalah mengetahui dan menilai keadaan fraktur dengan anamnesis,
pemeriksaan klinik dan radiologis. Pada awal pengobatan perlu diperhatikan
lokalisasi fraktur, bentuk fraktur, menentukan teknik yang sesuai dengan
pengobatan, dan komplikasi yang mungkin terjadi selama dan sesudah pengobatan.
2. Reduction (reduksi fraktur apabila perlu)
Restorasi fragmen fraktur dilakukan untuk mendapatkan posisi yang dapat diterima.
Pada fraktur intra-artikuler diperlukan reduksi anatomis dan sedapat mungkin
mengembalikan fungsi normal dan mencegah komplikasi seperti kekakuan,
deformitas serta perubahan osteoartritis di kemudian hari. Posisi yang baik adalah
alignment yang sempurna, aposisi yang sempurna. Angulasi <5o pada tulang
panjang anggota gerak bawah dan lengan atas. Terdapat kontak sekurang-
kurangnya 50%, dan over-riding tidak melebihi 0,5 inchi pada fraktur femur.
Adanya rotasi tidak dapat diterima dimanapun lokalisasi fraktur.

3. Retention (imobilisasi fraktur)


Stabilisasi fraktur diperlukan untuk mengurangi kemungkinan infeksi.
Untuk luka tipe I atau tipe II yang kecil dengan fraktur yang stabil, boleh
menggunakan gips yang dibelah secara luas atau, untuk femur digunakan traksi
pada bebat. Tetapi pada luka yang lebih berat fraktur perlu difiksasi secara lebih
ketat.
Traksi merupakan salah satu pengobatan konservatif yang mudah
dilakukan dan bermanfaat untuk mereduksi suatu fraktur. Terdapat 2 jenis
pemasangan traksi, yaitu traksi kulit dan traksi tulang. Traksi kulit merupakan
pengobatan sementara sebelum dilakukan terapi definitif untuk mengurangi spasme
otot. Traksi dapat mereduksi dan mempertahankan sebagian besar fraktur dan
mobilitas sendi dapat terjamin dengan latihan aktif. Indikasi pemasangan traksi kulit
yaitu traksi merupakan terapi pilihan pada fraktur femur, pada reduksi tertutup
dimana manipulasi dan imobilisasi tidak dapat dilakukan, dan merupakan
pengobatan sementara pada fraktur sambil menunggu terapi definitif.
Kelemahan utamanya adalah lamanya waktu yang dihabiskan di tempat
tidur (10-14 minggu untuk orang dewasa) serta adanya masalah mempertahankan
penjajaran fraktur dan mengurangi morbiditas dan frustasi pasien. Selain itu
komplikasi yang dapat terjadi yaitu penyakit tromboemboli, aberasi, infeksi serta
alergi pada kulit. Bila fraktur telah lengket (sekitar 6 minggu pada orang dewasa),
traksi dapat dihentikan dan pasien diperbolehkan bangun dan menahan beban
sebagian dalam gips atau brace.
Traksi pada tulang biasanya menggunakan kawat Krischner (K-wire) atau
batang dari Steinmann pada lokasi-lokasi tertentu, yaitu pada proksimal tibia,
kondilus femur, olekranon, trokanter mayor dan bagian distal metacarpal. Indikasi
pemasangannya yaitu, apabila diperlukan traksi yang lebih berat dari 5 kg, pada
fraktur yang tidak stabil, oblik atau komunitif, fraktur pada daerah sendi, dan
fraktur terbuka dengan luka yang sangat jelek dimana fiksasi interna tidak dapat
dilakukan.
Cara terbaik untuk kebanyakan fraktur femur distal yang mengalami
pergeseran yaitu dengan operasi untuk stabilisasi. Tindakan operatif dilakukan pada
fraktur terbuka atau adanya pergeseran fraktur yang tidak dapat direduksi secara
konservatif. Terapi dilakukan dengan mempergunakan nail-plate dan screw dengan
macam-macam tipe yang tersedia.
a) Reduksi terbuka dengan fiksasi interna
Indikasi :
Fraktur intra-artikuler misalnya fraktur maleolus, kondilus, olekranon,
patela
Bila terdapat interposisi jaringan di antara kedua fragmen
Bila diperlukan fiksasi rigid misalnya pada fraktur leher femur.
Bila terjadi fraktur dislokasi yang tidak dapat direduksi secara naik
dengan reduksi tertutup misalnya fraktur Monteggia dan fraktur Bennet.
Fraktur terbuka
Bila terdapat kontraindikasi pada imobilisasi eksterna sedangkan
diperlukan imobilisasi yang cepat, misalnya fraktur pada orang tua.
Eksisi fragmen yang kecil eksisi fragmen tulang yang kemungkinan
mengalami nekrosis avaskuler misalnya fraktur leher femur pad orang
tua.
Fraktur avulsi misalnya pada kondius humeri.
Fraktur epifisis tertentu pada grade III dan IV (Slater-Harris) pada
anak-anak.
Fraktur multipel misalnya fraktur pada tungkai atas dan bawah
Untuk mempermudah perawatan penderita misalnya fraktur vertebrata
tulang belakang yang disertai paraplegia.

b) Reduksi terbuka dengan fiksasi eksterna


Reduksi terbuka dengan alat fiksasi eksterna dengan mempergunakan kanselosa
screw degan metilnetakrilat (akrilik gigi) atau fiksasi eksterna dengan jenis-jenis
lain misalnya inovasi sendiri dengan mempergunakan screw Schanz.

4. Rehabilitation (mengembalikan aktifitas fungsional semaksimal mungkin)


Ada 5 tujuan pengobatan fraktur :
Menghilangkan nyeri
Mendapatkan dan mempertahankan posisi yang memadai dari fragmen
fraktur
Mengharapkan dan mengusahakan union
Mengembalikan fungsi secara optimal dengan cara mempertahankan fungsi
otot dan sendi, mencegah atrofi otot, adhesi dan kekakuan sendi, mencegah
terjadinya komplikasi seperti dekubitus, trombisis vena, infeksi saluran
kencing, serta pembentukan batu ginjal.
Mengembalikan fungsi secara maksimal merupakan tujuan akhir
pengobatan fraktur. Sejak awal penderita harus dituntun secara psikologis
untuk membantu penyembuhan dan pemberian fisioterapi untuk
memperkuat otot-otot serat gerakan sendi baik secara isometrik (latihan
aktif statik) pada setiap otot yang berada pada lingkup fraktur serta isotonik
yaitu latihan aktif dinamik pada otot-otot tungkai dan punggung.
Diperlukan terapi okupasi.

Prognosis5
Penderita fraktur femur setelah operasi pemasangan fiksasi internal ataupun eksternal bila
tanpa komplikasi dan mendapat layanan fisioterapi yang cepat, tepat dan adekuat diharapkan
kapasitas fisik dan kemampuan fungsionalnya baik.

2. 5 Komplikasi10
1. Komplikasi Dini
Syok, dapat terjadi perdarahan sebanyak 1-2 liter walaupun fraktur bersifat
tertutup.
Emboli lemak; sering didapatkan pada penderita muda dengan fraktur femur.
Perlu dilakukan perlu dilakukan pemeriksaan gas darah.
Trauma pembuluh darah besar; ujung fragmen tulang menembus jaringan lunak
dan merusak arteri femoralis. Dapat berupa kontusi saja dengan oklusi atau
terpotong sama sekali.
Trauma saraf; trauma pada pembuluh darah akibat tusukan fragmen dapat disertai
kerusakan saraf yang dapat bervariasi dari neuropraksia sampai aksonotemesis.
Trauma saraf dapat terjadi pada nervus isiadikus atau pada cabangnya yaitu
nervus tibialis dan nervus peroneus komunis.
Trombo-emboli; penderita dengan tirah baring yang lama misalnya di traksi di
tempat tidur, dapat mengalami komplikasi trombo-emboli.
Infeksi; dapat terjadi pada fraktur terbuka akibat kontaminasi dari luka, tetapi
infeksi dapat pula terjadi setelah tindakan operasi
2. Komplikasi Lanjut
Delayed union; fraktur femur pada orang dewasa mengalami union dalam 4 bulan.
Non-union; apabila permukaan fraktur menjadi bulat dan sklerotik dicurigai
adanya nonunion dan diperlukan fiksasi interna dan bone graft.
Malunion; bila terjadi pergeseran kembali kedua ujung fragmen, maka diperlukan
pengamatan terus-menerus selama perawatan. Angulasi lebih sering ditemukan.
Malunion juga menyebabkan pemendekan pada tungkai sehingga diperlukan
koreksi berupa osteotomy.
Kaku sendi lutut; setelah fraktur femur biasanya terjadi kesulitan pergerakan pada
sendi lutut. Hal ini disebabkan oleh adanya adhesi periartikuler intramuskuler. Hal
ini dapat dihindari apabila fisioterapi yang intensif dan sistematis dilakukan lebih
awal.
Refraktur; terjadi apabila mobilisasi dilakukan sebelum terbentuk union yang
solid.